"Prisoner's Paper Plane"

Based on Vocaloid Song 'Paper Plane' Originally sung by Kagamine Rin

Disclaimer: I do not own anything. Vocaloid © Yamaha

Summary: Seorang tahanan di suatu penjara jatuh cinta pada seorang gadis yang ia lihat. Ia pun memutuskan untuk mengirimkannya surat yang telah dibuat menjadi sebuah pesawat kertas...

Genre: K+


Aku adalah seorang gadis yang penyakitan. Hampir setiap hari aku berada dirumah sakit. Tetapi aku juga sering keluar ketempat ayahku berkerja.
Disana aku melihat seorang tahanan laki-laki, entah kenapa melihat wajahnya berarti dunia bagiku.

Suatu hari ia memberikanku sebuah surat yang dilipat menjadi pesawat kertas. Aku membaca surat darinya. Membuat hatiku berdetak lebih kencang, mebuat wajahku merona... Apakah ini yang namanya cinta?

Tapi ayah sangat marah. Ia mengambil surat dari orang yang kucintai, dan membuangnya.

"Rin, jangan temui lelaki itu lagi!" bentaknya kepadaku. Ia membuang surat itu dan pergi meninggalkanku. Aku tidak boleh menemuimu lagi? Aku tidak mengerti kenapa? Aku menangis, Karena aku tidak diperbolehkan bertemu dengannya lagi.

Padahal kehadiranmu sangat berharga, untukku melanjutkan hidupku ini. Diruanganku ini, yang cahaya matahari tidak dapat masuk, aku dapat melihat masa depatku bersinar.

Semakin lama, jumlah tabung ditubuhku semakin banyak. AKu juga mulai sulit untuk mendengar. Aku tidak dapat berjalan seperti yang biasa aku lakukan dulu.

Aku bergumam pelan, "jika aku tidak dapat keluar dari sini hidup-hidup... Setidaknya aku dapat menemuinya sekali lagi..."

Aku tidak ingin dirinya mengkhawatirkanku...
Aku pun melepaskan tabung infusku. Aku berjalan menuju lemariku. Aku mencari baju yang biasa kukenakan ketika aku menemuinya. Aku memakai baju itu dan keluar dari rumah sakit. Aku mencoba berlari, tetapi kakiku sudah sulit untuk kugerakkan. Aku hanya ingin menyampaikan selamat tinggal kepadanya... Kepada lelaki yang kucintai...

XxXx

Aku melihat pesawat kertas yang berisikan surat yang telah kutulis sebelumnya. Aku menerbangkannya hingga melewati dinding kawat yang memisahkan kami. Ia membaca surat dariku. Surat terakhir dariku di sebuah pesawat kertas dengan cinta.

Setelah ia selesai membca surat dariku, ia mendongak ke arahku. Aku tersenyum. Tersenyum tulus. Karena aku tidak ingin membiarkannya melihat air mataku. Aku beranjak pergi karena aku sudah tidak dapat membendung air mataku.

"Aku akan menunggumu!" ia berteriak. Aku ingin sekali berbalik ke arahnya. Tetapi aku tidak ingin ia melihat air mataku.

"Hingga kau kembali, aku akan menyimpan dan menjaga surat-surat darimu... Maka dari itu, kau akan menemuiku lagi, kan?" air mataku tumpah. Aku menangis. Aku segera pergi tanpa melihat kearahnya. Karena aku tidak ingin ia melihatku menangis.

Maafkan aku...

XxXx

Keadaanku semakin memburuk. Aku dipasangi alat bantu pernafasan. Para dokter dan suster sibuk kesana kemari. Aku melihat ayah yang memaksa masuk, tetapi ditahan oleh seorang suster. Aku menangis. Karena rasa sakit. Sakit di tubuhku juga hatiku...

Aku mendengar ayah meneriakkan namaku, tetapi aku hanya bisa terbaring disini dan menangis.

XxXx

Normal PoV

Seorang lelaki berambut blonde berdiri di depan sebuah pintu putih. Ia menatap wajah putrinya yang menangis. Ia mengepalkan tangannya. Terdapat raut benci di wajahnya. Ia pun beranjak pergi dan meninggalkan kamar putrinya, menuju tempat kerjanya.

XxXx

Di Ruang Seorang Tahanan

5 orang tentara masuk ke kamar seorang tahanan. Disana terdapat seorang lelaki berambut blonde yang tertidur sambil memeluk pesawat-pesawat kertas. Seorang diantara mereka mengambil salah satu pesawat kertas yang ia peluk. Tahanan itu mencoba untuk mengambil pesawat kertas itu, tetapi tangan ia ditahan oleh 2 orang lain. Ia mencoba berontak, tetapi itu tidak berguna karena tubuhnya yang kecil.

"Kembalikan! Itu milikku!" tahanan itu menjerit, para tentara itu hanya tertawa. Yang mengambil kertas itu membaca isinya dan berkata sambil tertwa kejam

"Sampah seperti ini seharusnya dibuang!" Kemudian ia merobeknya dan melemparkan serpihan kertas itu di depan mata tahanan tersebut.
Laki-laki tersebut, telah merobek harta tahanan itu...

"Kau...!" Tahanan itu mendorong 2 orang yang menahan tangannya dan ia melayangkan sebuah tinju ke wajah lelaki yang merobek pesawat kertas itu, hartanya..

Sepertinya ia ingin memukulnya sekali lagi, tetapi tubuhnya lagi-lagi ditahan. "Kau akan kubunuh!" teriaknya sebelum ia diseret pergi dari ruangan ini.

XxXx

Rin's PoV

Berbulan-bulan telah berlalu semenjak aku mengucapkan 'selamat tinggal' pada lelaki yang kucintai. Sekarang aku sama sekali tidak dapat bergerak. Kupikir, inilah saat-saat terakhirku.

Seharusnya aku berkata jujur. Aku seharusnya tidak berpura-pura kuat. Tetapi sekarang telah terlambat. Penyesalan selalu datang terlambat...

Tetapi aku masih ingin ia tersenyum di suatu tempat. Aku ingin melihatnya, melihatnya satu kali lagi saja... Melihat orang yang kucintai...

Aku memegang sebuah pesawat kertas. Perlahan-lahan peganganku pada pesawat kertas itu melemah. Seiringan pula dengan detak jantungku ini. Bersamaan dengan kesadaranku yang mulai menghilang, pesawat kertas yang ku pegang terlepas dari tanganku...

Bunga tanpa cahaya matahari. Pasti akan menemui ajalnya. Hanya surat-surat darimu yang memberikanku cahaya yang kubutuhkan.
Aku tidak dapat lagi membaca surat-surat darimu dengan pengelihatanku yang kabur ini. Aku hanya dapat mendengar suara dingin yang bergema di ruangan ini.

Jika ini adalah saat-saat terakhirku, biarkanlah aku menemuinya...

Aku terbangun. Aku melihat ayah berada di samping tempat tidurku. AKu melihat ayah tersenyum sedih. Ayah menggenggam tanganku, lalu ayah mengembalikan pesawat kertas yang tadi terjatuh dari tanganku. Aku tersenyum dan menutup mataku untuk selama-lamanya.
Ingatanku tentangnya muncul. Kenangan tentangnya, Tentang orang yang kucintai...

Aku berada di suatu tempat. Tempat ini adalah tempat dimana aku bertemu dengannya, tempat dimana ia mengirimkan surat untukku, tempat perpisahan kami.

Aku melihatnya, melihatnya berdiri dibalik dinding yang memisahkan kami. Perlahan, dinding itu menghilang. Aku melihat ia tersenyum. Senyum yang amat sangat kurindukan. Melihatnya tersenyum, aku juga tersenyum. Aku pun mendekatinya dan ia mengandeng tanganku. Aku tersenyum, dia tersenyum. Karena kami dapat bertemu kembali...

Karena kau ada disampingku, Aku bisa selalu tersenyum. Kegelapan kelam memisahkan kita berdua, tetapi Kegelapan itu pula yang menyatukan kita berdua. Sekarang aku dapat melihatmu... Selamanya...

~The End~