Chapter 2: Kidnapping
.
.
.
"Jadi mereka meninggalkan mu?" seru Shen tidak percaya, saat itu Lei sedang menceritakan keluarganya yang mengabaikan dan meninggalkannya, dan seperti biasa, mereka berada di belakang sekolah.
"Ya, kau harus tahu apa yang mereka lakukan padaku, aku bangun dengan tangan dan kaki terikat, aku dikunci di dalam rumah, dan mereka pergi tanpa bilang apapun pada tetangga, jadi aku tidak punya kesempatan untuk menemukan mereka, yah…, siapa juga butuh mereka…" jelas Lei, ia tak lagi memanggil Shen dengan 'Pangeran' karena Shen sendiri yang memintanya.
"Cuman itu yang kuingat, selainnya tidak ada.., alasan kenapa mereka meninggalkan ku..," ujar Lei lagi dengan suara yang tenang, ia sama sekali tak tampak marah ataupun sedih.
Shen terdiam, berpikir kalau keluarga Lei benar-benar kejam dan tega.
"Jadi sekarang kau tinggal dimana?" tanya Shen.
"Aku tinggal dengan seorang perempuan yang menyelamatkanku.., tidak jauh kok dari istana mu…."
"Oh ya Lei," Shen jadi teringat sesuatu.
"Apa kau mau ke isatana? Kita bisa bermain bersama…!" tawar Shen sambil tersenyum lebar, Lei mengangkat sebelah alisnya.
"Kau serius?, maksudku…, apa Lord Baojia dan Lady Fen membolehkannya?" tanya Lei dengan nada ragu, bisa saja kan orang tuanya tidak memperbolehkan.
"Tentu…." Gumam sang pangeran, "Mereka baik, pasti mereka membolehkan mu datang ke istana…, apalagi ibuku! Dari dulu dia selalu menginginkan anak perempuan jadi adikku, pasti dia menyukaimu…." Kata Shen, Lei mengangguk.
"Aku bisa saja sih, tapi kalau hari biasa aku tidak bisa, karena aku harus membantu bibi berjualan, kalau akhir pekan sih bisa…, tapi hari ini juga bisa kok, bibi sedang tidak berjualan soalnya ia mengunjungi temannya…." ujar Lei, kalimatnya benar-benar seperti labirin, menyesatkan.
"Kau berjualan…?" tanya Shen.
"Iya…" Lei mengangkat bahunya, "Aku berjualan roti dengan gerobak, sedangkan bibiku berjualan makanan di toko kecil kami…"
"Wow…" seru Shen kagum, "Kau keren, bisa menghasilkan uang sendiri….,"
Lei terkekeh, "Bukan apa-apa, saat aku masih di Turki aku berjualan dengan berjalan sepanjang lima kilometer atau kadang lebih dalam sehari…, soalnya kalau tidak seperti itu aku tak akan mendapat uang dan keluarga ku akan memarahiku…" lanjutnya.
"Tunggu, kau ini bukan orang China sungguhan ya?"
"Oh bukan..," Lei tersenyum sambil menggeleng.
"Aku lahir di Turki, nama ku yang sebenarnya saja bukan Lei, aku sudah lupa…," jelasnya.
"Oooh..," gumam Shen. "Itu menjelaskan kenapa kau punya mata berwarna biru…,"
"Kau sendiri kenapa punya mata yang berwarna merah?" tanya Lei, Shen terkejut, ia belum pernah ditanyai pertanyaan seperti ini sebelumnya, kalau kenapa dia berwarna putih sih sering.
"Aku tidak tahu…, kata Nana, aku berwarna putih dan mataku merah karena aku spesial, tidak ada merak lain di Gongmen yang berwarna seperti ku…," jelas Shen yang mengutip penjelasan Soothsayer.
"Oh, begitu…."
"Hei Lei-.."
"Tunggu! Shen, aku mendengar sesuatu…." Bisik Lei, ia mendengar langkah kaki yang menuju tempat mereka, bukan hanya satu tapi banyak.
"I-iya aku juga mendengarnya…" balas Shen gugup, ia takut.
"Bagaimana jika itu adalah Debbie?" ujarnya cemas.
"Maksudmu Deshie?" ralat Shen.
"Iya, terserahlah aku tidak peduli namanya, jangan-jangan dia masih dendam denganku lalu mau mengganggu kita….?"
Shen terdiam, ia tak mampu berkata-kata lagi, rasa takut sudah menjalarinya.
"Lei! Aku takut!" seru Shen, dengan segera Lei mengisyaratkannya untuk tenang.
"Shh! Jangan takut Shen.., ayo ikuti aku, kita sembunyi di semak-semak itu…" kata Lei menenangkannya sambil menunjuk semak-semak didepan mereka, ia pun menarik Shen kesana.
Tak lama kemudian, Deshi si pembuli dan teman-temannya mendatangi belakang sekolah itu.
"DIMANA MEREKA?!" teriaknya dengan keras, ia tampak sangat marah, Shen dan Lei sangat yakin kalau yang sedang dicarinya adalah mereka berdua.
"Merak bodoh itu sudah menghinaku dengan sangat tidak pantas! Akan kuhajar mereka! Akan kulumat, aku hancurkan sampai bagian-bagian kecil dan akan kuludahi kuburan mereka…." Seru kerbau itu berapi-api.
"Wow, bahasanya penuh warna…" Lei terkikik kecil.
"Bukankah kau bilang mereka ada disini?" bentak Deshi pada seekor bebek yang tampak sangat ketakutan, ia dipegangi oleh teman-teman Deshi agar tidak kabur.
"Ta-tadi aku lihat mere..ka disini," ujarnya terbata-bata.
"OMONG KOSONG!" kerbau itu pun mengambil sebuah batu yang cukup besar di hadapannya, ia pun melempar batu itu ke arah semak-semak tempat Lei dan Shen bersembunyi sebagai pelampiasan amarah.
Sialnya, batu itu tepat mengenai mata Lei.
"Ouch!" erangnya pelan, Lei memegang mata kanannya yang terasa sangat sakit, namun buru-buru menutup mulutnya.
"Suara apa itu…?" seru Deshi, ia pun segera berjalan mendekati semak-semak itu, Shen hampir pingsan melihatnya.
Tangannya menjulur ke dalam semak-semak itu, Shen menutup kedua matanya, terlalu takut untuk melihat, tak lama kemudian terdengar
suara kesakitan dari Deshi, tiba-tiba ia pingsan dan ambruk di tanah, teman-temannya yang panik pun segera membawanya pergi dari sana.
"Rasakan…." Umpat Lei pelan.
Shen perlahan membuka matanya, ia melihat Lei yang masih memegang mata kanannya yang terluka, kelihatannya menghitam.
"Lei, apa yang kau lakukan…?" bisik Shen saat sadar kalau Deshi dan teman-temannya sudah pergi dari sana.
"Aku menyetrumnya dengan ini…." Lei menunjukkan alat kecil yang melilit tangannya dibalik lengan bajunya.
"Apa itu…?" tanya Shen bingung, pertama kali melihat alat seperti itu.
"Entahlah, tapi bibiku yang memberiku alat ini, sebagai alat perlindungan diri, karena aku sering melewati gang-gang yang banyak berandalnya, dan bukan itu juga sih…." Jelas Lei bersemangat, seolah melupakan rasa sakit dimatanya.
"Aku menyimpan belati di balik bajuku, kalau sewaktu-waktu aku memerlukannya…."
"Itu…, sangat kerennn!" Shen tampak sangat tertarik.
"Oh iya, dia mati tidak ya.., aku tidak mau jadi pembunuh…" gumam Lei khawatir.
"Biarkan saja, siapa suruh dia mengganggu kita…" kata Shen kesal,
"Ya sudah, ayo keluar dari sini, aku digigiti semut…" keluh Lei, ia pun menarik Shen dari semak-semak itu.
"Ayo kita masuk kelas…"
.
.
.
"Krriiing…!"
Suara nyaring dari bel sekolah Gongmen City sudah terdengar, seluruh murid pun berhamburan keluar, termasuk Lei dan Shen, Soothsayer sudah menunggu di gerbang sekolah, Shen pun berlari menghampirinya, diikuti Lei dari belakang.
"Nana…!" Shen menghambur ke pelukan Soothsayer, dia pun tersenyum lembut dan mengusap kepalanya.
"Hei, kau kelihatan senang sekali Shen…" tanyanya. Shen membalas senyumannya.
"Nana, ini Lei, yang kuceritakan padamu….! Apa aku boleh mengajaknya ke istana? Boleh ya, boleh ya…?" rengek Shen memohon, Soothsayer terkekeh geli melihat kelakuannya yang kekanak-kanakan.
"Apa matamu baik-baik saja sayang…?" seru Soothsayer terkejut saat melihat mata Lei yang membengkak dan menghitam, ia tidak mampu membuka mata kanannya.
"Entahlah…, kelihatannya harus diobati…" gumam Lei pasrah,
"Apa yang terjadi dengan kalian?"
"Umm, ceritanya panjang…, ada orang yang melempar matanya dengan batu…." jelas Shen.
"Ya.., panjang sekali Shen…" Lei tertawa kecil mendengar penjelasan sang pangeran.
"Sudah, ayo kalian naik ke kereta, jelaskan di perjalanan…" Soothsayer pun menuntun mereka masuk ke kereta.
.
.
.
"Mereka jahat sekali, kenapa kalian tidak memberitahu pada guru..." kata Soothsayer tak habis pikir dengan apa yang baru saja didengarnya dari kedua merak kecil tersebut.
"Aku tidak mau jadi pengadu…" ucap Lei pelan,
"Kumohon Nana, jangan beritahu soal ini pada Ayah dan Ibu…" mohon Shen pada Soothsayer.
"Kenapa..?" tanya Soothsayer.
"Yah.., aku cuman tidak ingin membuat mereka khawatir…."
"Tapi kelihatannya matamu parah sekali, aku akan mengobati mu saat kit sudah sampai di istana."
"Aku tidak apa-apa, ini tidak terasa sakit kok, aku hanya takut dimarahi bibi, pasti dia mengiraku berkelahi…, dan aku akan dihukum…" Lei tampak kebingungan.
"Tidak apa-apa, kau jelaskan saja yang sebenarnya," saran Shen sambil merangkulnya.
"Tetap saja aku akan kena marah, bibi bilang untuk menggunakannya pada penjahat saja, tapi itu juga bukan salahku kan? Dia yang ingin mengganggu kita, semoga saja dia tidak mati…."
Tidak terasa, mereka sudah sampai di istana Gongmen, Tower of Sacred Flame, Soothsayer dan Shen pun segera turun, tetapi Lei diam ditempatnya, ia menatap istana Gongmen yang megah itu dengan kagum, maklum saja karena baru kali ini dia melihatnya sedekat ini.
"Lei! Ayo….!" Panggil Shen berusaha menyadarkannya kembali, Lei pun bergegas turun dan menyusul Shen dan Soothsayer.
.
.
.
"Wow…, istana ini besar sekali…, kau bisa tersesat disini Shen…," gumam Lei yang tak henti-hentinya menunjukkan kekagumannya, Shen hanya tertawa kecil.
"Yah, aku sudah lama tinggal disini, dan semuanya masih terasa membingungkan…"
Lei berhenti melangkah saat melihat tangga yang sangat tinggi sampai ke lantai paling atas dari istana itu.
"Tunggu, apa kamarmu ada di paling atas?" tanya Lei terkejut.
"Ya," jawab Shen singkat.
"Maksudmu, kau harus naik benda ini setiap hari?" Lei menunjuk tangga didepannya, Shen mengangguk sebagai balasan.
"Tidak apa-apa nak, tidak akan terasa capek kok…," Soothsayer tersenyum pada Lei, ia pun mulai berjalan menaiki tangga itu.
"Bisa mati aku…" gumam Lei, Shen pun menggenggam sayapnya.
"Ayolah Lei, kalau kau semangat pasti tidak akan terasa capek, ingat…, aku menaiki tangga ini setiap hari..,"
"Kau kan sudah biasa," balas Lei yang diikuti tawa Shen.
Mau tidak mau pun Lei harus menaiki tangga itu, akhirnya setelah perjuangan yang sangat besar, ia sampai di lantai paling atas istana Gongmen City, walau ia lelah lahir batin tetapi ia sangat senang.
"Akhirnya.., ya tuhan…" ujar Lei dengan nafas yang tersenggal.
"Ibu…!, ayah…!" seru Shen saat melihat orang tuanya yang ada di ruang singgasana, raja dan ratu itu pun memeluk anak mereka.
"Hai Shen, bagaimana dengan sekolahmu..?" tanya Lady Fen dengan seulas senyuman diwajahnya.
"Menyenangkan sekali…., umm, sepertinya…" jawab Shen, teringat lagi dengan insiden di belakang sekolah tadi.
"Dan ayah lihat kau membawa seorang teman?" Lord Baojia melirik Lei yang sedari tadi terdiam.
"Yang mulia…" Lei pun menunduk hormat kepada mereka.
"Tidak perlu seperti itu nak, kemarilah…" ujar sang raja lembut, walau ragu tetapi Lei tetap mendekat.
"Ayah, Ibu, dia ini sahabatku yang paling baik sedunia, namanya Lei, saat aku dibully dialah yang membantuku, dia selalu membantuku setiap saat…" kata Shen memperkenalkan temannya itu dengan semangat.
"Terima kasih nak, karena kau sudah membantu anak kami…" ucap Lady Fen sambil tersenyum.
"Sama-sama yang mulia, suatu kehormatan bagi saya…"
"Ngomong-ngomong kau manis sekali…," Lady Fen tampak gemas dengan Lei, Lord Baojia yang berdiri disampingnya hanya menahan tawanya.
"Orang-orang mengatakan hal yang sama…" balas Lei sambil bercanda, keluarga kerajaan itu pun tergelak bersama.
"sudah kubilang kan..," bisik Shen pada Lei yang dibalas anggukan olehnya.
"Tapi kenapa dengan matamu?" Lady Fen menunjuk mata kanan Lei.
"Eh…, aku…" Lei bingung, ia tak tahu harus menjawab apa, ia berusaha menemukan jawaban yang tepat tanpa memberitahu yang sebenarnya.
"Menabrak tiang yang mulia," akhirnya, sebuah jawaban yang masuk akal.
"Oooh, begitu.., Ah-Ma? Bisa kah tolong mengobatinya…?" pinta Lord Baojia pada sang peramal.
"Tentu yang mulia, kemari nak..," Soothsayer pun menggandeng sayap Lei,
"Aku ikut…!" seru Shen, Lord Baojia dan Lady Fen hanya tersenyum melihat kelakuan anaknya.
"Dia berubah sekali, ya kan…?" tanya Lady Fen pada suamninya, meminta pendapat. Lord Baojia mengangguk.
"Mungkin karena dia berteman dengan gadis kecil itu, jika memang dia yang telah membuat Shen bahagia, aku sangat berterima kasih padanya…" jawab Lord Baojia.
Mereka tersenyum sekali lagi.
.
.
.
"Hmm, kelihatannya ini tidak apa-apa, kau tutupi saja mata kananmu dengan tutup mata yang sudah kuberi obat ini, dalam satu minggu pasti lukanya langsung sembuh…." Soothsayer memberi Lei sebuah tutup mata berwarna hitam mirip bajak laut, tetapi sudah ia masukkan obat khusus.
"Oh keren, aku akan kelihatan seperti bajak laut sungguhan…!" seru Lei girang sambil memakai tutup mata itu.
"Baru kali ini kulihat ada orang yang senang karena terluka…" batin Soothsayer tak habis pikir.
"Jadi, jika bibi mu bertanya bagaimana?" tanya Shen.
"Bilang saja kalau ini adalah bagian dari kostum drama sekolah, dan aku harus berlatih menggunakannya…" jawab Lei, Shen mengernyit.
"Memang dia akan percaya…?"
"Iya, dia baik kok, dia selalu percaya denganku…"
"Oh iya Lei, ada yang ingin kutunjukkan padamu…" Shen menarik Lei keluar dari ruangan Soothsayer.
"Apa?"
"Kau lihat saja, pasti kau senang,"
Ternyata Shen mengajaknya ke balkon istana yang amat luas, Lei pun segera berdiri dipinngir balkon itu, melihat pemandangan kota Gongmen City yang sangat indah.
"Wow.." hanya itu yang mampu ia ucapkan, melihat Gongmen City dari atas sini memang menakjubkan.
"Disini keren sekali…" ujar Shen sambil berdiri disampingnya.
"Apalagi kalau malam tahun baru, kau bisa melihat kembang api tanpa ada halangan…"
"Hey, bukannya orang tua mu menemukan kembang api?" tanya Lei, Lord Baojia dan Lady Fen memang yang menemukan kembang api, karena itulah Gongmen City terkenal akan penemuan kembang apinya.
"Ya, begitulah, ayahku membangun pabrik kembang api itu…" kata Shen sambil menunjuk pabrik kembang api yang Lord Baoija bangun didekat Tower of Sacred Flame.
"Dia bilang aku harus mengembangkannya saat aku sudah dewasa," lanjutnya.
"Memangnya kau boleh bermain kembang api? Itu kan bahaya.., yah kalau tidak ada orang yang mengawasi…" Lei mengusap mukanya, ternyata dingin juga disini.
"Oh, tidak..," Shen menggeleng, "Tadi kan kubilang saat aku 'DEWASA'.."
"Iya ya hehehe…"
"Hey Lei.."
"Hmmh?"
"Kau mau bermain petak umpet?" ajak Shen.
"Ayoo!" seru Lei girang, ia memang sudah lama tidak main petak umpet.
"Baiklah, kau yang jaga…" Shen menunjuk dinding, "Hitung sampai 10, dan jangan mengintip..,"
"Iya.." Lei mengibaskan sayapnya, "Aku ini sportif.., baiklah ayo kita mulai…."
Lei pun segera menghadap dinding dan menutup matanya,
"1…."
Shen mengedarkan pandangannya, mencari tempat yang cocok untuk bersembunyi, merasa sudah menemukannya, ia pun langsung berlari ketempat itu.
"3…"
"Eh, setelah satu tiga kan?" gumam Lei, lagi-lagi amnesia mendadak.
"2…, 9…, 7…."
"10!"
"Siap atau tidak aku datang Shen!" serunya, ia pun mulai menyusuri balkon istana itu, setiap inchi tak ada yang ia lewatkan, namun Shen tidak terlihat dimanapun.
"Shen? Kau dimana?" panggil Lei, ia merasa frustasi.
Tiba-tiba terdengar suara Shen berteriak.
"Tolong…!"
"Itu Shen!" Lei merasa was-was, apa ada sesuatu yang terjadi pada Shen?
Ia pun mengikuti asal suara itu berasal, betapa terkejutnya ia saat menemukan Shen dibekap oleh sekelompok penculik, yang terdiri dari leopard, banteng dan buaya.
Belum lagi ia mampu berkata apa-apa, mereka sudah memukulnya dari belakang, seketika pandangannya pun gelap.
.
.
.
"Hey, kenapa tidak ada suara mereka…?" tanya Lady Fen yang merasa ganjil dengan keheningan ini, tadi mereka dapat mendengar suara Shen dan Lei, sekarang sunyi senyap.
"Entahlah…, biar kuperiksa mereka.." Lord Baojia pun segera melangkah menuju balkon istana, ia tidak dapat menemukan mereka, tetapi ada selembar kertas yang ditempelkan di pinggir balkon, sang raja pun segera mengambil dan membacanya.
Yang mulia Raja dan Ratu…,
Anak kalian bersama kami, begitu juga dengan temannya, kami berharap kalian menyiapkan sejumlah uang dan datang ke rumah kosong yang ada di jalan SengHuo, untuk menyelamtkan anak kalian.
Jika kalian tidak melakukannya, kami akan membunuh mereka, INI BUKAN LELUCON,
Semoga hari anda menyenangkan Raja dan Ratu yang mulia.
