YEEY! CHAP 2~~ ada yang nanya.. Miku itu siapanya Len.. nah., disini Miku itu sahabatnya Rin. Andd... mending baca aja yah~ BEKICOT! Eh.., maksudnya CEKIDOT!
.
Good Bye
.
.
.
Len pulang ke rumahnya. Ia sangat senang mengetahui Rin menyukai dirinya. Saat ia sudah sampai didepan rumahnya.., terlihat dua anak kecil sedang bermain mobil-mobilan.
"Nanti., Ken-Chan mau makan apa?" tanya anak berumur 5 tahun itu ke anak satunya yang sebaya dengannya.
"Maauu., Kale! Ken-Chan cuka kale!" ucap anak bernama Ken-Chan itu.
"Asyiik! Aku juga cuka kale..,"
"Nanti malam kau mau makan apa Len?"
Suara khas itu terngiang kembali dikepala Len. Len terjatuh.., sambil memegangi kepalanya. Kedua anak kecil itu sudah pergi. Len memegangi kepalanya dengan keringat bercucuran.
"Len., kau ini makannya lama sekali!"
"Len., masakanku enak tidak?"
"Len., setiap hari aku akan memasak untukmu.. mulai sekarang,"
"Len., kenapa kau tak makan malam bersamaku?"
Suara itu terus menerus terngiang dikepala Len. Len yang kini sedang bersimpuh dijalanan sambil memegangi kepalanya itu.., dikagetkan dengan suara klakson mobil
"TIN TIN!"
Mata Len menoleh kesuara itu.., mata Len terbalak., kini mobil itu tepat dihadapannya. Len tak henti-hentinya bergetar.. dan mengucurkan keringat. Ia tak dapat berkata-kata...
"LEN!"
"Len., Gommenne., aku tak .. dapat.. menja..gamu.."
"Rin?" ucap Len pelan.
Ya.., entah apa namanya tapi yang pasti Len merasakan seperti DejaVu atau mungkin lebih tepatnya serpihan kenangan. Sesosok gadis mungil berambut pink dengan rambutpanjangnya keluar dari mobil.
"Len., LEN! Kau tak papa? Tak terluka?" tanya gadis itu.
"Luca-senpai.," ucap Len yang menyadari keberadaan Senpainya itu.
"Kau tak papa?" tanya Luca.
"Tidak.,aku tak papa," jawab Len lemah.
"Luca., bawa Len masuk kedalam rumahnya!" teriak lelaki berambut biru dengan sweeter biru.
"Eh? Kaito memang rumah Len yang mana?" tanya Luca dengan wajah bingung.
"Sebelah kirimu itu sudah rumah Len," ucap Lelaki bernama Kaito itu sambil menunjuk rumah disebelah kiri Luca.
"Ah., baiklah," ucap Luca sambil melingkari tangan kiri Len dilehernya begitu juga Kaito.
.
"TENG TONG,"
"Ya sia—"
"Hai ini aku Miku," ucap Kaito.
"Kaito-Senpai? Luca-Senpai? LEN?" teriak Miku sambil mendekati Len.
"Kau kenapa?" tanya Miku khawatir.
"Lebih baik kita masuk dulu," ucap Luca sambil membantu Len masuk.
.
"Len., kau kenapa?" tanya Miku yang melihat wajah lusuh Len.
"Tak papa.," ucap Len sambil berjalan kekamarnya dengan sempoyongan.
"Kau ini! Kalau takut baru mengetuk-ngetuk pintur kamarku dan memohon-mohon! Kau kan cowok! Masa takut petir?"
Langkah Len terhenti. Ia menatap pintu kamar yang berada disebelah pintu kamarnya. Len menatap Miku,Kaito,dan Luca.
"Ini ruangan apa?" tanya Len.
"..." tak ada yang menjawab hanya keheningan yang menjawab pertanyaan len.
"Ini kamar siapa?" tannya Len mengganti kalimatnya.
"..." tetap tak ada yang menjawab.
Len menghela nafas lalu memegang gagang pintu. Saat ia hendak membuka kamar itu.., tak bisa kamar itu terkunci.
"Sebenarnya ruangan apa ini?" tanya Len dengan nada sedikit memaksa.
"Itu..," jawab Miku sedikit ragu.
"BRAK!" pintu itu ditendang riku dengan sangat keras. Pintu itupun langsung rusak dan terbuka. Kekuatan amarah Len menghancurkan pintu itu. Saat Len memasuki kamar itu.., ia terjatuh. Matanya tak berkedip, air mata mengalir dikedua pipinya. Ia memandangi kamar sederhana yang didominasi oleh barang-barang kayu.
"Kamar siapa ini?" tanya len yang tak tahu dengan perasaan rindu yang ia rasakan.
"Len., jangan suka masuk ke kamarku sembarang!"
"Kamar siapa ini?" tanya Len sekali lagi.
Tapi tetap tak ada yang menjawab. Saat Len melihat meja disamping tempat tidur.. betapa kagetnya dia melihat dirinya bersama seorang gadis., ya itu Rin.
"Ke.. kenapa Rin.. tapi.. ta.. pi Rin kan?" ucap Len tak percaya.
"Ini kamar.., kamar..," ucap Miku sambil menitikan air mata.
"Kamar ini milik Rin.," ucap Kaito sambil menenangkan Miku.
"Rinkan? Rin..., dia tapi..tadi.. aku... dia.." ucap Len terbata-bata.
"Mungkin sudah saatnya kami menceritakannya padamu Len.," ucap Luca sambil mengajak Len duduk dikasur.
"Cerita.., apa?" tanya Len lirih.
"Cerita tentang.. hal-hal yang kau lupakan.,"
"Tolong jangan bilang pada Len., kecuali kalau dia memang mengingatnya dengan sendirinya. Itulah pesan terakhirku.., mungkin," ucap Len mengucapkan kata-kata yang berdengung dipikirannya.
"LEN! Da.., dari mana kau tahu kata-kata itu?" tanya Luca kaget.
"Kata-kata seperti itu banyak berdengung diotakku.. jadi.., kuucapkan saja.., memang kau tahu siapa yang mengatakan itu?" tanya Len penasaran.
"Itu.., kata-kata terakhir Rin.. padaku.. hiks," ucap Luca sambil menangis.
"Rin? i.. itu.. tidak mungkin! Tadi aku bertemu Rin.., kami.. baru saja.." ucap Len dengan wajah memerah mengingat ia baru saja berciuman dengan Rin.
"Itu tidak mungkin! RIN SELAMA INI KOMA DI RUMAH SAKIT! Sudah 5 tahun ia tak sadarkan diri.., namun.., namun.., selama itu pula ia selalu berjuang hidup., demi memenuhi janjinya padamu Len!" teriak Miku sambil berderai air mata.
"Rin? Koma? Tapi.., Rin hanya tak bisa berja—"
"Waktu kau umur 9 tahun.., Kau, Rin., dan kedua orang tuamu kecalakaan mobil. Kedua orang tuamu tewas dalam kecelakaan itu. Namun ., Kau dan Rin selamat dalam peristiwa itu. Kaki Rin harus lumpuh., seharusnya kakinya diamputasi tapi Rin menolaknya. Kau mengalami patah tulang., lukamu tak begitu parah Len., karena Rin melindungimu dan menukarnya dengan kakinya. Lalu.., saat itu kau shock karena kehilang kedua orang tuamu. Kau kabur dari rumah sakit.., saat kau pergi kejalan raya.. dirimu tidak melihat kalau ada mobil yang akan menabrakmu. Rin melompat dari kursi rodanya dan melindungimu. Sejak saat itu Rin koma.., lalu.. kau hilang ingatan," cerita Luca sambil menahan tangisnya.
"Itu., tak mungkin," ucap Lentak percaya
"Tunggu Len., dari mana kau kenal Rin? Kami tidak pernah memberi tahumu tentang Rin.." tanya Kaito.
"Itu., saat aku membolos.. aku datang ke taman yang ada pohon sakuranya. Lalu aku bertemu gadis mungil berambut kuning pendek.. wajahnya mirip denganku sedang duduk dikursi roda. Saat kutanya namanya ia menjawab kalau namanya Rin. Lalu sejak itulah aku rajin menemuinya setiap hari sambil membawa selalu menceritakan semua hal-hal yang kualami., dan Rin selalu mendengarkannya., lalu.. tadi ia menitipkan pesan untuk kalian.." ucap Len panjang lebar.
"Mungkinkah., itu kekuatan Rinn yang ingin bertemu Len?" tanya Miku.
"Entahlah Miku., pesan? Apa maksudmu Len?" tanya Kaito.
"Ini...," ucap Len lirih sambil membuka Hpnya.
Len tak percaya dengan kenyataan yang tak masuk akal ini. Jadi selama ini.., ia menemui seorang gadis yang sebenarnya sedang koma? Lalu.. ternyata gadis itu adalah saudaranya?. Kenyataan yang rumit. Len kini tahu apa alasannya Rin memakai kursi roda.. penyebabnya ada dirinya. Len juga tahu.., kenapa Rin koma. Semua itu adalah atas perbuatannya. Len benar-benar merasa bersalah telah mencium Rin atas semua yang telah ia lakukan.
"Untuk Miku.,
Aku titip Len., kini semua rasa rinduku sudah terobati! Hehehe., kau sahabatku satu-satunya sejak kecil.. aku percayakan Len padamu,"
"Untuk Kaito.,
Kau sudah menjadi kakak yang baik untukku., KaitoNii-San. Jaga LucaNee-Chan. Lalu., tolong didik Len untukku ya.., jaga Len juga., aku titipkan dia padamu."
"Untuk Luca..
Terimakasih sudah menyemangatiku saat Okaa-San dan Otou-San pergi. Luca adalah senpai terbaik! Jaga Len disekolah ya! Kalau KaitoNii-San salah mendidik.. bunuh saja dia! Dan selamatkan Len! Hehehe.. jaga dia baik-baik, Luca."
"Untuk Lenka & Rinto..."
"Apa..., maksud.. pesan ini?" tanya Miku sambil memeluk Hp Len.
"Tak mungkin., Rin..,"ucap Luca sambil menutup kedua matanya dengan tangan.
"Masih ada pesan lagi..," ucap Miku sambil melihat Hp Len.
"Untuk Len.,
Len.. maafkan aku ya. Aku tak bisa menjadi Saudara kembar yang baik.. aku malah harus meninggalkanmu dan membuatmu sedih ataupun susah. Len.., dari lubuk hatiku aku sangat senang bertemu denganmu. Aku bersyukur ayah dan ibu melahirkan kita berdua.. dan aku juga sangat senang bisa berjumpa dengan dirimu lagi setelah 5 tahun. Ternyata kau sudah tumbuh menjadi anak lelaki ya! Kau sudah dewasa.. kini aku tak ragu lagi untuk melepasmu. Len.. biarpun kita saudara.. aku tetap mencintaimu. Selama-lamanya.., tetap tidak akan berubah. Suka.., suka.. aku suka pada Len! Berjuanglah mesti tidak ada aku... Arigatou.., :)."
"Len.." ucap Miku lirih sambil melirik Len.
Betapa kagetnya Miku melihat Len sedang menangis sambil menatapi foto dirinya dan Rin. Tubuh Len bergetar.., air mata mengalir melewati pipinya. Biarpun tak terdengar suaranya.., tetap saja.. bibir Len mengucapkan nama Rin berkali-kali. Luca dan Kaitopun terdiam sama seperti Miku.
"Kenapa.., kenapa..," ucap Len pelan.
"Rin.," ucap Len dengan setetes air matanya.
"Len.," ucap Kaito sambil menatap Len penuh kesedihan.
"Dimana..,"
"Eh?"
"Dimana rumah sakit Rin? Aku ingin kesana sekarang.,"
"Len., baiklah akan kuantar,"
.
.
Len, Kaito, Miku, dan Luca sampai didepan rumah sakit tua. Len sendiri bahkan tak yakin kalau Rin dirawat disitu. Saat didepan rumah sakit..
"Len?" ucap seorang lelaki dengan poni dijepit .
"Ah.., Rinto!" ucap Len mengenali lelaki itu.
"Hai! Apa kabar?" tanya seorang gadis berambut panjang dikuncir satu.
"Eh.., Lenka? Rinto? Kalian ngapain disini?' tanya Len.
"Kami mau menjenguk Rin.," ucap Rinto dan Lenka bersamaan.
"Jadi kalian ta—"
"Sudah pasti kami tahu.., kamikan yang membiayainya," ucap Rinto sambil tersenyum.
"Sungguh? Kalau begitu terimakasih banyak.," ucap Len sambil membungkuk.
"Tak perlu formal., kitakan sepupu!" ucap Lenka sambit tersenyum.
"Terimakasih.," ucap Len yang sadar kalau dirinya sudah merepotkan sepupu-sepupunya ini.
"Ah! Apa kabar Miku? Kaito? Luca?" tanya Lenka dan Rinto serempak.
"Baik.," jawab Miku yang sudah mewakili jawaban ketiganya.
"Karena kalian sudah disini., ini... bunga untuk Rin. Kami harus pergi mengantar Okaa-San dulu., titip ya!" ucap Lenka sambil menyerahkan bunga Lily.
"Iya., titip salam untuk Okaa-Sanmu ya.," ucap Len.
"Pasti!" jawab Rinto sambil menggandeng Lenka pergi.
Len merasa iri dengan Rinto dan Lenka. Andai saja Len bisa menggandeng tangan Rin seperti itu., dan tersenyum bersama Rin.. mungkin hidup akan terasa sangat indah. Len menatap tangannya.., mungkin tangan yang terasa dingin ini akan terasa hangat jika disentuh oleh Rin.
"Len., ayo masuk.." ucap Kaito yang membuyarkan semua pikiran Len.
"Iya.," ucap Len tenang.
Len, Miku, Luca, dan Kaito berjalan memasuki rumah sakit itu. Hingga mereka sampai di ruang nomor 32. Didepan pintu kamar itu.., terpampang sebuah nama. 'Kagamine Rin' . dibawah nama itu.., seharusnya adalah tanggal masuk dan tanggal keluar. Seharusnya yang tertulis hanyalah tanggal masuknya saja karena Rin belumlah keluar rumah sakit. Namun apa yang Len lihat? 'masuk : 2 Juli 20xx – keluar tanggal : 14 Mei 20xx'. Mata Len terpaku.. seorang Suster keluar dari kamar Rin.
"Ano.., Sus.. maksudnya keluar hari ini itu apa ya?" tanya Len yang sambil menunjuk tanggal 14 Maret yaitu hari ini.
"Oh.., itu.. Nona Kagamine baru saja meninggal dunia pukul 14.00 tadi.. sekitar 2 jam yang lalu." Jawab si Suster dengan wajah sedih.
"A..pa?" ucap Len tak percaya.
"Nona Kagamine Rin meninggal dunia 2 jam yang lalu. Ia sempat dilarikan ke ICU namun sayangnya ia sudah tidak dapat bertahan. Kami belum memindahkannya ke ruang mayat.., ia masih ada diruang ICU. Kami baru akan memi—"
"JANGAN!" teriak Len sambil berlari menuju ruang ICU yang ia lewati tadi.
'RIN! RIN! JANGAN PERGI!' teriak Len dalam hatinya. Len terus berlari dengan air mata yang tetap mengalir.
.
Len berlari dengan sangat cepat., saat ia sampai didepan ruang ICU. Ya, yang ia lihat adalah Rin sedan terbaring tak bernyawa. Len memukul-mukul kaca ruang ICU.., ia menangisi kepergian Rin., ia juga menyesali kepergian Rin. Len membuka pintu ruang ICU. Kini ia tak peduli lagi dengan larangan-larangan yang terpampang dikaca ruang ICU. Len masuk ke ruang ICU.., dengan secepat kilat Len langsung memegang tangan Rin. Ia menangis sejadi-jadinya.., ia genggam erat tangan Rin.
"Rin., RIN! JANGAN PERGI!" teriak Len sampai.., suaranya habis.
Len memeluk Rin.. menangis sambil memeluk Rin. Walau ia tahu hatinya tak akan tenang walau dengan hal itu.
"Len., kau jangan masuk ke ruanga—"
"DIAM!" teriak Len walau suaranya sudah habis.
"Len?" ucap Miku tak percaya.
"Tolong., tolong.., izinkan aku berdua dengan Rin., kumohon.." ucap Len lirih sambil meneteskan air mata.
"Tapi.."ucap Miku segan.
"Kumohon..," ucap Len.
"Tidak bisa., kau harus keluar.." ucap Miku sambil menarik tangan Len.
"Kalau itu maumu baiklah!" ucap Len sambil menggendong tubuh Rin dan berlari keluar ruang ICU.
"Tunggu! Len., jangan bawa RIN!" teriak Miku sambil mengejar Len.
"Tak akan kubiarkan kalian memisahkan diriku dan Rin!" bentak Len sambil masuk ke lift.
Miku yang masih berlari sedangkan pintu lift sudah tertutup. Miku menelepon Kaito yang sudah berada dilantai bawa bersama Luca. Sambil menelepon Miku juga menuruni tangga darurat agar lebih cepat. Setelah menceritakan semua kepada Kaito lewat telepon.. Kaitopun langsung menunggu Len didepan lift. Saat pintu lift terbuka.., ada Len dan Rin didalam sana. Len yang melihat Kaito langsung berlari menerobos Kaito dan keluar rumah sakit. Len ingin membawa Rin pergi kemanapun.., asalkan mereka tetap berdua.
"LEN! JANGAN! JANGAN BAWA RIN PERGI!" teriak Kaito.
"Tck! TAK AKAN KU BIAR—"
"TIN TIN!"
BRAK!
"Arigatou.., Len,"
Sebuah mobil menabrak seorang pemuda yang sedang menggendong seorang gadis tak bernyawa. Len terpental beberapa meter. Lutut dan bahu Len robek karena bergesekan dengan aspal. Sedangkan Rin.., tertabrak dengan keadaan kepala berdarah. Len yang melihat hal itu.., tak kuasa menahan emosinya dan berteriak. Kaito yang melihat kejadian itu hanya dapat terdiam..,begitu pula Luca. Sedangkan Miku yang baru datang.. langsung menghapiri Rin walau ia tahu Rin sudah tak bernyawa.
"HUWAAAAAAAA!" teriak Len.
"Len., tenanglah.." ucap Luca menenangkan Len.
"Len.., LEN!" teriak Luca.., Len tetap berteriak.
"Aku.., aku.., lagi-lagi aku.." ucap Len sambil berusaha menggapai Rin.
Sambil merayap-rayap ditanah Len berusaha menggapai tangan Rin yang berada dipelukan Miku.
"Gommenne.., Rin.." ucap Len sambil menutup kedua matanya.
.
.
.
3 tahun kemudian..
"Len-Senpai!" teriak seorang gadis kepada seorang lelaki berambut kuning dikuncir satu. Lelaki tinggi dan tampan.
"Ah., ada apa Lily?" tanya lelaki yang bernama Len itu. Kagamine Len...,
"Len-Senpai ngapain bawa-bawa bunga?" tanya gadis bernama Lily itu.
"Ah., karena ini hari peringatan.." ucap Len santai. Tiba-tiba dalam sekejap sekerumunan gadis menghampiri lelaki tersebut..
"KYAA! LEN-SENPAI BAWA-BAWA BUNGA!" teriak histeris gadis-gadis itu.
"Iya..," jawab Len sambil tersenyum pahit.
"Ano.., Len-Senpai.. untuk apa bunga itu?"
"Untuk peringatan.."
"Peringatan?"
"Peringatan Kematian orang yang kucintai.., Kagamine Rin,"
.
.
.
TAMAT
Author : yeee TAMAT! Maaf ya kalau tamatnya gaje.. habis aku bingung mau ditamatin kaya gimana.. heheehe tapi semoga kalian menikmati~
RUANG AUTHOR..
Rin & Len : terimakasih sudah membaca!
Author : Ariga—
Kaito & Miku : CERITA INI GA BERMUTU JADI MAAFIN AJA YA~
Author : ke—
Luca : JANGAN LUPA RIVIEW YA!
Author : Oy., Oy aku mau ngo—
Lily : sekian dan sampai jumpa~~!
.
.
