a/n: Wuah! Akhirnya saia buat fic Katekyo Hitman Reborn! lagi. Tapi kali ini genrenya sungguh berlawanan dengan fic saia yang terdahulu. Haha, saia memang kepengen melakukan hal-hal yang berbeda (?)...^^"
Di sini, umur Belphegor dkk, Vongola Family dan yang lainnya berkisar antara 20-23 tahun. Sedangkan setting waktu dan tempatnya yaitu berkisar antara abad pertengahan di Jepang.
Balasan untuk yang gak log-in:
Boku wa Nadeshiko desu : Semua pertanyaannya udah saia jawab di chapter ini. Ini, udah saia apdet. Thanks udah RnR, dan tetap RnR, yow!^^
Segitu dulu deh, a/n-nya. Ntar kepanjangan lagi... hehehe... XD
Enjoy reading^^
~ Watashi Dake no Ouji-sama ~
A Katekyo Hitman Reborn! Fanfic
Katekyo Hitman Reborn! belongs to Amano Akira
Angst / Tragedy / Romance / Friendship
M Rated
Warning : AU, OOC, charas death -no bashing purpose-, Sho-Ai, and other
Summary : Semua berawal dari pembantaian massal yang telah menewaskan seluruh anggota keluarga Vongola. Pembunuhan yang berasal dari dendam dan akan berakhir pada dendam pula.
=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=
- Chapter 1 : Destroyers and Revengers -
=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=
"Uuuh... Si-siapa kau?" tanya seorang lelaki berambut hitam spiky yang diketahui bernama Takeshi Yamamoto sambil memegangi bahu kanannya yang mengeluarkan darah segar. Sesekali ia meringis kesakitan, dengan mata yang menatap lurus ke arah salah seorang dari dua pemuda yang kini berdiri di depannya.
"Ushishi, dimana bosmu?" tanya pemuda itu dengan tawaan khasnya.
"Maksudmu Tsuna?" tanya Yamamoto lagi. Tatapannya tak lekang dari pemuda yang gaya tertawanya aneh itu.
"Ya, memangnya kau pikir siapa?" tanya seorang lagi. Kali ini rambutnya terlihat seperti nanas.
"Takkan kuberi tahu dimana Tsuna berada! Meskipun kalian memaksa!" bentak Yamamoto sambil berlari ke tempat dimana kedua orang yang menyerangnya hingga membuat bahu kanannya terluka itu. Ia pun mengacungkan pedangnya ke arah kedua orang tadi. Bersiap untuk menghunuskan pedangnya ke perut musuh.
"Eits! ...Mukuro-kun, kuserahkan pengganggu kecil ini kepadamu, ya? Jaa. Ushishishi~" tepat sejengkal sebelum pedang Yamamoto menyentuh permukaan kulit lelaki 'Ushishishi' bertiara itu, lelaki itu sudah menghilang dengan cepat.
'Haah, selalu saja begitu,' batin Mukuro pasrah. "Kufufu~ akan kuladeni kau, anak kecil," Mukuro pun mengeluarkan tridentnya dan mengarahkannya tepat di depan mata Yamamoto.
"Shindatta!" tanpa sempat mengelak, kedua bola mata Yamamoto sudah tertancap trident runcing. Darah pun mengalir deras dari sepasang mata milik Yamamoto. Dengan beringasnya, Mukuro melepaskan tridentnya dari mata Yamamoto. Tanpa memberikan sang korban waktu untuk bernapas lega, ia kembali menancapkan trident itu di punggung Yamamoto. Membuat Yamamoto tersungkur tak berdaya di tanah.
"Uuu-hh... Si-sial..." rintih Yamamoto. Darah terus mengalir dari bahu, mata, dan punggung Yamamoto.
"Kufufu~ daripada kau terus merasakan sakit seperti ini, bagaimana jika kau mati saja?" tanya+ledek Mukuro dengan senyum psikopatnya sembari menancapkan tridentnya sekali lagi ke bagian vital Yamamoto. Dengan sekali hentakan, Yamamoto dibuat tak bernapas. Ia sudah meninggal tepat setelah mengatakan, "Kau... sia..pa?"
"Namaku Mukuro Rokudou. Aku adalah kaki tangan..."
"VOI! Aku sudah membereskan orang-orang yang ada di rumah itu!" teriakan orang ini sukses membuat Mukuro menghentikan ucapannya dan menoleh ke arah sumber suara.
"Kufufu~ di sini juga sudah selesai. Ternyata yang di sini lebih gampang dari perkiraan," ungkap Mukuro seraya melepaskan tridentnya dari perut Yamamoto.
"VOI! Dimana si narsis itu?" tanya Squalo -orang yang berteriak tadi- sambil memandangi jasad Yamamoto dengan tatapan belas kasih.
"Ah, dia sedang mencari Tsunayoshi Sawada," jawab Mukuro sembari melangkah mendekati Squalo dan membelai rambut Squalo dengan tangan kirinya yang berlumuran darah.
"Vo-voi! Apa yang kau lakukan, breng***!" tanya Squalo sambil berusaha untuk menyingkirkan tangan Mukuro dari rambutnya.
"Kufufu~ rambutmu kusut, Squally," ledek Mukuro dengan tawanya yang khas.
"Kalau tanganmu masih menyentuh rambutku seperti ini, akan kupotong-potong tanganmu! Dan jangan panggil aku dengan sebutan itu, BAKA!" teriak Squalo yang merasa tak terima atas perlakuan Mukuro terhadapnya.
'Kau mengingatkanku pada seseorang saja!' gerutu Squalo dalam hati.
"Bagaimana kalau kita mencari Bel-sama saja, Squally?" tanya Mukuro yang tangannya sudah tersingkirkan dari rambut Squalo.
"Lebih baik kita cepat-cepat selesaikan misi ini. Aku tak mau mendengar ocehan tak jelas dari mulut pangeran terbuang (?) itu!" sungut Squalo lagi yang ternyata sudah berjalan mendahului Mukuro menuju ke arah gerbang utama perumahan Keluarga Vongola.
=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=
-Rumah Utama Keluarga Vongola-
"Sawada-sama, aku merasakan firasat buruk. Mungkin telah terjadi sesuatu di gerbang utama," ucap seorang lelaki cantik (?) bertopi hitam yang nampak menutupi matanya.
"Betul, Juudaime. Aku juga merasakan firasat buruk!" ucap seorang lelaki berwajah tsundere berambut keabu-abuan membetulkan jawaban temannya. Sedang, sang bos yang bernama Tsunayoshi Sawada hanya mendesah sembari memandang keluar jendela. Pikirannya melayang jauh entah kemana. Ingatannya kembali pada kejadian 5 tahun lalu.
_Flashback_
"Juudaime, bagaimana kalau kita langsung menghabisi seluruh penghuni istana ini?" tanya lelaki berambut keabu-abuan yang bernama Gokudera Hayato kepada sang bos sambil mengambil beberapa dinamit dari kantong peralatan senjatanya.
"Ta-tapi, Gokudera-kun. Di sini masih banyak orang-orang tak berdosa yang tak sepantasnya kita bunuh," perkataan Tsuna -sang bos- membuat Gokudera tercengang.
"A-aku mengerti, Juudaime. Tapi, pangeran mereka, pangeran mereka telah membuat semua rencana Juudaime untuk menguasai sebagian wilayah Jepang," ungkap Gokudera yang mencoba untuk mengutarakan isi hatinya tanpa harus menyakiti hati Tsuna.
"Herbivore, aku setuju dengan apa yang diucapkan Gokudera-herbivore itu! Pangeran mereka telah membunuh Vongola Nono. Dan itu tidak bisa dimaafkan," Hibari, salah satu dari guardian Tsuna membenarkan ucapan Gokudera.
Setelah bepikir dalam waktu yang cukup lama, akhirnya sang Vongola Decimo berambut coklat berantakan itu berkata, "Baiklah, kita lakukan pembalasan dendam!" sambil mengepalkan kedua tangannya dan berlari memasuki daerah kerajaan, tempat tujuan Tsuna dkk untuk membalas dendam.
_End of Flashback_
"Sebenarnya, apa yang telah terjadi?" gerutu seseorang dari luar rumah utama. Terlihat seseorang berambut bak Elvis Presley berlari dari arah taman rumah Cloud Guardian menuju ke rumah utama.
"Sawada-sama, Hayato-sama, Kyou-sama!" serunya dari balik pintu utama rumah Tsuna.
"Mammon, bukakan pintunya!" suruh lelaki berambut raven yang diketahui bernama Kyouya Hibari. Dan Mammon pun berkata "Baik, Kyouya-sama," sembari berjalan menuju pintu utama dan membukakan pintu.
"Ku-kusakabe-san, ada apa teriak-teriak begitu?" tanya Mammon ketika melihat pria bernama Kusakabe yang terlihat ngos-ngosan dan berkeringat.
"Aku sendiri tak tahu, Mammon. Ta-tadi, sewaktu aku berjalan melewati rumah Ryouhei-sama, kulihat darah segar telah berceceran dimana-mana. Dan baru saja aku mau memasuki rumah Sasagawa, Haru-san berkata bahwa Yamamoto-sama ditemukan te... U-ohok!" belum sempat Kusakabe menyelesaikan perkataannya, ia sudah diserang dari belakang oleh seorang lelaki berambut pirang berponi yang menutupi matanya, bertiara, dan menggunakan jaket kulit.
"Aaah..." Kusakabe melenguh kesakitan, darah terus mengalir dari punggungnya. Merembes ke jas hitamnya.
"Ku-kusakabe-san!" panggil Mammon seraya menghampiri dan menopang tubuh besar Kusakabe yang terjatuh. Ekspresi kaget, takut, marah, dan sebagainya telah membingkai di wajah uke (?) Mammon.
"Ada apa, Mammon!" di belakang Mammon telah berdiri keempat anggota Vongola. Tsuna, Gokudera, Hibari, dan Lambo yang memasang wajah kaget dan cemas.
"Ushishishi, jadi di sini rumah utama keluarga Vongola?" gumam lelaki yang telah menyerang Kusakabe tersebut. Terlihat di tangan lelaki tersebut tergenggam pisau-pisau kecil namun tajam yang dapat mematikan lawannya.
"Si-siapa kau!" kini Tsuna sudah bersiap dengan X-Glovenya. Gokudera sudah bersiap dengan dinamit-dinamitnya, Hibari juga sudah mengancungkan tonfanya tinggi-tinggi.
"CLASH!" tanpa mereka sadari, darah sudah mengalir dari belakang ketiga Vongola Guardian itu.
"Bel-ouji, kau kemana saja? Aku sudah mencarimu sejak tadi!" seru seorang pria berambut hitam spiky dengan tampang amat menyeramkan, memegang payung-payung listrik yang teraliri darah seorang Lambo.
"LAMBO!" teriak Tsuna, Gokudera dan Hibari bersamaan sambil memandang ke belakang mereka, dimana Lambo kecil terbaring tak sadarkan diri dengan darah yang mengucur dari kepalanya. Dan di belakangnya berdiri lelaki berpayung tadi.
"Lambo-sama!" Mammon langsung menghampiri teman baiknya sekaligus tuannya itu. Air mata kini benar-benar sudah membanjir di pipinya.
"Ushishishi, Levi... Lagi-lagi kau mengagetkanku," ujar lelaki bertiara yang dipanggil Bel-ouji itu sambil tersenyum cheshire andalannya.
"Maaf, Bel-ouji," pinta Levi sambil menggaruk tengkuknya.
"Ka-kalian! Sebenarnya, siapa kalian!" tanya Gokudera sambil mengarahkan dinamit-dinamitnya ke arah Levi, dan pertarungan antara kedua orang itupun dimulai. Tsuna dan Hibari terus memandang Bel dengan tatapan benci.
"Tidakkah kalian ingat padaku? Ushishishi..."
"Si-siap..." pertanyaan Tsuna terhenti ketika terdengar bunyi hunusan dan tusukan entah apa dari arah samping, tempat dimana Hibari berdiri.
"CLASH! CRING!"
"Serahkan semuanya padaku. Akan kubuat mereka bertekuk lutut di hadapan kita," ternyata Hibari telah terkena serangan trident dari seorang wanita berpenutup mata cap tengkorak (?).
"Chrome, seharusnya aku duluan yang menyerangnya!" gerutu lelaki bertopi putih dari atap rumah utama.
"Dan yang mengatakan hal keren itu seharusnya aku!" tambah lelaki berambut pirang yang berdiri di samping lelaki bertopi putih tadi. Mereka bernama Chikusa Kakimoto dan Ken Joshima.
"Haha, maaf deh. Aku keceplosan," ujar Chrome -wanita yang telah menyerang Hibari- sambil tersenyum. Mukanya memerah sedikit.
"Uuh..." rintih Hibari yang perutnya tertembus trident itu. 'Siapa lagi herbivore-herbivore itu?' pikirnya jengkel.
"Ushishishi... Kalian benar-benar tidak mengingatku?" tanya Bel lagi sembari berjalan mendekati Tsuna yang terdiam, yang tak mampu mengucapkan apapun. Tangan, kaki dan bibirnya bergetar. Darahnya serasa berdesir lebih cepat, jantungnya tak berhenti berdebar. Melihat segala pemandangan di sampingnya yang dipenuhi dengan bercak merah darah membuatnya benar-benar takut.
Kembali ia teringat ke masa 5 tahun lalu. Dimana ia melihat seorang lelaki yang seumuran dengannya tengah terduduk sambil merengkuh seseorang yang hampir tak berdaya.
"Ushishishishi. Aku akan membalaskan dendam kakakku!"
_Flashback_
"Dasar kakak bodoh! Apa yang membuatmu menjadi selemah ini, sih? Hiks hiks..." rengek seorang remaja berumur kurang lebih 16 tahun, yang rupanya adalah Belphegor.
"Diamlah, Belphegor! Uhuk..! Kau itu, cengeng sekali, sih? Kau kan sudah besar..." ucap sang kakak yang sudah terluka parah, berusaha untuk menenangkan adiknya yang menangis itu.
"Saatnya untuk mati, Rasiel! Kamikorosu!" terlihat di depan mereka, Hibari telah mengacungkan tonfanya ke arah Rasiel -kakak kembar Bel- setinggi-tingginya. Tak ada perlawanan yang bisa diberikan oleh Rasiel dan Bel. Mereka sama-sama memejamkan mata. Menikmati detik-detik sisa hidupnya.
"Tunggu, Hibari-kun! Biar aku saja, biar aku saja yang membunuh mereka. Ini adalah masalahku," hadang Tsuna tepat sebelum Hibari mengacungkan tonfanya ke wajah Rasiel yang sudah pucat karena kehilangan banyak darah.
"Mati kau!"
"BLARR!"
_End of Flashback_
Tanpa Tsuna sadari, Bel sudah mengiriskan pisaunya ke pipi kiri Tsuna hingga membuat pipi kirinya berdarah.
"Umh, bagaimana Tsunayoshi Sawada? Apa kau sudah mengingatku?" tanya Bel sambil menjilat darah yang ada di pipi Tsuna. Membuat Gokudera yang setengah sadar dan Hibari yang sudah mulai oleng berontak dan makin khawatir.
"Ka-kau... jangan-jangan kau..."
"Juudaime!" "Tsuna!" "Sawada-sama!" teriak Gokudera, Hibari dan Mammon bersamaan. Ketika melihat salah satu pisau yang dipegang Bel sudah siap untuk memotong urat leher Tsuna dari belakang.
"Bagaimana kalau kau mati saja, Tsunayoshi-kun?" tak sempat mengelak. Begitulah kira-kira perkataan yang tepat untuk menggambarkan situasi Tsuna sekarang. Pisau yang dipegang Bel sukses menancap di tengkuk Tsuna. Hingga Tsuna jatuh ke tanah dan mengeluarkan banyak darah.
"Ka-kau.. adik Rasiel, bukan?" tanya Tsuna sambil memandang Bel dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Akhirnya, kau ingat juga, eh?" tanya Belphegor balik sambil menampakkan senyum cheshire kebanggaannya. Membuat Hibari dan Gokudera tersadar, bahwa yang ada di depannya ini adalah lelaki yang pernah meminta kepada mereka untuk tak membunuh kakaknya.
"Arara~ Bel-ouji, kami sudah menghabisi semua lebah-lebah penganggu itu!" tiba-tiba datanglah seorang err... banci *author digerek* berjambul hijau menghampiri Bel sembari memberikan ciuman mautnya. Disusul Squalo dan Mukuro di belakangnya.
'Sial!' runtuk Tsuna dalam hati. Merasa bersalah karena tak bisa melindungi keluarganya.
"Bagaimana Bel-sama? Apakah kita habisi mereka sekarang?" tanya Chrome yang memandang Hibari dengan tatapan kosong. Sedangkan tridentnya sudah berada tepat di kulit Hibari. Bel hanya tersenyum dan mengingat kata-kata terakhir kakaknya
"Bel, berjanjilah padaku..."
"Sawada-sama, Kyouya-sama, Hayato-sama! Awas!" teriak Mammon ketika dilihatnya ketiga orang atasannya itu sedang dalam ambang kematian.
"CLASH!" "CTAR!" "BLARR!"
Namun sepertinya Mammon terlambat sedetik. Masing-masing dari alat pembunuh itu sudah tertancap di bagian tubuh Tsuna, Hibari dan Gokudera. Mereka pun dibuat tak berdaya dan mati.
"...balaskan dendamku."
"Aku sudah melunasi hutangku," gumam Bel dengan ekspresi datar dan nada suara yang datar pula.
"Sa-sawada... Sawada-sama...?" dengan bibir dan suara yang bergetar, Mammon memanggil nama tuannya yang selalu baik kepadanya itu.
"Arara~ ternyata masih ada satu hama lagi yang belum kita bunuh, Bel-ouji~" ucap Lussuria -banci berjambul hijau- seraya memandang Mammon dengan tatapan iba.
"Apa kita bunuh saja, Bel-sama?" tanya Chrome sembari mendekati Mammon yang menangis sejadi-jadinya.
"Kumohon, kumohon jangan bunuh aku... Hiks.. hiks.. Kumohon..." tangis+pinta Mammon yang mengubah cara duduknya menjadi bersimpuh. Seperti orang yang sedang memohon. Air mata terus berlinang hingga membasahi bumi. Tepat disaat hujan deras yang turun dari peraduan hingga membuat dinginnya malam menjadi semakin dingin. Membuat perumahan keluarga Vongola seperti banjir darah.
Taps taps taps...
Bel berjalan mendekati Mammon. Begitu pula dengan Mukuro, Squalo dan yang lainnya. Entah apa yang akan mereka lakukan pada Mammon.
"Kufufufu~ Jangan menangis, sweety," ucap Mukuro sambil mengelus topi Mammon. Membuat topi itu terjatuh ke tanah yang tergenang air dan darah.
Mammon tak dapat berkata apapun. Bibirnya serasa terkunci, pita suaranya serasa putus. Sampai Bel berjongkok di depannya dan membelai pipinya yang basah.
"A-apa yang..." sebelum Mammon menyelesaikan perkataannya, Bel membisikinya sesuatu.
"Aku takkan membunuhmu. Sebagai gantinya, ada satu syarat yang harus kau penuhi yaitu..." Bel menghentikan sejenak perkataannya. Sedikit ia melirik ke wajah Mammon yang menyiratkan rasa kaget.
Kemudian ia melanjutkan lagi perkataannya, "...jadilah bawahanku."
- TBC -
=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=
Behind The Scene:
Scene 1:
"Uuuh... Si-siapa kau?" tanya seorang lelaki berambut hitam spiky yang diketahui bernama Takeshi Yamamoto sambil memegangi bahu kanannya yang mengeluarkan darah segar. Sesekali ia meringis kesakitan, dengan mata yang menatap lurus ke arah salah seorang dari dua pemuda yang kini berdiri di depannya.
"Ushishi, dimana bosmu?" tanya pemuda itu dengan tawaan khasnya.
"Maksudmu Tsuna?" tanya Yamamoto lagi. Tatapannya tak lekang dari pemuda yang gaya tertawanya aneh itu.
"Tsuna? Siapa, tuh?" tanya Mukuro dengan tampang bego—
Dilla (author): "Wo-woi! Sejak kapan Mukuro nanya kayak gitu? Lagian nih, narator kenapa ada deskripsi yang gaje gitu?"
xxx (narator): "Hah?" (Begoness face)
Mukuro: "Lha? Wong di sini tertulis, kok!" (Nunjukin skenario ke author)
Dilla: (Membaca skenarionya Mukuro) "... Ckckck, sejak kapan yang nulis skenarionya si Ken gini?" (Memandang Ken dengan aura horor) "Okelah! Lanjut lagi! Ini skenario yang asli!" (Memberikan skenario yang asli ke Mukuro)
Ken: (Kabur)
Scene 2:
"Ah, dia sedang mencari Tsunayoshi Sawada," jawab Mukuro sembari melangkah mendekati Squalo dan membelai rambut Squalo dengan tangan kirinya yang berlumuran darah.
"Vo-voi! Apa yang kau lakukan, bangsat! Ah~" tanya Squalo sambil mengeluarkan lenguhan, desahan, dan—
Dilla: "Stop! Ke-kenapa jadi kayak adegan lemon, sih? Lalu, darimana pula kata 'bang***' itu? Di sini Squalo bilangnya 'breng***' dan disensor!" (Membaca skenario)
xxx: "Yah, kan udah ada dalam skenario?" (Watados face)
Dilla: "Lah? Skenario mbahmu! Tukang sensornya mana?" (Celingukan)
yyy (tukang sensor): (Inosen face) "Apanya yang harus disensor?"
Dilla: "Ba-baka! Itu kata 'breng***'-nya disensor dong!"
yyy: (Ngupil) "Bilang dong daritadi!"
Dilla: (Membatin) "Mampus aja dah, lu!"
Squalo: "Voi! Disitu kan gue bilang bangsat?"
Dilla: "Skenario yang lu baca tuh, salah! Nih, yang bener!" (Nunjukin skenario yang asli)
Squalo: (Membaca skenario yang asli) "Buset dah! Anjrit lu, Mon! Udah ngasih gue skenario yang salah!" (Deathglare ke Mammon)
Mammon: "Peace!" (Peace mode)
Scene 3:
Tanpa Tsuna sadari, Bel sudah mengiriskan pisaunya ke pipi kiri Tsuna hingga membuat pipi kirinya berdarah.
"Umh, bagaimana Tsunayoshi Sawada? Apa kau sudah mengingatku?" tanya Bel sambil menjilat darah yang ada di pipi Tsuna. Membuat Gokudera yang setengah sadar dan Hibari yang sudah mulai oleng berontak dan makin khawatir.
"Engh, Bel-san... U-uh... Berhenti menjilat pipiku...—"
Dilla: "Hah? Tsuna, kamu baca skenario yang mana?"
Tsuna: (Masih melanjutkan dialognya) "aku gak kuat lagi, nih~" (Tersadar dari alam mimpi -?-) "Hah? Kok jadi kayak gini?"
Bel: "Ushishishi, dame-Tsuna, kau sudah kehilangan banyak darah!" (Menyeringai mesum)
Dilla: "What! Eh, Tsuna! Jangan mati kehabisan darah dulu sebelum adegan matinya!" (Panik)
xxx: "Salahin yang buat skenarionya dong!"
Dilla: "Hee? Tapi di skenario yang kubuat gak ada scene kayak gitu!"
Bel: "Ushishi... Eh, dame-author! Yang buat skenarionya kan si Levi!" (Nunjuk Levi dengan watados)
Levi: "Hehehe." (Nyengir kuda)
Dilla: "Leviiii...?" (Memandang Levi dengan gerakan slow motion)
Levi: (Tancap gas -?-)
=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=ENDx=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=
a/n: Wuaa...! Ke-kenapa ceritanya jadi begini? Tidak! Maaf bagi yang gak suka kalo anak-anak Vongola mati... *sujud sembah* Maaf... Maaf... *Di-Dying Will sama Tsuna* Gore scenenya juga gak kerasa, yah? Sekali lagi maafkan saia karena saia emang kurang bakat untuk membuat gore fic.. T.T
Yah, kalau begitu, silakan bagi Readers-sama untuk mereview fic ini. Terserah deh mau direview kayak gimana. Mau dikritik, dikasih saran, dipuji *ngarep*, bahkan diflame pun gak masalah (Asal flamenya gak memakai kata-kata kasar dan bisa memberi petuah yang baik -?- agar di chap depan ficnya bisa lebih baik).
Sekian a/n penutup -?- dari saia. Domo arigatou, Readers-sama. Sampai jumpa di chapter depan!^^
