Felson Spitfire
Presents
A Naruto Fanfiction
"Gentei Tsukuyomi"
Disclaimer:
Naruto © Masashi Kishimoto
Pairing:
Neji Hyuuga X Sakura Haruno
Summary:
Sakura sebenarnya merasa kurang nyaman jika harus menjalankan misi hanya berdua saja dengan Hyuuga Neji, namun bagaimana jika mereka berdua malah terjebak cukup lama dalam dunia genjutsu yang disebut dengan Gentei tsukuyomi?
CHAPTER 2: Genjutsu
Neji Hyuuga mengamati musuh yang tengah mengepung mereka satu-persatu menggunakan byakugan-nya. Sedikit aneh memang melihat mereka semua memiliki aliran chakra yang benar-benar sama persis kecuali si pria bertopeng. Dengan hati-hati Neji menurunkan Sakura dari gendongannya. Pria itu kembali memasang kuda-kuda, sesekali Neji melirik gadis yang terkulai lemas di belakangnya, memastikan ia tak menjadi incaran musuh yang tengah mengepung mereka. Tak satupun dari anggota Akatsuki angkat bicara, namun gerakan mereka yang berlari mendekat ke arahnya membuat Neji tahu bahwa pertempuran telah dimulai.
Dengan gerakan luwes khas Hyuuga, Neji menghadapi satu persatu musuh yang menyerangnya―kecuali Madara dan Zetsu karena mereka berduah hanya berdiri sedikit jauh tanpa memperlihatkan niat untuk menyerang―dan sesekali menggunakan kaiten atau hakkeshou kaiten untuk melindungi dirinya dan Sakura dari lemparan kunai dan shuriken musuh yang datang bertubi-tubi.
Ini sama sekali tak sesulit yang dibayangkannya, namun sesuatu jelas terasa janggal. Akatsuki dikenal karena kemampuan khusus yang dimiliki oleh masing-masing anggotanya. Fakta ini jelas sangat berbanding terbalik dengan apa yang apa yang dihadapi Neji saat ini. Sudah cukup lama mereka bertarung, namun tak seorang pun dari mereka mengeluarkan kemampuan ninjutsu atau genjutsu-nya. Sejak tadi yang diterimanya hanyalah serangan fisik dan lemparan senjata yang dapat dengan mudah ditangkisnya.
Apa mereka sedang bersikap lunak terhadap dirinya karena ia kalah jumlah? Pertanyaan ini sempat terlintas di kepala Neji, namun segera ditampiknya. Selain melalui kemampuan khusus yang dimiliki anggotanya, Akatsuki juga dikenal sebagai kelompok ninja kriminal yang tak memiliki belas kasihan, karena itu kata lunak tidak mungkin cocok untuk menggambarkan sikap mereka.
Ini mungkin bukanlah pertarungan yang sulit bagi Neji jika mereka tetap menggunakan gaya bertarung yang sama. Pria itu adalah tipe petarung jarak dekat dan tentu saja, gaya bertarung seperti ini merupakan keahliannya. Ditambah lagi dengan kemampuan yang dimilikinya, Neji dapat dengan mudah menyerang titik chakra musuhnya dengan juuken dan membuat perlindungan untuk dirinya dan Sakura dari lemparan senjata yang dilakukan musuh secara bersamaan dengan kaiten , penggunaan kedua jutsu itu cukup menguras chakra-nya, danpria berambut sepinggang ini tidak memiliki chakra dan stamina sebanyak Naruto. Bahkan entah hanya perasaanya atau memang kenyataannya seperti itu, Neji merasa chakra-nya lebih cepat habis daripada biasanya, dan itu terjadi setiap kali ia bersentuhan dengan lawan-lawannya.
Pria itu mencurigai sesuatu, dan untuk membuktikan kecurigaannya, dia dengan sengaja membuat masing-masing musuh dapat menyentuhnya dalam sepersekian detik dan memfokuskan byakugan-nya tepat di tempat terjadinya setuhan. Benar saja, mata keperakan Neji dapat melihat dengan jelas bahwa mereka semua menyerap chakra-nya setiap kali terjadi kontak fisik. Walaupun tidak mengingat nama mereka satu persatu, namun sejauh yang Neji tahu, hanya ada dua orang anggota Akatsuki yang memiliki kemampuan menghisap chakra―Zetsu si pria bunga venus dan si pria berwajah ikan hiu yang Neji tak ingat namanya. Zetsu dapat menyerap chakra musuh hanya dengan menyentuhnya dan si pria hiu menggunakan pedang anehnya, namun yang dilakukan Zetsu sejak tadi hanya berdiri di samping Madara, menonton teman-temannya menyerbu dirinya, dan si pria hiu sama sekali tak menggunakan pedang penghisap chakra-nya.
Chakra Neji sudah semakin menipis saat di belakangnya, manik emerald Sakura mulai terlihat dibalik kelopak matanya. Menghiraukan rasa sakit yang masih mendera pundaknya, gadis itu segera berdiri saat mengetahui rekan setimnya sedang kewalahann menghadapi serangan musuh yang tiada habisnya. Haruno Sakura menerjang ke depan, berdiri diantara Neji dan musuh-musuh mereka. Ia memusatkan chakra pada tangannya yang telah mengepal erat dan menghantamkannya ke tanah.
Seketika itu pula tanah yang mereka pijaki menjadi hancur tak berbentuk, membuat para anggota Akatsuki melompat menjauh. Sakura memanfaatkan kesempatan ini untuk menarik Neji yang tampak jauh lebih pucat dari biasanya untuk melarikan diri. Jika bukan karena larangan Madara, mungkin adegan kejar-kejaran yang tadi mereka alami sudah terulang kembali. Entah apa yang sedang direncanakan oleh pria bertopeng itu, tapi untuk sementara Sakura tak mau ambil pusing karena saat ini prioritasnya adalah untuk merawat Neji yang walaupun tak memiliki banyak luka namun tampak kehabisan chakra. Sambil memapah Neji, Sakura membawa diri mereka melompati batang-batang pohon sambil melirik ke sana kemari mencari tempat yang menurutnya aman dan cukup jauh dari posisi musuh.
Setelah cukup lama mereka melompati batang-batang pohon, sebuah gua yang tampaknya cukup aman tertangkap indera penglihatan Sakura. Gadis itu membawa Neji yang masih dipapahnya untuk melesat turun dari pohon yang mereka pijaki. Dengan hati-hati gadis itu membaringkan Neji yang mulai kehilangan kesadarannya karena kekurangan banyak chakra. Sakura mengulurkan tangannya ke atas dada pria itu dan dalam sekejap pendar cahaya berwarna kehijauan muncul dari kedua tangannya.
Seketika rasa hangat yang membuatnya luar biasa nyaman seolah menjalar di setiap pembuluh darah dalam diri Neji saat Sakura mulai mengeluarkan kemampuan ninjutsu medisnya. Tak perlu waktu lama bagi gadis itu untuk kembali menormalkan aliran chakra rekan setimnya. Neji yang tak suka terlihat lemah―apalagi di hadapan seorang gadis―segera mencoba untuk bangun dari posisinya semula, namun Sakura buru-buru melarangnya dengan melemparkan tatapan yang mengancam. "Kau mungkin tidak mendapatkan banyak luka, tapi chakra-mu benar-benar hampir terkuras habis, Neji-san. Jadi sebaiknya kau istirahat dulu."
"Bagaimana dengan Akatsuki?"
"Aku tak tahu apa yang direncanakan Madara, tapi aku sempat melihat dia melarang teman-temannya mengejar kita."Neji baru saja membuka mulut, namun Sakura buru-buru menyela sebelum pria itu sempat mengeluarkan suara. "Aku tahu situasi kita belum bisa disebut aman. Tapi setidaknya kau harus memulihkan kondisimu, karena kalau sampai terjadi apa-apa padamu, aku seorang diri tentu tidak akan mampu melawan mereka. Kau tentu mengetahui itu kan?"
"Aa."
"Neji-san?" Neji tidak menjawab tapi Sakura dapat melihat pria itu sedikit melihat ke arahnya tanda ia mendengarkan. "Gomen, karena aku lengah kau jadi seperti ini." Lanjutnya.
"Tak perlu meminta maaf."
Hening.
"Ah, tunggu sebentar." Sakura menurunkan ranselnya dan merogoh ke dalam untuk mengeluarkan kotak kecil berisi pil bulat kecoklatan. "Ini dapat membantu memulihkan chakra-mu, Neji-san." Gadis itu memberikan sebutir pilnya pada Neji yang kini sudah berada pada posisi setengah duduk dengan salah satu siku menekan tanah. "Rasanya mungkin aneh, tapi setidaknya tidak seburuk dulu." Lanjutnya dengan nada sedikit menyesal karena ia masih belum mampu menemukan cara untuk menghilangkan rasa aneh pada pil buatannya.
"Tak apa." Neji meminum pilnya tanpa ragu-ragu. Rasanya memang… tak dapat didefinisikan, namun pria itu berusaha terlihat sebiasa mungkin agar tak menyinggung perasaan Sakura.
Meskipun begitu, karena terlalu sering mendapatkan celaan dari teman-temannya tentang rasa pilnya, Sakura telah terbiasa mengamati wajah orang-orang yang meminum pilnya untuk mengetahui reaksi mereka. Dan gadis itu sempat melihat wajah Neji mengernyit aneh walaupun hanya buru-buru mengeluarkan botol air dari dalam tasnya dan membantu Neji meminumnya guna menetralisir rasa aneh dari pil buatannya. "Gomen ne, Neji-san."
"Aa, arigatou."
Sakura membantu pria itu untuk berbaring lagi sebelum kesunyian kembali menyelinap diantara mereka. Mata Neji tertutup rapat, namun Sakura tak yakin apakah pria itu tertidur ataukah hanya sekedar memejamkan mata. Sementara itu ia memilih menyandarkan dirinya pada dinding gua sambil memperhatikan Neji dalam diam. Neji-san, sepertinya dia lebih bisa menghargai perempuan dibandingkan dengan Naruto dan Sai. Sebuah senyum tipis terukir di wajahnya tanpa ia sadari.
)))))oOo(((((
Beberapa jam telah berlalu sejak mereka beristirahat di dalam gua. Kondisi di sana sudah menjadi semakin gelap seiring dengan digantikannya posisi matahari oleh bulan. Beruntung malam itu adalah bulan purnama sehingga cahaya bulan yang merembes masuk ke pintu gua sudah memberikan penerangan yang bisa dikatakan lebih dari cukup bagi keduanya. Neji sudah benar-benar pulih sejak matahari belum sepenuhnya menghilang―tampaknya pil Sakura benar-benar bekerja―namun mereka berdua telah sepakat bahwa akan lebih baik kalau mereka kembali bergerak saat malam telah benar-benar datang karena berbeda dengan kemarin, kali ini mereka telah mengetahui posisi musuh yang artinya, hal itu akan memperkecil kemungkinan Akatsuki kembali menemukan mereka.
"Sebaiknya kita segera bergegas." Kata Neji singkat sambil berdiri mengangkat ranselnya diikuti oleh Sakura yang melakukan hal serupa.
Sayangnya, baru selangkah mereka keluar dari mulut gua, kemunculan seseorang mencegah keduanya untuk melangkah lebih jauh. Ya, mereka semua tahu bahwa Uchiha Madara mampu melakukan teleportasi. Pria bertopeng kayu itu seolah bisa muncul kapanpun dan dimanapun dari sebuah lubang yang tak kasat mata. Baik Neji maupun Sakura sama-sama memasang posisi siaga kalau-kalau anggota Akatsuki lain akan muncul dan kembali mengepung mereka.
Namun yang ada hanya keheningan. Tak ada kemunculan sosok lain.
Hanya ada Madara.
Seorang diri.
Neji memilih mengaktifkan byakugan-nya untuk memastikan tepat sesaat sebelum Madara membuka mulut. "Tenang saja, Hyuuga. Aku tidak akan menyakiti kalian. Sebaliknya, aku ingin menunjukkan sesuatu," pria itu merogoh bagian dalam jubahnya yang berwarna hitam dengan motif awan merah khas Akatsuki dan mengeluarkan sesuatu yang terlihat seperti bola kristal, "Ini," lanjutnya seraya menatap Neji dan Sakura, "adalah prototype yang kubicarakan pagi tadi." Madara menyeringai dibalik topengnya melihat kedua shinobi Konoha yang ada di depannya sama-sama mengerutkan alis tampak kebingungan.
"Apa yang kau inginkan dengan bola itu? Shannarooo!" Sakura mengajukan pertanyaan namun ia tak memberi Madara kesempatan untuk menjawab sebab gadis itu langsung berlari menghampiri si pria bertopeng sebelum kemudian melayangkan tinjunya pada Madara. Namun tentu saja pria itu berhasil menghindar berkat kemampuan teleportasinya.
"Bukankah akan lebih baik.." kata-kata yang digantung itu terdengar dari dahan salah satu pohon yang berderet mengelilingi lokasi mereka. Hal ini sontak membuat Neji dan Sakura mendongak ke arah sumber suara, menunggu Madara melanjutkan kalimatnya. "Jika kalian mengetahui fungsinya? Projek ini akan membuat siapa saja mampu memiliki kehidupan dimana semua impiannya terpenuhi, dan untuk itu, kalian harus membantuku menguji projek ini." Pria yang disebut sebagai pemimpin Akatsuki itu melemparkan 'bola kristalnya' ke langit dan saat posisi bola itu sejajar dengan posisi bulan, sebuah bayangan yang terlihat menyerupai sharingan terbentuk di sana dan sesaat kemudian, semua yang dapat dilihat oleh Neji dan Sakura hanyalah cahaya putih terang yang amat menyilaukan mata.
Ketika cahaya yang membutakan itu menghilang, hal pertama yang ditangkap oleh emerald Sakura adalah atap berwarna putih. "Neji-san?" Dengan perasaan sedikit panik, gadis itu menolehkan kepalanya ke kiri kanan dan tersenyum lega mendapati Neji tengah berbaring di ranjang yang bersebelahan dengan miliknya. Mereka berdua bangun di waktu yang hampir bersamaan. "Apa kita ada di rumah sakit Konoha?"
Neji memberikan sebuah anggukan singkat. "Kurasa begitu. Tapi sebaiknya kita mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi."
Mereka baru saja akan beranjak dari ranjang masing-masing saat pintu ruangan itu terbuka dan Shizune berjalan menghampiri mereka diikuti oleh dua orang perawat di belakangnya. Ada yang berbeda dengan penampilan asisten Godaime Hokage itu. Wajahnya yang selama ini dibiarkan polos kini tampak tertutup make up yang lumayan kentara dan bagian dadanya yang sedikit terekspos kelihatan lebih.. berisi.
"Hn, kalian sudah sadar rupanya." Sakura menyadari bahwa suara wanita berambut hitam itu juga terdengar lebih berat dari biasanya.
"Shizune-senpai apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana dengan misinya?" Sakura tak dapat menahan diri untuk tidak bertanya.
"Misi berhasil, Shion-sama sudah berhasil melakukan penyegelan, dan kalian berhasil membawanya kembali ke Oni no Kuni dengan selamat."
"Shion-sama? Oni no Kuni?" Alih-alih menjawab, Shizune justru menampakkan ekspresi yang sama tak mengertinya dengan arah pembicaraan mereka.
Sesuatu jelas terasa aneh di sini. Mereka berdua memang pernah mendapatkan misi ke Oni no Kuni tapi itu sudah sangat lama. Sakura bahkan tak ingat sudah berapa bulan terlewatkan sejak mereka menyelesaikan misi itu. Dan entah kenapa Sakura merasa risih dengan tatapan heran yang ditujukan Shizune ke arahnya dan Neji seolah mereka berdua sedang mengalami amnesia, padahal jelas-jelas senpai-nya lah yang salah di sini. "Apa yang terjadi pada kami?" Neji yang menyadari keanehan tersebut berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Kalian hanya kelelahan karena kehabisan chakra. Tidak ada luka serius. Dan karena sekarang kalian sudah sadar, kurasa kalian sudah boleh pulang setelah menyelesaikan pemeriksaan untuk memastikan kondisi kalian." Shizune memberikan isyarat pada dua perawat di belakangnya sehingga mereka bergerak maju mendekati dua orang pasien yang ada di sana. Neji mengerling pada Sakura agar gadis itu menuruti perintah perawat untuk berbaring dan melakukan pemeriksaan.
"Tak ada yang salah dengan kondisi Haruno-san dan Hyuuga-san, Shizune-sama." Kata salah seorang perawat sebelum mereka membungkuk sekilas dan keluar dari ruangan meninggalkan mereka bertiga.
"Kalian dengar sendiri kan? Kurasa kalian sudah boleh pulang." Shizune berlalu meninggalkan Neji dan Sakura yang masih tampak kebingungan.
Kedua shinobi itu kembali bangun dari posisi tidur mereka dan saling melemparkan tatapan kebingungan. "Neji-san, bukankah tadi kita berada di hutan?Kenapa sekarang kita berada di sini?"
Pria berambut sepinggang itu tidak langsung menjawab pertanyaan Sakura. Ia memejamkan matanya sejenak, mengingat-ingat dengan detail kejadian yang tadi mereka alami. "Sakura, saat Madara melemparkan bola kristalnya ke langit apa kau melihat sesuatu?"
Gadis itu menautkan alisnya mencoba mengingat-ingat kemudian memberikan sebuah anggukan pada Neji. "Aku seperti melihat sharingan, tapi di bulan."
"Sepertinya kita terkena genjutsu."
)))))oOo(((((
Dua orang itu kini berjalan diantara kerumunan orang yang tampak lalu lalang mengerjakan kesibukan mereka. Tak ada yang aneh di sana. Semua tampak senormal hari-hari yang mereka lalui biasanya, namun justru itulah yang membuat semuanya terasa makin janggal. Sebelumnya, saat mereka masih terduduk di ranjang rumah sakit, Sakura menceritakan bagaimana efek genjutsu Itachi dapat membuat Kakashi terbaring selama berhari-hari di rumah sakit, dan tentu saja mereka sepakat Kakashi tidak mungkin mengalami hal itu hanya karena menghadapi situasi seperti ini dalam genjutsu.
"Kurasa kita harus mencari tahu lebih lanjut tentang hal ini."
"Neji-san, apa menurutmu kita perlu menemui Tsunade-shishou?"
Pria itu menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. "Menurutku Tsunade-sama akan mengatakan hal yang sama dengan Shizune-san."
Sakura mengangguk pelan dan mereka kembali hanyut dalam pikiran masing-masing sambil terus berjalan tanpa tau tujuan mereka. "Sakura-chan!" Panggilan yang terdengar sangat ceria itu membuat Sakura dan Neji membalikkan badan mereka. Diantara orang yang berlalu lalang, tampang dua orang pria menghampiri mereka. Satu berambut hitam dengan kulit pucat dan yang lainnya berambut blonde dengan kulit tan.
Sai, si pria pucat, memamerkan sebuah cengiran lebar sambil berlari ke arahnya.
Baik Neji maupun Sakura rasanya tak dapat mempercayai penglihatan mereka. Bagi Sakura, Sai juga masuk dalam deretan pria irit bicara yang ada di desanya, dan pria itu sama sekali tak pernah memamerkan sebuah cengiran lebar seperti yang barusaja disaksikannya.
"Sai, Naru-"
"Menma, kenapa jalanmu lama sekali?" Sai yang sudah hampir sampai di depan mereka memutuskan untuk kembali dan menyeret rekannya agar berjalan lebih cepat.
Menma? Sejak kapan nama Naruto berubah menjadi Menma? Sakura melirik Neji meminta penjelasan namun pria itu hanya mengangkat pundaknya karena tentu saja ia juga sama bingungnya dengan Sakura.
"Sakura, Neji, syukurlah kalian sudah pulih."Naruto―atau Menma―berkata dengan nada suara yang terkesan datar, benar-benar bukan Naruto yang mereka kenal. Bisa dikatakan, Naruto dan Sai seolah bertukar kepribadian di dunia ini.
"Sakura-chan baguslah kalau kau sudah keluar dari rumah sakit. Kami baru saja akan menculikmu kalau kau belum diijinkan pulang juga. Ayo."Pria berambut hitam itu menarik pergelangan tangan Sakura.
"Eh? Kita mau kemana, Sai?"
"Tentu saja merayakan kesembuhanmu dengan Tim Kakashi."
"T-tapi.." Gadis itu kembali melemparkan pandangannya pada Neji, entah kenapa dia berharap Neji mengikutinya atau setidaknya menahannya.
Seolah mengerti arti tatapan rekan satutimnya, pria itu mendekatkan wajahnya ke telinga Sakura membuat gadis itu sedikit merona karena jarak mereka yang terlalu dekat. "Aku akan berada di perpustakaan, temui aku di sana sore nanti." Hyuuga Neji melenggang pergi meninggalkan Sakura dengan Sai dan Naru―Menma.
Mereka membawa Sakura memasuki Yakiniku Q dan berjalan ke arah sebuah meja yang telah diduduki oleh dua orang pria. Seorang jounin berambut perak dengan wajah yang hampir sepenuhnya tertutup masker yang dikenali Sakura sebagai Kakashi di dunia nyata―ada kemungkinan dia memiliki nama yang berbeda di sini seperti halnya Naruto―dan seseorang berbaju biru gelap dengan potongan rambut mencuat di bagian belakang yang membuat Sakura menghentikan langkahnya. "Sasuke-kun.." Sakura tak dapat menahan diri untuk tak merapalkan nama pria itu.
Sepertinya namanya tak berubah di sini karena dia menolehkan kepalanya ke arah Sakura tepat setelah gadis itu memanggilnya. Sakura dapat merasakan pelupuk matanya mulai digenangi air mata saat Sasuke tersenyum ke arahnya. Pria itu berdiri dan berjalan menghampirinya yang masih berjarak beberapa langkah dari meja yang seharusnya mereka tempati. "Kenapa kau menangis, hime?" Sasuke mengusap air mata yang kini telah membasahi pipi Sakura.
Tanpa disadarinya, Sakura telah melingkarkan tangannya untuk memeluk Sasuke. Ia tahu ini hanyalah genjutsu, tapi melihat pria yang amat dicintainya itu berdiri di hadapannya tanpa ada sedikitpun keinginan untuk membunuh, membuat pertahanan gadis itu runtuh. Ia buru-buru melepaskan pelukannya saat menyadari Sai dan Menma yang entah sejak kapan sudah duduk di kanan kiri Kakashi menatap aneh ke arahnya. Sementara Kakashi sendiri tengah sibuk dengan sebuah gulungan yang terlihat seperti laporan misi. "Ah, gomen, aku hanya..merindukanmu." Gadis itu tak yakin apakah kalimat yang baru saja diucapkannya terdengar normal di sini, namun melihat Sasuke kembali tersenyum membuatnya sedikit lega.
Sasuke merangkul pundak Sakura dengan protektif dan membimbing gadis itu untuk duduk di depan rekan-rekan mereka yang lain. Sakura tak dapat mengatakan apapun selain membiarkan wajahnya merona karena perlakuan manis yang terus-terusan diberikan Sasuke padanya. Sekarang dia sedikit mengerti apa yang dimaksud Madara dengan kehidupan dimana semua impian terpenuhi. Mungkin ini adalah salah satunya.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa salah satu impian tersbesar Haruno Sakura adalah membawa Sasuke kembali ke Konoha dengan atau tanpa membalas perasaannya. Gadis itu sudah merasa cukup bahagia hanya dengan melihat Sasuke setiap hari. Dan yang dirasakannya saat ini bisa dikatakan sebagai kebahagiaan yang berlipat ganda. Pria itu, cinta pertamanya, atau mungkin cinta seumur hidupnya, sekarang sudah berada di hadapannya. Pria yang selama ini tak mampu digapainya sekarang duduk tepat di sebelahnya. Perasaan yang luar biasa menyenangkan membuncah di dalam hatinya setiap kali Sasuke mengeluarkan suara baritone-nya.
"Hime, kau sedang memikirkan apa?" Bahkan Sasuke adalah satu-satunya orang yang memperhatikannya disaat yang lain sibuk dengan potongan daging mereka.
"T-tidak..hanya saja, aku tidak melihat Yamato-taichou? Dimana dia?"
"Dia sedang ada misi." Sasuke mengambil beberapa potong daging dari pemanggang dan meletakkannya di piring Sakura. "Sebaiknya kau makan dan jangan memikirkan apapun lagi." Tambah Sasuke menyebabkan sebuah senyuman lebar terukir di wajah Sakura. Tampaknya kejadian siang itu membuat Sakura sedikit melupakan tentang genjutsu yang sedang menimpa dirinya.
)))))oOo(((((
Di sisi lain desa Konoha, Neji yang sudah separuh perjalanan menuju perpustakaan bertemu dengan Lee dan Tenten. Seperti halnya beberapa orang yang ditemuinya dalam dunia ini, ia juga menemukan kejanggalan pada kedua teman dekatnya. Lee tidak memakai pakaian hijau ketat yang serupa dengan sensei mereka, melainkan kemeja lengan pendek berwarna putih gading dan celana berwarna biru gelap yang umumnya dipakai oleh shinobi Konoha dilengkapi dengan rompi chuunin berwarna hijau di bagian luarnya. Tatanan rambutnya juga terlihat tidak biasa sebab murid kesayangan Maito Gai itu menyisir sebagian besar poninya ke arah kanan dan membuatnya terlihat semakin nyentrik menurut Neji. Sementara Tenten, gadis itu tampak tidak banyak bicara sebagaimana ia biasanya, gadis bercepol dua itu cenderung terlihat lebih pemalu di sini.
"Neji," sapa Lee dengan suara tenang. "Kami baru saja akan menjengukmu di rumah sakit, tapi syukurlah kau sudah diijinkan pulang."
"Etto, Neji.." Tenten berbicara sambil menundukkan kepalanya. Gadis itu memainkan kedua jari telunjuknya, membuat Neji teringat pada kebiasaan Hinata saat gadis itu memikirkan kata yang tepat untuk diucapkan. "Kami akan latihan meditasi, kau..mau ikut?" Gadis itu sedikit menaikkan pandangannya untuk melihat reaksi Neji namun kembali menundukkan kepala dalam-dalam saat mengetahui Neji menautkan kedua alisnya.
Meditasi? Mungkin memang itu yang dibutuhkannya saat ini. Ia butuh menenangkan pikirannya agar dapat mencari jalan untuk membatalkan genjutsu Madara terhadap dirinya dan juga Sakura. "Baiklah aku ikut kalian." Neji memutuskan untuk menghabiskan sisa siang itu dengan melakukan meditasi bersama kedua anggota Tim Gai lainnya.
Menenangkan diri dengan cara seperti itu selalu bekerja pada diri Neji, karena itu shinobi jenius dari klan Hyuuga ini selalu memanfaatkan waktu senggangnya untuk melakukan meditasi. Setelah merasa batinnya cukup tenang, ia memutuskan untuk berpisah dengan Lee dan Tenten kemudian langsung menuju ke tempat dia telah berjanji untuk bertemu dengan Sakura.
Ketika memasuki perpustakaan, Neji tak melihat tanda-tanda keberadaan Sakura di sana, sehingga ia memutuskan untuk mencari beberapa buku tentang genjutsu sebanyak yang bisa ditemukannya di sana. Setelah memboyong buku-buku yang dirasanya bermanfaat ke tempat duduk yang terletak di pojokan―ia tak mau orang-orang mencuri dengar apa yang nanti akan dibahasnya dengan Sakura―ia mulai menekuni halaman demi halaman buku yang dipinjamnya, berharap menemukan sesuatu dari sana.
"Neji-san," pria itu menoleh ke arah sumber suara dan mendapati Sakura sedikit berlari ke arahnya. Gadis itu mengulurkan sebuah bungkusan padanya. "Kurasa kau pasti belum makan."
"Aa, arigatou." Gumam Neji, namun matanya kembali mengarah pada halaman buku yang terbuka.
Sakura tersenyum kecil melihat sikap pria di depannya. Ia tahu Neji tak pernah main-main dengan misinya, tapi ia tak menyangka pria itu akan seserius ini hingga melupakan kebutuhan dirinya. Untuk itu, ia memutuskan untuk menarik buku yang masih digeluti Neji dan sebagai gantinya ia mendorong kotak makanan yang dibawanya ke hadapan Neji. Pria itu menatapnya dengan ekspresi datar. "Makanlah dulu, biar aku yang membacanya. "Sakura kembali mengulaskan senyum sebelum melanjutkan kegiatan Neji yang tadi diinterupsinya.
Merasa tak memiliki alasan untuk menolak, Neji mulai membuka bungkusan yang dibawa Sakura dan mendapati beberapa potong daging dari Yakiniku Q di dalamnya. "Darimana kau mendapatkan uang? "Tanyanya sambil menyumpit potongan daging pertama.
"Aku sendiri terkejut saat mendapati dompetku berada di dalam kantung senjata. Genjutsu ini sedikit aneh, bukan?" Sakura menghentikan kegiatannya sejenak untuk menatap lawan bicaranya. "Ah, Neji-san, kau ingat Madara bilang bahwa projek ini akan menciptakan sebuah dunia dimana impian setiap orang terpenuhi?" Neji mengangguk sebagai jawaban. "Kurasa aku tau apa yang dia maksud. Tadi saat aku bertemu dengan Tim Kakashi, kupikir yang dimaksud Naruto dan Sai adalah Kakashi-sensei dan Yamato-taichou, tapi ternyata di sana juga ada Sasuke-kun. Dan dia sangat berbeda. Dia tidak pernah sehangat ini padaku." Sakura merasa wajahnya kembali memanas saat mengingat perlakuan yang didapatnya dari Sasuke siang itu.
"Jadi maksudmu, orang yang terkena genjutsu ini akan mendapatkan semua yang diinginkannya?"
"Kurasa bukan hanya orang yang terkena genjutsu, tapi semua orang yang ada di dunia ini. Tadi setelah makan siang, Sai bersikeras ingin melakukan latihan bersama, tapi semua orang menolak karena memiliki alasan masing-masing. Dan yang membuatku paling terkejut adalah alasan Naruto. Dia bilang dia berjanji akan menemani kaa-san-nya menyiapkan kejutan untuk tou-san-nya yang berulang tahun hari ini. Bukankah itu berarti orang tua Naruto masih hidup? "Neji menghentikan kegiatan makannya mendengar penjelasan dari Sakura. Tanpa ia sadari, genggaman tangannya mengeras hingga menyebabkan sumpit yang dipegangnya patah. "Neji-san, daijoubu ka?"
"Gomen," kursi Neji bergeser ke belakang seiring dengan gerakan pria itu yang beranjak dari tempat duduknya. "Aku harus pulang. Ada sesuatu yang harus kupastikan."
Tanpa menunggu persetujuan Sakura, ia melangkah pergi dari sana, meninggalkan Sakura dalam keadaan kebingungan. Dengan langkah yang tergesa-gesa Neji berjalan keluar dari perpustakaan sebelum akhirnya memutuskan untuk memusatkan chakra di telapak kakinya dan melompat dari satu atap ke atap lainnya guna mempersingkat waktu agar ia segera sampai di rumah.
Kediaman klan Hyuuga masih tenang seperti biasanya, kecuali sedikit keributan yang dapat didengarnya dari rumah utama. Namun pria itu tak mau ambil pusing karena saat ini tujuan utamanya adalah untuk memeriksa teras belakang di kediaman bunke yang biasa digunakannya untuk bermeditasi.
Derap langkah kaki Neji yang menyentuh lantai kayu terdengar menggema di setiap ruangan yang dilewatinya, dan di sinilah sekarang ia berada. Ruangan terakhir yang akan membawa ia ke tempat tujuannya. Neji mengangkat tangannya perlahan untuk menyentuh shoji―pintu geser yang memisahkan ruangan dalam dengan teras―yang ada di hadapannya. Ia menggenggam bingkai kayu dari pintu geser tersebut dengan erat kemudian menarik napas dalam-dalam untuk mempersiapkan dirinya menghadapi apapun yang nanti akan dilihatnya di balik pintu itu.
-To be continued-
Gomeeeen, updatenya lama –v
Empat tahun hiatus bikin otak saya kaku banget buat nulis –v
Ditambah banyak halangan juga –v
Udah saya cek berkali-kali semoga spasinya gaada yang ilang ya -v
My biggest thanks for:
Luca Marvell: Thank you so much for your review dear, you are the first so I really appreciate it :*
Ana: Kyaaa penggemar fict Gokon juga ternyata kkk~ Saya juga jadi suka sama Nejisaku gara-gara Gokon :3 Arlene Shiranui-san emang keren banget ya kkk~
CEKBIOAURORAN: Hureyyy ada yang suka Nejisaku lagii kkk~ Thanks for your review~
ringohanazono6:Iya, susah banget nemu fict yang sebagus Gokon. Walaupun saya masih amatir nulis fict canon dan pair nejisaku, semoga fict ini bisa mendekati Gokon :") I'd really appreciate it if you give me more criticts and suggestions to make this fict better :3
igghie: Thank you udah review :3 Ini udah saya lanjutin, maaf ya lamaa ^^v
Serizawa Natsu:Arigatou Natsu-san :3 semoga lanjutannya gak mengecewakan ^^v
Hinamori Hikari:Makasih banyak Hikari-san, semoga fict ini beneran bisa jadi keren yaa :")
Cihuyy:Gomen lama updatenya –v otak authornya berkarat nih :")
Yukumpme:Hai~ kalo saya sih suka Sakura dipasangin sama siapa aja yang penting keren kkk~ tapi Nejisaku juga salah satu crack pair favorit saya :3 hope you enjoy this chapter yaa~
Leavendouxr:Halooo, makasih atas suntikan semangatnyaa. Semoga chapter ini gak mengecewakan yaaa ^^v
Viechi:Arigatou, Viechi-san! Maaf lama updatenya yaa~ hope you like it :3
balay 67:Kyaaaa, senengnya dibilang keren kkk~ semoga bisa beneran keren yaa~ :3
Terima kasih atas kesediaan kalian semua untuk meluangkan waktu mereview karya abal-abal ini :3
Oh iya, seinget saya pas di mimpinya Tenten yg kena Mugen Tsukuyomi, Sasuke manggil Sakura "kucing kecilku" tapi rasanya itu keterlaluan OOCnya, jd saya ganti hime di sini, dan soal Tenten yg jadi pemalu, saya lupa gimana karakternya Tenten pas di movie Road to Ninja, alhasil saya sulap dia jadi pemalu deh ^^v
Anyway, ini pertama kalinya saya mencoba menulis fict berbau canon, atau sebenarnya ini lebih cocok disebut semi canon?Jadi mohon dimaklumi ya kalau fict masih banyaaaaak banget karena itu, saya sangat sangat sangaaat membutuhkan kritik dan saran dari readers.
So, mind to give me some more reviews?
