My Destiny

Jaehyun x Taeyong

NCT

.

.


Taeyong gelisah, sangat gelisah. Hampir saja ia menangis, namun ia menahannya. Tak ingin kedua orang tuanya merasa khawatir. Bagaimanapun juga ini adalah keputusannya. Menikah dengan Jaehyun adalah pilihannya. Meskipun Taeyong harus merelakan hubungan cintanya dengan Chanyeol berakhir.

.

.

Pagi-pagi sekali Taeyong sudah keluar rumah, untuk mengantar susu dan koran kerumah pelanggannya. Selama sekitar dua jam Taeyong selesai dengan pekerjaan paginya dan kembali kerumah. Saat sampai dirumah ia melihat sebuah mobil mewah, mobil Jaehyun parkir didepan rumahnya.

"Mau apa dia pagi-pagi sudah kesini?" ucap Taeyong pelan.

"Tae, akhirnya kau pulang. Jaehyun sudah dari tadi menunggumu" ucap Nyonya Lee saat melihat Taeyong masuk.

Taeyong menatap Jaehyun yang sedang tersenyum padanya.

"Aku kan harus mengantar susu dan koran, Bu" ucap Taeyong menatap Ibunya, tak membalas senyum Jaehyun.

"Jaehyun ingin sarapan dirumah kita, tapi dia ingin menunggumu pulang. Ingin sarapan bersamamu. Ayah dan Ibu sudah sarapan sebelum Jaehyun datang" ucap Nyonya Lee tersenyum pada Jaehyun.

"Kau sarapan duluan saja, Jaehyun. Aku masih lama karena aku harus mandi dan-" ucap Taeyong.

"Aku tunggu. Tidak apa-apa. Kau mandi saja dulu" ucap Jaehyun masih tersenyum.

"Iya Tae, Jaehyun sudah dari tadi menunggumu. Sudah sana cepat kau mandi" ucap Nyonya Lee. Taeyong mengangguk.

"Ya sudah aku mandi dulu" ucap Taeyong lalu ia pergi mandi.

Sekitar dua puluh menit Taeyong sudah selesai mandi dan mereka pun sarapan bersama. Nyonya Lee ikut duduk dimeja makan, menemani mereka sarapan. Jaehyun lebih banyak bicara pada Nyonya Lee sedangkan Taeyong lebih banyak diam. Setengah hati memakan sarapannya karena ia tidak terlalu suka sarapan.

"Hari ini Jaehyun ingin mengajakmu ke pusat perbelanjaan, Tae. Kau tidak ada kuliahkan hari ini?" ucap Nyonya Lee pada Taeyong.

"Hmm?" Taeyong tak mendengar perkataan Ibunya, Ia sepertinya sedang melamun.

"Jaehyun ingin mengajakmu membeli keperluan pertunangan kalian" ucap Nyonya Lee lagi.

"Tapi kalau kau tak bisa, tidak apa-apa Tae. Lain kali saja" ucap Jaehyun saat melihat perubahan raut wajah Taeyong saat mendengar perkataan Ibunya.

"Tentu Taeyong bisa. Hari ini dia tidak ada kuliah. Lagi pula tidak ada waktu lagi. Lebih cepat kan lebih baik. Benar kan, Tae" ucap Nyonya Lee menatap Taeyong. Taeyong yang ditatap Ibunya hanya mengangguk. Terpaksa.

.

.

Jaehyun dan Taeyong sampai dipusat perbelanjaan ternama di kota Seoul. Ini pertama kalinya Taeyong ketempat mewah seperti ini. Jika Taeyong ingin membeli pakaian ataupun kebutuhan yang lain, ia biasa membelinya di pasar atau di toko didekat rumahnya.

"Kita mau beli apa sih, Jaehyun?" tanya Taeyong saat mereka berkeliling dipusat perbelanjaan.

"Kita beli stelan jas untukmu. Bibi Lee bilang kau tidak punya stelan jas" ucap Jaehyun.

Taeyong hanya mengangguk, Jaehyun benar ia tidak punya pakaian formal. Acara pertunangan mereka pasti dihadiri keluarga dan rekan bisnis Tuan Jung yang semuanya dari kalangan atas. Tidak mungkin Taeyong hanya memakai kemeja usang miliknya.

Mereka masuk kedalam toko yang menjual berbagai macam stelan jas dan pakaian-pakaian formal. Yang terlihat sangat mahal. Taeyong bahkan tak berani menyentuh pakaian yang dipakai oleh patung boneka.

"Ada yang bisa kami bantu?" tanya seorang pelayan laki-laki toko tersebut dengan sopan.

"Kami ingin mencari stelan jas yang cocok untuk kekasihku ini" ucap Jaehyun tersenyum pada pelayan toko tersebut sambil merangkul Taeyong.

Taeyong sedikit terkejut saat Jaehyun merangkulnya apalagi saat Jaehyun menyebutnya 'kekasih'. Jaehyun bukan kekasihnya, ia hanya terpaksa menikah dengan Jaehyun.

Pelayan toko itu tersenyum pada Jaehyun dan pada Taeyong. "Oh mari aku tunjukan koleksi terbaru kami. Dan pasti cocok untuk kekasih Anda, Tuan" ucap pelayan tersebut. Lalu mengajak Jaehyun dan Taeyong lebih masuk kedalam toko dan menunjukan beberapa stelan jas pada Jaehyun dan Taeyong.

"Ini bagus" ucap Jaehyun menunjukan stelan jas berwarna hitam, sangat cocok untuk Taeyong. "Bisa dicoba dulu?" tanya Jaehyun pada pelayan toko.

"Tentu, sebelah sini" jawab pelayan toko menunjukkan kamar pas.

Taeyong hanya menuruti apa yang Jaehyun katanya lalu mengikuti pelayan toko menuju kamar pas dengan membawa stelan jas yang dipilih Jaehyun. Sampai didalam kamar pas, ia melihat harga stelan jas tersebut sebelum mencobanya. Mahal sekali, batin Taeyong. Ia pun sangat berhati-hati ketika memakainya, takut ia akan merusak stelan jas yang sangat mahal itu. Setelah memakainya, ia pun keluar ingin melihatkannya pada Jaehyun.

Jaehyun tersenyum melihat Taeyong, Taeyong tampak sangat pas mengenakan stelan jas tersebut. "Pas sekali" ucap Jaehyun tak berkedip menatap Taeyong.

Taeyong sedikit salah tingkah dipandangi seperti itu oleh Jaehyun lalu berbalik menatap cermin yang memantulkan bayangan dirinya. Menatap dirinya. Ia memang sangat pas mengenakan stelan jas tersebut.

"Apa ada warna lain untuk model stelan ini, atau hanya warna hitam?" tanya Jaehyun pada pelayan toko.

"Hanya ada warna hitam. Tapi kalau mau selain warna hitam, kami punya model lain. Seperti ini" jawab pelayan toko menunjuk stelan jas model lain. Stelan jas berwarna merah marun dan biru tua.

"Tae, coba yang ini" ucap Jaehyun, menyerahkan stelan jas warna merah marun. Yang sepertinya juga cocok untuk Taeyong. Taeyong mengambil stelan jas yang Jaehyun berikan lalu kembali kedalam kamar pas. Beberapa menit kemudian Taeyong keluar dengan mengenakan stelan jas merah marun.

"Mmm, bagus, tapi kurang pas dibadanmu. Coba yang ini" ucap Jaehyun lagi menyerahkan stelan jas lain yang berwarna biru tua. Taeyong kembali kedalam kamar pas dan mencoba stelan jas lagi.

"Hmm, warnanya kurang pas untukmu" ucap Jaehyun setelah Taeyong keluar kamar pas. "Kau lebih suka yang mana, Tae" tanya Jaehyun.

Taeyong bingung, semua stelan jasnya sangat mahal. Dan semuanya tampak bagus menurutnya. Tapi Taeyong lebih suka yang warna hitam. "Yang hitam" jawab Taeyong singkat.

"Baiklah, kalau begitu yang hitam saja" ucap Jaehyun. "Kami pilih yang ini" ucap Jaehyun menunjukan stelan jas pertama pada pelayan toko.

"Baik Tuan, tunggu sebentar" ucap pelayan toko, ia menuju kasir membawa stelan jas yang Jaehyun pilih.

Jaehyun pun menuju kasir dan membayar stelan jas tersebut. "Terima kasih" ucap Jaehyun pada kasir dan pelayan toko setelah membayar.

"Terima kasih kembali, Tuan" jawab kasir dan pelayan toko. Mereka juga mengucapkan terima kasih pada Taeyong. Taeyong membalasnya dengan membukukkan badan. Lalu merekapun meninggalkan toko tersebut.

"Kita kemana lagi Jaehyun?" tanya Taeyong saat mereka berkeliling pusat perbelanjaan lagi.

"Kita cari sepatu" jawab Jaehyun. Lagi-lagi Taeyong mengangguk dan hanya mengikuti Jaehyun. Jaehyun lalu masuk kedalam sebuah toko sepatu. Melihat-lihat mana kira-kira sepatu yang cocok untuk Taeyong. Taeyong juga melihat-lihat sepatu yang cocok untuknya.

"Tae, kau suka ini?" tanya Jaehyun menunjukan sepatu pilihannya pada Taeyong. Taeyong menggeleng, ia tak suka sepatunya. "Hmm kau suka yang mana?" tanya Jaehyun.

"Ini" jawab Taeyong. Ia suka dengan bentuk dan warnanya. Juga harganya yang lebih murah dibanding sepatu-sepatu yang lain.

Jaehyun melihat sepatu yang dipegang Taeyong lalu ia menggeleng. "Hmm, bagaimana dengan yang ini. Modelnya hampir sama dengan yang itu" ucap Jaehyun menunjuk sepatu yang hampir sama dengan yang dipegang oleh Taeyong namun harganya lebih mahal.

"Kau coba yang ini yaa?" ucap Jaehyun lagi. Taeyong tak bisa menolak. Ia lalu mengangguk. Jaehyun lalu menanyakan sepatu tersebut pada pelayan toko. Tak beberapa lama kemudian pelayan toko membawakan sepatu yang ditanyakan Jaehyun. Jaehyun pun menyerahkannya pada Taeyong untuk Taeyong coba.

"Bagaimana, kau suka?" tanya Jaehyun saat Taeyong sudah memakai sepatunya.

"Apa menurutmu ini bagus?" Taeyong balik bertanya.

"Bagus, aku suka. Apa kau nyaman memakainya?" tanya Jaehyun lagi. Lalu Taeyong mencoba berjalan dengan sepatu itu.

Taeyong hanya mengangguk. Tentu saja sangat nyaman, harganya mahal sekali, batin Taeyong. Jaehyun pun meminta pelayan toko untuk membungkusnya dan ia membayarnya.

Setelah mereka selesai memilih sepatu untuk Taeyong. Lalu mereka berkeliling pusat perbelanjaan lagi. Cukup lama mereka hanya berkeliling-keliling. Tak terasa waktu sudah siang.

"Tae, sudah hampir jam 1. Apa kau lapar? Bagaimana kalau kita makan siang?" tanya Jaehyun sambil melihat jam ditangannya.

Taeyong mengangguk. Ia memang lapar, tadi pagi ia hanya sarapan sedikit.

"Kita cari restoran dulu. Kau ingin makan apa?" tanya Jaehyun.

"Apa saja" jawab Taeyong singkat.

"Ya sudah kita makan disana" ucap Jaehyun menunjuk kesebuah restoran terdekat. Mereka pun masuk dan memesan meja untuk dua orang. Seorang pelayan restoran mengantar mereka lalu menanyakan pesanan mereka.

"Kau mau pesan apa, Tae" tanya Jaehyun lagi sambil melihat menu.

Taeyong juga sedang melihat-lihat menu. "Terserah kau saja, Jaehyun" jawab Taeyong. Ia tak tau mau pesan apa. Semua menu-menu terlihat asing baginya. Ia tidak terbiasa makan direstoran seperti ini. Ia dan Chanyeol biasa makan direstoran pinggir jalan yang sederhana. Bagi mereka tempat tidaklah penting, yang terpenting adalah mereka bisa meluangkan waktu bersama. Taeyong jadi teringat Chanyeol. Ia tak mendengar apa yang dipesan Jaehyun pada pelayan restoran. Pikirannya melayang memikirkan Chanyeol. Hatinya jadi sakit lagi.

"Tae? Tae?" Jaehyun memanggil manggil Taeyong.

Taeyong sedikit terkejut "Heh?"

"Tadi aku pesan steak daging, apa tidak apa-apa?" tanya Jaehyun.

"Iya tidak apa-apa" jawab Taeyong.

Setelah beberapa menit menunggu, pesanan mereka pun datang.

"Terima kasih" ucap Jaehyun pada pelayan restoran sambil tersenyum.

Dan baru saja mereka akan makan, terdengar suara handphone berbunyi. Handphone Taeyong. Taeyong mengambil handphone dari saku celananya. Dan sedikit panik melihat nama yang tertera dilayar.

Chanyeol Hyung memanggil...

Taeyong hanya memandangi handphonenya. Ia tak mungkin menjawab panggilan telepon Chanyeol didepan Jaehyun. Meskipun ia sangat ingin menjawabnya. Sangat ingin mendengar suara Chanyeol.

Taeyong melihat Jaehyun yang sedang melihatnya. Lalu ia hanya men-silent handphonenya. Dan membiarkannya.

"Kenapa tidak diangkat?" tanya Jaehyun.

"Temanku paling hanya menanyakan tugas kuliah, biarkan saja" jawab Taeyong berbohong.

Jaehyun mengangguk dan merekapun mulai memakan pesananya. Namun saat Taeyong akan makan, handphonenya bergetar. Sebuah pesan masuk. Lalu Taeyong membukanya.

From : Chanyeol Hyung

Tae, kenapa teleponku tidak diangkat? Kau pasti sedang sibuk ya? Tidak apa-apa kalau kau sibuk. Aku hanya ingin bilang, kalau aku jadi pulang hari Minggu. Aku sudah membeli tiketnya. Aku akan sampai disana jam 4 sore. Jika kau tidak sibuk, kau harus jemput aku di stasiun ya, Tae. :)

Nanti aku kabari lagi.

Taeyong sedikit gemetar membaca pesan dari Chanyeol. Wajahnya tiba-tiba pucat menahan sakit didadanya.

"Tae, kau tidak apa-apa?" tanya Jaehyun sedikit panik melihat Taeyong.

"Aku tidak apa-apa" jawab Taeyong pelan.

"Tapi mukamu pucat" ucap Jaehyun khawatir.

"Tidak apa-apa, mungkin karena aku lapar. Tadi pagi aku hanya sarapan sedikit" jawab Taeyong, lagi-lagi ia berbohong.

"Ya sudah, ayo cepat dimakan" ucap Jaehyun.

Taeyong hanya mengangguk lalu ia memakan makanannya, meskipun sebenarnya ia tidak berselera makan. Namun ia tetap menghabiskan makanannya. Ia tak mau Jaehyun bertanya-tanya.

.

.

"Apa kau sering seperti itu, Tae?" tanya Jaehyun saat mereka sedang dalam perjalanan pulang.

"Hmm?" tanya Taeyong..

"Seperti tadi. Tiba-tiba pucat dan sedikit gemetar" ucap Jaehyun.

"Hanya saat aku kurang makan" jawab Taeyong.

"Kau kuliah, kau juga bekerja. Kau harus banyak makan, Tae" ucap Jaehyun. Nada suaranya terdengar khawatir. Taeyong hanya mengangguk. Dan hanya diam.

.

.

"Wah...Bagus sekali jasnya" ucap Nyonya Lee saat melihat stelan jas yang tadi mereka beli. "Sepatunya juga keren. Ayahmu mana punya sepatu seperti ini" ucap Nyonya Lee lagi.

Jaehyun tersenyum "Nanti aku juga belikan untuk Paman" ucap Jaehyun.

"Benarkah?" tanya Nyonya Lee. "Untuk Bibi?"

"Ibu!" ucap Taeyong marah

"Untuk bibi juga" ucap Jaehyun tersenyum. Nyonya Lee juga tersenyum senang.

"Tidak perlu Jaehyun" ucap Taeyong lagi.

"Tidak apa-apa" ucap Jaehyun masih tersenyum.

"Ayah mana, Bu?" tanya Taeyong saat melihat Ayahnya tidak ada dirumah.

"Ayahmu tadi dapat telepon dari temannya. Katanya ada pekerjaan untuknya" jawab Nyonya Lee.

"Oh" Taeyong mengangguk-angguk. Lalu ia menuju kamarnya menaruh stelan jas dan sepatu yang baru dibelikan Jaehyun. Ia juga harus bersiap-siap untuk kerja malam.

.

"Aku antar ya, Tae" ucap Jaehyun saat Taeyong hendak berangkat kerja.

"Tidak perlu Jaehyun. Aku bisa berangkat sendiri" jawab Taeyong.

"Biarkan Jaehyun mengantarmu, Tae. Lagipula kalian searahkan?" ucap Nyonya Lee.

Taeyong mengangguk terpaksa. Ia memang searah dengan Jaehyun.

"Aku pulang dulu ya, Bi" pamit Jaehyun pada Nyonya Lee. Taeyong sudah keluar rumah. Nyonya Lee mengantar mereka sampai pintu gerbang. Melambaikan tangan pada Jaehyun sampai mobil Jaehyun tak terlihat lagi.

.

.

"Jam berapa kau pulang, Tae?" tanya Jaehyun pada Taeyong. Saat mereka sudah sampai didepan di restoran tempat Taeyong bekerja

"Jam 10, kenapa?" tanya Taeyong.

"Nanti aku jemput" ucap Jaehyun

"Tidak usah, Jaehyun" ucap Taeyong menolak dijemput Jaehyun..

"Tapi aku ingin menjemputmu. Jam 10 nanti aku akan kesini lagi" ucap Jaehyun memaksa..

Taeyong tak bisa menolak, ia hanya mengangguk. Lalu keluar dari mobil tanpa melihat Jaehyun. Sedangkan Jaehyun terus menatap Taeyong sampai Taeyong masuk kedalam tempat kerjanya. Setelah itu ia pun pergi.

.

.

"Kau mau kemana lagi, Jaehyun? Kau kan tadi baru pulang" tanya Nyonya Jung saat Jaehyun akan keluar rumah.

"Menjemput Taeyong, Ibu" jawab Jaehyun tersenyum pada Ibunya.

"Apa Taeyong selalu kerja pada malam hari Jaehyun?" tanya Nyonya Jung lagi. Jaehyun hanya mengangguk.

Nyonya Jung menggeleng-gelengkan kepala. "Ibu tak mengerti kenapa kau lebih memilih Taeyong, Jaehyun. Masih banyak lelaki atau perempuan yang bisa kau pilih, yang setara denganmu. Yang tidak perlu bekerja sampai malam seperti, Taeyong" ucap Nyonya Jung.

"Ibu.." ucap Jaehyun pelan.

"Iya iya Ibu tau Jaehyun. Kita tidak boleh menilai orang dari statusnya kan?" ucap Nyonya Jung.

Jaehyun mengangguk tersenyum.

"Ya sudah sana pergi, Jangan biarkan Taeyong menunggu" ucap Nyonya Jung menyuruh Jaehyun pergi.

"Aku pergi dulu ya, Bu" pamit Jaehyun sambil mencium pipinya Ibunya. Setelah itu Jaehyun pergi menuju tempat kerja Taeyong untuk menjemputnya.

.

.

Pukul 10 kurang Jaehyun sudah sampai ditempat kerja Taeyong. Taeyong belum keluar. Ia hanya menunggu didalam mobil sambil memainkan handphonenya. Merasa bosan, Jaehyun pun memutuskan untuk keluar dari mobil. Dan tak lama kemudian Taeyong keluar dari tempat kerjanya.

Jaehyun tersenyum pada Taeyong dan membukakan pintu untuknya. Taeyong melihat Jaehyun dengan tatapan tak percaya. Jaehyun benar-benar menjemputnya.

Selama dalam perjalanan pulang, mereka hanya diam. Jaehyun tak ingin mengganggu Taeyong yang sedang memejamkan matanya, kepalanya tersandar dijendela. Taeyong kelihatan sangat lelah sekali.

.

"Tae-" panggil Jaehyun saat mereka sampai dirumah Taeyong. Membangunkan Taeyong dari tidurnya. Taeyong benar-benar tertidur.

"Hm-" gumam Taeyong terbangun

"Kita sudah sampai dirumahmu" ucap Jaehyun pelan.

"Oh" ucap Taeyong sambil merenggangkan tubuhnya.

"Aku langsung pulang ya" ucap Jaehyun.

Taeyong hanya mengangguk sambil ia keluar dari mobil. "Terima Kasih"

Jaehyun menjawab dengan tersenyum. Dan melihat Taeyong sampai masuk kedalam rumah, setelah itu ia pun kembali kerumah.

.

.

Keesokan paginya seperti biasa Taeyong mengantar susu dan koran. Setelah itu ia bersiap-siap untuk pergi ke kampus.

"Tae, tadi Jaehyun mampir kesini sebelum dia pergi keluar kota. Dia bilang hari ini dia tidak bisa menemuimu. Karena ia tiba-tiba ada urusan pekerjaan di Busan" ucap Nyonya Lee saat Taeyong akan berangkat kuliah.

Taeyong hanya menggangguk. Bagus, hari ini tidak akan bertemu dengan Jaehyun, batin Taeyong. Mungkin ia sedikit bosan bertemu dengan Jaehyun setiap hari.

.

.

Setelah selesai kuliah Taeyong langsung menuju restoran tempat ia bekerja. Meski ia terlihat lelah namun ia harus tetap melayani pengunjung, mengantarkan makanan dan membersihkan meja. Restoran tempat ia bekerja selalu ramai pengunjung, membuat Taeyong tak punya waktu untuk istirahat. Ia selalu melayani pengunjung tanpa henti. Pukul 10 kurang restoran baru benar-benar sepi dan waktunya ia bersiap-siap untuk pulang.

"Terima kasih untuk kerjanya hari ini Tae. Hati-hati pulangnya" ucap Paman pemilik restoran.

"Iyaa Paman, aku pulang dulu" pamit Taeyong. Ia pun melangkah keluar dengan sisa-sisa tenaganya. Hari ini ia benar-benar lelah. Ia berusaha mendapatkan kembali tenaganya mengingat ia masih harus berjalan menuju halte bis.

Namun pada saat ia keluar dari restoran, ia sangat terkejut melihat Jaehyun sedang bersandar dimobilnya, menunggunya. Dan sedang tersenyum padanya.

"Jaehyun-" ucap Taeyong mendekat.

"Kau terlihat lelah sekali, Tae" ucap Jaehyun melihat Taeyong yang tampak lelah.

"Ibuku bilang kau pergi ke Busan jadi kau tidak bisa menemuiku-" ucap Taeyong tak menjawab perkataan Jaehyun.

"Iya, tapi begitu urusanku selesai aku cepat-cepat kembali kesini. Aku harus menemuimu. Sepertinya aku tak bisa jika tak bertemu denganmu" ucap Jaehyun masih tersenyum.

Taeyong hanya memandang Jaehyun, ia diam tak menjawab.

"Ayo cepat masuk, aku antar kau pulang" ucap Jaehyun membukakan pintu untuk Taeyong.

Taeyong lalu masuk kedalam mobil. Ia masih diam. Namun dalam hatinya ia bersyukur Jaehyun menjemputnya. Jadi ia tak perlu berjalan ke halte dan menunggu bis.

"Untuk apa kau pergi ke Busan?" tanya Taeyong tiba-tiba.

"Perusahaan Ayahku di Busan ada masalah, jadi aku harus kesana untuk menyelesaikannya" jawab Jaehyun..

"Apa kau menyetir sendiri?" tanya Taeyong. Jaehyun mengangguk.

"Dan langsung menjemputku?" tanya Taeyong lagi. Jaehyun mengangguk lagi.

"Apa kau tidak lelah?" tanya Taeyong memandangi Jaehyun..

"Tidak, dan sepertinya keputusanku tepat untuk menjemputmu. Aku tak yakin kau bisa pulang sendiri" ucap Jaehyun tersenyum.

Taeyong diam lagi, ia memalingkan wajahnya. Menatap lurus kedepan. Memandang jalanan. Dan mereka tak bicara lagi sampai tiba dirumah Taeyong.

"Besok kau ada kuliah, Tae?" tanya Jaehyun. Taeyong hanya mengangguk. "Aku antar ya" ucap Jaehyun.

"Tidak usah. Aku bisa pergi sendiri" ucap Taeyong menolak Jaehyun.

"Baiklah kalau kau tidak mau" ucap Jaehyun pelan.

"Kau tunggu dirumah saja, besok aku libur kerja. Setelah kuliah aku langsung pulang" ucap Taeyong.

"Baiklah kalau begitu. Jam berapa kau pulang?" tanya Jaehyun.

"Jam 5" jawab Taeyong.

Jaehyun mengangguk-angguk pelan.

"Terima kasih sudah menjemput dan mengantarku pulang, Jaehyun" ucap Taeyong.

"Sudah jadi tugasku sekarang" jawab Jaehyun tersenyum pada Taeyong.

Taeyong membalas senyum Jaehyun. Ia lalu keluar dari mobil, dan berjalan masuk kedalam rumah.

.

.

Taeyong pulang kerumah setelah kuliah pukul 5 sore. Melihat mobil Jaehyun sudah terparkir didepan rumahnya.

"Tae, lihat ini bagus tidak?" tanya Nyonya Lee menunjukan sepatu baru yang dipakainya.

"Ayah juga, lihat ini Tae" ucap Tuan Lee yang juga menunjukan sepatu barunya.

Taeyong melihatnya tak percaya, Jaehyun benar-benar membelikan mereka sepatu baru.

"Dan ini liat, Ibu akan mencobanya di kamar" ucap Nyonya Lee lagi menunjukan sebuah gaun pesta yang mewah dan cantik. Ayahnya juga memegang stelan jas yang sangat bagus.

Ya Tuhan, batin Taeyong.

"Kau tak perlu melakukan itu, Jaehyun" ucap Taeyong pelan saat Ayah dan Ibunya pergi kekamar untuk mencoba baju yang dibelikan Jaehyun.

"Melakukan apa?" tanya Jaehyun berpura-pura tidak tau.

"Kau membelikan mereka baju dan sepatu dan itu pasti sangat mahal" ucap Taeyong.

"Itu hanya baju dan sepatu, Tae. Bukan apa-apa" ucap Jaehyun pelan.

"Tapi tetap saja itu tidak perlu, Jaehyun" ucap Taeyong lagi.

"Tidak apa-apa. Hmm kemari Tae, duduk sini" ucap Jaehyun menyuruh Taeyong duduk disampingnya. Taeyong menuruti, ia duduk disamping Jaehyun.

"Ini untukmu" ucap Jaehyun memberikan sesuatu pada Taeyong.

Taeyong menerima sebuah kotak berukuran sedang "Apa ini?" tanya Taeyong bingung.

"Buka saja" jawab Jaehyun tersenyum menatap Taeyong.

Taeyong pun membuka kotak tersebut dan sedikit terkejut melihat isinya. "Handphone?" ucap Taeyong sambil mengambil dan memegang handphone yang Taeyong tau harganya sangat mahal.

Jaehyun mengangguk. "Itu handphone untukmu. Aku sudah memasukkan nomerku. Jika kau perlu sesuatu, kau tinggal menghubungiku. Aku juga sudah memasukan nomermu dihandphoneku" ucap Jaehyun.

"Tapi aku kan sudah punya handphone-" ucap Taeyong.

"Handphonemu sudah ketinggalan jaman sekali, Tae" ucap Jaehyun sedikit tertawa.

"Yang pentingkan masih bisa dipakai" ucap Taeyong sedikit memajukan bibirnya.

"Kau simpan saja handphone lamamu. Kau hanya perlu memindahkan kontak teman-temanmu" ucap Jaehyun masih tertawa melihat Taeyong. Taeyong hanya mengangguk.

"Tae, lihatlah Ayah dan Ibu. Bagaimana menurutmu?" tanya Ibunya yang sudah mengenakan baju barunya.

"Bagus" ucap Taeyong. Bajunya memang bagus. Ayah dan Ibunya terlihat sangat senang. Taeyong ikut merasa senang melihatnya. Ia tak pernah melihat Ayah dan Ibunya sesenang ini. Sebahagia sekarang ini.

Taeyong melihat kearah Jaehyun yang sedang tertawa melihat tingkah Ayah dan Ibunya yang sedang menari-nari tanpa musik. Memperagakan jika mereka sedang berada disebuah pesta. Mereka terlihat bahagia. Bahagia sekali.

Dan semua karena Jaehyun..

.

.

.

TBC


Hai ketemu lagiii.. \^^/ Maaf yaa sedikit lama.. Authornya lagi sibuk banget.. Hihihi.. /ga nanya ya/ ;D

Jangan lupa review yaaa ;D Thanks yang udah kasih review.. ;*

See you next chapter~~ \^^/