Cast :
Denis / Park Jungsoo (King of Asterium)
Aiden / Lee Donghae (Prince of Asterium)
Victoria (Queen of Asterium)
Airen Delavina (Princess of Asterium)
Marcus / Cho Kyuhyun (Prince of Darkwarium)
Choi Siwon (King of Darkwarium)
Robert (Destiner 1)
Michael (Destiner 2)
Gabriel (Destiner 3)
Xi Luhan (Master Xi)
Cast-nya memang banyak dan baru saya tulis sekarang, soalnya genre utama ff ini Kingdom life, fantasy, supernatural, dan mistery.
Mianhae, kalau ada yang protes! Cast akan terus bertambah jadi usahakan fokus, saya menetapkan cast di sini berdasarkan lotre. ^_^
Yang berminat bisa mampir ke wp saya di :
krystalaster dot wordpress dot com Kamsahamnida!
Happy Reading...!
Takdir
Hal misterius yang mengikat seseorang
Hal yang sudah digariskan oleh Tuhan
Hal yang bahkan ada sebelum alam semesta diciptakan
Takdir
Sebuah ketentuan mutlak dari Tuhan
Ketentuan tentang nasib yang harus diterima
Baik atau buruk?
Tergantung dari sisi mana kau memandangnya
Tapi, percayalah!
Bahwa Tuhan selalu memberikan sebuah kebahagiaan dan kesedihan secara seimbang
Takdir
Jangan pernah sekalipun kalian menghina takdir!
Jangan pernah kalian terpuruk terlalu lama saat takdir buruk terjadi
Karena disetiap musibah, selalu ada kebahagiaan yang terselip disana
-The King of Asterium, Denis Sanderson-
.
.
.
"Saat aku mengunjungi Danau Cahaya, aku mendapatkan penglihatan tentang masa depan keluargaku terutama calon bayi kami. Di situ aku melihat sebuah upacara pemakaman di danau cahaya dan aku sedang menenggelamkan jasad seorang bayi di sana." Raja Denis menghela nafas frustasi, hingga menciptakan suasana hening beberapa saat, Robert tampak cukup terkejut mendengar pernyataan Raja Denis tentang calon bayinya.
Raja Denis menatap Destiner tingkat dengan sorot mata sendu dan kedua tangan yang saling bertautan di atas lutut.
"Robert,... aku melihat bayi perempuan yang sangat cantik, aku merasakan kesedihan yang cukup menyesakkan saat melihatnya. Aku tak tau harus bagaimana? Aku tak sanggup menyampaikan hal ini kepada istriku, karena ia pasti sedih. Bahkan dulu saat aku memberitahukan tentang takdir abu - abu yang mengikat calon bayi kami, ia sangat sedih. Ratu selalu menangis hampir setiap malam saat ia terjaga, setelah itu ia akan berdoa sepanjang hari agar bayi kami bisa hidup walaupun ia harus menjadi Asternist biasa. Setidaknya hal itu lebih baik daripada melihatnya terlahir dalam keadaan tak bernyawa."
Raja Denis menutup matanya setelah mengatakan hal yang sejak kemarin membuatnya gelisah, tampak guratan lelah di wajahnya. Destiner Robert memandang Raja pemimpin Asterium itu sendu, sebagai orang yang dekat dengan Raja tentunya Ia cukup mengerti tentang perasaan dan bahkan kebiasaan Raja.
"Apa Raja masih ingat tentang takdir yang tertulis pada Destiny book saat Ratu Victoria mengandung Pangeran Aiden?" Pertanyaan Robert membuat Raja Denis menatap kearahnya dengan sebuah senyum simpul.
"Tentu saja aku ingat, saat itu Aiden mendapatkan garis takdir Naga Putih." Robert mengangguk pelan dan memberikan senyum tulus yang membuat Raja Denis merasa nyaman.
"Pangeran Aiden mempunyai garis takdir yang istimewa, semua itu terbukti dengan kebaikan hati dan tanpa adanya kecacatan fisik maupun kekuatan pada Pangeran Aiden. Sekarang calon bayi kedua Yang Mulia Raja mendapatkan garis takdir abu - abu, jadi kita hanya bisa menunggu keputusan dari Tuhan tentang nasib yang sebenarnya. Saya hanya bisa berdoa agar Tuhan memberikan takdir yang terbaik."
Robert mengulurkan tangan kanannya dengan telapak yang terbuka, perlahan muncul sinar kecil yg berkilau dan meredup perlahan. Ketika sinar itu benar - benar hilang, tampak sebuah liontin dengan batu berlian putih berbentuk hati yang indah. Ia memberikan liontin itu kepada Raja Denis.
Dengan perlahan Raja Denis menerima kalung itu dan mengamatinya dengan rasa penasaran yang tinggi. Hingga suara lirih dari Destiner Robert membuatnya tertegun.
"Itu adalah liontin takdir, apapun yang terjadi nanti pada calon bayi Yang Mulia Raja. Pastikan Raja Denis memakaikan liontin itu padanya, itu adalah liontin yang berasal dari Galaxy Andromeda, liontin cantik dengan batu berlian itu adalah hadiah yang diberikan oleh Raja Armest kepada Rainbow Knights karena telah menyelamatkan Planet Rasio dari serangan goblin. Selama lebih dari 2300 tahun, liontin itu selalu diwariskan kepada Destiner tingkat satu sesuai pesan dari Rainbow Knights untuk menjaga liontin takdir, hingga menemukan sosok yang pantas untuk mengenakannya. Saya mempunyai firasat yang kuat, bahwa calon bayi Yang Mulia Raja Denis adalah sosok yang pantas menerima liontin itu." Penjelasan dari Robert membuat Raja Denis tersenyum, liontin itu tampak sangat indah dengan ukiran unik di sekeliling batu berlian putihnya.
.
.
.
Suara percakapan akrab diiringi tawa ringan terdengar dari dua sosok rupawan dengan derajat berbeda. Mereka berdua sedang berjalan di sepanjang koridor kerajaan Asterium dengan langkah pasti, membuat banyak prajurit ikut merasa bahagia mendengarnya.
"Bagaimana dengan keadaan istrimu Master Xi, kudengar ia sudah berhenti mengajar?" Raja Denis bertanya dengan penuh rasa penasaran, pasalnya Master Xi jarang membicarakan tentang istrinya.
"Dia baik - baik saja, Master Liu menjaga calon bayi kami dengan sangat protektif. Oh, saya bahkan seringkali begadang karena harus berteleportasi ke banyak lokasi, hanya untuk mengambilkan apa yang sedang diinginkan bayi kami." Master Xi tersenyum simpul saat mengatakan kata 'bayi'. Melihat raut wajah bahagia dari Master Xi, otomatis membuat Raja Denis ikut tersenyum lebar dan semakin bersemangat untuk melontarkan berbagai pertanyaan lain.
* Master adalah sebutan lain untuk golongan pelatih, mereka memiliki keterampilan tinggi dalam berperang, sayap berwarna perak yang senada dengan warna matanya, serta kemampuan menciptakan perisai kasat mata yang cukup kuat walaupun tak sebanding dengan perisai buatan para kesatria. Bertugas untuk melatih seluruh anak-anak Krystalier serta memantau keseimbangan di Asterium.
"Kau memang tak berubah, dari dulu selalu memanggilnya dengan 'Master Liu' setidaknya panggillah istrimu dengan kalimat yang lebih romantis!"
Gelengan kepala yang tegas dari Master Xi, malah membuat Raja Denis terkekeh. "Kalau Master Liu berubah menjadi wanita yang anggun & tidak melankolis. Saya pasti akan memanggilnya dengan sebutan yang lebih baik, tetapi itu adalah hal yang mustahil terjadi. Raja Denis pasti mengerti sikapnya yang terlewat aneh itu, tapi lebih anehnya karena saya mencintainya." Hati itu sulit ditebak, semakin lama berubah layaknya candu ketika melihat seseorang yang dicintai.
"Hahahaha, kau ini bisa saja! Aku berdoa semoga bayi kalian lahir dengan sehat!" Doa tulus itu dihadiahkan oleh Raja Denis, lengan kanannya kini merangkul bahu Master Xi dengan akrab.
"Terima kasih atas doanya." Raja Denis mengangguk mendengar ucapan Master Xi.
"Jujur saja, aku penasaran seperti apa kekuatan yang akan dimiliki anakmu nantinya? Status pernikahan kalian adalah yang pertama kali disepanjang sejarah, biasanya para Master menikahi Asternist tingkat satu atau Asternist biasa." Master Xi terkekeh pelan mendengar nada penasaran Raja Denis.
"Kemungkinan besar dia akan mewarisi kekuatan kami berdua,hanya saja kekuatan milik siapa yang lebih dominan.
Dia perempuan, Destiner Robert mengatakannya saat merasakan aura bayi kami. Ah... Dia pasti nantinya akan menjadi Master kecil yang cantik, tapi saya rasa kecantikannya tidak akan bisa menandingi Tuan Putri."
Lontaran kalimat sederhana yang keluar dari bibir Master Xi, seketika membuat senyum Raja Denis pudar. Master Xi mengernyit heran saat melihat perubahan ekspresi Raja Denis yang tampak murung dan gusar. Apalagi rangkulan Raja Denis di bahunya terasa menegang.
"Raja baik - baik saja kan?"
Seolah tersadar, Raja Denis tersentak kaget mendengar nada khawatir dari Master Xi dan secepat mungkin berusaha mengendalikan ekspresinya.
"Eoh, aku baik - baik saja. Hahahaha... Putriku memang akan menjadi yang tercantik di Asterium, bahkan ia akan menjadi yang tercantik di seluruh alam semesta." 'Semoga saja Tuhan mengijinkan putriku untuk hidup' Suara Raja Denis semakin lirih di akhir kalimatnya, bahkan senyum di wajah Raja Denis tak berbekas sama sekali saat merapalkan doa singkat dalam hatinya.
Master Xi hanya mengernyit heran mendengar tawa Raja Denis yang jelas dipaksakan, seolah menutupi sesuatu.
Takut dan gelisah, hal itulah yang tiba - tiba mendominasi perasaan Raja Denis.
Semua penduduk Asterium hanya mengetahui perihal 'calon putri yang akan lahir' tetapi tidak dengan 'garis takdir abu - abu' yang tertulis pada Destiny book.
.
.
.
Waktu berlalu begitu cepat, keenam Rainbow Knight sudah ditemukan. Saat ini mereka berada di Sapphire House dan dijaga oleh para Master tingkat dua beserta kedua orangtua mereka.
Hanya keberadaan Red yang belum diketahui, bahkan auranya tidak bisa dirasakan oleh Destiner Robert.
Membaca Destiny book juga tidak membuahkan petunjuk apapun, seolah Tuhan memang menyembunyikan keberadaannya.
Seluruh Krystalier menjalani pelatihan teknik bertarung setiap akhir pekan untuk meningkatkan kemampuan maupun elemen pengendalian, mereka berlatih di bawah pengawasan dan bimbingan Jenderal Perang Kim, Master Xi, dan Master Hwang.
Selama ini Sapphire house dibiarkan kosong jika para Rainbow knights tidak ada. Para Rainbow knights akan dilatih secara khusus oleh Master tingkat satu dan kepala panglima perang, dimulai saat mereka berusia 3 tahun hingga mereka siap menjalankan misi. Saat bayi Mereka diasuh oleh Master tingkat dua hingga berusia 5 tahun, setelah itu mereka benar - benar diharuskan menjadi mandiri untuk melakukan segalanya, kecuali penyajian makanan akan tetap dilakukan oleh Asternist yang bekerja di dapur Sapphire house.
Rainbow Knight tinggal bersama kedua orangtua mereka di Sapphire house hingga berusia 2 tahun, selanjutnya orangtua mereka dipulangkan ke rumah yang sebenarnya dan Rainbow Knights sepenuhnya diasuh oleh para Master tingkat dua, mereka hanya diijinkan menemui keluarga masing - masing saat akhir pekan.
Sedangkan Asternist yang masih anak - anak mendapatkan jam tambahan di sekolah, bahkan beberapa dari mereka memutuskan untuk tinggal di Asrama agar bisa berlatih lebih giat.
Semua hal itu dilakukan untuk mempersiapkan diri jika Raja Kegelapan menyerang Asterium. Meskipun sudah ada para Rainbow Knight, setidaknya Krystalier terutama para Asternist butuh berlatih untuk menghindari jatuhnya korban jiwa.
Para Asternist akan bekerja dari pagi hingga sore hari dan mendapatkan upah berupa keping emas sebagai alat tukar. Setiap seminggu sekali para Asternist biasanya mengunjungi danau cahaya untuk menenangkan diri ataupun sekedar menikmati pemandangan disana. Setiap 2 hari sekali mereka akan mendatangi pasar White guna membeli beberapa kebutuhan seperti makanan, pakaian, maupun senjata.
Semua peran sudah tertata, sehingga jika ada yang melakukan penyimpangan tugas akan dihukum oleh Raja Asterium.
.
.
.
Disebuah ruangan bernuansa biru laut, Robert berdiri diam mengawasi keenam bayi yang terlelap di atas ranjang mereka. Hingga terdengar suara langkah kaki yang menggema dari lorong koridor, membuat Robert mengalihkan pandangan ke arah pintu.
Tampak seorang prajurit yang berlari dengan cepat menghampirinya. Prajurit itu memberi hormat sekilas dan mulai berkata dengan cepat disertai kepanikan.
"Tuan Destiner Robert! Destiny book tiba - tiba bercahaya."
Robert yang terkejut mendengar kabar itu, ia dengan panik berteleportasi menuju istana.
.
.
.
Destiner Robert tiba di depan pintu gerbang Istana Asterium, terkadang ia menyesali tingkat keamanan yang menyelubungi Istana jika keadaan genting sedang terjadi.
Ayolah... Meskipun ia bisa berteleportasi, tapi tetap saja ia harus membuka pintu gerbang sesuai aturan dengan menggunakan cahaya putih.
Gerbang istana terbuat dari baja dengan ketebalan 1m dan lebar 17m. Pintu gerbang hanya dapat dibuka dan ditutup oleh Golden clan,Para Master, Destiner, Rainbow Knight, dan pengawal yang memiliki kekuatan elemen minimal level 5.
Halaman depan istana berupa taman dengan dua kolam air mancur besar berbentuk lingkaran yang berada di sisi kanan dan kiri istanan, kolam itu dihiasi patung unicorn yang berdiri tegak tepat di bagian tengah kolam.
Disekeliling kolam terdapat berbagai jenis bunga mawar yang tumbuh berdesakan dengan semak - semak.
Jarak antara gerbang dan teras istana adalah 250m dengan jalan setapak selebar pintu gerbang yang terbuat dari bebatuan sungai, batuan tersebut sudah dirubah menjadi lempengan - lempengan halus berbentuk persegi berukuran 30cm kali 30cm yang saling merapat, mirip seperti lantai keramik berwarna hitam karena permukaannya yang mengkilap.
Di samping kanan istana, tepatnya 15m di belakang kolam air mancur, terdapat sebuah lapangan seluas 60m kali 100m yang digunakan untuk tempat berlatih para prajurit. Sedangkan di samping kiri istana terdapat taman labirin berukuran 80m kali 120m dengan dinding pembatas setinggi 2m yang berselimutkan tanaman rambat, di luar labirin terdapat berbagai macam bunga yang tumbuh dengan subur.
Bangunan depan istana tampak megah dengan 6 pilar besar yang terbuat dari batu marmer putih dan inti baja.
Pintu, meja, kursi, almari, bahkan rajang istana terbuat dari kayu pohon akasia disertai ukiran - ukiran yang dilapisi emas. Karpet merah maroon tergelar memanjang dari pintu masuk hingga singgasana.
Di istana, Robert melihat Michael dan Gabriel yang sedang berusaha membuka pintu ruang penyimpanan Destiny book.
"Pintunya terkunci lagi Robert! Kali ini bahkan lebih sulit daripada saat Asterium mengalami badai dahsyat." Michael langsung menjelaskan situasi yang terjadi saat melihat kehadiran Robert.
"Aku sudah berusaha mengirim telepati padamu, tapi kau ternyata menutup pikiranmu. Terpaksa aku mengirimkan seorang prajurit untuk terbang dan memanggilmu. Tidak mungkin jika aku meninggalkan Michael sendirian untuk menjaga ruangan ini, karena sangat beresiko."
Penjelasan panjang lebar disertai gerutuan dari Gabriel membuat Robert berdecak kesal.
"Baiklah aku minta maaf. Sekarang, dimana Raja Denis?" Pertanyaan Robert malah membuat Gabriel semakin terlihat jengkel.
"Astaga! Kau benar - benar keterlaluan! Ratu sedang melahirkan, jadi Raja Denis saat ini sibuk menjaga Pangeran Aiden." Robert semakin terkejut mendengar seruan heboh dari Gabriel, ia sungguh tidak tau perihal Ratu yang melahirkan.
"Akkh.!"
Pekikan kesakitan membuat Robert dan Gabriel mengalihkan pandangan, di bawah pilar yang terletak tak jauh dari mereka berdua, tampak Michael yang tengah meringkuk kesakitan dengan pelipis yang sedikit lecet dan berdarah.
Robert menghampiri Michael dan membantunya berdiri, sedangkan Gabriel masih tetap berada di tempatnya.
"Pintu itu terkunci dengan kuat, kita harus melakukan persembahan darah murni untuk membukanya!" Michael berucap pelan dengan suara yang sedikit tersendat karena rasa sakit yang menderanya akibat terhantam pilar.
Tadinya Michael bertekad untuk membuka segel pintu dengan kekuatannya sendiri karena melihat Robert dan Gabriel sibuk ber-argument, tapi Michael malah terpental akibat kekuatannya yang memantul balik dan menyerangnya.
"Baiklah kalau begitu. Gabriel, cepat ambil pedang Destiner di pavilliun! Biar aku yang menjadi persembahan agar kalian berdua tetap bisa bertugas." Gabriel mengangguk singkat dan menghilang, sepersekian detik setelah itu, ia muncul dengan membawa sebuah pedang.
Saat ini ketiga Destiner sudah berdiri berjajar di depan pintu dengan mata yang menyala dan sayap yang mengembang sempurna, Robert berada di antara Gabriel dan Michael.
"Aku siap!" Robert berkata dengan mantap, perlahan Gabriel menggoreskan pedang yang dibawanya tepat diatas pergelangan tangan kiri Robert.
Cucuran darah yang cukup deras mulai tampak dari bagian kulit Robert yang tergores di bawah sisi pedang, dengan cepat Gabriel menarik pedang itu diiringi Michael yang mengusap darah itu dan mengoleskannya pada pintu.
Michael membuat beberapa pola rumit dan simbol dengan cepat, sementara Robert merapalkan mantra.
Ziingg!
Segel pintu terbuka, membuat cahaya menyilaukan yang memancar dari Destiny book menerobos keluar dari celah pintu.
Ketiga Destiner menyipitkan mata untuk menfokuskan penglihatan mereka, dengan langkah cepat mereka menghampiri sebuah meja yang terletak di tengah ruangan. Perlahan cahaya menyilaukan itu terserap ke dalam tubuh para Destiner, hingga menyisakan cahaya temaram yang cukup meneduhkan dari lampu kristal yang tergantung di langit - langit.
Robert meraih Destiny book setelah meneteskan darahnya pada sebuah simbol naga di tepi meja.
"Destiny book! Aku adalah penjagamu, ijinkan aku untuk membaca takdir yang dituliskan Tuhan diatas lembaran putihmu!" Robert membuka sampul depan Destiny book hingga menampilkan lembar pertama yang kosong.
Destiny book mengeluarkan cahaya tipis yang berpendar dari atas hingga bagian bawah, beberapa kalimat yang tertulis dengan aksara Mibel mulai terlihat jelas.
Michael dan Gabriel mengambil posisi yang lebih dekat dengan Robert, mereka saling menatap sejenak lalu mengangguk pelan sebagai isyarat, setelah itu mereka memusatkan perhatian pada deretan kalimat yang sudah terukir rapi disana.
Suara lantang menggema di dalam ruangan Destiny book berasal dari ketiga Destiner yang mulai membaca tulisan takdir.
"Garis takdir abu - abu untuk Putri yang akan terlahir di hitungan waktu sebanyak jumlah penjagaku. Saat sumber cahaya mulai terlelap dari bagian inti kekuasaan, maka air dan sengatan dari langit akan menjadi melodi indah untuk kegelapan. Cahaya utama yang lahir dengan perbedaan ikatan takdir harus ditukar dengan kehampaan, sementara pembuat perisai level satu adalah wali statusnya.
Cahaya utama adalah pembuka portal titik balik waktu, para Rainbow Knight yang muncul lebih cepat karena kegelapan.
Kesempurnaan rupa dan kekuatan yang terpendam, menjadikannya wadah spesial untuk sebongkah keabadian dari Sang Pencipta alam semesta yang Agung.
Disaat yang sama dengan perubahan insting adalah waktu bagi kedua perbedaan bertemu diatas planet paling terang.
Sebelum itu, pengasingan disertai perjuangan harus dilakukan setelah penghapusan masa lalu untuk enam yang terbawah, persaingan dalam satu keturunan sementara yang akan menentukan kepekaan kegelapan. Mati adalah kabar yang nyata sebelum penyematan batu takdir untuk Sang Putri, hingga penukaran jiwa yang diberikan pada Sang Pencipta."
Robert merasakan tubuhnya lemas seketika setelah membaca tulisan di buku takdir, isi ramalan itu benar - benar mengejutkan.
"Ramalan yang tertulis sungguh mengerikan! Pantas saja ruangan penyimpanan ini sulit untuk dibuka. Ternyata hari ini adalah waktu kelahiran Red, sekaligus meninggalnya Sang Putri." Suara seruan Gabriel memecahkan keheningan yang sempat melingkupi sepersekian detik.
Gabriel bergerak gusar, ia memejamkan mata sejenak dan mengepalkan tangan dikedua sisi tubuh untuk mengendalikan emosinya.
"Robert, lebih baik sekarang kau pergi menemui Raja Denis! Michael, kau harus menemui Master Xi dan sampaikan padanya bahwa Red akan terlahir sebagai putrinya! Aku akan memastikan segel antar dimensi dan galaxi tetap aman sembari mengawasi keenam bayi Rainbow Knight."
Gabriel langsung berteleportasi setelah meraih Destiny book dari tangan Robert, lalu meletakkannya kembali di atas meja.
Tak lupa Gabriel juga mengusapkan setetes darahnya pada simbol naga di meja.
Dengan gerakan pelan, Robert meniup pergelangan tangannya yang berdarah hingga pulih dengan sendirinya, ia mulai berjalan menuju ruangan Ratu Victoria untuk menemui Raja Denis.
Sebenarnya Robert bisa saja langsung berteleportasi, tetapi pikirannya sedang tidak fokus saat ini. Jadi sangatlah beresiko jika dia memaksakan diri.
Michael keluar dari ruangan penyimpanan beberapa saat setelah Robert keluar, ia menutup pintu ruangan Destiny book dan menyegelnya dengan sihir khusus, agar tidak ada yang menerobos masuk saat ketiga Destiner sedang tidak berjaga disana.
Michael memutuskan untuk terbang karena asrama para Master terletak cukup jauh dari istana.
.
.
.
Gemuruh petir yang menyertai hujan lebat tengah melanda planet Asterium, seluruh Asternist dipulangkan lebih awal dari jam kerja mereka.
Rumah para Asternist terbuat dari bibit pohon cahaya yang ditanam secara bejajar membentuk pola bangunan, para Asternist dengan pengendalian tumbuhan dapat membangun rumah hanya dalam waktu sehari semalam.
Bibit yang ditanam berdekatan dan teratur akan membentuk sebuah bangunan kokoh berdinding batang pohon yang saling merapat, dedaunan rimbun yang melekat pada ranting pohon berfungsi sebagai atap. Akar pohon yang terpendam di tanah merupakan pondasi terkuat, lantai berbentuk anyaman rapat dan rapi dibuat dari akar pohon yang mencuat ke atas tanah.
Pintu geser disertai ukiran nomor seri yang terbuat dari logam dipasang dengan kokoh karena dihimpit oleh batang pohon, sedangkan jendela terbuat dari kaca. Perabotan rumah seperti ranjang, meja, kursi, dan lemari tampak kuat karena dibuat dari kayu pohon tua yang tumbang karena terkena badai, bantal serta kasur yang diisi dengan bulu angsa, lampu krystal yang bercahaya secara otomatis, juga karpet lembut dari bulu domba.
Setiap rumah memiliki 2 sampai 4 kamar tidur, sebuah ruang tamu, ruang keluarga, dapur, serta toilet. Tipe ideal yang nyaman untuk dihuni.
Tiga Master tingkat satu dikirim ke hutan barat, utara, dan timur untuk membangun perisai pelindung agar hewan - hewan tidak tersambar petir.
Sebagian Master tingkat dua bertugas mengawasi para pelajar yang tinggal di asrama sekolah, sedangkan yang lain tetap berada di Sapphire house untuk menjaga keenam bayi Rainbow Knight.
Sementara itu di depan sebuah ruangan megah yang terletak di ujung kanan koridor lantai dua Istana Asterium, Raja Denis sedang menggendong Pangeran Aiden yang terlelap. Disamping kirinya ada Robert yang sejak beberapa menit lalu datang dan ikut berdiri.
'Yang Mulia Raja, Putri anda sudah lahir.' Raja Denis membuka pintu kamar Ratu, setelah mendapatkan sebuah pemberitahuan melalui telepati dari Master Im. Robert mengikuti dari belakang, usai meraih Pangeran Aiden dari gendongan Raja Denis.
Tes
Tes
Tes
Air mata berjatuhan tanpa bisa dicegah, Raja Denis berjalan dengan langkah gontai menghampiri Ratu Victoria yang menangis tersedu dengan menggendong bayi kecil berbalut selimut putih.
Raja Denis duduk di tepi ranjang, tepat di sebelah kanan Ratu Victoria.
"Denis, putri kita sangat cantik. Ta - tapi dia tidak menangis, a - aku ingin dia hidup. Denis, kumohon lakukan sesuatu! Kau pernah bilang tentang garis takdir abu - abu, seharusnya dia bisa hidup walaupun sebagai Asternist biasa. Hiks, hiks, Putriku, hiks."
Raja Denis mengusap kepala istrinya dengan penuh kelembutan, berharap tangisannya segera mereda.
Setelah beberapa saat larut dalam suasana pilu, Raja Denis mengulurkan tangan kanannya untuk menyentuh pipi bayi kecil yang tampak damai.
"Tenanglah! Boleh aku menggendongnya?" Ratu Victoria mengangguk pelan dan menyerahkan bayi kecilnya. Dengan penuh kehati - hatian, Raja Denis menggendong putrinya.
'Cantik'
Hanya satu kata deskripsi singkat yang pantas untuk putri kecilnya.
Bibir semerah buah cherry, pipi bersemu kemerahan yang manis dan garis rahang yang lembut seolah mencerminkan kepribadian penuh keanggunan.
Rambut kecoklatan lebat dengan sedikit poni yang menutupi dahi, bulu mata lentik dan lengkungan alis yang rapi.
Hidung mungil yang mancung, semakin memperlengkap perpaduan indah dari setiap detail lekuk wajah Sang Putri.
'Putriku yang cantik, seandainya kau membuka sepasang matamu dan bisa menatapku.' Raja Denis mengusap pipi kemerahan itu sekali lagi.
"Kau putriku, apapun yang sudah digariskan oleh Tuhan mengenai takdirmu. Aku hanya bisa menerimanya dan berdoa agar kau selalu merasakan kebahagiaan di kehidupan yang selanjutnya. Airen Delavina, Putri Kerajaan Asterium."
Cup
Ukiran nama yang indah melingkar sempurna di pergelangan tangan,setelah Raja Denis memberikan sebuah kecupan di punggung tangan kanan sang Putri.
Raja Denis mengambil sebuah kalung berbandul liontin takdir dari saku jubahnya, lalu menyematkan kalung itu dileher putrinya dengan penuh kelembutan.
"Ini hadiah kecil untukmu sayang, kau tampak cantik mengenakannya."
Raja Denis tersenyum tipis melihat wajah cantik yang masih setia terlelap itu, dengan perlahan ia mendekap semakin erat bayinya.
Ratu Victoria menangis semakin keras melihat interaksi Raja Denis dengan putri mereka, suara tangisan yang menggema membuat Pangeran Aiden mulai terjaga dari tidurnya. Melihat ibunya menangis, Pangeran Aiden memberontak dalam gendongan Destiner Robert.
"Selamat tinggal sayang! Daddy, mommy, dan Aiden ingin kau tau bahwa kami sangat menyayangimu. Tidurlah dengan tenang!"
Cup
Pesan terakhir disertai kecupan lembut didahi Sang Putri dari Sang Raja.
Tangisan pilu diiringi suara petir yang bersautan bagai pengantar salam perpisahan untuk Sang Putri.
.
.
.
Upacara pemakaman dilakukan keesokan harinya di danau cahaya.
Kemarin malam seusai hujan mengguyur, sebuah pemberitahuan dari Destiner tingkat satu untuk seluruh penduduk Asterium.
Sebuah pengumuman singkat tentang -upacara pemakaman sang Putri- tak ayal membuat seluruh penduduk Asterium bersedih, sebagian para Asternist bahkan sudah mendatangi danau cahaya sejak tengah malam, mereka melakukan itu untuk memberikan penghormatan terakhir bagi sang Putri.
Para Master tingkat satu secara bergantian mengunjungi Istana Asterium, untuk melihat jasad sang Putri yang dibaringkan diatas sebuah ranjang kecil berwarna putih disebelah kiri singgasana Pangeran Aiden.
Seluruh Krystalier, berkumpul dan berbaris melingkari tepi danau cahaya. Para Master, Destiner, Asternist, Rainbow knight, Raja Denis, Pangeran Aiden, dan Ratu Victoria juga hadir disana.
Raja Denis berdiri di sebelah timur danau cahaya, menggendong Sang Putri dengan sebelah tangan.
Ratu Victoria duduk disebuah kereta kuda tampak murung dengan air mata yang menetes beberapa kali, Pangeran Aiden yang bersandar disamping kiri Ratu, terlihat sangat lelah dan mengantuk ditambah matanya yang sembab sehabis menangis semalaman.
Ketujuh bayi Rainbow Knight berada dalam gendongan ibu mereka, saling berbaris rapi disebelah selatan danau, di barisan ujung kanan ada Master Liu yang menggendong Red.
Sebuah anggukan samar dari Raja Denis menandakan upacara pemakaman dimulai, para Asternist tingkat satu menyalurkan kekuatan mereka ke danau cahaya.
Rentangan lebar sepasang sayap putih yang berkilau, dengan gerakan pelan sayap itu mengepak, membawa Sang Raja terbang menuju bagian tengah danau.
Ketiga Destiner mengulurkan tangan kanan mereka hingga muncul sebuah bola cahaya berwarna keperakan, bola itu meluncur cepat menuju ke tengah danau, tepat dibawah kaki Raja Denis, bola cahaya itu menukik tajam ke arah bawah menuju dasar danau.
Pusaran air mulai bergejolak saat ketiga bola cahaya itu menyentuh bagian dasar danau. Raja Denis turun secara perlahan, membiarkan sebagian tubuhnya basah karena tenggelam dalam air danau.
Jasad mungil dengan wajah putih pucat dalam dekapan Sang Raja mulai dilepaskan, dengan tatapan sendunya Raja Denis memandang ke arah dasar danau seolah memastikan bahwa jasad bayi itu sudah menyentuh dasar.
Kepakkan sayap yang berubah menjadi cepat dalam sekali hentakan disertai tendangan samar pada air danau, Raja Denis terbang naik ke udara.
7 meter di atas permukaan danau, Raja Denis melambatkan kepakkan sayapnya, menatap jauh ke dasar danau dan meluncurkan sebuah bola cahaya berwarna keemasan yang berpendar indah.
Pusaran air perlahan menghilang, cahaya menyilaukan yang tadinya melingkupi danau mulai meredup menandakan usainya upacara pemakaman.
Tap
Tap
Tap
Tap
Suara pelan langkah kaki Raja Denis yang menapaki tanah terdengar begitu jelas, sepasang mata coklat karamel itu memandang istri dan putranya yang saling merangkul.
Raja Denis mengulurkan tangan kanannya untuk mengelus puncak kepala Ratu Victoria, beberapa Asternist yang memperhatikan interaksi itu mulai meneteskan air mata. Seorang Putri yang dinanti harus meninggal saat dilahirkan adalah kenyataan terburuk bagi setiap keluarga, tapi itulah cara Tuhan menguji kesabaran setiap malhluknya.
"Kita pulang eo, Aiden sudah sangat mengantuk. Aku kasihan melihatnya yang terjaga semalaman karena harus berpisah dengan Airen. Vic, percayalah bahwa Tuhan akan menjaga Airen dengan baik."
Kalimat lirih penuh kekhawatiran itu membuat Ratu Victoria mengangguk.
Raja Denis meraih tangan kanan istrinya untuk perlahan berdiri, sementara tangan kirinya menggendong Pangeran Aiden yang sudah mengantuk.
Sepasang sayap Raja Denis melengkung kedepan untuk memastikan istri dan putranya agar tidak terpisah saat melakukan teleportasi.
"Robert bisakah kau membereskan sisanya? Aku harus membawa Ratu dan Pangeran ke Istana untuk beristirahat."
Robert mengangguk saat menerima telepati dari Raja Denis, Raja Denis membawa keluarganya berteleportasi untuk pulang ke istana setelah mendapat respon dari Robert.
Para Asternist mulai membubarkan diri satu persatu setelah menaburkan kelopak bunga mawar di atas danau cahaya. Ketujuh Rainbow Knight sudah diantar ke Sapphire house oleh Destiner Michael.
Sementara para Master sudah kembali sibuk di asrama, life house, green yard, maupun hutan. Seluruh pekerjaan diliburkan hingga tiga hari kedepan, membuat para Master memilih untuk melakukan pengawasan di setiap lokasi yang ada.
Robert memandang lurus ke arah danau cahaya yang berkilau dan tampak memukau karena banyaknya kelopak bunga diatasnya. Robert menghela nafas, ia sendirian sekarang.
"Putri Airen, walaupun kau tak lagi bersama Raja, Ratu, dan Pangeran. Aku berharap agar Putri Airen tetap bahagia dengan kehidupan baru Tuan Putri, Tuhan begitu menyayangi Putri hingga mengariskan takdir abu - abu. Aku percaya, dikemudian hari akan ada sebuah kebahagiaan yang akan menggantikan moment menyedihkan ini." Untaian kalimat ketulusan itu mengalun lembut, Robert tersenyum sembari menaburkan cukup banyak kelopak bunga mawar merah di atas air danau. Robert membentangkan sayapnya dan mulai terbang meninggalkan danau cahaya.
Ya, mawar merah -simbol cinta yang besar- itu terlihat mencolok ditengah desakan kelopak bunga mawar lain yang berwarna putih.
Mawar putih -simbol ketulusan & keabadian cinta-
Danau cahaya, tempat pengistirahatan terakhir bagi seluruh Asternist. Di sana tempat bersemayamnya jiwa - jiwa penduduk Asterium, danau keramat yang dipercaya sebagai sumber
penyeimbang kehidupan di Asterium.
Danau dengan sejuta kisah misterius yang takkan pernah bisa diungkapkan.
To be continue
Hay...!
Atika / Ika sedang semangat hari ini. Panggil writers aj y! Soalnya author terasa ganjil di mata saya.
Masih ada typos berkeliaran, tata bahasa yang ancur, feel yang kurang terasa, dll... Oke, itu memang kekurangan saya dalam dunia satra, khususnya bikin yang sejenis prosa begini. -_-
Masih tetap sama, tolong bahasanya yang sopan ya kalau ngasih review! Saya mudah kehilangan mood soalnya klau lagi sakit hati pakek banget. #abaikankalautidaksuka
Maka dari itu, saya butuh komentar + kritik yang membangun + saran. Supaya karya saya bisa lebih baik...
Mianhae... Chap 1 kmaren, castnya ternyata nggak ikut ke copas. Saya masih kudet klau mampir k ffn, mahirnya cuma k wp. Hehehehe
Oia, tiap chapter k depan hingga ending nanti. Pasti ad opening puisi di awal chapter, tujuannya hanya untuk memberikan ciri khas dan mengklaim 100% jika ff ini hasil karya saya.
Bye...
RCL, dont bashing!, and dont plagiat!
By: My_hyun kimIka
