.
.
Chapter 2: you're my anchor and my lighthouse in the storm
.
Haikyuu © Furudate Haruichi;
penulis tidak mengambil keuntungan materiil apapun dari fanfiksi ini
.
.
To: Tsukki
Tsukki, di luar mendung! \(º □ º l|l)/ Kau bawa payung?
From: Tsukki
Lupa. Kalaupun hujan, aku akan menunggu dulu sampai reda
To: Tsukki
Kerja sambilanku sudah selesai ( ´∀`)ノ~ mau kujemput?
From: Tsukki
Kenapa? Tidak usah
To: Tsukki
Aku ke sana sebentar lagi, tunggu~ (=^ ◡ ^=)
From: Tsukki
Jangan keras kepala, Yamaguchi
To: Tsukki
Lima belas menit lagi aku sampai!
From: Tsukki
… hati-hati di jalan
.
.
.
"Yamaguchi, kenapa kau senyam-senyum begitu?"
"H-Hinata?!"
Nyaris saja ia menjatuhkan ponselnya, ketika ia mendapati Hinata mengintip dari balik bahunya. Mata pemuda itu penasaran, kening Hinata berkerut ketika mencoba membaca tulisan di layar ponselnya. Tadashi buru-buru menyakukan ponselnya kembali, sementara satu tangannya berpura-pura sibuk melipat celemek yang sudah selesai ia gunakan. "Kau mengagetkanku, tahu!"
"Kau tadi terlihat senang sekali. Ada kabar baik?"
Atas pertanyaan itu, wajah Tadashi merona. Ia merasakan tangannya berkeringat ketika ia mengusap belakang lehernya; entah apa yang membuat jantung Tadashi berdebar sekarang: rasa kalut sebab ada kemungkinan Hinata mengendus kebohongannya, atau sebaris perhatian kecil dari Tsukishima yang, meski familiar, tetap saja membuat isi perutnya seolah jungkir-balik.
"Tidak. Tidak sama sekali. Aku hanya lega, akhirnya kerja sambilan kita selesai hari ini."
"Hee…" Hinata mengangguk-anggukkan kepala, nampak puas dengan jawaban Tadashi. "Jangan sampai kau kehujanan, Yamaguchi! Lihat, langitnya mendung sekali…"
"Mm." Tadashi mengangguk, cengiran timpang menghiasi wajahnya. "Kau sendiri? Hari ini pulang dengan Kageyama?"
"… untuk apa pulang dengan orang itu? Terakhir kali pulang bersama Kageyama, ia memintaku—memaksaku untuk mentraktir bakpau daging." Hinata mendengus, keningnya berkerut oleh ketidaksukaan. "Semua hanya karena aku tidak berhasil menerima sepuluh toss-nya ketika latihan!"
Tadashi tertawa, lebih karena ekspresi gusar Hinata terlihat lucu untuknya. "Tapi kamar apartemen kalian bersebelahan, dan kalian berada di satu tim voli yang sama. Kupikir kalian… bersahabat?" Meski, mengingat fakta bahwa Hinata dan Kageyama lebih persis minyak dan air ketika bertemu, selalu bertukar ejekan kekanakan tiap kali diberi kesempatan, mungkin Tadashi tak sepenuhnya benar. "Kalian mirip. Sangat. Dan kau diam-diam kagum dengan kemampuan Kageyama sebagai seorang setter, kan, Hinata?"
"A-Apa maksudmu?! Tidak sama sekali! Aku tidak suka orang sombong seperti Kageyama!"
Entah apakah ini hanya halusinasi Tadashi, tetapi untuk dua-tiga nanosekon yang singkat ia bisa melihat warna merah terpulas di pipi Hinata, secerah stroberi matang. Mereka tidak membahasnya; Hinata memalingkan wajah, membenahi barang bawaan yang tercecer di ruang staf lewat gerakan kikuk yang benar-benar di luar karakter, sementara Tadashi menyimpan senyum simpul itu untuk dirinya sendiri.
"Kau sendiri?"
"Ya, Hinata?"
Mereka kini berdiri bersisian di depan kafe, atap kanopi berwarna cerah menaungi kepala, sementara mendung nampak bergolak mengancam di langit. Tadashi menoleh, mengangkat satu alis untuk menatap sosok di sampingnya.
"Uh, banyak orang yang mengatakan aku tidak peka, sehingga kau boleh memarahiku jika aku terlalu kelewatan, tapi—" Hinata menggaruk-garuk kepalanya dengan ragu, gestur canggung yang kelihatan ganjil bagi mata Tadashi. "—yah, pengakuan Tsukishima masih membuatku kaget. Kau pernah berpacaran dengannya? Sulit dipercaya."
Tadashi hampir saja menjatuhkan kunci sepeda yang tengah ia mainkan di satu tangan.
"H-Hah? A-Apa?!"
Punggungnya tertekuk, ia menangkap kunci itu dengan jemari yang tak sepenuhnya sigap, mengakibatkan ia nyaris hilang keseimbangan. Tadashi beruntung ia berhasil mengembalikan kendali diri sebelum keningnya membentur undakan tangga pendek di hadapan mereka. Buru-buru berdeham, tubuh Tadashi kembali tegap sementara keringat dingin menitik di dahinya. "Maksudmu… kau tak percaya aku bisa berpacaran dengannya, Hinata?"
Di luar kemauan Tadashi, ia tersipu, wajahnya memanas dan karena itulah ia buru-buru memalingkan pandang, berpura-pura langit mendung sedang mengusiknya. Ketika Hinata tak bersuara, ia terburu-buru mengisi kesenyapan di antara mereka dengan batuk yang dibuat-buat. "T-Tapi itu benar… um, yah, kau tidak bisa memilih kalau perkaranya adalah tentang jatuh cinta, kan?"
Ketika menatap Tadashi, Hinata tak berkedip. Tatapannya menelisik.
"Entahlah, Yamaguchi. Aku tidak mengerti banyak tentang urusan percintaan. Tapi… hei, Tsukishima terlihat seperti seseorang yang mustahil jatuh cinta, kau tahu? Dia seperti last boss dalam game RPG! Tokoh antagonis! Bagaimana bisa dia mengerutkan kening sepanjang hari tanpa merasa pegal?!"
Tadashi terkekeh pendek, terutama karena analogi konyol tersebut, telunjuknya menggaruk sisi pipi. "Dia tidak mengerutkan kening sepanjang hari, Hinata. Tsukki masih manusia—dia juga… bisa tersenyum." Dan, ketika mendapati keterkejutan mulai memucatkan wajah Hinata, Tadashi buru-buru menambahkan. "Tidak sering. Kadang-kadang. Tapi Tsukki memang bisa tersenyum—ketika dia sedang sangat sangat senang, kupikir?"
"… Tsukishima bisa merasa senang?!"
Kali ini, Tadashi tertawa lepas. "Tentu saja! Sudah kubilang, kan? Dia masih manusia."
"Benar-benar sulit dipercaya…" Hinata berjengit, seolah pemuda itu akan lebih percaya jika Tadashi mengatakan ia pernah berjumpa dengan alien. Untuk sesaat mereka diselimuti keheningan yang terasa akrab, jenis yang jarang Tadashi rasakan, lebih karena jumlah temannya yang bisa dihitung dengan satu jari; sedikit. "Jadi, kau putus dengannya, ya?"
Memaksakan diri untuk mengangguk mantap, Tadashi kembali menghindari mata Hinata. Entah dosa macam apa yang pernah ia lakukan sebelum bereinkarnasi; rasanya belakangan ini Tadashi selalu terjebak dalam situasi yang tidak menguntungkannya.
"Mungkin karena—" Berhenti, Tadashi, tak ada gunanya mengatakan kebohongan lain yang bisa menjadi pedang bermata dua untukmu. "Tidak selamanya kita bisa mendapatkan semua yang kita inginkan. Betapapun kita berusaha… kupikir, tidak semua hal di dunia ini bisa berjalan lancar seperti apa yang kita harapkan."
Segera setelah itu, ia mengulas senyum tipis; itu adalah satu-satunya usaha Tadashi untuk mencegah dirinya berujar lebih banyak. Seharusnya, ini penjelasan yang cukup kan, Tsukki? Diam-diam ia merasa bangga atas kepura-puraan barusan, tetapi entah mengapa ada yang terasa perih di dadanya, seolah seseorang sedang menggoreskan pisau lewat gerakan yang amat rapi dan hati-hati di kulit, membuat senyumnya pudar pelan-pelan. Tadashi mencengkeram kunci sepedanya erat-erat, hingga terasa agak sakit di kulit telapak tangan.
Yamaguchi Tadashi tidak mencintai Tsukishima Kei.
Itulah hal yang selalu ia batinkan dalam hati, dalam konsistensi yang persis seperti sebuah doa, tiap kali ia mendapati pikirannya mulai tertuju pada satu-orang-tertentu: Tsukki-nya, sang sahabat yang nyaris tak pernah terpisahkan dengannya, pemuda yang secara ajaib berhasil menoleransi berbagai kekurangan Tadashi sejak lama. Dan tentu saja, meski esok hari dunia terbelah dua dan hancur di bawah kakinya: ia tidak akan mengizinkan dirinya untuk mencintai Tsukishima. Mereka bersahabat sejak bertahun-tahun lalu, memulai pertemanan mereka dengan kecanggungan dan kehati-hatian dan berbagai kesalahpahaman yang terasa menggelikan ketika dikenang... sungguh suatu kecerobohan, bukan, jika ia berencana untuk merusak persahabatan mereka dengan hal yang sekonyol cinta, atau rasa suka, atau obsesi yang semakin menjadi seiring hari yang berlalu?
Namun tatapan Hinata terasa seperti prasangka bagi Tadashi: kecurigaan yang tak terkatakan, ejekan hening untuk kebohongan payah yang semenjak tadi berusaha ia pertahankan. Tadashi tertunduk, memutar kunci sepedanya lagi di tangan, menarik napas dalam-dalam untuk meredakan kepanikan dalam dirinya.
"Dan… 'menyayangi' bukan berarti akhir-yang-menyenangkan. Ada banyak kemungkinan, Hinata. Dan tidak semua kemungkinan berakhir… bahagia."
Ia menegaskan sekali lagi; dan bagi Tadashi, kalimat itu bukanlah kebohongan.
.
.
.
"Tsukki, bisa-bisanya kau menolak undangan dari para senpai! Tega sekali!"
"Hanya makan malam bersama, bukan? Bisa lain kali." Tsukishima berwajah jengah, menepis lengan Bokuto yang dirangkulkan pada pundaknya. "Lagipula, masih banyak tugasku yang belum selesai."
"Kami bisa membantumu menyelesaikan tugasmu, kau tahu? Atau jangan-jangan kau meragukan kemampuan kami, Tsukki?" Kuroo terkekeh di samping Bokuto, cengiran malasnya terulas. "Atau jangan-jangan, kau ada janji kencan malam ini? Pacar rahasia?"
Ah, Tadashi mestinya bisa memperkirakan ini.
Ia membenarkan posisi tali ransel di salah satu bahunya ketika memperhatikan kelompok-tiga-orang yang tengah berdiri di selasar gedung jurusan Arsitektur, sementara langit masih teraduk dalam warna kelabu dan jingga, ada bibit cuaca mendung yang semakin menebal di sana. Ia semestinya tak membuang-buang waktu lebih lama, yang perlu Tadashi lakukan hanyalah menyapa Tsukishima dan setelah itu mereka bisa pulang bersama-sama—tetapi, langkahnya tertahan oleh beberapa pertimbangan.
Oleh sebentuk perasaan buruk, rasa cemburu, perasaan takut sebab suatu hari nanti ia mungkin akan ditinggalkan, yang membuat kening Tadashi berkerut dalam-dalam.
Tsukki. Betapa ia semestinya bangga dan turut bahagia dengan fakta bahwa Tsukishima pada akhirnya bisa mendapatkan beberapa teman baru di jurusannya, bahwa Tsukishima bisa bersosialisasi dengan normal layaknya remaja seumurannya, tetapi ada rayapan perasaan gelap dalam diri Tadashi—kesedihan yang menciutkan kepercayadirian Tadashi sebagai Satu-satunya Sahabat Baik Tsukishima Kei. Mengapa ia bisa-bisanya merasa seperti ini? Benar-benar kekanakan, bukan, merasa muram hanya karena orang lain dengan mudah menggunakan panggilan itu pada Tsukishima?
"Oi, Yamaguchi-kun!"
Sebelum kereta pikirannya berakhir, Bokuto lebih dulu menyadari keberadaan Tadashi, dan kini senior Tsukishima itu melambaikan tangan untuk memberi isyarat agar Tadashi mendekat. Dengan ragu ia menghampiri mereka, langkahnya sedikit bimbang, kendati cengiran kecil kontan terulas di bibir Tadashi untuk membalas tatapan Tsukishima.
"Sedang sibuk, Tsukki?"
"Sangat sibuk. Rupanya 'mengasuh balita' memang seburuk kedengarannya."
"Kejamnya, Tsukki." Kuroo memasang raut wajah seolah perkataan Tsukishima barusan betul-betul melukainya. "Seharusnya kau bersikap sopan pada para senior yang tiap hari membimbingmu ini!"
"Membimbing? Apa kau tahu apa arti sebenarnya dari kata itu, Kuroo-san?"
Tadashi tahu bahwa ini saatnya untuk melerai mereka, mempertimbangkan kerut jengkel yang tercipta di kening Tsukishima dan nada bicara Tsukishima yang jelas-jelas sudah menyentuh titik jengah, tetapi ia berujung ragu-ragu lebih lama, merasa bahwa eksistensinya terlalu pudar jika dibandingkan dengan ketiga pemuda jangkung di dekatnya ini. "Um…"
"Jadi? Kau benar-benar tidak akan ikut acara makan malam kita? Kita bisa bersenang-senang sebelum ujian akhir! Karaoke!"
"Tidak, terima kasih."
Gelengan Tsukishima adalah reaksi final si pemuda untuk dua seniornya; Tadashi tertegun ketika merasakan tangan Tsukishima menarik lengan jaketnya dengan perlahan, untuk dua-tiga detik yang sangat singkat—dan setelah melambaikan tangan dengan terburu-buru pada Kuroo dan Bokuto, Tadashi mengikuti langkah Tsukishima menuju tempat parkir, menyusul pemuda berkacamata itu seraya separuh berlari.
.
.
.
"Padahal aku juga bisa mengemudikan sepeda, Tsukki." Tadashi tersenyum geli, menatap punggung Tsukishima lekat-lekat. "Dan kau biasanya benci membuang-buang tenaga untuk membonceng orang lain, kan?"
"Karena kau bukan anak buahku." Tsukishima berujar datar. Dan dari tempatnya duduk sekarang, Tadashi merasakan angin dingin mengecup hidungnya, rambutnya teracak-acak, satu-dua lembar sakura barangkali terselip di sana. "Lagipula, kau ringan. Lebih ringan dari tengkorak."
"Tidak seekstrim itu!"
"Kenapa kau keras kepala sekali."
"… tidak keras kepala, Tsukki. Aku hanya—um, memangnya kau tidak lelah? Kelasmu dari pagi sampai sore dan semalam kau hanya tidur tiga jam."
"Begitulah." Tsukishima bergumam, tepat ketika sepeda mereka berbelok menuju gerbang depan kampus. "Dan tugasku masih menumpuk. Sepertinya malam ini aku tidak akan tidur."
"… itu tidak sehat." Tadashi berujar, separuh memakai nada bicara mengomeli—ia merasa bahwa terkadang, separuh dari peran ibu Tsukishima harus ditanggungnya selama mereka tinggal bersama. "Kau sendiri yang kemarin bilang padaku, agar aku tak mengambil kerja sambilan terlalu banyak."
"Tapi ini berbeda. Kau memang bekerja sambilan terlalu keras. Energi yang kau habiskan jauh lebih banyak."
Atas pernyataan itu, Tadashi tergagap. "Eh? Tidak seperti itu—"
"Wajahmu pucat." Tsukishima memotong ujarannya, terdengar tak sabar. "Sejak tadi pagi. Karena itulah, aku yang akan mengemudikan sepeda ini."
… Ah.
Ia bisa saja menganggap bahwa tak ada kepedulian dalam suara Tsukishima barusan, tetapi segalanya sejelas siang hari. Selapis awan mendung nampak mangkir sejenak dari matahari, membuat seleret cahaya oranye-senja menerobos ranting pepohonan, dan seiring bunyi dedaunan yang remuk di bawah roda sepeda, Tadashi berpikir, apa ia tidak salah dengar? Mungkin telinganya sedang memainkan sebuah lelucon? Betapa ia ingin menganggap bahwa angin menciptakan ilusi untuk pendengarannya, tetapi Tsukishima terdiam, lama, suara detak jantung Tadashi mengisi keheningan di dalam kepalanya yang mendadak terasa ringan.
Seolah nilai gravitasi berkurang separuhnya, dan ia bisa melayang kapan saja.
"… begitukah?" Belum sepenuhnya pulih dari keterkejutan, ia bergumam, suaranya agak terbata. Tadashi mengacak rambutnya dengan satu tangan, tersenyum malu. "Um, kau tahu darimana—aku—aku tidak pucat dan—"
Wajahnya terasa panas, dan detik itu juga ia mempertimbangkan bahwa mungkin ia memang tengah terjangkit demam musim semi. Kalimat Tadashi berakhir tanpa dilanjutkan dan punggung Tsukishima terlihat solid di hadapan matanya, kokoh, bisa diandalkan. Ia menemukan dirinya meredam protes-protes lainnya untuk sesaat.
"Semua orang normal akan sakit jika bekerja sekeras kau." Tsukishima akhirnya bersuara. Tadashi bisa merasakan pemuda itu menambah kecepatan sepeda; dari angin yang terasa menampar pipi, juga pemandangan yang menghilang secepat kedipan mata. "Seharusnya kau yang paling mengerti kapasitas dirimu, Yamaguchi."
"… Tapi, tidak semua orang akan puas jika berusaha seadanya."
"Tak ada gunanya memaksakan diri kalau pada akhirnya kau akan tumbang."
"Apa menurutmu begitu?" Tadashi tidak berkedip ketika menatap jalanan di hadapan mereka: aspal yang dibalut ratusan kelopak bunga merah muda. Ia lantas menelan ludah, napasnya dihela dalam-dalam. "Aku hanya ingin membuktikan pada diriku sendiri, bahwa aku bisa berkembang. Bahwa jika aku berusaha lebih keras, bekerja lebih banyak, mungkin nantinya aku juga bisa melakukan hal-hal lain yang lebih hebat. Suatu hari nanti."
Tak ada jawaban. Serbuk bunga terasa perih di matanya, membuat Tadashi memejamkan mata untuk sejenak. Apa ia berujar terlalu banyak? Bukankah ia adalah orang yang paling paham, bahwa Tsukishima selalu membenci orang-orang yang berusaha terlalu keras? Kepanikan serta merta-tumbuh di dalam dirinya, bagai akar tumbuhan rambat yang perlahan membelit sekujur paru-paru, membuat napas Tadashi sedikit sesak. Namun tepat ketika ia berpikir bahwa ini waktu yang tepat untuk meminta maaf, Tadashi melihat Tsukishima mengangguk. Samar, gestur kasual tanpa tolehan dan kontak mata.
"Baiklah."
Itu barangkali versi lain dari 'terserah kau sajalah', tetapi Tadashi tahu bahwa Tsukishima juga bukannya sedang jengkel. Menahan diri agar tak mengatakan hal-hal yang lebih bodoh, Tadashi memutuskan untuk bungkam di menit selanjutnya, mencoba mengisi benaknya dengan lamunan. Lagipula perjalanan mereka tinggal sedikit lagi. Tadashi tersenyum sekilas ketika sepeda mereka melewati toko bunga, menanggapi lambaian tangan dari bibi pemilik toko yang sedang menyiram tanaman di rak kayu depan toko. Dalam hatinya, ia berencana untuk mengunjungi toko itu akhir pekan nanti, sekadar mencari ketenangan di antara warna-warni cerah flora yang selalu bisa mencerahkan suasana hatinya.
"Tangan?"
Perhatiannya kembali pada si pemuda di hadapan. Tadashi mengerjap, tak mengerti, dan Tsukishima mengulurkan lengan, gestur yang sukar diterjemahkan maknanya. Satu tangan lain Tsukishima masih mencengkeram stang sepeda erat-erat, menjaga sepeda agar tetap di jalur.
"Eh? Tangan…?" Tsukishima tidak menjelaskan, tetapi lengannya membeku di posisi yang sama. Seolah sedang menunggu. Dengan ragu Tadashi turut mengulurkan tangan, telapak tangannya menyentuh ujung jemari Tsukishima lewat sentuhan hati-hati. "Seperti ini—"
Tangan Tsukishima begitu kurus, tetapi terasa hangat ketika melingkupi jemari Tadashi. Napas Tadashi tertahan di tenggorokan ketika Tsukishima menarik tangannya, dan ia yakin sekali cepat atau lambat kedua telinganya akan mengeluarkan asap bagai teko berisi air mendidih, ketika tangannya pada akhirnya melingkari pinggang Tsukishima. Oh. Oh. Baiklah. Pemahaman terbentuk perlahan dalam benaknya. Tadashi menatap jalanan berlubang yang menyambut kedatangan mereka, roda sepeda menggilas bebatuan dengan bunyi 'drak' lirih di antara terpaan angin. Tanda bahwa Tsukishima tak berniat menurunkan kecepatan sedetik pun.
"Demam dan cedera-karena-jatuh-dari-sepeda bukanlah kombinasi yang menyenangkan."
Tanpa perlu melihat, Tadashi tahu Tsukishima sedang menyeringai. Bisa-bisanya, ia merutuk dalam hati, serapah ringan yang ia tujukan pada Tsukishima, juga pada detak jantungnya yang tak lagi konstan. Apa Tsukishima sengaja melakukan semua ini? Satu tangan Tadashi menyusul untuk turut memeluk pinggang Tsukishima, selonggar yang ia bisa, kendati Tadashi berujung mengeratkan pelukan ketika roda sepeda bertemu lagi dengan lapisan aspal yang tak rata; karena ia tidak ingin terpelanting jatuh, Tadashi mencoba meyakinkan dirinya.
Dan, sungguh, Yamaguchi Tadashi tidak mencintai Tsukishima Kei. Ia berusaha mencegah dirinya bertanya-tanya mengapa Tsukishima terlihat setenang ini. Ketika ia menyentuhkan kening pada punggung Tsukishima, ketika jemarinya menggenggam kain jaket Tsukishima seerat yang ia bisa, Tadashi mengenyahkan gagasan untuk bertanya dengan lantang mengapa detak jantung Tsukishima terdengar teratur di balik tulang rusuk.
Seolah semua ini tak punya arti bagi pemuda berkacamata itu.
.
.
.
Seperti biasa, Tsukishima lah yang benar.
Tadashi tak ingat kapan terakhir kali ia terjangkit demam, sehingga sensasi mengawang-awang yang kini meliputi kepalanya terasa sedikit asing. Ia menghabiskan berdetik-detik lamanya di beranda apartemen untuk mencoba menegakkan punggung, sementara Tsukishima sudah berada di dalam, mungkin menaruh barang bawaan dalam kamar. Rasa pening menyerang Tadashi begitu ia mencoba melangkah—demamnya barangkali tinggi, ia mengeluh seraya menyentuhkan telapak tangan pada kening.
"Aaah, mengapa harus sekarang?" Setelah menaruh sepatu di rak, ia menyeret langkahnya untuk masuk ke ruang tengah, napasnya terengah dan Tadashi merasa dua kakinya bagai melumer jadi jeli. "Apa hari ini memang hari sial untuk Scorpio? Kutukan dari langit? Imbas dari ramalan 'Sedikit Sial' waktu hatsumode kemarin?"
"Sudah kuduga."
"T-Tsukki?!" Ia nyaris terlonjak, dan wajahnya merona ketika menyadari bahwa Tsukishima berdiri di dekatnya, barangkali mendengar seluruh keluhan Tadashi barusan, tanpa terkecuali. "K-Kau—um, aku… sungguh, aku tidak apa-apa! Sesehat prajurit Yunani!"
Satu-satunya tanggapan yang ia dapatkan hanyalah helaan napas. Tadashi merapatkan bibir ketika melihat Tsukishima tersenyum masam. "Dari dulu kau tidak pandai berbohong."
Tadashi memberi picingan mata pada Tsukishima, bersiap membalas dengan sanggahan lain, tetapi ia juga tahu bahwa Tsukishima sudah menggunakan kartu As-nya; Kartu aku-teman-masa-kecilmu-dan-tidak-ada-gunanya-berbohong-padaku—dan itu membuat Tadashi meringis. Ia kalah telak sebelum sempat melakukan apa-apa.
"… Tidak tinggi." Tadashi bergumam, separuh menggerutu, tatapan matanya terarah ke titik lain, menjauhi mata Tsukishima. Bisa-bisanya ia tersipu di saat-saat seperti ini. "Aku… masih bisa berdiri dengan dua kaki."
Alasan payah macam apa itu? Yamaguchi? Dengan mudah, ia bisa mendengar suara Tsukishima di dalam kepalanya; mengejek, lalu terkekeh menertawakan.
"Benarkah."
Nada bicara Tsukishima sedatar permukaan kaca, ledekan kasual tersirat dalam suaranya, sudah ia duga.
"Berhenti mengolok-olokku, Tsukki…" Tadashi mendesah, satu tangannya mengusap keringat dingin yang menitik di pelipis. Entah berapa detik yang ia habiskan untuk menatap lantai apartemen mereka selagi tubuhnya bertumpu pada bagian belakang sofa ruang tengah. "Kalaupun aku demam… yah, apa boleh buat. Apa menurutmu bosku akan memaklumi, lalu mengurangi separuh pekerjaanku di konbini?"
Kali ini, Tsukishima tak menyembunyikan kejengahan dalam suaranya. Pemuda itu jelas-jelas sengaja menghembuskan napas keras-keras—dan ketika Tsukishima melangkah mendekat, Tadashi merasa sedikit terintimidasi, postur jangkung Tsukishima dan kerut masam di antara kedua alisnya menciptakan kesan seolah-olah Tsukishima akan membunuh Tadashi lewat cara yang penuh penderitaan jika ia mendebat argumen pemuda itu lebih lama…
"Bisa-bisanya kau berpikir untuk tetap pergi bekerja?" Tsukishima berujar. Tadashi mendongak dan untuk pertama kalinya setelah sekian puluh detik, ia menatap mata Tsukishima kembali. Cokelat keemasan yang tidak pernah tidak kelihatan memukau. Dari jarak sedekat ini, rasanya sulit sekali untuk berpaling.
"Karena, Tsukki, kau tahu sendiri kalau aku tidak bisa membolos terlalu sering. Dua minggu lalu aku membolos kerja karena esok paginya ada ujian, dan, uh—"
"Aku yang akan menelepon bosmu, bilang bahwa kau tidak bisa bangun dari tempat tidur."
"Tsukki! Kau akan membohonginya?!" Tadashi reflek tertawa, gelak yang lantas ia tutupi dengan sebelah tangan, antara geli dan tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar. Tsukishima membalasnya dengan seringai yang seolah berkata 'mari taruhan; kau harus mentraktirku ramen jika bosmu mempercayaiku'—dan itu adalah jenis ekspresi yang, entah mengapa, berhasil mengurai simpul kepanikan di dasar perut Tadashi. Betapa ironis.
"Separuh berbohong." Tsukishima menghela napas lagi, nampak telah lelah meladeni sekian alasan Tadashi. "Kau kelihatan bisa ambruk kapan saja, Yamaguchi."
Dan, seperti biasa, ia tahu bahwa ia tidak lagi bisa mendebat Tsukishima.
Kebiasaan buruk, Tadashi mengomeli dirinya dalam hati, separuh menyalahkan mata Tsukishima yang semenjak tadi terarah padanya: sorot mata itu entah mengapa sedikit lebih lembut dibanding biasa, diperciki kekhawatiran samar, dan hanya untuk Tadashi.
Ah, sial.
Bagaimana bisa ia menyia-nyiakan seluruh afeksi itu?
"Mm." Tadashi mengangguk, entah untuk apa. "Maaf, Tsukki." Dan entah meminta maaf untuk apa.
Tsukishima hanya menjawabnya dengan gumaman tak jelas, hingga kemudian Tadashi melihat tangan Tsukishima terulur. Scarf-nya diraih, lalu diurai lepas dengan gerakan perlahan. Tadashi membeku, otot di sekujur tubuhnya terasa kaku, rasa panas berkumpul di wajah. Jemari kurus Tsukishima lantas meletakkan scarf tipis itu di sandaran sofa, kemudian si pemuda mulai melepas kancing jaket Tadashi, mulai dari yang teratas.
"… istirahatlah." Tsukishima menukas, mulai melepas kancing yang kedua. Matanya menghindari mata Tadashi yang penuh pertanyaan, terarah lekat pada jaket yang masih dipakai Tadashi. "Akan lebih merepotkan kalau demammu makin parah, kan? Kau mau benar-benar tidak bisa bangkit dari tempat tidur?"
"A-Ah, ya…"
"Wajahmu—merah. Kau… harus mengompresnya."
Tadashi mengangguk, tetapi kini kepalanya tertunduk. Ia tidak lagi bisa menatap Tsukishima tanpa memamerkan isi hatinya di ekspresi wajah, kegugupan yang berpadu dengan rasa senang dan sensasi hangat di dada. Ia membiarkan jemari Tsukishima bergerak untuk membuka kancing yang ketiga, lalu yang keempat, dan dengan terlambat Tadashi menyadari bahwa ini merupakan situasi yang sedikit… intim. Jantungnya berdebar lebih cepat, seolah sedang berlomba sengit dengan jarum detik di arlojinya.
Ia menggigit sisi dalam bibir, menunggu hingga rasa panas di pipinya sedikit memudar.
Suara jam dinding di ruang tengah mereka mendominasi ruangan; tik, tik, tik, konstan dan familiar, begitu kontras dengan irama detak jantung Tadashi yang tak bisa kembali seperti semula.
"Kadang aku berpikir, jika aku tidak berusaha keras, mungkin aku tidak akan bisa menjadi siapa-siapa." Tadashi bergumam, menyingkirkan kesenyapan yang sempat tercipta di antara mereka. "Jika aku tidak bekerja keras, mungkin mimpi-mimpiku akan semakin jauh dari tanganku, lalu lepas dan menghilang dari jangkauan."
Tsukishima terlihat seolah hendak mendebatnya, tetapi pemuda itu nampak menahan diri, menunggu Tadashi untuk melanjutkan.
"Dan kurasa… tidak buruk kalau aku memulai dari hal-hal kecil. Dengan kerja sambilan, atau terjun ke organisasi di kampus. Lagipula, okaasan bilang bahwa pengalaman adalah aset yang bagus. Aku bisa belajar banyak hal dari pengalaman dan… dengan belajar, aku bisa berubah. Berkembang. Logika yang tidak jelek, kan, Tsukki?" Tadashi tersenyum canggung, lalu mengusap belakang lehernya dengan satu tangan. "Tapi rupanya aku bekerja terlalu keras, dan tidak memikirkan kapasitas diriku hingga pada akhirnya aku tumbang, seperti sekarang ini. Benar-benar payah…"
Jemari Tsukishima berhenti di kancing terakhir, dan untuk kali ini Tsukishima kembali menatap Tadashi. Tepat di mata. Sejenak, Tadashi tak tahu harus melakukan apa, sebab lagi-lagi mereka berpijak di teritori yang asing, terutama karena jarak ia dan si pemuda tak lebih dari satu helaan napas. Dekat.
(Ketika Tsukishima terdiam, Tadashi nyaris-nyaris berpikir bahwa pemuda itu hendak menciumnya.)
"Aku… tidak berpikir seperti itu." Jemari Tsukishima berdiam lama di kancing terakhir, sedikit memainkannya. "Aku tidak pernah berpikir kau payah—tapi kau juga benar, bahwa kau memang terlalu memaksakan diri. Sembrono sekali."
Tadashi membisu, tetapi tak memalingkan pandang. Ini adalah saat-saat ketika mata Tsukishima lah yang berbicara; dengan mudah ia bisa memilah-milah setiap emosi yang terpancar di sana, yang paling samar dan lemah sekalipun.
"Yamaguchi, aku khawatir."
Hanya saja, meski Tadashi sudah sangat mengetahui itu, gumaman Tsukishima barusan tetap membuatnya tertunduk malu.
.
.
.
Ia sedikit kehilangan orientasi akan tempat dan waktu. Di mana ini? Pukul berapa sekarang? Tadashi merasakan hangat selimut di sekujur tubuhnya, dan ketika ia berbaring menyamping, ia bisa melihat punggung Tsukishima tak jauh dari kasur. Pemuda itu duduk bersila, membelakangi Tadashi, tepat di hadapan meja lipat yang penuh berisi lembaran kertas. Laptopnya terbuka dan menyala, menampilkan satu aplikasi yang biasa digunakan Tsukishima untuk merancang bangunan dalam detail sederhana. Kantuk masih menggelayuti kelopak mata Tadashi ketika ia memperhatikan rambut pirang Tsukishima yang nampak berantakan di bawah cahaya lampu kamar—kamar Tadashi.
"Tsukki…"
Suaranya parau. Tenggorokannya sedikit sakit. Demam membuat kepala Tadashi terasa ringan… namun lewat cara yang buruk. Ia tak yakin ia bisa bangkit dari tempat tidur tanpa jatuh terjerembab di detik berikutnya.
Atas panggilan tersebut, Tsukishima menoleh. Tanpa banyak menunggu, pemuda itu menghampirinya, gestur yang membuat Tadashi agak terperanjat, terkejut.
"Ng, jangan mendekat—Tsukkiii, kau bisa ketularan…" Tadashi beringsut sedikit, berusaha membuat jarak antara ia dan Tsukishima, kendati tempat tidurnya toh terlalu kecil. Ia mencoba menegakkan punggung, tetapi kelewat lemah bahkan untuk gestur sesederhana itu. Ada gawatgawatgawat yang meraung bagai alarm dalam kepalanya ketika ia mendapati Tsukishima duduk di sisi tempat tidur, bayangan Tsukishima menaunginya ketika pemuda tersebut agak menekuk punggung.
"Tidak akan." Ringkas saja, Tsukishima menanggapi. Tadashi belum sempat menyela dengan apa-apa ketika tangan Tsukishima terulur untuk menyentuh keningnya. "Masih panas. Harusnya kau istirahat."
"Lalu, kau…"
"Tugas."
"Betulan tidak akan tidur?"
Tsukishima mengangkat bahu. "Mau bagaimana lagi?"
Tadashi merapatkan bibir, teringat lagi bahwa seharian ini ia betul-betul sudah merepotkan Tsukishima.
Ya. Seharusnya Tsukishima mengerjakan tugas di kamarnya sendiri alih-alih kamar Tadashi, tetapi betapapun Tadashi membantah, Tsukishima sama-sama keras kepala, mengatakan bahwa pengaturan ini lebih tidak merepotkan, bahwa ia bisa dengan sigap merawat Tadashi jika ia memindahkan meja lipatnya untuk sementara ke kamar Tadashi sehingga ia bisa mengerjakan tugas di sana. Kenapa, Tadashi ingin bertanya, dengan segenap rasa penasaran dalam hatinya. Ia ingin bertanya pada Tsukishima, mengapa Tsukishima mau-maunya berkorban untuknya, karena ia tahu 'kau-ini-sahabatku' bukanlah alasan yang cukup kuat. Betapa ia ingin menyuarakan tanyanya, tetapi ia terlalu takut.
"… tidurlah lagi, Yamaguchi."
Setelah gumaman itu, Tsukishima bangkit, berdiri—tetapi bahkan sebelum setengah detik berlalu, Tadashi telah mengulurkan tangan. Jemarinya menggenggam ujung kaus Tsukishima, erat-erat, gerakan itu membuat Tsukishima terduduk lagi di pinggir kasur.
Pupil mata Tsukishima melebar, agak terkejut, dan Tadashi yakin dirinya juga memasang ekspresi serupa.
"A-Ah, maaf—"
"Tidak apa-apa."
Buru-buru, Tadashi melepaskan genggaman dari kaus Tsukishima—jemari Tadashi kini bertaut di pangkuan, seolah jika ia tidak melakukan itu, ia takkan bisa mengontrol impuls dalam dirinya. Yang membuat Tadashi kian gugup adalah: Tsukishima membisu. Tadashi bisa merasakan tatapan pemuda itu kini terarah penuh-penuh pada dirinya, menelisik, ia merasa begitu terpapar di hadapan Tsukishima bahkan meskipun ia telah menyembunyikan ekspresi wajah dengan kepala yang tertunduk.
"Ada apa?"
Pertanyaan Tsukishima membawa Tadashi kembali ke kenyataan.
"Y-Ya, Tsukki?" Ia kontan mendongak, tak lagi menekuni kerut selimut di pangkuan.
"… ada yang sedang mengganggu pikiranmu." Tsukishima berujar, matanya beralih ke titik lain begitu pemuda tersebut menyadari Tadashi menatapnya lekat-lekat. "Sejak tadi sore, tingkahmu aneh."
"Begitukah…?" Tadashi bergumam, menggigit ujung bibir. Ia tahu Tsukishima benar, ia tahu Tsukishima tak pernah gagal memahaminya, tetapi, tetap saja… "Aku—tidak. Aku hanya memikirkan hal yang… Konyol."
"Jika menurutmu hal itu penting, maka itu sama sekali tidak konyol."
Tadashi bisa merasakan pipinya memanas, hanya karena satu kalimat itu. Ia mencoba menghitung mundur dalam hati, lima detik untuk menenangkan jantung yang berdetak kencang—jemarinya terjalin di pangkuan, dan ia lantas memainkan jari-jarinya dengan gugup. Tangannya mulai berkeringat.
"Benar-benar konyol, Tsukki. Kau akan tertawa kalau—kalau aku mengatakannya."
Tak ada tanggapan; ia tahu Tsukishima menunggunya untuk melanjutkan.
"Yang kupikirkan ini… sudah sejak lama mengganggu pikiranku."
"Tentang apa?"
"Aku ini—buruk dalam beradaptasi, kupikir…" Ia memulai, tak mengalihkan tatapan sedetik pun dari jalinan jari-jemari. "Sejak kita lulus sekolah, banyak perubahan, banyak hal baru yang harus dihadapi—dan, aku tahu… aku tahu kita harusnya beradaptasi dengan semua itu. Tapi rasanya—" Tadashi menarik napas, kali ini memberanikan diri untuk melirik Tsukishima dari sudut mata. "… sulit."
"Karena?"
"Karena—aku tidak sepintar Tsukki dalam mencari teman. Aku… hingga saat ini aku tak punya teman yang terlalu dekat di jurusanku, dan aku juga tak melakukan usaha apapun untuk mencari teman karena aku merasa punya satu sahabat baik saja sudah lebih dari cukup—sementara kau… kau punya teman baru. Lingkungan baru. A-Aku senang, Tsukki! Senang sekali, kau akhirnya bisa menyesuaikan diri! Hanya saja, hanya saja—"
Perasaan gelap itu menyeruak lagi, serupa bayangan hitam yang mewujud menjadi jari-jemari kurus, lantas mencekik sekujur lehernya hingga ia kesulitan bernapas—membuat ia ingin lari dari kulitnya sendiri. Tadashi merapatkan bibir, rahang terkatup rapat-rapat. Ia memejamkan mata—serta-merta merasa jijik dengan setiap sel yang membentuk dirinya. "Hanya saja, aku… aku—tidak ingin ditinggalkan."
Tadashi menarik napas, lantas tersenyum canggung. Telunjuknya menggaruk sisi pipi. "Yah, bukan hakku untuk meminta hal seperti itu, aku tahu. Lagipula, ketika tahu kau bisa mendapatkan teman-teman yang menghargaimu dan bersikap baik padamu—aku memang senang, Tsukki. Aku tidak berbohong, sungguh…"
Mengapa, jika ia sudah berhadapan dengan Tsukishima, rasanya sulit sekali untuk bungkam? Mengapa ia tak pernah bisa berahasia dari pemuda itu? Kata-kata mengalir dari bibirnya seolah bendungan yang selama ini ia bangun mendadak hancur. Tadashi terkesiap dalam diam ketika menyadari ia baru saja mengungkapkan sebagian besar kekhawatiran yang selama beberapa hari ini mendekam di benak—dan ia juga tahu, ia sedang meluapkan keegoisannya yang mungkin takkan dimaafkan Tsukishima.
Bahwa ia tidak ingin ditinggalkan. Bahwa ia, barangkali, ingin memiliki Tsukishima untuk dirinya sendiri…
"… maaf. Aku meracau." Tadashi bergumam, lirih, mulai menyalahkan demamnya yang mungkin membuat ia kesulitan berpikir jernih.
Ketika Tadashi diam-diam melirik Tsukishima, ia melihat wajah kaku si pemuda—wajah 'berpikir' Tsukishima—jenis yang biasanya mudah sekali ia pahami tetapi untuk malam ini terlihat seperti varian ekspresi yang sama sekali baru.
"Aku mengerti."
Gumaman Tsukishima membuat Tadashi mendongak. Ia memperhatikan tangan Tsukishima yang meremas seprai perlahan, meninggalkan kerut kusut baru di sana. "Tapi seharusnya kau… tidak perlu khawatir. Kenapa kau berpikir aku akan meninggalkanmu?"
"Um, itu…" Wajah Tadashi memanas. Entah mengapa konteks pembicaraan mereka terasa ganjil, seolah ini bukan semata-mata tentang 'teman' atau 'persahabatan'. "Aku—tidak tahu. Mungkin karena aku teman yang tidak sekeren teman-temanmu yang sekarang? Karena suatu hari nanti, kau mungkin akan bosan denganku?" Bodoh, ia berakhir menawarkan penjelasan yang membuatnya begitu ingin mengubur diri di bawah lantai apartemen mereka. Ia merasa semakin payah ketika mengakui bahwa dirinya memang payah. "P-Pokoknya seperti itu! Kau tidak usah memikirkannya lagi, Tsukki—aku sedang demam, kau ingat? Demam! Aku… aku tidak bisa berpikir jernih, kepalaku sakit, makanya—"
Tadashi tak melanjutkan. Ia menggemeretakkan rahang kuat-kuat, wajahnya dipalingkan sehingga ia tak perlu menatap mata Tsukishima lagi. Dalam kepalanya, satu demi satu skenario terbentuk, kesemuanya memiliki akhir yang sama: Tsukishima akan membenci Tadashi, barangkali pula akan menjaga jarak darinya setelah mendengar semua yang ia beberkan. Teman macam apa ia ini, Tadashi meringis dalam hati, bertanya-tanya mengapa ia selalu melakukan kesalahan pada momen-momen penting dalam hidupnya.
Karena itulah, sangat sulit untuk tidak terkejut ketika ia merasakan tangan Tsukishima di pipinya. Sentuhan itu terasa ringan, seperti kepak sayap kupu-kupu, demikian hati-hati dan lembut, seolah Tsukishima juga sedang menyimpan kebimbangan dalam benaknya.
"Kenapa kau berpikir dirimu payah?"
"Karena—"
"Aku…" Tsukishima memotong. "… tidak mau meninggalkanmu."
Dan, begitu saja. Tsukishima tidak mengatakan apa-apa lagi. Finalitas menggantung di udara. Jemarinya terasa dingin di pipi Tadashi yang serta-merta memanas; Tadashi tak lagi bisa membedakan mana yang merupakan campur tangan demam, dan mana yang merupakan hasil dari kimia perasaan dalam dirinya.
"Kau tetap akan berteman denganku?" Ia bertanya, pelan, ingin rasanya ia mengangkat tangan untuk menyentuh punggung tangan Tsukishima tetapi Tadashi mati-matian menahan diri.
"Tentu saja."
"… ng." Tadashi bergumam, tak jelas, ia mengangguk setelah membisu beberapa detik. Entah mengapa kelegaannya terasa tak utuh. Ada yang masih mengganjal, banyak hal yang belum tersampaikan—
Satu persatu, Tadashi mengingatkan dirinya sendiri. Jangan terburu-buru, karena kau akan mengatakan hal yang bodoh jika tak berpikir dua kali.
"Maaf, Tsukki. Tadi aku mengatakan hal yang… aneh. Kau pasti menganggapku aneh, setelah ini."
Tsukishima tertawa, sangat pelan dan samar. "Dari dulu kau kan memang aneh."
Jemarinya kini turun, tak lagi menyentuh pipi Tadashi namun bertumpu di permukaan selimut. Tadashi membisu kala menatap jari-jari kurus Tsukishima, kulit pucat Tsukishima kelihatan bersinar di bawah cahaya lampu kamar. Tadashi lantas membuka mulut, ingin mengatakan sesuatu, apa saja untuk menyingkirkan kesunyian di antara mereka—tetapi ia malah terbatuk-batuk, gestur yang membuat Tsukishima mengernyitkan kening dalam-dalam.
"Maaf—uhuk!—Tsukki—"
"… Tidurlah." Tsukishima menghela napas. Tadashi merasakan lagi sentuhan jemari Tsukishima, kali ini di keningnya. "Kau masih sakit, kau tahu?"
"Dan… tugasmu, masih banyak…?"
"Akan selesai besok pagi."
Bukan jawaban yang dapat menenangkan Tadashi—tetapi setidaknya, Tsukishima tidak pergi. Bahkan setelah ia berbaring di ranjangnya pun, ketika ia menyandarkan sisi wajah pada bantal, ia masih bisa melihat punggung Tsukishima tanpa kesulitan. Dekat. Kening Tsukishima berkerut penuh konsentrasi sementara layar laptopnya berkedip menyala; sesekali ada suara kertas tersibak, kemeresak dari lembaran buku yang dibuka. Oh, kau memang khawatir. Tadashi Yamaguchi menyembunyikan wajahnya yang menghangat di balik lipatan selimut yang ia tarik hingga menutupi leher, suara torehan pensil di atas kertas perlahan-lahan menggiring kantuk ke kelopak matanya.
"Tsukki, jangan tidur terlalu malam…" Ia berujar, suaranya serak dan kesadarannya mulai terombang-ambing, barangkali efek dari obat yang lima menit lalu ia telan. Tsukishima menoleh dan Tadashi memandang lekat-lekat mata keemasan tersebut dengan sisa determinasi yang ia miliki: peringatannya yang terakhir kali untuk malam ini.
"Mm."
"Sudah minum vitamin…?"
"Sudah."
"Tsukki…"
"Ya?"
"Suki."
Tepat setelah gumaman lirih itu, Tadashi memejamkan mata, terlelap ke dalam tidur yang tanpa mimpi.
.
.
to be continued
.
.
a/n: pertama-tama, saya mau ngucapin maaf sekali udah lama nggak update fic ini. Hampir setengah tahun, ya? /sungkem/ semoga masih pada berminat mengikuti fic ini ya, setelah ini saya akan usahakan update secepatnya. Maklum, kemarin-kemarin RL lumayan kejam, saya bahkan belum sempat menyelesaikan utang-utang fic yang lain dan belum sempat baca-baca fic author lain di fandom hq indo buat ngasih review, huhuhu. Saya kangen sekali sama kalian. /nangis/ terima kasih buat yang masih bersabar sama saya, ya, terima kasih banyak juga untuk yang udah baca fic ini! Ditunggu kritik/comment/sarannya lho, ehehe~
