ROMEO AND CINDERELLA

Main pair:

[Park Chanyeol, Byun Baekhyun]

Disclaimer:

EXO (c) SM Entertainment

WARN! YAOI, OOC, TYPO, AU!

I hope you enjoy this story~

.

.

"Kita memang takdir, Cinderella."

.

.

LELAKI bertelinga lebar bagaikan rumah bagi Baekhyun. Begitu nyaman serta dapat melindungi dirinya dari hantaman badai sekalipun. Walau ini pertama kali mereka berjumpa, namun lelaki berparas manis serta lembut sudah nyaman. Ia bahkan tak ingin kembali kerumah, ia ingin ikut berburu mencari mangsa bersama sang Romeo. Mungkin sejarah akan merubah kisah Cinderella si baik hati yang selalu jadi budak saudari tirinya menjadi Cinderella si pemburu tangguh yang berjalan berdampingan dengan Romeo.

Bagaimana dengan jelas pemuda tinggi itu menekan pelatuk pada pistol. Membidik setiap mangsa yang diincar. Sedikit tak tega ketika melihat rusa terkapar di hutan dengan darah bercecer, tapi inilah hidup. Kau harus menyesuaikan diri dengan kekejaman dan kesengsaraan.

"Malam ini kita akan makan besar. Hah, sudah lama Aku tak menyantap daging rusa."

Begitulah ucapan Park Chanyeol. Menatap menggiurkan pada sebongkah daging yang siap diolah. Pemuda itu berjalan didepan Baekhyun, menunjuk arah menuju rumah kecil namun elegan ditengah hutan. Mempersilahkan sang Cinderella masuk terlebih dahulu, "Ini rumahku."

Sang Romeo begitu keren sehingga Baekhyun tak menarik nafas. Menatap punggung lebar berbalut jaket kulit coklat dengan sarung tangan hitam yang senantiasa membalut telapak tangan kekar agar terhindar dari serangan. Oh, bolehkah Baekhyun menjadi Juliet-nya?

Mereka makan dalam diam. Baekhyun terlalu canggung untuk sekadar menyapa atau berbasa-basi. Ia tak terbiasa--baru kali ini ia duduk berdua dengan orang yang masih terasa asing. Namun dilihat dari raut wajah Chanyeol, ia terlihat menikmati santapan hangat berbaur saus baberque yang dapat membuat sesiapapun gagal diet. Terlebih ketika ditambah segelas wine.

"Jadi, kau kabur dari rumah?"

Chanyeol bertanya. Membuka suara agar ruangan tak terasa senyap. Lelaki manis jelmaan Cinderella hanya mengangguk kaku. Memainkan daging diatas piring dengan garpu dan sendok. Tak berani mengeluarkan suara. Lalu suasana kembali hening tak bersua. Hanya terdengar suara dentingan piring dan garpu. Kunyahan serta sentakan gigi ketika melahap daging.

"Badanmu memar. Butuh obat?" tawar Chanyeol. Lelaki dewasa itu sudah selesai makan. Membersihkan noda-noda dekat bibir dengan saputangan hitam.

Baekhyun sedikit canggung, "Tidak apa, biasanya akan hilang sendiri."

Baru saja si manis Baekhyun ingin melahap daging, sang Romeo datang menghampiri. Menyentuh permukaan kulit putih secara seduktif, "Memarmu parah. Kalau tidak diobati akan infeksi."

Degupan jantung seakan tengah berlarian. Tak beraturan dan membuat gugup. Keringat keluar dari dahi Baekhyun. Ketika lengan kekar itu kembali menyentuh tengkuk lalu sedikit menghembuskan nafas, membuat bulu kuduk berdiri meremang. "Lebih baik diobati sekarang. Kau ingin membuka bajumu sendiri atau Aku yang membukanya?"

Spontan Baekhyun berteriak gugup, "A-aku bisa membukanya sendiri, sir!"

Dengan wajah merona, Baekhyun mengangkat perlahan kaus butut yang dikenakan. Terpampang jelas kulit putih mulus dengan warna kebiruan disetiap sisi. Chanyeol hanya menggelengkan kepala, "Siapa yang melakukan semua ini padamu?!"

Baekhyun tak menjawab. Ia masih menunduk. Tubuhnya kurus kering dengan tulang sedikit menyembul. Obat antiseptik dioleskan disetiap luka. Ada yang masih berdarah namun kering. "Sakit?"

Mengangguk adalah jalan pintas untuk menjawab pertanyaan sang Romeo. Cairan penyembuh membuat luka Baekhyun sedikit nyeri, ngilu. Kedua tangan berusaha menutup dada datar, namun ditepis oleh Chanyeol. Cinderella manis hanya menatap kaki telanjang, bagaimana Chanyeol berjongkok dihadapannya. Nafas pria itu tercekat, jakun naik turun tak beraturan.

"Sudah selesai. Sekarang kau ambil pakaianku di kamar." Chanyeol berucap sembari membersihkan kapas-kapas bernoda merah.

Baekhyun mengangguk, lalu berjalan menuju kamar yang ditunjuk. Mengambil pakaian berukuran lebih besar berwarna putih. Pahanya tertutup. Haruskah ia meminjam celana pada Chanyeol? Tapi paha sudah terlindung oleh kemeja kebesaran, jadi Baekhyun memilih tak meminjam celana.

Entah itu pilihan yang benar atau salah, namun jantung Baekhyun kembali berdegup ketika menatap sosok Romeo berdiri di depan pintu kamar. Menatap dalam paha yang hanya berbalut kemeja kebesaran. Ia melangkah maju, membuat Cinderella mundur. "Kau tak mengenakan celana?"

"Tidak. Aku rasa pakaian ini sudah terlalu besar untuk melindungiku." tukas bocah berumur 15 tahun.

Pria dewasa itu hanya menyeringai, "Jadi, kau ingin menggodaku?"

Eh.

"Aku tak bermaksud--"

Bibir ranum itu dibungkam. Merasakan benda kenyal yang lain melahap habis bibirnya. Baekhyun mengerang, membuat Chanyeol lebih agresif dari sebelumnya. "Inikah yang kau mau?"

Baekhyun menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Ini pengalaman pertama untuk berciuman. "Ma-maaf sir, tapi Aku tak menginginkan ini."

"Kenapa?"

"Karena kita masih orang asing, dan juga--"

Ucapannya terputus. Chanyeol kembali melumat bibir manis dan tipis Baekhyun. Sang Romeo mengusap lembut tengkuk Cinderella. Membuat bibir ranum bersorak mengeluarkan desah. "Desahkan namaku."

Kedua belah bibir kembali mengatup. Menghalang segala suara yang akan keluar. Ini salah. Mereka baru kenal sehari, tapi sudah melaju sampai tahap ini? Baekhyun menutup mata. Ciuman ini terlalu memabukkan. Kembali merasakan lengan kekar memeluk pinggangnya yang ramping. Jemari itu melusup masuk kebawah kemeja. Meremas pantat sintal yang sangat pas untuk dibelai.

"Tidak ingin bersuara ya? Hm, akan kubuat kau mendesahkan namaku berulang kali."

Seringai kembali hadir di wajah tampan Chanyeol. Tangannya semakin nakal untuk memijat bongkahan kenyal serta lembut milik Baekhyun. Bibir ranum menggigit satu sama lain, berusaha menahan kalimat yang bisa membuat gairah lelaki dewasa itu memuncak.

Baekhyun kalah telak. Ia mendesahkan nama sang Romeo. Suara menggoda dengan wajah memelas membuat tubuh Chanyeol berdetak hebat. Semakin dilihat semakin menggoda. Dan mereka menghabiskan malam bersama diatas ranjang putih berukuran lebar. Bulan dan bintang menjadi saksi panas aksi mereka. Meremas dan memasuki. Mendesah dengan suara sensual. Sang Romeo jatuh dalam cinta Cinderella.

.

.

.

.

Cinta memang datang seiring jalannya waktu. Dengan terbiasa akan perilaku dan kebiasaan mampu membuat bertekuk lutut. Sudah dua bulan semenjak pertemuan pertama membuat kedua manusia berjenis kelamin sama semakin akrab. Dan walau umur Chanyeol sudah 30 tahun, tapi percayalah dia bukan seorang pedofil. Ia hanya akan memanjakan sang Cinderella dengan kasih sayang melimpah. Baekhyun sudah kehilangan itu semenjak kedua orangtua tiada.

Semua berubah. Ketika sosok nenek tua datang menghampiri Baekhyun, memberitahu jika sang ibu tiri jatuh sakit dan hampir sekarat membuat hati nurani sang Cinderella tergerak. Bagaimana pun juga itu adalah ibunya. Lantas ia pergi dengan meninggalkan sepucuk surat diatas meja makan. Berharap sang Romeo membaca ketika pulang berburu nanti.

Menyebrangi sungai serta melewati hutan demi bertemu sang ibu tiri. Nenek tua renta tak dapat berlari cepat; Baekhyun pun menggendong nenek tersebut diatas punggung.

Terlambat. Semuanya terlambat. Sang ibu sudah pergi meninggalkan dunia. Kedua saudari tiri tengah menangis pilu. Banyak warga yang berbela sungkawa. "I-ibu..."

Seluruh warga menatapnya sinis. "Hei kau, Baekhyun. Darimana saja? Ketika ibumu sudah meninggal kau baru datang kesini?! Kau anak durhaka!"

Cacian serta makian diterima. Semua menatap tak suka lelaki bertubuh kurus. Menganggapnya lebih rendah daripada kotoran anjing. Xiotong dan Xianying diam-diam tersenyum puas. Melihat bagaimana reaksi sang kakak yang terduduk lemas diatas tanah kering. Ya, semua penuh tipu daya.

Ia semakin sengsara. Salahkah jika dirinya kembali datang ke desa ini? Kini ia dikurung di kamar. Kedua saudari tirinya telah menjodohkan Baekhyun dengan saudagar kaya. Memanfaatkan keluguan Cinderella demi menguras harta orang lain.

Baekhyun hanya bisa mendekam dibalik pintu kayu. Kini kisah Cinderella tak berubah dalam sejarah. Tetap disakiti dan menerima dengan lapang dada. Hanya saja, ia merindukan sang Romeo. Dimana dia? Bagaimana keadaanya? Apa dia juga merindukan Baekhyun? Semua pertanyaan hanya disimpan dalam hati.

Beberapa minggu adalah hari pernikahannya. Baekhyun tak siap, ia tak menyukai pria berbadan buncit dengan kalung emas itu. Baekhyun mencintai Romeo-nya. Hanya Park Chanyeol. Perilaku kedua saudarinya semakin menjadi-jadi. Memperlakukan Baekhyun bak budak rendahan di pasar preman. Tubuh kurus terlihat semakin menciut.

Dan hari itupun tiba. Dimana malam indah penuh kemerlip bintang--sang Romeo datang menjemput. Mengetuk kaca kamar perlahan, membangunkan Cinderella yang masih meringkuk diujung lemari. Mata safir itu berkaca-kaca. Obisidan menatap lekat lelaki gagah tersenyum diatas kuda hitam. Baekhyun berlarian, membuka kaca lalu memeluk sang kekasih. "Aku merindukanmu."

Kecupan singkat singgah di bibir ranum Baekhyun. Tangan Chanyeol mengusap pipi tirus Cinderella, "Ayo pergi bersama."

Namanya hidup tak selalu berjalan mulus. Xianying tak sengaja menatap dari bilik kamar--Baekhyun berusaha kabur bersama seorang lelaki tampan. "BAEKHYUN! MAU KEMANA KAU?!"

Baekhyun segera memeluk erat pinggang Chanyeol. Berlari dengan kuda tinggi dengan kecepatan penuh. Banyak warga dusun yang mengejar--karena Xianying dan Xiotong berteriak keras. "Pegangan yang kuat."

Tangan kecil semakin meremas jaket kulit sang Romeo. Menentang dunia dengan kekuatan cinta. Sampai sebuah panah mengenai punggung Baekhyun. Kuda hitam berhenti berlari.

Chanyeol melebarkan mata. Para warga datang membawa obor serta parit. Lelaki berumur 30 tahun terdiam. Turun dari atas kuda, lalu menggendong Baekhyun yang sekarat. Darah keluar dari mulutnya. Wajah manis itu, terpantul sinar rembulan malam. Semua orang berhenti melangkah.

Xiotong dan Xianying tak berkutik. Ketika obisidan tajam menukik mata, Chanyeol mengusap lembut pipi Cinderella. Menangis pilu menatap noda darah semakin banyak. "B-baekhyun--"

"Sir, Anda laki-laki yang baik."

Chanyeol semakin meneteskan air mata. Dadanya nyeri. Ia mencabut panah yang menancap pada punggung sang bocah. Baekhyun terkekeh kesakitan, "Bolehkah Aku menjadi Juliet-mu?"

"Kau menjadi Cinderella pun Aku tetap suka."

Suara Chanyeol meremang. Serak basah karena menangis. Hanya bulan dan bintang yang menerangi. Hatinya gelap gulita. Cintanya telah kandas. Baekhyun menarik kepala Chanyeol, menyesap bibir itu untuk terakhir kali. Bercampur rasa darah dan bau anyir. Chanyeol menenggelamkan kepala. Mencium lebih bibir ranum tipis.

Lalu ciuman itu terlepas. Menyisakan benang saliva yang bercampur darah.

Cinderella yang malang telah mati. Ia menghembuskan nafas terakhir dipelukan sang Romeo.

.

.

.

.

END

.

.

.

.

"CUT!"

Suara tepuk tangan terdengar diseluruh sisi. Puas akan akting yang dibawakan aktor Park Chanyeol dan Byun Baekhyun.

"Terima kasih atas kerjasamanya. Aku puas dengan akting kalian!"

Baekhyun hanya tersenyum malu. Mengusap darah buatan yang masih menempel pada bibir. Dan dirinya masih dalam rengkuhan Chanyeol. Sedikit berdebar ketika menatap betapa tampan sang pemeran Romeo.

"Baekhyun, ayo ganti pakaian." ucap Minseok; selaku asistan berpipi gembul.

Lelaki pemeran Cinderella mengangguk. Berusaha bangkit dari pelukan Chanyeol. Namun sia-sia, lelaki itu menahannya.

Tatapan maut itu semakin menerjang mata telanjang. Senyum seduktif terpampang jelas, "Hei manis, malam ini Aku kerumahmu. Ya?"

"Untuk apa?"

Chanyeol semakin mendekatkan wajah. Menyentuh leher mulus Baekhyun, lalu berbisik, "Ciuman tadi belum memuaskan. Aku ingin lebih."

Susah memang mempunyai kekasih mesum macam Park Chanyeol.

Dan Baekhyun hanya menunduk malu. Tolong, ia masih polos.

"Cepat ganti baju. Atau kuganti bajumu sekarang." goda Chanyeol.

Dan Cinderella pergi menjauh dari Romeo. Lalu sedikit menggerutu, "Dasar Romeo mesum!"

"Sepertinya kau memang ingin digantikan baju olehku, Cinderella."

Lalu Chanyeol pergi mengejar Baekhyun yang sudah lari lebih dulu.

.

.

.

.

END

A/N:

8 Nopember-9 Nopember 2017

Hai, saya kembali melanjutkan fanfiksi ini. Mohon dimaafkan jika kurang bagus atau tidak sesuai harapan xD

Terima kasih sudah membaca: DoubleBae, chanbaekena, 90Rahmayani, pengasuh winwin, and all silent riders.

-levieren225