Disclaimer: Axis Powers Hetalia © Hidekaz Himaruya
Warning: Contains improper use of language (curse words)
Author's Note:
Makasih banyak buat yang udah menaruh minat ke cerita ini~ Dan buat yang gak pernah baca Exorcism For Dummies, karakter Indonesia di sini Male!Indonesia..
Dan, by the way… Buat liat cerita yang plotnya rada mirip sama ini tapi beda karakter, silahkan liat cerita Kuntilanak Sekolah karya Xanderwilliams! Sebenernya ini cerita dibikin dari film horor hasil karya kita berdua, jadi gak ada itu yang namanya mencontek karya orang lain. XD
Enjoy reading!
Who's The Real Dummy?
"GYAAAA! RAPIST!"
Mendengar jeritan itu, seharusnya murid-murid yang berbakti dan setia kawan langsung menghampiri orang yang kesulitan dan membutuhkan bantuan. Dan itu pun SEHARUSNYA.
Berhubung karena ada contoh-contoh seperti Francis Bonnefoy dan Im Yong Soo yang kadang kesambet setan grepe-grepe, sang ketua OSIS sudah tidak heran dan memaklumi kalau ada yang menjerit seperti itu. Apalagi kalau lokasinya di toilet, bukan?
"Arthur, lo gak mau ngecek si Alfred kenapa tuh?"
"Yang kayak gitu mah biasa, Nes. Gak usah cemas, paling dia masih hidup," jawab Arthur.
"Eh… Yaudah deh.." sahut Nesia pasrah.
Akhirnya, saat istirahat tiba, Arthur, Antonio dan Nesia pergi mengecek Alfred yang gak balik-balik dari pelajaran pertama.
"Nah, kan.. Tadi gengsi gak mau ngecek, terakhir-terakhirnya khawatir juga…" kata Nesia.
"Yah, Arthur emang begitu, Nes. Tipe yang sulit dipahami," kata Antonio.
"Bacot lo, Ton," sahut Arthur geram.
"…Perasaan pacar lo juga sulit (banget) dipahami, Toni.." bisik Nesia pelan.
"Eh, ngomong-ngomong.. Perasaan, sejak Alfred gak keliatan di kelas, itu toilet jadi serasa angker banget deh," kata Antonio.
" Masih hidup kan?" tanya Nesia dengan santainya.
"Yah, semoga aja begitu," jawab Antonio.
Mereka tidak tau bahwa sang ketua OSIS sudah setengah hidup menahan emosi untuk tidak membentak mereka.
'Sialan. Kalo ini ulah Gilbert lagi, sumpah bakal gua ganyang itu anak…' ujar Arthur dalam hati.
"Bukan ulah Gilbert," kata Nesia pelan.
"Hah? Lo kok ta—"
"Yang ini lumayan menarik, kok," lanjut Nesia sambil menyeringai, sukses membuat kedua teman lainnya merinding disko.
"Em.. Lu tau Alfred kenapa? Ada hubungan sama Gilbert?" tanya Antonio sambil tersenyum.
"Hum.. Bisa dibilang begitu," jawab Nesia yang langsung menghentikan langkahnya.
"Nesia?" kedua temannya langsung menatap Nesia heran.
"… Sori, gua cuma bisa nganter sampai sini doang. Lo berdua lanjutin sendiri ya," kata Nesia sambil senyum.
"Hah? Kok tiba-tiba?" tanya Antonio curiga.
"… Yah, begitulah," jawab Nesia sambil cengar-cengir.
"Itu bukan jawaban, Nesia," kata Arthur sok serius.
"Hehe~ Pokoknya, good luck deh. Pacarmu menunggu lho, Arthur," kata Nesia sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan langsung lari ke arah mereka datang tadi, sambil terburu-buru.
Antonio menatap sosok yang sudah itu penuh curiga. Sebenarnya dia dari kemarin sudah merasa bahwa ada yang tidak beres dengan sikap Nesia. Apalagi, kemaren Nesia langsung panik saat nama Gilbert disebut-sebut. Mungkinkah…
"Mungkinkah…" ujar Antonio.
"Sepertinya begitu," sahut Arthur.
"Eh, lo tau, Art?" tanya Antonio kaget.
"Iya.. Pasti dia sama Gilbert—"
"HAH! DIA AMA GILBERT UDAH JADIAN?" Antonio makin kaget.
"…What the bloody hell...? Lo tau dari mana..?"
"Lah, tadi lu yang bilang—"
"Maksud gua, dia sama Gilbert KOMPLOTAN. Ulah iseng nakut-nakutin Romano sama Alfred pasti juga dibantuin dia."
"Hooh~ Gua kira dia jadian sama Gilbert…"
"Whadahell, lo kok mikirnya ke situ sih..?"
"Lah, lah, abis dia panik kemaren pas nama Gilbert disebut-sebut. Terus tadi juga kayak gitu. Biasanya yang kayak gitu berarti suka, kan? Nah, tau-tau lu bilang 'Pasti dia sama Gilbert'. Gimana gua gak salah paham..?" Antonio langsung memasang tampang 'ya-gua-tau-lo-pinter-tapi-gak-usah-kayak-gitu'.
Arthur hanya memutar bola matanya dengan malas.
"Yang jelas, Tonio… Kalo si Nesia EMANG ada hubungannya dengan kejadian kemaren, dan si Gilbert juga yang bikin ulah, gua gak bakal segan-segan gantung dia di tiang bendera pas upacara berikutnya," tutur Arthur.
"Halah, sadis lo, Art."
"Emang."
"Eh, woi," kata Antonio sambil nyenggol-nyenggol tangan Arthur.
"Apaan sih?"
"Kita gak apa-apa diem di sini? Pacar lo gimana?" tanya Antonio dengan polosnya.
"…"
"…Arthur?"
"SUMPRET. GARA-GARA SI NESIA B*NGSAT ITU GUA JADI GAK INGET SAMA ALFRED. GUA GANTUNG BENERAN JUGA DIA NTAR!"
"Haduh, Arthur… Sabar sedikit.. Lo lupa kan gara-gara lo juga udah lumayan tua.. Bukan sepenuhnya salah Nesia lah," kata Antonio sambil menghela nafas.
Otomatis, Arthur langsung memberi death glare-nya ke Antonio.
"Lumayan tua..? Liat aja, Toni. Ntar pas ultah lo, gua sirem lo pake air, terus gua lemparin tepung ama telor busuk, gua giling lo terus gua masukin oven!"
"Ebuset, sadis lo!" Antonio langsung protes, karena nyawanya terancam berakhir sebagai salah satu 'karya agung' Arthur Kirkland, yang konon bisa membuat orang mules seminggu penuh.
"Halah, kelamaan kita di sini. Yok, jalan," Arthur langsung menarik Antonio ke arah lokasi tanpa ba-bi-bu lagi.
"Um… Alfred..? Lo di situ..?" Arthur mengintip dari celah pintu toilet sebelum membukanya.
"Art, gimana lo mau tau dia di situ kalo pintunya aja kagak dibuka..?" tanya Antonio.
"Halah, bacot lo, Ton. Gua gak ngerti gimana Romano bisa bertahan sama lo…"
"Terus kok lo bisa bertahan sama Alfred?"
"…Damn you're right."
Arthur membuka pintu toilet yang oh-sangat-tidak-elit tersebut, lalu masuk perlahan-lahan, diikuti Antonio.
Mereka pertamanya tidak yakin kalau Alfred ada di situ, karena suasananya saja tidak memungkinkan untuk Alfred yang sangat penakut itu untuk masuk.
"A-alfred..?" tanya Arthur yang mulai takut.
"ARTIE!" Alfred langsung memeluk Arthur.
"Bloody hell! Apa-apaan ini?"
"Dia merindukanmu, Art," kata Antonio sambil tersenyum gaje.
"Shut your bloody mouth up. Lo kenapa, Al?" tanya Arthur yang sudah khawatir.
"ARTIE! TADI ITU SEREM BANGET! ADA RAPIST MUNCUL DARI BALIK PINTU TOILET SAMBIL BAWA-BAWA PIPA! UDAH GITU, DIA SENYUM-SENYUM KAYAK ORANG GILA LAGI!"
"BUSET, NGOMONG PELAN-PELAN, AL! Kalo gua sampe budeg stadium 7 cuma gara-gara lo histeris, idih gua ga rela," tutur Arthur.
"Bentar. Tadi lo bilang… Ada rapist muncul dari balik pintu toilet..? Francis?" tanya Antonio.
"Bukan! Dia putih banget, dari atas sampe bawah! Matanya ungu, terus dia pake syal gitu!" jawab Alfred.
"Putih… Matanya ungu.. Pake syal.. Bawa pipa..?" Antonio langsung pucat.
"Lo kenal..?" tanya Arthur.
"Ya iyalah. Dia kan… Ivan Braginski…" tutur Antonio pelan.
"… What the..?"
"Eh, lo berdua udah balik! Gimana jadinya? Alfred ketemu?" tanya Nesia girang melihat kedua temannya berhasil kembali ke kelas.
"Ketemu. Dan bukan cuma Alfred. Kita ketemu Ivan Braginski," kata Arthur.
Nesia yang tadinya mau berjalan ke depan untuk buang sampah langsung menghentikan langkahnya. Mukanya mulai memucat, dan dia langsung berkeringat dingin.
"Um.. I-Ivan Braginski..?" tanya Nesia sambil menatap Arthur.
"Iya, lo kenapa, Nes?" tanya Antonio balik.
"Ah… Lo yakin… Dia Ivan Braginski..?" Nesia langsung mendekati Antonio dan menatapnya dalam-dalam.
"100% yakin. Wong kata Alfred dia putih dari atas sampe bawah, matanya ungu, pake syal sama bawa pipa kok," jawab Antonio santai.
"…Gawat…" Nesia langsung facepalm.
"Gawat kenapa?" tanya Arthur.
"Um.. Gini lho… Gak semua cerita hantu di sekolah ini bener, lo setuju?" tanya Nesia.
Arthur dan Antonio mengangguk.
"Tapi gak semua cerita hantu di sekolah ini karangan orang bosen, setuju?"
Mereka berdua mengangguk lagi.
"Dan ada juga cerita hantu di sekolah ini yang berdasarkan cerita nyata, lo tau?"
Mereka berdua berpikir sejenak, tetapi akhirnya mengangguk juga.
"Dan ada juga hantu yang tiba-tiba muncul gara-gara kita ngebahas cerita itu, lo ngerti?" tanya Nesia memastikan.
"BLOODY HELL! Maksud lo dia dateng gara-gara kita cerita hantu kemaren!" teriak Arthur histeris.
"Astaga… Padahal itu kan cuma sekadar iseng doang," kata Antonio sambil gigit jari.
"Dan parahnya… Kalo hantu Ivan ada di sini… Hantu Natalia pasti gentayangan di jembatan," tambah Nesia.
"For the love of the queen, gua gak mau mati muda!" Arthur makin histeris.
"Eh, tapi hantu Ivan muncul pas siang bolong begini… Berarti Natalia juga bisa muncul pas terang gini..?" tanya Antonio dengan santainya.
"Itu sih—"
"STOP. Gua gak mau denger informasi lebih dari ini. Kalo gua dikejer Natalia gara-gara informasi yang gak penting, gua lebih milih buat gak tau," potong Arthur.
"Arthur bener… Mungkin lebih baik kalian gak tau," tambah Nesia.
"Tapi kalo kayak gini kita jadi gak bisa tentram kan..?" tambah Antonio.
"Hum… Kalo kayak gitu, kita balik ke misi awal kita aja," jawab Arthur.
"Misi awal?" Nesia langsung menatap Arthur.
"Kita akan membasmih kedua hantu yang tidak diundang tersebut," kata Arthur dengan tampang serius.
"EBUSET, GILA LO!" Nesia langsung histeris.
"Besok, gua yang ke toilet buat ngebasmih Ivan. Lusa Antonio yang ke toilet, kalo gua gagal," tambah Arthur.
"… Gua gak usah ikut kan..?" tanya Nesia penuh harap.
"Berhubung lo ninggalin kita berdua tadi… Jadi gua tugasin lo ke hantu Natalia," jawab Arthur dengan santainya.
"TEGA LO!" teriak Nesia.
"Tenang aja Nes, kalo misalnya lo gagal, gua bakal ngebantuin lo~" tambah Antonio dengan girang.
"Kok lo seneng banget sih…" Nesia langsung pasrah.
"Oke, misi kita mulai besok," kata Arthur.
"OKE!" teriak Antonio penuh semangat.
"…Terserah apa kata kalian deh…" Nesia langsung lemas.
Dan dimulailah petualangan mereka membasmih hantu, yang awal-awalnya mau balas dendam, ujung-ujungnya malah ngaco.
Author's note:
Thanks for reading!
Review, karena itu yang membuat saya ingin menulis chapter selanjutnya~
