We Are Family

Chapter 2

"Sakura…" Suara ayah terdengar parau. Wajahnya tampak sedikit tertunduk dan suram, seperti menahan beban berat. Aku menatap ayah dengan alis bertaut dan menanti apa yang sebenarnya ingin ayah katakan.

Ayah menghela nafas panjang sebelum kemudian melanjutkan kalimatnya, "Ini Naruto… mulai hari ini dia akan tinggal bersama kita."

Aku mengernyitkan dahi tak mengerti. Mata hijauku beralih dari ayah menuju pada seorang bocah laki-laki berambut kuning yang cukup menggemaskan untuk anak seusianya. Ia tampak malu-malu dan bersembunyi dibalik kaki ayah dengan kedua tangan mungilnya meremas kuat celana ayah. Mata biru besarnya menatap padaku takut-takut.

"Apa maksud ayah? Siapa anak ini?"

Raut wajah ayah tiba-tiba saja berubah tampak seperti kesusahan. Ia memalingkan wajahnya dariku dan menatap Naruto. Cukup lama ayah terdiam dan tidak menjawab pertanyaanku.

"Ayah?" tanyaku sekali lagi.

"Aku harus mengatakan hal ini padamu, Sakura…" ucap ayah akhirnya. Ia memijat keningnya, terlihat frustasi. Suasana di dalam ruang tengah rumah kami terasa begitu sunyi dan tegang. Entah apa yang sebenarnya ingin ayah katakan sampai seperti ini. Aku jadi bertanya-tanya dalam pikiranku.

"Sebelumnya ayah ingin minta maaf padamu…"

Mataku membulat tatkala ayah membungkukkan badannya dihadapanku.

Apa yang sebenarnya terjadi?

"Naruto… dia anak ayah… adikmu…" ucap ayah pelan.

"A-apa…?" Aku terdiam mematung, memastikan pendengaranku masih berfungsi dengan baik.

"Aku bersalah padamu, Sakura… Aku bersalah pada ibumu…" Aku semakin berjengit tatkala ayah mulai terisak pelan. Lututnya perlahan membentur lantai, berlutut di hadapanku dengan wajah yang semakin tertunduk dalam. Tangannya perlahan menggenggam tanganku yang tergantung di udara. "Aku sungguh ayah yang buruk. Aku tahu kalau aku tidak pantas menjadi ayahmu… Tidak pantas menjadi suami ibumu… Ayah khilaf, Sakura! Ayah khilaf!" Suara ayah terdengar semakin kacau.

Naruto tampak menoleh bergantian pada ayah dan padaku. Ia terlihat kebingungan, sementara aku yang masih tidak percaya dengan apa yang ingin coba ayah sampaikan masih berdiri mematung dengan mata yang membelalak. Aku mengerti apa maksud kata-kata ayah. Tanpa tersadar air mataku mulai menyeruak keluar. Lidahku mendadak terasa kelu dan badanku lemas. Rohku seperti dicabut dari tubuhku. Aku terhuyung ke belakang, menyentuh dinding ruang tengah. Aku tidak percaya. Sungguh tidak percaya ayah berbuat seperti ini.

Sejak kapan?

Dengan siapa?

"Maafkan ayah, Sakura. Maafkan ayah…" Ayah semakin terisak. "Ayah benar-benar menyesal…"

Perlahan aku mulai menepis tangan ayah yang memegang tanganku tanpa mampu berkata-kata. Aku menangis dalam diam dan tak bisa menghentikan air mataku.

"S-Sakura…" Ayah mendongakkan kepalanya menatapku. Ia mencoba menggapai kembali tanganku, menahanku untuk beranjak, namun aku kembali menepisnya.

"Lepaskan…" ucapku dingin tanpa menatap ayah.

"Sakura, ayah mohon, maafkan ayah! Ayah sungguh tidak bermaksud mengkhianati ibumu. Ayah menyesal, Sakura!"

"Lalu apa…?" Aku menatap ayah dengan berurai air mata. "Kalau ayah tidak bermaksud mengkhianati ibu, lalu apa ini artinya? Lihat anak ini!" tunjukku pada Naruto, "Dia sudah sebesar ini, tapi ayah baru menyesal sekarang, bahkan setelah ibu meninggal?! Benar-benar tidak bisa dipercaya! Ayah bukan hanya mengkhianati ibu, tapi ayah juga membohongi kami selama ini! Aku… Aku tidak habis pikir… kenapa ayah setega ini…" Aku mulai terisak, mengeluarkan segala emosi dan kekesalanku.

Hatiku teramat perih, seperti dihujam seribu duri, bahkan lebih sakit lagi.

::

~R.I.N.Z.U.1.5~

::

Aku terhenyak dari tidurku. Mataku mengerjap-ngerjap menatap langit-langit kamar sebelum kemudian mendesah pelan.

Mimpi itu lagi.

Entah sudah yang keberapa kalinya aku mengalami mimpi yang sama dalam setiap tidurku. Mimpi saat kejadian waktu itu.

Kenapa mimpi itu selalu datang berkali-kali seperti rekaman film usang? Hal itu benar-benar menggangguku. Bagaimana tidak? Kejadian hari itu adalah salah satu hal yang sangat ingin aku lupakan. Tiap kali teringat, luka sakit hati yang berusaha aku kubur itu seakan-akan kembali terbuka.

Hari setelah kejadian itu menjadi hari yang sulit untukku. Aku sama sekali tidak berbicara pada ayah. Bahkan beberapa malam, aku menginap di rumah teman-temanku dan menghindari ayah. Aku juga tidak mempedulikan Naruto sama sekali.

Tapi entah apa yang membuatku akhirnya memutuskan untuk menerima dan merawat Naruto. Bahkan aku tidak menyadari sikapku padanya perlahan-lahan mulai berubah. Aku sendiri tidak mengerti kenapa aku tetap membiarkan Naruto bersamaku, padahal aku bisa saja meninggalkannya di panti asuhan, mungkin. Kalau dipikir, memangnya tahu apa gadis berusia delapan belas tahun sepertiku tentang mengurus anak? Mengurus diri sendiri saja aku masih belum tentu benar. Disaat ibunya sendiri pun justru tidak peduli padanya, aku malah menyusahkan diriku sendiri. Entahlah, aku ini bodoh atau apa. Tapi, yang aku tahu, saat itu aku tidak bisa mengabaikan wajah polosnya yang menatap jasad ayah ketika pemakaman. Saat semua orang pergi, anak itu hanya berdiri diam dengan tangannya yang menggenggam setangkai bunga.

Seharusnya aku tidak perlu menghiraukannya. Seharusnya aku tidak perlu mempedulikannya. Seharusnya… aku tidak boleh terbujuk. Tapi nyatanya… wajah itu telah berhasil meluluhkan keras hatiku. Wajahnya yang berusaha menahan tangis dihadapanku. Padahal untuk anak seusianya, ia bisa saja menangis sekeras mungkin sesuka hatinya sampai puas. Aku tidak mengerti kenapa Naruto tampak berbeda dengan anak-anak kebanyakan.

Aku memang bodoh. Tapi aku akan lebih bodoh lagi kalau membiarkan seorang anak kecil di depanku menangis sendirian. Walau aku tahu aku membenci ibunya, namun sebenarnya Naruto tidaklah salah. Ia sama sekali tidak tahu apa-apa. Dan aku tidak bisa mengabaikan wajahnya yang tampak kesepian itu seorang diri, tanpa tempat untuk pulang. Bagaimanapun ia hanyalah seorang anak kecil yang butuh sandaran, dan saat seperti ini hanyalah aku yang tersisa, meski ia bukan adik kandungku.

::

~R.I.N.Z.U.1.5~

::

"Sudah mau pulang, Sakura-chan?" Minato-nii tersenyum ramah ketika ia berpapasan denganku di lorong menuju ruang ganti pegawai. Aku pun balas tersenyum dan mengangguk. "Ah, benar juga. Kau harus menjemput Naruto-chan di penitipan anak, ya? Hm… kalau saja aku tidak banyak kerjaan, mungkin aku bisa mengantarmu, sayangnya para pelanggan itu tidak bisa ditinggalkan."

"Tidak apa, Minato-nii, tidak perlu repot-repot. Aku bisa menjemput Naruto sendiri. Itu sudah biasa kulakukan," jawabnya masih dengan tersenyum. Minato-nii hanya mengangguk pelan.

Namikaze Minato adalah putra pemilik kedai dango tempatku bekerja sekarang. Ia pria yang masih muda dan berwajah tampan. Meski ia lebih tua dariku lima tahun, namun ia memperlakukanku seperti sahabat sebayanya. Minato-nii adalah orang yang sangat baik.

Aku tidak canggung untuk menceritakan semua masalahku padanya. Dia sosok pendengar yang baik dan sabar. Bagiku, Minato-nii sudah kuanggap seperti kakakku sendiri. Selama ini dialah yang selalu membantuku, disamping Chiyo-baasan, tetanggaku. Aku diizinkan bekerja di tempat ini juga adalah karena bantuannya.

Aku pun segera masuk ke ruang ganti dan melepas apron yang kupakai. Aku segera membenahi pakaian dan rambutku yang sedikit berantakan.

Pukul 19:00, adalah waktuku untuk pulang. Aku beruntung karena Jiraiya-san, pemilik kedai ini ―sekaligus ayah Minato-nii, bisa mengerti bagaimana keadaanku sehingga beliau mengizinkanku untuk masuk dan pulang kerja dengan waktu yang berbeda dari karyawan lainnya. Aku dibolehkan untuk bekerja non-shift, karena paginya aku harus mengantar Naruto ke taman kanak-kanak. Dan aku baru akan menjemputnya di penitipan anak setelah aku pulang bekerja seperti sekarang.

Harus kuakui ini begitu sulit dan melelahkan. Disaat remaja seusiaku sedang asyik-asyiknya menikmati bermain dan meneruskan sekolah ke perguruan tinggi, aku justru mati-matian menghabiskan waktu untuk bekerja dan merawat seorang anak laki-laki lima tahun.

Sedih? Tentu saja.

Aku tidak punya pengalaman tentang membesarkan seorang anak sendirian. Terkadang, aku akan marah-marah sendiri lalu menangis saat tengah malam. Tapi, jika mengingat kalau saat ini akulah yang bertanggungjawab atas Naruto ―karena aku tidak tahu dimana ibunya sekarang, aku tidak punya pilihan lain. Sudah tidak ada tempat untukku bergantung, karena itu aku harus bekerja keras sendiri.

Setelah mengambil tas selempangku, aku segera keluar dari ruang ganti dan melangkah menuju pintu keluar belakang, namun suara Minato-nii menghentikan langkahku.

"Sakura-chan, tunggu!" Ia tampak melangkah cepat menghampiriku dengan sebuah bungkusan yang dibawanya.

"Ada apa, Minato-nii?"

"Ini, bawalah." Minato-nii menyodorkan bungkusan itu padaku. Aku menatap Minato-nii bingung. "Ini ada sedikit nasi kepal dan sup miso untukmu makan malam dengan Naruto-chan."

"E-eh, tapi, Minato-nii… tidak usah repot-repot…"

"Tidak apa-apa, Sakura-chan. Kalau kau menolak, aku akan sangat sedih."

"Minato-nii…"

"Nah, terimalah. Maaf hanya bisa memberimu ini, Sakura-chan."

Aku menggeleng. Bagiku ini sudah lebih dari cukup. Kepedulian Minato-nii lebih berharga dari apapun. "Terima kasih," ucapku sambil membungkukkan badan.

Minato-nii kembali tersenyum hangat lalu menepuk kepalaku dan mengusapnya lembut. "Hati-hati di jalan. Sampaikan salamku untuk Naruto-chan."

"Um." Aku mengangguk sambil tersenyum. "Sampai besok, Minato-nii."

"Sampai besok, Sakura-chan!" serunya seraya melambaikan tangan.

Untuk sekian kalinya, Minato-nii membuatku kuat.

::

~R.I.N.Z.U.1.5~

::

"Sampai jumpa lagi, Konohamaru-kun!" Ayame, wanita pengurus penitipan anak berambut kecoklatan itu melambaikan tangan sambil tersenyum ceria pada seorang anak berambut hitam yang baru saja dijemput oleh ayah dan ibunya dengan sebuah mobil van hitam.

Konohamaru balas melambaikan tangan pada Ayame dengan senyum lebar khas anak kecil. Ia kemudian menggamit tangan ayah dan ibunya yang menuntunnya ke dalam mobil. Anak itu terlihat begitu senang. Beberapa menit kemudian, mobil yang membawa keluarga kecil bahagia itu pun mulai melaju meninggalkan tempat penitipan anak 'Himawari'.

Aku menatap mobil hitam itu sampai hilang di belokan menuju jalan raya. Memang cukup banyak yang menitipkan anaknya di Himawari saat orang tua mereka bekerja, termasuk aku. Mau bagaimana lagi, aku tidak mungkin meninggalkan Naruto sendirian di rumah. Itu terlalu berbahaya. Aku juga tidak enak hati menitipkan Naruto pada Chiyo-baasan. Beliau sudah tua.

Hanya beberapa anak saja yang dijemput saat memasuki waktu malam seperti ini. Kebanyakan anak dijemput berkisar antara pukul 4 sampai pukul 6 sore. Beberapa kali aku selalu melihat anak bernama Konohamaru itu dijemput malam hari, namun tidak setiap hari. Dan Naruto selalu menjadi anak terakhir yang dijemput di tempat ini. Biasanya dia akan menunggu dengan duduk memandang ke arah jendela sambil menopang kedua pipinya yang tembam dengan kedua tangan mungilnya. Atau dia akan menunggu dengan duduk di atas ayunan yang ada di halaman ditemani Ayame.

Aku tahu mungkin dia bosan dan kesal menungguku, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Masih beruntung aku diizinkan bekerja di tempat Minato-nii dengan waktu yang berbeda dari pegawai lain.

"Ah, Sakura-chan, kau sudah datang?" Suara Ayame membawaku kembali pada kesadaranku. Aku tersenyum kecil lalu membungkukkan badan.

Ayame berusia sebaya dengan Minato-nii. Dia merupakan wanita yang ramah dan baik hati. Selain itu dia juga cantik dan senang dengan anak-anak.

"Selamat malam, Ayame-neesan…"

"Naruto-chan menunggumu di dalam. Dia asyik dengan mainannya," ujar Ayame seraya melangkah masuk ke dalam ruangan penitipan. Aku berjalan mengekorinya.

"Dia tidak nakal, 'kan, Ayame-neesan?"

Ayame terkekeh kecil mendengarku menanyakan hal itu. "Tidak. Sama sekali tidak, Sakura-chan. Naruto-chan anak yang cukup hiperaktif, tapi dia tidak mengganggu anak yang lain. Kau tidak perlu khawatir, Sakura-chan."

"Syukurlah…"

Ayame hanya tersenyum.

Kami pun memasuki ruangan besar menyerupai kelas yang didalamnya terdapat beberapa meja dan kursi rendah, mainan-mainan dan gambar yang banyak tertempel di dinding.

"Naruto-chan, waktunya pulang!" seru Ayame dengan suara ceria. Naruto mendongak saat mendengar suara Ayame. Beberapa detik kemudian, mata biru besarnya terlihat berseri saat melihat diriku yang berdiri di belakang Ayame.

"Sakura-chan!" teriaknya senang. Ia pun segera berlari ke arahku dengan cengiran yang lebar dan segera menghambur memeluk pinggangku.

"Hey, Narurin!" Aku mengacak pelan rambut kuningnya. Aku sudah terbiasa memanggilnya seperti itu. Dan kurasa Naruto tidak keberatan kupanggil dengan sebutan itu.

Naruto kemudian melepas pelukannya, lalu segera berlari ke meja tempatnya tadi berada untuk mengambil selembar kertas yang ada di sana, sebelum kemudian kembali berlari ke arahku.

"Sakura-chan, lihat apa yang Naru gambar!" serunya sambil menunjukkan hasil gambarannya padaku. Aku pun berjongkok untuk melihat lebih jelas apa yang digambarnya. Ayame pun tampak penasaran dan tertarik.

Seketika itu juga mataku membulat.

"Wah, apa yang kamu gambar ini, Naruto-chan?" tanya Ayame kemudian.

"Ini Naru dan Sakura-chan! Bagus, 'kan?" ucapnya dengan senyum terkembang.

Aku menatapnya tanpa berkedip selama beberapa detik saat melihat gambar itu. Di atas kertas itu terlukis gambaran Naruto yang sedang menggenggam tanganku sambil tertawa. Garis-garis gambarannya terlihat meliuk-meliuk dan bergelombang. Krayon-nya tebal dibeberapa bagian, sekaligus kosong dibeberapa sudut. Warnanya banyak yang melampaui garis pensilnya.

Aku seperti terhipnotis sesaat. Gambar itu hanyalah gambar sederhana seperti kebanyakan gambaran anak-anak, namun entah kenapa hanya dengan melihatnya seakan-akan perasaan Naruto sampai padaku lewat gambar itu. Pasti Naruto menggambarnya sambil memikirkan kami.

Aku pun tersenyum. Ada perasaan hangat yang menjalari hatiku. Tanpa sadar aku tersentuh oleh kepolosannya.

"Bagus sekali, Narurin," pujiku.

"Benar, Naruto-chan. Gambar yang bagus!" Ayame ikut berkomentar. Ia mengacungkan jempolnya.

Senyum Naruto semakin lebar.

"Ayo pulang!"

Naruto bergegas mengambil tas ransel kecilnya lalu segera menarik tanganku menuju pintu keluar Himawari.

"Kami pamit dulu, Ayame-neesan. Terima kasih untuk hari ini." Aku kembali membungkukkan badan.

"Ya, selamat malam, Sakura-chan. Hati-hati di jalan." Ayame tersenyum lalu menatap Naruto. "Sampai besok, Naruto-chan!"

"Bye, bye, Ayame-neesan!" balas Naruto masih dengan cengiran lebarnya. Aku sedikit mengernyit. Dari mana Naruto tahu kata 'bye-bye'? sepertinya ia menonton film asing dan meniru kata itu tanpa sepengetahuanku.

Kami pun kemudian berjalan menuju arah stasiun. Naruto masih tetap asyik dengan gambar yang dipegangnya. Wajahnya tampak begitu senang. Aku menatapnya lewat sudut mataku. Terkadang aku berpikir apa yang dipikirkan Naruto. Maksudku, ia tidak pernah menanyakan tentang ibunya selama ia bersamaku.

Apakah ia tidak rindu pada ibunya?

Rasanya aneh. Sebenarnya aku pernah berpikir untuk menanyakannya pada Naruto, hanya ingin tahu saja. Tapi niat itu selalu aku urungkan. Aku takut kalau Naruto nanti malah merengek ingin bertemu ibunya, sementara aku sama sekali tidak tahu wanita itu ada dimana. Aku sendiri juga nanti yang repot.

Setidaknya, untuk saat ini aku biarkan saja seperti ini.

Seandainya pun Naruto sendiri yang mungkin suatu saat akan menanyakan hal itu… aku belum tahu akan menjawab apa…

Naruto terlihat menguap lebar saat kami sudah berada didalam kereta. Sepertinya ia sudah mengantuk. Beberapa kali kepalanya tampak terantuk ke depan, ke samping dan ke belakang. Aku tidak tega melihatnya dan menggerakkan tanganku untuk merangkulnya agar ia bersandar padaku. Benar saja, beberapa menit kemudian Naruto tertidur dalam rangkulanku. Aku pun meraih kertas gambar yang masih saja dipegangnya, lalu memasukkannya ke dalam tas agar tidak jatuh.

Naruto terlihat nyaman dalam tidurnya.

End of chapter 2

A/n : Ok, sebelumnya aku belum sempat memberikan pembukaan di chapter 1, gomen... Ini adalah fic pertama yang karakternya mungkin banyak yang diluar dugaan dan pairingnya juga crack XP Aku harap kalian menikmati cerita ini seperti aku yang juga senang menuliskannya. ;D

Makasih yang udah baca. Makasih buat yang udah review chapter lalu : heryanilinda, WisnuDamayanti, gui gui M.I.T, & Lily Purple Lily.