Just Be Friends – bagian ke 2

Disclaimer by: Masashi Kishimoto

inspired story : from one of scene scent of the woman.

this fic by: Kanon1010


...

Tak lama kemudian, mereka semua sampai disebuah bukit yang terletak memang tak begitu jauh dari rumah sakit berada. Konan dan Karin menyiapkan perlengkapan piknik mulai dari makanan, hingga alas untuk mereka duduk. Sedangkan yang laki-laki seperti Suigetsu, dan Jugo sedang berjalan-jalan melihat keadaan sekitar bersama Naruko, kalau Sasuke? jangan ditanya mana mau dokter muda tersebut mengerjakan pekerjaan seperti lainnya.

"Baiklah ayo kita mulai makan!" seru Naruko dengan semangat setelah ia kembali dari acara jalan-jalannya.

Begitu Naruko hendak mengambil potongan tempura yang menggoda iman itu, tangannya segera ditepis oleh Sasuke, "Minum dulu sebelum makan." ucapnya seraya menyerahkan tempat minum berwarna biru tersebut.

"Tapi aku belum haus dok," bantah Naruko yang merasa acara makannya terganggu dan mengerucutkan bibirnya membuat wajah tersebut sangat menggemaskan.

"Lebih baik minum dulu, agar perutmu tidak kaget ketika mendapatkan makanan dan jangan melawan." perintah Sasuke dengan ciri khas tatapan mengerikannya itu. Naruko pun memilih menurut mengikuti perkataan Sasuke, daripada acara pikniknya berubah menjadi acara ceramah dari Sasuke lebih baik ia menurut saja.

Acara makan-makan itu pun bisa dibilang sangat meriah, dimana kadang Naruko dan Suigetsu berebut hendak memakan chiken katsu sisa satu buatan Karin lalu tak disangka malah Jugo yang memakan chiken katsu tersebut dengan tampang tak berdosa, membuat Suigetsu dan Naruko cemberut.

Sasuke yang Cuma diam dari tadi juga kadang-kadang mengeluarkan suaranya untuk sekedar memarahi Naruko yang selebor dan juga sempatnya saja dia membawa obat untuk Naruko.

Acara piknik tersebut, membuat Naruko melupakan kesedihannya terhadap Sasuke dan ia bertingkah seperti biasa di depan Sasuke. Saat ini Naruko sedang bernyanyi bersama Konan dengan diiringi petikan gitar dari Jugo, tetapi kesenangan mereka segera terinterupsi oleh bunyi telepon dari Sasuke.

"Hn?...Apa! segera berikan pertolongan pertama, minta tolong dokter Nara untuk menangani, sementara saya menuju kesana." wajah Sasuke nampak panik setelah menerima telepon barusan.

"Kita kemabali ke Rumah Sakit."

"Ada apa dok? bukankah ini hari libur kami?" Karin menatap Sasuke dengan bingung, karena merasa hari ini tidak ada jadwal pasien pemeriksaan dan bukankah disana ada suster dan dokter lainnya.

"Pasien Haruno mendadak kumat dan sekarang berada di UGD, kita harus segera kesana."

Segera saja mereka bergegas merapihkan peralatan piknik dan beranjak pergi dari bukti tersebut. Sepanjang jalan tak henti-hentinya Sasuke mengecek keadaan Sakura melalui telepon dengan Shikamaru dan Naruko yang memperhatikan tingkah Sasuke hanya bisa diam.

"Maaf ya Naru-chan, acara kita jadi berantakan." Karin meminta maaf kepada Naruko.

"Tidak apa-apa sus, tadi juga sudah menyenangkan kok terima kasih sudah mengajakku berpergian. Segeralah suster bertugas, para dokter pasti membutuhkan anda." senyum Naruko maklum.

"Baiklah, kau segera kemabli ke kamar dan beristirahat." Karin lari dengan tergesah menuju ruang UGD dengan membawa peralatan medis.

Tanpa mereka sadari sebenarnya wajah Naruko sudah pucat dengan keringat dingin mengalir dipelipisnya. Namun karena Naruko suka berdandan, dengan make up itulah ia menutupi wajah pucatnya. Naruko meringis memegang perutnya yang terasa sakit, sambil berjalan perlahan menuju kamarnya di lantai 3.

Sesampainya di kamar rawatnya Naruko tidak dapat menahan sakitnya lagi dan segera meminum obatnya. Sekitar lima menit kemudian sakitnya berkurang dan ia terlelap dalam kegelapan akibat efek samping dari obat tersebut.


….…

"Engh….. jam berapa ini?"

Jam telah menunjukan pukul 20.00 dimana terakhir Naruko minum obat sekitar pukul 15.00 yang berarti ia telah tertidur selama lima jam. Tenggorokannya terasa kering, ketika ingin mengambil minuman di meja samping ranjang matanya menangkap sosok berpakaian putih dengan rambut hitam emo.

'Dokter Uchiha?'

Ia melihat Sasuke sedang duduk di menghadap ranjang teman sekamar Naruko, yaitu Sakura dan yang semakin membuat Naruko kaget adalah ketika Sasuke memegang tangan Sakura yang tertidur di ranjang dan menempelkannya di pipi porslennya. Mendadak Naruko merasakan sakit yang amat sangat di ulu hatinya dan mengutuk dirinya mengapa terbangun disaat yang tidak tepat.

Keinginan untuk mengambil minum diurungkannya dan ia kembali menutup mata berharap alam sadar segera membawanya. Meskipun ia menutup mata, tak dapat dipungkiri air mata itu keluar dengan sendirinya, ia tak tau sejak kapan ia menaruh rasa kepada dokter judes itu. Sayangnya ia telah patah hati bahkan sebelum mengungkapan perasaannya karena ia tau bahwa Sakura adalah kekasih Sasuke atau mungkin bukan kekasih, tetapi orang yang dicintai Sasuke dan perubahan sifat 'lembut' Sasuke hanya ditunjukan kepada seorang gadis bernama Haruno Sakura.

..

…..

"Naru-chan! lagi ngapain?"

Sakura mendudukan dirinya di ranjang Naruko, dimana gadis muda tersebut sedang asik dengan laptopnya. Meskipun ia mengetahui Sakura adalah wanita yang dicintai Sasuke, tak membuatnya membenci Sakura karena ia sudah menganggap Sakura seperti kakaknya. Lagipula bukan salah Sakura, mereka telah saling mengenal sejak lama sedangkan Naruko mengenal Sasuke belum genap 3 tahun.

"Lagi liat berita tentang konser Yuuya Matsushita, mau banget nonton." Naruko mengigiti ibu jarinya seperti anak kecil yang merajuk.

"Yasudah nonton saja memang kenapa?"

"Saku-nee tau sendiri si dokter Uchiha-teme itu gak akan bolehin aku nonton konser dan juga lihat ketentuan konser itu. Aku harus menuliskan alasan kenapa aku mau nonton konser Yuuya biar dapat dua tiket secara FREE!"

"Bagaimana jika aku membantumu membuatkan cerita?"

"Benarkah, cerita apa ?"

"Ada deh, semoga kamu mendapatkan tiket gratis itu. Memangnya tiket satu lagi buat siapa?" tanya Sakura sambil mengetikkan kepada official Yuua Matsushita.

"Belum tau, Saku-nee mau ikut?" tawar Naruko.

"Gomen, tanggal segitu aku ada acara dengan kekasihku." balas Sakura dengan senyum menyesal.

Naruko terdiam sejenak setelah mendengar kata kekasih dari bibir Sakura, berarti Sasuke tidak akan bisa datang. Meskipun ia tak pergi memangnya dokter arogan itu mau menemaninya.

"Hmmm akan kupikirkan nanti tiketnya buat siapa deh."

Naruko membuka peralatan make upnya dan mulai memoleskan sedikit bedak dan lipgloss. Sakura yang melihat tingkah laku Naruko jengah dan mengambil tisu lalu mengelapnya pada muka Naruko.

"Hei, di umurmu segini jangan terlalu banyak bermake up nanti kulitmu bisa rusak."

"Tak apalah nee-chan toh kapan lagi aku bisa berdandan, hidupku juga tak lama lagi." Sakura terdiam mendengar suara Naruko yang sedkit lirih namun masih asik dengan lipgloss yang dipoles ke bibir pink itu.

"Tapi apa kau tau Naru-chan, kalau wajahmu itu sudah cantik tanpa harus mendapatkan polesan make up."

Naruko menutup tempat bedaknya dan berkaca melihat hasil wajahnya yang nampak lebih segar. "Iya, tapi kalau tidak di make up wajah pucatku akan terlihat nee-chan dan juga lihat pipiku mulai kempot." Naruko membuat pipinya nampak menirus, namun Sakura langsung ketawa melihat tingkah anak tersebut dan mencubit pipi Naruko.

"Hey! kurus dari mana? lihat pipimu ini tembem sekali Naru-chan."

Sakura dan Naruko pun tertawa dengan riang. Kehadiran Sakura membuat Naruko yang seringkali kesepian di kamar rawatnya menjadi lebih hidup, meskipun Sakura biasanya hanya dirawat sekitar tiga hari dan baru datang lagi seminggu atau dua minggu kemudian.

Keesokan harinya ketika pemeriksaan rutin, entah ada angin apa Sasuke bersikap sangat jutek dengan aura marah campur kesal membuatnya semakin suram.

"Bisakah kau hapus web-toonmu itu?" tanya Sasuke dengan suara datarnya ketika telah selesai memeriksa Naruko.

"Maksud dokter?"

"Cih, jangan sok memberikan tatapan polos dan pura-pura tidak tau seperti itu. Tentu saja otak dobemu masih mengerti dengan jelas apa yang kumaksud." Sasuke mulai hilang kendali menindas Naruko, Sakura yang melihat sikap Sasuke yang kejam mencoba menenangkan Naruko yang terlihat shock dilabrak secara mendadak. "Kau tau, karena web-toon aneh dan gak jelasmu itu, imageku jadi semakin jelek, kau mau menghinaku? lakukan didepanku sekarang juga jangan melalui gambar murahan itu."

"SASUKE!" Sakura berteriak pada Sasuke yang mulutnya semakin tajam. Naruko hanya tertunduk takut. Ia takut melihat tatapan Sasuke yang berkilat marah.

"Ta-tapi bukan maksudku menjelekan dokter. Aku hanya – "

"Hanya apa? hanya mengeluarkan unek-unekmu? cih, tolong anda hapus semuanya dalam waktu 24 jam dari sekarang. Jika masih ada lebih baik anda pindah ke rumah sakit lain dimana ada dokter yang bisa menerima seorang pasien seperti anda. Permisi!"

Bahkan ia tak memberikan kesempatan kepada Naruko untuk menjelaskan maksud web-toon tersebut dibuat. Tubuhnya bergetar menahan tangisan, Sakura merasa kasihan kepada Naruko yang mendapatkan kata-kata tak pantas dari Sasuke, maka ia memeluk sekaligus mengelus-ngelus punggung Naruko.

"Naruko, daijoubu desuka?" pertanyaan bodoh yang diajukan Sakura, apa ia nampak baik-baik saja? tapi ia bingun mau mengatakan apa.

"Un, heki desu." Naruko melepas pelukan Sakura dan beranjak keluar kamar.

"Mau kemana?"

Naruko berbalik menghadap Sakura dengan menyunggingkan sebuah senyuman yang dipaksakan. "Ke taman, mencari angin." kemudian ia menutup pintu kamar dan meninggalkan Sakura yang masih menatap pintu tersebut dengan tatapan sendu.

Gadis itu tetap senyum dibalik wajah pucatnya, tanpa air mata. Namun jika lebih teliti kalian akan melihat bibir bawahnya terluka akibat ia mengigit bibir itu untuk menahan tangis dan stubuhnya dua kali lebih rapuh dari biasanya.

…...

Tok…tok..tok..

Terdengar sebuah suaran gumaman yang menandakan sosok yang mengetuk pintu tersebut diijinkan masuk.

"Sasuke," Ternyata Sakura yang mendatangi Sasuke di ruang kerjanya.

"Jika ingin membicarakan masalah nona Uzumaki sebaiknya kau kembali ke kamar dan beristirahat," Sasuke to the point terhadap maksud kedatangan Sakura, bahkan sebelum wanita itu membuka mulutnya.

"Aku tau, aku tak memiliki hak untuk ikut campur. Tapi, ucapanmu tadi sudah keterlaluan Sasuke! apa kau tau maksud dia membuat web-toon itu apa? apa kau tau betapa menyakitkannya kata-kata yang kau lontarkan padanya? dia Cuma gadis berumur 21 tahun yang masa mudanya terenggut dengan penyakit. Tak bisakah kau sebagai dokter mengerti kondisi pasienmu sendiri."

Sakura menatap Sasuke dengan kesal. Ia heran kenapa dulu saat masih sekolah ia menyukai pria tersebut, untung saja sekarang ia memliki kekasih yang jauh lebih baik dari Sasuke.

"Sudah? apa kau sadar dia mempermalukanku dengan gambar murahan itu! ia membuatku jadi bahan tertawaan."

"Apa bahan tertawa? oh, come on Tuan Uchiha Sasuke yang jenius, mereka menertawakan gambar Naru-chan bukan menertawakanmu. Makanya bersosialisasilah sedikit Sasuke." Sakura beranjak ingin meninggalkan Sasuke, ia sedikit muak melihat temannya itu tak merasa bersalah sedikitpun.

Sasukepun menghentikan kegiatannya dan melempar pulpen yang sedaritadi digenggamnya dengan erat, meluapkan kekesalannya.


flashback pagi, pukul 07.00

Sasuke yang baru saja tiba di rumah sakit dan hendak menuju ruangannya, mendadak berhenti dan berbelok ke arah ruangan instalasi dimana disana sedang berkumpul beberapa dokter, suster bahkan asisstennya. Sasuke menyeritkan dahi karena penasaran dengan yang terjadi disana maka, ia mengintip kegiatan para suster dan dokter tersebut.

"Hahaha episode hari ini sangat lucu, Naru-chan pintar sekali menggambar." Suigetsu tertawa dengan mata yang masih fokus ke layar monitor.

"Apa yang kalian lihat?" karena mereka asik dengan yang sedang dilihat, maka mereka tak menyadari bahwa yang sedang bertanya adalah Sasuke.

"Itu, Naru-chan baru update web-toon terbarunya. Lucu banget liat dokter Uchiha berubah jadi kalem sama Naruko hahahha" Suigetsu tertawa lagi.

"Hmm apa kalian ingin mendapat detensi karena tidak bekerja?" nampak urat kemarahan muncul di pelipisnya. Semuanya langsung sadar bahwa itu suara Sasuke yang datar, suster Shizunepun langsung menclose monitornya namun keburu dicegah Sasuke.

"Jangan di matikan, saya mau melihatnya." Sasuke menatap layar monitor dimana disana ada bentuk Sasuke dalam bentuk chibi dan Naruko chibi yang tertidur di ranjang dan Sasuke yang sedang menatapnya sedih dengan efek gambar hujan.

Diakhir gambar ada catatan kecil yang dibuat Naruko:

'Senangnya~ jika Dokter Uchiha ganteng itu mau melakukan sama seperti yang kugambar seperti ini. Kyaaa aku jadi malu deh, pembaca sekalian jadi tau kalau aku kesengsem sama si dokter judes itu. Meskipun ini semua hanya khayalanku saja, mungkin saja suatu saat nanti ini bisa terwujud hehehe :p….

Selamat melaksanakan aktivitis seperti biasa minna! tunggu episode selanjutnya dalam cerita Aku dan dokter kesukaanku.. mata raishuuu…'

Flashback OFF


Setelah membaca itu, Sasuke merasa bahwa Naruko sedang menghinanya melalui gambar tersebut dan seperti yang kita ketahui. Tanpa berbasa basi ia melabrak Naruko dan menyuruh gadis itu menghapus semuanya.

Dari balik matanya ia melihat tubuh Naruko bergetar, ia merasa Naruko sangat takut padanya saat ini. Namun kemarahan telah membuatakan rasa prihatin dan kasihan kepada gadis tersebut sekaligus melumpuhkan logikanya.

Ditaman Naruko memandang foto ayah dan ibunya, ia merasa rindu sekali kepada kedua sosok tersebut. Ia lebih baik mengikuti kemana orang tuanya pergi dari pada berada disini, disebuah tempat yang katanya menyembuhkan orang sakit tapi menurut Naruko tempat ini makin memperburuk kesehatannya. Tak terasa air mata itu mengalir.

"Kaa-san, Tou-san… mendadak Naru merasa kakek sudah menjemput Naru. Apa kalian mengijinkan Naru pergi bersama kakek?" Naruko masih meneteskan air matanya yang ia tahan dari tadi.

Tak berapa lama kemudian ia merasakan sesuatu yang lembut menerpa pipinya, ternyata itu sebuah sapu tangan dari salah seorang pasien juga. Seorang pemuda dengan rambut coklat panjang, bukan kesan cantik yang Naruko lihat, melainkan tampan dan menawan. Naruko merasa baru melihat sosok tersebut.

"Crying won't help you." ujar pemuda tersebut.

"I know, but I just can't help myself." balas Naruko yang kembali mengalihkan pandangannya ke foto kedua orang tuannya.

"Hyuuga Neji," pemuda itu mengulurkan tangannya mengenalkan diri. "Pakailah sapu tangan ini."

"Terima kasih Hyuuga-san, namaku Uzumaki Naruko." balas Naruko dengan senyum setelah mengelap air matanya. "Sepertinya aku baru melihatmu, apa kau pasien baru?"

"Hey apa kau petugas sensus rumah sakit ini?" balas Neji dengan sedikit candaan yang ternyata berhasil membuat Naruko tertawa pelan.

"Bukan begitu, namun aku ini pasien tetap disini sejak satu setengah tahun yang lalu. Jadi bisa dibilang aku hapal dengan pasien disini."

"Baru kemarin kok, cuma habis operasi usus buntu mungkin lusa juga sudah boleh pulang."

Naruko memandang iri, mendengar Neji sudah boleh pulang. "Enaknya aku juga ingin pulang." Naruko memainkan jari telunjuknya sambil merajuk kecil.

"Kenapa kau tidak pulang saja?" Neji yang biasanya pendiam meskipun tak seperti Sasuke, merasa bisa berbicara bebas dengan gadis disebelahnya saat ini.

"Kaa-san dan tou-san sedang berada di Suna, sedangkan aku sendirian di Konoha lagipula penyakitku tak mengijinkan aku kembali pulang." balas Naruko seakan-akan penyakitnya itu biasa saja, namun beda dengan Neji yang lumayan kaget.

"Kalau begitu! karena kita sekarang teman, bolehkah aku sering menjengkumu? bagaimana?"

"Dengan senang hati…" Naruko tersenyum tulus pada Neji, lagipula firasatnya mengatakan bahwa Neji bukanlah pria yang jahat.

"Bagaimana kalau kuantar ke kamar? nampaknya langit mulai menggelap."

Naruko hanya menganggukan kepala menerima tawaran Neji. Apa yang dikatakan Neji benar juga tak lama kemudian hujan menguyur bumi, sekaligus mengguyur dua hati. Hati yang merasa sejuk dan yang merasa panas.

..

..

…...

Dua hari Sasuke mengacuhkan Naruko, dan Naruko juga tak berani berbicara atau menyapa Sasuke. Ia masih ingat dengan jelas tatapan kemarahan Sasuke, bahkan setiap pemeriksaan rutin ia tak mau menatap wajah Sasuke.

Sudah dua hari pula sosok Hyuuga Neji menjenguk Naruko. Kadang pemuda itu membawakan es krim atau sekantong besar permen. Kehadiran Neji memberi warna tersendiri buat Naruko, bukan ia menyukai dalam arti lain ia masih tetap menyukai Sasuke cuma ia hanya takut pada Sasuke. Neji ia anggap sebagai sosok teman yang menyenangkan.

"Naruko, kita ke cafetaria setelah pemeriksaanmu ini ya." ajak Neji ketika di hari ke empat ia mengunjungi Naruko.

Saat ini status Neji sebagai pasien telah hilang, sekarang ia berubah status sebagai penjenguk tetap Naruko. Seperti sekarang dimana Naruko sedang menjalani pemeriksaan rutinnya Neji menjenguk dan memberikan semangat ketika Naruko meringis kesakitan saat darahnya diambil.

"Tahan ya Naru-chan." ucap suster Karin ketika hendak mengambil darah Naruko untuk kedua kalinya.

"Enghh Ahh…. sa-sakii-i-t."

Wajah Naruko menjadi lebih pucat dengan bulir-bulir keringat membasahi wajahnya, namun ia merasa sedikit tenang ketika merasakan tangan Neji menggenggam tangannya. Ia merasa seperti ada yang menjadi sandarannya melalui rasa sakit tersebut.

"Habis ini, kembali ke kamar dan beristirahat." kata Sasuke pada Naruko yang telah selesai diperiksa. Ia hendak membantu Naruko bangun namun pergerakannya segera ditepis oleh Neji yang sudah memapah Naruko lebih dulu.

"Kami permisi dok, dan terima kasih." Neji juga mewakili apa yang ingin dikatakan Naruko.

Sebenarnya beberapa hari ini Sasuke sedikit geram dengan kehadiran Neji yang secara tiba-tiba. Neji yang tak pernah absen menjenguk Naruko dan Neji orang pertama yang muncul setelah selama satu setengah tahun ini tidak ada yang menemani Naruko saat darahnya diambil ataupun pemeriksaan lainnya.

Setelah insiden kemarah Sasuke, ketika sedang peninjauan rutin Naruko meminta maaf dan menunjukan ia telah menghapus semua komiknya. Sasuke yang baru bisa menjernihkan pikirannya kembali bersikap lunak, walaupun ego tingginya belum mau meminta maaf atas ucapan kasarnya pada Naruko. Meskipun begitu, ia melihat dengan jelas gadis itu setiap melihat atau bertemu dengannya menjadi ketakutan.

"Heh apa benar pemuda itu kekasih Naruko?" salah seorang suster bergosip di koridor ketika melihat Neji yang mendorong kursi roda yang ditempat Naruko.

"Masa sih? bukanya Naruko itu menyukai dokter Uchiha ya?"

"Tapi kayanya udah nggak deh, apalagi semenjak dokter Uchiha memarahinya habis-habisan gara-gara web-toon itu.

"Hari-hari kita jadi membosankan karena tidak bisa baca komik buatan Naru-chan lagi.

"Iya."

Sasuke yang mendengar hal tersebut merasa ada yang tak wajar dalam dirinya. Hanya mendengar nama 'Naruko' berbagai perasaan aneh ia rasakan. Apa karena gadis itu sudah tak lagi menggodanya? apa karena gadis itu sudah tak lagi mengajaknya bercanda dan memilih tertawa bersama pemuda Hyuuga itu?

Sasuke mengacak rambutnya pelan dan berjalan kembali ke ruangannya, namun lagi-lagi sosok pembicaraan yang mengacaukan pendengarannya tadi kembali menganggu penglihatannya.

Sasuke tak bisa tidak melihat ke arah jendela dimana Naruko sedang duduk sendiri di kursi roda, menikmati angin sore. Tanpa perintah dari otaknya kaki Sasuke seakan bergerak sendiri menghampiri pasiennya tersebut.

"Sudah kubilang kembali ke kamarmu 'kan?"

Naruko masih menatap lurus pemandangan para pasien yang tengah berjalan-jalan sekitar area taman di rumah sakit ini. "Hanya menikmati angin sore apa tak boleh juga?"

"Hn."

Keheningan melingkupi mereka sekitar dua menit, namun bagi Sasuke itu terasa lumayan lama hingga Naruko memecahkan keheningan tersebut.

"Dokter,"

"Hn?"

"Apa dokter bisa menari tango?"…..

….

…...To Be Continue…...


Pojokan Kanon1010 :

hontouni arigatou, buat yang udah baca, review, fav dan juga follow cerita ini. sejak awal karakter ini memang kanon buat untuk Naruko. MAAF! buat neji yang amat sangat OOC! ga tau kenapa langsung kepikiran Neji, daripada Gaara atau Shikamaru.

makasih banget, buat yang review seperti :

Neerval-Li : syukurlah kalau kamu suka ficnya, semoga masih mau membaca kelanjutannya ya . mungkin mereka akan akur tapi ga akur banget juga *author labil* hahah ^^

Atsumi : makasih, ini idenya juga karena terinsiprasi salah satu scene dari drama korea kok. untuk sembuh atau nggak Kanon juga masih abu-abu nih, dan kenapa gak angst karena kanon masih belum tau endingnya akan angst atau nggak. lagipula menurut kanon ini kurang angst. makasih udah baca ya ^^

Izanami Kayo : yup ini sudah lanjut! biasa lah sasuteme itu cowo tsundere *eh* hihiihih

Moku-chan : udah kanon tulis kok kalau cerita ini terinspirasi dari salah satu scene drama korea 'scent of of women'…. whooo~ sangat sennag bisa update kilat jika tangan tidak malas hahahah XDD

dwidobechan : makasih dwi ^^

TanuKuma : asikk ada yang penasaran *joget-joget* apa lanjutannya memuaskan?

NamikazeNoah : endingnya masih abu-abu kanon galau. ahhahah XDD

MoodMaker : senangnya ada yang mau nunggu kelanjutan fic kanon.. salam kenal juga MM ^^

dhekyu : namanya juga Sasuke, kalo ga dingin dia ga terkenal *dichidori* ^^

Vipris : wah kanon belom tau nih mau berapa chapter, kanon mengikuti arus mood aja hihiih. Nah udah tau Sasuke suka siapa?

HimeLOVE : Yup! memang dari drama itu, kanon juga sudah tulis inspired storynya di chapter 1. tapi Kanon gak akan buat sama persis seperti drama itu jadi ada yang berbeda. semoga hime menikmatinya ya ^^

YOSH! sebelum closing, kanon mau ngucapin MAKASIH LAGI! buat yang sudah pilih FIC kanon untuk masuk di salah satu nominasi IFA 2012. makasih fic kanon sudah diapresiasi dengan baik oleh kalian semua selama dua tahun ini masuk terus di nominasi, sekali lagi makasih semuanya/. ^^

bye minna see you next chapter~