.
.
- o)(o -
.
.
Februari
Musim Semi (peralihan lebih tepatnya)
Aku rasa Jongin dan Kyungsoo mulai menyadari absennya diriku setiap mereka berkumpul untuk makan malam atau sekedar bercengkrama di ruang rekreasi asrama kami. Dan aku semakin mulai lihai menjadi pembual. Mulai dari jadwal kelas sampai mengerjakan tugas di perpustakaan menjadi alasan hilangnya diriku dari mereka. Terima kasih pada Chanyeol karena berhasil membuatku sibuk di setiap waktu luangku. Aku rasa aku tak perlu menjelaskan apa yang kami lakukan, bukan?
"Kau dari mana saja?" tanya Kyungsoo setelah menyuapkan makanan kedalam mulutnya.
Aku menghela nafas dan meminum jus yang tersedia di meja panjang asrama kami. Belum sempat aku menjawab, Kyungsoo sudah menyambar lagi.
"Jangan katakan kau baru selesai kelas, karena aku sudah memeriksa jadwalmu hari ini."
"Aku -,"
"Jangan katakan kau mengerjakan tugas di perpustakaan karena aku tahu selama satu minggu murid tingkat lima tak di berikan tugas satupun."
Kyungsoo harus menjadi wartawan di The Daily Prophet kelak. Dia selalu bisa membuatku terdiam dengan semua analisis dan kemampuannya sebagai penguntit.
Aku masih diam dan memutar otak untuk memilih alasan paling rasional yang bisa di terimanya dengan lapang dada tanpa perlu beragumentasi lagi.
"Aku-,"
"Kau berkencan dengan seseorang," tandasnya.
Do Kyungsoo! Dia memang menakutkan.
Dengan kaku, aku mengangguk.
"Gotcha! Siapa?" tanyanya bersemangat.
Aku duduk menghadapnya, "dengarkan aku, Soo. Aku belum bisa mengatakan siapa pria yang sedang berkencan denganku sekarang. Mungkin suatu saat nanti."
"Baekhyunie"
"Soo, aku mohon," ujarku, "dan jangan katakan hal ini pada Jongin dan Sehun, cukup kau yang tahu akan hal ini."
Kyungsoo kesal menatapku, "dan, Kyungie. Jangan berusaha untuk memata-matai," ucapku kemudian memulai makan malamku yang terlambat.
Aku hanya berharap Kyungsoo tak bertingkah seperti wartawan yang haus akan berita dan Chanyeol berhenti membuatku sibuk.
.
.
Musim Semi
Tak ada deklarasi atau pengakuan satu sama lain. Hal yang aku tahu bahwa Park Chanyeol dan aku kini bersama. Secara diam-diam? Tak perlu pertanyakan hal itu, bukan?
.
.
Musim Semin (masih terasa dingin sayangnya)
Ruang penyimpanan, menara Astronomi, perpustakaan, sampai Hutan terlarang menjadi tempat kami untuk bertemu. Menyenangkan. Hanya kata itu yang dapat merepresentasikan perasaanku saat ini. Aku harap dia juga merasakan hal itu. Kami berdua seperti penjahat atau buronan yang selalu mengandap-endap hanya untuk bertemu. Aku selalu melarikan diri dari Jongin, Sehun dan Kyungsoo. Begitupula dengannya yang menghindari untuk bertemu dengan para Slytherin, terutama Kris, sahabatnya. Tak ada satupun yang boleh mengetahui hal ini. Itulah kesepakatanku dengannya.
Hubungan kami bukanlah hubungan yang dipenuhi ungkapan sayang apalagi cinta. Bahkan Chanyeol tak memiliki nama panggilan untukku seperti kebanyakan pasangan lainnya. Dan aku berterima kasih karena ia tak melakukannya. Aku bisa mati geli bila ia memanggilku 'dear' atau 'baby'. Hubungan kami lebih cenderung pada hubungan fisik. Jangan berpikir berlebihan dulu. Chanyeol lebih sering memelukku daripada berbicara. Dan aku suka akan hal itu. Irit bicara dan lebih sering bertindak. Apa yang kami jalani sekarang sama sekali tidak terlihat seperti hubungan percintaan remaja. Terlalu dewasa untuk usia kami sepertinya. Ketika kami bertemu, ia memelukku atau menciumku, kemudian menggenggam tanganku, dan kemudian kami duduk lalu terhanyut dengan kesibukan masing-masing. Aku membaca buku yang kubawa, ia akan mengerjakan tugasnya, atau sebaliknya.
Dan di setiap pertemuan kami pasti akan dibumbui dengan adu argument dan saling berteriak satu sama lain, sampai salah satu dari kami harus merapalkan mantra pengedap suara agar tak ada yang mendengar. Dan yang aku tahu semua akan terselesaikan dengan satu ciuman Chanyeol yang selalu bergelora dan selalu berhasil menutup mulutku.
Dia selalu mengatakan, "kau lebih cantik ketika pipimu bersemu merah karena ciuman kita, jadi berhentilah memancing amarahku, Baekhyunie."
Dan aku selalu mendengus saat mendengarnya berkata seperti itu. Hal seperti ini terjadi secara berkala. Dan sampai sekarang aku sama sekali tidak menemukan kejenuhan saat bersamanya.
.
.
Musim Semi (akhirnya matahari menyembulkan cahaya)
Sudah tiga hari. Yaa, sudah tiga hari aku tak bertemu dengannya. Melodramatic. Dan apa yang aku dapatkan saat sarapan tadi pagi? Im Nana dengan nyaman bergelayut di lengan ferret merah itu. Aku menatapnya dari seberang meja. Ia asik berbicara dengan Kris sementara si wanita genit itu terus bergelayut di lengannya. Aku terus memperhatikan sampai si ferret merah itu sadar dan pandangan kami bersiborok. Aku menaikkan satu alisku dan kembali fokus pada pancake dan bacon yang berada tepat di hadapanku. Selera makanku hilang dan aku memutuskan untuk pergi dari ruangan, tahu dia ikut bangkit dan meninggalkan koloninya. Kami bertemu di ambang pintu, ia sedikit menggesekan lengannya padaku untuk mengikutinya ke ruang penyimpanan yang biasa kami datangi. Aku terlalu kesal untuk berbicara padanya sekarang. Lagipula matahari sedang menunjukkan sinarnya, aku tak mau melewatkan kesempatan untuk menikmati sinar matahari di pagi akhir pekan ini. Jadi, aku mengambil jalan yang berlawanan dengannya. Dan tanpa kusadari dia sudah berada tepat di belakangku. Dia mempercepat langkahnya berusaha mengimbangi langkahku.
"Ada apa?" tanyanya berbisik di belakangku.
Aku membalikkan tubuhku dan tak menjawab pertanyaannya. Aku mempercepat langkahku. Sial! Dengan cepat ia menarik tanganku dan kami masuk kedalam sebuah ruangan. Aku memperhatikan seisi ruangan itu dan terkesiap. Kamar kebutuhan. Hogwarts berkonspirasi mendukungnya.
"Apa ini sambutan untuk kekasihmu yang pergi selama beberapa hari?"
Aku hanya menunduk memperhatikan sepasang sepatuku dengan wajah kesal.
"Baekhyun," ujarnya lagi.
"Aku rasa aku tak memiliki kekasih yang pergi selama tiga hari tanpa memberitahuku dan saat ia kembali dengan bebasnya ia membiarkan wanita lain bergelayut manja," ucapku sarkastik padanya.
"Kau cemburu, Baek?" tanyanya dan mendekat padaku.
"Oh diamlah, Yeol!"
Dia semakin mendekat dan menangkup wajahku dengan kedua tangannya. "Kau tak mau memelukku?" tanyanya.
"Menjauhlah. Aku tidak dalam keadaan untuk bisa memeluk apalagi bermesraan denganmu."
"Baekhyunie," ujarnya lembut dan aku melangkah mundur saat ia kembali mendekat.
"Baekhyunie," dan ia langsung menarikku ke dalam pelukannya.
Aku dapat merasakan helaan nafasnya di rambutku. Ia semakin mengeratkan pelukannya padaku meski aku tak membalas pelukannya.
"Kau tau, Baek? Aku merindukanmu."
Aku luluh. Gadis mana yang tak akan luluh bila pria seperti Park Chanyeol mengatakan bahwa ia merindukanmu. Akhirnya dengan runtuhnya pertahanan yang teramat sangat susah kubangun aku membalas pelukannya. Aku melingkarkan tanganku di pinggangnya dan membenamkan wajahku di lehernya. Kembali membaui harum tubuhnya yang sudah kulewatkan selama tiga hari ke belakang.
"Kau pergi kemana?" Tanyaku setengah berbisik di telinganya.
"Ayah."
Ucapannya berubah saat mengatakan hal itu, "Hogwarts mengijinkan kau keluar?" tanyaku.
"Dia langsung datang meminta ijin untuk membawaku pulang."
Aku melepaskan pelukannya. "Kau baik-baik saja?"
"Sangat baik bila kau berhenti merajuk."
Aku tertawa kecil. "Kau mau menceritakannya?"
"Suatu saat mungkin, Nona-Yang-Haus-Informasi," kekehnya, "peluk saja aku sekarang, aku masih merindukanmu," dia kembali menarikku ke dalam dekapannya.
Kami menghabiskan separuh hari hanya dengan duduk di dalam kamar kebutuhan. Aku bersandar di tumpukan bantal sementara dia merebahkan kepalanya di pangkuanku. Aku menceritakan hariku selama ia menghilang, tapi tidak dengannya. Aku tahu ada sesuatu yang ia tutupi, namun aku tak akan memaksanya untuk bercerita. Dari nada suaranya pasti sesuatu yang tak baik.
"Baekhyun," panggilnya
"Chanyeol."
"Kau masih marah?" tanyanya tak beranjak dari tempatnya.
Aku menghela nafas lalu membelai surai merahnya. "Sedikit."
"Nana adalah temanku dengan tingkah yang terkadang suka berlebihan."
"Iya, aku mengerti," ujarku.
"Kau pasti masih belum dapat menerimanya, bukan?"
Aku menaikkan sebelah alis, "sok tau."
"Aku belajar darimu, Baekhyunie," kekehnya, "Nana akan bergelayut dengan kami semua, terutama padaku dan Kris. Kami berteman baik sejak kecil."
Aku mengangguk, "Baiklah."
"Tapi bukan berarti aku menyukai apalagi merestui saat ia bergelayut padamu."
Chanyeol hanya mengangguk dengan bibir yang sedikit melengkung. Rasanya sangat menggemaskan saat ia bertingkah seperti itu. Kenapa ia bisa semanis ini sekarang? Aku selalu tersenyum saat membayangkannya.
Pandanganku beralih kepada jam yang berada di sudut ruangan ini. Kami melewatkan makan siang.
"Ada apa?" Dia menyadari gerak-gerikku.
"Kita melewatkan makan siang," ucapku.
Dia beranjak dari posisinya dan duduk di sampingku. "Kau lapar? Tanyanya.
Aku menggeleng. "Tapi teman-temanku akan curiga bila sepanjang hari aku menghilang. Ini akhir pekan."
Dia mencibir, "aku lupa kau memiliki teman-teman yang sangat peduli padamu," ujarnya sarkastik.
"Mereka temanku, Yeol."
"Tapi bukan berarti aku harus menyukai mereka," ujarnya seperti membalas ucapanku tadi.
Aku duduk menghadapnya dan menatapnya kesal, "kau tak harus menyukainya, tapi berusahalah untuk tidak membencinya setidaknya di hadapanku."
"Terserah padamu."
Aku tersenyum dan bangkit dari tempatku.
"Kau pergi?" tanyanya.
"Setidaknya aku harus bertemu mereka," ucapku, "dan kau juga harus berkumpul dengan mereka sebelum salah satu dari temanmu curiga pada setiap kali kau menghilang bersamaku."
"Mereka tak akan ada yang berani bertanya kemana sebenarnya aku berada," jawabnya acuh.
Aku melengkungkan bibir, "seandainya Kyungsoo juga seperti itu."
Alisnya terangkat dan kini ia ikut bangkit bersamaku, "dia mencurigaimu?"
"Aku rasa seperti itu."
"Kau keluar pertama," ucapnya lalu menyelipkan tangannya di pinggangku.
"Sampai jumpa di Aula saat makan malam," ujarku kemudian sedikit menjijit untuk mengecupnya.
"Sampai jumpa."
'Sampai jumpa di Aula saat makan malam' sama artinya bagi kami 'selamat kau hanya bisa menatap kekasihmu dari seberang meja'
Aku keluar dan kembali ke asrama. Tak ada Jongin, Sehun, ataupun Kyungsoo. Tidur siang merupakan pilihanku saat ini. Dan aku sangat berterima kasih, akhirnya kamar kebutuhan berada di pihak kami. Jadi, aku dan Chanyeol tak perlu menyelinap ke dalam ruang penyimpanan atau Hutan hanya untuk menghabiskan waktu berdua.
.
.
Musim Semi
Juni
Waktu terasa begitu cepat berlalu. Musim semi ini sudah hampir menyentuh musim panas yang selalu menjadi favorit para siswa. Dan tak terasa hubunganku dengan Chanyeol sudah berjalan berbulan-bulan. Jangan tanyakan sudah berapa bulan hubungan kami berjalan pada Park Chanyeol, dia pasti hanya mengerutkan dahinya sambil menggaruk kepalanya yang aku pikir tak gatal dan mengatakan,
"Aku mempunyai ingatan yang lemah, Baek."
Lalu ia akan tersenyum lalu memelukku. Dan dia selalu berhasil meredam amarahku.
.
.
Musim Semi (tetapi hawa musim panas sudah menyapa)
Pagi ini adalah pagi akhir pekan terakhir kami sebelum Ujian tingkat lima. Dan aku lumayan panik dibuatnya. Dan pagi ini jugalah aku berusaha untuk bertemu dengannya. Aku tak peduli dimanapun, hal yang penting adalah aku hanya ingin menatapnya dari dekat. Sengaja aku menjatuhkan kertas yang bertuliskan 'Hutan' saat berpapasan padanya. Setelah sarapan tadi aku menunggunya di dekat pohon yang di kelilingi berbagai macam ilalang juga dikelilingi dengan bunga-bunga dandelion yang baru saja bermekaran, tempat biasanya kami bertemu. Sekitar lima belas menit menunggu aku melihatnya berjalan ke arahku dengan sangat santai. Senyum terkembang di wajahnya. Aku dapat melihat senyum itu bahkan dalam radius 100 meter sekalipun.
"Hey," sapanya.
"Hai," balasku yang langsung berjinjit untuk menciumnya.
Ia melepaskanku lalu tersenyum kembali, "Muffliato," ucapnya merapalkan mantra kedap suara keseliling kami.
"Ada apa?" tanyanya.
Aku menggeleng, "Katakan, Baekhyunie."
Aku menghela nafas, "Entahlah, aku gugup sekali, Yeol. Besok kita ujian. Apa yang aku lakukan jika aku sama sekali tak dapat menjawabnya. Bagaimana jika aku mengacau? Bagaimana bila aku tak lulus?"
Park Chanyeol, pria raksasa berambut merah di hadapanku ini malah tertawa. Aku menatap bingung padanya.
"Apa yang lucu?" tanyaku kesal.
"Kau."
"Aku?"
"Iya," jawabnya, "dibalik sikap paling percaya dirimu saat kita berada di kelas, ternyata kau wanita paling gelisah dan panik yang pernah kutemui," ia masih tak berhenti terkekeh.
"Chanyeol!"
Dia segera menangkup kedua wajahku, "dengarkan aku, Baekhyunie. Kau adalah penyihir wanita terpintar yang pernah kutemui di dunia ini. Bahkan aku pernah mendengar kau selalu dapat memprediksi soal apa yang akan diujikan pada kita. Kau tak akan mengacau apalagi gagal," ujarnya berusaha menenangkanku.
"Tapi…"
Dia langsung melumat lembut bibirku. Dan hal ini merupakan penawar atas segala kegelisahanku. Bersama dengannya adalah hal yang sangat lebih menyenangkan dari sekedar mendapatkan nilai O pada semua mata pelajaranku.
"Membaik?" tanyanya saat melepaskanku.
"Sangat," jawabku tersenyum padanya.
"Itu baru gadisku," ia menyeringai.
Aku tertawa saat ia mengatakannya. Park Chanyeol si pria dingin dan angkuh ini terlihat sangat lepas setiap saat kami bertemu. Dia pernah berkata padaku bahwa aku adalah penawar paling ampuh baginya.
'Aku senang kita bersama, kau seperti penawar untuk hariku yang mengerikan.'
Dan sampai sekarang aku masih belum tahu apa definisi dari 'hari yang mengerikan' baginya.
Aku langsung memeluknya dan ia membalas semua pelukanku dengan menempelkan hidungnya di rambutku dan mengalungkan tangannya di pinggangku.
Kami duduk dibawah salah satu pohon rindang. Membiarkan setiap vitamin E menyerap di wajahku. Aku juga sangat menyukai saat semilir angin menerpa setiap jengkal kulitku. Dan hal yang membuatku paling bahagia adalah karena aku menikmati semua ini bersamanya. Ferret merah menyebalkan yang sekarang memanggilku sebagai gadisnya.
"Aku harus kembali untuk makan siang," ujarku memecah keheningan di anatara kami.
"Kita bisa menyusup ke dapur saat orang-orang lengah nanti," jawabnya.
Aku menggeleng padanya, "Kyungsoo akan mengutukku bila tak makan siang bersamanya hari ini, lagipula aku harus belajar bersama temanku."
"Baekhyunie," panggilnya. Aku hanya bergumam merespon.
Kemudian ia mengambil tanganku dan memakaikan sebuah gelang perak di pergelangan kiriku. Sebuah gelang yang terlihat seperti rantai namun sangat halus. Aku menatap meminta penjelasan padanya.
"Pegang ujung pengait itu dan ucapkan namaku," perintahnya.
Aku mengerutkan dahi. "Lakukan saja," ujarnya.
Aku memegangnya dan mengucapkan namanya. "Chanyeol."
Kalung panjang yang ia pakai di dalam kemejanya bersinar. Lalu ia memegang kalung yang ia pakai sambil mengucapkan namaku dalam bisiknya. "Baekhyun."
Dan apa yang terjadi pada kalungnya kini terjadi pada gelangku yang bersinar dan terasa hangat. Aku terkejut.
"Apa ini?"
"Semacam alat komunikasi kita. Kau bisa menggunakannya saat kau membutuhkanku dan begitu pula denganku."
Aku tersenyum sambil menatap gelang yang sudah bertengger manis di tanganku.
"Cantik." Gumamku.
"Sepertimu," ujarnya cepat lalu dengan cepat juga mengecupku kemudian bangkit dari tempat kami duduk tadi.
"Aku pergi duluan," ujarnya menyeringai lalu memasukkan sebelah tangannya ke dalam kantung celana kemudian meninggalkanku.
Aku rasa ini adalah pertama dan terakhir kali aku di puji cantik olehnya. Kembali aku menatap gelang itu, memperhatikannya di bawah sinar matahari dan tersenyum.
.
.
Musim Panas
Agustus
Home Sweet Home
Voldemort menunjukkan diri. Dan sekarang aku terduduk di dalam kamarku dengan bodoh menunggu surat dan tanda dari Chanyeol yang tak kunjung datang.
.
.
Musim Panas
Hal-hal di sekitarku membuatku ingin segera pindah ke planet lain. Pertama, aku harus menunda Ujian tingkat lima selama beberapa minggu karena ulah Mark dan Johnny yang membuat onar di saat aku dan hampir semua murid tingkat lima sedang berada di dalam konsentrasi tertinggi mengerjakan ujian. Kedua, kami, yaitu; Jongin, Sehun dan Kyungsoo di minta untuk pergi ke Kementerian untuk menemukan bola ramalan tentang bocah yang di cari Dark Lord yang juga di cari oleh para Pelahap Maut dan berujung pada kejar mengejar antara kami, dan di akhiri dengan kami berduel dengan para Pelahap Maut. Dan terakhir, kematian Kim Youngmin, wali Jongin, yang aku yakin hal itu masih mengguncang Jongin saat ini dan juga mengguncang kami semua. Aku tak bisa berpikir apakah kami masih mempunyai masa depan di dunia sihir.
Dan dari segalanya, semua hal itu di perburuk dengan menghilangnya Chanyeol dari peradaban hidupku. Tak ada surat bahkan gelangku tak pernah menghangat lagi. Aku sudah mencoba 'memanggilnya' namun tak ada balasan apapun. Terakhir aku bertemu dengannya adalah saat kami akan pergi ke kementerian, dimalam kematian Kim Youngmin.
Aku melihatnya memperhatikanku saat aku mulai berlari mengejar Jongin yang sibuk mencari perapian untuk menggunakan jaringan Floo untuk ke Kementerian. Dia tetiba menarikku ke dalam sebuah kelas dan hanya menatapku yang masih terengah-engah.
"Apapun yang akan kau lakukan, berhati-hatilah," ujarnya kemudian menunduk untuk menciumku.
Ciuman yang berbeda. Ada rasa takut yang menyelubunginya. Aku berusaha tersenyum di hadapannya.
"Kau juga, jaga dirimu."
"Hubungi aku," ucapnya sambil menyentuh gelang di tanganku saat aku akan keluar dari kelas itu.
Aku berbalik dan mengecupnya. Lama. Aku harap itu bukan momen terakhir kami. kemudian ia mengecup puncak kepalaku dan membiarkanku pergi mengejar Jongin dan itu adalah momen terakhir kami. Saat aku dan lainnya kembali ke Hogwarts setelah pemakaman Paman Kim untuk melaksanakan ujian terakhir kami, Chanyeol dan murid lainya sudah meninggalkan asrama. Dan aku teramat merindukannya.
.
.
Musim Panas
Akhirnya! Chanyeol menyuratiku. Entah darimana ia tahu alamatku. Ia mengirimkan surat untuk menanyakan kabarku dan meminta maaf karena baru menghubungiku sekarang. Ia mengajakku untuk bertemu yang aku sambut dengan suka cita. Ia hanya mengatakan padaku untuk bersiap, kapanpun ia menghubungi melalui gelangku, aku harus menemuinya di café seberang King's Cross. Dan terakhir yang ia kataknya adalah 'jangan membalas surat ini.'
Entah apa yang sedang aku lakukan sekarang ini. Aku merasa sangat berdosa. Apa yang akan mereka pikirkan saat tahu bahwa aku berhubungan dengan anak dari salah satu Pelahap Maut kepercayaan Voldemort? Semua itu membuatku benar-benar dihantui perasaan bersalah dan gelisah. Kegelisahanku tak berhenti sampai disitu saja. Ketakutan yang selama ini aku takuti adalah bila Chanyeol akan menjadi salah satu dari mereka.
.
.
.
Sekitar pukul 10 pagi, gelangku menghangat dan aku bergegas pamit pada ibu. Aku mengendarai SUV milik ibu. Aku sangat rindu mengemudi. Dan akhirnya aku mengendarainya untuk bertemu priaku.
Aku melihatnya duduk di sudut café ini dengan air putih di hadapannya. Ia menggunakan setelan hitam, di musim panas seperti sekarang. Aku tersenyum saat melihatnya terdiam tanpa melakukan apapun. Dengan bersemangat aku menghampirinya.
"Hey," sapaku kemudian menarik kursi dan duduk lalu melepas sun glass yang sedari tadi membingkai mataku dari sinar matahari.
Dia mengerutkan alisnya.
"Hey," balasnya dan kembali mengerutkan alisnya, "kau tampak…"
"Cantik," tandasku lalu tertawa.
"Berbeda."
"Katakan saja bila aku cantik," godaku.
"Berbeda," ia tersenyum.
"Berbeda sama dengan cantik, kau bermaksud mengatakan itukan, Yeol."
Ia tersenyum lagi, "berbeda sama dengan berbeda. Tak ada variasi dari kata itu, Baek."
Aku mencebik saat ia mengatakan hal itu yang di sambut dengan kekehan olehnya. Lalu seorang pelayan menghampiri kami. Aku memesan Green Tea Latte, dan Iced Americano untuknya. Ia hanya mengangguk mengiyakan pilihanku.
"Jadi, apa kabarmu, Tuan Park?" tanyaku.
Ia menyenderkan tubuhnya di sofa meja ini, "tak lebih baik darimu."
Aku hanya menatap bingung padanya.
"Dengarkan aku, Baek," ia memulai percapakan kami dengan sangat serius dengan mencondongkan tubuhnya padaku.
"Apapun yang terjadi padaku nanti, aku harap hubungan kita tak pernah berubah. Aku tak akan menanyakan apapun yang sedang kau lakukan dan aku berharap kau tak pernah menanyakan dan memikirkan apapun yang akan aku lakukan. Aku hanya ingin kau tahu, apaun yang terjadi kelak perasaanku padamu tak akan pernah berubah dan aku harap kau juga begitu."
Kalimat panjang itu berhasil membungkamku. Aku terkejut. Dan tepat disaat itu pelayan tadi kembali dengan dua gelas pesanan kami di nampannya.
"Chanyeol," ucapku yang masih sedikit terkejut setelah pelayan itu pergi meninggalkan kami. Aku langsung mengalihkan pembicaraan ini.
"Aku merindukanmu," ujarku lirih.
Ia tersenyum dan menggenggam tanganku di atas meja, "aku juga."
Dan saat itu, aku yakin hubungan kami akan baik-baik saja.
.
.
.
September
Pertemuan di café itu adalah pertemuan terakhirku dengannya selama liburan. Aku tak sabar menunggu Hogwarts Express untuk membawaku bertemu kembali dengannya.
.
.
.
The Burrow
Hari ini adalah hari kelima aku menginap di The Burrow. Aku rindu dunia sihir. Aku rindu masakan Bibi Oh. Dan aku rindu priaku.
Dua hari yang lalu, Jongin juga sampai disini. Rasa sedih masih menggelayutinya dan kami dengan segenap hati ingin membantunya untuk melewati masa-masa sulit ini.
Aku, Jongin dan keluarga Sehun mengunjungi Diagon Alley untuk membeli kebutuhan kami selama di Hogwarts nanti dan tanpa di sangka kehadiran Chanyeol memancing Jongin untuk membuntutinya. Aku tak tahu apa yang ia lakukan. Dia beserta ibu dan bibinya masuk ke sebuah gang menuju Knocturn Alley dan berakhir di sebuah toko bernama Borgin dan Burkes. Kami bertingkah seperti detektif yang membuntuti buronan dari atas atap. Dan aku kembali dikejutkan oleh munculnya manusia serigala.
"Dasar Pelahap Maut," dengus Sehun saat kami sudah berada di Diagon Alley lagi.
Aku menatap kesal padanya, "kau tak boleh menuduhnya seperti itu," ucapku.
"Ooh, Baekkie, kau lihat ayahnya! Ayahnya adalah salah satu dari Pelahap Maut dan pasti anaknya akan menuruninya."
"OH SEHUN!"
"Tapi, semua itu masuk akal Baek," kini Jongin membuka suara, "apa yang dilakukan keluarga Park di Knockturn Alley? Tempat itu hanya khusus menjual barang-barang dark magic."
Aku dibungkam dengan fakta tersebut. Ingatkan aku kembali pada pembicaraan kami saat di café lalu. Apa yang sebenarnya yang disembunyikan Chanyeol? Benarkah ia sudah menjadi salah satu dari Pelahap Maut? Oh tidak, semua ini akan membunuhku secara perlahan.
.
.
.
Musim Gugur
September
Hogwarts
Hogwarts Express membawa kembali ragaku ke Hogwarts. Tapi kesepian dan rasa kehilangan itu masih menghinggap lekat pada diriku. Seharusnya aku memberitahu masinis dari kereta itu untuk tidak mengajak perasaan ini ikut bersamanya. Seminggu sudah aku memulai tahun ajaran baru di Hogwarst. Tanpa terasa waktu begitu cepat berlalu. Rasanya baru kemarin aku menginjakkan kaki di kastil ini sebagai murid baru, dan rasanya baru kemarin juga aku bertemu dengan Jongin dan Sehun di Hogwarts Express pertama kami. Tapi realita yang ada mengatakan bahwa aku sudah berada di tahun keenam. Dan realita yang ada juga menyadarkan aku bahwa Chanyeol dan aku belum berbicara sama sekali.
Aku melihatnya turun dari kereta bersama teman-teman Slytherin-nya dan aku rasa ia tidak menyadari keberadaanku. Dan saat makan malam kabar bahwa Jongin dipukuli olehnya seakan-akan melenyapkan semua kerinduanku padanya. Apa yang ia pikirkan sampai dengan mudahnya mendaratkan pukulan pada sahabatku. Apakah sesudah lulus dia mau menjadi seorang Algojo? Seharusnya ia tahu aku akan terluka saat ia melakukan hal ini. namun aku tak segera menghakiminya. Kucoba untuk mencarinya tapi tak kunjung menunjukkan titik cerah. Aku 'memanggilnya' namun tak ada jawaban. Setiap berpapasan dia seakan-akan menghindariku. Dan aku sama sekali tak memiliki kesempatan untuk bertemu dengannya. Apakah ia tidak tahu bahwa aku merindukannya sampai dadaku terasa sesak? Sampai rasanya akan ada yang meledak dari dalam tubuhku? Yaa, aku rasa ia tak mengetahuinya.
.
.
Musim Gugur
Muak. Aku muak dengan keadaan ini. Aku muak di acuhkan oleh kekasihku sendiri. Itu juga kalau dia masih menganggapku sebagai kekasihnya.
.
.
Aku lepas kendali. Aku membentak Jongin, berteriak pada Sehun, bahkan aku lepas kendali terhadap diriku sendiri sampai aku terpeleset di tangga. Jongin dan Sehun langsung berasumsi bahwa aku tengah datang bulan dan menyukai asumsi itu. Setidaknya mereka tak tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku.
Selepas makan malam tadi aku keluar dari Aula Besar dan langsung berjalan menuju pintu ruang kebutuhan yang biasa aku gunakan bersama Chanyeol. Aku menunggu sosok berambut merah itu di depan ruangan. Aku tahu ia akan melewati ruangan ini dan aku tahu bahwa ia tak akan bergerombol dengan teman-temannya sehingga mempermudahkanku untuk menyeretnya masuk. Dan benar saja, aku melihat pria itu dari kejauhan. Tak ada senyuman yang biasa menghiasi wajahnya saat melihatku. Dia terlihat kelam. Dia terdiam di tempatnya saat menatapku, namun kemudian ia tetap berjalan dan tiba di hadapanku. Tanpa tedeng aling-aling aku langsung menariknya ke dalam. Persetan pada orang-orang yang melihat kejadian itu.
"Apa yang sebenarnya terjadi!" ucapku yang terdengar seperti teriakan.
Dia tak menjawab. Alih-alih memandangku, ia hanya tertunduk dengan kedua tangan di dalam saku.
"Jawab aku! Kau yang mengatakan tak ada yang berubah di dalam hubungan kita. Kau yang memintaku untuk tetap bersamamu apapun yang terjadi, tapi lihat dirimu sekarang! Kau menghindariku. Bahkan kau tak mau menatapku. Kenapa? Kau baru sadar bahwa aku hanya darah-lumpur bagimu dan kau jijik akan hal itu, huh?!"
"Baekhyun, cukup!"
"Aku belum selesai!"
"Aku bilang cukup," dan dengan cepat ia menarikku kedalam pelukannya.
Aku dapat merasakan desahan nafas tergesa-gesa di rambutku. Jantung yang biasa berdetak teratur kini memompa terlalu kencang sampai aku berpikir jantungnya akan meloncat keluar dari tubuh. Ia melepaskanku. Menangkup wajahku dengan kedua tangannya kemudian mengusap air mata yang tanpa terasa meleleh di pipiku. Perlahan mendekatkan wajahnya padaku dan melumat bibirku dengan lembut. Ada sensasi berbeda di dalam ciumannya. Rasa bahagia bercampur takut dan amarah serta harum helaan napasnya bercampur menjadi satu. Ia mendorongku ke dinding dan ciuman kami kembali memanas dan terhenti saat mataku mendapati hal aneh yang tersimpan di balik lengan panjang kemejanya. Dia pun ikut membeku sama sepertiku. Aku mencoba mendekatinya dan ia menghindariku. Tetapi, dengan cepat aku menariknya dan menemui tanda yang selama ini aku takuti akan terjadi padanya.
"Kau bergabung dengan mereka," tatapku padanya dengan nada ngeri dan sontak mundur darinya.
Kini ia yang datang untuk mendekat padaku namun dengan secepat kilat aku menghindarinya.
"Baekhyunie," ujarnya putus asa menatapku.
Dia menarikku sehingga aku tersentak mendekat padanya. Ia mencengkram pergelangan tanganku dengan sangat kuat.
"Lihat! Hal ini yang aku takutkan. Aku tahu kau akan histeris bila mengetahui siapa sebenarnya aku sekarang."
Aku menatap dengan penuh amarah padanya. Bahkan menangis bukanlah jalan yang tepat bagiku sekarang. Air mata tak akan merubah kenyataan bahwa pria di hadapanku adalah seorang Pelahap Maut.
"Lepaskan aku!" desisku padanya.
"Kau akan lari dariku bila aku melepaskanmu," ujarnya pelan, "tak ada yang berubah dariku," tambahnya lagi.
"Lepaskan aku, Chanyeol! Kau menyakitiku."
Ia sadar dan melepaskan cengkramannya dari pergelangan tanganku.
"Maafkan aku," ia langsung meminta maaf saat menyadari bekas merah yang ia hasilkan dari cengkramannya.
Aku mundur saat ia ingin memelukku.
"Aku butuh waktu untuk mencerna semua ini," ujarku padanya.
"Baekhyunie," panggilnya.
"Jangan panggil namaku," lalu aku meninggalkannya.
Semalam aku menangis sejadi-jadinya di dalam kamar mandi. Menangis kemudian berpikir. Menangis dan berpikir. Apa yang harus aku lakukan sekarang?
Saat aku kembali ke kamar tubuhku sudah tak kuat menanggung beban yang kutumpuhkan padanya. Aku terpejam dan air mata kembali mengalir di pipiku.
.
.
Jongin, Sehun dan Kyungsoo menggila melihat tingkah laku yang mereka katakana seperti orang gila. Bukan karena aku tertawa sendiri atau menangis sejadi-jadinya, tapi aku membolos seharian penuh setelah pengakuan mengejutkan dari Chanyeol. Sejujurnya aku juga tak tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku. Aku tak tahu mengapa aku sampai bisa mengorbankan pelajaran hanya karena permasalahan ini. Baiklah, permasalahan ini tak dapat di sebut dengan 'hanya karena' karena menurutku ini masalah besar. Apa yang ada di otakku bila aku terus bersama Chanyeol? Tak ada teori yang membenarkan hal ini. Saat ini yang kubutuhkan hanyalah tidur. Tidur tanpa mimpi dan tak perlu terbangun di tengah malam dengan kepaka penuh dengan semua pikiran ini.
.
.
- o)(o -
.
.
Seminggu penuh aku tak bertemu secara pribadi dengannya. Yaa, aku merindukannya. Aku merindukannya melebihi seorang anak kecil yang merindukan ibunya saat ditinggal untuk bekerja. Melebihi kerinduan yang di rasakan seorang istri perwira yang suaminya pergi ke medan perang. Kami bertemu setiap hari. Di kelas, Aula Besar, lorong dan dimanapun itu, tapi aku tetap tak sanggup untuk menatapnya. Sesekali aku mencuri pandang ke arahnya, ia terlihat lebih kurus dan pucat. Ingin sekali aku memeluknya, tapi aku tak tahu apakah hal itu benar atau tidak. Rasanya terdengar aneh membicarakan mana hal yang benar dan tidak. Karena sesungguhnya dari awal berpacaran dengannya adalah sebuah kesalahan.
Tadi pagi Kyungsoo datang ke kamarku dengan wajah yang sangat serius. Ia pasti tahu ada sesuatu yang tak beres padaku. Pastilah ia tahu, bahkan Sehun yang sama sekali tidak sensitive itu mengetahui bahwa ada sesuatu yang bermasalah padaku.
"Apa yang sebenarnya terjadi padamu?" tanya Kyungsoo yang sudah duduk bersila di ranjangku.
Aku menggeleng dan berusaha menahan air mataku.
"Ayolah, Baek, kau tak dapat menahan ini sendirian. Kau punya aku, Jongin dan Sehun jadi sebaiknya kau berbagi."
Aku masih tak tahu apa yang harus kukatakan. Apa yang harus kuceritakan pada Kyungsoo? Mengatakan bahwa kekasihku sekarang sudah menjadi Pelahap Maut. Bahkan ia tak tahu siapa kekasihku. Dan bila aku mengatakannya aku yakin ia akan histeris seperti biasanya.
"Apa ini ada hubungannya dengan kekasih rahasiamu? Tanyanya pelan.
Aku menatapnya dan mengangguk pelan.
"Oh, Baekkie," Kyungsoo memelukku dengan erat, "aku tak pernah melihatmu seperti ini, aku tak tahu harus berbuat apa. Jadi, menangislah bila kau ingin menangis. Tak perlu kau ceritakan apa-apa padaku."
Dan saat itu juga aku menangis sejadi-jadinya di pelukan Kyungsoo. Tak ada satupun kata yang keluar dari mulutku. Aku hanya menangis sampai rasanya aku tak sanggup lagi untuk mengangkat tubuhku dari pelukannya.
"Lega?" Aku mengangguk lagi.
"Aku tak tahu apa yang terjadi antara kau dengannya, tapi ikuti kata hatimu."
"Meskipun itu berlawanan dengan akal sehat?"
"Meskipun hal itu berlawanan dengan akal sehat," ia meyakiniku.
Kemudian Kyungsoo meninggalkanku. Dan aku kembali tidur. Tidur dan memikirkan semua perkataan Kyungsoo.
.
.
Perkataan Kyungsoo terngiang-ngiang di kepalaku selama beberapa hari ini. Aku harus mengikuti kata hatiku dan mengacuhkan semua akal sehat. Aku rasa itu memang satu-satunya cara sebelum aku benar-benar menjadi gila.
Jadi, selepas makan malam tadi aku memakai kembali gelang perak pemberian Chanyeol yang sempat kulepas. Aku sentuh pengaitnya sambil menyebutkan namanya saat makan malam tadi. Sontak mata Chanyeol segera mencari keberadaanku. Dan saat pandangan kami bersiborok, aku hanya melihatnya dengan intens dan langsung keluar dari Aula Besar. Aku dapat merasakan keberadaannya yang mengikutiku. Dan saat pintu kamar kebutuhan mulai menunjukkan wujudnya, kepercepat langkahku dan segera masuk setelah memastikan tak ada yang melihat.
Pintu tertutup dengan Chanyeol yang berdiri mematung di dekatnya. Ia tak mengucapkan sepatah katapun. Di dalam keheningan ini aku langsung menghambur ke arahnya. Memeluknya dan membaui tubuhnya. Ia tak bergeming. Diam mematung. Aku yakin ia bingung dengan tingkahku.
"Baekhyun," ucapnya seperti berbisik di telingaku.
Aku melepaskan pelukan kami dan menatapnya lekat-lekat.
"Kali ini kau yang harus mendengarkan aku," ucapku dengan sangat serius padanya.
"Aku tak peduli siapa dirimu sekarang. Aku hanya mau kau, sebagai Park Chanyeol, kekasihku tanpa embel-embel apapun," ucapku perlahan, "aku tak mau tahu apa yang kau kerjakan dank au juga tak boleh mau tahu apa yang aku kerjakan kelas. Aku mau kau dan aku. Aku hanya mau kita," akhirnya aku selesai menyelesaikan kalimat itu.
Ia tersenyum sangat tipis di balik pucat kulitnya. "Setuju," dia tersenyum lebih lebar dan menarikku ke dalam pelukannya.
"Aku merindukanmu," ucapku dengan air mata yang akhirnya tumpah.
"Aku lebih dari sekedar merindukanmu, Baekhyunie," ia melepaskanku dan menarikku kedalam ciumannya.
Kata hatiku mengalahkan semua akal sehat. Aku akan berterima kasih pada Kyungsoo nanti.
.
.
.
- o)(o -
.
.
.
