Disclaimer:

Naruto Masashi Kishimoto

Fate Type Moon

.

Pair : (Naruto X ...)

Q : Update lu kelamaan coeg!

A : maaf sudah lama bukannya fokus pada fic ini malah tambah beberapa fic baru, sungguh Shiro menyesal maafkan kesalahan shiro Ini teman-teman :D

Summary :

Naruto Uzumaki seorang leader dari salah satu geng Motor yang hidup dalam gemerlap harta namun tanpa kasih sayang Orangtua mencoba hidup bersama Arthuria Pendragon, gadis yang dari kecil besar dalam panti asuhan! Bagaimana kehidupan dari Naruto yang mencoba hidup di Panti Asuhan dan Arthuria yang berusaha membuat Naruto memaafkan kedua Orangtuanya?

Chapter 2 : Kenapa hidupku seperti ini?

13 tahun yang lalu

Di sebuah pohon pada suatu pekarangan rumah yang lebih disebut sebuah mansion bak istana pada negeri dongeng yang sering di jumpai pada buku pengantar tidur

Di pohon itu ada seorang anak kecil berusia sepuluh tahun sedang bermain dengan seekor anak anjing yang berlarian kesana kemari dengan piringan berbahan plastik yang selalu di tangkap saat anak kecil itu melemparnya di udara

"Bagus kurama ayo kita bermain lagi" anak itu terlihat sangat senang saat anjing miliknya menggonggong dengan semangat merespon ajakan si anak

Anak itu adalah Uzumaki Naruto Namikaze dengan semua yang ia miliki membuatnya sedikit senang namun di lain sisi ia sangat sedih memiliki kedua orang tua yang sangat sibuk

Uzumaki Kushina adalah ibu dari Naruto siapa yang tidak kenal wanita karir ini selama lima belas tahun menjadi seorang designer yang sukses sampai ratu Elizabeth dan juga Michelle Obama memesan sebuah pakaian pada kushina hingga akhirnya ia bertemu dengan CEO dari Namikaze corp. Minato Namikaze ia adalah ayah Naruto CEO dari Namikaze corp yang menguasai beberapa bidang ekonomi di jepang pasangan yang sangat serasi hingga akhirnya Naruto lahir di dunia yang tak mengenal mana baik dan buruk

Naruto kecil sudah memulai apa yang di inginkan oleh orangtuanya sekolah di sekolah elite dengan pendidikan Premium Quality dari awal ia mengenyam bangku pendidikan kemudian les musik yang ibunya inginkan ia ikuti hidup bagaikan robot yang selalu mengikuti program yang telah di buat

Di saat Naruto sedang bermain salah seorang butler menghampirinya dengan pandangan lembut butler itu berbicara kepada tuan mudanya

"Naruto-sama kendaraan sudah siap" anak itu terlihat bingung sejak kapan ia meminta untuk menyiapkan kendaraan? Melihat tuan mudanya mengeluarkab ekspresi bingung Butler itu mengambil inisiatif untuk menegaskan perkataan sebelumnya

"Kushina-sama memberitahuku untuk menyiapkan kendaraan ia berkata bahwa anda ingin pulang ke rumah Arashi-sama dan saya sudah mempersiapkannya jadi kapan kita akan pergi?" penjelasan butler itu membuat Naruto mengerti bahwa apa yang ia pinta sudah di penuhi oleh sang ibu

"Baik jika begitu mari kita berangkat ke rumah Jii-san!" pada saat itu Naruto kecil sangat senang hingga menarik pergelangan pakaian si butler sampai pada halaman depan mansion yang sudah terparkir mobil Role Royce

Satu hal yang membuat Naruto kecil senang adalah saat-saat kebesamaan dengan sang kakek, Uzumaki Arashi. Kakeknya sangat menyayanginya bukan hanya tentang materi namun pelajaran tentang hidup ia terima dari sang kakek karena ajaran itulah membuat Naruto menjadi pribadi yang tidak sombong pada sesama manusia hanya karena hartanya yang berlimpah ruah.

Setelah tinggal beberapa bulan di rumah Arashi, Naruto bersedih setelah mendapatkan kabar dari salah satu Maid di rumahnya bahwa anjingnya, Kurama telah mati sangking sedihnya ia mengurung diri selama tiga hari pada kamar kecil yang ia tinggali

"Naruto-chan apa kau didalam? Keluarlah ada yang ingin Jii-san bicarakan" pintu kamar itu terbuka dan menampakan wajah Naruto yang seperti orang kurang tidur dengan bagian pelupuk mata yang lebam karena menangis sepanjang malam

"Ada apa jii-san?" Arashi tersenyum karena ia telah menduganya bahwa cucu nya akan keluar dari kamarnya

Dihadapan Naruto saat ini ada sang kakek yang sudah tua dengan keriput di wajah tuanya namun masih semangat melakukan kegiatannya

"Mari ikut jii-san, kita pergi ke halaman belakang" mendengarnya Naruto mengikuti kemauan sang kakek mengikutinya di belakang punggung orang tua yang sangat menyayanginya lebih dari orangtuanya

Saat sampai di halaman belakang ada sebuah gazeboh yang terbuat dari bambu yang kokoh hingga dapat menahan beban satu keluarga

"Kau bersedih karena Kurama mati?" Naruto kecil yang ditanyai hanya mengangguk membenarkan ucapan sang kakek

"Kau boleh bersedih tapi jangan sampai membuatmu sakit..." Arashi menatap wajah sedih Naruto yang tertunduk mencoba menutupi jejak air mata yang membasahi pipi "...semua yang hidup akan meninggal tak terkecuali kakek juga" setelah mendengar ucapan sang kakek ada rasa sedih melebihi kehilangan anjing peliharaannya yang sudah bersama dengan Naruto sejak anjing itu berumur satu bulan

Setelah beberapa percakapan ringan Arashi meninggalkan Naruto sendirian di gazeboh itu dengan perkataan terakhir yang mengena pada hatinya "jadikan lukamu sebagai penguat hatimu"

Skip Time, 3 tahun kemudian

Mulai hari ini Naruto berusia tiga belas tahun dan memasuki bangku sekolah menengah ia sangat senang namun kesenangannya seketika lenyap ketika suatu malam ia mendengar pertengkaran ayah dan juga ibunya.

"Anata, ini bekas lipstik siapa?" nyonya Uzumaki itu terlihat marah saat menemukan bekas bibir dengan lipstik ada pada kerah baju milik suaminya. Pada awalnya Naruto hanya diam dan berfikir bahwa itu akan cepat berlalu namun situasi malah bertambah buruk saat ia mendengar suara desahan di ruangan khusus kamar tamu saat ayahnya masih ada di luar kota

"Ah~ I iruka-kun ku mohon lebih cepat ah~" saat mendengar nama Iruka saat itu Naruto mulai mengitip apa yang dilakukan oleh semua ibunya

Deg...

Mata Naruto melebar saat melihat ibunya sedang bercinta dengan kepala Butler di mansionnya dengan wajah yang menjulurkan lidahnya dan menatap langit-langit kamar sedangkan Iruka hanya memejamkan matanya merasakan nikmat pada bagaian selangkangannya.

Saat itu hati kecil Naruto terluka dan juga kecewa karena ibunya melakukan perbuatan yang tercela... Berselingkuh saat suaminya tidak ada.

Suatu hari yang cerah Naruto sedang duduk di sofa ruang tamu namun ayahnya datang dengan seorang wanita cantik berambut coklat dan langsung menuju ruang kerjanya yang ada di lantai dua.

Semua berjalan seperti biasa seperti hari-hari sebelumnya namun kemudian suara desahan kembali ia dengar dan itu berasal dari salah satu ruangan di lantai atas

Langkah kakinya mengikuti suara desahan yang kembali terdengar seperti tertahan sesuatu dan semua suara desahan yang ia dengar hari ini berasal dari ruang kerja milik sang ayah

Krieet...

Sedikit membuka pintu itu tanpa diketahui oleh orang yang ada didalam yang sedang bercinta dengan peluh membasahi tiap-tiap inci bagian tubuh manusia berbeda kelamin

Melihat kegiatan dewasa itu bukannya membuat Naruto senang malah perasaan jijik timbul di hati kecilnya dengan amarah yang memuncak ia ingin menangkap basah sang ayah namun semua itu ia urungkan setelah mengingat perkataan kakeknya.

'...yang terpenting dari itu semua adalah pengendalian emosi jika kau melakukan segala hal berdasarkan amarah, dendam, dan juga mengeksekusi dengan kepala panas yang kau dapat hanyalah kegagalan namun jika sebaliknya kau akan dapat berlian di tumpukan emas...'

Sebagian perkataan Arashi terngiang di benak seorang Uzumaki Naruto Namikaze hingga puncak hidupnya adalah saat kedua orangtuanya berdebat tentang siapa yang berselingkuh di antara mereka? Sebuah kekonyolan yang dibuat oleh sepasang suami istri yang selingkuh di belakang pasangan masing-masing.

"Kau berselingkuh dengan Mabui-san bukan? Aku mencium bau parfum wanita pada pakaianmu! " Kushina saat ini sedang memegang sebuah jas kantor milik Minato namun tiba-tiba Minato menunjukan ekspresi tidak senang

"Kau mengatakan bahwa aku selingkuh? Kau sendiri juga selingkuh Kushina!" amarah yang memuncak antara kedua belah pihak membuat keadaan semakin memanas hingga...

Plak...

Suara tamparan keras terdengar di kamar pasangan suami istri itu, Minato yang terbawa emosi menampar Kushina dengan keras dan Kushina hanya dapat menangis dalam diam.

Brak...

Namun tiba-tiba pintu kamar mereka terbuka dengan keras dan menampakan wajah Naruto yang sangat kesal juga mata merah dikarenakan pembuluh darah yang mengalir di syaraf matanya melebar.

"Kumohon hentikan! Lebih baik aku mendengar suara desahan kalian yang sedang ngent*t dari pada bertengkar seperti ini" apa yang dapat remaja berumur tiga belas tahun lakukan saat mendengar pertengkaran orang tuanya? Selain yang Naruto lakukan saat ini?

Deg...

Pandangan mata seorang pemuda berusia dua puluh tiga tahun terbuka dan menatap sekeliling

"Taman? Kenapa aku ada di taman ini?" mencoba mengingat kejadian kemarin namun kepalanya serasa mau pecah

'Kalian masih menganggapku anak kalian? Kenapa kalian semua meninggalkanku tanpa ada tanda-tanda kasihan hah? apa kalian tau harta dari kalian tidak berguna sama sekali! Aku tidak akan pernah mau pulang ke rumah ini lagi dan jangan pernah mencariku!'

"Ah iya, aku ingat sekarang! Aku bertengkar dengan Kaa-chan dan Tou-chan hingga aku kabur dari rumah" Naruto saat ini sedang terduduk di taman dengan memegangi kepalanya yang pening dan tak jauh dari bangku taman ada tong sampah dengan tiga botol minuman keras yang sudah ia tenggak semalam untuk menghilangkan pusing dari kepalanya.

"Ah...mau berapa banyak botol yang ku minum tetap saja aku tidak bisa melupakan mereka karena mereka orang tua ku" dengan perlahan manik safir yang indah itu mengeluarkan cairan bening menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangannya

"Hiks... Hiks... Jii-san aku... " menghapus bekas air mata yang ada di pipinya dan mulai menghidupkan motor miliknya

Brum... Brum... Brum...

Pergi dari taman itu dengan wajah yang masih sedih namun tidak terlihat karena tertutupi oleh kaca pada helmnya

"Jii-san, Baa-san, tunggu aku akan mengunjungi kalian..." memacu kendaraan motor itu dengan kecepatan yang bisa dibilang kebut melaju pada jalan raya yang ramai dengan sesama pengendara kendaraan sama seperti dirinya

"...Walau batu nisan memisahkan kita"

At Arthuria

Arthuria POV

Apa rasanya memiliki seorang Kaa-chan?

Aku ingin tau rasanya elusan pada pucuk kepalaku saat aku bersedih

Mendengarkanku saat aku sedih ataupun sekedar menjadi teman curhat

Apa rasanya? Aku ingin tau karena yang aku tau hanyalah aku adalah anak panti asuhan yang ditemukan oleh suster panti ini pada malam hari yang sedang hujan

Semua orang tua pasti senang memiliki anak tapi kenapa dan apa salah ku hingga aku di tinggalkan di depan pintu panti asuhan?

Jujur aku benci pada orang tua ku namun di satu sisi aku sangat merindukan kasih sayang seorang Kaa-chan dan perasaan dilindungi seorang Tou-chan !

Hufft...

Semua hanya angan saja dan juga aku cukup senang dengan semua orang yang ada di panti asuhan apalagi dengan Sakura-san dan juga Ishtar-nee yang menjadi teman kamarku semasa anak-anak

"Aku rindu dengan kalian berdua jii-san baa-san" suara seseorang? Di pemakaman seperti ini? Aku mengikuti suara itu dan dapat kulihat seorang pemuda seumuran dengan ku sedang menangis di depan makam milik tuan tanah disini Uzumaki Arashi dan juga Uzumaki Sera!

Saat sampai di dekatnya aku melihat bahunya bergetar tanpa ada tanda-tanda bahwa dia sedang menangis, Aneh kan? Namun aku sadar akan sesuatu karena melihat surai pirang dengan jaket kulit khas seorang bikers jika benar maka tak salah lagi...

"Naruto-kun?... " ucapku seraya memegang bahunya yang bergetar "...kau kenapa bisa ada disini? Juga kenapa kau menahan tangis mu saat mengunjungi kerabatmu? " Tanyaku namun tiba-tiba dapat kulihat di mata Naruto-kun disana terlihat ada rasa rindu, amarah, depresi, stres, bingung, kecewa, dan juga sebuah tatapan yang sama dengan ku sebuah tatapan yang menginginkan sebuah kasih sayang dari sosok seorang Kaa-chan tapi setahuku orang tua Naruto-kun masih bersama dan juga belum wafat!

"Makam ini milik jii-san dan juga baa-san untuk pertanyaan pertama tadi kenapa aku menahan tangisku karena jii-san pernah berkata jangan buat sedih semua orang yang mencintaimu yang telah meninggalkanmu pada awalnya aku tidak mengerti namun akhirnya aku mengerti bahwa aku tidak boleh membuat Jii-san dan juga Baa-san bersedih hanya karena aku menangis di depan makamnya itu yang aku dapatkan!" aku tak dapat berkata apa-apa umur kami hanya terpaut satu tahun namun entah kenapa Naruto-kun sangat bijak dan berkesan dewasa?

Grep...

Tanpa kusadari aku memeluknya entah kenapa aku melakukan ini tapi hati kecilku mengatakan bahwa Naruto-kun butuh tempat bersandar dan berlabuh di lautan kehidupan

"Menangislah keluarkan semua keluh kesahmu jadi kau tidak akan merasakan ketakutan lagi karena aku akan selalu ada untukmu Naruto-kun" dapat kulihat seorang pemimpin gerakan geng motor Pecinta damai ini menangis di pelukanku sungguh disayangkan entah kenapa dan apa yang terjadi aku merasa nyaman jika bersamanya!

'aku harap waktu dapat berhenti dan tidak bisa memisahkan kita berdua' ucapku dalam hati dan memberanikan diri ini untuk mengelus pucuk mahkotanya dengan halus agar Naruto-kun merasakan nyaman.

-Normal POV-

Tak jauh dari sana ada seseorang yang memakai jaket berhoodie untuk menutupi identitasnya

Tut... Tut... Tut...

Dari apa yang ia lakukan saat ini ia sedang mencoba menghubungi seseorang dengan sebuah ponsel jadul berupa Nokia 3310 sembari menunggu sosok itu terus memantau dan juga mulai menghidupkan rokok pada mulutnya

Cklek...

Saat panggilan terhubung orang itu nenyeringai dengan senang saat suara orang yang dihubunginya mengatakan Moshi-moshi

"Hmm... Sasori? Naruto memiliki pacar dan aku rasa kau dapat menjadikannya sebagai sandera untuk memicu bentrokan antar geng milik Naruto dan juga milik Gaara" sosok yang ditelponnya hanya diam dan terus mendengarkan perkataan orang yang meneleponnya.

'...' mendengar jawaban Sasori sosok itu mengeluarkan seringai yang menakutkan dan juga seringai yang bahagia sungguh aneh melihatnya

-At Naruto-

"Jadi kenapa kau menangis disini Naruto-kun?" tanya Arthuria sesaat setelah Naruto melepaskan pelukan pada dirinya.

"Aku kabur dari rumah dan aku tidak tau harus kemana walaupun anggotaku adalah keluargaku tapi mereka memiliki urusan masing-masing dan kehidupan mereka tak jauh beda dariku" pelupuk mata yang bengkak karena ia menangis membuat Arthuria prihatin kepada pemuda di depannya ini

"Bagaimana jika kau tinggal di panti asuhan tempatku tinggal? Aku yakin Kaa-chan sangat senang" mendengar perkataan Arthuria barusan hati Naruto tiba-tiba sedikit mengering dan wajahnya berubah menjadi datar

"Kaa-chan kah? Aku rasa aku akan dibenci disana" walaupun Naruto mengatakan itu Naruto tidak dapat memungkiri bahwa ia butuh sosok seorang Kaa-chan

"Ikut saja denganku aku yakin kau pasti akan nyaman disana" perlahan manik safir itu menghanyut dan melembut dan mulai menarik tangan Arthuria sesudah ia bangkit dari duduknya

Entah kenapa perlakuan yang diberikan oleh Naruto membuat Arthuria malu namun juga senang

'Tangannya besar dan kuat juga... Nyaman' itulah yang dipikirkan oleh Arthuria hingga pipinya memerah karena malu

Brum... Brum... Brum...

"Ayo naik atau kau ingin jalan kaki tapi aku tidak tau letaknya dimana hehehe" Entha kenapa aku nyaman jika bersama perempuan keras kepala ini

Tuiiit...

"Ittai..." teriakan Naruto membuat Arthuria tersenyum walau tak dapat di lihat oleh Naruto

"Kau itu ya! Seperti anak kecil yang suka bermain-main dengan bahaya"melepaskan jeweran pada telinga Naruto dan mulai menaiki kendaraan itu

'jika aku anak kecil maka kau adalah Bahaya tersebut' dalam fantasi Naruto ia melihat arthuria yang memiliki armor besi dengan sarung tangan besi, bertahtahkan enam batu permata seperti karakter jahat dalam sebuah film yang menjadi favoritnya.

"Sudah? Kalau begitu mari kita berangkat dan nanti di jalan tunjukan aku arahnya" mereka berdua berangkat menuju panti asuhan itu dan meninggalkan pemakaman tak tau bahwa ada seseorang yang mengawasi mereka dari tadi

Brum... Brum... Brum...

Orang misterius itu pergi mengikuti Naruto dari belakang dengan motor bermerk kawasaki

'sepertinya orang ini mengikuti kami tapi anak buah siapa?' berputar-putar dijalan walau Arthuria sudah menunjukan arah yang benar

"Naruto-kun ada apa? Kenapa kita hanya berputar-putar?" Arthuria sedikit heran kenapa Naruto tidak mengikuti arahan yang ia berikan namun tanpa ia sadari ada beberapa kuda besi yang mengikuti mereka sedari mereka keluar dari pemakaman

Brum... Brum...

Kuda besi kesayangan Naruto berjalan terus hingga akhirnya berhenti di sebuah gang yan sepi karena memang kawasan itu sangat sepi dari yang namanya Penduduk.

Kuda besi itu berhenti saat sampai di pojokan gang namun enam kuda besi yang mengikuti mereka masuk kedalam gang itu juga

"sudah ku duga mereka mengikuti kami" Para pengendara yang mengikuti Naruto satu persatu turun dengan Brushnuckle dan pemukul base ball ada di tangan masing-masing orang

"Mau bagaimanapun..." melirik kebelakang ada sosok gadis yang harus ia lindungi ketika ia ragu dapat melindungi dirinya sendiri "...kondisinya tak menguntungkan" dalam pemikiran Naruto, dirinya sudah siap untuk babak belur namun apakah Arthuria siap? Itulah yang mengganggunya

"Uzumaki Naruto, serahkan gadis itu kalau tidak kami akan membunuh kalian disini" ucap salah seorang yang ada di depannya yang memegang pemukul base ball

"Sungguh? Kalau begitu tunggu disini" Naruto menghampiri Arthuria dengan senyum yang masam

"Mesin motor masih hidup jadi..." seringai melebar di wajahnya tanpa disadari oleh orang-orang kecuali Arthuria

"Arthuria Menjauhlah..." Naruto berlari hingga sampai pada kendaraannya dengan wajah yang teramat kesal

Cklek... Brum... Brum...

Kuda besi itu melaju dengan kencang mendekati orang-orang yang mengacau hingga akhirnya...

Buagh...

Arrgh...

Motor itu melaju tanpa Naruto yang mengendarainya hingga menabrak beberapa orang hingga terjatuh dan paling parah pingsan karena motor itu menghantam dada para perusuh

"Saa let's start the game..."

.

.

.

TBC