Dan Dragon baby love masih lanjut readers *Taeyang oppa ngambil naskah* masih dengan author sableng si Choi Hye-in yang kerjaannye makan mulu *Hye-in sumpel mulut Taeyang pake kaos kaki* narator terganteng, Taeyang cruise *Hye in lempar tomat* si Hye-in ngiri readers-_- dan naga cungkring ini *nunjuk jidi**Jidi lempar kursi* berhubung sehabis penjelasan gua disiksa, lanjut langsung ke cerita dah


Ahra membuka penutup mata bergambar panda-nya *Seungri lewat* begitu mendengar suara lagu Bigbang - fantastic baby dengan volume maksimal dari kamar sebelah. Ahra langsung keluar kamarnya dan sedetik kemudian Ahra menggedor gedor keras pintu kamar Jiyong.

Pintu kamar terbuka.

Ahra mencoba menahan kesalnya. "Jiyong ssi, kau tahu sekarang jam berapa?"

Jiyong menatap jam dinding dikamarnya. "Ya, jam 4. Kenapa?"

"Kau tanya kenapa? Ini hari minggu, neon baboya!" Ahra menahan kesal mati matian pada namja cungkring didepannya.

"Lalu?" Jiyong mengambil sikat giginya. "Aku bermaksud baik untuk membangunkanmu, kok"

Ahra melempar Jiyong dengan koran diatas meja. "Aku mau beristirahat lebih lama babo. Ini masih hari libur!"

"Hya hya! ketua siswa harus bangun jam 4 tepat. Iya kan? Aku tidak mau dihukum garagara kau-"

"Kalau kau tidak comel maka kita selamat. Toh mereka tidak memasang kamera disini kan?" Ahra membanting pintu dan kembali tidur.

###

Tiga tahun lalu cerah.

"Chaegiya, kau dimana?"

Ahra merapatkan handphone ketelinganya. "Ne? aku sedang ditaman. Kenapa?"

"Baby,kau tahu hari ini hari apa?"

"Hari rabu? Memangnya ada apa hari ini?" Ahra menggigit bibir bawahnya sendiri. Menahan tawa. Mana mungkin dia lupa hari ini hari apa.

"Baby, kau selalu saja- yasudah, aku menyusul ke taman ya. Jangan kemana mana-"

Ahra tertawa kecil. Lalu melanjutkan aktifitasnya ditaman. Melempar batu ke danau yang ada ditaman.

10 menit- 20 menit.

"YA!" teriak Ahra kencang begitu ada tangan yang memeluk pinggangnya dari belakang. Lalu Ahra membalikkan badannya dan melihat Jiyong didepannya-masih memeluk pinggangnya. "Happy 1 month anniversary, my baby dragon" Ahra tertawa pelan sambil mengelus pipi Jiyong dengan tangannya.

"Baby, kukira kau tidak ingat-" Jiyong mengambil tangan Ahra yang masih menempel dipipinya, lalu menggenggamnya erat. "Happy 1 month anniversary- untukmu-" Jiyong menyodorkan setangkai mawar merah.

Ahra tersenyum lalu mengambil bunga itu. "Mana mungkin aku tidak ingat, babo Jiyong-" Ahra tertawa. "Oh ya, darimana kau belajar romantis begini? Darimana juga kau tahu aku suka mawar merah?"

"Ra-ha-si-a" Jiyong tertawa.

"Ya! Babo Jiyong!" Ahra memukul pundak Jiyong pelan.

###

Ahra menggeliat bangun. Matanya menatap jam dinding. Jam 8 pagi.

Begitu dia membuka pintu, dia mencium aroma enak dari dapur.

"Sudah bangun?"

Ahra hanya mengangguk. Matanya masih setengah tertutup. Setengah sadar.

"Cuci muka dulu, baru kau bisa makan omelet buatanku."

Ahra menurut lalu kembali kekamarnya dan keluar dalam keadaan segar.

Jiyong menyodorkan sepiring omelet. "Mogo-" *mogo: makan*

"Ige mwoya?" *apa ini?* tanya Ahra Judes.

"Omelet. Tidak bisa lihat?"

Ahra menatap Jiyong curiga. "Kau tidak memasukkan sesuatu kedalamnya kan?"

"Buat apa?"

Ahra mengambil piring omelet itu lalu memakannya diruang makan. Jiyong menyusulnya.

"Enak?"

Ahra mengangguk pelan.

"Apa rasanya masih sama?"

Ahra menatap Jiyong. "Rasa apa?"

"Rasa omeletku, dengan buatanku 3 tahun lalu. Apa masih sama?" tanya Jiyong. Air mukanya mulai serius sambil mengharapkan jawaban dari Ahra.

Ahra menyendokkan omelet kemulutnya. "Aku-"

"Ya?"

"Aku sudah lupa. Maaf"

Ada keheningan panjang.

###

Dihari minggu, Ahra dan Jiyong dapat tugas. Selesai makan omelet, mereka berjalan bersama sama keperpustakaan karena ada panggilan dari Hyemi seosaengnim, istri Chanyeol seosaengnim yang galak itu.

"Kalian datang-" Hyemi seosaengnim sudah menunggu dipintu perpustakaan. "Tolong kalian bantu aku pindahkan buku buku besar dirak sana- ke rak rak baru disini-" tunjuknya pada rak yang paling tinggi.

Ahra dan Jiyong sama sama menatap rak tinggi itu. Mungkin tingginya sekitar 6 meter, dan bukunya benar benar tebal tebal.

"Kau yang naik tangga dan lempar bukunya kebawah. Aku akan menangkapnya dari bawah."

Ahra menatap Jiyong takut. "Kenapa bukan kau yang naik dan aku yang menangkapnya dibawah?"

"Bukunya tebal tebal. Kau tidak akan kuat tentu-" Jiyong menoleh kearah Ahra. "Jangan bilang kau masih takut ketinggian?" selidik Jiyong.

Ahra melengos mengambil tangga. "Tidak. Cepat siap siap dibawah-"

Dengan takut, Ahra naik tangga dan memasang wajah sok cool karena tidak mau terlihat takut didepan Jiyong.

"Ahra ssi, tolong kau lihat benar benar posisiku sekarang. Salah sedikit, bukunya bisa menghantam kepalaku. Paham?" instruksi Jiyong dari bawah.

"Ani, aku tidak akan menoleh kebawah sedikitpun, kau yang harus melihat aku menjatuhkan bukunya dan menangkapnya-"

"Kau masih takut ketinggian?"

"Jangan banyak omong atau aku akan menjatuhkan bukunya sekarang!"

"Oke oke, aku siap sekarang, jatuhkan bukunya!"

Ahra mengambil buku buku tebal itu dengan lumayan susah karena sangat berat. Dan menjatuhkannya satu persatu.

Satu sukses. Dua sukses. Tiga sukses. Empat sukses.

"Jakkaman, Ahra. Tanganku pegal!"

Terlambat, buku sudah dijatuhkan dan menimpa kepala Jiyong.

###

To be continued

Ceritanya menggantung readers. Pengennya sih dilanjutin lagi, tapi apa daya. Bukan gua authornya *Taeyang oppa buka naskah cerita* mau dibisikin kelanjutan ceritanya?

*Dari kejauhan Hye-in melototin*

Gajadi readers, gua takut sama Hye in. sampai ketemu aja di chapter 3~ bubay~