DISCLAIMER

EVERY CHARACTER BELONGS TO HAJIME ISAYAMA

Karena jika semua karakter ini milik saya, sudah dipastikan Petra dan Levi hidup bahagia lol

DILARANG KERAS MENIRU ATAU MENGATASNAMAKAN CERITA INI

PURE FROM MIYUTANUKI

MAAFKAN KEKURANGAN ATAU KESALAHAN PENULISAN

KITA MASIH BELAJAR

Enjoy the story~


CHAPTER 2


Musim panas menjadi sebuah acuan untuk berpenampilan menarik dengan pakaian pendek tanpa harus memusingkan apa yang orang lain katakan karena memang musim panas kali ini sangatlah tidak menyenangkan. Matahari sudah membumbung tinggi dan teriknya matahari sudah terasa dari dalam kamarnya walaupun pagi tadi tirainya masih tertutup.

Ia melemparkan senyuman pada semua orang seperti biasanya. Mereka tentu membalas senyuman tersebut dengan intensitas yang sama, namun tidak dengan satu orang yang sepertinya memiliki kelumpuhan saraf diwajahnya. Setiap ia melangkahkan kaki menuju stasiun, pria itu pasti sedang membawa koran di depan pagar. Dan tiap kali ia melemparkan senyuman pada pria yang ia tahu tingginya hanya berbeda sedikit dengannya, pria itu tak menunjukkan ekspresi apapun selain terlihat kesal.

Apa salahnya untuk membalas senyuman seseorang?

Tidak akan membuatmu mati, kan?

Petra mendengus sembari meneguk teh dengan hati-hati. Membiarkan kehangatan menelusup masuk kedalam perutnya yang masih kosong saat itu. Walaupun hari ini cukup panas, teh hangat membuatnya lebih rileks. Mau bagaimana lagi, hari ini ia –seperti hari-hari sebelumnya— tidak bisa mendapatkan waktu tidur yang sesuai. Tadi ia sampai berlari kesetanan karena terlambat. Tiap kali ia menatap cermin, wajahnya kian terlihat tua karena kurangnya waktu tidur.

"Petra-san."

Petra mengangkat pandangannya dan menemukan Eren mengangkat satu buah kantung kertas di depan wajahnya.

"Ini untukmu."

Ujarnya riang diikuti Armin yang tersenyum di balik tubuh Eren. Ia membawa kantung tersebut dan membukanya. Matanya berbinar ketika ia menemukan roti favoritnya berada di dalam sana dengan aroma yang begitu menggugah selera. Di sampingnya terdapat satu buah cokelat yang juga merupakan produk kesukaannya.

"Aw, Armin, Eren, terima kasih."

"Anda akhir-akhir ini terlihat murung, mungkin roti dan cokelat favorit akan membantu menaikkan mood. Jangan ragu untuk berbicara pada kami."

Jika ia mengingat kembali, sepertinya ia memang berlaku tidak adil pada anggota tim nya. Sebagian besar akibat yang ia rasakan setelah mengalami mimpi tidak masuk akal yang selalu menghantui malamnya dan sebagian kecil lainnya adalah mereka yang tidak berhenti membicarakan Erwin dan Hanji ketika sedang bekerja.

"Maafkan aku, sebenarnya ada sesuatu yang sedang mengganggu ku akhir-akhir ini."

Semua orang terdiam menahan napas mereka ketika mereka memikirkan apa yang sebenarnya mengganggu pemimpin mereka.

"Apa ini mengenai Connie dan Eren yang membicarakan Ketua Erwin di belakang punggumu, Petra-san?"

Petra mengerutkan kening dan ujung bibirnya meninggi. Ia tak menyangka jika Mikasa akan mengatakan hal itu yang tentu saja membuat kedua orang tertuduh menjadi mati kutu.

"Tidak. Mungkin iya. Tapi itu hanyalah alasan kecil dan aku sudah tidak memperdulikan hal itu, hanya saja jangan membicarakannya ketika kalian seharusnya mengerjakan tugas kalian."

Connie dan Eren mengangguk cepat-cepat karena mereka tidak ingin membuat Petra menjadi lebih kesal.

"Aku mengalami insomnia tapi aku akan memperbaiki siklus tidurku secepat mungkin."

Tentu saja itu semua merupakan sebuah kebohongan besar yang ia lontarkan. Biarlah, mereka pun tidak akan mengerti apa yang sebenarnya terjadi bahkan jika ia menceritakan hal tersebut.

"Aku harap kau menjadi lebih baik setelah ini, Petra-san."

Ia mengangguk untuk memberikan mereka ketenangan dan kembali duduk dengan santai; atau bisa dikatakan mencoba untuk duduk santai. Bahunya masih terlihat kaku namun pandangannya sudah tak menunjukkan bahwa ia sedang memiliki suatu tekanan berat di dalam hidupnya.

Mimpi itu tanpa alasan yang pasti membuatnya terus berpikir mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Tiap kali ia mimpi itu muncul, ia merasakan sebuah sensasi baru yang begitu nyata berbeda dari hari sebelumnya. Dua hari kemarin ia merasakan kegelapan yang dingin dan rasanya ia tak bisa bernapas karena hal itu. Kemarin yang ia rasakan adalah sebuah perasaan kecewa bercampur penyesalan dalam hingga membuatnya menitikan air mata saat terbangun oleh cahaya matahari yang menelusup ke kamarnya.

"Petra."

Tubuhnya menegang dan menatap orang yang kini berada di hadapan mejanya sembari melambaikan tangan tepat di depan wajahnya.

"Y-Ya? Maaf, apa ada laporan yang tidak sesuai?"

Ucapnya cepat. Erwin mengerutkan keningnya dan menggelengkan kepala, menyadari bahwa ada sesuatu yang salah dengan mantan kekasihnya itu.

"Tidak. Tadi aku memberitahu Gunther untuk memanggilmu, namun sepertinya pria itu harus mengerjakan sesuatu yang penting."

Petra mengangguk perlahan dan segera bangkit sembari membawa pulpen yang sepertinya akan ia butuhkan di ruangan Erwin nanti. Ia mungkin harus menandatangani sesuatu atau pulpen itu bisa jadi suatu hal yang dapat membuatnya tenang nanti.

Langkahnya dibuat sehalus mungkin berbanding terbalik dengan langkah yang dibuat Erwin karena pada dasarnya tubuh pria itu lebih besar mungkin lima kali lipat dari tubuhnya. Maka tak aneh baginya jika ia dapat mengetahui keberadaan Erwin dari cara pria itu melangkah.

For God Sake! Mereka sudah berkencan lebih dari dua tahun. Ya, dua tahun yang bisa dianggap sebagai suatu kebahagiaan. Tapi untuk beberapa alasan, ia tidak bisa mengatakan tidak saat pria itu ingin mengakhiri semuanya. Mereka sibuk dengan dunia masing-masing dan mereka berakhir dengan kalimat yang baik-baik. Semuanya terjadi tiba-tiba hingga Ayah Petra tidak bisa menerima semua itu. Jika saja Petra tidak menahan ayahnya, sudah di pastikan Erwin akan babak belur.

Erwin membuka pintu ruangannya dan memberikan akses pada Petra yang pikirannya masih mengandai-andai kesana kemari. Pria itu secara perlahan menutup pintu dan berdeham cukup keras membuat wanita yang kini masih hilang konsentrasinya menjadi lebih fokus pada apapun yang akan dikatakan Erwin nanti.

"Petra,"

Ia tidak senang jika Erwin memberikan jeda pada kalimatnya. Itu selalu mengartikan hal yang buruk dan menandakan bahwa pria yang kini sedang melipat tangan di hadapannya itu sedang sulit merangkai kata yang tepat agar tak membuatnya sakit hati.

"Aku dengar sekarang pekerjaanmu sepertinya terganggu oleh sesuatu."

Petra kini menatap Erwin yang sepertinya menunjukkan sebuah ekspresi penyesalan. Namun Ia masih bisa melihat kharisma yang ditunjukkan pria jangkung itu.

"Aku mencoba untuk tidak memikirkan hal yang tidak-tidak. Namun jika ini karena aku yang sudah bertunangan dengan Hanji,"

Petra membulatkan matanya dan mengerutkan kening. Ia tak menyangka bahwa Erwin akan berpikiran seperti itu.

"Kita sudah menyelesaikannya baik-baik bukan? Aku harap kinerjamu-"

"Sebelumnya, Erwin, aku seperti ini bukan karena aku mendengar kabar bahwa kau sudah bertunangan dengan Hanji. Kedua, apa kau pikir aku senaif itu?"

Nada bicara yang tidak stabil itu membuat Petra kembali berhenti untuk melanjutkan pembicaraannya. Ia tak percaya bahwa Erwin akan berpikir sedangkal itu mengenai dirinya yang setidaknya sudah mengenal satu sama lain lebih lama daripada semua orang di kantor.

"Aku bahagia dengan kebahagiaanmu. Aku bahkan tak memiliki niatan apapun untuk sekedar bersedih karena hal itu, terlebih jika sampai mengganggu kinerja. Aku hanya lelah, itu saja."

Ia mengembuskan napas panjang dengan intensitas kelelahan yang kentara sementara Erwin memasang ekspresi bersalah karena menyadari bahwa tak seharusnya ia berpikir hal sedangkal itu mengenai Petra.

Ya, menurut gadis itu, hari ini adalah hari yang paling menjengkelkan.


Jangan lagi… Jangan lagi…

Ia memejamkan mata sembari berkomat-kamit berharap bahwa ia tak bertemu dengan pria pendek bernama Levi di perjalanan pulang. Ia berharap pria itu sedang berada di dalam rumahnya dan tak memiliki niatan untuk keluar dari tempatnya. Sudah cukup ia menghadapi hari yang menjengkelkan karena Erwin, ia tak ingin harinya semakin buruk karena bertemu dengan Levi.

Tapi saat kelokan terakhir menuju rumahnya sudah dilalui, ia bisa melihat pria itu sedang berada di depan pagar. Pakaiannya tak begitu formal, hanya kemeja putih dan jas yang berada di tangan. Tas kantor yang terlihat begitu ringan juga jangan lupakan ekspresi masamnya yang sepertinya tak akan pernah bisa terhapus dari wajah itu. Petra mengutuk dibawah napasnya sembari berusaha untuk kelihatan normal.

Ia tak ingin menyapa pria itu dengan kondisinya yang muram, bisa-bisa ia melemparkan sumpah serapah di hadapan pria itu. Sepertinya hal seperti itu akan membuat hubungan mereka semakin tidak baik.

"Oi, kau."

What the hell?

Ia bahkan tak mengingat namaku?! Pria sialan macam apa?!

Tangannya yang sudah terulur kearah pagar akhirnya harus terhenti dan ia menghadap ke arah pria tersebut. Dari jauh saja ia sudah tahu ekspresinya akan masam, dari dekat ia semakin muak melihat ekspresi tak bersahabat itu.

"Petra Ral."

"Siapapun namamu."

Bastard!

Petra hanya tersenyum tak sampai mata yang merupakan sebuah formalitas semata. Ia menunggu apa yang akan dikatakan oleh pria itu dengan sabar.

"Tunggulah di tempat itu."

Dengan begitu, ia masuk dan meninggalkan Petra yang semakin kesal.

Kenapa kau tak memberitahu alasan mengapa aku harus menunggu disini!


A/N

Atas kesabaran kalian, saya ucapkan terima kasih

Dan bentuk terima kasihnya adalah CHAPTER BARU YEAAAAAY

Yash, silahkan tunggu kelanjutan Rivetra ini kuharap kalian suka.

Maafkan jika OOC yash.

Warm regards,

Matsushina Miyura