Original story: (Hapus spasi atau kunjungi profil aku)
1 – That Feeling
Kenapa dia?
Kenapa selalu dia?
Kenapa bukan aku?
Kenapa tak pernah...
...aku...?
Nyonya Kim memandang sekilas ke jam dinding. Jam 6.36 AM. Dia meletakkan piring berisi sarapan mereka dan menghela napas berat. "Taemin-ah?"
Seorang anak lelaki dengan rambut panjang berwarna almond menolehkan kepala untuk memandang ibunya. "Yes, mom?"
"Pergi bangunkan Jongin." Nyonya Kim berkata. Tangannya mulai menuangkan susu ke gelas yang kosong. "Aku bertaruh dia masih tidur. Sudah hampir waktu mereka untuk pergi ke sekolah, kenapa dia belum juga bangun? Dasar anak pemalas."
"Yes, mom." Taemin mematuhi dan berdiri. Dia bergegas ke kamar adik kembarnya di lantai dua.
"Anak itu adalah pembuat onar. Dia seharusnya tidak meminta kamar yang terpisah dengan Taemin. Lihat, dia tidak bisa bangun tepat waktu kecuali Taemin di sana! Mereka akan terlambat lagi hari ini!" Nyonya Kim menghela napas berat.
"Jangan memenuhi permintaan Jongin lagi." Tuan Kim berkata tanpa mengalihkan matanya dari koran. "Dia telah meminta terlalu banyak hal aneh akhir-akhir ini."
Nyonya Kim hanya menghela napas.
Kenapa Jongin tidak bisa lebih seperti Taemin, yang lebih tenang dan patuh?
Sudah tiga bulan sejak Jongin meminta Nyonya Kim untuk memisah kamarnya dengan Taemin dan Taemin masih tidak bisa mengerti apa alasan utamanya. Jongin tidak pernah bangun pagi. Apa yang membuatnya berpikir bahwa pilihan untuk tidur di ruangan berbeda itu benar? Apakah Taemin terlalu mengganggu saat membangunkannya selama ini? Atau apakah hal tersebut karena Zico?
Taemin benar-benar penasaran dengan jawabannya.
Taemin membuka pintu kamar saudara kembarnya dan menemukan saudaranya tidur dengan igauan di bawah selimut tebalnya. Yang lebih muda tidak menunjukkan sedikitpun tanda-tanda untuk bangun sesegera mungkin. Itu adalah hal buruk.
"Hey, Jongin-ah." Taemin mengguncang saudaranya pelan. "Hey, bangun. Ibu memanggilmu. Kau harus mulai bersiap sekarang atau dia akan datang sendiri dan menendangmu."
Jongin mengerang dan bergerak. Dia membuka kelopak matanya perlahan dengan berat dan menyembunyikan dirinya lagi ketika dia melihat wajah Taemin.
"Hey, Hey. Aku serius. Bangun sekarang!" Taemin menarik selimut saudaranya dan geraman lainnya lebih keras.
"Aku bangun, aku bangun. Tinggalkan aku sendiri." Jongin mengusir Taemin, berharap yang lainnya akan menghilang sesegera mungkin.
"Tidak. Aku harus memastikan kau masuk ke kamar mandi dengan mataku sendiri. Aku tidak bisa membiarkan kita datang terlambat lagi hari ini karena kau jatuh tertidur tepat setelah aku meninggalkan ruanganmu!"
Jongin menggeram lebih keras dan mengeratkan mata lelahnya dengan lebih keras.
"Jongin-ah. Apakah kau ingin aku memanggil ibu... atau ayah?"
Jongin menghela napas sambil menegakkan tubuhnya. Dia memandang tajam Taemin yang telah sepenuhnya siap dengan pakaian kasualnya, terlihat menyenangkan sekaligus cukup sopan untuk memanjakan mata orang-orang.
Dia tercium seperti bunga –poni rambut berwarna almondnya diikat kecil kendur, dan hazel mata yang memandang pada milik Jongin yang lebih gelap.
Kenapa dia sangat indah?
"JONGIN-AH!"
Jongin tersentak ketika dia mendengar teriakan ibunya.
"BANGUN!"
"Dia sudah bangun, mom! Dia sedang mandi!" Taemin menjawab ketika menarik kembarannya bangun, dan mendorongnya ke kamar mandi.
Jongin memandang tajam pada setengah dari dirinya itu dengan pandangan kosong.
Apa yang anak ini lakukan?
Mencoba terlihat baik di hadapan ayah dan ibu dengan menyelamatkannya seperti itu?
Wow.
"Apa yang kau lakukan? Mandi sekarang!" Taemin berdesis, sedikit khawatir. "Cepat dan turun untuk sarapan!"
Jongin melihat Taemin yang berjalan keluar kamarnya, menurini tangga. Lelaki berkulit tan itu menghela napas dan memasuki kamar mandi. Jongin menghidupkan shower dan memandang lama tetes-tetes air yang jatuh. Dia memutar kepalanya untuk menghadap cermin. Matanya menjelajahi refleksi wajahnya. Hidung... bibir... wajah... tubuh...
Kenapa dia tidak bisa lebih seperti Taemin?
Hidung mancung Taemin... wajah kecil... kulit pucat... V-line...
Mereka hanya memiliki bibir yang sama. Tapi bibir Taemin lebih cantik. Bibirnya tebal, tapi terbentuk dengan sempurna. Merah mawar terang.
Sedangkan Jongin?
Ugh.
Jongin menghela napas dan mematikan shower. Dia mengeringkan tubuhnya dan berpakaian dengan kesal.
Tuan dan Nyonya Kim telah menyelesaikan makan mereka. Hanya Taemin yang belum menyentuh sarapannya. Kembaran yang lebih tua menunggu Jongin dengan sabar. Setidaknya mereka bisa makan di saat yang sama sehingga orangtua mereka tidak akan memarahi Jongin karena lambat lagi.
"Jongin! Cepat kemari dan makan! Taemin telah menunggumu!" Nyonya Kim memarahi Jongin.
Jongin mengalihkan pandangan pada Taemin.
Menjadi pahlawannya seperti biasa, huh?
Jongin mendudukkan dirinya di seberang saudaranya dan mulai makan sarapannya.
"Aku menjadi stres karenamu, Jongin. Kenapa kau tidak bisa lebih seperti Taemin? Bangunlah lebih awal! Apa yang kau lakukan malam tadi? Bermain game?"
Jongin tidak menjawab. Dia dengan mudah mengunyah pancakenya lambat-lambat.
Tidak, dia tidak bermain game. Dia hanya menghabiskan malamnya menulis semua isi hatinya di blognya.
Tentang bagaimana dia benci dibandingkan dengan kakak kembarnya.
Jongin makan dalam keheningan, mendengarkan omelan ibunya.
Taemin menghela napas. Orangtuanya selalu memarahi Jongin untuk apapun yang dia lakukan.
"Mom, bisakah kau ambilkan aku madu?" Taemin meminta dengan manis, mencoba membagi perhatian ibunya jadi dia bisa berhenti memarahi Jongin.
"Jongin-ah, ambil itu." Nyonya Kim memerintah. "Madunya di sampingmu. Jangan hanya menuang madu untukmu seorang. Saudaramu belum menyentuh pancakenya sama sekali karena dia menunggumu."
Oops.
Taemin baru saja membuat ibunya mengomel lebih lagi.
Jongin merasa tenggorokannya menjadi kering.
Damn you, Taemin.
Selamat, kau sekali lagi menjadi anak sempurna ayah dan ibu.
Taemin dan Jongin berjalan menuju kelas mereka masing-masing.
"Bye, Jongin-ah!" Taemin melambaikan tangannya dengan bahagia.
Jongin tidak menjawab. Dia hanya berjalan lurus menuju ruang kelasnya, meninggalkan Taemin berdiri sendirian.
Senyum Taemin menghilang saat dia melihat saudaranya berjalan menjauh.
Jongin telah memberi jarak dirinya untuk waktu yang cukup lama.
Yang lebih muda bahkan tidak menjawab percakapan pendek Taemin.
Apakah masih dikarenakan oleh Zico hyung?
Oh, ayolah. Itu bukan kesalahan Taemin jika Zico jatuh cinta dan tergila-gila padanya, ya kan?
Dia tidak tahu bahwa Jongin juga menyukai lelaki itu selama ini.
Jongin sangat tertutup dan dia tidak pernah memberitahu seorangpun tentang perasaannya yang sebenarnya.
Jika saja Taemin tahu, dia tidak akan menerima pernyataan cinta Zico.
Ada banyak lelaki keren yang berbaris untuknya ngomong-ngomong.
"That's a cold treatment." Key, sahabat Taemin sejak sekolah menengah pertama, berkomentar. "Apakah dia masih marah denganmu?"
"Mungkin." Taemin menghela napas.
"Oh, ayolah. Itu bahkan bukan kesalahanmu. Jika Jongin menyukai Sunbae itu, dia harus memberitahu seseorang... yah... memberitahumu, setidaknya!" Key mengusak kepalanya. "Saudaramu sangat kekanakan. Dia harus menghentikannya."
Taemin tidak menjawab. Dia hanya menghela napas dan sedikit cemberut.
Jongin duduk di samping sahabatnya, Kyungsoo.
Well, sebenarnya bukan sahabat yang begitu sangat dekat.
Kyungsoo pendiam; sangat pendiam hingga orang-orang menganggapnya seseorang yang aneh dan menghindar berteman dengan dirinya.
Itulah mengapa Jongin memilih untuk berteman dengan Kyungsoo.
Karena dia tidak memiliki kemampuan untuk menjadi teman seseorang.
Semua orang tidak sendiri.
Kyungsoo adalah satu-satunya yang tertinggal.
Keduanya duduk dalam keheningan sempurna –keduanya tidak berbicara satu sama lain sama sekali.
Kyungsoo menetapkan matanya dengan beberapa buku sedangkan Jongin... dia hanya menyamankan kepalanya di antara lengannya yang terlipat, berpura-pura tidur.
"Oh Tuhan, Taemin baru saja menerima permintaan instagramku dan mengikutiku balik!"
Jongin dapat mendengar salah seorang teman sekelasnya, Naeun, menjerit kesenangan.
"Benarkah? Aww, lihat Naeun! Dia merona!"
"Apakah kau sesenang itu, Naeun-ah?" Anak perempuan yang lain tertawa.
"Tapi bagaimana kau bisa mendapat follback-nya? Aku pikir dia tidak akan mengikuti balik orang lain!"
"Aku berada di kelas bahasa Inggris yang sama dengannya kemarin!" Naeun berkata dengan samar-samar. "Aku pikir dia tidak akan mempedulikan aku, tapi dia melakukannya! Aww~"
"Aku sangat cemburu!" Anak gadis lainnya menggeram.
"Apa yang harus aku lakukan untuk mengetahui tentang dirinya?"
Jongin memutuskan untuk berhenti mendengar kata-kata mereka. Hatinya terluka.
Kenapa selalu Taemin?
Semua orang menyukai Taemin.
Bukankah Taemin adalah kembaran Jongin?
Oh, benar. Jongin adalah kembaran yang jelek.
Jongin menghela napas berat sambil berdiri dari tempat duduknya. Dia merasa matanya memanas dan air matanya terancam untuk jatuh. Dia berjalan ke ruang di toilet dan menutup pintu. Air mata perlahan membasahi pipinya. Dia tidak dapat menahan tapi membiarkan suara tangisannya keluar.
Jongin pikir dia akan terbiasa dengan hal ini.
Dia pikir dia akan terbebas dari berada di bawah bayangan Taemin.
Tapi itu semua salah.
Jongin masih tetap terluka setiap kali dia dibandingkan dengan kakak kembarnya.
Dia selalu kalah, selalu menjadi seseorang yang menerima ejekan.
Selamanya, dia akan menjadi bayangan Taemin.
Jongin membiarkan sesenggukan terakhir keluar sebelum dia mengeringkan matanya dengan kedua tangannya.
Oh sial, setelah ini, matanya pasti akan membengkak dan memerah. Kemudian dia akan melewatkan kelas pertama.
Bagus. Sangat bagus.
Bel berbunyi, tapi dia tidak peduli. Dia tidak bisa kembali ke kelas terlihat seperti ini.
Setelah beberapa saat, Jongin akhirnya yakin bahwa tidak ada suara sama sekali di sekitar toilet. Dia kemudian berjalan keluar memeriksa dirinya di depan cermin. Tuhan, dia terlihat mengenaskan. Jongin menghela napas sambil menghidupkan air dan memercikkan cairan dingin tersebut ke wajahnya. Berharap itu bisa mengurangi matanya yang sembab.
Dan tiba-tiba, Jongin merasa tubuhnya melemas. Kakinya menjadi lemas dan dia jatuh ke lantai.
Itu terjadi lagi.
Akhir-akhir ini Jongin merasa lelah dengan mudah, dan tiba-tiba tubuhnya menjadi lemas.
Jongin mencoba menarik napasnya ketika dia bisa mendengar detak jantungnya sendiri di telinganya. Dia menutup mata, mencoba untuk meredakan kepanikan tiba-tibanya.
Cklik.
"Oh Tuhan, apakah kau baik-baik saja?"
Jongin melihat sekilas ke orang yang berdiri di depan toilet.
"Kau berkeringat dan basah! Tunggu!" Lelaki itu mengambil sebuah sapu tangan dan berjongkok, mengelap perlahan seluruh wajah Jongin. "Apakah kau baik-baik saja? Apakah aku perlu membawamu ke ruang kesehatan?"
Jongin terpaku sejenak sebelum kemudian menganggukkan kepalanya.
Lelaki tinggi berambut blonde itu meraih lengan Jongin dan menolongnya untuk berdiri. Dia kemudian menuntun Jongin ke ruang kesehatan dan membaringkan lelaki berkulit tan itu.
"Aku akan memanggil perawat, oke? Tetap di sini." Lelaki itu berkata ketika meninggalkan ruang.
Jongin memandang ke pintu yang tertutup.
Apa yang baru saja terjadi?
Seorang perempuan tinggi dengan rambut coklat diikat memasuki ruang itu. Dia memakai jas dokter dan mendekati Jongin. "Hei, bagian mana yang sakit?"
"B-bukan apa-apa..." Jongin menjawab grogi. "Aku... Aku h-hanya membutuhkan aspirin..."
Dokter muda dengan nametag "Boa" kemudian menganggukan kepalanya sebelum berbalik ke rak-rak untuk mencari aspirin.
Jongin merasa detak jantungnya perlahan berubah menjadi normal. Dia menghela napas dan memandang sekilas pada sapu tangan itu.
Oh! Lelaki itu meninggalkan sapu tangannya!
Jongin mengambil sapu tangan tersebut, menyusurinya perlahan.
Sapu tangan itu cantik, dengan warna biru sederhana.
Penglihatan Jongin kemudian tiba-tiba tertuju pada nama sederhana yang terajut dengan cantik di bagian kanan sapu tangan itu.
Oh Sehun. Apakah itu namanya?
Jongin merasa pipinya memerah bersamaan ingatannya akan lelaki berambut blonde yang sebelumnya menatapnya dengan khawatir. Hal itu mengirimkan getaran ke perut Jongin.
Ini adalah pertama kalinya seseorang menatap dirinya dengan pandangan cinta dan peduli kecuali Taemin dan sahabatnya Chanyeol.
"Haksaeng-ah?" Boa bertanya ketika menawarkan dua pil aspirin. "Ini obatmu. Minum dan istirahatlah."
Jongin mengangguk dan menelan pil tersebut. Dia kemudian berbaring di kasur sambil memainkan sapu tangan Sehun.
Jongin tak bisa menunggu lagi untuk menceritakan pada Chanyeol tentang apa yang terjadi hari ini.
To be continued...
