Disclaimer :

"I don't own all character in this fanfiction. But this fiction is mine."

Warning! AU;Boys Love;MalexMale;OOC;Typo(s).

.

.

.

Jaejoong menghentikan niatnya yang ingin membuka pintu ruangan musik itu karena pintu telah terbuka dari luar. Gadis bersurai almond yang berdiri di tengah pintu itu mengembagkan senyumnya, rasanya senang sekali menemukan pujaan hatinya.

"Oppa!"

Jaejoong merasakan pipinya mendapatkan sentuhan ringan dari gadis itu. Jaejoong mengakui jika perasaannya melambung, meski tidak sampai membuatnya melayang. Sentuhan ringan tak akan pernah membuat Jaejoong melayang, ia menyadari jika sentuhan yang membuatnya melayang adalah sentuhan yang memabukkan dan… intim.

Jaejoong sedikit menggeram kesal. Ia tak pernah menyangka jika keanehan yang dimilikinya begitu menyulitkan. Tangannya-tangannya selalu terasa sangat gatal karena menahan keinginannya yang belum terwujud.

Yunho yang masih duduk di kursi yang berhadapan dengan piano tertawa. Ia sangat mengerti apa yang membuat Jaejoong kesal. Hidup berdampingan dengan lelaki itu selama bertahun-tahun membuat dirinya mengerti kebutuhan Jaejoong tentang 'sentuhan' itu. Tapi ia tidak ingin berbicara masalah itu dengan Jaejoong, pura-pura tidak tahu lebih baik.

Entah pikiran Jaejoong yang ikut kacau karena terus menahan keinginannya, Jaejoong dengan nekat memeluk Ahra yang telah berada di hadapannya. Menyentuh bibir Ahra yang dengan bibirnya yang hangat dan mungil. Jaejoong bersyukur Ahra memakai lipgloss. Ia tak akan pernah sudi jika harus mencicipi kembali rasa lipstick, cukup sudah pengalamannya menjilat lipstick milik eomma-nya yang ia kira permen saat dirinya masih kecil.

Yunho memutar bola matanya malas. Bukan karena dirinya iri, ia hanya… cemburu. Hatinya sedikit tidak suka saat Jaejoong melakukan adegan sentuh-menyentuh dengan Ahra.

"Ayo, kita pulang, Sayang!"

Jaejoong berkata begitu lembut dengan Ahra. Menyingkirkan perasaannya yang cemburu, Yunho tersenyum tipis. Ia menyukai suara lembut Jaejoong sejak dirinya bertemu dengan lelaki itu untuk pertama kalinya. Suara Jaejoong sangat lembut.

Jaejoong melepaskan pelukannya, berharap dengan mengajak gadis itu untuk cepat pulang agar dia tak lagi harus bergelut dengan keinginannya.

Sekalipun keinginannya sangat aneh, ia selalu membuat pagar untuk dirinya sendiri. Berharap supaya dirinya tidak pernah melewati batas-batas yang tidak wajar. Sekadar kecupan bukan ciuman yang basah, sekadar pelukan tanpa harus menyentuh hal-hal yang lain.

Ahra hanya mengangguk menyetujui ajakan Jaejoong. Hatinya dipenuhi rasa bangga. Ia merasa bahwa ia adalah gadis paling beruntung karena memiliki Jaejoong yang sangat lembut. Ditambah lagi, selama ia mengenal Jaejoong, ia adalah laki-laki yang begitu menghormati wanita.

"Yunho, aku pulang dulu, ya? Atau kau mau pulang bersama kami?" Jaejoong menepuk-nepuk tangan Yunho yang keras dan kekar, mengagumi kegagahan Yunho dalam hatinya. Jaejoong jadi berimajinasi bagaimana rasa saat tangan itu mendekapnya begitu erat.

Yunho tersenyum sebentar sekali, Jaejoong bahkan merasa sangsi jika dirinya melihat senyuman dari lelaki itu. "Aku akan pulang setelah murid kelas 1 menyelesaikan latihan mereka. Kau duluan saja, hati-hati di jalan! Kau membawa anak gadis orang," ia tertawa.

Tidak, sebenarnya bukan itu. Yunho hanya malas jika nanti ia akan diabaikan

To be continued~

Segini aja dulu *peace ^^V

Niatnya kelanjutannya mau aku tulis sekalian di sini. Tapi, kayaknya jadi agak gak nyambung.

Semoga chapter ini memuaskan. Aku menyadari kalo gaya penulisanku jadi turun dari prolog kemarin, tapi ya udah segini aja. Mau gimana lagi? u.u

Semoga menarik, ya! Thanks for reading!

Thanks for:

Rsza; alby; shipper89; mimi2608; Artemis Jung; whirlwind27; ruixi1; dheaniyuu; 5351; kim anna shinotsuke.

Next chapter: PROM NIGHT!

Cuplikan:

"Hey! Kau membuat semua orang tak berkedip melihatmu, Dude!" / "Sedang apa sendirian di sini, Jaejoong? Tidak menemani Ahra?" / Apa aku sedang berada di surga? Tubuhku melayang!

15052707.55 PM