"If Tomorrow Never Comes"

Characters: Sasuke U. & Sakura H.

rate: Semi M

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Kita adalah sepasang kekasih yang paling bahagia. Memiliki banyak rencana untuk masa depan. Rencana yang akhirnya dihempaskan oleh takdir yang kejam. Ini kisahku yang jatuh bangun untuk mencoba membuka ingatanmu.

.

.

.

Enjoy

.

.

.

Mind to RnR?

.

.

.

Chapter 2

Apartemen, Japan. Oktober 11th – 2012

Wanita bersurai merah muda mulai memasuki wilayah apartemennya dan memakirkan mobilnya. Selesai ia memakirkan mobilnya, ia memasuki pintu apartemennya dan segera menuju lift. Ia menekan angka 5 pada deretan angka yang tertera di lift itu dan menutupnya.

Triingg.

Bunyi tersebut menandakan kalau lift tersebut sudah berada dilantai 5. Wanita yang bernama Haruno Sakura itu berjalan keluar dari lift dana menyusuri lorong yang sepi.

'37.' Batinnya, seraya menemukan kamarnya. Ya, Sakura tinggal seorang diri diapartemen ini. Keluarganya—ayah dan ibunya sudah meninggal karena insiden kecelakaan 10 tahun yang lalu. Ia sempat ditolong oleh seseorang yang berbaik hati menolongnya saat insiden itu terjadi.

Flashback

Sakura, yang sedang duduk manis dijok belakang mobilnya dengan earphone ditelinganya sedang asyik mendengarkan sebuah lagu dengan melihat kearah jendela mobilnya. Pemandangan hari ini sangat indah. Ia sangat suka dengan pemandangan seperti ini. Rasanya ia tak mau lepas memandanginya.

Tak sengaja ia melihat sebuah truk yang melaju disebelah mobilnya. Truk itu membawa banyak potongan batang pohon. Pandangan Sakura beralih ke truk itu. Entah kenapa, Sakura terus memandanginya.

DEG.

Tiba-tiba saja ia mempunyai firasat buruk tentang truk itu. Entah dari mana firasat itu muncul, tapi ia benar-benar takut akan sesuatu yang tidak diinginkan terjadi padanya.

"Ma—Yah-" panggilnya ragu.

"Ya, Sakura?" Wanita yang bernama Mebuki ini membuka suara.

"Um—" Sakura ragu akan hal ini. Ia ragu untuk memberitahu tentang firasatnya atau tidak. Ia pun segera menepis semuanya dan mengurungkan niatnya. Ia hanya bisa berharap kalau itu hanya firasatnya saja.

"—tidak, tidak apa-apa." Jawabnya.

"Kau yakin Sakura?" Kali ini Kizashi yang membuka suaranya.

"Iya, Ayah. Aku tidak apa-apa." Jawabnya lagi meyakinkan.

"Baiklah." Sakura merenung dengan apa yang ia rasakan sekarang. Ia terus-menerus meyakinkan bahwa firasatnya ini tidak benar. Tetapi, semakin ia tepis semuanya, semakin kuat firasatnya.

Tak kala ia mendengar sama-samar suara yang menandakan sebuah kecelakaan yang hebat. Belum sempat ia melihat untuk meyakinkan bahwa memang terjadi kecelakaan, mobil yang ditumpanginya juga ikut serta dalam insiden itu. Potongan-potongan batang pohon itu mengenai mobil yang ditumpanginya dan menewaskan satu keluarga tersebut. Ajaibnya, hanya Sakura yang selamat dalam insiden kecelakaan itu.

"Kau sudah sadar?" tanyanya. Ada nada 'khawatir' disana.

"Ngg..Dimana ini?" Sakura memegang kepalanya yang terasa sakit.

"Kau sedang dirumah sakit. Tadi kau pingsan dan kepalamu berdarah akibat terbentur. Tapi, sekarang kau sudah sadar." Sakura ingat betul bagaimana kejadian itu terjadi.

"Ayah! Ibu!" Ia shock tidak melihat Ayah dan Ibunya.

"Mereka semua telah tewas, kecuali-kau." Orang itu menjelaskan. Sakura tidak percaya dengan apa yang dikatakan orang itu. Firasat itu benar. Ia menyesal tidak memberitahu Ayah dan Ibunya tentang firasat itu. Dan air matanya jatuh entah sejak kapan.

"Hiks…Hiks…" Sakura mengangis. Menangis karena ia tidak punya siapa-siapa lagi—selain dirinya.

Orang itu memeluk Sakura dan mengusap punggungnya. "Sudah.. Aku tahu prerasaanmu. Kau pasti sangat terluka atas kejadian ini 'kan?" Tanyanya dan dibalas anggukkan oleh Sakura. "Hm… Bagaimana kalau kau menjadi bagian dari keluargaku—siapa namamu?"

"Sakura. Haruno Sakura. Dan kau…siapa namamu?"

"Karin. Uzumaki Karin." Wanita yang bernama Karin itu mengulurkan tangannya dan dibalas oleh Sakura. "Baiklah kalau begitu. Welcome to my family!"

Flashback Ends

Ya, memang Sakura pernah tinggal bersama Karin dirumahnya. Tetapi, semenjak Sakura memasuki Universitas, ia memutuskan untuk tinggal sendiri. Tadinya Karin tidak setuju dengan keputusan Sakura. Tetapi, setelah Sakura menjelaskan tujuannya, Karinpun setuju dan sampai saat ini Sakura hidup mandiri. Sesekali ia menengok Karin dirumahnya kalau memang ada waktu senggang.

Sakura belum sempat membuka pintu apartemnnya, handphone si pemilik pun berdering. Ia pun segera merogoh tas kuliahnya untuk mencari handphonenya. Setelah mendapatkan apa yang ia cari, Sakura melihat dilayar handphonenya tersebut dan hanya nomor yang tertera disana.

Sakura tidak tahu siapa yang menelfonnya ini. Ia tidak pernah memberikan nomor telfonnya ke sembarang orang, apalagi orang yang tidak dikenalnya. Atau, ini penelfon dari aksi terror yang sedang heboh diberita itu? Ah, tidak mungkin.

"Ha-halo?" Ucapnya ragu.

"Nona Haruno Sakura?" Ucap diseberang sana. Sakura kaget. Sangat kaget. Kenapa orang yang menelfonnya ini bisa tahu namanya, padahal ia sendiri tidak tahu orang yang menelfonnya ini.

"I-iya." Ucapnya. Ada nada takut disana.

"Kami dari pihak rumah sakit ingin memberitahu bahwa pasien yang bernama Uchiha Sasuke sudah sadar dan masih dalam proses pemeriksaan." Slap. Ketakutan itu berubah menjadi kebahagiaan. Sakura benar-benar minta maaf sudah berfikiran negative soal yang menelfonnya ini. Dan sekarang ia sangat bahagia. Bahagia, karena orang yang sangat berarti untuknya kini sudah sadar.

"Nona?"

"Ya? Ya, saya akan segera kesana." Ucapanya sambil bergegas menuju rumah sakit.

Dengan kecepatan yang bisa dibilang 'lumayan' tinggi, Sakura melajukan mobilnya. Ia sudah tidak sabar untuk melihat kekasihnya—Uchiha Sasuke.

Ia sangat merindukan sosok lelaki itu. Lebih tepatnya, mata dari lelaki yang bernama Sasuke itu. Ia rindu akan tatapannya yang lembut dan penuh kasih sayang. Ia sangat merindukannya. Sudah beberapa bulan lamanya mata itu terus terpejam. Dan sekarang, mata itu kembali terbuka untuk melihat dunia yang indah ini. Atau lebih tepatnya lagi, untuk melihat gadis yang cantik nan anggun ini 'lagi'.

Konoha Hospital, Japan. Oktober 11th – 2012

Sakura selesai memakirkan mobilnya. Dengan langkah yang sedikit berlari, Sakura memasuki rumah sakit dan menuju kamar rawat sang kekasih.

Sakura memperlambat langkahnya sesampainya didepan pintu kamar rawat Sasuke. Ia melihat dokter dan beberapa perawat sedang memeriksa seorang pria yang sangat ia rindukan ini. Ia hanya bisa melihat pria itu dari sela-sela dokter dan perawat itu.

Selesai memeriksa pasien yang bernama Sasuke itu, sang dokter menghampiri Sakura. "Nona Haruno Sakura?" tanyanya.

"Ya." Jawab Sakura yang mengalihkan pandangannya kearah si pasien yang sedang duduk-setengah tiduran dengan perban dikepalanya. "Bagaimana keadaannya dok?" Kali ini pandangannya beralih ke sang dokter.

"Kami sudah memeriksanya dan mencoba menanyakan tentang keluarganya, tetapi ia tidak memberikan jawaban. Untungnya kami menemukan 'ini'. Sang dokter menunjukan handphone dari si pemilik. "Keluarganya masih dalam perjalanan. Dan keluarganya juga memberitahu kami untuk menghubungimu, karena kata mereka kaulah yang bisa melihat keadaan pasien terlebih dahulu." Jelas sang dokter. "Apa kau ingin melihat keadaannya?" sambung sang dokter mempersilahkan Sakura untuk melihat keadaan pasien.

"Baiklah." Sakura pun melangkahkan kaki untuk melihat keadaan sang kekasih lebih dekat lagi. "Sasuke…." Panggilnya. Entah karena apa air mata mulai mengumpul dipelupuk matanya.

Tak tahan lagi. Sakura benar-benar merindukan sosok yang berada di depannya ini. Dan….Slap! Sakura memeluk sosok didepannya ini. Ia sangat rindu akan kehangatan ini yang sudah lama ia tidak rasakan. Kali ini, ia dapat merasakan kehangatannya lagi. Tidak ada yang berubah. Semuanya tetap sama. Tetap sama seperti dulu.

"Sasuke…aku merindukanmu. Sangat merindukanmu. Aku senang kau sudah sadar dan aku bisa melihatmu lagi." Sakura sedikit mengeratkan pelukannya.

Sakura merenggangkan pelukannya, air matanya sudah jatuh melewati pipi mulusnya. Ia menangis. Tidak, ia tidak menangis karena kesedihan, tetapi karena kebahagiaan. Biarkanlah ia merasakan keadaan seperti ini untuk pertama kalinya dan biarkan momen ini berlangsung lama.

Sakura melihat wajah dihadapannya ini dengan detail. Masih sama. Masih sama seperti dulu. Tidak ada yang berubah sama sekali. Rasanya ia tidak ingin melepas pandangannya dari pria dihadapannya ini.

"Siapa kau?" Akhirnya, pria didepannya ini membuka suara juga.

DEG. DEG. DEG.

Sakura kaget dan tidak percaya kalau kalimat itu yang pertama kali keluar dari mulut pria yang dihadapannya ini. Ia tidak membuka suara untuk meyakinkan diri bahwa Sasuke tidak amnesia.

"Kau….tidak mengenalku Sasuke?" katanya sambil menahan airmata yang sudah menggenang dipelupuk matanya.

"Tidak." Jawaban yang singkat-padat-jelas itu mampu membuat Sakura runtuh. Tapi, ia berusaha untuk tidak memperlihatkan itu.

"Kau benar-benar tidak mengenalku Sasuke? Aku, Sakura. Haruno Sakura, kekasihmu. Kita pernah bertemu di Starbucks. Dulu kau yang merebut tempatku saat itu dan kau mengajakkau mengobrol dan sampai akhirnya kita menjadi sepasang kekasih. Kau ingat itu?" Tanya lagi masih sama dengan sebelumnya.

"Tidak." Jawaban itu lagi yang keluar dari mulutnya. Sakura tidak kuat lagi. Ia tidak bisa menahan air matanya lagi. Ia menangis. Dan kali ini ia menangis karena kesedihan untuk ke'sekian' kalinya.

Tak lama setelah itu, Uchiha Itachi—sang kakak dari pasien bernama Uchiha Sasuke itu datang dan di susul oleh teman-teman dari si pasien. Ya, Sasuke hanya meiliki satu-satunya keluarga, yaitu sang kakak-Uciha Itacih. Ayah dan Ibu dari kedua saudara itu meninggal karena dibunuh oleh rekan kerja orangtuanya sendiri. Untungnya sang kakak dapat meneruskan perusahan yang dimiliki oleh orangtuanya. Dan orang membunuh orangtuanya itu tertangkap dan dipenjara hampir seumur hidup.

Itachi shock melihat apa yang sudah terjadi disana. Ia pun segera menghampiri Sasuke sedangkan teman-temannya menghampiri Sakura untuk menenangkannya.

"Ada apa ini?" Tidak ada jawaban dari kedua manusia itu. Yang terdengar hanya isak tangis dari wanita berambut merah muda. "Sasuke, ada apa ini?" tanyanya panik.

"Aku tidak tahu. Aku hanya bertanya siapa dia, dan dia bertanya kalau aku mengenalnya atau tidak. Aku jawab tidak. Lalu dia menangis." katanya dengan nada cueknya.

" sadarkah kau sudah menyakitinya?" Itachi geram mendengar penjelasan sang adik.

"Tidak. Lagi pula siapa dia? Aku tidak mengenalnya." Lagi-lagi kata-kata yang yang menyayat hati keluar dari mulut Sasuke.

"Sasuke. Dia Sakura. Haruno Sakura, Sasuke. Dia kekasihmu. Wanita yang sangat kau sayangi. Wanita yang sering yang puja. Wanita yang berarti sekali dihidupmu. Kau tidak pernah ingin kehilangannya. Atau bahkan pergi menginggalkanmu sekalipun. Kau ingat?" itachi meyakinkan adiknya—Sasuke kalau dia benar-benar tidak amnesia.

"Tidak. Cih. Tadi kau bilang siapa? Haruno Sakura? Nama itu terlau bagus untuknya. Bahkan nama itu tidak pantas untuknya. Yang pantas memakai nama itu adalah wanita perfect. Bukan seperti dia." Lagi-lagi kata-kata kasar yang keluar dari mulut Sasuke ini. Itachi tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh adiknya tadi. Begitu pula dengan teman-temannya.

Sakura menangis sejadi-jadinya. Ia tak tahu lagi harus bagaimana. Sasuke benar-benar tidak mengenalnya.

"Baiklah Sasuke. Kalau begitu, aku akan mengetestmu."

"Baik." Jawabnya yakin.

"Kau…mengenalku?" Ucapnya ragu.

"Tentu aku mengenalmu, kau kan kakakku." Jawabnya dengan penuh keyakinan.

"Dia? Kau mengenalnya?" Itachi menunjuk pria berambut merah dengan mata hijau tosca yang disekelilingi lingkaran hitam dimatanya dan tato di kening sebelah kiri bertuliskan "Ai" dalam huruf kanji.

"Sabaku No Gaara."

"Dia?"

"Yamanaka Ino."

"Dia?"

"Uzumaki Naruto."

"Dia?"

"Hyuuga Hinata."

"Dan…Dia?"

"…" tidak ada jawaban. Ini mengartikan bahwa Sasuke benar-benar mengalami amnesia. Tapi, kalau Sasuke benar-benar amnesia, kenapa hanya satu orang saja yang ia tidak ingat? Apalagi orang yang dulu berarti baginya.

Sakura tidak kuat lagi mendengar bukti-bukti bahwa Sasuke benar-benar tidak mengenalnya. Cukup sudah ia menajdi orang yang tersakiti. Ia sudah tak tahan lagi. Rasanya ia ingin pergi dari tempat itu sekarang juga. Dan, ya, benar, Sakura berlari keluar dari ruangan dan menuju mobilnya. ia tidak perduli beberapa temannya atau bahkan Itachi—kakak dari Sasuke memanggilnya, ia tetap berlari. Yang ia butuhkan sekarang adalah sendiri. Ya, sendiri.

TBC.

Aaaahhhhh minna-saaannnnn, maaf sekali terlambat update. Lagi sibuk banget jadi belum sempat untuk ngepost. Maaf ya T_T dan Hanas juga mau berterima kasih yang udah ngedukung buat lanjutin FF ini, arigatou ne^^

Ini udah update. Maaf juga kalau ceritanya gajelas, banyak OOC atau masih banyak kesalahan u,u

Review, please?

Hana Humiko

Hai! Salam kenal juga yaa. Iya, kecelakaan.. nanti dijelasin next chapter. Oke? Terimakasih sebelumnya.. ini udah update, gimana?

Hanna Hoshiko

Halo, salam kenal juga yaaa.

Makasih sebelumnya, ini udah update. Bagaimana?

Uchiha Cherry Rania17

Sudah ne, bagaimana? :)

Lhyra AiraUchiha

Makasih ya sebelumnyaa. Iya ini masih awal hehe :D

Vchierry

Jangan panggil senpai, aku ini masih newbie._. masih banyak belajar. iyaa makasih yaaa. Kalau update kilat nanti diusahakan yaa.

Eysha 'CherryBlossom

Makasihhh. Ini udah update, gimana?

Hotaru Keiko

Makasihhhhh. Sasuke itu kecelakaan, nnti dijelasin kok dinext chap. Oke?

Fivani-chan

Iya, Sakura menjadi pihak tersakitinya. Tapi Sasuke juga kok nggak Sakura aja, tapi mungkin memang kebanyakan diSakuranya. Dan ini juga bukan karena pihak ketiga kok.. dan makasih ya sebelumnyaaa. Ini udah update, bagaimana?

Uchiha Fitri-Chan

Salam kenal jugaaa. Nnti dijelasin kok dinext chapter. Makasih yaaa, ini udah update. Gimana?