Disclaimer
Bungou Stray Dogs punya Asagiri Kafka dan Harukawa Sango
Ringkasan
Usai pertikaian dengan para gerilyawan Mimic, Port Mafia mengukuhkan ketua baru. Seluruh pihak dalam tripartit tahu berita mengejutkan ini, yang menjadi topik hangat selama beberapa tahun ke belakang, sebelum akhirnya tenggelam oleh berita-berita tentang kehebatan sang ketua baru yang masih muda dan cemerlang. Akan tetapi, waktu berhenti bagi Fukuzawa Yukichi.
Ini adalah fanfiksi yang berdasar kepada BEAST! AU. Selamat membaca!
YANG TERSEMBUNYI
di dalam kamar bertirai besi,
menyambut pagi yang hangat dalam sunyi,
merindu malam bersalju dalam dekapmu.
"Kucing yang baru melahirkan?"
Edogawa Ranpo menyeringai lebar kala ia melihat sepasang pupil sang direktur menajam sembari mengulangi empat kata itu. Terkekeh-kekeh, ia menepuk-nepuk kasar punggung Nakajima Atsushi yang berdiri di sisinya. Ranpo tak bisa berhenti memuji dirinya sendiri di dalam hati, oh, betapa jeniusnya aku, betapa aku pintar membuat orang baru ini menjadi sangat berguna.
Nakajima Atsushi adalah anggota baru agensi yang baru saja lulus tes masuk bulan lalu. Sama seperti Akutagawa Ryuunosuke, Atsushi pun direkomendasikan oleh Odasaku. Atsushi masih kesulitan beradaptasi dengan kehidupan barunya sebagai detektif setelah bertahun-tahun menjadi penjagal terkejam Port Mafia, tetapi ia memiliki semangat yang tinggi untuk menjalani hidup barunya ini.
Atsushi sedang mengetik laporan ketika tiba-tiba Ranpo menghampirinya. Ranpo bertanya soal kucingnya, dan Atsushi sempat dibuat terkejut karena ia tak pernah bercerita soal itu kepada siapa pun.
Tiba-tiba, ia sudah berada di sini, di ruang kerja Pak Direktur Fukuzawa Yukichi, setelah diseret paksa oleh Ranpo.
"Iya Shachou," ujar Ranpo bangga, "di rumahnya Atsushi-kun. Lucu-lucu deh kucingnya, lagi pada suka diajak main. Iya kan, Atsushi-kun?"
Atsushi mengangguk sambil tersenyum canggung, "Iya. Ada empat ekor di rumah saya."
Fukuzawa tidak tahan untuk tidak bertanya, "Sudah berapa minggu umur kucingnya?"
"Hampir dua bulan, Shachou-san."
Edogawa Ranpo menyeringai semakin lebar. Ia melirik kepada Fukuzawa yang tidak berkedip. Walah, sampai nelan ludah begitu dia, batin Ranpo menahan tawa. Wajar saja Fukuzawa merasa gembira di dalam hati, anak kucing berusia lebih dari sebulan sangat lincah dan paling senang diajak bermain, serta terlihat sangat menggemaskan.
Mudah saja Ranpo mengetahui soal kucing itu. Akhir-akhir ini, muncul banyak bekas cakaran kecil di sekujur tangan Atsushi. Ranpo juga mendapati bulu halus yang menempel pada bajunya, juga bau makanan kucing yang sama seperti milik Fukuzawa. Ketika ia sudah merasa yakin, barulah ia menghampiri Atsushi dan bertanya langsung.
"Warnanya?"
"Yang satu abu-abu garis," Atsushi terlihat mengingat-ingat, "ada dua yang kembar itu putih dan ada corak abu-abu garisnya juga... yang satu lagi putih bersih."
"Sudah sudah," akhirnya Ranpo menyela karena tak tahan melihat ekspresi lucu Fukuzawa yang berusaha tetap tenang, "daripada penasaran, gimana kalau Shachou main ke rumah Atsushi hari ini? Udah mau tutup kantor juga, iya kan? Besok kita libur..."
Atsushi buru-buru menarik Ranpo sambil setengah berbisik keras kepadanya.
"Ranpo-san, rumahku kecil, jelek, dan berantakan!"
"Shachou kan cuma mau liat kucingmu, bukan rumahmu! Lagian, kamu bisa minta tips merawat kucing ke Shachou."
"Benar," suara dingin Fukuzawa bergetar, "hari ini, izinkan saya datang ke rumahmu untuk melihat kucingmu. Pada umur segitu... kamu harus memberikan perhatian lebih... kepada kucing-kucingmu."
Dengan begitu, Atsushi tidak bisa melawan.
Tempat kerjanya yang baru ini, ternyata memiliki terlalu banyak kejutan.
Ia pernah diceritakan oleh Odasaku tentang kecintaan Fukuzawa kepada kucing, tetapi ia tak pernah melihatnya secara langsung. Kalaupun ternyata memang iya, Atsushi tak akan heran. Ia telah merasakan kemurahan hati sang direktur agensi, meski tidak tampak bila hanya dilihat dari ekspresi.
Sepanjang jalan menuju lokasi, Fukuzawa telah membeli beberapa barang. Pertama, makanan kucing khusus. Kedua, beras, ikan salmon, dan bahan makanan lain yang dibelinya diam-diam, sementara Atsushi asyik melihat-lihat swalayan. Bahan makanan itu dibungkus rapi karena hendak ia berikan kepada Atsushi.
"Mulai dari sini," kata Atsushi sopan sambil menunjuk sebuah gang kecil, "jalannya bakal sempit dan gelap. Maaf ya, Shachou-san, rumahku agak di ujung."
Atsushi berjalan di depan Fukuzawa untuk mengarahkan. Semakin lama, gang itu semakin sunyi. Suara jangkrik terdengar sayup-sayup, kadang disela oleh percikan genangan air yang terinjak oleh mereka. Sepasang kaus kaki bersih Fukuzawa sudah mulai terasa lembab terkena air kotor itu, sangat tidak nyaman untuknya, apalagi ia memakai sandal.
Sudah itu, jalan yang mereka tapaki semakin lama semakin tidak rata dan berlubang. Meski telah terbiasa bertarung di berbagai medan, Fukuzawa memilih untuk lebih berhati-hati. Jangan sampai ia masuk ke dalam genangan air yang cukup dalam, ia tak ingin mengotori lantai rumah Atsushi dengan kakinya.
Berbeda dengan Fukuzawa, Atsushi berjalan seperti biasa, bahkan lebih cepat. Ia tidak ingin Fukuzawa pulang terlalu malam, jadi ia sengaja mempercepat langkahnya. Akan tetapi, ia tidak tahu bahwa pria setengah baya itu sudah tertinggal cukup jauh di belakang.
"Ini udah deket banget nih," gumam Atsushi sembari menengok ke belakang, "maaf ya, jadi malem begini, Shachou-san. Lho? Shachou-san?!"
Fukuzawa telah menghilang.
Tidak, sebenarnya ia tidak tersasar secara tiba-tiba. Fukuzawa tertinggal sekitar beberapa meter dari Atsushi, tetapi ia tahu harus lurus.
Hanya saja, ada sesuatu yang menarik perhatiannya.
Sesuatu itu, baginya, sangat tidak cocok berada di tempat yang menyedihkan seperti ini.
Di dalam gang sempit dan gelap yang bau pesing, Fukuzawa menemukan sebuah papan kayu menempel pada pintu kecil sebuah rumah.
.
KLINIK DOKTER RINTAROU
.
Kedua matanya tak bisa lepas dari tulisan di papan itu. Klinik Dokter Rintarou. Seluruh tubuhnya kaku, lidahnya terasa kelu. Rasa sesak yang sama seperti saat ia mendengar kabar kematian Mori mulai menjalar di bawah rusuk-rusuknya.
Kalau ini adalah tempat yang sama seperti dulu ketika ia menjadi bodyguard, ... tidak, sesungguhnya ini tidak mungkin terjadi. Ia ingat, tempat itu tidak seharusnya ada di situ. Papan nama itu juga tidak seperti itu. Mori Ougai tidak membutuhkan papan nama, semua orang di bawah tanah tahu siapa dia.
Kalau ini adalah tempat sama dengan alamat yang berbeda, lebih tidak mungkin lagi. Mori Ougai tidak mungkin membuka klinik lagi.
Fukuzawa menggerakkan jari telunjuknya ke arah papan nama itu. Dingin, tetapi tidak berdebu. Ia menelusuri setiap huruf di sana lambat-lambat, berharap itu cukup untuk menghapus nestapa dari batinnya. Jarinya berhenti pada nama Rintarou.
Rintarou adalah nama yang umum untuk anak laki-laki, dan Yokohama memiliki banyak dokter.
Jadi, tidak mungkin dia.
Tidak mungkin dia.
Tidak...
Jarinya tidak sengaja mendorong papan itu. Ternyata, pintu di depannya ini setengah terbuka dan derit engselnya keras sekali. Buru-buru ia menarik tangannya kembali, lalu mengecek jauh ke kiri dan kanan bahunya terlebih dahulu.
"Silakan masuk, kami masih buka... maaf atas ketidaknyamanan Anda. Susah ya pastinya, datang ke sini? Nggak apa-apa, saya juga mengerti..."
Suara yang terdengar dari dalam klinik bukanlah halusinasi. Sama seperti tulisan tangan Mori, Fukuzawa pun selalu bisa mengenali suara dan gaya bicara pria itu.
Langkah-langkahnya terasa ringan semakin ia mendekat ke pintu ruang dokter yang terbuka lebar.
"Sekarang lagi musim flu sih ya, dari tadi pasien saya semuanya sakit itu– "
Dokter di dalam berhenti bicara. Ia telah melihat pasien berikutnya pada hari ini. Fukuzawa telah berdiri di depan pintunya, sekejap langsung berkontak mata dengannya.
Tangan kanan Fukuzawa yang selalu siaga, kali ini, begitu lemas sampai menjatuhkan barang-barang yang dibelinya tadi.
"Wah," dokter itu tersenyum, "ternyata Fukuzawa-dono."
