About Us.

Disclaimer Masashi Kishimoto

Naruto x Hinata

Warning!Typo(s), gaje, alur sinetron, dan warning - warning lainnya!

Romance and Drama

.About Us

Bab II.

.

.

Setelah hampir seminggu lebih Naruto menunggu#plak. Eh- maksudku setelah hampir 1 jam Naruto menunggu, Hinata akhirnya sadar dari tidur panjangnya. Baru bangun tidur dan Hinata sudah diberi pemandangan indah dihadapan matanya. Yang Hinata maksud adalah ; Naruto sedang menyeringai seksi sambil menatapnya dengan mata yang seakan berbicara, 'Aku ingin menerkammu sekarang juga, Hime.'

Dengan susah payah, Hinata menelan ludahnya sendiri. Beberapa menit mereka dilanda keheningan yang akhirnya dipatahkan oleh Naruto. "Kau sudah tidak apa-apa kan, Sayang? "Tanyanya (sok) khawatir kepada Hinata. Sedetik kemudian, Hinata merasa perutnya sedikit mual saat mendengar kata 'Hime' yang ditujukan kepadanya.

Tapi walaupun begitu, Hinata tetap saja mengangguk. Naruto pun mengenggam tangannya, "Ayo! "Ucapnya. Hinata hanya menatap naruto bingung. Sebenarnya, apa sih yang dipikirkan bocah kuning ini?

"Ayo kita ke kantin! Aku tahu kalau perutmu butuh asupan makanan. Jika tidak, mungkin cacing - cacing diperutmu akan berdemo.. "Ucapnya cuek. Awalnya Hinata merasa bahwa Naruto sangat perhatian, tapi setelah mendengar kalimat terakhir dari Naruto, Ia rasa harus menarik kekagumannya.

'Sebenernya, dia ini niat enggak sih buat ngajak aku ke kantin?! 'Gerutu Hinata dalam hati. Naruto pun tiba-tiba mendelik, "Tentu saja aku benar-benar berniat mengajakmu ke kantin, Sayangku.. "Jelasnya sambil menunjukkan ekspresi seolah - olah dia terluka atas pikiran Hinata tentangnya. Giliran Hinata yang kini melototkan matanya seakan tak percaya dengan yang Naruto ucapkan.

'Kenapa dia bisa tahu? '

"Tentu saja aku tahu, aku dan Author kan bisa membaca pikiran orang. *jempolnya menunjuk ke Author yang ternyata sedang makan dipojok ruangan. "BAKA NARUTO- CHAN!!!"Jerit Author sambil melempar kepala Naruto dengan kotak makan siangnya#plak#abaikan*. Hinata hanya bisa membuka mulutnya dan berkata, "Hah? "

"Aishh, sudahlah. Ayo kita kekantin!! "Paksa Naruto yang sudah membawa Hinata kedalam gendongannya*hikss, beruntungnya kau Hinata.. π_π* Hinata menatap Naruto dengan mata yang terbelalak(lagi). "A-apa yang kau lakukan? T-turunkan aku! B-baka! "Pekiknya sambil mencoba menjatuhkan dirinya yang berakhir dengan sia-sia.

"No, no. Aku tidak akan menurunkanmu sebelum kita sampai ke kantin, Hinata. "Ucap Naruto yang masih setia menggendong Hinata dan keluar dari ruangan kesehatan dan berjalan menuju ke kantin. Sepanjang perjalanan, Hinata tidak berani menunjukkan wajahnya. Malu untuk lebih tepatnya, masa Hinata digendong sama cowok yang baru ia kenali beberapa jam yang lalu?

Naruto sih seneng-seneng aja waktu Hinata menundukkan wajahnya merapat kedada Naruto, tapi kan disini korbannya adalah Hinata!! Oh, andai saja di universitas ini ada Neji, mungkin Naruto sudah tidak berkepala lagi sekarang.

Sayang seribu sayang, itu hanya jika Neji benar-benar ada. Itu kan cuma harapan Hinata saja, harapan memanglah hanya sebuah harapan.. _ *Author ikutan sedih*. Tak terasa, kini mereka sudah sampai di pintu masuk menuju kantin. Banyak sekali mata yang menatap ke arah Naruto yang sedang menggendong Hinata. Dengan berat hati, Naruto pun menurunkan tubuh kekasih(paksaan) nya itu ke lantai.

Hinata pun bisa bernafas dengan lega. Ia baru saja akan kabur ketika Naruto sudah mengenggam tangannya lagi. "Eits, kau tidak bisa kabur dariku, Hime-chan.. "Hinata pun memberengut sebal dan berbalik lalu memarahi Naruto.

"Kau!! Kau sangat menyebalkan kau tahu?! Aku pikir saat ditaman tadi kau adalah orang yang baik?! Nyatanya saat di kelas kau justru berkata kepada semua orang bahwa aku adalah kekasihmu!! Aku bahkan tidak mengenalmu sebelumnya, tapi kini aku tahu kalau kau adalah pemuda kaya yang suka sekali memaksa!! Aku benci padamu!! "Teriak Hinata pada kalimat terakhir. Nafasnya tersengal-sengal setelah memarahi Naruto.

Kantin dilanda keheningan, seluruh manusia(?) yang ada dikantin membuka goa(?) mereka masing-masing. Terkejut akan apa yang dilakukan oleh Hinata kepada Naruto. Naruto pun tak kalah terkejut, matanya masih membelalak dan tubuhnya diam ditempat.

Disisi lain, para pemuda lain dan kawan-kawan Naruto merasa bangga atas apa yang dilakukan oleh Hinata. Mereka sangat bangga malah, menurut mereka; Sesekali Naruto itu memang pantas untuk dimarahi, karena dia adalah seorang playboy kelas hiu-eh-kakap. Naruto dulu suka sekali mempermainkan wanita, walau diingatkan sahabatnya berulang kali, Naruto tetap ngeyel(?). Mungkin, ini adalah saat dimana Naruto akan mendapatkan balasannya.

Disisi fansgirl-nya Naruto, mereka malah semakin benci dengan Hinata. Sok berani banget sih gadis itu, pikir mereka. Kalau tidak begitu ya begini, 'Dasar tidak tahu malu. Sudah beruntung dia dijadikan Naruto-kun sebagai pacarnya. Eh, dia malah memaki Naruto-kun seperti itu! Akan lebih baik jika aku saja yang jadi pacarnya Naruto-kun. Hihihi~~'

Hinata pun berbalik dan berjalan. Baru tiga langkah Ia berjalan, tangannya ditarik dengan keras hingga membuatnya tersentak dan tubuhnya menubruk dada bidang Naruto. Mata Naruto menatapnya tajam, datar dan dingin. Hinata pun juga menatapnya datar, dingin dan setajam silet-eh?

"Katakan sekali lagi, Hinata. "Ucapnya dengan nada dingin.

"Aku. Membencimu. Namikaze Naruto. "Ucap Hinata tak kalah dingin dengan singkat, padat dan jelas. Tatapan datar Naruto semakin menguat dan menjadi tatapan yang menusuk. "Aku akan membuatmu menarik kata-katamu, Hyuuga Hinata. Aku akan membuatmu mencintaiku. "Ucap Naruto dengan yakin.

"Silahkan, buat aku mencintaimu. Tapi aku juga akan membuatmu tidak mampu membuatku jatuh cinta kepadamu. "Ucap Hinata tak mau kalah.

"Baik, kita akan lihat siapa yang menang nanti. Aku yang membuatmu jatuh cinta padaku atau Kau yang akan mampu membuatku membencimu. "Tantang Naruto.

"Baik. Kita lihat saja nanti, "dan setelah itu Naruto melepaskan cengkramannya pada tangan Hinata. Pandangannya pada Hinata juga terlepas dan dia mengedipkan matanya sambil mengiringi bola matanya kesamping diiringi dengan hembusan nafas yang keras pertanda bahwa dia tengah kesal saat ini.

Hinata pun pergi keluar dari kantin. Setelah Hinata keluar dari kantin, semuanya langsung berteriak histeris dan ada yang tertawa.

"Dasar!! Hyuuga jelek, berani-beraninya dia memarahi Naruto -kun.Tidak tahu malu!! "

"Iya benar!! Lebih baik jika kita nanti memberi dia pelajaran saat pulang dari kampus!!"

"Seharusnya dia berterimakasih kepada Naruto-kun karena menjadikannya sebagai pacarnya!! Bukan memarahinya seperti itu!! "

"DIAM KALIAN SEMUA!!! "Bentak Naruto kepada kerumunan gadis yang bergosip agar memberi Hinata sebuah pelajaran. "Jika sampai kalian berani memberikan pelajaran kepada Hinata, aku pastikan kalian akan kubuat jadi miskin!! Sialan!! Kalau Hinata tergores sedikitpun, maka aku akan mendatangi kalian dan terpaksa melakukan kekerasan! Aku tidak peduli bahwa kalian adalah laki-laki ataupun perempuan!! Kuso!!! "Bentak Naruto panjang lebar. Yang kemudian ikut keluar dari kantin meninggalkan para gadis yang sangat terkejut.

*About Us*

Naruto pun datang ke tempat para kawan-kawannya berkumpul. Baru membuka pintu, dan dia sudah diberikan sebuah ledakan tawa yang sangat keras. Entah itu dari Sai, ataupun yang lainnya. Tapi, sepertinya hal itu sangatlah lucu hingga sukses membuat Shikamaru dan Sasuke terbahak-bahak.

"Cih, terus saja kalian akan mentertawakanku. Ayo! Ayo! Tertawa yang keras! "Suruh Naruto setengah menyindir. Mendengar hal itu semakin membuat mereka tertawa lagi.

"Bwahaha!! Kalian dengar kan waktu dikantin tadi?! Baka Naru-chan ini diteriaki seorang perempuan!! Parahnya lagi dia adalah Hyuuga Hinata!! Bwahahaha!! Aduh, aku sampai tertawa sambil menangis karenanya! "Ucap Kiba yang semakin membuat tawa mereka meledak sampai-sampai Sasuke terpingkal-pingkal karenanya.

"Kau!! Kau sangat menyebalkan kau tahu?! Aku pikir saat ditaman tadi kau adalah orang yang baik?! Nyatanya saat di kelas kau justru berkata kepada semua orang bahwa aku adalah kekasihmu!! Aku bahkan tidak mengenalmu sebelumnya, tapi kini aku tahu kalau kau adalah pemuda kaya yang suka sekali memaksa!! Aku benci padamu!! ~~" Kiba mencoba menirukan suara Hinata saat memarahi Naruto tadi dengan suara yang ia lembut-lembutkan seraya menunjuk-nunjuk wajah Naruto.

"A-apa kau sedang mencoba u-untuk membuat kami s-sakit perut Kiba?! Hahaha, Baka Dobe!! S-sungguh aku sampai menangis.. "Ucap Sasuke sambil tertawa yang menyebabkan ucapannya tersendat-sendat.

'Memang, Naru-chan adalah orang yang bodoh. Muahaha~~'inner Author sambil tertawa sadis(?).'Kau benar, Author-chan. Dobe itu sangat, sangat, sangat bodoh' sahut Sasuke yang ikutan tertawa dan tos bersama dengan Author. 'Wkwkwk, mungkin di lain kali, aku akan menyuruh Hinata menjalankan dialogku dimana Naru-chan akan digundul rambutnya. Muahaha~~'Author kembali tertawa nista.

'Hahaha, kau benar. Mungkin nanti dia akan mengikuti jejak para biksu yang ada di kuil, 'dan Author tertawa bersama dengan Sasuke. 'Aku akan keluar dari fanfic ini, jika Kau selalu mengejekku Author.. 'Ancam Naruto yang tiba-tiba muncul entah dari mana. Author pun gelagapan, 'Y-yah, jangan seperti iti dong Naru-chan...Kalau kau pergi, bagaimana kelanjutan fic ini?? ''Aku tidak peduli, Baka Author. Jadi, silahkan saja mengejekku terus dan aku akan keluar dari project fanfic mu ini. Muahaha~~'Kini, giliran Naruto yang tertawa nista.

Oke, oke, abaikan percakapan inner gaje diatas ya para pembaca budiman(?). Kita kembali lagi ke ceritanya, atau mau kembali ke laptop?_. Ya sudah, alangkah kita lanjutkan lagi ceritanya yang sempat tertunda.

Beruntung setelah percakapan gaje diatas, Sasukedan seluruh kawannya sudah kembali menjadi normal(?) dan sudah tidak tertawa lagi seperti orang gila. Sai sebagai sahabat Naruto menepuk pundaknya dan berkata, "Jadi.. Tunggu apa lagi? Taklukan dia dan buat dia jatuh cinta kepadamu!! Pokoknya kau harus bisa menaklukkan hati Hyuuga-chan itu!! Aku mendukungmu!! "Sai mengucapkan kalimat itu dengan semangat membara yang tak pernah Ia tunjukkan sebelumnya.

Naruto langsung mendelik saat mendengar panggilan Sai untuk Hinata-nya. -Enggak salah tuh, ngaku-ngaku kalau Hinata punyanya situ.. Sadar enggak sih? -Sai pun hanya menanggapi delikan Naruto dengan senyum palsunya.

"Jangan tampilkan senyum palsumu, Mayat Hidup! "Bentak Naruto saat melihat senyum yang Sai tunjukkan kepadanya. "Ini bukan senyum palsu, ini senyum sejuta dollar.. "Ucap Sai sambil bernarsis-ria. Naruto pun hanya berdecih saat mendengar ucapan narsis dari Sai.

"Kalian semua pergilah! Aku ingin sendirian disini,"usir Naruto kepada seluruh penghuni(?) ruangan itu. Sasuke pun berdiri, "Ck. Kenapa jadi kami yang harus menyingkir?"gerutunya sambil keluar dari ruangan itu yang kemudian disusul oleh kawan-kawan lainnya meninggalkan Naruto yang kini sendirian diruangan itu.

Naruto menatap pemandangan diluar jendela sambil memikirkan kejadian di kantin tadi. 'Tunggu saja, aku akan membuatmu Jatuh Cinta kepadaku, Hime.. 'Batinnya. Lalu dia pun mengambil selembar foto usang yang berisikan kedua anak kecil berambut pirang dan berambut indigo berwajah cemberut dan bersidekap dada dan saling memandang sinis.

*About Us*

Hinata terus menggerutu sejak kejadian di kantin tadi. Dia sangat, sangat dan sangat kesal kepada pemuda tampan berambut duren itu. Sebenarnya, apa sih yang kurang dari Namikaze Naruto itu yang sampai membuat Hinata jengkel setengah mati kepadanya?

Tampan? Oh, dia amat sangat tampan.

Kaya? Jangan ditanya lagi tentang kekayaannya.

Cerdas? Jangan meragukan kecerdasan Naruto.

Keluarga terpandang? Iya, dia berasal dari keluarga Namikaze.

Atletis? Tubuhnya sangat proporsional dan tinggi.

Jadi? Apa yang membuat Hinata jengkel kepadanya? Ah, benar sekali! Sikapnya itu yang membuat Hinata jengkel kepadanya!Sikap (sok) perhatiannya, sikap manjanya, sikap pemaksanya, sikap semena-menanya. Hmm, sepertinya Hinata mempunyai teman masa kecil yang sifatnya sebelas-dua belas dengan Naruto.

Hinata ingat, dia juga punya rambut seperti Naruto. Rambutnya pirang dan segala tingkah lakunya menyebalkan. Ingat sekali malah. Dulu, dia dan Hinata bertemu saat pertemuan keluarga besar. Mereka masih sangat kecil waktu itu, sehingga mereka tidak terlalu mengerti tentang pertemuan itu.

Setahunya, saat itu dia sedang duduk disebuah bangku kediaman Hyuuga sambil bermain mobil-mobilan. Hinata menghampirinya, dan mengajaknya bermain. Tapi anak itu malah menggertaknya karena menganggu permainannya. Digertak seperti itu membuat Hinata jadi ikutan kesal. Jadilah, mereka bermusuhan. Setiap hari, mereka selalu berjumpa dengan aura permusuhan yang kental(tapi lucu).

Pertengkaran itu selalu terjadi setiap mereka bertemu, bagaimana bisa tidak bertemu kalau mereka adalah tetangga? Hingga suatu hari, keluarga anak itu memutuskan untuk pindah(entah kemana) dan membawa anak itu bersama mereka. Lalu, hari-hari yang semula ramai menjadi sepi. Hinata jadi merindukan segala pertengkarannya dengan anak itu.

Mengingat hal itu, Hinata jadi tersenyum sendiri. 'Kira-kira, sekarang dia ada dimana ya? Apa dia masih mengingatku? Ah, dia pasti sekarang sangat tinggi dan tampan.. ' Pikirnya. Dia pun kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti dengan senyum-senyum seperti orang gila. Sesampainya di kelas, Ino langsung berteriak kencang saat melihatnya.

"Kyaaa!!! "

"Ino, apa yang-"

"Pergilah kau setan, hantu, iblis, demit atau apapun itu dari tubuh sahabatku!!Tenang Hinata, aku akan menyelamatkanmu!! Pergilah kau!! Pergi!! "Ino tiba-tiba meracau tidak jelas seraya mengguncangkan tubuh Hinata dan membacakan doa pengusir setan.

"Ino!! Apa yang kau lakukan?!"ucap Hinata menghentikan tingkah aneh Ino. Ino pun melepaskan pegangannya pada pundak Hinata. "Aku pikir kau kerasukan setan.. "Ucapnya enteng.

"Kerasukan setan apanya? Yang kerasukan itu kamu!"gerutunya sebal. Ino pun hanya tertawa garing, "Habisnya kamu datang-datang sudah senyum-senyum sendiri. Senyummu aneh lagi, kan wajar kalau aku berfikir kamu kerasukan.. "Jelas Ino dengan hiperbola.

"Ishh, ya sudahlah. Aku mau duduk disini saja.. "Ucap Hinata mengabaikan permasalahan gaje tadi dan duduk disalah satu bangku yang disampingnya ada tas Ino. Kedua tangannya menangkup kedua pipi gembilnya dan memejamkan matanya.

"Hinata-chan,"panggil Ino.

"Hm? "Jawab Hinata tanpa membuka matanya.

"Apa benar kalau kau tadi bertengkar dengan Namikaze Naruto di kantin? "Ctak. Tiba-tiba saja muncul perempatan Ciamis-eh-maksud Author adalah muncul perempatan siku-siku yang tak kasat mata didahi Hinata yang tertutup oleh poni. Dalam sekejap, Hinata langsung membuka matanya dan menjawab pertanyaan Ino dengan ketus.

"Jangan menyebut nama pemuda itu!! Aku kesal mendengar namanya, dimana-mana namanya disebut! Sampai telinga ku ini rasanya gatal jika mendengarnya. Dan tentang pertanyaanmu itu, iya aku bertengkar dengannya tadi di kantin. Habis dia menyebalkan, sangat menyebalkan dan dia itu suka memaksa. Kalau saja bukan karena permintaan Ayah untuk melanjutkan pendidikanku disini, sudah kupastikan aku akan keluar dari Universitas ini! Kami-sama, tolonglah aku, hindarkan aku dari makhluk berambut kuning seperti duren itu.. "Ucap Hinata panjang lebar disertai mulutnya yang komat-kamit membaca doa keselamatan hidup.

"Tapi kau tidak boleh seperti itu, Hinata-chan. Kau tahu, tadi pagi saat kau pingsan, dia yang membawamu-ah tidak-maksudku menggendongmu menuju ke ruang kesehatan. "Nasihat Ino yang (sok) bijak.

"APA?!! DIA MENGGENDONGKU KE RUANG KESEHATAN? ASTAGA, INO-CHAN! KENAPA TIDAK BILANG DARI TADI? KENAPA KAU MEMBIARKANNYA? "Hinata menjerit-jerit dengan suara yang keras hingga membuat Capslock Author jebol-abaikan tentang Capslock Author-

"Eh? Kau b-berteriak k-kepadaku? "Ino mulai berkaca-kaca. Sepertinya Ia siap meluncurkan air matanya. Seketika Hinata gelagapan, "A-aduh, bukan maksudku meneriakimu seperti itu. Hanya saja... (Hinata tidak bisa menjawabnya) Ah, sudah deh. jangan nangis dong, ayo nanti pulang dari kampus kamu aku traktir dicafe deket perusahaan Ayah. Ya? Mau kan? "Bujuk Hinata dengan makanan. Mata Ino pun langsung berbinar. Dia memang tidak mampu untuk menolak ajakan makan seperti ini, dia tidak peduli sebenarnya atau tidak pernah peduli jika berat badannya bertambah. Mottonya kan dia ambil dari Jawa yang tulisannya seperti ini, "Lemu artine kopen. " yang berarti jika gemuk itu menunjukkan kalau dia dirawat dengan baik. Jadilah dia suka makan sepuasnya, tapi walaupun begitu tubuhnya tetap saja langsing dan seksi.

"B-benar kan? Kau harus berjanji, traktir aku sepuasnya loh.. "Ucap Ino. Yang dijawab Hinata dengan sebuah senyum yang (nampaknya) tulus. Bukan berati apa, hanya saja Hinata merasa..

...isi dompetnya hari ini akan kosong.

To Be Continued..Halo, Loha and Hai buat semuanya!! Aku kembali dengan mengupdate fanfic lain di wattpad. Jadi akhirnya aku bisa update ini ficc..Author : Akhir kata, Author ucapkan terima Kasih bagi yang sudah baca ff ini, Kasih vote dan comment. Sekian, terimakasih!!! *berbicara dengan