Coby
Malam yang melelahkan. Begitulah pikir si tampan bersurai pink tersebut. Ia terlihat masih menggosok lantai keramik berwarna biru laut menggunakan sebuah alat pel dengan cekatan. Tak jauh di ruangan tersebut juga terlihat seorang pemuda bersurai pirang panjang yang terlihat memasuki sebuah dapur dan keluar dari sana beberapa saat kemudian.
Mengelap peluh yang membanjiri sebagian wajahnya, Coby pun merasa puas karena rasa lelahnya terbayar dengan selesainya pekerjaan di tempat tersebut. Melangkahkan kakinya kembali Coby pun mulai memasuki sebuah ruangan besar setelah ia mengganti air pel nya dengan air pel yang baru. Ia mulai menyalakan saklar lampu dan memasuki kamar tersebut dengan perlahan.
Bingung.
Itulah yang dialami Coby ketika ia melihat jika kamar yang akan ia bersihkan masih terlihat sangat rapi dan bersih.
Namun setelah sekian lama berpikir akhirnya Coby mendekati sebuah meja seraya mengeluarkan sebuah kemoceng. Ia juga mulai memindahkan barang di atas meja tersebut dan menyimpannya kembali di tempat semula.
Karena terlalu asik dengan tugasnya, Coby pun sampai tidak sadar jika ia telah menjatuhkan selembar foto dan baru sadar beberapa saat kemudian.
Merasa penasaran, tangan pun mulai ia gerakan hanya untuk membuat seluruh tubuhnya merinding hebat dengan kedua mata nyaris terbelalak.
Ia— terlihat menahan emosinya.
Tiba-tiba—
"Coby?"
"HWAA!"
Kaget!
Itulah hal yang dialami Coby. Membalikkan tubuhnya dengan cepat seraya menyimpan selembar foto tersebut di dalam kantong celananya, Coby berharap apa yang ia temukan tidak diketahui si pemilik kamar.
Di depan Coby kini berdiri seorang pemuda bersurai raven yang masih mengenakan seragam sekolahnya.
Ia terlihat sangat lemas bahkan juga kelelahan.
Coby berusaha berbasa-basi walau hidung dan matanya sudah mulai memerah dengan raut wajahnya yang seakan-akan hampir menangis.
"L-Luffy? Selamat datang. Kau— banyak tugas ya? Sampai-sampai k-kau pulang sangat larut."
Shit!
Terkutuk mulutnya yang ikut gemetaran sampai mengeluarkan suara yang cukup gagap. Kaki mulai ia ketukan di lantai. Makin cepat dan makin cepat, pertanda jika dirinya mulai tidak tenang.
Keringat dingin pun mulai mengalir dan tenggorokannya terasa sangat kering. Ia— terlihat sangat ketakutan.
"Oh.. Iya. Aku harus menemui salah seorang temanku dulu tadi. Jadi aku pulang agak telat."
"Oh.. Hehehe.. Em.. A-aku dan Helmeppo sudah selesai dengan hari ini, jadi— kami akan pulang."
"Begitu ya, terimakasih ya, sudah membersihkan rumah ini."
"Oh.. I-iya.. Kau— bisa panggil kami lagi nanti jika rumah ini sudah terlihat kotor— menurutmu."
"Tentu, kalau begitu aku mau ke toilet dulu. Kalian bisa menungguku di ruang tamu. Aku akan memberikan uang untuk kalian disana."
"T-terimakasih."
Pintu toilet tertutup dan dengan cepat Coby pun menarik napas dengan buru-buru. Ia terlihat gelagapan dengan tubuh yang masih gemetar hebat. Ia juga hampir menangis di tempat. Mengepalkan kedua tangannya dan berusaha tenang, Coby pun mulai memejamkan matanya, membukanya kembali dan mulai berlari atau lebih tepatnya kabur dari kamar tersebut.
Dua langkah berlari, lalu—
BRUK!
Coby bertabrakan dengan Helmeppo ketika ia tidak melihat ke arah depan dan membuat kedua pemuda tersebut terjungkal dan mencium lantai dengan mesranya.
Helmeppo mulai menjerit ia juga mulai merutuk kesal dan membuat Coby langsung berdiri dan meminta maaf pada sahabatnya tersebut.
"M-maaf."
"Ya ampun. Kau ini kenapa? Buru-buru sekali. Adudududuh.. Pantatku!"
"Tadi aku— lupakan."
Dan Coby pun mulai memalingkan kepalanya dengan raut wajah yang masih terlihat sangat sedih.
"..."
Tidak ada balasan selain Helmeppo yang mengangkat sebelah aslisnya pertanda bingung. Ingin bertanya namun dirinya masih merasa tidak enak dengan apa yang telah dialami sahabatnya tersebut.
"Oh iya.. Aku tidak melihat Tuan Donquixote hari ini, biasanya malam-malam begini beliau terlihat tengah membaca berita di halaman belakang ditemani secangkir kop—
"Aku tidak tahu!" Potong Coby tiba-tiba. "M-mungkin sibuk. Sudahahlah. Kita harus segera pulang."
"Tapi— aku menunggu bayaran kita."
"Besok kita bisa memintanya di Sekolah, Helmeppo. Luffy tidak akan mengijinkan kita berlama-lama di rumahnya."
"Kau benar juga. Masuk akal jika rumah besar ini tidak memiliki satu pun maid cantik didalamnya."
"Maka dari itu, ayo kita pergi."
"Em.. Baiklah."
Dan dengan itu Coby dan Helmeppo pun pergi meninggalkan sang tuan rumah yang baru sampai di tempat mereka sedetik sesudah mereka berlalu.
Hening perlahan terjadi, dan si raven pun kembali ke kamarnya dengan kepala yang mulai merunduk.
.
.
Fuusha 29 September, 11:46PM
Luffy
Malam yang dingin, ranjang yang juga dingin, lampu redup yang belum di matikan, halaman kertas yang perlahan terus dibalik. Dan, dirinya yang masih terdiam karena bosan.
Meregangkan sesaat tubuhnya, Luffy pun kembali pada kegiatannya yaitu, membaca sebuah buku soal.
Ia akui, dirinya memang tidak perlu belajar seperti sekarang ini, toh dirinya sudah di cap 'bodoh' oleh semua temannya. Tapi mau bagaimana lagi, belajar pun masih menjadi hobinya seperti saat ini.
Berpikir sesaat, Luffy pun teringat dengan Coby dan Helmeppo yang pergi dari rumahnya dengan buru-buru. Sebenarnya ada apa? Kenapa mereka bertingkah laku aneh. Uang bayaran mereka saja tidak diambil. Apa mereka tidak butuh? Mungkin, Luffy harus menyerahkan uang tersebut besok di Sekolah.
Menyimpan buku soal dan pensilnya, Luffy pun mulai menarik sebuah selimut yang terlipat rapi di atas ranjang king size-nya untuk menutupi setengah tubuhnya yang mulai kedinginan.
Apa ranjang tersebut tidak terlalu besar? Tentu saja tidak. Karena dirinya tidak tidur sendiri. Mengerti maksudnya?
Ya, Karena Luffy.. Tidur bersama dengan Ayah tirinya setiap waktu. Yang itu artinya, kamar ini milik mereka berdua.
Kring! kring! kring!
Suara telepon mulai berbunyi dan mengharuskan dirinya untuk menoleh dan mengangkat panggilan tersebut walau dengan rasa enggan. Luffy mulai berdecak kesal, sudah tahu akan siapa gerangan dari si penelepon tersebut. Siapa lagi kalau bukan Doflamingo, orang yang sudah meninggalkannya selama dua hari ini.
Mati saja ke Nekara!
"Terlambat lagi!"
"Ffuffuffu.. Maafkan aku Lucy-ku sayang. Kau tahu, cinta? Tugas ini sangat menjengkelkan. Bahkan besok aku diharuskan kembali ke Dressrosa untuk melihat sendiri seluruh data pengiriman. Hah~ menyebalkan sekali~ waktuku terbuang sia-sia hanya karena ulah para pekerja yang korup, padahal aku sudah sangat merindukan dirimu terutama waktu-waktu-special kita, sayang."
Krek!
"..kalau begitu pergi saja."
"Ya ampun. Anakku tercinta rupanya marah. Jangan khawatir dalam enam hari lagi aku akan kembali ke Fuusha. Lagi pula ada seseorang yang ingin aku temui selagi aku berada di Dressrosa."
"... S-siapa?"
"Anak kandungku, Law."
"..."
Dan Luffy pun terdiam ditempatnya.
.
.
Keesokan harinya.
Zoro
Apa yang salah dengan kedua matanya? Kenapa dirinya bisa buta arah sampai seperti ini? Okay.. Ini bukan masalah, selama dirinya bisa tetap sampai di sekolah dengan bantuan seragam yang dipakai siswa-siswi Sunny-go. Itu akan baik-baik saja. Lalu untuk bisa sampai ke kelas dirinya hanya perlu mengikuti salah satu teman yang ia kenal.
Iya.. Seperti sekarang ini.
"Oi lumut bodoh! Kenapa kau mengikutiku terus, eh?"
"Siapa yang mengikutimu? Aku hanya pergi ke kelasku. Kau yang terlalu naif, sialan!"
"APA? Kau mau ke kelas tapi kau mengikutiku ke toilet?"
"..."
Dan Zoro pun terdiam di tempatnya. Ia mulai membatu.
"Tck!"
Sanji, nama dari pemuda pirang tersebut mulai bersandar di tembok toilet. Kedua tangannya mulai bergerak hanya untuk menyalakan sebuah benda pembuat kangker. Asap dihembuskan. Dan pandangan mulai dialihkan ke suatu tempat.
"Bagaimana dengan keadaan, Nami?"
"Belum masuk. Dia masih koma. Kecelakaan yang ia alami cukup parah. Tulang kaki dan tangannya saja sampai patah. Dan sialnya si pengendara motor tidak dapat ditemukan. Bahkan aku tidak menyangka berita ini akan masuk media."
Rokok yang baru setengah terpakai mulai diinjak. Pandangan mata Sanji berubah kesal. Ia mulai menggeram apalagi ketika ia ingat bagaimana gadis yang ia cintai dapat berakhir di ranjang rumah sakit.
Ini pasti salah anak sialan itu.
"Luffy! Akan ku beri pelajaran dia karena telah membuat Nami-ku tersayang terkena kecelakaan!"
"Oi! Kau tidak bisa melakukan itu! Nami hanya kecelakaan! Kau tidak bisa menyalahkan Luffy begitu saja!"
"Nami tidak akan celaka jika pria bodoh itu tidak mengejarnya! Menurutmu aku buta? Nami menyukai Luffy dan Luffy tidak pernah menyukai Nami. Mungkin di rumahnya Nami telah menyatakan perasaannya dan karena Nami ditolak maka iapun langsung bergegas pulang!"
"Kami sedang kerja kelompok, bodoh! Lagi pula Nami pergi karena mendapat pesan dari Ibunya untuk segera pulang!"
"Alasan!"
Sanji dan Zoro terus berdebat bahkan mereka tidak sadar jika orang yang menjadi bahan pembicaraan mereka sedari tadi sudah berdiri tepat di ambang pintu toilet. Melihat hal itu, Zoro sampai terkesiap. Pandangannya masih terarah pada si raven.
"Luffy."
Merasa kesal, Sanji pun mulai melangkah dan membuat Zoro sangat kaget. Ia berusaha mengejar.
"Oi, alis keriting!"
Kerah baju di cengkam dan Luffy pun mulai terdiam ketika melihat raut wajah Sanji yang kurang bersahabat.
Ia tidak akan melawan. Biarlah dirinya menjadi bahan kekesalan pemuda pirang tersebut. Kalau hatinya sudah tenang pasti si pirang akan kembali seperti semula.
"S-Sanji.." Luffy mulai bergumam takut. Di belakangnya terlihat pula Zoro yang masih berusaha menarik si pirang untung menjauh.
"Lepaskan, Luffy!"
"Kau—"
Sanji memulai jeda. Dan sedetik kemudian tubuh Luffy pun di hantamkan ke tembok terdekat. Hal tersebut membuat Zoro kaget. Ia juga terlihat sangat marah dan dengan sekuat tenaga Zoro pun langsung menarik Sanji dan balas menghantam pemuda tersebut ke arah lantai sampai tersungkur. Tak lupa satu pukulan keras pun mendarat tepat di tulang pipinya.
"Apa yang kau lakukan?"
Sanji mulai bertanya kesal. Pantatnya sangat sakit karena dipaksa berciuman dengan lantai kramik yang keras, begitu juga dengan pipinya.
Oh, jangan lupakan dengan keluarnya cairan merah yang mengalir tepat dari lubang hidung Sanji. Ternyata pululan Zoro tidak bisa di anggap remeh. Pembuluh darahnya pasti rusak karena bersinggungan dengan kepalan tangan si pemilik surai lumut tersebut.
Zoro terlihat sangat marah. Pembuluh vena pun menghiasi sekitar keningnya.
"Lalu apa yang kau lakukan pada, Luffy, eh?"
Sanji terlihat sangat kesal. Ia lekas berdiri, menepuk seragamnya yang kotor sebelum akhirnya pergi melewati kedua orang tersebut.
Ia tidak mau membuat masalah lebih jauh lagi. Biarlah ia mengalah untuk kali ini. Mungkin, dirinya harus memberi pelajaran pada si raven tepat ketika si lumut bodoh itu tidak ada untuk membelanya.
Hening perlahan terjadi dan Zoro mulai mendekati Luffy yang mulai memerosotkan tubuhnya di dekat tembok. Ia juga terlihat memeluk ke dua kakinya dengan wajah yang sesekali ia sembunyikan.
"Luffy?"
"Harusnya aku menolak saja keinginan Nami untuk datang kerumahku. Kalau aku menolaknya pasti Nami masih bisa bersama kita."
"Luffy.. Nami tidak mati. Dia hanya koma."
"Itu sama saja." Balas Luffy dengan wajah memelas. "Mereka sama-sama tidak bisa membuka mata lagi."
Zoro kehabisan kata. Ia mulai menggaruk kepalanya yang tidak gatal sebelum akhirnya mengulurkan tangan kanannya.
"Kita ke kelas saja. Lima menit lagi jam pertama dimulai."
"..."
Tidak ada balasan selain uluran tangan yang dibalas dengan tubuh yang kembali berdiri.
.
.
.
Luffy
Langkah kaki rasanya aneh. Tubuhmu melayang tapi kakimu berpijak. Rasanya juga tidak sakit. Tentu saja. Itu karena kau sudah terbiasa untuk berjalan. Tidak seperti Ariel seorang duyung yang baru saja memiliki sepasang kaki.
Jarak Sekolah dan rumah Luffy memang tidaklah dekat. Berjalan kaki pun sebenarnya agak capek tapi Luffy tidak mau menggunakan kendaraan apapun untuk menempuh jarak yang ia tuju. Biarlah kakinya kekelahan karena mereka bisa menghalihkannya dari pikiran yang sangat ingin ia hindari.
Sesampainya dirumah, Luffy mulai melempar tasnya, mendudukan dirinya dan langsung menyalakan TV.
Tidak ada yang menyenangkan walaupun itu menyangkut berita perampokan, penculikan bahkan ditemukannya anggota tubuh yang termutilasi.
TV kembali dimatikan dan dengan perlahan Luffy pun kembali berdiri dan masuk ke kamarnya. Tubuh ia hempaskan dengan kasar. Sebuah guling mulai ia peluk.
Perlahan ingatannya tentang tadi malam kembali terngiang, tentang Ayah tirinya yang akan menemui anak kandungnya.
Anak kandung...
Kandung...
Kemiripan, darah dan daging yang sama. Juga— DNA yang sama.
Perlahan tubuhnya mulai gemetar. Telapak tangannya mulai merayap ke area perut. Ingatan ketika air mani terciprat di dalam tubuhnya membuatnya merasa jijik. Kental dan aromanya.. Selalu Luffy ingat dengan baik. Air hina milik Ayah tirinya. Dan— awal yang menjadi kehidupan untuk anak kandungnya itu.
"Maaf.."
Hanya itu yang keluar dari suara Luffy. Bahkan tanpa sadar wajahnya sudah basah dengan air mata. Hidungnya memerah dan matanya mulai terlihat bengkak.
"Maaf."
Kata yang sama dan Luffy yang makin mencengkram perutnya dengan kasar.
"Maaf.. Hiks.."
Tidak ada yang membalas. Hanya angin yang berhembus dari jendela yang terbuka membuat tirai jendela tersingkap dan memperlihatkan langit orange yang perlahan mulai berubah.
.
.
.
Doflamingo
Pagi yang sungguh sejuk di Dressrosa. Sudah berapa tahun ia tidak pulang ke tempat asalnya?
Oh.. Pasti sudah lama terbukti dengan adanya bangunan-bangunan baru yang menjulang tinggi menghiasi perjalanannya.
Ckit!
Perlahan, laju mobil mulai ia hentikan. Didepannya sudah terlihat sebuah gedung rumah sakit yang besar. Memamerkan sebuah senyuman perlahan Doflamingo pun mulai melangkahkan kakinya kedalam berharap jika orang yang akan ia temui sudah ada dan akan menyapanya dengan baik.
.
.
Law
"Dokter Trafalgar.. Dalam waktu 15 menit kita akan memasuki ruang operasi."
"Aku tahu.."
"Oh iya, Dokter. Diluar.. Ada seorang pria yang mencari anda."
Alis mulai mengernyit. Ia mulai berpikir.
"Siapa?"
"Dof-lamingo.. Dia mengaku sebagai Ayah an—
Dan sang Dokter pun sudah raib dari tempatnya. Ia berlari dengan cepat dan membuat suster yang baru memberitahunya kebingungan dengan sikap pria tersebut.
.
.
Kaki terus ia pacu. Dan didepan sana Law dapat melihat jika seorang pria pirang tengah berdebat dengan dua orang security. Ia terlihat tidak mau kalah bahkan beberapa orang yang menunggu di ruang tunggu mulai menoleh hanya untuk melihat si pirang tampan mulai mengeluh namun tetap memaksa.
"Pak, duduklah dulu."
"Aku hanya ingin menemui anakku. Kenapa kalian ini tidak percaya padaku, eh?"
"I-iya.. Tapi saat ini semua Dokter sedang sibuk. Anda tidak diijinkan untuk—
"Donquixote! Apa yang kau lakukan?"
Doflamingo mulai menoleh, ketika ia mendengar suara yang sangat familiar di ingtannya. Ia mulai tersenyum seraya merentangkan kedua tangannya.
"Law.. Anak Ayah... Lama kita tidak berjumpa, nak."
"Maaf, Dokter. Pria ini sangat memaksa."
"Tidak apa-apa. Dia urusanku sekarang. Kalian bisa pergi."
"Terimakasih."
Kedua security tersebut mulai mengangguk sebelum akhirnya melangkah meninggalkan sang Dokter dan Ayahnya.
"Aku tidak mau kau membuat kebisingan di tempatku bekerja. Ikut aku ke kantor. Lagi pula aku tidak punya banyak waktu untukmu."
"Ffuffuffuffu.. Tidak masalah."
.
.
"Jadi.. Apa keperluanmu sekarang? Merebut semua pacarku lagi? Maaf saja. Aku sekarang tidak sedang menjalin hubungan dengan gadis manapun. Sudah cukup dengan Rebecca, Viola dan Monet yang telah kau rebut dariku!"
Segelas air mulai disimpan di dekat Doflamingo, membuat pria pirang tersebut terkekeh dan kembali mengalihkan perhatiannya pada sang anak.
"Ffuffuffuffu.. Anak Ayah masih saja dendam rupanya. Ayolah.. Tidak ada yang salah dengan membagi pacar cantik dan manismu pada Ayahmu sendiri 'kan?"
Kedua alis mulai menaut, bahkan geraman pun mulai terdengar.
"Tidak ada yang salah katamu? Kau tahu betapa aku sangat mencintai Monet dan kau malah menggodanya untuk tidur denganmu? Aku saja belum pernah tidur dengannya."
"Prinsipnya, siapa yang cepat dia yang dapat. Bukan salah Ayah jika kau tidak bisa menarik gadis itu ke atas ranjangmu, Law. Kau tahu? Tubuh perawannya sangatlah nikmat."
Krek!
"Tck.. Aku harus pergi. Waktuku sudah habis!"
"Tunggu! tunggu! tunggu!" Doflamingo mulai menghalangi jalan membuat Dokter muda didepannya menggeram dengan gigi yang menggertak kesal.
"Menyingkir dari jalanku, Donquixote! Aku tidak punya Ayah seperti dirimu yang meninggalkan Baby 5 saat dia tengah mengandung diriku."
"Ohh.. Bahkan kau juga cukup kasar untuk memanggil Ibumu sendiri dengan Nama. Bukankah begitu, Don-qui-xote-Law?"
"Aku bukan Donquixote Law. Aku Trafalgar Law. Sudah ku katakan dari awal! Aku tidak punya Ayah seperti dirimu!"
"Benar juga.. Ayahmu 'kan si Sai itu. Pria yang dicintai Ibumu setengah mati. Apa Baby 5 menterlantarkanmu juga ketika dia lebih menyayangi keluarga barunya?"
"Setidaknya Baby 5 dan Sai tidak sepertimu, Donquixote Doflamingo. Yang bahkan tidak mengunjungiku enam tahun lamanya."
Dada Doflamingo didorong dan dengan kesal sang Dokter bernama Trafalgar Law tersebut melangkahkan kakinya kembali. Doflamingo mulai menoleh. Ia kembali menyeringai.
"... Berkunjunglah ke Fuusha."
Law berhenti berjalan.
"Kami akan menyambutmu dengan baik, Nak. Kekasihku tersayang sangat pintar mengolah masakan yang enak."
"Istri barumu itu?" Tanya Law yang mulai membalikkan kembali badannya untuk berhadapan dengan sang Ayah. "Yang membuatmu meninggalkan Dressrosa enam tahun lamanya? Terimakasih.. Aku tidak mau sampai emosi dan menghajar wanita itu."
Doflamingo masih menyeringai. Ia mulai mendudukan dirinya dengan santai di atas meja kerja Law seraya menjauhkan segelas air yang baru di buat oleh anaknya tersebut.
"Sebenarnya Ayah sudah menikah sebelas tahun yang lalu, bukan enam tahun yang lalu." Law membelalakan matanya horor." Ada sesuatu yang membuat Ayah ingin selalu menetap di Fuusha dan membuat Ayah malas untuk menemuimu, Law." Doflamingo mulai menyeringai, berbeda dengan Law yang terlihat mulai menggeram. "Dan— terserah padamu, Law. Ayah hanya memberitahumu. Lagi pula Ayah ingat dengan tanggal ulang tahunmu yang tinggal menghitung hari. Ijinkan Ayah untuk merayakan ulang tahunmu untuk kali ini saja. Kalau kau berminat datang kau dapat menghubungi Ayah di nomor biasa. Ayah tidak pernah menggantinya."
"..."
Tidak ada balasan selain Doflamingo yang mulai meninggalkan ruangan tersebut dengan Law yang masih terdiam di tempatnya. Tak lama kemudian seorang suster datang dan memberitahukan jika jadwal operasi akan segera dilaksanakan.
Mungkin, inilah saat yang tepat bagi Law untuk mengambil jatah cutinya tahun ini.
.
.
Luffy
Suara shower terdengar nyaring di sebuah kamar mandi. Busa sabun yang melimpah melapisi kulitnya yang halus dengan beberapa titik berwarna merah dan ungu di bagian leher dan bongkahan pantatnya.
Sesekali kuku tangannya mencakar ketika bayangan najis itu menghantam ingatannya kembali.
Gerakan sponge juga terlihat sangat kasar. Terbukti dengan beberapa bagian kulit tangan dan lehernya yang perlahan berubah menjadi merah.
Gelisah.
Tanda sialan itu tak bisa hilang dengan mudah. Busa sabun ditambah dan sponge tersebut kembali melakukan tugasnya.
Perih!
Dan kulitnya berubah makin merah dan lecet. Suara shower perlahan berhenti disusul dengan melangkahnya sepasang kaki menuju kamar yang tertata rapi.
Hening untuk sesaat sebelum akhirnya ia menggeram dan mengacak-acak ranjangnya sampai berantakan.
Bantal, seprai bahkan selimut berjatuhan sisanya adalah barang yang pecah karena tidak segaja terhantam bantal yang juga terbang ke tempat tersebut.
Hatinya terasa sakit. Dan tubuhnya terasa hina.
Menjijikkan!
Ia bahkan tidak sanggup hanya untuk sekedar bercermin dengan keadaan telanjang bulat seperti sekarang ini.
Luffy mulai meringkuk.
Ia mulai memeluk kedua kakinya di posisinya yang sedang tertidur.
Sial!
Kalau Ayah tirinya melihat ia dalam keadaan seperti ini pasti pria pirang tersebut akan langsung melompat ke atas ranjang dan segera menghujamkan penis besar dan tebalnya di satu-satunya lubang yang ia miliki.
Menutup mata untuk sesaat, sampai ingatan ketika pria itu menyuruhnya melakukan blowjob membuat ia menggertakkan gigi kesal. Luffy ingin sekali menggigit penis tersebut sampai putus.
Namun jika ia melakukannya maka rahasianya akan terbongkar.
Dirinya juga menanggung sebuah aib.
Aib, tentang dirinya yang menjadi pemuas nafsu Ayah tirinya sendiri.
Lalu cipratan air hina itu—
"Hiks.."
Malah membuat Luffy kembali terisak, apalagi ketika ia ingat dengan telepon terakhir mereka malam kemarin.
...
'... S-siapa?'
'Anak kandungku, Law.'
...
Anak kandungnya. Anak yang terbentuk dari air mani yang sering ia konsumsi selama enam tahun ini. Apa jadinya jika anak itu tahu jika dirinya telah mengkonsumsi cikal bakal dirinya yang lain. Apa dia akan sangat marah?
Oh.. Tentunya dia pasti akan menganggap hina dirinya.
Menjijikan!
...
'Oh.. Begitu.. Apa— kau menyayanginya, Ayah?'
Keragu-raguan yang keluar bahkan, rasa takut dan khawatir.
'Hah? Siapa? Aku? Jelas aku menyayanginya, Lucy. Dia anak kandungku. Walaupun dia sangat keras kepala dan tidak sopan. Dia juga tidak pernah memanggilku dengan sebutan 'Ayah'! Fufufufu.. Tapi siapa peduli. Aku juga tidak terlalu mengharapkan pengakuan darinya.'
'...'
'Lucy.. Bagaimana kalau kau tidak memanggilku 'Ayah' lagi.'
Deg!
Kenapa? Apa dirinya akan dibuang?
'Apa— kau mau meninggalkanku?'
Air mata perlahan mengalir bahkan beberapa tetes ada yang sudah jatuh di atas selimut yang ia kenakan. Tangan kirinya mulai mengepal dengan erat. Ia sangat takut. Takut... Akan kesendirian lagi.
'Bukan seperti itu, Lucy-ku. Aku hanya ingin kau bersikap layaknya 'istri' untukku. Ibumu sudah meninggal, Nak. Dan aku ingin Law punya seseorang yang dapat dia panggil dengan sebutan 'Ibu'. Jadi, belajarlah untuk pura-pura menjadi istriku mulai dari sekarang!'
'...'
'Oh iya, nama lengkapnya Donquixote Law dan sebentar lagi dia—
...
Yang benar saja?! Donquixote Law, anak kandung Doflamingo dengan seorang wanita yang tidak ia kenal, berusia dua puluh lima tahun dan seorang Dokter bedah di Kota Dressrosa tidak mungkin menjadi anaknya!
Tapi.. Apa dia akan tahu kenyataannya?
Dan Luffy.. Hanya bisa menggelengkan kepalanya walaupun suaranya mengatakan 'persetujuan.'
Persetan dengan status!
Ia hanya takut. Takut di anggap rendah walau pun pada kenyataannya ia memang sangat rendahan.
Terlalu hina! Sangat kotor!
Apa 'anak' itu akan mengetahui kebohongan apa yang ia lakukan?
Mungkin dia akan tahu. Mana mau dia disuruh menganggap seorang anak sekolahan sebagai 'orang tuanya'?
Lalu.. Apa dia akan tahu perbuatan hina mereka di atas ranjang?
Mungkin... tidak! Karena aib ini.. Masih dapat ia jaga kerahasiakan.
.
.
Fuusha 5 Oktober, 06:06AM
Doflamingo
Sebuah mobil mulai memasuki area parkir di dekat halaman hijau yang asri.
Sang pria yang baru saja mengendarai mobil tersebut bergegas keluar dan memasuki rumah besar di depannya. Aroma curry ayam mulai tercium memenuhi area dapur bahkan ruang tamu, membuat pria pirang tersebut terkekeh dan melangkahkan kakinya sepelan mugkin menuju ke area dapur.
Benar saja. Disana tengah berdiri sosok pemuda yang mengenakan apron merah tengah bersenandung mencicipi masakannya sendiri.
Tangannya dengan lihai mengambil beberapa bumbu dan memasukannya ke dalam panci. Kakinya juga terus bergerak mengejar sebuah oven yang sebentar lagi sampai pada batas waktu kematangan.
Doflaminggo tak hentinya terus tersenyum. Mungkin menggoda anak tersebut akan sangat menyenangkan, berhubung dia sangat merindukan anak tersebut terutama tubuhnya yang sangat nikmat.
Luffy
Disisi lain, Luffy masih terus bekerja dengan bahan makanan didepannya. Sebuah oven juga sudah mengeluarkan seloyang kue yang masih mengepul dengan panasnya. Selagi menunggu currynya matang, Luffy bergegas memasukkan cream choco mocha kedalam cetakan yang naasnya terjatuh begitu saja ketika ia merasakan dua buah tangan besar telah merayap mengelus dadanya.
Sialnya kedua putingnya juga dipilin sampai membuat denyut listrik terasa di area pangkal pahanya.
Luffy sampai gemetar, kakinya seakan-akan bagaikan jelly yang tersentuh.
"Calon istriku memang sangat berbakat. Membuat apa, Lucy? Aromanya enak sekali." Doflamingo mulai bertanya lembut. Tangan mulai bergerak untuk menurunkan sedikit kerah baju Luffy. "Tahu sesuatu, Lucy. Aku sangat kedinginan selama perjalanannku kesini. Ternyata kembali sebelum ayam berkokok itu bisa membuat prustasi dan aku lebih memilih bersetubuh ketimbang membentak beberapa orang tak berguna." Dan kejadian selanjutnya Doflamingo pun sudah melahap kembali leher tersebut dengan ganasnya. Ia kembali memberikan tanda kepemilikan di atas tanda yang sebenarnya sudah mulai memudar karena dibiarkan lebih dari seminggu.
Tidak hanya itu Doflamingo pun mulai melakukan petting untuk menggoda anak tirinya tersebut.
Benar saja, sebuah desahan lolos dengan nistanya.
"Ay— AHHH! yah.."
"Ffuffuffuffu... Kau lupa apa yang kuinginkan, Lucy? Jangan panggil aku 'Ayah' lagi. Ini akan terdengar aneh jika calon 'istriku' memanggilku dengan sebuatan Ayah. Bagaimana kalau memanggilku dengan sebutan Love.. Darling.. Honey.. Atau.. Mingo. Seperti yang sering kau lakukan, sayang."
Luffy menggeram namun ia berusaha untuk tersenyum.
"A-agak susah untuk terbiasa. Ibu memintaku untuk memanggilmu dengan sebutan— Ayah."
"Ya. Dan anehnya kau meneriakkan namaku dengan sebutan 'Mingo' ketika aku menikmati tubuhmu. Ayolah, Ibumu itu sudah mati, Lucy. Tidak akan ada yang akan memarahimu jika kau tidak sopan karena memanggilku seperti itu. Lagi pula saat kita pertama kali bertemu kau pun memanggilku dengan sebutan Mingo."
Luffy mulai mengepal kedua tangannya bersamaan dengan Doflamingo yang mulai menarik pantat Luffy ke arahnya dengan tangan satunya yang mendorong punggung Luffy ke arah meja yang masih berserakan dengan bumbu masakan.
Luffy mulai menggertakan giginya, sudah tahu dengan apa yang akan dilakukan Ayah tirinya apalagi ketika ia membuka penutup tubuh bagian bawah mereka.
"AHHH!"
Luffy tersentak. Ayah tirinya memang cukup kejam dengan tidak memberi pulumas sebelum melakukan penetrasi dan hal itu membuat Luffy sangat menderita.
"Kalau dipikir-pikir penisku sakit juga kalau tidak dilapisi pelumas." Baru sadar ternyata.
Luffy hanya menutup kedua matanya sebelum akhirnya membuka matanya kembali dengan kedua kaki yang mulai ia lebarkan.
Doflamingo mulai menyeringai ketika anak tirinya tersebut sudah bisa diajak bekerja sama. Doflamingo mulai mengumpulkan salivanya di mulut sebelum akhirnya meludahkannya tepat di kepala penisnya yang sudah siap masuk kembali.
Doflamingo mulai bergerak dan hal itu membuat Luffy menarik napas secara perlahan dengan kedua tangan berpegangan pada lemari piring disebelahnya. Dan setelah Luffy bisa menyeimbangkan tubuhnya ia pun kembali bekerja pada kue didepannya tanpa peduli sang Ayah jahanam tengah membobol lubang analnya dengan kasar.
Merasa penasaran, Doflamingo mulai mengintip dengan kedua alis bertaut. Ia mulai bergerak cepat merasa jika klimaknya makin mendekat.
Disisi lain corong yang dipegang Luffy sampai terjatuh ketika ia merasakan prostatnya tertabrak dengan diiringi semburan panas yang langsung mengisi seluruh ususnya dari dalam perut.
"Aahhh!"
Doflamingo kembali menarik penisnya yang sudah lemas, menyembunyikannya kembali dan disusul dengan memakaikan kembali celana dalam dan jeans yang dikenakan anak tirinya.
Doflamingo mulai berjalan disebelah Luffy dengan tubuh cukup lemah. Napasnya juga masih terdengar tak beraturan. Mungkin masih lelah dengan kegiatan yang baru mereka lakukan.
Keringat pun masih membanjiri seluruh wajah tampannya.
"Wow.. Aneh.. Kenapa aku selalu melihat kue berhias tepat di tanggal 05 Oktober?"
Terbelalak!
Luffy kaget, ia mulai gelagapan.
Keringat dingin juga menghiasi wajahnya. Luffy tidak mengangka jika Doflamingo selalu memperhatikan gerak geriknya bahkan hal yang selalu ia lakukan satu kali dalam setahun seperti hari ini.
"Bentuknya seperti kue ulang tahun. OHH!" Dan Luffy pun makin takut ketika dilihatnya Doflamingo seakan mengetahui sesuatu. Luffy mulai memalingkan wajahnya berbeda dengan Doflamingo yang mulai berjalan dan membungkuk tepat di depan Luffy setelah ia menggeser tubuh pemuda tersebut ke arahnya. "Apa kau menyiapkan kue ulang tahun ini untuk seseorang?"
Deg!
Bagaimana bisa pria pirang ini tahu? Padahal niat awalnya Luffy hanya ingin membuat masakan kesukaan Ayah kandungnya beserta kue ulang tahun tersebut secara diam-diam lalu ia akan membagikannya pada anak-anak panti asuhan sebelum ia berangkat ke Sekolah. Apa Doflamingo curiga?Apa dia akan menuduh dirinya berselingkuh dengan pria lain yang ia panggil 'Ayah' juga?
Yang benar saja? Dragon bahkan menjaga batas dengannya. Dia juga sangat menjauhi kontak fisik dengan dirinya. Lalu.. Bagaimana dengan sekarang? Doflamingo pasti menuduh dirinya lebih mencintai Ayah kandungnya ketimbang dia sebagai Ayah tirinya.
Meneguk ludah gugup, Luffy pun hendak bicara sampai Doflamingo kembali membuka suaranya dengan senyuman yang begitu lembut.
"Aku tidak menyangka kau mau berbaik hati membuat kue ulang tahun untuk Law, Lucy. Ffuffuffuffu. Padahal tidak usah juga tidak apa-apa. Beli saja mudah, atau— lupakan saja ulang tahunnya, ffuffuffuffu. "
"Eh?"
"Tapi kau tahu, Lucy? Anakku itu berulang tahun tanggal 06 Oktober yang itu artinya besok. Oh iya.. Bisa kau buat ulang? Kue ini terlalu kecil. Aku tidak yakin Law akan berkunjung kemari. Tapi aku sudah mengatakan padanya jika 'Ibu' barunya akan membuat pesta kecil-kecilan untuk dirinya."
Dan dengan berakhirnya ucapan tersebut, Doflamingo pun langsung mencuri ciuman di bibir Luffy dan beranjak dari tempatnya barusan. Hening masih terjadi. Panci berisi curry makin mendidih dan cipratan dari cream yang tumpah masih mengotori lantai.
BRUK!
Luffy terjatuh ke lantai. Air matanya mengalir dan Luffy pun kembali membereskan kekacauan kecil yang tak sengaja ia buat.
Ternyata.. Hari ini datang juga. Hari dimana ia akan bertemu dengan anak kandung Doflamingo.
Hari dimana ia harus bisa bersikap wajar didepan anak tersebut. Hari diamana dirinya harus bisa berperan sesuai keinginan pria pirang yang barusan meninggalkan dirinya.
Hari dimana dia harus berpura-pura menjadi 'istri' dari Ayah tirinya sendiri.
Dan ini— pasti salah!
.
.
.
Tbc.
Mohon jangan bunuh saya. (Kabur, balik lagi) Lu! Saya mau dong kue ultahnya! (Ditabok)
Next: "Pernah dengar kata K.D.R.T, Law?" Doflamingo mulai bertanya dan hal itu membuat Law menyernyit sebelum akhirnya tubuh Law terdorong kebelakang hingga membuat tubuhnya menabrak meja kaca sampai pecah.
PRANG!
