NARUTO © Masashi Kishimoto

Standard warnings applied. NaruHina's part..

Listening to I've Got This Friend – 5 Seconds of Summer while writing the story.


I've Got This Friend

by azuramethyst


"Jadi, Naruto-kun, bisakah kau ceritakan lebih banyak lagi mengenai temanmu yang—katanya—menyukaiku…" ujar gadis berambut biru ke unguan itu. Lebih tepatnya, ia menyenandungkan perkataannya seraya tersenyum lebar.

Aku mendongak ke arahnya—melupakan transkrip yang sedang kupegang, iris samuderaku menabrak lurus iris rembulan miliknya, dan bertemu dengan senyum manisnya. Ia terlihat—sangat—mirip dengan anak kecil yang menunggu cerita sebelum tidur. Dan dia adalah orang yang paling mengesankan yang pernah ku lihat selama delapan belas tahun aku hidup.

Aku meletakkan jariku pada daguku, membuat seolah-olah aku sedang berpikir. "Yang ku dengar, dia tergabung di dalam sebuah band." aku menyeringai, melihat senyumnya yang kian melebar. Aku sudah memberikan beberapa—ralat, sangat banyak—petunjuk mengenai siapa pengagum rahasia dari gadis bermarga Hyuuga di sampingku sejak tiga minggu yang lalu. Ia tidak—belum—tahu, tapi sejujurnya, pengagum yang selalu kuceritakan itu hanyalah aku. Ya, aku.

Aku lah yang menuliskan beberapa pesan di lokernya setiap pagi. Aku hanya mengubah gaya tulisanku. Lalu, aku pula yang selalu meninggalkan cokelat pahit kesukaannya di dalam tasnya. Aku yang selalu meninggalkan beberapa untaian kata romantis—yang kaya akan unsur gombal, kata Sasuke—di beberapa tempatnya untuk hanya sekadar melihat dirinya yang tersipu malu. Aku ingin mengungkapkan jati diriku padanya, tapi aku takut dengan konsekuensi yang mungkin akan ku terima nantinya.

Akankah ia berhenti berbicara padaku? Akankah ia berubah menjadi membenciku? Akankah ia juga menyukaiku seperti aku menyukainya? Aku tidak tahu apa yang akan terjadi dan aku—agak—takut untuk mengetahui itu semua.

Berakhir dengan diriku yang ingin tetap menjaga apa sudah terjadi, jadi aku lebih memilih untuk tetap menyembunyikan identitasku sebagai pengagum rahasia dari Hinata Hyuuga.

"Aku suka dengan pemain band," ujarnya dengan wajah yang riang. Kalau dia menyukai pemain band, mengapa ia tidak pernah melirik ku barang sekali saja? Mengapa ia tidak melihatku sebagai seorang pemuda—bukan sebagai sahabatnya? Aku adalah pemain bassbassist—di dalam bandku, demi Tuhan!

Ya, dia sudah pernah datang beberapa kali ke gigs band kami dan ia memberikan dukungannya dan sebagainya. Tapi, serius, kenapa ia tidak pernah mengatakan kalau ia menyukai pemain band secara umum? Aku—tentu saja—masuk ke dalam kategori itu!

Aku mengusap wajahku, mencoba untuk menyembunyikan rasa frustasi yang ku hadapi. Aku mengambil napas sebelum berkata, "Ia memainkan bass guitar," senyumku. "Dan dia pikir kau akan lebih menyukainya jika aku yang mewakilinya, jadi… ya seperti itu." tambahku dan lihat, bahkan senyumannya lebih lebar dari yang sebelumnya. "Katakan padanya untuk menemuiku di ruang gym setelah pulang sekolah, aku tidak sabar ingin melihatnya!" ucapnya seraya tersenyum.

Oh, tidak. Sial. Haruskah aku pergi dan menemuinya? Aku tahu bagaimana kecewanya ia jika ia melihat siapa pengagum rahasianya. Maksudku, siapa yang tidak akan kecewa? Well, itu artinya aku harus menemuinya sore ini dan menghadapinya—aku harus mengatakan yang sejujurnya pada dirinya.

"Dia akan datang,"


Aku melihat dirinya yang dengan tidak sabar menunggu di dalam ruang gym. Mengecek arloji yang melingkar manis di pergelangan tangan kirinya tiap lima detik sekali. Ia tampak lelah menunggu, dan ia menoleh ke arahku. "Di mana dia? Apa kau benar-benar mengatakannya pada dia? Please, katakan kau sudah memberi tahu dia, Naruto-kun."

Matanya menunjukkan sesuatu yang tidak dapat kubaca. Namun yang dapat ku simpulkan adalah ia serius—ia benar-benar ingin bertemu dengan pengagum rahasianya. "Ya, aku sudah mengatakannya, Hinata. Bisakah kau tidak panik sekarang?" ujarku padanya, merangkul bahu mungilnya.

"Baik, tenangkan pikiranmu… ambil napas," ia mengangguk, mengambil lalu mengembuskan napas sesuai dengan arahanku. Ia nampak lebih tenang—walau hanya sedikit—dan menatapku dengan ekspresi kekhawatiran yang kentara. "Bagaimana kalau ia tidak datang?"

Aku kembali merangkul bahu mungilnya, lalu menariknya untuk lebih mendekat padaku. "Kenapa kau ingin sekali bertemu dengan dia, Hinata?" tanyaku, dan ia refleks menatapku dengan senyuman tipis di wajahnya,

"Te-temanmu ini… dia adalah orang pertama yang telah berjuang begitu keras kepadaku. Hanya dia yang bertahan setelah sekian lama, dan kupikir… perasaannya terhadapku… benar-benar tulus. Kelihatannya ia orang yang manis," ia mengembuskan napasnya, "Dan kurasa, aku mulai menyukainya, kau tahu? Berbagai hal yang ia lakukan, kata demi kata yang ia tuliskan… Aku tidak tahu, seperti ada sesuatu yang membuatku menyukainya," ucapnya. Senyumannya tidak menghilang dari wajah bak malaikat miliknya. Terlihat ada sepercik cahaya di matanya ketika ia membicarakan orang ini, dan aku pun ikut tersenyum.

Sepertinya ia benar-benar menyukai—atau mungkin jatuh cinta—pengagum rahasianya. Kurasa sudah waktunya untukku. Aku akan berterus terang, sekarang juga. "A-aku… aku… ada satu hal yang ingin kukatakan pa-padamu," ucapku, yang membuatnya menoleh padaku. "Ku mohon, jangan benci aku setelah ini." bisikku padanya. Kedua alisnya menukik,

"A-aku tidak memiliki teman yang menyukaimu,"

"Ta-tapi ka—"

"Itu aku," ku embuskan napas, dan kedua mata rembulannya membulat. Ia menunduk, lalu mulai tertawa kecil. Setelah ku kumpulkan keberanianku untuk mengatakan rahasia besarku, ia hanya tertawa? Baik, dia memang sangat imut dan aku sangat-sangat menyukainya. Tapi ini aneh,

"H-hey," kataku seraya tersenyum, mata kami kembali bertemu. Ia menepuk kepalaku dan bibir lembutnya mencium hidungku. Tentu saja ia harus berjinjit untuk itu semua, dan—demi dewa ramen, tentu saja—aku terkejut. "Bodoh, aku tahu itu kamu ketika aku melihat gaya tulisannya. Aku hanya ingin kamu mengatakannya secara langsung padaku. Seperti gentleman!" ia memeluk tubuhku dan aku dapat merasakan detak jantungnya, ku berharap ia tidak merasakan detak jantungku karena tentu saja itu membuatku malu.

Sementara itu, ku kira ia tidak akan mengetahui betapa aku mencintai dirinya, namun ternyata perkiraanku selama ini salah—ia mengetahui semuanya, namun ia lebih memilih tidak mengungkitnya dan tetap berteman baik denganku. "Jadi, ini artinya aku terjebak dengan status friend-zone, huh?" aku bertanya sambil memanyunkan bibirku, tapi ia menggelengkan kepalanya. Ia mengeratkan pelukannya padaku dan aku bisa menghirup aroma mint bibirnya.

"Kau tidak paham, ya? Baik, akan ku ucapkan secara jelas padamu." ia menarik tubuhnya dan tersenyum, kembali berjinjit, mencium pipi kiriku. "I," dan kemudian pipi kananku. "Love," kali ini hidungku, "You." dan terakhir, ia mengecup bibirku.

"Naruto Uzumaki. I love you. I love you so much," kutarik tubuh mungilnya sehingga bibir kami kembali bertautan, dan aku menyeringai, memeluk tubuhnya sekali lagi. Tuhan, aku mencintai gadis ini, sungguh.

.

NaruHina: Fin.

October, 30th 2017