Standar disclaimer: applied

.

.

.

Naruto tersenyum melihat apartemen bernomor 203 di hadapannya. Kalau boleh jujur, ia masih merasa sangat lelah. Penerbangan selama lebih dari sepuluh jam dari New York ternyata cukup menguras tenaga pemuda Uzumaki itu. Namun, itu semua tidak menjadi penghalang baginya untuk segera menemui sang kekasih yang sudah dua minggu ini tidak bisa ia temui.

Rindu.

Ya, Naruto sangat merindukan kekasihnya. Ia merindukan senyum manis dari bibir mungil sang kekasih. Ia merindukan rona merah di wajah sang kekasih yang setia menghiasi wajahnya setiap kali mereka bertemu. Ia merindukan suara lembut dan merdu kekasihnya saat memanggil namanya. Ia merindukan hangat tubuh sang kekasih di pelukannya…. Semuanya… Ia merindukan semua yang ada pada diri kekasihnya.

Tanpa ragu, ia menekan bel di samping pintu tersebut. Senyum di wajahnya semakin lebar saat mendengar suara balasan sang kekasih dari dalam apartemennya, disusul dengan pintu apartemen yang terbuka. Menampilkan sosok gadis berambut indigo panjang dengan sepasang mata amethyst yang tampak terkejut melihat sosok yang ada di hadapannya.

"Na-Naru-"

Kata-katanya terhenti saat Naruto segera merengkuh gadis itu dalam pelukannya. Aroma lavender yang menyapa indra penciumnya membuat Naruto semakin mengeratkan pelukannya.

"Tadaima, Hinata-chan… Aku merindukanmu…" gumam Naruto, menikmati kehangatan yang menyelimuti seluruh tubuhnya. Sementara Hinata yang mendapat pelukan tiba-tiba itu harus berusaha sekuat tenaga untuk tidak pingsan akibat ulah kekasihnya ini. Perlahan Hinata melepaskan diri dari dekapan Naruto.

"Na-Naruto-kun… Kapan kau pulang? Ke-Kenapa tidak mengabariku dulu?"

Naruto tersenyum. "Aku baru saja sampai. Hehehe, aku sengaja ingin membuat kejutan untukmu. Aaahhh, aku benar-benar merindukanmu, Hinata-chan…"

Naruto hendak merengkuh gadis itu kembali ke pelukannya, namun buru-buru Hinata menghindar. "I-Ini di depan pintu… Naruto-kun… Nan-Nanti ada yang melihat… Le-Lebih baik kita masuk saja…"

Naruto mendengus kesal. "Huhhh… Baiklah."

Mereka masuk ke dalam apartemen yang sederhana milik Hinata. Naruto segera duduk di sofa yang terletak di ruangan tengah apartemen itu. Baru saja Hinata ikut duduk di samping Naruto, handphone miliknya berbunyi nyaring.

Kiba calling…

Hinata segera mengangkat panggilan itu. "Ya… Kiba-kun? Aahh… Rapat besok? Aku sudah menyuruh Ino-chan mempersiapkannya… Iya, wakil perusahaan Nara akan datang… Iya aku mengerti… Akan aku sampaikan padanya"

Naruto menggembungkan pipinya. Huh! Sudah capek-capek datang ke sini, kenapa Hinata malah asyik mengobrol sendiri? Sedikit merasa kesal karena merasa tidak dihiraukan oleh sang kekasih, Naruto mengenggam tangan kiri Hinata yang bebas dan mencium punggung tangannya mesra.

Cup!

Hinata terkejut saat merasakan sentuhan bibir Naruto di punggung tangannya. Mencoba untuk menghiraukan detak jantungnya yang semakin cepat dan tetap fokus dengan pembicaraannya dengan Kiba, Hinata melepaskan tangannya dari genggaman Naruto dan membalikkan tubuhnya membelakangi Naruto.

"Ahh iya, Kiba-kun… Perjanjian Kerja Sama ini pasti akan berjalan lancar. Aku yakin mereka akan setuju untuk bekerja sama dengan ki- Aaahhh~"

Tubuh Hinata menegang saat Naruto mencium tengkuk lehernya. Sekali… Dua kali… Tiga kali… Naruto terus mengecup leher Hinata dengan pelan nan mesra. Membuat Hinata tidak mampu lagi menahan desahannya.

"Hinata, kau kenapa? Kenapa suaramu seperti itu? Kau baik-baik saja?"

"I-iya aku tidak apa-apa.. Kyaaa! Matte, Naruto-kun…"

Cup!

Tidak menghiraukan protes dari Hinata, Naruto segera membalikkan lagi tubuh Hinata dan langsung mencium bibirnya. Diciumnya bibir Hinata lembut hingga ciuman itu berubah menjadi lumatan yang menuntut. Dilumatnya bibir Hinata dengan gemas. Sementara lengan kirinya memeluk pinggul gadis itu dengan sangat erat.

"Halo? Hinata? Kau masih di sana kan? Hina-"

Klik!

Tanpa persetujuan sang pemilik, Naruto menutup handphone di tangan Hinata dengan tangan kanannya. Sejenak ia melepaskan ciumannya dari Hinata, membiarkan gadis itu menghirup oksigen sebanyak mungkin.

"Kau tahu, Hinata-chan… Aku sengaja datang ke sini agar aku bisa segera bertemu denganmu… Tapi kau malah tidak menghiraukan aku dan lebih memilih berbicara dengan Kiba… Aku benar-benar merasa cemburu lho, Hinata-chan~"

Hinata masih mencoba menormalkan nafasnya. "Ma-Maafkan aku… Aku tidak… Hmmphhh"

Kembali Naruto mencium bibir mungil kemerahan milik Hinata. Diselipkannya lidahnya ke rongga mulut Hinata, mencoba menyesap rasa yang sudah sangat ia rindukan. Setiap gerakan dari lidah Naruto yang ada di dalam mulutnya membuat Hinata kewalahan. Tak elak hal itu membuat wajah Hinata semakin memerah. Jantungnya semakin berdetak kencang saat Naruto semakin merapatkan tubuhnya, tanpa celah semili pun. Tangannya pun membelai rambut indigo itu, mendorongnya agar lidahnya dapat lebih dalam lagi menjajah rasa yang ada. Manis. Itulah yang dapat Naruto katakan setiap dia menyelami bagian tersebut. Manis yang sangat memabukkan.

"Mmhh.. Nnhhggh.. Cu-cukup.. Aahhnn.. Na-Naruto-kun.."

Dua nafas tersenggal. Naruto menjauhkan bibirnya hingga terlihat benang tipis yang menyambungkan kedua ujung lidah mereka. Meninggalkan bukti ciuman mereka yang sangat intim itu.

"Anak nakal harus dihukum, Hinata-chan!"

Dan Hinata harus kembali merelakan bibirnya diklaim untuk kesekian kalinya oleh kekasihnya itu.

.

.

.

FIN

A/N: Okke… Jadi Fic ini adalah kumpulan drabble atau ficlet yang menceritakan tentang adegan 'kissing' NaruHina di berbagai tempat dengan situasi dan kondisi yang berbeda juga. Dapat insipirasi pas lihat video di youtube hehehe. Semoga pada suka yaaa... Oh ya, minna-san juga boleh request kok, mau di mana adegan kissing selanjutnya dan dalam situasi dan kondisi seperti apa ^^

See u in next chap!

Mind to review?