Another story of Blood Lust©Shin Aoi
Boku no Hero Academia©Kōhei Horikoshi
Seharusnya hari ini aku mengikuti latihan dasar kepahlawanan di ground beta bersama dengan yang lain. Namun, kondisi tubuhku berkata lain dan aku terpaksa beristirahat di unit kesehatan untuk sementara waktu. Terlebih sejak saat itu.
.
.
"Jadilah mate ku Midoriya."
Izuku termangu mendengar permintaan tidak masuk akal Todoroki. Ia berpikir, memangnya saat ini mereka hidup di zaman apa? Memang mitos seperti mate atau belahan jiwa masih ada di zaman modern seperti ini?
"A-apa m-maksudmu, T-Todoroki-kun?"
Izuku enggan menatap wajah Todoroki yang menatap kearah lehernya lapar. Padahal baru beberapa menit yang lalu Izuku membiarkan Todoroki untuk menghisap darahnya.
"Jadilah mate ku. Itu artinya kau akan menjadi pasangan seumur hidupku."
Netra kehijauannya membola ngeri. Izuku berpikir apakah dengan menjadi mate Todoroki, ia akan menjadi seorang vampir juga seperti dirinya. Pikirannya sibuk memikirkan kemungkinan dari akibat-akibat yang akan ditimbulkan jika Izuku menerima permintaan Todoroki begitu saja. Hingga dirinya tidak menyadari jika Todoroki sempat menghela nafas lelah.
"Midoriya. Kau tidak akan menjadi vampir sepertiku dan kalaupun aku mau, aku tidak ingin mengubahmu menjadi seorang vampir."
Izuku menatap Todoroki bingung. Bagaimana bisa, Todoroki mengetahui isi pikirannya? Apakah ia seorang esper, peramal atau sejenisnya?
"Aku bukan esper, peramal atau apapun itu yang kau sebutkan dipikiranmu."
"H-huh?! T-tapi."
Todoroki terkekeh melihat ekspresi terkejut Izuku. Sungguh Todoroki sangat menyukai ekspresi wajah Izuku yang berubah-ubah. "Semuanya terlihat jelas dari wajahmu."
Izuku hanya ber-oh ria. Ia masih enggan menjawab permintaan yang Todoroki utarakan padanya. Entah mengapa, sudut hatinya berkata kalau ia harus menerima tawaran Todoroki, tetapi pikirannya masih ragu dengan keputusannya sendiri.
"Aku tidak memaksamu, Midoriya. Aku akan menunggu. Tapi satu hal yang kau tahu, kau adalah mate ku. Aku tidak akan pernah mengubahmu menjadi vampire karena kau akan masuk kedalam lingkaran setan yang tidak berkesudahan. Cukup aku saja yang mengalaminya."
Sepasang alis Izuku bertaut bingung dan dahinya pun terlihat berkerut. "Apa maksudmu, Todoroki-kun?"
"Bukankah menyakitkan jika melihat teman-teman dan keluargamu mati karena usia mereka yang menua sementara kau tidak?" Iris heterochrome itu menatap Izuku dengan sendu, salah satu tangannya menggapai pipi Izuku dan membelainya pelan.
"Aku tidak ingin hal itu terjadi padamu. Cukup aku saja. Aku dapat bertahan selama tiga ratus tahun untuk menunggumu bereinkarnasi, selama itu aku akan bertahan dengan tidak meminum darah manusia lain."
Izuku menatap Todoroki nanar, seberat itukah beban yang dipikul olehnya?
"Baiklah, kalau begitu jangan lupa meminum tablet darah yang ku simpan didalam tasmu. Jangan keluar dari ruangan ini. Kecuali jika sudah bel pelajaran sore. Mengerti?"
Izuku mengangguk mengerti. Setelah itu, Todoroki menyingkirkan helai hijau yang menutupi dahinya lalu mengecup pelan dibagian itu. Izuku dapat merasakan betapa dinginnya bibir Todoroki yang menyentuh dahinya. Tetapi, ia dapat merasakan betapa hangatnya ciuman itu yang menjalar hingga sudut dihatinya.
"Kalau begitu aku pergi."
Izuku mengangguk seraya bergumam 'ya' pelan dan perlahan Todoroki berjalan menjauhinya dan menggeser pintu kesehatan lalu berjalan keluar dari ruangan itu untuk segera menuju ke ground beta.
.
.
Bel pelajaran sore akan berlangsung sepuluh menit lagi, karena Izuku sudah merasa kalau kondisi dirinya sudah sedikit lebih baik. Maka ia pun memutuskan untuk keluar dari ruangan unit kesehatan dan kebetulan recovery girl tengah ada perlu di ruang guru, jadi ia meninggalkan secarik kertas saja di meja kerjanya dan menuliskan bahwa ia sudah baik-baik saja di kertas itu.
Izuku sudah meminum tablet darah yang Todoroki berikan padanya. Kebetulan, ia membawa cadangan tablet itu kemana-mana. Mungkin berkat tablet darah itu ia menjadi lebih baik dan lebih segar karena pasokan darah dalam tubuhnya kembal normal.
Lelaki berbiner kehijauan itu masih memikirkan maksud perkataan Todoroki tadi siang saat mereka tengah berada di unit kesehatan. Reinkarnasi? Apakah Todoroki pernah bertemu dirinya di generasi yang lalu? Apa itu artinya, Todoroki tidak pernah mati dan terus hidup hingga ribuan tahun sementara ia menyaksikan matenya sendiri mati dihadapannya dan menunggunya untuk terus menerus bereinkarnasi?
Bukankah, seharusnya yang lebih menderita adalah dirimu, Todoroki-kun?
Seketika Izuku tersentak dan mempercepat langkahnya untuk menuju ke kelas dan segera menemui Todoroki. Ia menggeser pintu kelas 1-A dengan brutal dan menatap kearah bangku paling belakang yang ditempati oleh Todoroki, namun kosong. Ia tidak ada disana.
Teman-teman yang lain pun menatap Izuku dengan tatapan bingung.
"Oi, Midoriya kau sudah baik-baik saj—"
"Ah, maaf Kirishima-kun. Aku sedang terburu-buru." Tanpa menunggu respon yang diberikan oleh Kirishima, Izuku pun segera menutup pintu itu kembali dan berlari tak tentu arah.
Izuku berputar-putar didalam gedung hingga tidak menyadari jika sepasang tungkainya membawa ia menuju kearah atap sekolah. Benaknya berkata jka Todoroki ada dibalik pintu yang kini berada dihadapannya. Menggelengkan kepalanya pelan, Izuku pun membuka pintu itu dan mencoba agar tidak membuat suara bising.
Pintu itu terbuka lebar, ia dikejutkan oleh sosok Todoroki yang nampak bersandar di pagar kawat dan tengah memejamkan matanya. Helai putih-merahnya berkibar tertiup angin. Tanpa membuang banyak waktu, Izuku segera berlari kearah pria itu dan menghambur kedalam pelukannya.
Segaris senyum muncul diwajah Todoroki. "Aku sudah menunggumu, Midoriya."
"Todoroki-kun.. maafkan aku.. pasti s-selama ini a-aku begitu j-jahat.. a-aku ini egois bukan?"
Bulir-bulir airmata menetes melewati pipi gembil IzukuTodoroki perlahan mengusapnya. Ia membelai pipi Izuku dengan lembut.
"T-Todoroki-kun.. j-jadikan a-aku m-mate mu." Izuku menatap Todoroki dengan cahaya kesungguhan yang begitu terpancar dari sepasang biner emeraldnya. Sementara si helai hetero itu termangu.
"A-aku s-serius, T-Todoroki-k-kun! J-jadikan a-aku m-mate mu!"
"Kau serius dengan ucapanmu, Midoriya?"
Izuku mengangguk mantap. Lalu melanjutkan perkataannya.
"Jadikan aku matemu, sekaligus vampire seperti dirimu."
Biner abu-turqouise itu membelalak. Tidak, Todoroki harus melarang Izuku. Izuku tidak boleh menjadi vampire atau ia akan menderita sama seperti drinya.
"Tidak."
"K-kenapa?" Raut wajah Izuku nampak kecewa dan Todoroki merasa bersalah karena dirinyalah penyebab dari rasa kecewa yang Izuku rasakan.
"Karena, setelah aku mengubahmu menjadi vampir kau tidak akan dapat kembali menjadi manusia dan bereinkarnasi."
Izuku tersenyum, ia menggenggam telapak tangan Todoroki dengan erat.
"Bukankah selama ini kau juga menderita, Todoroki-kun? Bukankah melihatku mati dihadapanmu juga merupakan siksaan tersendiri untukmu? Bukankah menungguku bereinkarnasi selama tiga ratus tahun membuat dirimu merasakan lara yang amat sangat?"
Harus Todoroki akui, jika semua yang Izuku ucapkan padanya adalah hal yang benar. Namun, ia masih tidak ingin membiarkan Izuku bergabung kedalam lingkaran setan bersamanya.
"Kita dapat menjalaninya jika bersama-sama, Todoroki-kun. Kau dapat mempercayaiku.. bukankah aku adalah matemu?"
Melihat senyum manis Izuku membuat Todoroki goyah dan pertahanan terakhirya pun hancur lebur.
"Kuharap kau tidak membenciku setelah aku mengubahmu menjadi salah satu dari bangsaku, Midoriya."
"Aku tidak akan menyesal, Todoroki-kun."
Izuku mengecup bibir Todoroki singkat dan menatap kearah manik beda warna itu dalam. Setelah itu Izuku mengangguk singkat seraya bergumam 'lakukanlah'.
Setelah melihat Izuku mengizinkannya, Todoroki pun segera melakukan ritual pengikatan mate sekaligus mengubah Izuku menjadi vampir sama seperti dirinya. Todoroki membuka kemeja bagian atas Izuku beserta blazernya. Lidah basahnya menjelajahi leher jenjang mulus milik Izuku, lalu Todoroki membuka mulutnya lebar dan membiarkan sepasang taring yang selama ini ia sembunyikan untuk menyamar diantara miliyaran manusia muncul kepermukaan.
Dan perlahan, lelaki dengan helai dwi warna itu menancapkan sepasang taring tajamnya menembus kedalam lapisan kulit leher serta nadi milik Izuku dan membuat empunya memekik sakit seraya meremas helai white-red itu kencang.
Todoroki memasukkan racun yang dapat mengubah seorang manusia menjadi vampir kedalam tubuh Izuku dan dapat dipastikan, perlahan-lahan seluruh raga milik pemuda hijau itu mendingin dan detak jantungnya pun perlahan melambat.
Todoroki melepas gigitannya setelah berhasil menghisap sedikit darah Izuku. Kini Izuku tengah berada dalam kondisi mati suri. Kulit putihnya pun bertambah pucat. Todoroki menidurkan Izuku dilantai atap dan menyentuhkan telapak tangannya kearah dada kiri Izuku dan tidak merasakan denyutan jantung disana.
Lelaki bernetra heterochrome itu meggores pergelangan nadi miliknya sendiri dengan kuku tangannya yang tajam dan membiarkan sedikit darah menetes dari sana. Lalu, Todoroki pun membawa pergelangan tangannya ke arah mulut Izuku dan meneteskan beberapa tetes darah miliknya disana.
Tiba-tiba saja muncul sebuah tanda kristal es yang dilapisi api muncul di bahu Izuku dan terlihat seperti tato. Itu artinya ritual pengikatan mate telah selesai dan berhasil. Tak lama, Pemuda hijau itu pun membuka matanya dan menampilkan sepasang iris berwarna merah darah yang menatap Todoroki kosong.
"To-do-roki-kun?" Izuku memanggil Todoroki dengan terbata dengan pandangan kosong, sementara yang dipanggil pun merentangkan tangannya dan membiarkan Izuku duduk dipangkuannya seraya menatap luka di pergelangan tangan Todoroki dengan tatapan penuh minat.
"H-ha-us.."
"Minumlah, Midoriya.."
Todorki menyodorkan nadinya yang masih meneteskan darah miliknya. Izuku pun membuka mulutnya lebar-lebar memperlihatkan taring tajam yang serupa dengan milik Todoroki.
"Selamat datang, Izuku..."
Dengan tidak sabar, Izuku pun menggigit pergelangan tangan Todoroki dan menghisap darahnya dengan rakus.
End.
a/n : Berasa pengen bikin sekuwelnya karena, jujur.. yang Ao bikin kemaren itu ngegantung udah kek gantungan jemuran. Semoga suka yaps! #OFATODODEKU
Mind to Review?
Omake 1
"T-Todoroki-kun? K-kita mau k-kemana?"
Izuku menatap matenya bingung karena kini mereka berdua sudah berpakaian rapi dan tengah berada didalam mobil yang melaju membelah jalanan.
"Hm? Ke mansion Todoroki untuk memperkenalkanmu kepada keluargaku."
Izuku ber'huh' heboh. Ia berpikir, mau bagaimanapun juga ini terlalu cepat baginya. Bertemu keluarga Todoroki.. A-apakah mereka semuanya vampire?
"Ya, mereka semua adalah vampire."
Izuku mendelik, keahlian Todoroki untuk membaca ekspresi dirinya sangatlah patut diwaspadai.
"Midoriya.."
"Y-ya?"
"Bukankah kau sudah tiga hari tidak minum? Tidak baik menahannya. Ayo minum darahku."
Todoroki menyodorkan pergelangan tangannya dan disambut dengan gigitan kecil dari Izuku untuk menghisap darah milik Todoroki. Setelah dirasa cukup, Izuku pun melepas gigitannya dan perlahan luka di pergelangan tangan Todoroki menghilang. Sungguh luar biasa regenerasi bangsa vampir itu.
"Gochisōsama deshita... Etto, T-Todoroki-kun, ingin minum juga?"
Yang ditanya pun hanya menggeleng kecil seraya menyeringai. "Nanti malam saja."
Omake 2
Izuku dan Todoroki disambut oleh seluruh anggota keluarga Todoroki dan juga para pelayannya. Jangan lupakan beberapa ras yang merupakan aliansi dari keluarga vampir Todoroki. Karena Todoroki Shōto merupakan calon penerus dari kepala keluarga yang saat ini yaitu, Todoroki Enji. Maka pendamping sang calon penerus pun harus diperkenalkan juga agar tidak ada rasa saling curiga antar ras.
Izuku menatap kesekitarnya tidak nyaman, saat ia menoleh kearah kiri Izuku merasa melihat seorang wanita yang dikenalnya. Wanita bersurai ash blondesebahu dengan sepasang telinga serigala di kepalanya dan disebelahnya berdiri seorang anak laki-laki yang terlihat seumur dengannya serta berwajah angker dengan ciri-ciri yang sama seperti wanita disebelahnya.
Izuku mengedipkan matanya berulang kali dan akhirnya berteriak,
"K-Kacchan?!"
"Deku brengsek! Kenapa kau—?!" umpatan kasar Katsuki tertelan begitu melihat seringai kemenangan Todoroki yang tersungging disudut bibirnya.
"Cih— awas saja kau, dispenser sialan!"
Sungguh tidak diduga jika klan Bakugō adalah salah satu dari ras werewolf dan tidak disangka juga jika werewolf dan vampire dapat bergabung dalam sebuah aliansi mengingat mereka adalah musuh alami satu sama.
Lalu, masih ada ras lain yang hadir disana yaitu, ras veela dari klan Yaoyorozu. Dan jika Izuku ingat lagi, ternyata Yaoyorozu Momo adalah seorang wakil ketua kelas di kelasnya. Pantas saja, ia tidak asing saat melihat wajah gadis cantik itu berdiri diantara para anggota ras veela.
Hidup ini memang sungguh tidak bisa ditebak, begitu pula dirinya yang ternyata seorang mate dari vampir tampan berdarah bangsawan dari klan Todoroki.
Fin.
