Hermione tidak tahu harus berapa lama lagi dia berpura-pura bahwa dia baik-baik saja, dia tersenyum, dan mulai melakukan semua aktifitas senormal mungkin. Menghargai keinginan Orang tuanya.

"Hiduplah normal, tinggalkan dunia sihir. Ayah tidak suka pada dunia yang penuh kegilaan itu, dan ayah benci apapun yang dapat membuat putri tercinta ayah menangis, bahkan sampai terluka. Ayah benci hal yang membahayakanmu"

Dan sekarang, Hermione hidup di dunia Muggle, mengubur semua hal berbau Magic di belakang sana.

"Love, kau ikut kan bersama kami?" Tanya Katty.

"Tentu saja, dia sudah janji!" Sembur Sabrina tersenyum lebar.

Dua rekan kerja Hermione, Katty dan Sabrina, selalu meminta atau lebih tepatnya memaksa Hermione untuk ikut pergi keluar dengan mereka, bersenang-senang. Tapi setiap kali itu juga, Hermione, selalu menolak. Dia tidak suka keramaian.

"Oke, Aku ikut kalian" Suara tenang Hermione berbanding terbalik dengan jeritan kedua temannya yang senang.

"Besok Jumat malam kita pergi, Yohuuuuu. . . Kita harus menemukan Pria tampan" Kata Katty begitu bersemangat.

Hermione bertanya-tanya apakah ini keputusan yang benar atau salah dengan pergi bersama mereka, dia tidak begitu menikmati. Apalagi saat menginjakkan kaki di Lantai Pub yang cukup terkenal ini. Perasannya hambar dan tidak tergoda sama sekali melirik beberapa pria tampan dan kaya yang mencoba mengajaknya mengobrol.

"Bersenag-senanglah" Teriak Sabrina sebelum bergabung ke lantai dansa. Meninggalkan Hermione.

Hermione tersenyum.

Dia lebih baik duduk di tempat yang tidak terlalu terlihat oleh orang-orang, duduk di sudut Pub dengan segelas minuman soda di tangan. Memperhatikan sekeliling, Pub ini penuh dengan orang-orang kelas atas yang terlihat dari busana yang mereka kenakan. Dia tidak tahu jika Katty dan Sabrina sering bergaul dengan mereka.

"Halloha. . . . Granger?" Suara yang terasa begitu akrab untuk ukuran telinga Hermione.

"Jangan bersikap konyol, Malfoy, kau sudah mengawasiku dari tadi. Seakan aku tidak tahu saja!"

Draco Malfoy menyeringai dan Hermione Granger ingin sekali merobek mulutnya.

"Granger, aku tidak tahu apa yang kau bicarakan?"

"Well, Well, Well. . .Draco Malfoy berubah menjadi musang bodoh. Tunggu? Bukannya dari dulu memang musang sudah bodoh" Suara sarkatis Hermione, membuat Draco mengejang sesaat.

"Granger. Lidahmu tampak semakin berbahaya ternyata. Apa ini efek dari kau yang gagal menikah dengan Si Rambut Merah? Ck, ck, ck" Seringai Iblis tidak pernah lepas dari wajah Draco Malfoy.

Hermione tampak mendidih, "Persetan denganmu, Malfoy" Sambil mencoba melewatinya.

Draco dengan cepat meraih lengan Hermione untuk menghentikan langkahnya, "Jangan cepat mudah tersinggung, Granger. Karna kau tau? Aku benar. Kau tidak perlu malu dengan kegagalan pernikahanmu".

"Kau seperti keledai, Malfoy!"

Ron mengatur napas secara perlahan, mimpi itu datang lagi, mimpi menakutkan. Dia selalu bermimpi yang sama sejak setahun yang lalu, mimpi dimana, dia mendengar teriakan Hermione di ruang bawah tanah saat penyiksaan gila itu.

Bangun dari tempat tidur, Ron melangkah mendekati meja di sudut kamarnya, perlahan ia membuka laci dan menemukan secarik kertas yang sudah mengubah semuanya.

Aku terlalu mencintaimu, Ron.

Aku sadar, aku akan menyakiti perasaan bahagia semua orang yang sudah menunggu pernikahan kita sejak dulu. Tapi aku juga terlalu sadar, perasaanku untukmu sama seperti perasaanku pada Harry.

Aku terlalu mencintaimu, Ron. Terlalu cinta sebagai sahabat terbaikku!.

Aku mohon. Jangan membenciku.

Ron tidak membenci Hermione sama sekali, Ia hanya sakit hati saja. Saat melihat pandangan bertanya dari semua keluarga besarnya, Ia menggeleng, dan berkata pelan, Hermione pergi.

"Granger, ikut ke tempatku?" Bisik Draco.

"Untuk?" Hermione merasa tekanan tangan Malfoy begitu menyakitkan. "Berhubungan Seks?"

"Tidak salah lagi" Nada suara Draco sarat akan pujian.

"Tidak. Aku tidak ingin darah kotorku bercampur dengan Sperma murnimu" Tekan Hermione. Mencoba melepaskan cekalan tangan Malfoy.

Draco Malfoy terdiam, mencoba mengartikan maksud dari kalimat musuh masa kecilnya, dan tiba-tiba saja Ia tersenyum,"Granger, kau masih perawan?"

"Ya. Dan itu bukan urusanmu!"

"Sekarang menjadi urusanku"

Dan tiba-tiba saja, Hermione merasa berpindah ruangan.