JY present

HanSa Mental Hospital: JunHao Ver.

.

Cast: JUNHAO!
Other Cast: Seungcheol! Jisoo! Jihoon! Mingyu! Seungkwan! Lai Kuan Lin!
Rate: M
Length: Chaptered
Disclaimer: SVT belongs to Pledis Entertainment, the plot is mine.

.
Chapter Two
.
.

Warning: OC bertebaran! Typo(s)! GenderSwitch! Mature Content! etc.
Inspired by Joker–Harley Quinn.

.
.
.


Minghao menatap kosong kopi dihadapannya. Kini jadwal untuk para dokter beristirahat. Ditemani Mingyu dan beberapa dokter yang baru ia kenal, mereka menikmati makan siang mereka bersama di kantin.

"Jadi Minghao–ssi, bagaimana pasien barumu hm?" gadis dengan surai cokelat madu di ujung meja menyahut, menyadarkan Minghao dari lamunannya. Minghao meringis menjawabnya.

"Gila."

"Oh well, tentu saja."

"Sangat gila."

"Mungkin kau harus melihat bagaimana hyperactivenya pasienku, Hao," gadis itu tertawa ringan, seakan pekerjaannya bukanlah masalah besar untuk dihadapi. Minghao jadi iri dengannya.

"Ya, pasien Jisoo–ssi bukan main gilanya," kali ini gadis dengan pipi bulat di sebelah Minghao angkat bicara. Alisnya menukik lucu, menunjukkan raut kesalnya.

"Berkacalah, pasienmu juga tak kalah parah Seungkwan–ssi! Memutilasi hewan tak bersalah? Pfft, bahkan ia nyaris melukai kelinci yang dirawat di halaman tengah," Seungkwan melempar bungkus biskuitnya pada Mingyu. Dengan gerakan kacau, namja itu menghindar.

"Lalu bagaimana dengan pasienmu yang justru menusukmu berulang dengan suntik saat pemberian vitamin rutin hah?!"

Minghao menyandarkan kepala di meja. Rasanya berat, apalagi mendengar kasus kawan sepekerjaannya yang lain. Kemana Minghao yang optimis tadi pagi? Bahkan sekarang waktu baru menunjukkan tengah hari. Mungkin semangat –bodoh– Minghao sudah menguap karena sengatan sinar mentari.

"Semangatlah Minghao–ssi. Aku memang belum pernah merawat pasienmu sebelumnya, tapi mengingat banyaknya dokter baru yang ia depak, aku rasa sudah cukup untuk menebak dirinya," Minghao mengangguk, membenarkan ucapan Jisoo.

"Kau harus berbicara dengannya sekali, Jisoo–ssi."

"Ide bagus! Aku akan ikut denganmu nanti, Minghao–ssi. Lee Seokmin bodoh itu sudah overdosis vitamin, aku bisa memberikannya nanti."

Minghao menenggelamkan wajahnya. Sebentar lagi waktu istirahat akan habis, dan ia belum siap kembali ke bangsal –brengsek– Jun. Setidaknya tawaran Jisoo untuk menemaninya kesana cukup menghibur dirinya agar tak mengerut ketakutan di dalam bangsal.


.

.


"Siapa kau?"

Minghao menggigit bibirnya takut. Ternyata membawa Jisoo ke bangsal Jun tak semulus yang ia bayangkan. Bahkan namja surai semu hijau itu langsung menatap Jisoo tajam saat gadis itu menginjakkan kakinya di bangsal Jun.

"Ah kenalkan, saya Hong Jisoo. Saya dokter dari Lee Seokmin."

"Ya kalau begitu keluarlah, tidak ada yang bernama Lee Seokmin disini."

Minghao melirik Jisoo yang mengusap tengkuknya canggung. Bahkan dokter satu itu juga tak mengerti bagaimana harus menyikapi Jun.

"Ah baiklah–"

Minghao melotot. Tidak tidak, jangan bilang Jisoo akan–

"–Kalau begitu saya pamit. Tadi saya hanya ingin menemani Minghao saja. Sampai jumpa, Minghao–ssi."

–meninggalkannya.

Minghao mengenggam tangan Jisoo erat. Sayang, Jisoo tak peka. Ia justru terus tersenyum dan melepaskan genggaman Minghao, berjalan meninggalkan bangsal Jun. Minghao membatu di tempat. Dengan satu tarikan nafas, ia kembali ke meja di tengah bangsal.

"Kenapa kau membawa orang lain kemari? Aku tak suka."

Minghao benci suara penuh dominasi dan tegas itu.

"Tatap aku saat aku bicara, qin ai," Minghao mendongak, menatap Jun yang duduk di kursi. Sial, Minghao merasa ia seperti anak kecil yang baru saja ketahuan menyembunyikan nilai jelek dari orang tuanya. Dan lagi, Minghao bisa melihat kilat amarah di manik Jun.

"A–ah, sekarang waktunya untuk pemberian vitamin rutin. Aku akan menyiapkan jarum dan vitaminnya dulu," Jun berdiri, langkahnya gontai meninggalkan Minghao yang tengah menyiapkan vitamin. Jemari Minghao bergetar. Bahkan cairan vitamin yang sudah berpindah ke dalam suntikan ikut berguncang.

"Aku tak butuh vitamin," nafas Minghao tercekat saat Jun berdiri tepat di belakangnya. Bahkan ia baru sadar kalau jarum suntik dalam genggamannya sudah berpindah tangan.

Yang Minghao rasakan setelahnya adalah ngilu luar biasa di perpotongan lehernya. Dinginnya jarum suntik yang menembus kulitnya sukses membuat lutut Minghao bergetar. Jun merengkuh pinggang Minghao, membantu gadis itu menopang tubuhnya sendiri.

Jun meletakkan jarum suntik kembali dalam bak instrument. Minghao bisa merasakan nafas Jun yang mendekat dan sapuan benda yang terasa panas, basah, dan lunak di perpotongan lehernya. Lidah Jun. Kecupan ringan diberikan Jun di tempat dimana jarum suntik tadi mengalirkan vitamin ke dalam tubuh Minghao.

"Kau yang butuh vitamin, baby girl. Lihat tubuh kurus ini."

Nafas Minghao semakin tercekat saat Jun mulai memberikan kecupan kecupan ringan di tengkuknya. Jemari Minghao berpindah mencengkram pinggiran meja. Tubuhnya lemas, lututnya pun semakin bergetar di balik celana kain yang ia kenakan.

"Ada apa qin ai? Kau butuh vitamin lebih? Kau kelihatan lemas," jemari tangan kanan Jun merambat naik, menyentuh leher jenjang Minghao dengan gerakan selembut kapas.

"He–hentikan, ku..mohon hhh," Jun tersenyum miring mendengar nafas Minghao yang tersenggal. Tangan kirinya yang semula menyangga pinggang ramping Minghao, kini merambat turun, menelusup di balik celana kain gadis itu.

Minghao memekik tertahan merasakan jemari Jun yang terasa panas menyentuh bagian selatan tubuhnya. Perlahan, jemari itu bergerak menggesek di sana. Minghao melemas, kakinya kini terasa seperti jelly. Tubuhnya merosot jatuh ke bawah seakan kehilangan tenaga.

Jun berjongkok, jemarinya berpindah menjambak surai blonde Minghao. Rahangnya mengeras melihat Minghao yang masih mengatur nafasnya.

"Siapa yang menyuruhmu jatuh ke bawah, baby," Jun menggendong tubuh lemas Minghao cepat. Di lemparkannya tubuh Minghao ke kasurnya di pojok bangsal. Minghao berusaha bangkit, lengannya ia gerakkan, menopang tubuhnya yang sialnya tersungkur kembali ke kasur.

Jun mendudukkan tubuhnya di kasur. Tubuh Minghao kembali terlempar, kini ia tengkurap di pangkuan Jun.

Slap!

"A–akhh~"

"Hey hey, siapa yang menyuruhmu mendesah sayang? Kau harus dihukum. Berhitung untukku."

Slap!

"Sa.. sa–"

Slap!

"Ngghh!" Jun kembali menjambak surai Minghao. Mendongakkan wajah gadis itu yang kini telah berpeluh, air mata mengalir turun di kedua pipinya.

"Kau tidak berhitung, kau terlambat."

Bibir Minghao bergetar, mengucapkan kata maaf dengan suaranya yang telah serak. Jun melemparkan cengkramannya di surai Minghao, menghentak kepala gadis itu untuk kembali menunduk kebawah.

"Ulangi hitunganmu."

Slap!

"Sa– hiks –tu."

Slap!

"Nnhh du– dua, hiks."

Slap!

"Ti– tiga hiks."

Slap!

"E– enghh, mpath hiks."

Slap!

"Li hiks– lima."

Jun membaringkan tubuh Minghao lembut di kasur. Air mata gadis itu kembali turun, wajahnya kini sudah semerah kepiting rebus. Jun mengusap lelehan air mata di pipi Minghao pelan. Refleks, tubuh Minghao berjengit merasakan sentuhan kulit Jun di pipinya.

"Jangan ulangi kesalahanmu, mengerti?" Jun merendahkan tubuhnya, mengecup pipi Minghao yang sudah basah oleh peluh dan air mata. Minghao mengangguk samar. Bibirnya ia gigit kuat, menahan gemetar dari tubuhnya.

"Hey," ibu jari Jun mengusap bibir Minghao lembut. "Jangan menggigit bibirmu, kau melukai dirimu sendiri," Jun mengecup bibir tebal Minghao, memberikan sedikit lumatan disana dan merasakan rasa amis darah karena lecet di bibir Minghao.

"Pe– pergi hiks, pergi!" Minghao mendorong tubuh Jun dengan sisa tenanganya. Seringai Jun terbit kembali. Nafasnya kini semakin berantakan.

"Kau mengusirku?" Jun tertawa nyaring, telapaknya mengacak surai semu hijaunya sendiri. Dicengkramnya rahang Minghao erat, membiarkan erangan kesakitan lolos dari celah bibir Minghao. "Kau, kau baru saja mengusirku? Aku mencoba bersikap lembut disini."

Minghao menendang tubuh Jun, tak cukup keras tapi berhasil mendorong tubuh namja itu terlempar jatuh dari kasur. Bunyi berdebam terdengar jelas. Minghao segera berlari menuju pintu bangsal. Tangannya sibuk merogoh sakunya, mencari kartu pegawainya.

"Shit! Please please," tubuhnya kembali bergetar. Kartu pegawainya tak ada disana. Ia semakin panik saat mendengar langkah tenang Jun mendekat. Dalam sepersekian detik, tubuhnya dibalik secara paksa, punggungnya menabrak pintu besi bangsal keras.

Telapak Jun melingkar di lehernya, mencekik Minghao hingga gadis itu terbatuk. Tangan kirinya terangkat, menunjukkan kartu pegawai Minghao yang sudah ia tebak pasti ada di Jun.

"Mati saja kau brengsek!"

Jun semakin mengeratkan cekikannya di leher Minghao. Wajah Minghao memerah, nafasnya kini semakin putus–putus. Jun tertawa di sela kegiatannya menyiksa Minghao.

"Aku suka mendengarmu cursing. Kau tampak.. cantik."

Cuih!

BRUGHH

Tubuh Minghao segera terlempar ke tengah bangsal setelah meludah tepat di wajah Jun. Ia mengerang. Pusing hebat langsung melanda kepala mungilnya. Jun melangkah mendekat pada Minghao yang masih tak bisa memfokuskan pandangannya.

"Aku baru tau jika dokter dan pasien bisa sama gilanya seperti ini," Jun kembali mencengkram jas putih Minghao yang sudah kusut. Dilemparkannya tubuh Minghao ke dinding. Minghao mengerang hebat. Tulang punggungnya terasa remuk karena terus bertabrakan dengan benda keras.

Jun mendekat. Kakinya terayun, menendang tubuh Minghao kembali ke tengah bangsal. Tubuh Minghao terguling. Gadis itu terbatuk hebat, beberapa tetes darah keluar dari celah bibirnya.

Kini Jun berjongkok, menatap Minghao yang menunduk dan terus terbatuk. Telapaknya mengusap surai Minghao lembut, menenangkan gadis itu.

"Kau berdarah? Kemarilah baby girl, biar daddy memelukmu," Jun merentangkan tangannya, membuka ruang bagi Minghao untuk memeluknya. Minghao merangkak perlahan, segera ia menggapai Jun dan memeluknya. Tangisnya berderai, berulang kali ia terisak dan kembali terbatuk.

Jun menepuk punggung Minghao dalam peluknya, tangan kanannya mengusap surai blonde Minghao selembut mungkin.

"Jangan menangis, baby. Ssh, nanti wajahmu bengkak," Minghao meremat lengan Jun erat. Isakannya perlahan melemah, meski air mata masih mengalir turun dari pipinya. Jun melepaskan jas putih Minghao, membantu agar gadis itu dapat meraup oksigen dengan mudah.

Bibir tebal Jun mendarat di bibir Minghao, memberikan lumatan kecil disana. Minghao tak membalas, tapi tak juga menolak. Ia tak berani menolak sosok dihadapannya ini. Ia sadar, seberapa besarnya ia berusaha, ia takkan pernah bisa menang dari sosok Jun.

"Jangan membantah lagi, paham baby?" Minghao mengangguk lemah. Jun tersenyum, kecupan ringan dihadiahkannya di kening Minghao.
.
.
.
TBC


a/n: Apaan ini woyyyy, aduh ampun dah:"

.

Ah, makasih banyak yang udah review ehe. Dan seperti yang kita duga, review kalian itu tentang Junhao sebagai main pair.
Iya emang susah nemuin Junhao sebagai main pair uhuhu
Padahal kan Jun sebagai seme mukanya bangsat bangsat ena gitu .g

.

Dan sekali lagi maafkan, FF JY pendek pendek ehe. Gabisa nulis panjang panjang:"
Takut nanti para readers jenuh baca tulisan banyak banyak /halah.

.

[Next Chap: Last Chapter]
Warn: Mature Content for next chapter.
.

XOXO,
Jinny Seo [JY]