Tittle : Playful Love chapter 2
Pairing : Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Kim Jongin, Do Kyungsoo, Kim Jongdae, Kim Minseok, Xi Luhan, Oh Sehun, Lee Hyorin, and other.
Genre : Yaoi ( Boy x boy ), Mature scene, Romance, sisanya tebak sendiri.
Halo..Halo..Halo..
Nih tak bawain chapter 2
Aku udah baca semua review kalian dan aku suka banget, maaf kalo gak bisa bales satu-satu. Jujur review kalian sangat membantu,memberikan semangat baru buat aku.
PERHATIAN!
Oh iya, untuk salah satu review yang tidak menyebutkan nama ( Guest ). Memang ff aku ini ada beberapa typo, tapi untuk penulisan menurutku itu bukan kesalahan sayang. Cara menulisku memang lebih suka sedikit dialog, dan lebih banyak pemaparan dari sudut penulisnya sendiri. Tapi terima kasih lho buat masukannya, dan ini aku udah coba sebisaku untuk memperbanyak dialog supaya kesannya gak ngebosenin dan membuang bagian-bagian yang tidak perlu.
…
….
Happy reading ya! ^_^
….
Seperti biasa, peringatan keras bagi yang tidak suka Yaoi/Gay/BL/Homo/Maho/Percintaan sesama jenis. Mengandung unsur dewasa, dapat merusak kesehatan mata, mental dan mengganggu iman.
PERHATIAN LAIN : TIDAK UNTUK DIPRAKTEKAN DI RUMAH,DI SEKOLAH, ATAU PUN TEMPAT UMUM LAINNYA..
Siapkan tissue teman-teman..
Hehehehe..
…
…
…
Playful Love Chapter 2
By :
ParkShiTa
….
….
….
Chapter sebelumnya :
"Hhmm.. tentang tadi. Ap…apa maksudmu melakukannya?" tanya Baekhyun takut. Chanyeol menatap Baekhyun datar, dan hal itu semakin membuat Baekhyun terasa seperti ditelanjangi.
"Bukankah aku sudah mengatakan jika itu adalah hukuman karena kau telah berani-beraninya menguping pembicaraanku dengan Hyorin." Ucap Chanyeol.
"Tapi_"
"Dengar! Aku ini normal. Aku masih menyukai wanita, dan tadi itu hanya untuk menghilangkan rasa penasaranku. Aku harap kau tak salah paham!" Baekhyun membeku, ucapan Chanyeol barusan seolah menamparnya dan mendorongnya ke arah pedang yang panjang lalu tertancap tepat ke jantungnya. Entah mengapa hatinya sakit, ia merasa bodoh memberikan harga dirinya untuk lelaki yang bahkan menyentuhnya karena sebuah rasa penasaran. Ia tertunduk, matanya berkaca-kaca.
"Hei! Hei! Byun Baekhyun!" panggil Chanyeol lagi, Baekhyun mengangkat wajahnya dan memandang Chanyeol kecewa.
"Kau kenapa? Aku rasa kau tak perlu sesedih itu. Kita sama- sama menikmatinya tadi. Lagipula kau tak dirugikan disini, dengar! Kau itu lelaki, dan seorang lelaki tak akan bisa hamil berapa kalipun kau melakukannya. Kau mengerti! Aku harap kau tak menceritakan hal ini pada siapapun!" lanjut Chanyeol lagi. Baekhyun benar-benar merasa terhina, entah kenapa bibirnya kelu hanya untuk membalas ucapan Chanyeol. Ia tahu itu, ia tahu ia tak akan bisa hamil. Tapi bagaimana pun seorang lelaki punya harga diri juga, dan ketika harga diri itu dilecehkan ia berhak untuk menangis dan bahkan meminta pertanggung jawaban.
"Kau kenapa? Kenapa hanya diam?" tanya Chanyeol lagi.
"A..aku..aku menyukaimu Chanyeol." Ucap Baekhyun gugup. Tangannya sibuk memilin ujung seragamnya yang sudah kusut. Chanyeol terdiam, lalu berjalan ke arah Baekhyun dan menepuk pundaknya.
"Hei! Kita hanya melakukannya sekali, dan bagaimana bisa kau mengatakan kalau kau menyukaiku?"
"Tidak! Aku menyukaimu bukan karena kau telah menyetubuhiku. Tapi karena aku memang menyukaimu sejak lama." Ucap Baekhyun dengan sedikit menaikkan nada bicaranya. Chanyeol tersenyum. Dan kembali menepuk pundak Baekhyun,membuat Baekhyun mendongak dan menatap nyalang Chanyeol.
"Hei! Itu hakmu, aku tak mungkin melarangmu menyukaiku. Tapi maaf, aku tak bisa membalasnya Baek. Aku sudah memilki Hyorin, dan lagipula aku tak mungkin mengatakan pada ayahku jika aku berpacaran dengan tahu siapa dia kan?" ucap Chanyeol. Baekhyun tahu, sangat tahu malah. Ayah Chanyeol adalah seorang pengusaha sukses dan memiliki cabang dimana-mana, bahkan merupakan investor utama disekolah ini.
"Ayo aku antar kau pulang!" ucap Chanyeol.
"Tidak! Aku bisa sendiri!" ucap Baekhyun , merampas tas ransel miliknya dari tangan Chanyeol dan berjalan tertatih menuju pintu keluar. Chanyeol terdiam disana, menatap kepergian Baekhyun.
"Apakah aku telah menyakitinya?" gumam Chanyeol.
…
…
….
Chapter 2
"Tentu saja! Kau bodoh Park Chanyeol." Chanyeol menghela nafas ketika suara nyaring itu memenuhi apartemen miliknya.
"Aku bingung Hyorin!" ucap Chanyeol sambil mengacak rambutnya frustasi.
"Hei! Walaupun dia seorang lelaki, tapi ketika kau mengambil keperjakaannya secara paksa, itu sama saja dengan mencoreng harga dirinya, dan kau berkata bahwa kau hanya menghilangkan rasa penasaranmu?" pekik Hyorin, dan membuat Chanyeol semakin frustasi.
"Lalu aku harus bagaimana?"
"Temui dia, dan segera minta maaf! Kau sudah menyakiti hatinya. Bukankah aku sudah memperingatimu untuk tak melakukan hal bodoh itu padanya? Kau selalu mengeluk-elukan seberapa tangguhnya dirimu, seberapa jantannya dirimu, tapi ternyata kau malah memperkosa seorang lelaki." Hyorin nampak kesal.
"Hei! Aku tak memperkosanya! Lagipula, aku sungguh tak tahan dengan tubuhnya, awalnya aku memang ingin memberinya pelajaran, tapi melihat ia menutup matanya aku jadi membayangkan hal yang tidak-tidak." Ucap Chanyeol. Ia tidak berkata bohong, ucapannya 100 persen kebenaran.
"Seharusnya kau bisa mengontrol dirimu. Dan berharaplah, jika Baekhyun bukan orang bermulut besar, dan akan menyebarkan berita ini, atau mengancammu dengan hal yang bukan-bukan."
"Aku rasa tidak."
"Yah! Mudah-mudahan saja Tuan Park." Ucap Hyorin lalu kembali beralih ke arah televisi. Chanyeol masih duduk di sofa dengan segala kekalutan dalam dirinya.
"Hei Tuan Park! Aku punya ide." Ucap Hyorin mengalihkan pandangannya ke arah Chanyeol yang masih tertunduk.
"Apa?"
"Aku rasa kau harus menerima pernyataan cintanya."
"Kau mulai gila Hyorin! Aku normal. Dan, bagaimana dengan ayahku jika ia mengetahui hal itu?"
" Yah sebisa mungkin jangan sampai ketahuan, kau bisa menjalin hubungan secara sembunyi-sembunyi bukan?"
"Seperti kau dan Jooyoung? Oh tidak terima kasih, itu terlalu berbahaya. Ayahku tidak sama dengan ayahmu, ayahku punya banyak mata-mata yang ia sebar untuk mengawasiku."
"Kau pasti bisa Chanyeol. Hhhmm.. itu hanya saran dariku, aku hanya tak ingin mendengarmu menyebut namanya ketika kau sedang onani di kamar mandi." Ledek Hyorin.
"Yak! Sialan kau!" ucap Chanyeol lalu melempar bantal ke arah Hyorin dan berjalan ke arah kamarnya. Ia berbaring sambil menatap ke arah langit-langit kamarnya.
Chanyeol ingat, ketika pertama kali bertemu Baekhyun adalah ketika mereka mengikuti audisi basket untuk pertama kalinya. Lelaki pendek, berisik dan tak memiliki bakat yang dikenal Chanyeol sebagai Byun Baekhyun. Chanyeol ingat bagaimana ia tertawa ketika melihat Baekhyun mencoba memasukan bola dan itu gagal, bahkan di lemparan kelimanya. Dan ketika audisi kedua, dimana Chanyeol sudah menjadi salah satu kandidat untuk menjadi ketua tim basket, mereka bertemu lagi. Chanyeol duduk sebagai salah satu penilai, ditemani kedua seniornya dan juga kandidat ketua lainnya.
Chanyeol tersenyum hanya karena melihat bola itu menggelinding begitu saja dari tangan Baekhyun, dan ketika lelaki mungil itu melompat, mata chanyeol malah terfokus pada pinggang ramping Baekhyun yang sedikit terlihat karena pakaian olahraganya yang tersingkap. Dengan susah payah Chanyeol menghilangkan segala pemikiran aneh tersebut, dan ketika pagi menjelang ia terbangun dengan celana basah lalu teringat jika semalam ia memimpikan seorang Byun Baekhyun.
Kenyataan semakin pahit, ketika ia tahu bahwa ia ternyata sekelas dengan Byun Baekhyun ketika mereka duduk di kelas dua. Bagaimana Baekhyun bercanda bersama temannya, dan mengeluarkan suara-suara lucu dan anehnya malah terdengar seperti desahan bagi Chanyeol. Ia pikir dirinya sudah tak normal lagi, ia takut menerima kenyataan jika ia menjadi gay, dan itu semua karena Baekhyun.
Lalu ketika ayahnya mengatakan akan menjodohkannya Chanyeol sempat terkejut, ternyata ada yang lebih buruk daripada menjadi seorang gay, begitu pikirnya. Tapi ketika tahu siapa yang akan dijodohkan dengannya, Chanyeol sempat bernafas lega. Gadis berisik dan periang, Lee Hyorin dan merupakan sahabatnya dari kecil. Mereka membuat perjanjian, untuk berpacaran pura-pura sampai tiba waktunya untuk berterus terang. Lagipula mereka pikir mereka masih terlalu muda untuk menjalin hubungan yang lebih serius.
Dan hal terbesar dari kehidupan Park Chanyeol adalah, ketika ia berhasil membuat impiannya menjadi kenyataan. Meniduri seorang Byun Baekhyun, tubuh yang paling dipujanya seumur hidup adalah mimpi bagi Park Chanyeol, dan seharusnya ia senang karena itu menjadi nyata. Tapi dengan bodohnya ia telah mematahkan hati Baekhyun.
Katakan Chanyeol egois, karena ia belum mau mengakui perasaannya, baginya ini bukanlah suatu perasaan cinta. Ketika kau setiap malam membayangkan bercinta dengan orang yang sama, itu bukanlah cinta melainkan sebuah obsesi dan begitulah pemikiran seorang Park Chanyeol. Baginya, memimpikan Baekhyun hanyalah sebuah perasaan penasaran yang menggebu-gebu dan meluap-luap, dan itu bukan ketertarikan sama sekali apalagi cinta.
"Chanyeol, aku pulang dulu!" suara itu membuyarkan lamunannya.
"Mau aku antar?"
"Tidak! Jooyoung sudah menungguku di depan."
"Oh aku lupa soal pria itu. Baiklah, semoga kau tak ketahuan."
"Tentu! Dan kau, sebaiknya kau temui dia! Aku tak ingin kau berkhir dengan ber-onani sambil membayangkan Baekhyun lagi." Ucap Hyorin sambil tersenyum.
"Enyahlah!" ucap Chanyeol ketus.
"Caffe Cookkie-Berry." Ucap Hyorin sebelum menutup pintu kamar Chanyeol.
"Apa?" tanya Chanyeol tak mengerti.
"Aku dengar, ia bekerja paruh waktu disana." Ucap Hyorin lagi.
"heuh! Kau pikir aku akan menemuinya? Aku lelah, dan aku ingin tidur."
….
….
….
Chanyeol diam di dalam mobilnya, daritadi matanya tak lepas dari sosok mungil yang sedang berjalan kesana kemari untuk mengantarkan pesanan pelanggan. Sesekali Baekhyun mengelap keringat yang membasahi keningnya.
"Apa-apaan laki-laki itu?" gumam Chanyeol kesal, ketika seorang lelaki dengan seragam yang sama dengan Baekhyun, berjalan dan menepuk pantat Baekhyun , dan Baekhyun hanya tersenyum sambil memukul lengan lelaki itu.
"Hei-hei! Itu sama sekali tak sopan, tuan ceking." Gerutu Chanyeol kembali, ketika mendapati pria berbeda sedang memijat-mijat pundak Baekhyun ketika Baekhyun meregangkan ototnya. Cukup Chanyeol tak bisa tinggal diam, ia memilih turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam caffe. Ia memilih duduk disalah satu kursi dekat jendela, dan tak lama kemudian seorang pelayan menghampirinya, itu Baekhyun. Yang berdiri membeku disana.
"Chan..Chanyeol. Untuk apa kau disini?" tanya Baekhyun.
"Tentu saja minum dan makan, apa kau pikir aku akan mendaftar menjadi pegawai disini?" ucap Chanyeol dingin dan ketus.
"Ma..maaf. Kalau begitu kau mau pesan apa?" tanya Baekhyun.
"Milkshake coklat dengan topping oreo diatasnya!"
"Baik akan segera dibuatkan, kau bisa tunggu disini!" Baekhyun nampak gugup, dan ketika ia berjalan ke arah kasir, pria yang sama dengan yang menempuk pantatnya tadi mendekat dan merangkul pundak Baekhyun.
"Pelayan!" teriak Chanyeol pengunjung dan pelayan sempat terkejut.
"Ada apa Tuan?" tanya penjaga kasir tersebut mendekat dan nampak tergopoh-gopoh.
"Siapa pemilik tempat ini?" tanya Chanyeol angkuh.
"Sa..saya sendiri. Ada apa?" tanya penjaga kasir sekaligus pemiliknya ternyata. Chanyeol berdehem, lalu menatap tajam ke arah pria tersebut.
"Aku kecewa dengan tempat ini, pelayanannya terlalu lama. Aku bisa saja menuntut tempat ini karena pelayanannya yang kurang memuaskan."
"Maaf Tuan. Kami sudah berusaha sebaik mungkin. Kami akan memberikan gratis untuk pesanan anda."
"Apa kau pikir dengan itu moodku yang rusak akan kembali?"
"La..lalu apa yang bisa saya lakukan?"
"Hhmm.. berapa aku harus membayar, untuk membawa pergi lelaki kecil menyebalkan yang berdiri disana itu?" ucap Chanyeol sambil menunjuk Baekhyun. Baekhyun terkejut ketika semua mata mengarah padanya.
…
…
…
Chanyeol dan Baekhyun terdiam di dalam mobil, keduanya sama-sama tak mau memulai pembicaraan.
"Ke..kenapa kau lakukan itu?" tanya Baekhyun. Suaranya bergetar, sebesar apapun usahanya untuk membenci Chanyeol, atau paling tidak terlihat malah di depan lelaki tinggi itu selalu sia-sia, ia akan selalu gugup jika berhadapan dengan Chanyeol.
"Apa salah?"
"Kau tak tahu, sebesar apa usahaku untuk mendapatkan pekerjaan itu?" tanya Baekhyun.
"Aku tak mau tahu. Aku bisa saja membayarmu dua kali lipat jika kau mau?" ucap Chanyeol. Baekhyun menatap Chanyeol sekilas, lalu setelah Chanyeol membalas tatapannya ia beralih.
"Apa yang kau inginkan? Kenapa membawaku ke tempat seperti ini?" tanya Baekhyun.
"Soal tadi siang. Aku..aku minta maaf." Ucap Chanyeol.
"Lupakan! Aku sudah tak memikirkanya, seperti katamu, aku tak rugi sama sekali." Baekhyun masih menatap ke arah luar, dia tentu ingin menatap paras tampan Chanyeol yang selalu datang di setiap mimpinya, namun kali ini, untuk kali ini ia enggan. Kejadian tadi masih berbekas kuat diingatannya.
"Aku tahu kau masih marah. Karena aku menolakmu bukan? Demi Tuhan Baek, aku ini normal. Aku tak mungkin_"
"Cukup Chanyeol sshi! Semakin kau meneruskannya hanya akan membuatku sakit. Cukup dengan harga diriku, kau tak perlu menyakiti hatiku lebih dalam. Jika tidak ada lagi yang ingin dibicarakan, aku izin pulang." Ucap Baekhyun dingin, jika Chanyeol sadar kini mata Baekhyun sudah berkaca-kaca, bahkan hidungnya memerah.
"Baekhyun sshi. Aku_"
"Jangan sentuh aku Tuan Park, aku hanya takut kau merasa jijik dengan tanganmu setelah itu." Baekhyun menjauhkan tubuhnya ketika Chanyeol menepuk pundaknya.
"Tidak Baek. Aku tidak memandangmu serendah itu." Chanyeol berusaha menghibur Baekhyun, ada rasa kekecewaan terselip disana.
"Aku mohon biarkan aku pergi. Percakapan kita sudah cukup, dan terima kasih karena setidaknya kau telah membuat impianku menjadi nyata." Ucap Baekhyun lalu membuka pintu, ketika Chanyeol menekan tombol kunci disamping kemudinya.
Baekhyun sudah pergi, namun aroma parfum miliknya masih berkeliaran dengan bebas di dalam mobil Chanyeol. Chanyeol terdiam, lalu menatap lurus kearah tubuh mungil Baekhyun yang berjalan perlahan menjauh. Chanyeol memegang dadanya yang terasa nyeri, dan ia meraih ponselnya.
"Apa lagi?" suara diseberang terdengar enggan.
"Hei! Chanyeol! Chanyeol!" suara itu masih memanggil, tapi Chanyeol terdiam.
"Hyorin?" suara Chanyeol terdengar berat dan lirih.
"Hei! Kau baik-baik saja? Apa kau benar-benar menemuinya?"
"Iya."
"Oh Astaga!" Suara diseberang terdengar memekik, dan setelahnya ada suara pria yang bertanya penasaran.
"Lalu? Bagaimana?" Hyorin terdengar penasaran.
"Entahlah. Ia pergi dan berkata telah memaafkanku." Suara Chanyeol lemah, seperti bukan seorang Park Chanyeol.
"Oh itu bagus. Berarti Baekhyun sshi benar-benar orang yang baik, setelah keperjakaannya direnggut paksa ia masih mau…"
"Hyorin!"
" …memaafkanmu. Aku fikir dia akan mengancammu dengan meminta sejumlah uang, atau…"
"Hyorin!" kembali Chanyeol memanggil, berusaha menghentikan ocehan gadis cerewet tersebut.
"…mengancammu akan menyebarkan berita itu. Kau harusnya bersyukur Park Chanyeol. Sepertinya dia…"
"Hei! Bisakah kau dengarkan aku!" Chanyeol berteriak, membuat umpatan di seberang sana terdengar jelas.
"Dia memaafkanku, tapi wajahnya terlihat kecewa. Aku tak tahu harus bagaimana sekarang, ia berkata bahwa aku telah menyakitinya, dan tak ingin aku menyakitinya lagi terlalu dalam. Aku yakin setelah ini kami tak akan bertegur sapa, dan buruknya aku sekelas dengannya. Tidakkah ini buruk Hyorin?" Chanyeol berkata dengan cepat, seolah tak ada jeda di setiap kalimatnya.
"Wow..wow..wow.. sabar Tuan Park! Kabar baik dari semua itu adalah, selama ini kau memang tak pernah bertegur sapa apalagi berbicara padanya, jadi itu bukan masalah bukan. Anggap saja kalau tak pernah terjadi apa-apa diantara kalian."
"Tidak semudah itu Hyorin. Ia berpikir bahwa aku telah memandangnya dengan perasaan jijik. Padahal aku tidak!"
"Dan kau telah menyangkal itu tadi?"
"Sudah, tapi dia keras kepala."
"Hei! Tak akan mudah mengubah mood orang yang sedang patah hati. Kau memperkosanya, menolaknya, dan berkata kalau kau normal, lalu datang tiba-tiba dan meminta maaf. Orang mana yang akan biasa-biasa saja setelah diperlakukan seperti itu?" Hyorin terdengar emosi diseberang.
"Dengar! Aku tak memperkosanya, dia juga menikmatinya. Aku menolaknya secara baik-baik, bukan menghinanya, dan aku memang normal, lalu apa? Aku harus berpura-pura bahwa aku gay? Dan setelah menyesal, bukankah aku wajar meminta maaf?" Chanyeol seperti tak mau kalah.
"Hei Tuan Keras kepala! Dia menikmatinya atau tidak, itu bukan urusanku. Dimataku itu sama saja dengan pelecehan. Bukankah tadi dia memaafkanmu dengan baik-baik, tapi kau sulit untuk menerimanya bukan? Dan tak ada pria normal yang memasukan penisnya ke dalam anus pria lain." Hyorin sempat meminta maaf, ketika terdengar suara pria yang terdengar kesal ketika kekasihnya bicara frontal, dan Hyorin membela diri jika sedang memberi nasehat pada sahabat bodohnya.
"Aku bisa mendengarnya!" Chanyeol berucap malas.
"Aku tak peduli dan kau memang bodoh. Itu urusanmu, aku lelah memberitahu Tuan Keras Kepala sepertimu. Bukankah aku sudah berkata bahwa jangan menarikku kedalam masalah ini? Aku sudah cukup memperingatkan. Dan sekarang aku tak mau tahu, aku sedang berada di tengah-tengah acara kencanku dan seorang manusia bodoh dan keras kepala mengganggunya. Sudah aku tutup." Chanyeol mendesah kesal dan melempar ponsel mahalnya ke dashboard mobil.
….
….
….
Baekhyun duduk di halte, bus yang ia tunggu tak kunjung muncul. Sesekali ia mengeratkan jaketnya. Ia tertunduk, mengingat semua kejadian hari ini membuatnya kecewa dan senang dilain keadaan. Apa yang lebih hebat dari bercinta dengan seorang Park Chanyeol ia bahkan masih mengingat jelas sensasi nikmat yang Chanyeol ciptakan.
Dan apa yang lebih buruk dari ditolak, dengan alasan orang tersebut masih normal. Bahkan Baekhyun masih merasakan sakit di hatinya ketika mengingat nama Chanyeol. Ia begitu mencintai sosok lelaki itu, tapi ia tak bisa berbuat banyak. Mungkin memang benar, hubungan sesama jenis memang selamanya tak akan pernah bahagia.
Baekhyun ingin menangis, tapi ia tahu diri untuk tak melakukannya ketika jutaan orang berkeliaran dijalan. Jadi ia menyimpan hal tersebut seorang diri, dan membiarkan hatinya semakin sakit. Chanyeol disana, melihat dari kejauhan. Ia tak tahu harus melakukan apa, jadi ia memilih untuk sekali lagi memantapkan hatinya jika ia masih normal.
Tubuh Baekhyun tak akan bisa membuat jantungnya berdegup kencang, tak akan membuat sesuatu dibawah sana berdiri tegak. Dan dia disini, untuk mencari kecacatan seorang Byun Baekhyun. Tubuhnya kecil, dan pendek dan Chanyeol mendesis, apa yang bisa dibanggakan dari itu. Kulitnya putih mulus, kakinya langsing dan jenjang, begitu juga lehernya. Benar-benar bukan tipe seorang Park Chanyeol. Matanya sipit, dan Chanyeol bergumam bahwa ia benci mata sipit. Bibirnya yang tipis, tak akan memiliki sensasi ketika berciuman. Tapi mereka telah melakukannya dan Chanyeol akui ia telah ketagihan dengan bibir itu.
Chanyeol mengacak rambutnya frustasi, tapi ia kembali menatap ke arah Baekhyun. Jemarinya sangat lentik, dan Chanyeol tak suka dengan itu. Terlalu kurus, dan pasti lembek, apalagi jika jemari itu menyentuh batang kemaluan seperti kemarin. Dan Chanyeol berteriak frustasi kembali.
Semua yang ia pikirkan hanya sebuah kebohongan, tubuh itu, kulit itu, mata itu, bibir itu, jemari itu, leher itu. Semuanya! Semuanya membuat ia lupa daratan. Tak ada yang ia benci dari bagian tubuh Baekhyun, semuanya membuat ia mabuk, dan sialnya tubuh itu juga yang membuatnya terbangun dengan celana basah di pagi hari.
"Sial! Aku tidaklah gay."
"Aaahh..Chan..aahh.."
"Tidak mungkin. Aku ini normal, tidak mungkin aku mengingat desahannya dengan begitu jelas."
"Inihh sakit…sa..kit..Chanyeol..ssshhh"
"Brengsek! Aku normal. Aku hanya mencoba menghilangkan rasa penasaran waktu itu. Benar !rasa penasaran, aku masih muda, dan rasa penasaranku meluap-luap. Itu wajar."
"Chan…akkuuhhh…"
" Cukup! Ini keterlaluan. Aku bisa gila. Arrggghh.." Chanyeol menjambak rambutnya. Lalu menginjak gas untuk meninggalkan tempat itu.
….
….
….
Baekhyun duduk di dalam kelas, ia merasa semangatnya telah menghilang.
"Ini!" Baekyun mendongak mendapati Jongdae yang tersenyum ke arahnya dengan sebuah kertas di tangannya.
"Apa ini?" suara Baekhyun terdengar sangat tak bersemangat.
"Ini pertandingan basket antar sekolah. Kau pasti suka, aku sengaja membelikan tiket ini untukmu." Ucap Jongdae dengan wajah sumringah, berpikir bahwa yang ia lakukan bisa membuat Baekhyun berteriak histeris seperti semester lalu.
"Oh." Tapi tidak. Ekspektasi seorang Jongdae lenyap sudah. Ia memandang Baekhyun bingung, untuk pertama kalinya seorang Byun Baekhyun tak tertarik dengan sesuatu yang berbau basket. Bahkan dulu, lelaki mungil itu melupakan rasa sakitnya dan lebih memilih menonton pertandingan basket padahal ia sedang dirawat di rumah sakit karena diare.
"Baek. Ini pertandingan antar sekolah kita." Ucap Jongdae menggebu-gebu, berharap Baekhyun berteriak dan berjingkrak senang seperti biasa.
"Aku tahu." Kembali Jongdae harus menelan kekecewaan.
"Kau baik-baik saja?" Jongdae meletakkan punggung tangannya di atas kening Baekhyun.
"Aku baik-baik saja Jongdae." Baekhyun berucap malas, masih menatap ke arah jendela. Sampai akhirnya suara pintu yang terbuka mengalihkan perhatian mereka. Disana, seorang Park Chanyeol sedang berjalan masuk dan sialnya, mata mereka sempat bertemu.
"Hei Chanyeol!" Jongdae memanggil. Dan Chanyeol menoleh, begitu juga Baekhyun. Ia hanya penasaran apa yang akan dilakukan sahabat bodoh tapi setianya itu.
"Aku dengar kau akan mengadakan pertandingan seminggu lagi. Semoga sukses kawan!" Jongdae tersenyum dengan lebar. Chanyeol disana mengangguk dan tersenyum, tapi setelahnya matanya beralih lagi ke arah Baekhyun. Tapi Baekhyun segera membuang mukanya dengan malas.
….
….
….
Chanyeol berjalan ke arah pinggir lapangan. Ia meraih botol air mineral miliknya dan meminumnya dengan rakus. Ia menunduk sedikit menggerutu. Untuk pertama kalinya seorang Park Chanyeol mendapatkan peringatan dari pelatih. Ia kurang konsentrasi dalam permainan, dan itu membuat mood seorang Park Chanyeol menjadi buruk seketika.
"Hei kawan!" Chanyeol mendongak mendapati seorang lelaki berpostur tinggi berdiri dihadapannya lalu segera duduk disampingnya.
"Ada apa denganmu?" suara itu kembali mengalihkan perhatian Chanyeol.
"Aku baik-baik saja. Mungkin aku sedikit kelelahan Minho." Ucap Chanyeol lalu mengelap lelehan keringatnya yang berada di keningnya. Minho terdiam, ia tahu betul ada sesuatu yang disembunyikan oleh Chanyeol. Walau mereka bukan sahabat, tapi Minho tahu betul bagaimana sikap seorang Park Chanyeol, yang bahkan merelakkan ulangannya demi terlihat baik saat bermain basket.
"Kenapa tak minta istirahat pada pelatih."
"Tidak. Pertandingan kita tinggal seminggu lagi, tak cukup banyak waktu untuk berleha-leha. Lawan kita kali ini musuh yang kuat. Sekolah Jaesun. Mereka adalah lawan yang kuat Minho." Chanyeol memperingatkan, matanya menatap tegas ke hamparan lapangan.
"Tapi aku percaya, kapten kita bisa mengalahkannya. Kau ingat? Ketika semester lalu kita bertanding melawan Sekolah Daessang yang terkenal kuat, dan lihat buktinya. Berkat kau, kita menjadi juara pertama."
"Itu bukan hanya karena aku, tapi karena kerjasama tim." Chanyeol menambahkan, tidak ingin terlihat terlalu sombong, walaupun sebenarnya kerja kerasnya lah yang membuat kemajuan pesat dalam timnya.
"Dan bagaimana tim bisa bekerjasama dengan baik, jika orang yang seharusnya mengkoordinir malah tidak bisa mengendalikan perasaannya sendiri?" Minho tertawa ketika mengatakan itu, namun tersirat sebuah pernyataan tegas disana.
"Aku tahu. Maafkan aku. Aku telah membagi fokusku ke hal lain." Ucap Chanyeol. Minho mengangguk, dan melihat ke sekitar seolah mencari sesuatu.
"Aku tak melihatnya."
"Siapa?" tanya Chanyeol penasaran dan ikut melihat ke sekitar.
"Lelaki kecil yang biasanya selalu memperhatikan kita dari bangku penonton, yang bersorak paling keras ketika kita memasukkan bola. Kau ingat? Lelaki yang wajahnya mirip perempuan, kalau tidak salah dia satu kelas denganmu." Terang Minho, dan mata Chanyeol berhasil melotot. Ia tahu betul siapa yang menjadi bahan pembicaraan seorang Choi Minho.
"Apa maksudmu Byun Baekhyun? Lelaki kecil dan berisik? Yang bahkan tak bisa memasukkan bola ke dalam ring?" Minho tertawa, ia mengangguk-ngangguk sambil menepuk-nepuk pundak Chanyeol. Chanyeol hanya mengedikkan bahu, ia tak peduli. Hanya ingin terlihat tak peduli, padahal sejak tadi sosok itu yang telah membuat perasaannya hari ini menjadi buruk.
Lapangan sudah sepi, tapi Chanyeol masih setia memantulkan bola di tengah lapangan. Hari sudah sore, dan Chanyeol masih setia dengan kegiatannya. Ia hanya merasa jengah ketika sejak tadi pelatih terus saja memberikannya peringatan dan mengancam akan menggantikan posisinya menjadi kapten dalam pertandingan minggu depan. Chanyeol mencoba fokus menggiring bola, kakinya mengambil ancang-ancang untuk melompat.
"Lupakan! Lagipula aku sudah memaafkanmu. Seperti katamu aku tak rugi sama sekali."
"Cukup! Kau hanya akan membuatku tambah sakit."
"Aku menyukaimu Chanyeol."
"Sakit..saa..kit "
Bagaikan roll film, suara Baekhyun terus mendengung di telinganya. Chanyeol menangkap bolanya yang gagal masuk, dan melemparnya dengan kesal. Ia kemudian terduduk ditanah sambil mengerang frustasi.
…
…
…
Hari terus berlalu, dan keadaan Chanyeol tidaklah membaik. Bahkan pelatih terus saja memperingatinya dan memberikannya ancaman-ancaman tanpa mau bertanya apa yang membuat seorang Park Chanyeol berubah. Chanyeol tak pernah menyangka, jika seorang Byun Baekhyun mampu membuatnya berubah terlalu jauh. Bahkan ketika ibunya meninggal dunia, Chanyeol tidak berubah menjadi anak yang keluar dari peraturan.
Tapi tidak dengan Baekhyun, lelaki mungil yang kini lebih sering termenung itu mampu membuat seorang Park Chanyeol yang keras kepala menjadi lemah. Disetiap gerakannya Chanyeol dapat merasakan bagaimana nyatanya suara desahan Baekhyun, ungkapan perasaanya dan luapan kecewanya. Terkadang Hyorin mendapati Chanyeol menatap Baekhyun ketika mereka makan dikantin, dan Hyorin mencoba memperingatkan agar tak ada orang lain yang menyadari itu.
"Aku rasa ini karma Yeol." Hyorin buka suara, ia tak tega melihat sahabat sekaligus kekasih perjanjiannya ini selalu tak fokus.
"Karma atas apa? Karena penolakanku?" Chanyeol bersuara.
"Mungkin."
"Tapi bagaimana aku bisa menerimanya Hyorin? Aku ini normal, dan lelaki normal tak mungkin berpacaran dengan lelaki juga." Chanyeol berucap, namun suaranya masih terkontrol tidak sampai menarik perhatian seluruh penghuni kantin.
"Aku tahu. Aku tahu. Kau normal, seperti yang kau katakan. Seperti yang kau gunakan sebagai alasan untuk lari dari kenyataan."
"Hei! Aku tak sedang lari dari kenyataan. Inilah kenyataan."
" Kenyataan bahwa kau terlihat berantakan hanya karena memikirkan seorang lelaki. Demi apa Chanyeol, kau benar-benar menggelikan. Kau bahkan lebih menggelikan daripada seorang anak kecil yang tidak mau mengakui jika ia telah mencuri pensil temannya."
" Perandaianmu terlalu jauh nona sok pintar."
"Tidak. Itu sama. Sama-sama. Menyembunyikan. Sebuah. Kenyataan. Sama-sama. Tidak mau. Mengikuti. Kata hati." Hyorin kembali berucap dengan penekanan sambil menyendokkan es krim ke dalam bibir sexy nya.
"Siapa yang tahu kata hati seseorang?"
"Kau! kau sendiri yang tahu apa kata hatimu. Dan ketika itu berkata kau harus membuka hati dan menerima pernyataan cinta seorang Byun Baekhyun maka kau harus melakukannya." Lanjut Hyorin. Chanyeol terdiam, ia menghela nafas lalu segera bangkit. Hyorin hanya terdiam, ia sama sekali tak mau mencegah. Ia tahu Chanyeol hanya butuh sendiri dan menenangkan pikiran. Chanyeol berhenti ketika ia berpapasan dengan Baekhyun. Dan ketika mereka berdiri bersebelahan, mata itu saling menatap seolah ada pancaran kekesalan disana. Chanyeol kesal karena Baekhyun selalu merasuk ke dalam pikirannya, dan Baekhyun kesal karena sikap Chanyeol beberapa waktu lalu.
"Oh. Kalian terlihat menggelikan." Hyorin bergumam sambil terkikik seorang diri.
"Kau beruntung." Suara itu membuat Hyorin tersentak. Seorang gadis berambut hitam panjang berdiri dihadapannya.
"Beruntung atas apa?" tanya Hyorin heran.
"Tidakkah kau lihat? Mereka berdua memperebutkanmu." Hyorin menoleh ke arah tunjuk gadis itu.
"Hahaha..maksudmu Chanyeol dan Byun Baekhyun?" Hyorin masih tertawa.
"Iya tentu siapa lagi? Aku heran apa yang mereka lihat darimu? Padahal kau tidak cantik?" ucap gadis itu dengan tangan menyentuh-nyentuh dagunya seolah berpikir dan matanya menelanjangi Hyorin. Hyorin mendesis lalu menatap nyalang gadis menjengkelkan di hadapannya.
"Karena aku memiliki daya tarik. Aku berpikir sebelum berbicara, dan aku memiliki etika. Apa itu cukup menjawab pertanyaanmu Kim Taeyeon?" Hyorin membaca name tag gadis itu.
"Lalu? Apa kau pikir aku tak memilikinya?"
"Entahlah. Tapi setauku orang ber-etika tidak akan mendatangi meja orang dengan sembarangan tanpa memperkenalkan diri, bicara omong kosong dan menghina kekurangan orang lain." Hyorin bangkit tidak ingin meladeni makhluk berisik di depannya. Ia merapikan seragam sekolahnya yang terlihat cocok dengannya, mengikuti lekuk tubuhnya.
"Dan satu lagi. Aku punya ini." Hyorin menunjuk dadanya yang sengaja ia busungkan.
"Dan ini. Yang membuat pria tertarik padaku." Lalu kemudian menepuk pantatnya dan melenggang pergi. Hyorin berjalan dengan wajah tersenyum, mengerjai gadis kurang ajar seperti Kim Taeyeon ternyata menyenangkan.
"Isssh.. apa bagusnya itu? Masih lebih cantik aku." Gumamnya percaya diri. Lalu ia menarik seorang siswa yang kebetulan lewat di depannya.
"Hei! Apa aku cantik? Bbuing-bbuing." Ia melakukan aegyo. Siswa itu nampak enggan dan merasa risih.
"Hhmm.. tidak sama sekali, kau terlihat menggelikan. Dan tubuh kurus dengan dada datar sepertimu sama sekali bukan tipeku. Aku suka Lee Hyorin. Maaf." Gadis itu menghentakkan kakinya berkali-kali dengan wajah yang ia buat sok imut, padahal ia terlihat menjijikan.
"Baekhyun-ah!" Baekhyun yang akan memakan makan siangnya terhenti ketika mendengar Jongdae yang memanggil namanya dengan begitu keras.
"Ada apa?"
" Aku dengar tim basket sekolah kita kemungkinan akan mengundurkan diri." Ucap Jongdae yang segera mengambil posisi duduk.
"Apa?Bagaimana bisa?" Kali ini Baekhyun tidak bisa pura-pura tak peduli.
"Pelatih berencana akan menggantikan posisi kapten basket kita dengan Choi Minho tapi Minho menolak. Sehingga tidak ada kapten berarti tim kita tidak bisa bertanding."
"Kenapa posisi Chanyeol ingin digantikan?" tanya Baekhyun tak mengerti. Jongdae memberi isyarat agar Baekhyun mendekat karena ia akan membisikkan sesuatu.
"Aku dengar Park Chanyeol dalam masalah, ia terlihat tidak fokus ketika berlatih, dan mendapat banyak teguran dari pelatih."
"Memangnya apa yang membuat seorang Park Chanyeol menjadi tidak fokus? Bahkan setahuku, basket adalah dunianya dan sekolah hanya sampingannya." Baekhyun mengernyit kebingungan. Bagaimana pun ini menyangkut nama baik sekolah.
"Sayang sekali kalau sampai tim sekolah kita tidak maju. Aku pasti akan diejek-ejek oleh teman bermainku dari sekolah lain. Bahkan aku mengajak mereka bertaruh." Ucap Jongdae mengeluh, Baekhyun tidak menanggapi ia masih berkutit dengan pikirannya. Apa mungkin ini semua karena dirinya, tapi tak mungkin. Ia hanya sebagian kecil dalam ingatan seorang Park Chanyeol.
…
…
…
Ketika pelajaran usai, Baekhyun segera berlari keluar kelas. Hal itu membuat ia mendapat perhatian dari beberapa pasang mata termasuk Park Chanyeol. Baekhyun berdiri di depan kelas 2-C , sesekali kepalanya memanjang untuk mencari seseorang.
"Baekhyun-ah? Kau mencariku?" Taeyeon merangkul lengan Baekhyun dan bergelayut manja.
"Lepaskan! Aku sedang sibuk, ada urusan penting." Baekhyun berucap sambil menghempaskan tangan gadis berisik itu.
"Dengan sia_"
"Hyorin sshi!" Baekhyun melambaikan tangannya pada sosok Hyorin yang sedang asyik mengobrol dengan temannya sambil berjalan keluar kelas. Taeyeon menghentakkan kakinya , mendengus kesal lalu pergi. Bahkan Baekhyun tak meliriknya sama sekali.
" Ada apa Baekhyun sshi?"
"Hhmm..bisa aku minta waktumu sebentar?" tanya Baekhyun, dan Hyorin menagguk.
…
….
…
"Apa? jadi kalian tidak sungguh-sungguh berpacaran?" Baekhyun terkejut mendengar penuturan Hyorin dan gadis itu hanya mengangguk sambil menyedot jus apelnya.
"Kau harus bisa menjaga rahasia ini. Okay?" ucap Hyorin.
"Tenang aku bukan orang bermulut besar. Dan bisakah aku tahu, apa yang membuat Chanyeol sampai begitu? Aku dengar ia tak fokus pada latihannya. Padahal pertandingan kita tinggal 4 hari lagi."
"Hahahaha… ternyata kau sangat memperhatikannya."
" begitu. Aku hanya mengkhawatirkan nasib sekolah kita."
"Ah aku benci kalian berdua. Kalian ternyata sama, sama-sama suka mengkhianati kata hati." Ucap Hyorin kecewa. Baekhyun mendadak canggung dan bingung.
" Chanyeol, dia sedang berperang dengan batinnya. Ia bingung dengan orientasi seksnya. Ia bersikukuh bahwa ia adalah lelaki normal, tapi aku yakin 100 % jika ia menyimpang."
"Bagaimana kau bisa yakin?" tanya Baekhyun. Hyorin menatap Baekhyun dengan satu alis terangkat.
"Tidakkah dengan memasukkan penisnya ke dalam lubangmu sudah membuktikan semuanya?"
"Uhuk..uhuk.." Baekhyun tersedak oleh jus stroberi miliknya. Ia menatap Hyorin terkejut.
"Bagai..bagiamana kau bisa tahu?" tanya Baekhyun gugup.
"Aku merekamnya dan memiliki videonya."
"APA!?" suara Baekhyun mampu membuat seluruh pengunjung caffe menjadi menatapnya sebagai obyek yang mencuri perhatian.
"Tenanglah! Aku hanya bercanda Byun B." Hyorin tersenyum , apalagi setelah memanggil Baekhyun dengan sebutan baru.
"Kau membuatku syok jantung."
"Hahahaha… lagipula aku bukanlah orang tak punya kerjaan yang merekam hal semacam itu. Chanyeol yang cerita sendiri padaku."
"Dia menceritakannya padamu? Bahkan sampai kami yang melakukan 'itu' ia ceritakkannya padamu?"
"Hm! Termasuk menyebut namamu ketika ber-onani, bermimpi tentangmu setiap malam. Ia selalu bercerita padaku. Dan dihari dimana kau mengintip kami berdua, dia sedang ingin bercerita bahwa ia kembali membayangkanmu, bahkan itu ketika jam pelajaran."
"Apa? Bagaimana mungkin?"
"Apa yang tidak mungkin di dunia ini Baek? Bahkan kenyataan bahwa Chanyeol adalah gay itu mungkin."
"Hm, terima kasih atas waktu dan informasimu Hyorin sshi. Aku harus pergi, ada hal yang harus aku lakukan."
"Apa bekerja part time?" tanya Hyorin.
"Bagaimana kau bisa tahu?"
"Asal kau tahu, aku memiliki banyak mata-mata. Hahahaha…" ucap Hyorin sambil tertawa.
"Sayangnya aku tidak bekerja disana. Itu milik kakak sepupuku, dan aku hanya sesekali datang membantu kesana. Tapi aku sudah jarang datang, sejak sahabatmu itu membawaku pergi darisana dengan angkuhnya." Ucap Baekhyun.
"Hehehe… dia memang keras kepala. Bertindak sesuai dengan jalan otaknya, atau bahkan ia tak berpikir sebelumnya. Ia hanya bertindak berdasarkan emosinya."
"Kau benar. Sudah ya aku pergi dulu. Aku yang bayar kali ini! Bye!" Ucap Baekhyun sebelum akhirnya pergi.
….
….
….
Chanyeol terduduk lemas di atas tanah. Kepalanya menunduk dan tangannya tergeletak lemas diatas lutut kakinya.
"Bisakah kau enyah dari pikiranku? Kau Byun Baekhyun sialan!" Chanyeol menggerutu.
"Jika tidak bagaimana?" Chanyeol mendongak dan mendapati sosok Baekhyun berdiri di depannya, dengan tangan dibelakang. Chanyeol menghela nafas, lalu kembali menundukan kepalanya.
"Bahkan kau sekarang tampak nyata dihadapanku. Lama-lama aku bisa gila." Suara Chanyeol nyaris menghilang dibalik lututnya.
"Jika aku memang nyata bagaimana?" Chanyeol kembali mendongak dan sedikit tersentak ketika menyadari Baekhyun berada cukup dekat dengannya. Bahkan wajahnya berada tepat dihadapan Chanyeol.
"Kau?"
"Iya ini aku. Byun Baekhyun, orang yang sudah kau tolak cintanya." Baekhyun berucap sambil tersenyum.
"Ap..apa yang kau lakukan disini?" tanya Chanyeol gugup. Ini untuk pertama kalinya, ia bersumpah. Bahkan ketika ia ditunjuk secara mendadak untuk menjadi perwakilan siswa saat SD ia tak segugup ini.
"Aku hanya ingin memberi semangat untuk kapten tim basket sekolah kita." Ucap Baekhyun, kini ia duduk disamping Chanyeol.
"Ini" Baekhyun menyerahkan sebuah botol berisi minuman ber-ion. Chanyeol menerimanya dan segera meminumnya. Mereka berdua sama-sama terdiam, memandang langit yang sudah gelap. Baekhyun tahu, setelah ini ia akan mati ditangan ibunya, tapi ia tak peduli untuk kali ini saja.
"Apa ada yang ingin kau sampaikan Tuan Park?" tanya Baekhyun sambil tersenyum. Chanyeol menatap Baekhyun sambil mengernyit.
"Apa? Aku rasa tak ada."
"Oh benarkah? Kalau begitu aku pulang_"
"Tunggu!" Chanyeol menahan tangan Baekhyun yang hendak bangkit.
"Sebenarnya…." Chanyeol menjeda kalimatnya.
"Sebenarnya?" Baekhyun menaikkan satu alisnya.
"Sebenarnya.. aku ingin memberikan sebuah pengakuan." Mendengar itu Baekhyun kembali duduk di samping Chanyeol.
"Sebelumnya aku minta maaf dengan perkataanku tempo lalu. Aku mencoba untuk menyakinkan diriku bahwa aku ini tidak menyimpang. Bahwa aku ini lelaki normal yang masih menyukai lubang perempuan dan payudara besar. Tapi, semakin aku berusaha menyakinkan diriku, semakin aku meragukan itu. Kau…" Chanyeol menunjuk Baekhyun.
"Kau datang dan mengambil alih pikiranku. Bagaimana bisa aku yang normal ini memikirkankan bagaimana bila aku merasukimu lagi dan lagi, mendengar desahanmu setiap hari berputar di kepalaku, membayangkan bagian-bagian tubuhmu yang membuatku selalu berakhir dikamar mandi sambil menyebut namamu."
"Jawabannya Cuma satu. Kau gay, dan kau tertarik padaku." Ucap Baekhyun.
"Tapi itu tak mungkin Baek, aku yakin sekali jika aku normal." Ucap Chanyeol.
"Aku juga berpikir seperti itu Yeol. Berpikir bahwa perasaanku hanya sebuah kekaguman padamu tidak lebih, tapi ketika aku selalu terbangun dengan celana basah dan semua karenamu, aku menetapkan diriku bahwa aku telah menyimpang."
"Tapi tidak denganku Baek. Aku bahkan masih terangsang ketika melihat yoeja berpakaian sexy."
"Itu wajar, karena kau masih dalam masa peralihan."
"Hei! Bahkan aku memiliki kekasih."
"Apa kekasih diatas perjanjian juga dihitung?" tanya Baekhyun. Chanyeol menganga.
"Bagaimana kau?"
"Hyorin telah memberitahuku. Semuanya Yeol. Lalu apa kau masih bersih keras bahwa kau itu normal? Jika iya maka biarkan aku pergi sekarang juga."
"Tunggu Baek. Aku_" ucapan Chanyeol terputus ketika Baekhyun mengecup bibirnya, hanya mengecup. Chanyeol terdiam, bahkan ia pernah merasakan yang lebih dari ini.
"Baek, kau membuatku_" Chanyeol menarik tengkuk Baekhyun dan melumatnya. Menyalurkan semua hasratnya yang tak tersampaikan sejauh ini. Baekhyun menyematkan jemarinya diantara helaian rambut Chanyeol yang basah. Membiarkan bibir Chanyeol mengambil alih seluruh bibirnya. Chanyeol melumat dengan perlahan tapi pasti, menarik dan mengyesap bibir Baekhyun yang membuatnya selalu kecanduan. Mengajak lidah Baekhyun bermain-main, dan ketika Baekhyun memundurkan tubuhnya, tautan mereka terlepas.
"Ayo kembali berlatih. Aku ingin tim kita menang." Ucap baekhyun bangkit mengambil bola lalu mendribblenya dan hendak memasukkanya ke dalam ring tapi gagal. Karena kesal ia melempar bola itu ke arah Chanyeol. Chanyeol tersenyum dan bangkit, ia memantulkan bola tersebut sambil berlari lalu memasukkannya ke dalam ring.
Baekhyun melirik jam tangannya, dan kembali tersenyum ketika melihat Chanyeol selalu berhasil memasukkan bola, ia hanya tersenyum dan sesekali bertepuk tangan.
"Baek!" Chanyeol melempar bola sambil tersenyum dan Baekhyun menerimanya. Baekhyun tersenyum lalu melepas blazzer sekolahnya dan berlari kearah Chanyeol. Ketika ia hendak memasukkan bola, Chanyeol menahannya. Chanyeol berpindah ke belakang tubuh Baekhyun.
"Bukan seperti itu, tapi seperti ini." Chanyeol membisikkan di telinga Baekhyun.
"Kakimu harus sedikit dibuka. Jangan menutupnya terlalu rapat." Chanyeol merenggangkan kedua kaki Baekyun menggunakan kakinya.
"Tanganmu harus seperti ini." Baekhyun tersenyum, ia sudah bersiap melempar, sebelum Chnayeol menjilat lehernya.
"Tidak Yeol! Ajari aku dulu!" Rengek Baekhyun. Walaupun ia sudah merasakkan junior Chanyeol menusuk pantatnya.
"Baiklah. Tahan posisi ini dan lempar!"
YEAH!
Baekhyun memekik senang, dan Chanyeol segera membalik tubuh Baekhyun lalu kembali membawanya dalam sebuah ciuman penuh hasrat. Chanyeol seperti keserupan, menyesap bibir Baekhyun dengan keras dan tergesa. Hingga bibir bagian atas dan bawah Baekhyun nampak menebal. Chanyeol melepaskan tautannya, dan menarik Baekhyun ke pinggir lapangan. Di bawah deretan kursi pemain yang terbuat dari kayu. Ada celah besar dibaliknya. Biasanya digunakan untuk menyimpan peralatan atau pun mesin untuk membuat garis lapangan.
Chanyeol menyandarkan Baekhyun pada dinding, menghempitnya dan menciumnya sekaligus. Baekhyun meremas rambut Chanyeol yang basah karena keringat, lalu beralih ke lengannya yang juga terasa lengket. Mereka berciuman dalam, dan tangan Chanyeol menyelinap di balik kemeja seragam Baekhyun. Baekhyun membuka pakaian basket Chanyeol dan menampilkan dadanya yang cukup berbidang dan basah oleh keringat. Sedangkan Chanyeol membuka satu persatu kancing baju Baekhyun.
"Aaaahh..ssshh.." Baekhyun mendesah ketika Chanyeol mengihisap dan mempermainkan kedua nipplenya secara bergantian.
"Chan….hisap lebihhhssss" Baekhyun mendesah dan menjambak rambut Chanyeol. Chanyeol dengan kurang ajarnya menyusu pada Baekhyun, dan menghisapnya keras hingga Baekhyun memekik kesakitan. Chanyeol melepaskan bibirnya dari putting Baekhyun.
"Bagaimana jika langsung saja Baek? Aku sudah tak tahan." Gumam Chanyeol dan Baekhyun mengangguk. Chanyeol melepaskan celana Baekhyun dengan tergesa, lalu celananya. Tidak sampai lepas, hanya tergantung pada kedua ujung kaki mereka. Chanyeol meminta Baekhyun berbalik dengan posisi berdiri dan menghadap dinding. Baekhyun menggunakan tangannya sebagai penyangga. Chanyeol meludah, melumuri juniornya dengan air liur sebagai pelumas.
Chanyeol melebarkan kaki Baekhyun, lalu memasukkan batang kemaluanya dengan perlahan. Ketika junior tegang itu mencoba menerobos masuk, Baekhyun mengernyit kesakitan. Ini seks keduanya, dan ini sama sakitnya. Chanyeol bergerak dengan tempo lambat. Mengeluar masukkan juniornya dengan perlahan.
"Aaahh..Chansss,,Yeol.. Oohh.."
"Baek…ooohh..aaahh.."
Desahan mereka terdengar saling bersahutan. Baekhyun tersentak-sentak sesuai dengan irama gerakan Chanyeol. Sesekali Baekhyun meremas pantat Chanyeol, dan sesekali Chanyeol meraup bibir Baekhyun menghilangkan kesakitan Baekhyun.
"Aaahh..oohh..Chanyeol…lebih cepatt..aahh."
"Sudah sayang..aaahh…ahhh..ssshh.."
"Oohh…eeeuugghh..euuggghh.."
Tubuh Baekhyun tersentak lebih cepat. Dan ketika Chanyeol menyentuh sesuatu kenyal di dalam sana, Baekhyun melenguh dan menjemput orgasme pertamanya. Lalu kemudian di sepuluh tusukan terakhir Chanyeol menyemprotkan spermanya dalam.
"Aaahh.." mereka berdua melenguh lega. Tapi Chanyeol sepertinya belum puas. Jadi ketika ia selesai mengatur nafas, ia membalik cepat tubuh Baekhyun. Mengangkat kedua sisi kaki Baekhyun dengan lengannya. Setelah tubuh mereka kembali bersatu. Chanyeol bergerak brutal, menghajar prostat Baekhyun dengan gerakan cepat. Baekhyun melingkarkan tangannya di leher Chanyeol, menggigit pundak Chanyeol ketika ia merasakan lubangnya seperti robek.
"Aaahh..aahh..aahh..eeugghh..eeugghh.." Baekhyun mendesah dengan suara yang terdengar cepat, secepat gerakan Chanyeol di bawah sana yang membabi buta. Bahkan lebih cepat daripada ketika seseorang menembakkan peluru. Cepat. Dalam. Kasar. Dan menyakitkan.
"Aaah..oohh…Chanyeol. ini sakit."
"Tahan sayang! Tahan! Ini akan membuat kita terpuaskan ssshh..oohh.."
"Chan akuuhh mauu…" Baekhyun orgasme untuk yang kedua kalinya, dan Chanyeol masih menghajar prostat Baekhyun, namun temponya kini semakin pelan, dan di dua tusukan terakhir Chanyeol kembali menyemburkan spermanya, hingga mengaliri kedua paha Baekhyun dan menetes ke atas tanah.
"Aku rasa ini cukup. Kau harus fokus kelatihan. Kita tak memiliki banyak waktu." Ucap Baekhyun sambil menyingkirkan poni Chanyeol yang menempel di dahinya. Chanyeol mengangguk, lalu membawa tubuh keduanya keluar dari tempat persembunyian.
"Yeol, apa yang akan kau lakukan?" tanya Baekhyun.
"Berlatih." Chanyeol melingkarkan kaki Baekhyun di pingginganya. Meraih bola basket dan memantulkannya. Baekhyun melenguh kembali, gerakkan Chanyeol semakin membuat junior raksasa lelaki tinggi itu menusuk semakin dalam.
"Chan..eeugghh..eeuugghh…euggghh.."
"Kau menyukainya? Ini sensasi baru dalam bercinta Baek." Ucap Chanyeol dan kini mencoba memasukkan bola, masih dengan tubuh Baekhyun yang menempel seperti koala.
"Inihh..sakit..aaaahh..aaahh.."
"Yeol! Eeuugghh…aaahhh..oohhh.." Baekhyun kembali merasakan holenya dirobek ketika Chanyeol berlari kecil untuk mengambil bola.
"Chan akuuuhh.." Chanyeol merasakan sesuatu yang lengket mengalir di pahanya hingga ke kaki dan itu adalah sperma milik Baekhyun. Chanyeol melepaskan bola basketnya, lalu memegang pinggang Baekhyun. Mengangkat tubuh ringan itu, dan menusukkan kembali dengan arah yang berlawanan. Chanyeol bergerak cepat, hingga akhirnya ia melenguh.
"aaaahh.." Baekhyun masih melingkarkan kakinya, dan sperma Chanyeol masih menyembur deras.
"Baek, kau mau jadi kekasihku?" tanya Chanyeol sambil menatap mata Baekhyun dalam, berharap lelaki mungil di hadapannya akan mengangguk.
"Apa!?" Mata Baekhyun membulat menatap balik ke arah mata Chanyeol. Mencari sesuatu yang dia sendiri juga tak tahu. Kemudian dia mengalihkan pandangannya.
"Aku bersungguh-sungguh." Chanyeol memperbaiki posisi Baekhyun yang merosot ditubuhnya.
"Heuh sungguh ironis. Pernyataan cinta setelah melakukan seks."
TBC
Hah.. akhirnya sampai di kata TBC, tanganku udah keriting ngetiknya, jadi aku cut di sini. Hehehe.. Tapi tetep puas kan ? NC nya memuaskan gak? Atau malah ngebosenin? Jujur itu udah yang paling maksimal lho, hehehe..
Maaf kalo gak bisa fast update, maklum ada beberapa faktor yang kalo aku jelaskan bisa sepanjang kitab aku ngetiknya.
Chapter dua ini hadir sebagai bentuk rasa bahagiaku atas kode-kodean dari mas cabe dan mas yoda. Trus moment mereka diatas panggung, aku suka..aku suka.. ampe jingkrak-jingkrak weeh.. Kalian juga kan? PASTI DONG!
Oh iya, ngomong-ngomong review ya, aku sumpah ngakak baca review kalian. Hampir semuanya misuh-misuhin si Chan. Hahaha.. kasian ya si abang Yeol. Padahal lho di real-life dia itu care banget sama bininya, ampe dipegangin segala pas hampir jtuh, trus bisa menghibur si cabe yang nangis, cuma dengan ngelus-ngelus lehernya baek. Suami idaman weh, beruntung banget mah si cabe..kekekeke..
Demi kelangsungan chapter berikutnya, aku harap reviewnya bisa lebih dari ini atau paling enggak sepadan lah, hehehe.. dengan begitu pasti akan segera aku lanjutkan. Terima kasih banyak yang sudah mau bekerja sama, dan menghargai karya saya. Entah dengan account ataupun hanya menjadi 'guest' hehehe…
Dan terima kasih buat author favorite aku yang ternyata mau juga baca ff aku. Sumpah rasanya bahagia banget permisah di review sama author favorite.
Dan buat yang Cuma ngefoll and ngefav tanpa review, aku merasa kecewa T-T
Ketika hanya perlu klik kolom review dan ngetik beberapa kata, tapi ternyata Cuma ngefall dan ngefav ajah, disitu terkadang saya merasa sedih..
Saya doakan semoga yang rela-rela ngereview akan segera dipertemukan dengan biasnya secara live hehehe…
Udah ah, ampe ketemu di chapter 3 teman-teman… Jaga kesehatan kalian ^_^
