Author : Yuri Masochist or Han Youngra
Title : Teenage
Cast : Lihat saja nanti! Tapi author ikut main disini. Lumayan, buat ngeksis hahaha :D *direbus
Genre : Romance
Rated : M mungkin. Kalau aku salah nempatin kasih tau ya, biar diganti
Type : Yuri and Yaoi
Length : Chapter
Summary : I don't know :3 Hehe mianhae
Disclaimer : Semua cast milik Tuhan! Kecuali cerita dan changmin kyuhyun hyuna saya milik saya pribadi :D
Warning : Alur kecepetan! Bahasa berantakan! Banyak TYPO's! This is YURI and YAOI fic! GIRLXGIRL and BOYXBOY! Sama sekali gak ada STRAIGHT DISINI! Jangan ngarep ya straight readers. Saya aja main di FF ini ikutan jadi yuri wkwkwkwk XD. Enjoy ya, walaupun kata-katanya berantakan karena saya gak bias bikin kalimat. Jangan ilfeel gara-gara saya ikutan maen ya =,=. Boleh bashing saya tapi jangan pada para artis, okay?
Thank you bagi yang sudah membaca WARNING!
.
.
.
.
Chapter 2
Moment
.
Yuri terduduk di ranjang kingsize-nya, hanya terbalut selimut putih, dan tanpa sehelaipun benang yang melekat di tubuhnya. Dia memikirkan sesuatu. Pertemuannya dengan seseorang kemarin membuatnya susah tidur, dan bangun lebih pagi dari seharusnya. Tak seharusnya dia memikirkannya, tapi senyum gadis itu tetap terbayang di benaknya. Rambutnya, bibirnya, suara bahkan tubuhnya. Mengingatkan Yuri kepada-
"Jagiya~,"
Yuri kembali dari khayalannya ketika dirasakannya sepasang tangan kurus melingkar di lehernya. Dia berbalik dan mendapati dagu Jessica beristirahat di bahunya. Rambut pirang berantakan, dan wajahnya yang baru bangun tidur terlihat sangat menggoda. Yuri mengecup bibir setengah terbuka itu lalu menatapnya.
"Ada yang kau pikirkan? Hm?" tanya Jessica dengan nada manja.
Yuri menggeleng. Dia melepaskan pelukan tangan Jessica pada lehernya lalu berbalik ke arahnya.
"Lalu, kau kenapa?" Jessica mempoutkan bibir merah mudanya seraya melipat kedua tangannya di dada. "Kau memikirkan Seohyun?"
Yuri menggerenyitkan dahinya bingung. Lalu sedetik kemudian bibirnya tersenyum melihat Jessica menggembungkan pipinya kesal. "Kau cemburu?" Yuri mendorong tubuh Jessica yang juga naked dan menindihnya.
"Aw!" Jessica menjerit kaget, lalu tertawa pelan. "Kalau iya kenapa?" Dia menatap Yuri dengan wajah menantang.
Yuri menyeringai. Digigitnya ujung hidung Jessica lalu menarik selimut putih hingga menutupi tubuh mereka berdua.
"Y-yah! Yuri!"
"Ssst!"
"Lepas!"
"Kau diam saja, jagi~."
"Ahahaha geli~ lepas ah!"
"Hmm, gak mau."
"Engh~, ayo sekolah."
"Hehehehe."
"L-lepas, aahh..."
"Just one second."
"Enghh, lepashh..."
"Hm?"
"Ohh~ hnn... Yuri! Yah!"
Teenage
Bruk!
Youngra membantingkan telapak tangannya di meja Hyuna lumayan keras. Membuat Hyuna yang tengah membaca novel tersentak kaget. Hampir dia terjatuh ke belakang jika saja tangannya yang satu lagi tak menahan meja. Hyuna meletakkan novelnya di meja, bersiap untuk marah.
"Yah!"
"Pagi, hehe." Youngra hanya nyengir dan kemudian duduk di kursinya. Dia melempar ranselnya ke lantai.
Hyuna menendang kaki Youngra dan menggembungkan pipinya, "Kau mengagetkanku, bodoh!"
Youngra mengangkat sebelah bahunya dan tersenyum. Dia mengeluarkan sesuatu dari saku seragamnya lalu meletakkannya di atas novel Hyuna. "Datang ya!" seru Youngra. Lalu dia mengeluarkan sebungkus permen karet rasa jeruk dan memakannya.
Hyuna mengambil secarik kertas yang diberikan Youngra, "Apa ini?" tanyanya.
Youngra mengunyah permen karetnya. "My friend's party. Datang ya?"
Hyuna menatap kertas berisikan alamat itu bingung, lalu kembali menatap Youngra. "Kapan?"
"Malam minggu ini."
Hyuna mengangguk setelah menimbang-nimbang. Dia melipat kertas itu dan memasukannya ke dalam saku jas-nya. "Baiklah."
"Hyuna!"
Pandangan mereka berdua beralih ke arah pintu kelas. Disana, seorang gadis berambut hitam pendek sudah berdiri seraya tersenyum ke arah Hyuna. Wajah Hyuna segera sumringah. Dia segera berdiri dan berlari ke arahnya.
"Jiyoon-ah!" pekik Hyuna gembira.
Mereka berdua berbincang sebentar dan kemudian pergi dari batas pandangan Youngra. Youngra menaikkan kakinya ke atas bangku Hyuna dan melipatnya, seraya masih mengunyah permen karetnya. Tak disangka bibirnya membentuk seringai kecil.
Kemudian Kwon Sohyun datang dan duduk di bangkunya. Dia meletakkan ranselnya lalu mengeluarkan sebuah buku dari dalam sana.
Youngra membuka satu bungkus permen karet lagi lalu memakannya. Mengunyah dua permen karet bersamaan.
"Hei, Sohyun!" panggilnya. Sohyun menoleh dengan tatapan dinginnya. "Kau suka party?"
Sohyun mengalihkan pandangannya, kembali fokus pada bukunya. Youngra mendengus kesal setelah itu. Tak ada gunanya mengajak dia, batinnya.
]~.0.~[
Kyuhyun berjalan gontai dari kantin menuju ruang kelas, meninggalkan sahabatnya. Sebenarnya Zhoumi masih di kantin. Dia sedang mencoba segala macam makanan seperti orang kelaparan. Padahal Kyuhyun sudah mengajak namja berambut merah itu ke kelas sejak tadi. Tetapi dia tak mau. Hal itu membuatnya kesal. Kyuhyun mendengus sebal.
"Dasar koala gila!" pekiknya.
"Siapa yang kau sebut koala gila?"
Kyuhyun menatap ke arah sumber suara yang berasal dari hadapannya. Seorang namja tinggi, rambutnya hitam dan berwajah tampan berdiri di hadapannya. Kyuhyun yakin dia bukan anak kelas satu sepertinya, mungkin dia kakak kelas.
"A-an... Bukan siapa-siapa. Kau-"
Namja itu tersenyum ke arah Kyuhyun lalu mengulurkan tangannya. "Choi Siwon. Kelas 2-2."
Kyuhyun menerima uluran tangannya ragu lalu tersenyum canggung. "Cho Kyuhyun. Anak kelas-"
"Kelas 1-5 'kan? Aku sudah tahu."
Kyuhyun mengangkat sebelah alisnya bingung. Bagaimana namja itu tahu kelasnya sementara mereka baru bertemu detik ini juga?
Siwon tertawa melihat tingkah Kyuhyun. Dia menepuk kepala Kyuhyun lembut. Membuat pipi Kyuhyun merona merah di buatnya. Kyuhyun juga tak tahu kenapa.
"Sampai bertemu lagi ya. Aku ada urusan."
Lalu Siwon meninggalkan Kyuhyun yang mematung disana. Dalam beberapa saat ia membeku. Dan dia kembali dalam kesadarannya lalu setelah itu menggelengkan kepalanya.
"Jangan! Jangan Kyu! Jangan pikirkan namja itu! Kau bilang kau ingin dapatkan Shim Changmin? Kau ingin dia bukan?" Kyuhyun memukul kepalanya berulang kali. Dia tak menyadari seorang namja lain berdiri tepat di hadapannya dengan tubuh yang bertumpu pada tangan kanannya di dinding.
"Kenapa namaku disebut?"
Kyuhyun sontak mengangkat kepalanya mendengar suara itu. Di hadapannya, Changmin berdiri tenang dengan senyuman. Kyuhyun memundurkan tubuhnya kaget, lalu semburat merah datang lagi menjalari pipinya.
"Ch-Changmin! Sejak kapan kau-"
"Tenang saja. Aku baru datang. Dan aku juga tidak mendengar ucapanmu tentangku." jawab Changmin.
Kyuhyun mengusap dadanya lega. "Syukurlah." Dia tersenyum senang. Lalu detik itu juga dia terdiam. Otak jeniusnya mencerna sesuatu. Dan dia menyadarinya segera. "Ya! Darimana kau tahu aku membicarakanmu? Kau pasti mendengarnya bukan? Huh?"
Changmin tertawa. Dia mulai berdiri tegak dan maju selangkah mendekati Kyuhyun. "Kyuhyunie lucu ya?" Changmin menyentuh bahu Kyuhyun dan menatapnya.
Kyuhyun membeku di tempat. Sentuhan itu membuat darahnya mendidih dan bergejolak. Dia begitu menginginkan namja ini.
"Ch-Chang..."
"Besok main game di rumahku. Bagaimana?" tanya Changmin manis.
Kyuhyun menggerenyitkan dahinya. "G-game?"
"Kyu suka game 'kan?"
Kyuhyun dengan cepat mengangguk. Dia tak mau menyianyiakan kesempatan ini. Besok harus menjadi hari sempurna pendekatannya terhadap Changmin.
]~.0.~[
Di dalam toilet putri lantai 2 Guardian High School, Yuri berdiri di hadapan Yoona, yang tengah menyandarkan punggungnya di pintu salah satu wc. Yoona tersenyum ke arah Yuri yang hanya menatapnya tanpa ekspresi. Mereka sedang membicarakan sesuatu, yang mungkin bersifat privacy, hingga tak ada orang yang boleh tahu selain mereka. Bahkan kekasih mereka masing-masing.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Yoona.
Yuri mendengus dan menendang dinding pelan. "Kenapa kau kembali kesini?"
"Hanya rindu padamu."
"Dan membawa gadis lain?" Yuri mengangkat alisnya dengan wajah menantang. "Apa maksudmu?"
Yoona masih menanggapinya dengan santai. "Kau juga bersama Jessica sekarang."
Yuri menundukkan wajahnya. Lalu dia tertawa pelan. "Kita sudah berakhir. Ingat?"
"Yeah. Aku sangat mengingatnya." Yoona melangkah maju dan mengangkat wajah Yuri. "Kau masih sama seperti dulu."
Yuri mendorong tubuh Yoona terhadap pintu wc. Yoona hanya tersenyum melihat tingkahnya. "Maksudmu aku sama seperti ketika kita SD dulu?"
Yoona meraih beberapa helai rambut Yuri dan menyelipkannya di belakang telinga. "Sama seperti kelas 2 SMP dulu."
"Maksudmu sama seperti ketika kau pergi tiba-tiba?" Yuri tertawa meremehkan lalu mendorong bahu Yoona.
Yoona masih tersenyum. Dia mengangkat jarinya dan menyentil dahi Yuri. Membuat Yuri diam, merasakan kebiasaan Yoona sejak mereka kelas 1 SD. Ternyata kebiasaan Yoona terhadapnya masih ada sampai sekarang. Walaupun mereka sempat terpisah selama lebih dari satu tahun, dan sekarang dipertemukan kembali di sekolah baru. Walaupun dengan kondisi yang sedikit berbeda.
"Yeah."
"Aku harap kau menyesali perbuatanmu waktu itu."
Yoona menyeringai kecil mendengar kalimat itu. Dia maju satu langkah mendekati Yuri dan mengusap pipinya lembut. "Yuri, tidak rindu padaku?"
Yuri terdiam. Mulutnya sama sekali tak bisa menjawab. Atau memang mulutnya tidak mengetahui satu jawaban apapun. Cukup lama mereka dalam keheningan, akhirnya Yoona menghapus jarak diantara mereka dengan cara melumat bibir Yuri langsung. Dia merindukan bibir merah ini. Sudah lama tak ia cicipi, sudah lama tak ia jamah. Yuri hanya diam, tak merespon dengan apa yang Yoona lakukan. Yang ingin dia rasakan hanya ciuman ini. Sentuhan yang ia rindukan. Yoona melumat bibir itu dengan pelan, tak ingin membuat tempo lumatan itu menjadi cepat. Ia lebih suka menyicipi dengan perlahan namun terjamah semua.
"Hei Yuri!"
Yuri membuka matanya-yang sempat ia pejamkan-ketika mendengar sebuah suara. Dia segera menjauhkan tubuhnya dari Yoona dan mengarahkan pandangannya ke sumber suara. Begitupula dengan Yoona. Mereka melihat seorang gadis berambut coklat muda sebahu sedang menyandar di dinding dengan tangan yang terlipat di dada. Dia menatap mereka dengan pandangan biasa, seolah tak terjadi apa-apa.
Mata Yuri melebar melihat teman sekelas baru mereka berdiri disana. "Y-Youngra? Se-sejak kapan kau berada disini?"
"Kau dicari Jessica di kelas."
Yuri segera berjalan cepat mendekati Youngra. Dia menarik kerah baju Youngra tak sabar. "Jangan bicarakan ini di depan siapapun? Termasuk Jessica. Mengerti?"
Ekspresi wajah Youngra tak berubah sedikitpun. Tak ada rasa takut. Dia hanya tersenyum dan menurunkan tangan Yuri perlahan dari kerah bajunya. "Jessica menunggumu." Youngra menunjuk ke arah pintu dengan dagunya. "Pergilah."
Yuri terdiam sejenak. Dia tak percaya jika Youngra dapat menyembunyikan hal ini. Masalahnya dia baru mengenalnya kemarin, sama seperti teman-teman baru lainnya. Tapi di satu sisi dia harus segera pergi. Sebelum Jessica datang kemari dan menebak-nebak apa yang terjadi.
Yuri mengarahkan pandangannya ke arah Yoona, yang hanya menatapnya dengan senyuman. Lalu pandangannya beralih kembali ke arah Youngra, mendorong bahunya kasar dan segera berlalu dari tempat itu.
Youngra merapikan kerah bajunya, walaupun bajunya memang sudah berantakan. Seragam yang keluar, dasi yang tak dipakai dengan benar dan lengan kemeja yang di gulung sesiku.
"Apa maksudmu datang kemari?" Akhirnya Yoona bersuara, setelah keheningan mengambil alih dalam beberapa detik.
Youngra tertawa kecil dan berjalan ke arah wastafel. Dia menyalakan keran dan membasuh kedua tangannya ketika air mulai mengalir.
"Toilet ini bukan milik nenek moyangmu." ucap Youngra santai.
Yoona berdecak kecil. Lalu dia berlalu, keluar dari toilet meninggalkan Youngra. Youngra hanya terkekeh kecil seraya mematikan keran air.
]~.0.~[
Hyuna memiringkan kepalanya ke kanan kemudian ke kiri-trakk—hingga terdengar bunyi dari tulang-tulang yang kaku akibat berdiam di hadapan duapuluh soal kimia yang ditekuninya sejak satu jam yang lalu. Lalu dia merenggangkan lengannya ke udara, kemudian menarik napas lega. Dia cukup puas dengan pertanyaan yang cukup mudah dijawab olehnya. Pasti Lee seonsaengnim, selaku guru kimianya akan puas dengan hasil pekerjaan Hyuna. Kita lihat saja besok.
Drrt.. drrt…
Hyuna menolehkan pandangannya ke arah handphone flip miliknya yang berada di samping buku PR-nya. Dia mengambil lalu membuka-plop—flipnya dan melihat deretan huruf dari pengirim pesan singkat yang masuk ke dalam nomornya. Dibukanya pesan itu untuk ia baca.
From : Lovely Jiyoon
Malam sayang~ udah makan?
Hyuna tersenyum. Lalu dia menekan tombol reply untuk membalas pesan tersebut.
To : Lovely Jiyoon
Malam juga honey :3
Aku belum makan, baru selesai mengerjakan PR hehe. Jagiya udah makan belum?
Lalu dia menekan tombol send-klik—dan pesan itu segera terkirim ke deretan nomor milik kekasihnya. Hyuna kembali tersenyum sebelum memeluk handphone bercasing kuning-nya di dada. Dia hanya butuh menunggu waktu sekitar satu menit—mungkin kurang—dan sebuah pesan sudah kembali masuk ke dalam nomornya.
From : Lovely Jiyoon
Udah dong, baru aja tadi *tepuk-tepuk perut*. Kenapa belum makan sayang? Makan dulu gih. Atau mau disuapin~?
Hyuna tertawa kecil.
To : Lovely Jiyoon
Males ah jagiya~ takut gemuk. Ini kan udah malem :3
Hyuna turun dari kursi lalu berjalan menjauhi meja belajarnya menuju ranjang single size yang penuh dengan warna kuning-mulai dari seprai dan boneka-boneka yang berjajar rapi di dekat bantal. Dia menjatuhkan tubuhnya di sana dan berbaring memandang layar handphone-nya. Dan tak perlu waktu yang lama, sebuah pesan singkat sudah kembali datang ke handphone-nya.
From : Lovely Jiyoon
Heh! Kamu udah terlalu kurus! Makan dulu sana! Ayo~ kalau aku ada disitu udah aku jewer kamu dan paksa kamu makan.
To : Lovely Jiyoon
Ani, ani, ani~ aku maunya disuapin sama jagiya :3
Dan Hyuna menekan tombol send kembali.
Hyuna meletakan handphone-nya di samping kepala. Dia menatap langit-langit kamarnya—yang berwarna hijau cerah—selagi bersenandung kecil. Tangan kanannya menggapai boneka bear berwarna pink—pemberian Jiyoon saat valentine beberapa bulan yang lalu—lalu memeluknya di dada.
Drrt… drrt…
Dan handphone itu kembali bergetar. Hyuna menggapai lalu membuka pesan itu dengan senyuman. Namun, bukan sms dari Jiyoon. Dari nomor tak dikenal. Senyum Hyuna menghilang.
From : 8943-0892
Malam Hyuna
Hyuna menautkan kedua alisnya. Siapa ini? No siapa? Kenapa tahu namanya? Aish, Hyuna malas meladeninya.
Hyuna menekan tombol back dan kemudian menatap layar handphone itu. Wallpapernya. Fotonya bersama Jiyoon waktu kencan pertama mereka. Malam itu Jiyoon datang ke rumahnya. Mengatakan kepada orangtua Hyuna bahwa ada tugas kelompok akhir sekolah. Waktu itu mereka masih kelas 3 SMP. Dan orangtua Jiyoon percaya saja. Mereka tahu kalau gadis berambut pendek itu kekasih anaknya. Dan mereka tidak mempermasalahkan akan gender mereka. Hei, di Korea sekarang hubungan sesama jenis sudah wajar. Tak ada yang mempermasalahkan hal itu.
Mereka pergi ke taman bermain. Untuk kencan pertama mereka. Pertama naik roller coaster dan hal itu membuat Hyuna menangis di pelukan Jiyoon. Lalu mereka melanjutkan dengan masuk ke rumah kaca. Kemudian mereka membeli permen kapas. Hyuna masih ingat ketika Jiyoon memakan permen kapas miliknya. Dan Hyuna memukul Jiyoon saat itu. Dan terakhir, di malam minggu itu mereka menaiki bianglala. Malam sangat indah waktu itu. Bulan bersinar sangat terang. Bintang-bintang bertaburan di langit. Rasanya Hyuna ingin membawa pulang satu bintang kerumah.
Akhirnya mereka dapat menaiki bianglala setelah lama mengantri—bahkan Hyuna sudah menguap beberapa kali. Bianglala itu berputar tetapi terhenti lama ketika tempat yang mereka naiki berdua berada di puncak paling atas. Sepertinya bianglala pun tahu bahwa Hyuna ingin waktu terhenti saat itu juga. Memandang bintang dan bulan, di puncak tertinggi, berdua dengan orang yang kau cintai, apalagi yang masih kurang? Rasanya sudah sangat sempurna. Hyuna mengeluarkan handphone-nya dan mengarahkan lensa kamera kearah mereka berdua yang duduk berdempetan. Dan—klik—Hyuna menekan tombol ketika mereka berdua siap. Sebuah momen terpotret di ponselnya. Hyuna melihat hasil potretannya. Dirinya dan Jiyoon tersenyum manis—dengan pipi yang saling bersentuhan. Hyuna tersenyum puas. Dia terlalu sibuk dengan potret di handphone-nya sampai tak menyadari wajah Jiyoon sudah mendekat kearahnya. Hyuna merasakah hembusan napas mendekat. Dia menoleh dan dapat dirasakannya sebuah bibir mendarat mulus di bibirnya. Ciuman pertama mereka. Ciuman pertama Kim Hyuna. Lembut. Penuh cinta. Dan bintang menjadi saksinya.
Wajah Hyuna memerah mengingat memori itu.
Drrt… drrt…
Hyuna mengerjapkan matanya. Sebuah pesan masuk lagi ke nomornya. Semoga kali ini Jiyoon. Dia membuka pesan dan melihat siapa pengirimnya.
From : 8943-0892
Ah, ini nomorku. Han Youngra. Maaf kalau membuatmu takut. Selamat tidur kalau begitu.
Oh, Youngra ternyata, batinnya.
Hyuna segera menyimpan nomor itu dalam kontak ponselnya. Han Youngra.
Eh, kira-kira darimana dia mendapat nomorku? Ah, mungkin dari biodata sekolah kemarin.
Hyuna berniat untuk membalas pesan itu. Tapi ada rasa enggan juga. Lagipula dia sedang menunggu balasan dari Jiyoon. Dia memang tidak suka untuk berpesan singkat—kecuali kepada Jiyoon. Dia lebih suka untuk menyibukkan dirinya dengan hal lain. Membaca novel? Atau bermain laptop mungkin?
Jiyoon tak membalas pesannya.
]~.0.~[
Update!
Please review :3 susah lho jadi authot ;_;
Oh ya, doakan saya ya
Rabu mau ujian~
Oh ya, sekedar info
Super Junior : Kyuhyun | Siwon | Sungmin | Zhoumi
DBSK : Changmin
U-Kiss : Kevin | Kiseop
Boyfriend : Youngmin | Kwangmin | Minwoo
SNSD : Yoona | Yuri | Jessica | Seohyun
4Minute : Hyuna | Jiyoon | Sohyun
Chi Chi : A-zi | Sui | Nara
OC : Han Youngra. It's me ^w^
.
CAST AKAN BERTAMBAH SEIRINGAN BERJALANNYA FF
ThanKYU
