Unseen Bound
.
.
.
.
.
Yang mereka tahu, cinta itu tidak selalu harus ditandai dengan suatu ikatan. Tapi tanpa sadar, mereka sudah terikat satu sama lain.
Arilalee present
Title : Unseen Bound
Author : Arilalee
Genre : Romance, lil-angst, school-life
Cast : KaiSoo, 2MIN, Meanie
Support Cast : SHINee, Seventeen, EXO, Lee Joon, Krystal, Ravi, Timotheo, Lee Yoobi
Warning : Yaoi, BxB, Typo, dramatisasi berlebihan, OOC, perubahan usia
Notes : SHINee dan EXO kecuali Sehun dan Kai kelas tiga. Sehun, Kai kelas dua. Seventeen hyung line ( , Jeonghan, Joshua, Jun, Hoshi, Wonwoo, Woozi) kelas dua. Seventeen dongsaeng line (Dokyeom, Mingyu, The8, Seungkwan, Vernon, Dino) kelas satu.
Setiap seri, main cast-nya berbeda. Tergantung yang akan disertakan dalam judul. Polanya selalu sama, misal chapter 1 2min, chapter 2 kaisoo, chapter 3 meanie, chapter 4 2min, chapter 5 kaisoo, chapter 6 meanie, dan seterusnya.
Buat yang Cuma pengen baca otp-nya aja, lompat-lompat chapter ngga apa-apa. Karena mereka punya kisah masing-masing yang meski berhubungan tetep nggak membingungkan (semoga) buat dibaca per-pairing.
UNSEEN BOUND
FILE 2
KAISOO : MOONLIGHT
"Cahaya bulanku sudah hilang. Tenggelam di antara langit yang gelap tanpa bintang. Menyakitkan. Hujan deras menakutkan kembali turun. Dan salahkah jika aku mengharap cahayaku kembali hadir?" – Do Kyungsoo.
xxxxx
"Selamat pagi, Jongin's."
Kyungsoo sudah satu tahun lebih menjalani harinya bersama Jongin, si junior kelebihan hormon – karena dia lebih tinggi, juga berkulit gelap. Jadi Kyungsoo sudah tak perlu bertanya kenapa pria itu berada di depan rumahnya. Lengkap dengan jaket kulit hitam yang biasanya dan helm di pangkuannya sementara motornya dibiarkan mati.
"Kenapa tidak bilang kalau mau menjemput?" Kyungsoo malas menanggapi sapaan cheesy Jongin sebelumnya dan memilih untuk menerima uluran helm dari yang lebih muda.
Jongin mengedik, "Surprise?"
"Aku bahkan mendengar suara motormu dari ruang makan." Kyungsoo menyahut sambil memasang helm-nya. Tapi kemudian tangannya ditahan oleh Jongin yang langsung mengambil alih untuk memasangkan pengait di bawah dagunya.
"Memang apa salahnya menjemput pacar sendiri?" Jongin dan mulut kurangajarnya selalu saja membuat Kyungsoo mendengus. Kemudian Jongin akan tertawa melihat bagaimana Kyungsoo melemparkan pandangan dari doe eyes-nya ke arah lain, menghindari tatapannya. "Ini masih terlalu pagi, apa kau mau sarapan dulu?"
"Kurasa tadi kubilang aku sudah makan."
"Baiklah – bagaimana kalau menemaniku sarapan?"
"Aku piket hari ini."
"Ayolah, hanya secangkir kopi dan panekuk. Aku janji. Ya?"
Dan Kyungsoo tidak perlu menganggukkan kepalanya untuk memberi jawaban pada Jongin. Dia hanya perlu duduk manis di belakang Jongin, memperhatikan bagaimana punggung Jongin terlihat semenawan itu.
Samar-samar Kyungsoo menyungging senyuman di bibir berbentuk hatinya. Dan saat sebuah sengatan di dadanya menjadi-jadi, Kyungsoo sadar kalau seharusnya ia tidak melakukan semua ini.
Karena mereka–
Kyungsoo dan Jongin–
sudah berakhir.
xxxxx
Saat Jongin bilang menemaninya sarapan, itu benar-benar berarti hanya menemani. Kyungsoo tidak memesan apa pun dan lebih memilih sibuk dengan bukunya. Sementara Jongin terlihat khusyuk dengan panekuk keju dan susu serta secangkir kopi hitam yang aromanya sangat pekat.
Mereka tak terlalu banyak bicara, mengingat status keduanya saat ini. Yeah, meski sebenarnya saat mereka masih bersama pun dibanding mengobrol, Kyungsoo rasa seperti dirinya adalah pendengar setia sementara Jongin adalah juru bicara.
Mata Kyungsoo sedikit melirik Jongin saat ia mendengar suara getaran dari ponsel Jongin yang tergeletak di samping piring panekuknya. Tadinya Kyungsoo tidak ingin ikut campur tapi ia menjadi gusar saat melihat Jongin malah membalik ponselnya, mengabaikan panggilan masuk yang memberondongnya.
"Kenapa tidak diangkat?" Bagus. Kyungsoo jadi terdengar seperti seorang pacar yang protektif sekarang.
Jongin mendongak dan meneguk kopinya yang tinggal separuh. "Sedang tidak ingin."
Kepala Kyungsoo mengangguk dan kembali fokus pada bukunya. Tapi fokusnya kembali terbelah saat ia mendengar Jongin melanjutkan kalimatnya.
"Kau tidak mau tahu siapa yang menelepon?"
Kini giliran Kyungsoo yang mendongak dengan gerakan lambat. Membiarkan matanya menatap mata kelam Jongin yang sering membuatnya merona. Tapi sekarang ia tidak pantas mengatakan itu.
"Memang siapa?" Ia berpura-pura acuh, tapi sayang ia bukan seorang aktor yang baik.
"Soojung."
Nama itu berhasil membuat mata Kyungsoo mengerjap cepat, menahan air yang bersiap keluar dari pelupuknya. "Oh."
Dan setelahnya mereka kembali diliputi keheningan sampai Jongin menghabiskan sarapannya.
xxxxx
Kyungsoo akhirnya sampai di kelas setelah meninggalkan Jongin di parking area dengan alasan tugas dan piket. Sebenarnya Kyungsoo yakin kalau Jongin pasti tidak mempercayainya – mengingat Kyungsoo adalah orang paling pertama yang akan mengerjakan tugas tepat waktu – tapi Kyungsoo sedang tidak dalam mood yang baik untuk berada di dekat Jongin.
Hanya karena sebuah nama.
Yeah, meski sebenarnya Kyungsoo seharusnya memang tidak lagi berada di dekat Jongin.
"Mereka relationship goals, sungguh."
Kyungsoo baru saja melewati pintu saat ia mendengar desas-desus dari gerombolan wanita di kelasnya. Ia mendongak sedikit dan malah bertemu pandang dengan Taemin – teman sekelasnya sekaligus teman satu club Jongin yang cukup akrab – jadi ia menyempatkan untuk menyungging senyum pada lelaki itu dan mendapatkan balasan yang sama.
Kaki Kyungsoo terus melangkah menuju mejanya di deretan ke tiga. Ia meletakkan tas dan segera mengambil bukunya yang belum selesai ia baca di kafe tadi. Tapi alih-alih fokus untuk menyelesaikan bacaannya, telinganya malah mendengarkan ocehan para gadis yang bergerombol di belakang kelas.
"Itu Kyungsoo."
"Dia pasti pergi ke sekolah bersama Jongin seperti biasa."
"Aku jadi ingin punya pacar."
Muak, Kyungsoo memutuskan untuk menancap telinganya dengan earphone. Membiarkan gadis-gadis itu berkicau tanpa tahu malu – memang siapa yang tidak risih dijadikan bahan gunjingan padahal jelas-jelas ia berada di tempat yang sama dengan mereka.
Matanya terlihat fokus pada deretan kata di bukunya, tapi nyatanya ia malah sedang menerawang. Membiarkan memorinya memutar sebuah kejadian yang berlangsung dua hari lalu. Hari dimana ia putus dengan Jongin.
Lebih tepatnya, saat ia memutuskan hubungannya dengan Jongin.
2 days ago
"Jongin – kau tidak mau menjelaskan sesuatu padaku?" Kyungsoo bertanya saat Jongin menjemputnya ke kelas. Mereka punya rencana untuk pulang bersama hari ini, kebetulan jadwal ekstrakurikuler mereka sama-sama kosong.
Jongin mengerutkan dahinya. Gerakan memakai jaketnya terhenti, "Heum? Soal apa, Hyung?"
Kyungsoo menghela nafas. "Tempo hari– "
"Ah!" Jongin menyela dan membuat mata Kyungsoo menyipit menatapnya. "Aku latihan dan ponselku mati. Maaf aku membuatmu menunggu. Tapi aku benar-benar–"
" –aku melihatmu, Jongin." Suara Kyungsoo memecah kalimat Jongin. Memaksa yang lebih muda membalas tatap Kyungsoo yang kini berkaca-kaca. "Siapa dia?"
"Heum?"
"Siapa gadis yang bersamamu saat itu?"
"Namanya Jung Soojung." Jongin menjawab dengan cepat dan hal itu sukses membuat air mata Kyungsoo lolos begitu saja. Tapi Jongin malah mendengus melihat itu. Ia mengarahkan tangannya mengusap air mata Kyungsoo dengan jarinya. "Jangan menangis, Hyung. Kau tahu aku tidak menyukainya."
"Kau pergi mengabaikan janjimu, Jongin. Dan kau tahu aku tidak menyukainya." Kyungsoo memang menangis, tapi ia tidak terisak sama sekali. Bahkan ia tidak terlihat sedang menangis dari kejauhan.
"Aku minta maaf."
"Aku tidak tahu kenapa kau meminta maaf." Kyungsoo menundukkan kepalanya. Memilih untuk menatap ujung sepatunya alih-alih wajah Jongin yang terlihat sendu.
"Aku minta maaf." Jongin mengulangi ucapannya.
Kyungsoo merasa dadanya semakin sesak. Ia mengepal kedua tangannya sampai tanpa sengaja meremas celana seragamnya sendiri. Membiarkannya kusut begitu saja tanpa berniat merapikannya lagi. "Kau benar-benar tak mau menjelaskan apapun?"
Jongin mengerjap saat Kyungsoo mendongak dengan wajahnya yang basah. Tapi Jongin tak bisa menjawab apa pun. Hanya mempertahankan raut bersalahnya yang ketara di depan Kyungsoo yang bisa meledak kapan saja.
"Baiklah." Kyungsoo menyela. Membuat alis Jongin sedikit menukik karenanya. "Aku tidak akan memaksamu."
"Terima kasih, Hyung."
"Tapi sebaiknya– " Jeda. Kyungsoo mengepal tangannya lagi, kali ini di sisi tubuhnya. " –ayo kita sudahi saja."
Dan Kyungsoo seharusnya menyempatkan diri meninju Jongin saat ia mendengar kata 'ayo' yang langsung keluar cepat dari mulut Jongin.
Flashback off.
TES
"Ah, sialan." Kyungsoo bergumam sambil menutup bukunya – menyembunyikan tetesan air mata yang tercetak jelas di kertasnya. Kyungsoo hanya malu dan tidak suka saat ia dipergoki menangis.
Apalagi menangisi Jongin.
Si brengsek yang mengobrak-abrik hatinya dua hari yang lalu.
Dan kembali tanpa rasa bersalah sama sekali pagi ini.
xxxxx
"Oh Kyungsoo!"
Kyungsoo menghentikan langkahnya saat seseorang memanggilnya. Dia menoleh dan menemukan Jongdae – teman satu club-nya – sedang berlari ke arahnya. Lalu ia menyerahkan setumpukan kertas – yang entah apa – pada Kyungsoo. Bahkan Kyungsoo tidak sadar lelaki itu membawa semua ini.
"Apa ini?"
"Kerangka proposal yang dibuat Jonghyun." Jongdae menyahut sambil mengistirahatkan lengannya yang terasa pegal.
Dahi Kyungsoo berkerut, "Proposal?"
"Iya. Kegiatan kolaborasi yang disinggung Jonghyun kemarin." Jongdae menjelaskan. "Jonghyun memintaku menjilidnya. Tapi aku ada keperluan dengan Park Saem."
"Lalu?" Kyungsoo masih tidak mengerti.
Jongdae menghela nafas. "Aku akan menjilidnya nanti, tapi tolong temui Taemin."
"Taemin? Lee Taemin?"
"Iya, Do Kyungsoo – serius, aku sedang buru-buru!" Jongdae terlihat kesal di tempatnya. "Aku akan didepak oleh Park Saem kalau tidak segera menemuinya. Nanti aku ambil proposal ini di ruang musik. Jadi kalau sudah dapat letakkan saja di sana, oke?"
"D-dapat apa?" Kyungsoo bertanya saat Jongdae sudah berlari meninggalkannya.
Tapi Jongdae menyempatkan diri untuk menghadap Kyungsoo lagi, "Tanda tangan Taemin! Atau wakil ketuanya atau siapa sajalah – dari club tari!"
"T-tapi Jongdae– " Dan Kyungsoo sudah tidak bisa melihat punggung Jongdae lagi karena lelaki itu sudah sampai ujung koridor.
Helaan nafas terdengar dari mulut Kyungsoo. Matanya menatap tumpukan kertas di tangannya, kebetulan – atau memang sudah Jongdae buat seperti itu – lembar pengesahan berada di paling atas. Dan memang hanya kolom tanda tangan untuk club tari yang masih kosong.
Kyungsoo melanjutkan langkahnya dengan gontai. Ia seharusnya pergi ruang musik di lantai satu, tapi sekarang harus singgah ke ruang latihan dance terlebih dahulu. Andai Jongdae datang lebih awal, Kyungsoo tak akan melakukan ini karena ia tinggal memintanya langsung pada Taemin di kelas.
Tapi seolah dewi fortuna benar-benar membencinya.
Leher Kyungsoo sedikit terjulur begitu ia sampai di ruang latihan. Kepalanya melewati celah pintu yang sedikit terbuka. Membiarkan matanya mengintip ke dalam sana. Dan ia mendapati gerombolan anggota club tari sedang melakukan pemanasan di sana.
Matanya kembali beredar. Mencari keberadaan Taemin atau siapa pun yang ia kenal. Dan saat maniknya mengarah ke sudut kanan, ia bisa menemukan Taemin di sana. Tapi bukannya merasa bersyukur karena menemukan Taemin dengan cepat, Kyungsoo malah meruntuk karena di sana ada Jongin.
"Oh! Kyungsoo!" Taemin yang lebih dulu menyadari kehadiran Kyungsoo di ambang pintu. Dan mau tidak mau Kyungsoo harus memunculkan dirinya secara keseluruhan alih-alih kabur seperti pencuri yang tertangkap tangan.
Taemin terlihat mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Kyungsoo mendengus pelan, memaki Taemin yang membuatnya menjadi pusat perhatian dari beberapa adik kelas yang sedang pemanasan.
"Jongin ada di sini!" Taemin meneriakinya sambil menunjuk Jongin yang duduk di sebelahnya.
Satu lagi makian lolos untuk Taemin – di dalam hati tentu saja.
"Eung.." Kyungsoo sudah sampai di depan mereka – Jongin dan Taemin – sebelum ia melepaskan gigitannya pada bibir bawahnya. "Aku mau bertemu denganmu, Taemin."
"Ck, kalau kau memang mau membawa bocah hitam ini kencan – tidak apa-apa. Aku tidak akan melarang karena dia juga tidak berguna di sini."
"Aish!" Jongin terlihat gusar sambil menyiku Taemin yang hanya meringis menerimanya.
Dan satu hal yang Kyungsoo tahu sekarang, Jongin sama sekali tidak menceritakan pada siapa pun perihal putusnya mereka.
"Kyungsoo?"
Kyungsoo menggeleng lemah. "Tidak – aku juga akan latihan setelah ini." Ia memaksakan sebuah senyum dan berharap Taemin tidak akan mendeteksinya – atau Jongin juga. "Aku hanya ingin meminta tanda tanganmu untuk proposal kolaborasi disnatalis tahun ini."
"Ah!" Taemin mengangguk, menerima tumpukan kertas dari Kyungsoo dan mencari ballpoint di tasnya. "Kemarin Jonghyun sudah katakan padaku, katanya Jongdae yang akan menemuiku."
"Dia sedang ada urusan."
"Aku tahu kau sengaja kemari, tidak usah berpura-pura." Taemin mencibir sambil menorehkan tanda tangannya di kolom yang disediakan. Mengabaikan suasana canggung yang ia ciptakan untuk Kyungsoo dan Jongin. Setelah selesai, Taemin menyerahkan proposal tersebut kepada Kyungsoo. "Aku berharap bisa berkolaborasi denganmu untuk tahun ini, Kyungsoo – tentu dengan Jongin juga."
"Yeah." Kyungsoo mengangguk samar. Memamerkan senyuman canggung untuk sahabat Jongin itu. "Terima kasih, Taemin. Aku harus pergi. Sampai jumpa."
Kyungsoo berbalik dan mendesah lega setelahnya. Bersyukur karena suasana canggung tadi berakhir. Tapi meski begitu, Kyungsoo masih merasakan keganjalan di hatinya. Kenapa Jongin tidak mengatakan apa pun pada Taemin soal hubungan mereka? Padahal Kyungsoo yakin kalau Taemin adalah orang pertama yang akan mengetahui apapun yang Jongin lakukan setiap harinya.
xxxxx
"Wah, hujan."
Kyungsoo mendongak begitu ia keluar dari ruang musik bersama Jinki – teman satu club-nya yang mempunyai jadwal piket yang sama dengannya. Dengan cepat tangannya meraih ransel di punggungnya dan mencari payung di sana. Tapi kemudian ia sadar kalau ia lupa membawanya – payung miliknya masih tergeletak di meja belajarnya tadi pagi.
"Sepertinya sangat deras. Apa kau membawa payung?"
Kyungsoo menoleh lalu menggeleng pada Jinki. "Sepertinya aku melupakannya."
"Wah, sayang sekali. Biasanya kau selalu memperhatikan barang-barang bawaanmu." Jinki terlihat ikut prihatin. "Lalu bagaimana? Apa kau mau menunggu reda?"
"Kurasa akan lama." Kyungsoo bergumam sambil menatap langit melalui matanya yang menyipit. "Mungkin bisa reda malam nanti."
"Kau naik bus, 'kan? – oh, atau bersama kekasihmu?" Jinki terlihat melepas blazzer seragamnya dan memposisikannya di kepala.
Kyungsoo sedikit meringis mendengar pertanyaan Jinki. "Bus."
"Di motorku ada jas hujan sebenarnya, tapi hanya satu. Aku pikir percuma kalau aku mengajakmu pulang bersama?" Jinki terlihat ragu-ragu. Ia sudah siap berlari dengan blazzer-nya menuju parking area untuk mengambil motornya. "Atau kau mau kubelikan payung di minimarket?"
"Tidak perlu, Jinki." Kyungsoo tersenyum. Lalu ia ikut melepas blazzer-nya dan memposisikannya di atas kepala. "Sepertinya aku juga harus melakukan ini sampai halte."
"Sebaiknya kau tunggu saja di sini, Kyung. Kau akan kebasahan nanti. Halte cukup jauh." Jinki memperingati.
"Tidak. Ayo kita lari bersama." Kyungsoo tetap bersikeras.
Jinki terlihat tidak setuju tapi kemudian ia menganggukkan kepalanya. "Hitungan ketiga, okay?" Kyungsoo mengangguk. "Satu, dua, tiga!"
Kyungsoo memposisikan kakinya untuk berlari begitu pun Jinki. Tapi langkah Kyungsoo terasa berat saat seseorang menahan tangannya dan memaksanya untuk berbalik. Kyungsoo menoleh dan menemukan Jongin di hadapannya – sedang mencekal lengannya dan membawanya ke rangkulannya yang hangat.
Persetan dengan Jinki yang sudah berlari jauh, Kyungsoo bahkan lupa cara untuk bernafas.
Katakan bahwa ini adalah mimpi di bawah hujan.
Katakan bahwa Kyungsoo hanya berhalusinasi.
Katakan bahwa Kyungsoo benar-benar terlalu berharap mantan kekasihnya menahannya saat ini.
Tapi Kyungsoo tidak bisa menampik kenyataan ini.
"Kemana payungmu?" Suara Jongin memecahkan segala kebekuan yang Kyungsoo alami. Memaksa jantung Kyungsoo kembali berdetak setelah sekian detik terasa mati.
Kyungsoo mengerjap sebelum menyadari apa yang terjadi. Ia menarik lengannya setelah ia sadar bahwa Jongin memeluknya cukup erat. "Kenapa kau ada di sini?"
"Kenapa kau selalu menimpali pertanyaanku dengan pertanyaan lain?"
"Aku meninggalkannya." Kyungsoo menunduk. Dia tidak suka saat Jongin mulai menunjukkan sisi dominannya seperti ini. Karena Kyungsoo tidak akan pernah bisa menolak sama sekali. "Tidak sengaja." Imbuhnya.
"Lalu kau pikir kau akan berlari sampai halte dan membiarkan tubuhmu kebasahan?"
Kyungsoo mendengus, "Memang apa lagi yang bisa kulakukan?"
"Aku yakin kau masih menyimpan kontakku, 'kan?"
Kyungsoo mendecih. Sedikit menertawakan pertanyaan konyol dari yang lebih muda. "Berhenti bersikap seperti ini, Jongin."
"Seperti apa?"
"Seperti kita tidak pernah memutuskan hubungan kita– "
"Itu tidak akan merubah apapun, Hyung." Jongin menyela. Mulai melunakkan suaranya dan melembutkan tatapannya. "Tak akan ada yang berubah sama sekali."
Kyungsoo memperdalam tundukannya. Menyembunyikan matanya yang sudah tergenang air mata. Kemudian ia menghela nafas panjang, "Aku mau pulang."
"Aku akan mengantarmu." Jongin dengan cepat menarik lengan Kyungsoo. Membawanya dalam genggaman yang hangat – seperti dulu.
Dan Kyungsoo mungkin sudah gila karena bukannya menolak atau mempertahankan diri, ia malah membiarkan dirinya mengikuti Jongin.
Mengikuti kemana pujaan hatinya mengarah.
xxxxx
"Hyung."
Gerakan Kyungsoo mengaduk cokelat hangat terhenti saat mendengar suara Jongin memanggilnya. Kepalanya menoleh dan menemukan si pemilik suara berdiri tak jauh di belakangnya. Jongin baru saja mandi – tentu saja di rumahnya. Tadi Jongin memaksa Kyungsoo untuk memakai jas hujan Jongin satu-satunya sementara dirinya malah menerjang hujan. Bahkan buku-buku Jongin juga kebasahan dan sedang Kyungsoo keringkan.
"Oh – sudah selesai mandinya?" Kyungsoo mengangkat cangkir cokelat panasnya dan meletakannya ke atas meja makan. Lalu mengisyaratkan pada Jongin untuk segera meminumnya. "Cepat habiskan selagi panas."
"Terima kasih." Jongin menyengir lalu menarik kursi untuk ia duduki. Tangannya dengan cepat menangkup cangkir, membuat kehangatan perlahan merambat melalui tangannya. "Hyung, apakah tidak apa-apa kalau aku meminjam pakaian Ayahmu terus?"
Kyungsoo yang sedang membuat satu lagi cokelat panas, menoleh. "Ayah tidak masalah. Kau sudah sering memakai baju itu dan Ayah bahkan sudah lupa memilikinya."
"Ya – saking sering memakainya, aku juga jadi merasa pakaian ini milikku." Jongin menatap sebentar kaos cokelat bergaris putih yang ia pakai sekarang.
Deheman pelan terdengar saat Kyungsoo merasa pipinya memanas. Ini aneh, mereka hanya membicarakan tentang pakaian Ayah Kyungsoo yang sekarang dipakai Jongin tapi Kyungsoo malah memikirkan seberapa sering Jongin mampir ke rumahnya sampai Ayah Kyungsoo bisa melupakan pernah punya pakaian itu.
Dasar otak sialan.
"Hyung."
Kyungsoo sedikit terkesiap sebelum menoleh sambil mengontrol dirinya. Tapi saking gugupnya, nada suaranya jadi terdengar ketus. "Apa?"
"Terima kasih masih mau menampungku di rumahmu." Jongin mengatakannya dengan kasual sebelum menyeruput cokelat panas di hadapannya perlahan-lahan. Tidak mengindahkan sama sekali efek yang Kyungsoo rasakan – dadanya seperti mau meledak.
Samar-samar Kyungsoo menahan senyumannya. Ia berbalik, membelakangi Jongin dengan terburu-buru. "Terima kasih juga masih mau memberiku tumpangan."
"Tidak masalah." Jongin menyahut dengan cepat, sangat berbeda dari apa yang Kyungsoo lakukan.
Dan seharusnya Kyungsoo tidak perlu semelankolis ini – memikirkan seberapa tenangnya Jongin, membuatnya bertanya-tanya, apakah Jongin sudah tidak memiliki perasaan apa-apa padanya sehingga bisa bersikap sebiasa itu?
"Aku sepertinya akan meminjam pakaian Ayahmu cukup lama, Hyung. Kalau sempat besok aku kembalikan atau lusa atau – ya sesempatku. Tak apa, 'kan?"
Kyungsoo mengangguk. "Lagipula, Ayah tak akan mencarinya." Lalu ia menangkup cangkirnya sendiri. Tadinya ia berniat membawanya ke meja makan, bersama Jongin. Tapi kakinya terasa membeku – entah karena udara dingin atau sesuatu yang lain. "Setelah cokelatmu habis, pulanglah. Aku sibuk mengerjakan tugas."
"Ya, Hyung. Aku juga ada urusan setelah ini."
Ia yang memintanya, tapi Kyungsoo sendiri yang merasa kecewa saat ia mendengar sahutan Jongin di belakang punggungnya.
xxxxx
Kyungsoo pergi ke kantin bersama Junmyeon di jam makan siang. Kyungsoo mengabaikan seragam Jongin karena ia pikir perutnya benar-benar sedang tidak bisa menahan rasa lapar. Tapi sesekali kepalanya menoleh ke sana kemari – barangkali menemukan Jongin di kantin.
"Kau seperti anak ayam yang kehilangan induknya." Komentar Junmyeon yang melihat bagaimana Kyungsoo sibuk sendiri di tempatnya.
Mengedik, Kyungsoo berbalik menekuni mangkuk bibimbab-nya. "Makan saja, jangan terlalu banyak bicara."
"Sunbae-nim?"
Kyungsoo dan Junmyeon berpandangan sejenak sebelum menoleh ke arah sumber suara. Dan mereka menemukan seorang lelaki berwajah oriental – seperti bukan wajah Korea – berdiri di dekat meja mereka.
"Ada apa?" Junmyeon yang menyahut.
"Bolehkah aku dan teman-temanku bergabung di meja ini? Kurasa semua meja– " Si wajah oriental mengedarkan pandangannya ke sekeliling, begitu pun Junmyeon dan Kyungsoo sebelum. " –sudah penuh."
Junmyeon melirik Kyungsoo, meminta pendapat. Dan Kyungsoo mengangguk sebagai jawaban. "Baiklah."
"Terima kasih, Sunbae." Si junior membungkuk sopan dan segera mendudukkan dirinya di kursi kosong, sebelah Junmyeon. "Teman-temanku – ada tiga – masih mengambil makanannya."
"Heum." Junmyeon hanya berdehem, tidak tahu harus menjawab apa. Lalu ia kembali sibuk dengan makanannya, sementara Kyungsoo kembali mengedarkan pandangan ke sekitarnya. "Soo, cepat habiskan makan siangmu. Ingat Baek Saem meminta kita kembali sepuluh menit sebelum bell masuk."
Kyungsoo mendengus, "Iya, Junmyeon."
"Oh! Wonwoo! Di sini!"
Kyungsoo dan Junmyeon ikut menoleh saat si junior yang menumpang tiba-tiba berseru sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi, seperti sedang memanggil seseorang. Junmyeon ikut memandangi kemana arah pandang si junior dan menemukan dua lelaki serta satu perempuan sedang mengarah ke meja mereka.
Kyungsoo juga menatap mereka, tapi kemudian mata doe-nya melebar begitu saja.
Masih segar di ingatannya, tentang apa yang terjadi beberapa hari yang lalu.
Dan gadis itu – yang sedang berjalan bersama dua lelaki, temannya – adalah orang yang sama dengan yang membuat Kyungsoo mengakhiri hubungannya dengan Kim Jongin.
Rasanya sangat familiar, meski Kyungsoo baru melihatnya satu kali. Bagaimana cara gadis itu melangkahkan kakinya, cara tersenyumnya, bahkan caranya menyisipkan sebagian rambutnya ke belakang telinga – Kyungsoo masih mengingatnya.
Dan suara Jongin yang mengalun di memorinya, sama sekali tidak membantu apapun.
"Namanya Jung Soojung."
Mendadak saja Kyungsoo merasa perutnya sakit – atau dadanya yang sakit. Maka ia melepaskan sendoknya begitu saja dan berdiri dari kursinya tanpa aba-aba.
"Soo? Ada apa?" Junmyeon bertanya heran.
Kyungsoo menahan nafasnya sebelum pergi dengan sebuah gumaman yang entah didengar atau tidak. "Aku duluan."
xxxxx
Tangan kanan Kyungsoo bertumpu pada pintu locker-nya yang terbuka. Ia mendesah – ia melupakan seragam Jongin, sungguh. Lupa yang benar-benar lupa – salahkan saja si gadis yang mengacaukan mood-nya saat makan siang tadi. Dan sekarang, Kyungsoo bingung harus memberikan paper bag itu pada siapa. Lagipula, sepertinya ia tidak melihat Jongin di mana pun.
Kyungsoo meraih paper bag itu, berniat membawanya pulang dan memberikan pada Jongin besok aja – atau kalau bertemu dengan Taemin, Minho atau Mingyu maka –
Ah, Mingyu.
Bocah kelas satu yang kelebihan hormon kuadrat – karena dia juga tinggi dan juga berkulit gelap seperti Jongin – itu kebetulan saja sedang mengarah ke sini. Sebenarnya Kyungsoo cukup akrab dengan Mingyu – memang siapa yang tidak akrab dengan bocah terlalu ceria itu? – tapi kenapa rasanya canggung sekali untuk memanggilnya?
"Eung – M-Mingyu!" Kyungsoo mengangkat tangannya dengan ragu saat Mingyu yang melihatnya terlihat bingung. "Aku ingin bicara sebentar."
"Woah!" Mingyu berlari mendekat dan itu adalah kata pertama yang Kyungsoo dengar. "Kakak ipar!"
Kyungsoo mengerjap. Seharusnya ia memperingatkan Mingyu sejak awal untuk tidak terus-terusan memanggilnya seperti itu. "Kau ini apa-apaan? Jangan memanggilku seperti itu!"
Dan yang ditegur malah tertawa konyol. "Ada apa Jongin's Hyung?"
"Yak!"
"Oke, sori-sori." Mingyu menyerah dengan peace-sign di samping wajahnya. "Apa yang ingin kau bicarakan, Hyung?"
"Aku sebenarnya berencana mengembalikan pakaian Jongin – dia kemarin mengantarku ke rumah saat hujan deras jadi bajunya dikeringkan di rumahku – tapi kurasa aku tidak melihatnya seharian ini." Kyungsoo sedikit berdehem saat tatapan Mingyu terlihat fokus mendengarkannya. Juga sedikit meruntuki diri sendiri saat kalimatnya barusan terdengar sangat ambigu – kenapa pula ia harus menjelaskan sedetail itu, sih? "Mungkin aku bisa menitipkannya padamu?"
"Eh?" Mingyu terlihat heran melihat paper bag yang Kyungsoo sodorkan padanya. "Memangnya Hyung tidak tahu?"
"Tidak tahu – apa?"
"Jongin Hyung tidak berangkat hari ini. Semalaman dia demam – dan sekarang aku tahu kenapa dia bisa jadi seperti itu."
"J-Jongin sakit?"
"Yeah – sepertinya kau harus sedikit santai, Hyung." Mingyu memposisikan kedua telapak tangannya ke depan, seperti mengisyaratkan Kyungsoo untuk mengontrol kelopaknya yang melebar beberapa persen. "Tadi malam Ibu sudah mengompresnya, dokter juga sudah datang . Jadi kurasa hari ini hanya cukup istirahat dan Jongin Hyung akan kembali ke sekolah besok."
Kyungsoo menghela nafas lega, tentu saja. Sejurus tadi Kyungsoo sempat khawatir mengingat seberapa jarang Jongin sakit selama ini. Dan tentu saja menjadi kabar super buruk saat orang jarang sakit tiba-tiba memilih absen dari sekolah. Kyungsoo sempat menyalahkan dirinya sendiri karena membuat Jongin kehujanan kemarin.
"Hyung, apakah aku masih harus membawa itu?" Mingyu merujuk pada paper bag di tangan kanan Kyungsoo sebelum kemudian ia mendapatkan gelengan dari yang lebih tua.
"Apakah Ibu dan Ayahmu ada di rumah?" Kyungsoo mengalihkan topik yang membuat Mingyu berpikir sejenak.
"Seharusnya pulang tengah malam. Kenapa?"
Kyungsoo menggeleng lagi. "Terima kasih, Mingyu. Aku duluan."
"Oh, begitu? Baiklah, sama-sama." Mingyu masih heran saat Kyungsoo meninggalkannya begitu saja. Tapi Mingyu hanya bisa mengedikkan bahunya sembari terus melanjutkan langkahnya ke koridor kelas dua.
xxxxx
"Kyungsoo? Kenapa kau ada di sini?"
Kyungsoo menghela nafasnya seraya meletakkan senampan bubur hangat ke atas nakas. Ia sudah berada di kamar Jongin sekarang. Benar, bocah itu sedang sakit. Kyungsoo bahkan masih bisa melihat plester kompres di dahinya. Jadi maksud Mingyu mengompres Jongin bukan dengan air hangat dan lap lembut melainkan dengan plester kompres?
Memangnya Jongin bayi?
Dan Kyungsoo semakin kesal saat Jongin yang seharusnya tertidur pulas, malah duduk sambil bermain ponsel di atas kasurnya yang berantakan. Ditambah lagi barusan Jongin memanggilnya tanpa 'Hyung'.
"Aku ini seniormu, Jongin." Kyungsoo memperingatkan sambil melepaskan tas ke atas sofa. Pun dengan paper bag berisi seragam Jongin yang sudah disetrika semalam. "Aku hanya ingin mengembalikan seragammu. Kebetulan aku melewati penjual bubur, mungkin saja kau belum makan."
"Kupikir kau mau menjengukku."
"Siapa bilang?"
"Tapi kau baru saja meletakkan tasmu, Hyung."
Kyungsoo mendecih. Menatap tasnya sejenak sebelum beralih kembali pada Jongin yang menyengir di tempatnya. "Untuk apa dijenguk? Kau terlihat sangat sehat sampai bisa bermain ponsel seserius itu."
"Aku hanya sedang bosan." Jongin langsung mengunci ponselnya dan membenamkannya di antara tumpukan selimut dan sprei. "Hyung, aku hanya demam biasa – dan sedikit flu. Aku sudah minum obat semalam, jadi aku tidak apa-apa."
"Memang siapa yang khawatir?" Kyungsoo mendengus.
Jongin menyengir lagi. "Aku tidak bilang begitu."
Kyungsoo mendesah kesal. Lalu ia meraih nampan bubur dan meletakannya di pangkuan Jongin secara paksa. "Minum obat itu tiga kali sehari, bodoh. Bagaimana mungkin kau bisa sembuh kalau hanya meminumnya semalam?"
"Kau tahu aku tidak menyukai obat."
"Tidak ada orang yang menyukainya." Kyungsoo menghardik dengan suara tinggi. Kemudian ia memijat pangkal hidungnya sendiri. "Tadi siang kau makan apa?"
"Eum – sebenarnya, aku hanya makan roti tadi pagi."
"Apa?" Kyungsoo memijat hidungnya sekali lagi.
Jongin meringis, "Kau tahu Ibu pergi semalam, juga Ayah. Dan Mingyu bangun kesiangan, padahal dia lebih bisa memasak dibanding aku."
"Kalau begitu cepat habiskan buburnya – meski aneh sekali makan bubur sore-sore begini." Kyungsoo mencicit di akhir. Lalu menyesali dirinya sendiri yang malah membeli bubur bukannya sup hangat atau sejenisnya. "Setelah ini minum obatmu dan istirahatlah. Jangan bermain ponsel terus atau kau akan mati lama kelamaan."
"Jahat sekali." Jongin mencebikkan bibirnya. Membuat ekspresi tersakiti yang dibuat-buat.
Dan Kyungsoo tentu saja mengabaikan itu. "Aku harus pergi ke tempat les. Tapi jangan coba-coba membuang makanannya."
"Heum, padahal masih ingin bersama Hyung."
Kyungsoo terdiam. Membiarkan Jongin bergelayut di lengannya. Sementara jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dan rona kemerahan mulai menjalar di wajahnya. "Jongin – lepaskan."
Dan Kyungsoo menyesal karena Jongin benar-benar melepaskannya.
"Aku – pergi dulu." Kyungsoo bangkit dari kasur Jongin yang terasa hangat – sepertinya karena suhu badan pemiliknya. Lalu meraih tasnya di atas sofa dan memakainya tanpa berbalik.
"Hyung,"
Kyungsoo baru akan meraih pegangan pintu sebelum ia menoleh dan menemukan wajah Jongin yang benar-benar menghadap padanya.
"Tidak bisakah tinggal lebih lama?"
Katakan saja Kyungsoo gila. Seharusnya Kyungsoo menegakkan dagunya, menolak Jongin mentah-mentah. Tapi Kyungsoo malah mematung seperti idiot di pintu kamar mantan kekasihnya.
xxxxx
Mangkuk berisi sup jamur yang masih mengepulkan asap panas sudah tersaji di hadapan Jongin. Tentu saja Kyungsoo yang membuatnya – malah Kyungsoo harus ke minimarket dan membeli bahan-bahan untuk membuat semua itu. Padahal baru beberapa jam yang lalu Jongin menandaskan buburnya.
"Padahal aku tidak bilang sedang kelaparan." Jongin berujar setelah Kyungsoo menyodorkan sendok untuknya. Dahinya sudah terbebas dari plester turun panas yang membuatnya seperti bayi. Dan kini mereka sudah duduk di ruang tengah alih-alih terus menerus berada di tempat tidur. "Tapi terimakasih, Jongin's."
Kyungsoo berdecak. Terlalu malas menanggapi Jongin yang kadar kegombalannya sudah di atas rata-rata. "Kau harus menghabiskannya. Aku sudah rela membolos les untuk melakukan ini."
"Tentu saja." Jongin tersenyum sebelum mulai menyuap sup jamur buatan Kyungsoo. Ia terduduk di sofa dengan kedua kaki yang bersila. Selimutnya tersampir di bahu dan melingkar sampai menutupi kakinya. Kalau dilihat-lihat, Jongin benar-benar seperti pasien sementara Kyungsoo adalah perawat pribadinya.
Kyungsoo terdiam selagi Jongin menikmati makanannya. Kepalanya bergerak gelisah untuk mengerling ke arah jam dinding yang terpasang di atas televisi. "Sepertinya aku benar-benar harus pulang. Ini sudah hampir jam delapan."
"Tunggu sebentar lagi." Jongin ikut menilik jam. "Sebentar lagi Mingyu pulang."
"Kau sudah mengatakan itu dari tadi."
"Seharusnya bocah itu memang pulang jam enam."
Kyungso mengernyit. "Apa terjadi sesuatu padanya?"
"Ayolah – aku sedang sakit, kenapa aku harus mengkhawatirkan bocah itu?" Dan Kyungsoo memukul lututnya dengan kepalan tangan. Jongin meringis padanya, "Dia tidak apa-apa, Hyung. Bocah nakal itu memang sering pulang telat."
"Tapi kau kakaknya, Kim Jongin."
"Dan kau kakak iparnya, Do Kyungsoo."
"Aku pulang!"
Kyungsoo membuang wajahnya. Bersyukur karena rona kemerahan di pipinya terinterupsi oleh Mingyu yang sedari tadi menjadi bahan pembicaraan mereka. Jadi dengan cepat ia meraih tasnya dan menghadang Mingyu yang baru saja melepas sepatu.
"Oh! Kakak ipar di sini?!"
"Yak!" Kyungsoo berteriak kesal. Kenapa kakak beradik ini suka sekali menggodanya? "Jangan lepas sepatumu. Cepat antar aku pulang."
"Aku baru saja pulang." Mingyu merengut tapi melihat delikan Kyungsoo padanya, Mingyu kembali memakai sepatunya yang sudah ia lepas. "Apa boleh buat? Aku harus berbakti pada kakak ipar 'ka – aarrghh! Ampun Hyung, ampun!"
Kyungsoo melepaskan cubitannya dari lengan Mingyu saat bocah itu mengaduh kesakitan. Dan sejurus kemudian Jongin datang sambil bersilang dada sambil memperhatikan mereka.
"Hei bocah! Kenapa baru sampai rumah?" Jongin langsung menodong Mingyu dengan pertanyaan.
Mingyu mengedik, "Ada suatu hal yang harus kuurus, Hyung."
"Urusan apa?"
"Urusan hati." Mingyu memasang senyuman aneh yang membuat Jongin memutar bola mata. "Tak perlu banyak bertanya, Hyung-ku yang tidak lebih tampan dariku. Aku hanya perlu mengantar Princess Do Kyungsoo pul – argh!"
"Berhenti memanggilku dengan panggilan aneh-aneh!" Kyungsoo menghardik.
"Iya Hyung." Mingyu merengut. Memegangi lengannya yang memerah. "Ya sudah, ayo kuantar."
"Hati-hati, Jongin's."
"Kau mau kucubit juga?"
"Ah – tidak, terima kasih."
Kyungsoo mengerucutkan bibirnya. Lalu ia mengikuti Mingyu keluar dari kediaman keluarga Kim itu. Kyungsoo menerima helm yang Mingyu sodorkan padanya sembari menunggu adik Jongin itu menyiapkan sepeda motornya.
Baru saja Mingyu bersiap men-starter motornya, mereka dikejutkan dengan kehadiran seseorang.
Seseorang yang sama sekali tidak Kyungsoo harap bisa melihat wajahnya lagi.
"Soojung Noona?"
TO BE CONTINUED
PS(s) :
Nge-feel-kah? Jujur ini diketik berhari-hari karena aku agak kehilangan feel di tengah-tengah Dan ini nggak se-melo chap 1-nya.
Kurang fokus kayaknya ke KaiSoo-nya ya? Kebanyakan pemeran pembantu di chap ini
Perasaan Kyungsoo harusnya udah kegambar semua di sini, tapi kayaknya failed
Next adalah Meanie dari sudut pandang Wonwoo. Tapi di sini sama sekali nggak disinggung hubungan Meanie, ya? aku bingung mau nge-spoilernya sebenernya. Tapi Wonwoo udah muncul meski cuma nama :v
Aku sengaja emang, ngambil sudut pandang dari para Uke. Jadi kesannya para Seme yang brengsek. Padahal – belum tentu :p
Aku suka Jung Soojung, btw (suka mbak Jung Sooyeon juga). Dan aku salah satu pendukung KaiStal juga. Jadi sori – untuk berbagai alasan :v
Love, Arilalee
