Untung saja kemarin sore Sasuke sudah kembali ke mode profesionalnya setelah membuatku deg-degan karena sikap diamnya. Aku suka melihat wajah seriusnya, membuatnya makin tampan, tapi aku lebih suka mendengarnya berbicara.
"Hari ini, kita akan pergi ke Pasar Tsukiji. Memang sekarang sudah pindah ke Toyosu, namun kita bisa sekalian mengunjungi Outer Marketnya, lalu melihat-lihat Tsukiji Hongwanji dan juga makan tamagoyaki dan chirashizushi legendaris disana!" katanya dengan semangat.
Sesampainya disana, aku jadi semakin yakin, Jepang adalah negara terbaik di dunia.
Aku pergi ke Pasar Tsukiji dan memakan Chirashi Zushi, semangkok nasi dengan sashimi dan hidangan laut mentah, dan aku tidak merasa keracunan makanan ataupun sakit pencernaan setelahnya.
Aku merasa mengunjungi Jepang membuat seleraku pada makanan menjadi tinggi. Penduduk Jepang memang penggila makanan yang masih fresh, seperti yang kumakan di Pasar Tsukiji. Selain itu mochi daifuku yang aku beli di stand random di stasiun, jujur saja masih lebih enak dibanding kue yang aku beli dengan harga sama di New York.
Ngomong-ngomong, aku baru tahu kalau ternyata telur bisa dimasak berbentuk persegi panjang dan dimakan dengan stik kayu. Aku jadi tertarik membeli teflonnya.
Selain itu, saking amannya Tokyo, aku tidak perlu memegangi tas selempangku sepanjang waktu, karena tidak ada yang akan mencopet di subway di jam yang ramai dan penuh sesak sekalipun. "Kadang-kadang pria hidung belang atau chikan beraksi merogoh rok gadis SMA," kata Sasuke.
Sasuke selalu penuh dengan informasi, baik penting maupun tidak. Aku memang sedikit malas mencari tahu soal suatu tempat yang aku datangi untuk liburan, cenderung hanya datang dan lihat nanti apa yang terjadi. Apalagi setelah ada Sasuke sebagai tour guide, aku tidak terlalu banyak memikirkan soal mau kemana dan makan apa setelah ini.
Jadi sebenarnya... aku ini mau travelling atau wisata kuliner? Atau lebih tepatnya... ikut kemanapun Sasuke mengajakku?
Aku mengiyakan saja saat Sasuke mengajakku untuk mengikuti Workshop membuat "Replika Makanan", atau yang biasa disebut Sampuru di Asakusa. Aku sangat kagum saat melihat hasil buatan tangan toko tempat workshop tersebut diadakan. Toko-toko inilah yang menyuplai pesanan replika makanan yang dipajang di etalase di depan restoran di seluruh Tokyo. Semua restoran di Jepang memajang Replika Makanan di depan etalase mereka, untuk memudahkan calon pelanggan membayangkan makanan yang mereka sajikan. Mereka bisa membuat mulai dari sushi sampai es krim bahkan pizza dengan bentuk dan warna yang sangat mirip dengan aslinya, tapi tidak dengan bau dan rasanya, tentu saja.
"Ini ada dua kelas, Naruto-san," kata Sasuke. "Kelas pertama mengajarkan membuat replika sushi, dan yang kedua membuat replika ramen. Anda mau ikut yang mana?"
"Yang ramen saja. Aku suka ramen."
"Baiklah, akan saya daftarkan untuk Naruto-san."
"Loh, kau tidak ikut, Sasuke?"
"Tidak usah, Naruto-san. Saya akan tunggu di coffee shop di seberang jalan."
"Eits," aku memegang lengannya. "Kita akan belajar bersama-sama. Kau harus bertanggung jawab karena sudah mengajakku kesini."
"Oke," jawabnya lalu tersenyum tipis.
Sang pengajar rupanya tertarik melihat seorang bule ikut belajar membuat replika ramen di kelasnya. "Mister? Mister speak Japanese?" tanyanya dengan aksen Jepang kentalnya lalu menunjukku. "Haik," jawabku. "Good good! Okay! Thankyou! Fighting!" katanya lalu mengangkat kedua jempolnya dan tersenyum padaku.
"Kenapa harus bertanya seperti tadi?" bisikku pada Sasuke saat sang pengajar sedang menjelaskan cara menyusun adonan 'mie' dari lilin itu."Paman itu berniat memastikanmu bisa bahasa Jepang, karena beliau tidak bisa bahasa Inggris," jawabnya, masih sibuk meletakkan 'nori' dan 'telur setengah matang' di mangkoknya. "Ah sudah selesai." Sasuke lalu melihat hasil perkerjaanku. "Eh? Kenapa bentuknya seperti itu?"
Aku nyengir. 'Chashu' nya kubuat menyelimuti telurnya, seperti selimut anak bayi, dan 'tempura' nya kususun berbentuk X agar anti-mainstream. Lalu 'nori' nya kubuat menggulung 'tempura'. Sasuke berdecak, lalu membongkar semuanya dan menyusunnya ulang.
"Hey, Sasuke. Lalu sekarang apa bedanya hasil pekerjaanku dengan punyamu?" tanyaku bingung, walaupun memang terlihat lebih rapi.
"Kalau kita diajari sesuatu oleh pengajar, ya kita ikuti, Naruto-san. Hidup akan lancar kalau kita mengikuti peraturannya." jawabnya dengan wajah serius.
Sasuke memang tipikal orang Jepang asli. Menuruti hukum dan peraturan yang berlaku untuk membuat semua berjalan dengan normal dan lancar, sesuai yang diinginkan semua orang.
Ngomong-ngomong, hal menarik tentang "belajar kebudayaan Jepang" adalah ada kelas workshop seperti ini dimana-mana. Sasuke sempat menawariku kelas membuat mochi, kelas membuat keramik, lalu kelas merangkai bunga, bahkan kelas menari yosakoi.
Aku meringis. "Sasuke, aku sudah cukup membuat barang, oke? Aku lebih suka membuat memori yang menyenangkan," kurangkul pinggang Sasuke. "Kita bisa menggunakan waktu kita untuk melakukan hal lain."
"Baiklah, mau ke kuil Senso-ji?" tawarnya. Aku menggeleng. "Aku kemarin melakukan risetku sendiri, dan menemukan kalau ada tempat yang lebih keren dari kuil Senso-ji."
"Hm? Di mana itu?"
"Sumida River. Aku akan membeli roti tawar di konbini, dan kita bisa memberi makan burung merpati disana," kataku lalu melesat ke konbini, meninggalkan Sasuke yang termangu.
"Anda serius, Naruto-san? Saya bahkan tidak pernah mengajak siapapun kesana untuk memberi makan burung merpati." katanya saat aku menyuwir roti tawar tersebut kecil-kecil. Beberapa ekor burung merpati mulai berkumpul di kakiku.
"Lihat," kataku, lalu meletakkan potongan-potongan roti itu di tanganku, dan tak lama burung-burung merpati pun berterbangan. Saking hebohnya, mereka sampai bertengger di bahuku dan kepalaku. Aku tertawa melihat kehebohan burung-burung merpati itu, bahkan beberapa ada yang memasukkan kepala mereka ke dalam plastik rotiku.
"Sasuke, ayo kesini!" teriakku. "Mereka semakin banyak! Aku butuh bantuan!"
Sasuke tersenyum dan mengambil potongan roti lalu menyebarkannya di udara. Suara gaduh kumpulan merpati-merpati itu memanggil banyak burung camar dari seberang sungai, yang tidak ikut makan roti tapi hanya ikut meramaikan saja.
Momen ini terasa begitu surreal buatku. Ketika banyak burung merpati itu mengelilingi kami berdua, dan membuat tubuh kami semakin dekat dan semakin dekat.
Aku hampir saja mencium Sasuke kalau saja seekor burung merpati tidak menabrakku dan memakan potongan terakhir roti yang tertinggal di tanganku. Kupaksakan tawa canggung, dan Sasuke ikut tersenyum sambil membersihkan bahuku dari remah-remah roti yang tertinggal.
Sasuke menawarkan untuk memotretku di monumen 'Api Emas' atau yang lebih sering disebut 'Poop Emas' yang ikonik itu. Aku mengiyakan saja, dan aku tidak dapat menahan tawaku ketika Sasuke menceritakan alasan kenapa monumen itu begitu absurd.
"Monumen itu milik Perusahaan Bir Asahi. Konon katanya, mereka rapat sambil mabuk bir Asahi, dan memutuskan untuk membuat bangunan dengan bentuk seperti itu." Katanya. "Sekarang Naruto-san mengerti kan, mengapa bentuknya lebih menyerupai poop ketimbang api?"
"Yeah, yeah." Aku mengacak rambut halusnya. "Oh ya, mau makan ramen Ichiran? Kebetulan tempatnya disana." Kataku lalu menunjuk kedai Ichiran di seberang jalan. Sasuke mengiyakan, dan kami berjalan kesana.
Setelah mendapat tempat duduk dan ramen disajikan, aku pun makan dengan lahap. "Sasuke, aku berharap bisa makan Ichiran setiap hari." Kataku lalu menyeruput nikmat kuah ramennya. "enaknyaa.."
"Anda bisa sakit perut, Naruto-san." Katanya lalu meletakkan sumpitnya. "Anda tidak boleh makan mie setiap hari."
Aku mengabaikannya dan tetap membeli ramen Ichiran instan yang ditata diatas meja di belakang tempat Sasuke duduk. Aku tak peduli, toh aku tidak setiap bulan ke Jepang, kalau aku ngidam makan bagaimana?
Malam pun tiba setelah kami bermain seharian di Asakusa. Hanya tinggal satu tempat yang belum kami kunjungi, yaitu kuil Sensoji. Kami sampai disana pukul tujuh malam, dimana semua toko sudah tutup dan tidak ada satu orangpun disana. Kedatangan kami hanya disambut dengan pencahayaan remang-remang dari lampu yang ada.
Anehnya, aku merasa begitu puas berada di tempat ini, malah menurutku ini romantis. Aku tidak merasa sendirian sama sekali, dan aku merasa.. ketika ada Sasuke disampingku, maka bagaimanapun keadaan dunia ini tidak terlalu penting bagiku.
Lampion besar yang tergantung di gerbang Kaminarimon itu kini berada tepat diatas kepala kami berdua. Aku mendongak keatas, berusaha menyentuhnya. Sasuke juga sedikit berjinjit untuk menyentuhnya.
Aku menatap matanya, lalu bahu kami bersentuhan.
Dan hal berikutnya yang aku tahu adalah kami sudah berciuman.
"Ma-maaf, Sasuke. Maaf." Kataku lalu melakukan ojigi. "Aku tidak bermaksud."
Di luar dugaanku, Sasuke melingkarkan lengannya di leherku. "Naruto-san..." bisiknya. Aku memeluk pinggangnya dan menciumnya lagi. Kali ini ciuman itu semakin dalam, dan aku memeluknya semakin erat.
Aku melepas bibirku dari bibirnya ketika kebutuhan akan oksigen menggedor paru-paru kami. Sasuke mengecup bibirku."Naruto-san, anda sudah tidak takut dihakimi lagi?"
"Tidak, tidak ketika aku di Tokyo bersamamu." Kukecup balik bibirnya. Ia tersenyum.
"Mau pulang ke apartemenku?" tanyaku.
Sasuke mengangguk. "Ya."
Esok paginya, kami memutuskan untuk mandi bersama agar menghemat waktu. Aku bercanda dengan Sasuke soal meminum pil KB. "Aku ini laki-laki, Naruto-san." Katanya seusai berkumur. "Mana ada laki-laki minum pil KB?"
Aku tertawa semakin keras, sejak aku mengetahui bahwa Sasuke ternyata bisa sewot juga. Selama ini ia selalu menunjukkan sisi profesionalnya di hadapanku.
"Naruto-san, aku kaget saat kau bilang kau itu gay." Katanya, berdiri di ambang pintu dengan hanya memakai handuk di pinggangnya. "Setahuku di Amerika, para pria gay itu memakai baju yang norak dan agresif saat melihat pria yang mereka inginkan. Sedangkan kau terlihat normal sekali."
"Mereka melakukannya karena mereka mencari perhatian, Sasuke." Jawabku sambil mengeringkan rambut. "Sedangkan aku tidak."
Dan aku tidak akan pernah melupakan wajah serius Sasuke saat ia mengatakan, "Bagus. Karena aku juga tidak suka menjadi pusat perhatian."
Kalau kau mau tahu, aku dan Sasuke tidak melakukan apa-apa semalam. Kami hanya berpelukan dan berciuman sampai tertidur, lalu mandi bersama paginya.
Saat Sasuke keluar untuk berganti baju, aku mematung di depan kaca wastafel, memegangi dadaku. Apakah perasaan ini akan membuatku keras kepala dan menghancurkan diriku sendiri, atau malah menyelamatkanku dari kesepian, aku tak bisa bilang sekarang.
Di sinilah aku, kebingungan dengan perasaanku sendiri.
Atau di sinilah aku, di Tokyo.
"Anda suka menulis diary, Naruto-san?" tanya Sasuke saat kami sedang berada di Harajuku, sedang makan Donburi dengan Roast beef yang menggunung, ditambah cream cheese dan kuning telur setengah matang di atasnya.
"Tidak, kenapa? Kau suka menulis diary?" tanyaku balik.
"Dulu.." Jawabnya lalu melanjutkan menyumpit daging. "Setidaknya kalau suatu hari ada seseorang yang mau membuat autobiografi tentang diriku, mereka sudah punya bahannya."
Aku tertawa kecil. "Itukah cita-citamu, Sasuke? Menjadi orang terkenal?"
Ia menggeleng. "Anda tahu anime dan manga kan? Itu banyak yang diambil dari kisah nyata. Sepertinya akan seru kalau tokoh utamanya gay."
"Aku tiba-tiba tertarik menulis kisah perjalananku selama aku di Tokyo," aku meletakkan sumpitku sebentar. "Dua minggu bersama kekasih Jepangku."
Ia tertawa. "Selesaikan makan anda, Naruto-san, kita akan pergi ke tempat lain setelah ini."
"Ehm, Sasuke, di bibirmu ada saus." Kataku, tanpa membantunya mengelap bibirnya. Aku melihat raut kecewa saat ia mengusap bibirnya sendiri dengan tissue yang disediakan. Tapi Sasuke bilang ia tidak ingin jadi pusat perhatian, dan aku hanya takut orang-orang mengira Sasuke adalah gigolo yang sedang makan siang bersama kliennya. Tapi kurasa orang Jepang terlalu cuek untuk memikirkan apakah dua lelaki yang sedang makan siang di meja sebelah mereka adalah gay atau tidak.
"Ayo kita makan crepes dengan es krim." Kata Sasuke, mengejutkanku. "Huh? Makan crepes dengan es krim di musim gugur begini?" tanyaku bingung. Ia mengangguk. "Aku tau tempat-tempat yang menjual crepe dan es krim yang enak."
Kami berjalan menuju stand crepes berwarna pink terang yang terkenal di Harajuku. Sasuke menyarankan crepes yang diberi topping creme brulee. Aku begitu tidak sabar crepes pesanan kami selesai dibuat, dan ketika dua crepes matcha dan strawberry itu datang, aku bermaksud meminta tambahan tissue. Namun bukannya berkata "sumimasen", aku berkata... "Sumidansen."
Sasuke, menurutku adalah definisi kesopanan yang sesungguhnya. Dia tidak tertawa ketika aku dengan asal menyebut kata-kata dalam bahasa Jepang yang baru aku pelajari. "Tidak apa-apa, Naruto-san, anda harus belajar sabar dengan diri anda sendiri ketika belajar sesuatu yang baru." Terkadang aku merasa dia lebih tua dariku, dengan wajahnya yang selalu tenang dan serius.
Aku mencoba membuatnya tertawa, tapi Sasuke tidak selalu mengerti guyonanku. Humor memang susah dimengerti dalam bahasa kedua, terutama kalau kau adalah seorang lelaki serius seperti Sasuke.
Dia berkata padaku malam itu, "Naruto-san, anda seperti matahari, dan saya seperti bulan. Anda memiliki aura yang begitu cerah, dan saya tidak akan bisa seperti anda."
Dan aku berpikir, Yes, baby! Kau adalah magnetnya, dan akulah besinya. Kau adalah api, dan aku adalah angin!
Tapi tetap saja, Sasuke tidak begitu bereaksi saat tangannya kugandeng. Aku mulai menganggap aku dan Sasuke adalah kekasih sungguhan. Ketika kami menaiki subway, beberapa gadis Jepang yang manis (atau kawaii) terkikik melihat kami yang berdiri berdempetan dan berbisik satu sama yang lain. Jadi begini, gadis-gadis Jepang yang manis, aku akan menjelaskan kalau kami ini... gay, dengan hubungan profesional sebagai tour guide dan klien, tapi Sasuke akan jadi pacarku selama dua minggu.
Baiklah, anggap saja aku sudah menjelaskannya pada mereka.
Awalnya aku berpikir orang Jepang suka makan 'bersih', bebas jeroan, bebas kulit, sedikit minyak dan gorengan, namun malam ini aku menemukan fakta lain. Aku baru tahu ada orang yang doyan memakan bagian-bagian hewan yang dibuang oleh orang lain.
Jadi ceritanya, malam ini kami kembali ke Omoide Yokocho. Tempat kami makan kapan hari sudah penuh, dan kami memutuskan untuk makan di kedai lain.
Waktu itu, Sasuke memesankan yakitori daging ayam tanpa jeroan untukku. Namun kali ini, pemilik kedai mengatakan ia tidak jual daging ayam, ia hanya jual jeroan. Sasuke terbelalak. Pantas saja harganya jauh lebih murah, bisiknya. Karena sudah malas berpindah tempat, aku akhirnya memutuskan duduk saja dan melihat-lihat hidangannya. Siapa tahu masih ada yang bisa dimakan.
Yakitori di kedai itu dihidangkan dengan saus gravy yang berat, penuh mentega, dan umami, membuatnya terlihat begitu enak, tapi... membayangkan itu semua adalah jeroan... ehm...
Aku kemudian mendekati salah satu yakitori yang dihidangkan, ada satu yang kukira adalah daging, tapi ternyata bukan. Bentuknya seperti... rempela, tapi lebih empuk. Aku baik-baik saja melihat semua hidangan itu, sampai aku mencoba untuk membayangkan bagaimana rasa makanan yang ada disebelahnya, kata Sasuke itu usus, dan menurutku, tidak terlihat seperti usus, tapi seperti ular kecil. Aku mengernyit.
"Anda tidak suka?" tanya Sasuke, yang tampaknya menyadari aku tidak nyaman.
"Aku rasa mereka juga tidak akan mau memakannya," kataku, melirik segerombolan turis asal India yang masih bingung mau mengantri di kedai yang mana.
"Mungkin saja mereka mau."
"Mereka tidak akan memakannya, bisa jadi mereka Vegetarian."
"Tapi orang vegetarian bisa makan ini." Tegasnya. "Karena usus bukan daging, Naruto-san. Ini kan organ pembuangan, tempat lewatnya..." ia diam sejenak. "pup," bisiknya
"Oke, ayo pergi, Sasuke, ada baiknya kita beli yakitori di konbini saja." Jawabku lalu menggandengnya pergi.
Terkadang aku memikirkan apa keputusanku berlibur di Jepang ini benar. Ketika aku datang ke Jepang untuk merasakan kesenangan liburan, aku terus memikirkan apakah aku akan sanggup kembali ke New York dengan Sasuke yang membayangi otakku.
"Naruto-san, jawab dengan cepat. Seks atau cinta?" tanyanya dengan tatapan menggoda yang sulit kuartikan.
Aku berpikir Sasuke sedang berusaha mencari jawaban dariku, apakah aku hanya ingin tubuhnya atau hatinya. Jawabannya sederhana: Aku tidak berani meminta yang mana pun padamu selama aku berada di sini. Aku menghormatimu.
Jawaban yang lebih dalam dan jujur: Tentu saja, terkadang aku begitu putus asa dan ingin melakukan... seks denganmu, tapi aku punya moral, dan aku tidak segila itu untuk memaksamu tidur denganku.
Aku suka mencium dan dicium, dan aku hanya akan melakukan ciuman pada Sasuke untuk saat ini, tidak lebih. Aku mencoba menjawab dengan cara sebijak mungkin: "Well, aku tipe yang tidak suka memaksakan segala sesuatunya. Aku tidak akan menggunakan tubuh atau perasaan seseorang untuk memuaskan ke-egoisanku."
Sasuke membawa tanganku ke bibirnya, lalu mencium tanganku sekilas sambil menatap mataku dalam-dalam, dan melepas tanganku.
Malam berikutnya, Sasuke mengajakku melihat Iluminasi di Caretta Shiodome. Tempat ini sangat ramai, dan tidak terlalu luas. Banyak orang sudah berkumpul disini sejak pukul 17.30 untuk menantikan 'konser' cahaya.
Mengapa kusebut konser? Karena Iluminasi Caretta Shiodome dibuat berbentuk tinggi seperti menara kastil, dan kita bisa berjalan masuk dan mengelilingi iluminasinya. Tim jenius dibalik iluminasi ini memasukkan lagu yang berbeda tiap tahunnya, dan lampunya bergerak indah mengikuti lagunya. Tahun ini, lagunya adalah Beauty and the Beast.
Satu hal lagi yang kukagumi soal Jepang, adalah para pengunjung tidak ada satupun yang membuat keributan saat lagu diputar, mereka hanya menggumamkan 'sugoii..' dengan pelan sambil merekam pertunjukan di hadapan mereka.
Tale as old as time
True as it can be
Barely even friends
Then some body bends
Unexpectedly
Aku melirik Sasuke yang juga ikut merekam konser cahaya Caretta Shiodome dengan handphonenya. Aku pun menyanyikan lirik berikutnya dan merangkul pinggang Sasuke.
Just a little change
Small to say the least
Both a little scared
Neither one prepared
Beauty and the beast
Ketika lagu itu mendekati akhir, aku memeluk Sasuke dari belakang, dan membisikkan
Tale as old as time
Song as old as rhyme
Beauty and the beast
Sasuke menoleh, dan aku mencium bibirnya. Ia reflek mendorongku, dan melihat ke sekeliling yang ramai. Untung saja, tidak ada satu orangpun yang melihat kami. Mereka terlalu sibuk dengan kamera handphone masing-masing.
Ngomong-ngomong, lelaki muda di Tokyo yang kutemui selama berada disini menurutku rata-rata tampan, walaupun tidak setampan Sasuke. Saat kami akan turun dari kereta, aku nyaris meninggalkan botol Calpis ku yang masih utuh di bangku. Seorang lelaki di belakangku berlari mengejarku. "Mister! Your bottle!" kata lelaki itu. "Thankyou, jawabku." Aku memperhatikan wajahnya yang putih dan matanya yang bulat, dengan rambutnya yang diwarna cokelat. Ia kemudian tersenyum, dan mau mengatakan sesuatu, tapi melihat Sasuke yang memasang muka judesnya di sampingku, ia tertawa canggung dan langsung pergi.
Aku cukup lega, karena selama di Tokyo aku takut terlalu kentara sebagai seorang gay. "Jangan kuatir, Naruto-san. Sekalipun disini ada pria gay, mereka tidak akan mengganggumu, tidak seperti di Amerika." Kata Sasuke, dengan wajah kalemnya, seakan bisa membaca pikiranku .
Entah aku harus senang atau sedih mendengarnya.
Besoknya, Sasuke mengajakku untuk menonton pertandingan Sumo di Ryogoku Kokugikan .Pengalaman pertamaku menonton ini, adalah sebuah pengalaman yang "sangat Jepang sekali". Aku belajar banyak kata-kata yang baru dan menarik di arena pertandingan yang tidak pernah aku pelajari sebelumnya.
Seperti misalnya, "Mada-mada!" yang berarti "belum waktunya!" ketika menengahi kedua sumo yang siap bertanding, atau "nokotta nokotta!" yang berarti "masih di dalam!" untuk memberitahu sumo yang tidak sempat melihat apakah kakinya sudah diluar garis atau masih di dalam.
Aku sangat beruntung bisa menyaksikan pertandingan ini. Dua lelaki besar yang hanya memakai cawat kain saling menindih dan berusaha membanting satu sama lain, disaksikan seorang wasit (yang juga disebut gyōji ) yang melompat-lompat mengikuti pergerakan mereka.
Sesekali ia berteriak hakke-yoi , yang artinya "ayo lebih semangat!" atau "mana spiritnya?!" Dan ketika pemenang sudah diumumkan, ia berteriak "Shobu-ari!"
Sasuke kemudian mengajakku menemui seorang lelaki besar yang duduk di bangku berjarak 10 orang dari kami. "Itu adalah pesumo yang sudah pensiun," bisiknya. Aku mengekor di belakangnya. Ia kemudian menghampiri lelaki itu, dan lelaki itu tertawa lalu memeluknya. Sasuke mengatakan hal-hal seperti "nakama" yang berarti teman, dan menunjukku.
Lelaki itu kemudian menyalamiku, dan ia mengatakan sesuatu dalam bahasa Jepang, yang diterjemahkan oleh Sasuke."Naruto-san, Takeshi Kotogaume-san mengajak kita untuk makan di restoran Chankonabe nya."
Chanko nabe adalah makanan pesumo yang terdiri dari satu panci besar berisi kaldu, daging, udang, tofu, jamur enoki, udon, jamur shiitake, dan lain-lain, sesuka hati sang pesumo. Aku cukup kaget saat melihat gambar menu chankonabe yang begitu besar disodorkan di hadapan kami. Sasuke menoleh padaku lalu berbicara pada Tuan Takeshi Kotogaume, dan pria itu memberiku menu lain dengan ukuran yang lebih kecil.
Ia lalu mengatakan sesuatu lagi dalam bahasa Jepang, yang diterjemahkan lagi oleh Sasuke. "Inilah rahasia tubuh besar kami, chankonabe!" lalu lelaki itu menepuk-nepuk dadanya dan mengangkat lengannya yang besar, lalu melakukan pose layaknya binaraga. Aku pun bernafas lega saat melihat satu panci chankonabe yang porsinya lebih manusiawi, setidaknya aku dan Sasuke tidak akan kepayahan menghabiskannya.
"Kite kurete arigatou gozaimasu!" katanya lalu membungkuk di depan kedainya saat kami keluar.
Ah, aku cinta Jepang. Sejak hari pertama aku datang, aku mencoba belajar sekitar dua puluh kata Jepang dalam satu hari. Aku selalu belajar, bahkan tulisan di onigiri konbini dan di pengumuman yang ditempel di jalan pun tidak luput dari perhatianku.
Ngomong-ngomong, sejak kapan otakku bisa mengingat sehebat ini? Aku berharap suatu hari otakku akan melupakan semua pikiran negatif ku, lalu diganti dengan kata-kata keren ini. Aku mati-matian belajar bahasa Jepang, dan aku tetap berharap suatu hari, semua ini akan bisa kuucapkan dengan lancar dan sempurna.
Suatu hari aku akan membuka mulutku dan berbicara tanpa berpikir terlalu lama. Mungkin saja aku bisa membuat Sasuke jatuh cinta padaku, dan bukan hanya melongo saat ia menanyakan jenis komik yang kucari ke pelayan toko di Animate store Ikebukuro, yang ternyata berjudul Rurouni Kenshin.
Namun pengalaman ini benar-benar tidak terlupakan. Sasuke dan aku menikmati waktu kami mengajari bahasa satu sama lain. Suatu sore, ketika kami sedang menunggu lampu iluminasi menyala di Tokyo Dome, Sasuke menanyakan kepadaku kata-kata apa yang digunakan untuk mengucapkan cinta ke seseorang dalam bahasa Inggris.
"I love you" jawabku.
"Huh? Lalu bagaimana kalau kau mencintai orang itu, tapi tidak se-cinta itu?"
"I like you?"
"Bukan-bukan!" katanya.
Ia lalu menjelaskan bagaimana di bahasa Jepang, ada daisuki dan aishiteru. Kau mengatakan Aishiteru saat kau benar benar benar mencintai orang tersebut, dan kau tidak bisa mencintainya lebih dalam lagi. Sedangkan daisuki lebih sering digunakan kalau kau menyukai seseorang, tapi belum sampai tahap sangat mencintai.
"Lalu, apakah kau pernah mengucapkan kata aishiteru pada seseorang, Sasuke?" tanyaku lalu melirik kedua jempolnya yang ia mainkan, tanda ia sedang nervous.
"Tidak." Jawab Sasuke. "Daisuki pun tidak."
Dan ketika lampu-lampu di Tokyo Dome itu menyala tepat pukul 17.30, aku membawanya ke dalam pelukanku. Kudekatkan bibirku ke telinganya dan berbisik,
"Biarkan aku mengatakan hal ini padamu, daisuki desu ne, Sasuke."
Sementara itu, reffrain sebuah lagu lawas mengalun merdu di antara matahari terbenam dan nyala lampu iluminasi Tokyo Dome.
Strumming my pain with his fingers
Singing my life with his words
Killing me softly with his song
Killing me softly with his song
Telling my whole life with his words
Killing me softly with his song
