LUKA
(NARUSASU) MENMA
Masashi Kishimoto
Satu lagi cerita bertajuk Naruto dan Sasuke (Menma) hadir diantara intimidasi deadline tugas yang menggunung. Jika suka silakan baca. Judul dan isi tidak saling berkaitan. Penulisan apa adanya. Kesalahan bertebaran dimana-mana.
-af-
Katanya, waktu dapat menghapus luka. Tapi mengapa justru luka yang membunuh waktunya?
.
.
.
"Sasuke!"
Jangan pergi. Ingin rasanya aku meraih punggung sosok yang menjauh itu. tapi kenapa tanganku tidak sampai? Bukankah jarak mereka tidak jauh? Kenapa?
"Sasuke!"
Jangan pergi. Ke mana suaraku Apa Sasuke tak mendengar panggilanku? Padahal aku sudah berteriak sampai tenggorokan sakit luar biasa. tapi Sasuke tidak juga berbalik. Punggung kecil itu malah makin jauh dan semakin jauh saja?
"Sasuke!"
Jangan pergi. Kumohon. Biarkan aku menebus semua kesalahankuk. Jangan hukum aku dengan menyembunyikan dirimu dari mataku. Kumohon kembalilah. Katakan padaku. Apa yang harus kulakukan agar kau takpergi lagi.
"Sasuke!"
Jangan pergi. Jangan pergi. Jangan pergi Sasuke.
"SASUKE!"
.
.
.
"Naruto!". Goncangan tubuh diberikan. Naruto kembali tertidur di meja kerjanya. Sudah dua hari ini ia lembur. Sebab akan ada ujian Chuunin. Sebagai Hokage sudah sepantasnya ia bekerja keras agar ujian kali ini berjalan lancar tanpa hambatan.
Perlahan, Naruto membuka matanya. Dilihatnya sosok ayu Hinata yang balik menatpnya lembut. Mengusap wajah kasar, Naruto mulai mengumpulkan sisa-sisa jiwanya yang masih tertinggal di alam bawah sadar. Lalu kembali diliriknya Hinata, yang masih setia berdiri di sampingnya, menggenggam lembut pundaknya.
"Maaf. Apa aku ketiduran?", tanyanya.
"Kalau lelah, kau bisa beristirahat. Biar aku yang urus sisanya. Sudah dua hari kau tidak pulang kan?". sosok itu berjalan memutar. Membawa baki teh yang tadi sengaja ditaruhnya di atas meja tamu ruang Hokage. Menyerahkannya pada Naruto, berharap pria itu sedikit bersemangat.
"Terima kasih. Tapi tidak, sedikit lagi selesai. Kau tidak perlu menungguku". Naruto meniup tehnya. Menghirup aroma melati yang menguar dari cawan kecil berisi cairan berwarna coklat muda.
"Tidak apa-apa", Hinata tersenyum simpul. Tambahnya, "Sudah jadi kewajibanku menemanimu".
"Tidak perlu memaksakan diri. Tapi, terima kasih"
"Kau juga, jangan sungkan begitu. Kita kan.."
KRIETT!
Belum sempat kalimat Hinata terselesaikan. Interupsi datang dari suara pintu yang terbuka. Dengan sedikit tenaga berlebih, sosok Sai muncul di pintu rung Hokage. Pria itu membawa tumpukan berkas entah apa. disinyalir adalah daftar nama-nama calon peserta ujian Chuunin dari berbagai desa. Seperti biasa, senyum mengembang di wajahnya. Apalagi melihat Naruto yang menatapnya 'apa kau serius?'. Menjadi lucu baginya.
Hinata membalas senyum Sai. Wanita cantik itu membungkuk, memberi salam berusaha terlihat sopan. Tangannya sigap mengangkati baki berisi teh yang tadi dibawanya, memberi sedikit ruang pada meja Hokage yang memang penuh itu untuk letak berkas baru yang Sai bawa.
"Apa itu daftar calon peserta ujian Chuunin?", tanyanya. Lebih kepada formalitas. Bagamanapun mereka teman satu angkatan. Meski tidak terlalu akrab, seperti Naruto, tapi Hinata tahu bagaimana cara bersikap. Sai juga bukan lagi orang asing baginya. Teman Naruto, berarti temannya juga.
"Ya. Semuanya sejak pendaftaran hari pertama. Sebenarnya kemarin sudah harus ditandatangani. Aku hanya ingin menambah pekerjaan Hokage saja. dia terlihat suntuk akhir-akhir ini". senyum itu belum hilang. Menurut pandangan Naruto, Sai benar-benar iblis. sebanyak itu, dan harus selesai dalam waktu satu hari? Dia ingin membunuhku, batnnya.
"Kau benar-benar mengharap kematianku, ya?", sinisnya. Pria blonde itu memandang tidak suka pada berkas yang kini sudah mendarap di hadapannya. Ingin rasanya ia menggunakan rasengan, menghancurkan tumpukan kertas itu berkeping-keping sampai tak berbentuk lagi. "Kau benar-benar iblis, Sai!"
"Hahaha... terima kasih".
"Aku tidak memujimu, brengsek!"
"Aku juga menyukaimu!"
"Arghhh... dasar muka pucat! Pergi kau!"
"Hahaha...". Tawa Sai bagai nyanyian kematian untuk Naruto. Kini ia terkapar di mejanya sendiri. Sejak menjabat Hokage, dirinya benar-benar merasakan kalau pekerjaan ini tidak pernah cocok untuknya. Mana tahan ia harus berkencan dengan berkas-berkas tidak tahu diri yang selama ini memenuhi meja kerjanya. Bahkan untuk menikmati ramen Ichiraku saja sulitnya minta ampun.
"Hmm... tenag saja, aku akan membantumu".
Kata-kata Hinata layaknya siraman air di tanah yang gersang. Mata Naruto bernbinar melihat sosok ayu itu. katanya, "Kau benar-benar malaikatku Hinata"
"Kau terlalu berlebihan, Tuan Hokage".
.
.
.
Rasa-rasanya waktu begitu cepat berlalu. Berapa purnama ia lewati untuk terus merindu. Berapa malam ia lewati dengan menelan empedu. Pahit. Amat pahit luka yang selama ini ia kecap. Membakar lidah, membuat mual. Pusing kepala. Sesal itu menggerogoti jiwanya, bagai sulur yang mencekik jalur pernafasan. Sesak. Kesedihan mendekapnya terlalu lama. Sampai ia tak bisa lagi membeda. Mana mimpi dan sesuatu yang nyata. Karena terkadang, hatinya ingin lebur bersama mimpi. Mimpi-mimpi tentang sosok lelaki yang mengisi relung hati.
"Naruto!"
"Ah!". Mengusap wajah kasar, yang terpanggil mengalihkan perhatian. Memutar mata, menemukan salah satu teman seperjuangan. Teman ya... ia kembali ingat. Memorinya mengembara. Pada orang yang mendapat label teman berharganya. Namun juga yang ia sakiti begitu dalam. "Shikamaru, ada apa?"
Pria berkuncir dari klan Nara itu nampak bingung. Tapi.. ah sudah lah. Malam ini ingin segera ia akhiri dengan tidur. Lelah merajai setiap sel tubuhnya. Tugas sebagai Shinobi yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan ujian chuunin tahun ini begitu menguras tenaga. Membuatnya terpaksa jarang ada di rumah. Meninggalkan selembar kasur empuk yang menjadi salah satu tempat favoritnya.
"Bukankah seharusnya aku yang bertanya 'ada apa'? mengapa kau bisa sampai di sini", katnya, setelah hembus nafas yang keberapa.
Memutar kepala, Naruto seolah tersadar. Benar. Apa yang dikatakan Shikamaru, ia memang berjalan tanpa melihat apapun. Langkah kakinya seolah menuntunnya. Dan ketika sadar, ia ada di dekat danau yang dulu sering didatangi Sasuke.
"Aku melihatmu berjalan seperti orang bingung. Kupikir kau ada masalah. Karena itu aku mengikutimu, dan berakhir di sini. Kau baik-baik saja kan, Naruto?". Sekali pun malas, terselip nada khawatir yang coba Shikamaru sampaikan.
"Ya. Aku baik-baik saja".
Suara Naruto terbang dibawa angin dingin malam itu. Shikamaru tak lekas percaya pada ucapan si pirang. Biji kuacinya mencoba meneliti tiap jengkal perubahan mimik Naruto. Mematri tiap kerutan, kedutan juga riak dalam remangnya cahaya. Hanya sepasang rembulan-bintang yang saat itu bertengger manis di angkasa.
"Huh!". Percuma. Sepertinya memang Naruto 'baik-baik saja'. "Aku mau pulang. Jangan terlalu lama disini. Kau bisa masuk angin"
"Hn"
Sepeninggal Shikamaru, Naruto membuang nafas kasar. Ia kembali memutar matanya, memandang sekali lagi pada sinar rembulan yang mendekam di dasar danau. Sekelbat pikiran merasuk dalam otaknya. Seandainya ia bisa seperti danau di depan sana, yang tak peduli seberapa jauh rembulan, masih tetap bisa mendekap erat sang dewi malam. Tidak seperti dirinya. Rembulannya tak tahu berada di mana. Malam-malamnya selalu dipenuhi kelam.
"Sasuke...", gumamnya.
Melirik sekali lagi, Naruto memilih beranjak pergi. Hari ini cukup mengenang Sasuke dalam selimut beku. Perasaan Naruto mengharu biru.
Kini, detak jam terasa menghujam karena baginya luka telah membunuh waktu.
.
.
.
"Kepala klan Shiba?"
"Ya. Konha sudah melakuakn kerja sama dengan klan Shiba selama bertahun-tahun. Kita harus tetap menjaganya demi perdamaian yang sering kau gadang-gadangkan itu".
"Tapi bukankah sebentar lagi akan ada ujian chuunin? Tidakkah seharusnya kita yang bertandang ke sana? Kau pasti bisa mengatur ulang jadwal pertmuannya kan?"
"Justru itu, beliau mengatakan ingin melihat langsung jalannya ujian untuk menilai bagaimana hasil pendidikan yang diterapkan Konoha. Anda tahu sendiri kalau klan Shiba masih kolot dengan pendidikan dasar sesuai tetua mereka".
"Jadi ini ajang untuk merombak sistem pendidikannya?"
"Bisa dibilang begitu. Sepertinya mereka bermaksud mendaftarkan beberapa anak berpotensi dari klan Shiba untuk disekolahkan disini".
"Aku mengerti. Kapan rombongannya datang?"
"Dua hari lagi"
"Baiklah".
"Kalau begitu aku permisi"
"Hn".
Tubuh Naruto merosot dari kursinya. Lelah menggelayuti mata. Satu lagi pkerjaannya sebagai seorang pemimpin desa. Menjaga hubungan baik antarklan yang mendiami sebagian wilayah Konoha. Tepatnya klan Shiba yang ada di perbatasan utara. Jaraknya tidak terlampau jauh dari pusat pemerintahan. Bisa dibilang, mirip dengan klan Hyuuga. Meski tidak mengikuti jalan shinobi, klan Shiba adalah salah satu klan tertua yang ada di sana.
Memikirkan kembali mengenai kedatangan kepala klan Shiba. Tidak biasanya, macam klan elit itu mau bertandang jauh-jauh sampai ke pusat. Yang lalu-lalu adalah para Hokage lah yang menemui mereka. Untuk urasan apapun. Maka dari itu, sedikitnya Naruto heran, mungkinkah pemimpin klan kali ini tidak kolot seperti pemimpin sebelumnya? Entahlah.
Oh iya lupa, selain itu bukankah ia juga harus menjamu para kage. Ujian kalai ini tak sekedar ujian seperti tahun-tahun sebelumnya. Bertepatan dengan diadakannya festival peringatan berakhirnya perang shinobi keempat. Pastinya akan sangat melelahkan. "Hahhhh kalau tahu begini kerjaannya, harusnya dulu aku tidak bernafsu menjadi Hokage. Ck sial!"
"Kau terlihat seperti kakek-kakek kalau mengeluh seperti itu"
Terlonjak. Vokal merdu itu membuyarkan segala keluh kesah Naruto. Hinata masuk dengan membawa beberapa map. Pekerjaan lagi. Hhhhh...
Langkah anggunnya menarik perhatian mata biru Naruto. Kerlip samudra yang mendiami susunan wajahnya itu mengikuti tiap pergerakan wanita bermanik abu itu. Mulai dari meletakkna berkas yang dibawanya ke dalam salah satu rak. Memberesi kertas-kertas berserakan yang mendiami satu set sofa dalam ruang Hokage itu. Samapai wanita itu menghilang di balik pintu. Untuk kemudian kembali sembari membawa baki berisi teh hijau.
Naruto melihatnya dengan seksama. Bukan. Bukan terpesona. Kata itu sudah ia hapus jauh saat hatinya telah sadar siapa pemiliknya. Lebih tepatnya tentang bagaimana ketelatenan Hinata mengurusnya setiap hari. Padahal dirinya tahu, bahwa Naruto tak lagi menaruh rasa untuk sosoknya. Pesonanya telah digeser paksa –atau malah memang tak pernah ada dalam hati pangerannya.
"Apa?", merasak diperhatikan, Hinata melempar tanya. Namun kerjapan mata Naruto yang menjwabnya. Perempuan itu sontak tertawa. Tawa yang begitu merdu di telinga. "Berhenti memandangiku Naruto".
Kedip-kedip.
"Minumlah, teh hangat baik untukmu."
"Ah terima kasih".
Naruto masih memandangi Hinata, bahkan saat dirinya sudah ditelan pintu dan tidak kembali lagi.
.
.
.
"Huahhh... panasnya..."
Seruan itu terdenngar tak jauh dari halaman depan sebuah rumah bergaya tradisional. Sosok kecil berambut hitam mencuat terlihat tengah berbaring bersama seekor anjing yang ada disebelahnya. Mereka melakukan itu sejak beberapa menit yang lalu. Cuaca hari itu memang lebih panas dari biasanya.
"Hei... kau tidak merasa panas?", si bocah kecil bertanya pada anjingnya.
"Hari ini memang lebih panas dari kemarin". Sahut si anjing malas. Dengusan pendek keluar dari mulut sang bocah mendengar respon dari anjing itu. Jangan heran, anjing miliknya memang bisa bicara. Entahlah, bagaimana itu terjadi. Yang bocah itu tahu, anjing miliknya memang sudah bisa bicara semenjak ia kecil. Anjing itu pula yang menjadi teman bermain. Mereka tumbuh bersama seiring berjalannya waktu.
Deru angin lembut membawa hawa sejuk bagi sosok yang masih mengeluhkan betapa panasnya hari itu. Sampai satu saapan dari orang yang begitu dikenalnya menyambangi telinga.
"Yo, Menma. Malas-malasan seperti biasa, eh?". Pria muda. Sekitar usia 25, berdiri di depan mereka. Jaket tipis yang dikenakannya sedikit berkibar karena bagian depan tidak dikancingkan. Satu tangannya tenggelam dalam saku celana. Tangan yang lain menjinjing keresek putih berisi entah apa –sepertinya sayuran. Satu seringai menjadi akhir dari pertanyaan sarkasnya.
"Cih!". Menegakkan badan. Ruat wajah bocah itu berubah lebih masam. Ia tahu alasan pemuda itu datang ke rumahnya. Bisa dibilang hampir tiap hari lelaki ini ada di sana. Dengan berbagai alasan hanya untuk satu tujuan. Menikmati santap siang yang selalu dibuat ibunya. Menyebalkan. "Pergilah, ibuku sudah membuat makan siang. Dia tidak butuh belanjaannmu". Bagi bocah berusia 12 itu, pria dihadapannya bisa bertingkah menyebalkan jika sudah mulai menunjukkan gelagat untuk mendekati ibunya.
Shiba Kotarou, namanya. Pemuda tampan berbadan tinggi itu telah resmi menyatakan bahwa dirinya terpikat dengan paras ibu dari bocah di depannya. Kenyataan itu telah ia kor-koarkan pada seluruh lapisan keluarga. Ayah, ibu, nenek, saudara, dan para tetua. Juga semua orang yang dekat dengannya tanpa terkecuali. Sejak saat itu ia memulai untuk mendekatkan diri. Memang berhasil. Ia berhasil masuk dalam dunia kecil keluarga itu. Namun hal itu berhenti di predikat orang baik. Pasalnya, sang anak selalu melakukan aksi menolak secara terang-terangan.
Menma –tak bermarga. Bocah itu yang menjadi penghalang besar bagi seorang Shiba sepertinya. Demi apa! Ia adalah pemimpin klan. Memiliki segala pesona yang membuat semua gadis rela mengantri demi mendapat perhatian. Namun, sayang hatinya sudah kecantol sama ibu dari bocah yang kini berkacak pinggang di depannya.
"Ck, ck, ck. Padahal aku bawa ramen untukmu. Tapi kalau kau tidak mau ya sudah..."
Mata Menma berbinar. Satu kenyataan. Meski Menma menolak keras PDKT-nya, tapi da tidak pernah menolak kalau ramen jadi pancingan. Yah... meski tetap saja, mengambil hati remaja cilik itu susahnya bukan kepalang.
"Baiklah. Kau boleh masuk", katanya. Si anjing yang melihat adegan itu hanya geleng-geleng kepala. Perangai bocah itu cepat berubah. Dasar labil. "Ayo, Pakkun!"
"Hn".
.
.
.
"Konoha! Tapi untuk apa!"
Kaget. Reaksi orang yang duduk tepat di depannya itu sangat di luar ekspektasi. Kotarou hanya menyampaikan kalau ia akan mengunjungi Konoha besok. Ada beberapa hal yang harus diurusnya di sana. Ia yang seorang pemimpin klan perlu melakukan itu untuk memperkuat kerja sama.
"Ada hal yang harus kuurus". Keheningan melingkupi susana di meja makan itu. Koatarou menelisik raut wajah orang yang begitu dikaguminya. Ada kegelisahan yang terpancar di sana. Namun entah apa, dia tidak berhasil menemukannya. "Sasuke-san...". panggilnya. Mencoba menarik perhatian dari orang itu. Yang terpanggil segera menyentakkan pikirannya. Membalas senyum akan panggilan bernada sopan yang ditujukan padanya.
"Kalau begitu hati-hati".
Tak dapat dipungkiri. Banyak bunga imajiner yang bersemayam di hati. Kalimat itu penuh akan ketulusan. Apalagi diucapkan oleh orang terkasih... sampai...
"Konoha!", suara lain yang datang dari arah ruang televisi. Menma berlari menyongsong dua orang yang kini tengah bercengkerama di meja makan. Ia baru saja menghabiskan satu cup ramen instan yang di bawa Kotarou bersama Pakkun sembari menonton televisi. Sebelum telnganya menangkap kata 'Konoha' dan 'akan kesana' yang diucapkan oleh Kotarou. "Kapan kau kesan? Boleh aku ikut?"
Antusiasme itu Menma tampilkan lewat samudra yang mendiami matanya. Ia sangat mengagumi Konoha. Salah satu keinginannya adalah pergi ke sana. Di tempat itu ada sosok yang begitu ia kagumi.
"Tentu saja!", mantapnya. Kotarou senang. Mungkin dengan ini ia bisa makin dekat dengan bocah itu. "Besok aku akan berangkat".
"Bagus! Boleh ya bu". Kali ini si bocah melepas tatapan mengiba. Tangannya ditangkupkan. Tubuhnya ia seret paksa mendekat pada pria yang baru saja ia panggil ibu. Wajah bergaris tiga itu ia buat semanis mungkin agar permintaannya dipenuhi. Padahal kuah ramen belepotan di sana-sini. "Ya... ya... ya..."
Kotarou menahan tawa. Calon anaknya –ya calon anak, meski Sasuke sendiri belum mengiyakan lamarannya, akan tetapi bersikap optimis adalah satu dari sekian kelebihannya, tampangnnya benar-benar membuat sakit perut. Sampai tersedak dibuatnya.
Sasuke sendiri, awalnya ingin segera menjawab tidak. Tapi melihat raut wajah itu membuatnya tak tega. Sedikit deheman untuk menghilangkan senyum karena kelakuan anak semata wayang, "Ehmm baiklah. Tapi ingat... jangan buat masalah!"
"Siap bos!"
.
.
.
Malam sudah larut, tapi satu dari sekian rumah yang ada disana masih diterangi lampu gantung. Kalau dilihat dari dekat, maka terlihat dua sosok duduk saling berhadapan. Satu pria dan satu peliharaan, atau bisa dibilang teman seperjuangan. Sasuke dan Pakkun. Masih setia memantengi layar televisi yang menyala. Menampilkan berita dari pusat Konoha. Jaman sudah banyak berubah, hal semacam itu sudah bukan lagi barang mewah.
Sasuke meneguk kopi hitamnya dengan nikmat. Setelah lelah dengan rutinitas, satu gelas kopi hangat bisa jadi piliha melepas lelah.
"Apa tidak apa-apa?". Suara Pakkun mengudara disela-sela acara televisi yang menyala. Anjing itu merapatkan diri di pangkuan Sasuke. Bertahun-tahun bersama, ikatan batin diantara mereka tercipta begitu saja. Sejak ia tak sehari pun meninggalkan Sasuke dalam suka maupun duka.
"Apanya?", tanggapnya biasa. Tangannya mengelus puncak kepala si anjing yang sudah lama menanggalkan lambang Konoha. Siapa yang tahu, anjing itu dulunya patner salah satu shinobi kuat dari desa daun.
"Menma", jeda sejenak. Tarikan nafas dan dentingan gelas yang beradu dengan meja kaca, manggaung di udara. "Kau yakin membiarkannya ke sana?". Memastikan. Pasalnya saat izin telah diberikan, dalam sorot mata Sasuke tiada sedikit pun keraguan. Seolah itu sama halnya dengan kunjungan wisata biasa.
Menarik nafas sejenak. Sebelum kemudian beranjak. Meninggalkan Pakkun yang menatap punggungnya. Sasuke berujar, "Kau yang selama ini merecokinya dengan berbagai macam hal tentang kepahlawanan. Konoha, perang, shinobi dan semuanya. Bahkan menanamkan dalam diri putraku untuk mengagumi sosok'nya'".
"Hahhh... kau sendiri yang memintaku untuk bercerita kan."
"Ya, tapi bukan berarti 'semuanya'". Suara teve dimatikan. Sasuke melangkahkan kakinya, membawa gelas bekas kopi ke tempat cuci piring. Mereka masih bisa bicara satu sama lain. "Seharusnya kau bisa memilah mana yang harus diketahui Menma dan tidak. Bukan mendongeng tentang perjalanan tiga orang bocah yang mampu berperan serta dalam memenangkan peperangan. Akibatnya sekarang Menma begitu mendewakan sosok'nya'".
"Tapi kau bilang, Menma perlu mengenal sosok ayahnya, aku hany-".
"Menceritakan betapa hebatnya sosok Hokage sekarang yang berhasil mengalahkan Kaguya dan menyelamatkan temannya yang paling berharga". Sasuke membalik badan. Menatap tajam Pakkun yang ternyata sudah berdiri tak jauh darinya. Anjing itu rupanya mengekor di belakang. "Aku hanya tidak ingin Menma membenci ayahnya, itu saja".
Wajah Sasuke menyendu saat mengatakan itu. Berbagai macam pikiran berkecamuk dalam benaknya. Pakkun yakin itu.
Sejak Menma mulai menanyakan mengapa ia berbeda. Mengapa ibunya seorang pria. Mengapa anjingnya bisa bicara. Mengapa ada lambang Konoha di gudang tempat penyimpanan barang bekas. Mengapa ada foto usang yang menampilkan empat sosok dengan warna rambut berbeda. Dan mengapa ia tak pernah mengenal ayahnya. Pakkun menceritakan semuanya. Dari awal sampai akhir kisah perang Shinobi keempat. Dari dua bocah laki-laki yang berjuang hidup dalam kesendirian. Di mana kegelapan dan cahaya menjadi pilihan. Satu terjerumus dendam. Dan satu memilih untuk bangkit karena rasa percaya pada kawan.
Pakkun menceritakan semuanya. Tidak, tepatnya menyaring cerita. Ia tak pernah mengatakan bahwa salah satu dari sosok itu adalah ibunya. Bahwa salah satu sosok itu adalah ayahnya. Pakkun menceritakan seperlunya. Ia tanamkan dalam benak bocah yang saat itu berusia 5 tahun, bahwa ada satu sosok yang selalu berusaha menggapai tangan teman berharganya dari jurang kepurtusasaan. Sosok yang serupa cahaya bagi mereka yang berjalan pada kegelapan. Sosok yang sampai saat ini menjadi panutan. Hokage yang saat ini menjabat. Uzumaki Naruto.
"Jadi, kau membiarkannya?". Setelah keheningan yang tercipta, Pakkun kembali bersuara. Kata-katanya terdengar lebih berhati-hati. Karena ini adalah obrolan yang mengulik hati.
"Hn... kurasa".
"Bagaimana dengan para tetua?"
Sasuke tak langsung menjawab. Ah, para tetua bangkotan Konoha. Satu fakta itu menyentil kesadaran Sasuke. Benar. Di sana mereka masih hidup damai sentosa. Apalagi dengan tiadanya klan Uchiha. Pasti mereka tengah menikmati masa tua yang bahagia. "Untuk itulah aku menyegelnya..."
Pakkun menanti. Kalimat Sasuke masih berlanjut. "Menma... hanya bocah biasa, sekarang".
.
.
.
"Menma..."
Setelah pembicaraannya dengan Pakkun, Sasuke merasa kalau pilihannya meragukan. Membiarkan Menma berada di Konoha sama saja dengan membuka kesempatan untuk buah kasihnya terluka. Apakah masih ada yang bsa dipercaya? Gurunya memang ada di sana. Namun tak menutup kemungkinan jika dirinya lepas dari intaian bahaya. Menma adalah satu-satunya.
Mengecup puncak kepala sayang. Sasuke larut dalam kesedihan. Waktu telah berlalu. Ia harus yakin bahwa kini semuanya akan baik-baik saja. Tujuannya membiarkan Menma mengunjungi Konoha adalah untuk bertemu dengan'nya'. Satu sosok yang selama ini jadi pertanyaan. Satu sosok yang mewariskan tiga tanda pada dua belah pipi putranya. Satu sosok yang menitipkan samudra biru pada biner matanya. Ayahnya.
Uzumaki Naruto.
Orang yang dulu menorehkan luka dalam hatinya.
Entahlah. Sosok itu tak pernah bisa dibencinya. Seberapa keras ia berusaha. Karenanya, ia juga tidak mau jikalau Menma membenci ayahnya. Karena itulah ia meminta Pakkun untuk sedikit bercerita tentangnya. Sayangnya, anjing itu malah membeberkan hampir semuanya.
Menghela nafas, Sasuke mengelus sayang pundak bocah yang masih terlelap. Ia menatap putra satu-satunya itu dengan lembut. tatapan yang entah kapan ada dalam matanya. Mungkin sejak kelahiran Menma. Perhatiannya kini tertuju pada satu benda yang di dekap anaknya. Lambang Konoha. Satu benda yang membuat semua pertanyaan Menma keluar dari tenggorokan.
Lambang penuh baret itu bukan miliknya. 13 tahun lalu, ketika ia memutuskan untuk hengkang dari Konoha, entah mengapa ia membawa serta ikat kepala Naruto. Mungkin terselip, mungkin juga ia tidak sadar telah membawanya, yang jelas benda itulah yang kini diyakini Menma sebagai satu benda peninggalan ayahnya. Sasuke tak pernah menceritakan bahwa ayahnya masih hidup atau sudah meninggal. Ia hanya mengatakan bahwa ayahnya kini telah bahagia. Itu saja.
"Menma... maaf...". ia meminta maaf entah untuk apa. Sasuke tidak tahu. Hatinya bergetar mengetahui kalau putranya akan segera bertemu dengan ayah yang selama ini ditanyakan.
Meski menurutnya, waktu telah membunuh luka. Tapi mengapa masih sakit terasa.
.
.
.
Menma tengah menata perlangkapan perjalanannya. Ada ramen instan, baju ganti, dan tidak lupa uang saku. Ransel itu diprediksi dapat bertahan selam tiga hari, asal dirinya bisa mengirit. Pasalnya, harapan dapat uang tambahan dari sang ibu, kandas sudah. "Kau kan punya uang tabungan sendiri? Untuk apa minta tambah lagi?", katanya waktu itu. jadi lah Menma membawa bekal seadanya. Satu hal lagi yang tidak pernah ia lupakan. Jimat keberuntungan. Yang ia temukan di gudang tempat penyimpanan barang bekas. Ikat kepala Shinobi Konoha. Dengan tali hitam, yang sudah sangat kucal. Simbolnya pun penuh baret dan karat. Tapi bagi Menma itu adalah peninggalan berharga. Benda yang diyakininya, milik sang ayah.
Diselipkannya benda itu diam-diam. Kemudian matanya memejam sejenak, berbisik pada angin tentang harapan terpendamnya.
"Menma!"
Suara Kotarou membahana dari pelataran rumahnya, pemuda itu sudah siap bersama rombongan yang akan mengantar. Menma melesat –diikuti Pakkun yang mengekor di belakang, begitu mendapati seorang pemuda tengah melambaikan tangan. Sembari menyeru namanya –juga cengiran lebar yang menghiasi wajahnya. Semakin dekat, semakin cengiran itu sirna. Melihat Menma yang berubah 180 derajat. Ada yang salah, sepertinya. Tidak biasanya Menma sebersih saat ini. apalagi... di mana tiga tanda kumis kucing di masing-masing pipi Menma? Seingatnya, saat berkunjung kemarin masih ada. Kemarin-kemarinnya lagi juga, tanda itu setia menemplok di pipi anak itu. tapi sekarang, kenapa pipi Menma terlihat bersih? Kemana perginya?
"Kau.. Menma kan?". Kotarou menyuarakan tanya. Pemilik manik abu-abu itu, menatap selidik pada sosok di hadapannya. Agak ragu apakah benar ini Menma atau bukan. Kalau iya, bagaimana caranya bocah itu 'mengusir' tanda lahirnya?
Flashback
Menma terbangun, merasakan gerakan lembut disebelahnya. Mengucek mata sebentar, ia dapati ibunya tengah menggenggam erat sesuatu. Ah ikat kepala yang diam-diam ia simpan.
"Bu..."
Tersentak. Suara Menma membuyarkan angan. Sasuke buru-buru menarik kesadarannya, mencurahkan segala afeksi pada anak semata wayang. "Maaf... ibu membangunkanmu?"
Gelengan kepala diberikan, Menma menegakkan badan. Meski rasa kantuk menggelayuti badan. Melihat ibunya ada di kamarnya, membuat Menma heran. Tidak biasanya pria berkepala tiga itu mengunjunginya ketika malam sudah seharusnya memaksa manusia terlelap. "Ada apa?", tanyanya.
Satu senyum menjadi jawaban. Telapak tangan Sasuke mendarat di pucuk kepala. Mngusap sayang. "Tidak apa-apa, tidurlah lagi"
"Boleh aku tidur dengan ibu?"
Polos. Sasuke tertawa. Ia cubit gemas dua pipi bertanda lahir milik Menma. "Hahah... tentu saja. Ayo!". Sasuke merebahkan badan. Di dekapnya erat malaikat kecilnya yang kini beranjak dewasa. Tangannya meraba meja nakas guna meletakkan benda yang tadi diam-diam diambilnya dari dekapan Menma. Sebelum kemudian menarik selimut guna menutupi tubuh mereka.
"Bu..."
"Hn?"
"Ceritakan tentang ayahku."
"Bukankah Pakkun sering cerita padamu?"
"Aku ingin dengar dari ibu."
"Ayahmu... adalah orang hebat."
"Itu saja?"
"Ya."
"Bu...". Sasuke baru saja ingin memejamkan mata, ketika suara Menma menggelayuti pendengaran. Bocah itu belum puas dengan satu jawaban. Mengapa ibunya tak pernah bercerita tentang ayahnya. "Mengapa... mengapa ibu selalu merahasiakan semuanya?"
Sasuke tersentak. Ia tidak pernah menyangka jika Menma akan bertanya seperti itu. Keduanya bersitatap dalam keremangan cahaya. Dalam sekejap, Sasuke seolah melihat bahwa Menma sudah mengetahui semuanya. Katanya, "Ada hal yang tetap menjadi rahasia sampai waktu yang tidak ditentukan. Kau akan tahu semuanya jika sudah saatnya".
Malam ini, Menma kembali menelan kecewa. Ibunya tak akan pernah memberi jawaban dari pertanyaan yang selam ini bersarang dihatinya.
"Menma... berjanjilah... jangan perlihatkan ini pada siapapun"
Mata Menma melebar. Usapan lembut Sasuke dipipinya begitu terasa. Mengapa ibunya ingin ia merahasiakan tanda lahir miliknya? "Hn...".
End
Saat ini mereka tengah berada dalam kereta kuda. Rombongan klan Shiba itu sekarang tengah menuju ke Konoha. Menma baru saja selesai menceritakan asal mula mengapa tanda di pipinya hilang. Rupanya sang ibu yang meminta.
Mendengar itu, Kotarou terdiam. Dalam benaknya berkecamuk berbagai spekulasi mengapa Sasuke-san ingin anaknya menyembunyikan tanda lahirnya sendiri. Apa karena tanda itu mirip dengan milik Hokage? Ngomong-ngomong soal mirip, benar, ia baru sadar. Setelah mereka saling kenal cukup lama. Sasuke-san adalah orang yang tertutup, ia ramah tapi seperti ada tembok yang memisahkannya dengan dunia luar. Kotarou bukan orang bodoh, ingat ia adalah pemimpin klan Shiba. Asal-usulnya tidak diketahui. Marganya pun tidak ada. Dua hal itulah yang membuatnya penasaran. Hingga akhirnya ia terjebak dengan rasa penasarannya sampai akhirnya jatuh cinta. Pesona Sasuke menebar kemana-mana, meski sudah kepala tiga.
Lain Kotarou lain Pakkun. Anjing itu berpikir, mungkin ada sisa ketakutan dalam keputusannya membiarkan Menma ke Konoha. Bayangan mengenai bahaya yang siap menanti Menma di tempat itu datang dari para tetua. Yang sayangnya masih hidup ingga sekarang. Koharu dn Hamura. Dua orang yang paling menentang kehadiran sang Uchiha. Biang kerok dari pelarian Sasuke yang kedua. Tapi dengan keputusannya yang sangat terburu itu, Sasuke membiarkan Menma ke sana. Menemui ayahnya –Menma tidak tahu tentang ini, yang sangat dikagumi putranya. Kenyataan itu masih terperangkap dalam tenggorokan.
Cih! Memikirkannya membuat Pakkun sakit kepala. Biarkan waktu yang bicara. Ia tidak mau lagi mengurusi hal-hal yang berbau cinta. Dirinya sudah cukup tua. Akan ia limpahkan segala tugas Kakashi yang sejak 13 tahun lalu dibebankan padanya. Oh ya, ia lupa mengabari lelaki beruban itu kalau dirinya dan Menma akan bertandang ke sana. Aish!
.
.
.
Bersambung...
