Stranger Love © Saturdae Night
NCT © SM Entertainment
Warning; Ceritanya akan jadi panjang dan membosankan sekali (berharap tidak, semoga!) Jadi, selamat menikmati?
.
.
.
Bagian 2
"Tempat tinggal baru"
Johnny memang tidak tahu Taeil seperti apa.
Sesampainya di rumah Taeil yang benar-benar di daerah pemukiman, dia menurunkan Johnny di sebuah ruangan paling depan kemudian menghilang di lorong yang sejajar dengan pintu utama tadi. Johnny berjalan ke arah bantal dan selimut lalu duduk diam di sana sambil memperhatikan ruangannya.
Ada karpet besar mengalasi seluruh lantai guna menjaga pijakan agar tetap hangat. Kemudian ada meja kecil berkaki pendek ditengah untuk banyak fungsi, makan atau kerja misalnya, tapi mejanya meja biasa, bukan meja dengan penghangat kaki. Sisi meja yang berseberangan diberi bantal duduk, maksudnya menggantikan sofa yang absen kehadirannya. Sebuah TV keluaran tahun 2000 ditaruh disatu lagi meja dengan laci, posisinya sengaja diatur rendah agar bisa melihat berita pagi sekalian sarapan.
Perabotan yang mengitari tempat itu tak banyak dan sama sekali tidak memberikan kesan estetik yang seperti Johnny wajibkan pada setiap ruangannya dimanapun. Rak buku megah disudut ruangan ditaruh karena memang butuh saja bukan sebagai pemanis, terlihat dari bagaimana posisi yang biasa saja dan urutan buku yang urakan Johnny jadi yakin. Juga banyak dari kayunya yang mulai rapuh, mungkin harga murah tapi bukan kualitas terbaik.
Jarak kosong pada dindingnya ada ditempeli bingkai foto, hanya sebuah saja. Tapi entah memang kacanya lama tak dibersihkan atau memang kualitas cetakan fotonya jelek, Johnny jadi tidak bisa melihat jelas rupa potret barangkali seseorang, atau dua orang malah?, didalamnya.
Setelah tak ada lagi dari perabotan disana yang menarik untuk Johnny perhatikan, dipikirnya siapa tahu Taeil punya ruangan tersembunyi untuk menyimpan dokumen penting negara atau batu ajaib malah, dia memposisikan dirinya yang sebentar lagi tidur kebosanan. Sebenarnya satu lagi yang belum dia jamah dengan penglihatannya adalah lorong tempat Taeil menghilang tadi, satu-satunya lorong penyambung ruangan, satu-satunya jalan untuk masuk menjelajah rumah lebih dalam. Tapi Johnny enggan beranjak. Jadinya dia kembali dengan kertas berserakan di bawah kaki meja yang tak sempat ia perhatikan.
Dia hanya melirik sedikit sekali sebab minat membaca sedang tak ada dalam dirinya. Namun susunan kata 'Monday Blues' pada atas kertas memaksa kembali pandangannya yang sempat teralih. Dia ingat betul tentang seri cerita mini 'Monday Blues' pada halaman terakhir koran mingguan, 'Every Week'. Koran yang terkenal sekali, makanya Johnny heran sekaligus takjub.
Korannya memang bagus untuk semua golongan masyarakat, dia juga membayar untuk berlangganan, pasalnya lengkap sekali artikel memuat perkembangan teknologi, saham, olahraga, politik, pendidikan dan lainnya dan juga berita sangat akurat dari sumbernya langsung. Kadang ada rubik remaja seperti novel, film, dan musik atau dari pembaca seperti opini, dan puisi. Tak salah jika 'Every Week' jadi koran bagus kemudian mahal sekali biaya memuat iklan barang kali satu kolom kecil saja disana, sebab seluruh pelosok korea tidak ada yang tidak membacanya, jadi keuntungan besar.
Dan 'Monday Blues' ini jadi salah satu judul fiksi seri yang dimuat disana. Makanya Johnny takjub, Taeil itu beruntung karyanya dimuat cuma cuma (atau mungkin ada kontrak dan bayaran). Khusus rubik fiksi biasanya dipublikasi tiap dua minggu sekali, hari ini harusnya dia menerima koran baru lagi, tapi Johnny malah terjebak ditubuh kucing.
Johnny tak pernah menyangka, tak ingin peduli juga sebenarnya, bahwa dia akan bertemu penulis 'Monday Blues' dengan cara tidak menyenangkan ini. Mestinya dia bawa satu korannya untuk ditanda tangani ya? Johnny tertawa dalam hati.
Dan kalau kalian penasaran, Johnny bisa beri tahu, isi cerita 'Monday Blues' sendiri boleh dibilang klise, ini pendapat awal Johnny. Dua orang remaja SMA saling mencintai, itu saja sampai kecelakaan membawa yang satunya terjebak dalam ruang dan waktu, cerita klise berubah jadi rumit sekali dijelaskan. Tentang mereka yang mencari jawaban atas masing masing teka teki yang mereka buat, menarikkan?
Tapi fiksinya tidak terlalu ngepop dikalangan remaja. Yang Johnny lihat sih begitu. Mungkin karena pembawaannya tua, dan puitis sekali serta alurnya bukan romansa menggelitik perut seperti yang remaja suka. Akhir-akhir ini penerbit koran jadi melongkap jadwal terbit fiksinya. Sekitar 4 minggu terakhir koran mingguan Johnny sama sekali tidak memuat fiksi tersebut padahal harusnya sudah ada 2 bagian baru, dia kesal sendiri. Mungkin karena habis kontrak atau apa ya? Tidak tahu juga dia.
Dia sih bukan penggemar berat fiksi tersebut, diapun bukan yang tipe gemar menghibur diri dengan fiksi, tapi diakui Johnny amat nyaman membacanya. Setelah dipikir tak salah juga karya Taeil masuk dan dipilih untuk dimuat dibacaan sejuta umat. Sastranya boleh diapresiasi.
Seharusnya, Johnny pikir, ada barangkali satu penerbit yang menawari Taeil pekerjaan, kemudian menerbitkan buku dengan hasil yang lumayan, dia pasti bisa beli rumah lagi mengingat percakapan sebelumnya. Pendapatan penulis tidak main-main bukan? Dan setelah barusan berisik suara hujan masuk sampai ke dalam ruangan, Johnny mendapati ujung karpet basah sebab atapnya juga basah, jadi Taeil benar benar harus beli rumah baru.
15 menit berikutnya, Johnny selesai menunggu setelah nakal dia membaca naskah fiksi lanjutan dari bagian sebelumnya tapi masih berantakan sekali, setidaknya Johnny paham inti dari bab berikutnya jadi dia tidak mati penasaran. Taeil datang membawa daging dinampan. Tak banyak tapi cukup. Kompor praktis sudah terpasang manis di meja kecil. Suara daging di masak terdengar. Baunya menggoda selera. Biarlah daging murah tapi Taeil bisa mengolahnya dengan mewah.
Sembari menunggu daging dagingnya masak, Taeil buru buru menyusun naskah fiksinya yang tergeletak disembarang arah kemudian menaruhnya pojok dekat rak buku. Dia juga mengambil ember, ditaruh diatas karpet yang basah mengenaskan guna menampung tetes tetes air dari atap.
Lima potong daging sudah masak. Yang tiga Taeil taruh di mangkuk kecil lalu di sodorkan kepada Johnny. Gestur Taeil yang mengelus pucuk kepalanya seolah memberi tahu itu aman dan dia boleh makan.
Johnny menatapnya sebentar lalu dengan ragu ia memakan dagingnya. Demi Tuhan, Johnny tahu sangat baik tentang aturan di meja makan dan sangat menjunjung tinggi aturan itu. Bagaimanapun, ini memang tidak sopan tapi mengingat kondisi tubuh kucingnya, Johnny membuang jauh jauh pikiran itu.
Johnny hanya memakannya tanpa tahu didepannya seseorang memperhatikan sambil tersenyum.
'Terimakasih...'
Hening sekali kemudian suasana ruangannya meski ada sesekali suara dentingan sumpit dan mangkuk beradu. Johnny jengkel ketika Taeil enggan menyalakan TV-nya saat bising hujan di luar masih ada. Mungkin karena jaringan antenanya terganggu jadi kualitas saluran jelek. Tapi Johnny tetap risih, dia bukan tipe yang suka berlarut-larut dengan ruangan hening apalagi dibarengi suara hujan, kesannya dramatis sekali. Minimal suara TV saja atau jika moodnya jelek musik genre rock bisa disetel dengan suara penuh. Asalkan jangan keheningan serupa ini, dia tak suka.
Meski sebenarnya ingin meraung raung dinyalakan sesuatu yang menutupi hening, setidaknya dia masih ada rasa hormat sebab dia paham kesukaan tiap orang berbeda dan Johnny dilatih menahami, apalagi Taeil tuan rumahnya, Johnny jadi menahan saja fokus dengan makanan sesekali tenggelam dalam pikirannya mencoba menghiraukan atmosfer paling dibencinya.
Ketika habis 6 lembar daging berikutnya dimakan, Taeil merapikan alat makannya lalu pergi melewati lorong yang belum sempat dijamah. Johnny bangun untuk mengikuti. Hanya penasaran dengan kemana lorong itu membawanya.
Ternyata itu bukan lorong. Sebuah ruangan terbuka langsung menyambung pada ruang tamu, atau ruang santai terserah, tapi sisi kanannya punya pintu warna merah dan jika benar, dibalik pintu itu pasti kamar tidur.
Kitchen set sederhana mendominasi lahan. 1 meter di depannya ada meja makan dari kayu. Hanya mampu menampung barangkali 2 orang. Tapi debu yang menempel di bangku sebrangnya, yang menghadap ke kitchen set, dan ketika rasanya bangku itu dingin sekali, Johnny langsung beranggapan bahwa Taeil hidup sendiri. Bangku yang satunya itu tak pernah diduduki. Mungkin semua orang selalu punya tempat favoritnya. Kemudian Johnny tahu favoritnya Taeil yang menghadap langsung ke pintu untuk keluar ataupun masuk ke rumah. Namun tak mau peduli mengapa bangku yang itu.
Kakinya melangkah mendekati Taeil. Harusnya dia berterima kasih 'kan atas makanannya. Makanya dia mencoba jadi kucing baik. Apa ya yang suka kucing lakukan pada majingannya? Bermanja dan mengelus kepala tentu saja. Tadinya dia ragu tapi akhirnya mencoba. Kepalanya sengaja ditempel ke kaki Taeil. Niatnya ingin mengelus tapi sepertinya gagal.
"Ya ampun. Sebentar ya. Sedikit lagi pekerjaanku selesai."
Johnny menjauh. Dia menonton Taeil yang sedang mencuci piring, memperhatikan setiap gerakannya. Agak menyesal mencoba permainan jadi kucing manja. Tertawa dalam hati, kenapa orang-orang suka sekali memelihara binatang yang suka bermanja? Kalaupun berminat, diapun tidak mau punya peliharaan dengan karakter serupa. Merepotkan.
Bosan menyerangnya lagi. Dan kali ini, untuk kesekian kali, maniknya meneliti bagian Taeil yang sempat dia acuhkan. Dia memang tak ada pekerjaan selain mengamati kan? - Johnny menyadari rambutnya coklat tua tak berkilau tapi terlihat lembut, dan kulit wajahnya yang terlihat tidak bagus efek capek. Dan tubuhnya kecil sekali, terlihat rapuh. Dalam sekali hembusan angin hebat, mungkin dia akan terbawa terbang. Dan dia baru menyadari lebam biru di tangan kirinya. Terlihat seperti habis jatuh. Atau dipukul?
Johnny jadi terbayang. Dalam tubuh manusianya, dia akan memeluk pinggang ramping itu. Membawanya dalam dekapan hangat yang akan melindunginya, lebam itu pasti akan hilang. Dan herannya, dia merasa hangat menyelimutinya tiba-tiba meski bulu kucingnya sudah tebal menyanggupi hidup di musim dingin. Hangatnya pun melebihi dari selimut Johnny dari yang ia gunakan masih bayi. Gila. Nyaman sekali, Johnny menantikannya.
'Huh? Menantikan apa?'
Johnny heran kemudian tersadar. Bahwa kakinya tak sengaja sudah membawanya berdiri siap melompat ke arah Taeil. Dia duduk lagi ke sudut.
'Kamu hanya cukup diam, tonton dan belajar.
Tapi aku tidak berani menjamin apa kau akan melakukan lebih dari itu.'
Lebih dari itu apa?
Johnny harusnya mengerti tapi dia mengabaikannya. Perasaan yang harusya tak tumbuh. Asing sekali herannya dia merasa akrab. Dia tertawa remeh agak menyeringai. Bodoh, Benar benar seolah tuli, buta, dan tak berakal.
"Aduh!" Terdengar suara Taeil ribut dibarengi bunyi air yang menyemprot keras, kerannya rusak. Johnny reflek dan aksi heroiknya, melompat ke wastafel ikut menggunakan tubuhnya menutupi celah terbuka, sempat beberapa kali terpental karena arusnya deras sekali.
Ada pekikan dan kekehan kecil dari Taeil, sesekali ikut dia menutup celahnya sambil berusaha menggapai keran yang lepas dan terpental jauh. Setelah akhirnya berhasil memasang dan memastikan krannya cukup kuat, mereka baru menyadari keduanya cukup basah membuahkan Taeil tertawa keras atas kegaduhan dan tampangnya yang acak acakan. Mendengarnya pipi Johnny bersemu merah dalam hitungan detik (tak terlihat sebab bulunya abu).
Sibuk merekam suara dalam memorinya, fokus Johnny pecah saat kakinya terangkat tiba tiba. Dan dibawa ke atas meja makan, ditinggal sebentar ke suatu ruangan di kirinya (kali ini ada di kiri karena posisinya berlawanan) kemudian datang lagi membawa handuk. Langsung dia mengusap bulu Johnny yang basah dan agak menekannya lembut, berharap airnya akan benar benar hilang terserap handuk. Taeil cekatan sekali, seperti ia pernah punya kucing sebelumnya.
Selesai dengan bulu-bulu tubuh kucingnga yang sudah tak tersisa bulir air, dengan kurang ajar, andai Johnny benar benar wujud manusia, Taeil membuka bajunya dengan sesantai itu! Wajar saja sebab orang normal mana yang berpikir seekor kucing akan memperkosanya? Tapi meski dalam tubuh kucing, Johnny sialan 'kan tetap manusia (meski mana memiliki napsu dia pada lelaki).
Mata kuning milik Johnny membesar. 'Sialan' rutuknya. Tubuhnya benar benar kurus tak berisi, kulitnya putih dan halus serta dua tonjolan yang begitu kontras warnanya. Johnny yang tidak pernah terlibat suasana ini jadi ingin menghilang saja dari bumi.
Taeil sempat memberikan senyum padanya, kadang ada curiga Taeil tahu Johnny bukan benar benar kucing, kemudianTaeil membalikan badannya memamerkan punggung. Dan dipunggungnya itu terdapat lebam lagi. Tak terlalu mengerti yang kali ini dikarenakan apa.
Merasa kasihan dengan Taeil, Johnny memberikan tatapan sendu dan kasihannya, tak peduli Taeil butuh dikasihani atau tidak, benar-benar berharap orang-orang suruhannya datang untuk ditugasi melindungi Moon-rapuh-Taeil ini 24 jam penuh agar lebam tak tercetak lagi. Eh, mungkin benar benar bisa dipikirkan nanti.
Rasa ingin melindungi itu muncul setelah melihat kacaunya tubuh Taeil serta tatapan sendunya sembari mengusap tangan yang juga ada lebamnya, Johnny hanya berpikir tentang mengapa pemuda lembut ini harus dilukai, mengabaikan betapa anehnya ia sekarang tentang marah akan lebam pada Taeil yang bahkan tidak dia tahu sebabnya.
Dia pikir ini hanya bentuk balas budi menyelamatkannya saja, 'kan?
Dan selama 10 hari kedepan, Taeil akan membantunya belajar juga mengubah hidupnya. Atau malah yang justru mengubah dirinya. Seperti apakah itu Johnny tidak tahu.
Oh, halo!
Gimana, baguskah?
Sebenarnya agak frustasi juga nulis ini. Bisa liat diatas aku gak pandai menggambarkan perasaan tokoh malah menulis panjang tentang latar tempatnya seolah kalian gak boleh salah pengertian?
(。ŏ﹏ŏ)
Aku bukan yang pinter ngejelasin emang, padahal itu adalah kuncinya! Jadi benar benar frustasi, apa kalian dapet feelnya?
Tolong beritahu di komentar apanya yang kurang biar kedepannya bisa diperbaiki
(´°̥̥̥̥̥̥̥̥ω°̥̥̥̥̥̥̥̥`)
NCT comeback dengan Chain!
MV nya sangat memacu jantung tapi masih belum fokus sama lagunya (Sebenarnya, dari dulu memang tidak suka amat dengan album Jepang, jadi yah...) Minggu ini, Chain harus tersingkir dari playlist ku, digeser oleh Please Mr. Postman -nya The Beatles karena akhir akhir ini kangen sama suaranya Paul.
Dan juga!
Aku buka polling di ffn, coba cek profil
(Muncul ga? bener bener gak tau dimana pollingnya berada /dasar!)
