The One and Only

By: zhaErza

Naruto © Masashi Kishimoto

Spesial fanfic twincest SasoSaku untuk my lil'sist yang tertukar:

Ryuhara Shanchi

.

.

.

Happy reading, Minna-san.

.

.

.

Chapter 1

"WAH!"

"Lihat! Lihat! Itu Haruno bersaudara."

"Kyaaa! Sasori-kun."

"Sasori-kun, sangat imut dan juga perhatian kepada Sakura-chan, ya! Kakak idaman banget! Kyaa!"

Tak memedulikan teriakan dan cekikikan atau bahkan ucapan-ucapan yang jelas terdengar oleh saudara kembar Haruno itu, lelaki remaja berambut scarlet dan gadis seusianya yang bersurai taffy, kini terus melangkahkan kaki sambil bergandengan tangan menuju ruang kelas yang baru empat bulan mereka tempati. Kelas 1 A tertangkap oleh penglihatan mereka, juga para siswa dan siswi di sepanjang lorong yang mengucapkan sapa atau tersenyum semata. Sakura, sang adik kembar yang memiliki perangai terlampau ramah pun membalasnya, sesekali melambaikan tangan saat menemukan rekan kelasnya yang sedang mengambil buku di loker sekolah.

Berbeda dengan sang adik yang berwajah selalu ceria dan sangat kelewat ramah, Sasori bahkan nyaris tak berekspresi. Tekanan dari senior-senior yang tak menyukai kepopuleran Haruno kembar, tak pelak membuat Sasori merasa takut. Tidak sama sekali, Sasori tak menunjukkan sedikitpun kekhawatiran atau terintimidasi tentang hal itu, yang terperting baginya adalah jangan sampai ada yang menganggu Sakura atau mengusik mereka. Ia tidak pernah ambil pusing tentang peraturan tak tertulis junior harus menghormati senior. Baginya jika tak saling usik, maka tak ada yang perlu dipermasalahkan.

Termasuk dalam jajaran orang terkenal, membuat mental para senior terlalu ciut jika bertatap muka kepada dirinya, hanya kesinisan dari jauh semata yang mereka lancarkan kepada Sasori, saat masa orientasi saja tak ada yang berani memarahi atau menghukum dirinya yang tak mau melakukan hal yang dianggapnya tak penting seperti memakai atribut bodoh, dan para senior yang mencoba mengancam dengan wajah galak, malah kembali diancamnya. Dengan predikat sebagai seniman jenius yang terkenal di negara Hi, membuat Sasori dengan mudah dapat melaporkan apa yang para senior lakukan kepada para siswa baru, yang dianggap termasuk dalam kasus bully ataupun perusakan mental siswa. Hal seperti ini, tentu akan terus terjadi dan jika dibiarkan akan terulang seperti lingkaran setan. Ketika telah berada di bangku senior, para jenior yang dulunya ditindas dan dipermalukan akan membalaskan dendam kepada murid baru di tahun mendatang.

"Ini! Dan jangan terlalu banyak mengobrol yang tak penting, Saki." Sakura mengangguk, lalu tersenyum dan setelahnya duduk di bangku masing-masing. Sang kakak berada di pojok dekat jendela, sedang dirinya duduk di urutan ke dua dari depan.

Beberapa saat setelah bel tanda pelajaran dimulai berbunyi, para rekan kelas yang awalnya sibuk bercerita atau sebagian ada yang mengulang pelajaran, bahkan ada yang sedang menyalin PR, mendadak mendudukkan diri saat sang pengajar telah tiba di kelas. Sakura pun menutup bukunya, menatap lelaki dewasa yang selalu memakai masker yang sekarang sedang berada di depan mereka semua.

"Berdiri! Beri salam!"

"Selamat pagi, Pak Hatake!" murid-murid pun kembali duduk setelah sang guru menyuruh dan menjawab salam.

Hari ini pelajaran matematika akan mengawali jam pelajaran, Sakura sekarang tengah memerhatikan dengan saksama gurunya yang menjelaskan materi di depan papan tulis. Sangat menyenangkan bagi Sakura, selama ini ia tak pernah berinteraksi langsung dengan jenis-jenis orang di luar sana, namun dengan bersekolah, ia akhirnya mulai mengerti bagaimana yang dinamakan pertemanan, sahabat atau rekan kelas.

Sebelumnya, setelah kematian orang tua mereka, Sasori memutuskan kalau mereka lebih baik tidak melakukan pendidikan formal, mereka selalu menuntut ilmu dengan jalan home schooling, hingga duduk di bangku Sekolah Menengah Awal tahun ke- 3. Karena sangat bosan dengan dunia pendidikan yang diberikan kakaknya, Sakura saat itu bertanya kepada guru pembimbing, sebaiknya jika ingin mempunyai teman, harus bagaimana? Maka sang guru menawarkan agar mereka bersekolah formal dan Sakura sangat menginginkan hal itu.

Tak semudah yang ia bayangkan untuk membujuk sang kakak, Sasori sendiri tak perlu pendidikan seperti itu karena ia sudah tamat dari jurusan seni di tempat perkuliahan bergengsi di kotanya, namun ketika Sakura meminta dan terus membujuknya, hingga menangis karena sangat ingin merasakan sekolah seperti orang normal, maka Sasori hanya bisa menarik napas dan menganggukkan kepalanya. Sakura kira, dia akan bersekolah sendirian di tempat ini, namun tidak sedemikian. Ia sangat terkejut ketika kakaknya kembali mengulang kelas dengan dirinya, agar bisa menjaganya dan selalu ada di sisinya. Sakura sangat bahagia, ia selalu berjanji kepada dirinya juga, kalau akan senantiasa berada di sisi Sasori.

"Oniichan, arigatou. Saki senang sekali. Saki sangat-sangat mencintaimu, Sasoo Oniichan." Sakura berbisik sambil memeluk Sasori saat untuk pertama kalinya ia melihat sekolah yang akan mereka tempati untuk menuntut ilmu.

.

.

.

"Sakura, ayo kita ke kantin bareng!" Ino yang duduk di belakang gadis itu, kini berjalan menuju meja Sakura dan tersenyum kepada si rambut gulali.

Masih duduk di kursinya dan membereskan peralatan tulis, Sakura pun hanya bisa tersenyum. Dengan wajah menyesal, Sakura berdiri dan meminta maaf.

"Ino-chan, maaf. Tapi, oniichan-ku sudah berjanji mau makan bersamaku. Ah, bagaimana kalau kita makan di kanti bersama-sama saja?" Sakura menaikkan jari telunjuknya, menandakan dirinya mendapatkan ide yang bagus.

Ino dan beberapa orang yang sudah menungu di luar pun berpikir sejenak. Soalnya di kelas mereka, semua orang sudah tahu dan sudah menjadi rahasia umum kalau Sasori itu termasuk lelaki yang resek dan terlalu over protectif kepada adik kembarnya. Dan hal itu membuat mereka merasa jengah dan tak nyaman, karena kelakukan berlebihan Sasori. Mereka tidak mengerti kenapa Sasori begitu mengurusi Sakura hingga seperti ingin selalu berada di dekat sang gadis musim semi, padahal mereka hanya ingin makan bersama di kantin, dan Sasori selalu saja mengacaukannya.

"Soo-chan, Sasoo Oniichan!" Sakura menggerakkan tangannya, memanggil kakaknya yang duduk di pojokan. Dan Sasori pun berdiri dari kursi, kemudian berjalan mendekatinya.

"Ada apa?"

"Jadi, Ino-chan dan yang lainnya ingin mengajak kita makan di kantin bersama, bagaimana menurutmu, Oniichan?"

Sasori menatap Ino yang berdiri dengan sungkan, laki-laki berambut scarlet itu sangat tak terlihat bersahabat dengan siapa pun, kecuali adik kembarnya Sakura. Dan orang-orang di dalam kelas merasa terintimidasi hanya dari tatapan mata dingin Sasori, apalagi dengan kejeniusan Sasori dan lelaki itu sendiri sangat terkenal di Konohan, menjadikan mental orang-orang terlalu ciut untuk mengkomplein apa yang selalu dilakukan Sasori, seperti terlalu posesif kepada adiknya.

"Aku sudah menyiapkan bentou," ucapnya dengan suara rendah.

"Ah, sayang sekali, Ino-chan. Aku benar-benar minta maaf, tapi kapan-kapan kita akan makan bersama, ok." Sakura berwajah menyesal dan Ino mengangguk, kemudian melambaikan tangan.

Netra Sakura yang berhiaskan fern kini hanya bisa menatap kepergian teman-teman perempuan sekelasnya, lalu ia menghela napas sebagai tanda tak tega karena menolak ajakan Ino dan yang lainnya. Sementara itu, Sasori di sampingnya hanya memerhatikan, lalu mengambil kursi dan duduk di bangku kosong meja Sakura.

Lengan Sasori yang lebih besar pun membawa Sakura untuk duduk di sampingnya, ia lalu meletakkan bungkusan yang berisi bekal mereka ke atas meja, dan membuka ikatannya. Kain bercorak bunga sakura itu pun dilepaskan, penutup bekal ia buka dan menampilkan makanan yang tadi pagi sengaja disiapkan Sasori untuk mereka.

Tatapan Sakura masih tak fokus, ia terus saja merasa menyesal kepada teman-temannya, dan Sasori yang mendapati adik kembarnya tak bereaksi, membuat alisnya berkerut karena melihat Sakura yang tingkah aneh.

"Kau tak ingin makan bersamaku, Saki?" Sasori mengambil sumpit, dan menatap bentou yang yang sekarang tengah ia ambil isinya, tempura kesukaan sang adik.

Sakura tersentak, saat ia merasakan wangi udang goreng tepung itu menyentuh bibirnya, melihat sang kakak yang sudah memajukan tangan dan menyuapinya, membuat dirinya langsung membuka mulut, memakan tempura buatan kakaknya tadi pagi. Sakura menggelengkan kepalanya, saat ia mengingat bahwa tadi sang kakak menanyakan sesuatu kepada dirinya.

"Tentu saja, Oniichan~" dengan gemas, Sakura mendekat kepada kakaknya dan memeluk lelaki itu kuat sambil tertawa kecil, dan membuat Sasori mengacak rambut taffy adiknya itu.

"Tapi, kalau makan bersama teman-teman, bukannya menjadi lebih asyik, Oniichan. Aku ingin punya banyak teman, Sasoo Oniichan sih sudah punya banyak teman dan sudah pernah kuliah. Nah, kalau Saki tak punya banyak teman. Menyebalkan sekali." Sakura cemberut dan memakan onigiri dengan lahap, ia kelaparan sepertinya, namun mulutnya tetap ingin berkicau.

Tak menjawab penyataan Sakura, Sasori hanya tersenyum dan menoel pipi sang adik, ia lalu menggelengkan kepala dan melahap isi bekal hingga tandas, dalam benaknya selalu ada bayangan kalau suatu saat sang adik akan meninggalkannya kelak, dan jika mengingat hal itu, ia merasa sakit yang dahulu ditinggalkan orang tuanya yang sudah tiada dan hal itu terasa akan bangkit kembali, tanpa sadar tangannya mencengkram dada, menibulkan rasa menyesakkan yang masih hinggap di dada.

Itu sebabnya, Sasori selalu membatasi pergaulan Sakura, adiknya yang terlampau polos dan tak terlalu mengerti mengenai bersosialisasi, gadis berambut merah muda itu hanya mengandalkan perangainya yang ramah dan ceria, keinginan yang kuat untuk memiliki teman-teman dan bercengkrama dengan banyak orang, namun adiknya sama sekali tak memikirikan kalau orang-orang itu tak sepolos Sakura, tak semurni jiwa adiknya yang selalu menganggap orang yang dijumpai itu sama, tidak sesederhanan itu. Orang-orang itu kebanyakan hanya memanfaatkannya demi keuntungan masing-masing, kepopuleran Sakura karena kecantikan dan pintar, juga merupakanan anak orang terpadang dan adik dari si seniman jenius sepertinya. Orang-orang itu tak bisa mendekati Sasoru yang bersifat teramat tak bersahabat dan dingin, itu sebabnya mereka selalu mencoba untuk menjadi teman adiknya, mencoba masuk ke lingkungan kepopuleran berasama dirinya, walau ia sama sekali tak mau peduli dengan kepopuleran itu sendiri.

"Saki, orang-orang yang selalu ingin bersamamu dan memujimu disaat kausenang, belum tentu mau melakukan hal yang sama di saat kau menderita kelak. Cukup aku yang selalu ada di sisimu, Saki. Hanya aku, satu-satunya." Sasori menyentuh wajah Sakura, gadis itu hanya menatap sedih lantai karena mendengar perkataan kakaknya. Jadi, bagaimana cara Sakura agar mendapatkan teman yang mau bersamanya dikala senang dan susah? Bagaimana cara mendapatkan sahabat?

"Tapi, walau Saki sangat-sangat suka Oniichan, Saki juga ingin punya sahabat perempuan. Kalau sahabat, pasti mau bersama dikala senang dan susah."

"Kau terlalu banyak berkhayal, Saki." Bel pun berbunyi, dan Sasori merapikan kotak makan yang berada di meja Sakura, ia lalu berjalan meninggalkan bangku adiknya dan duduk di pojokan.

Dirinya tahu, kalau sekarang ini Sakura masih memerhatikan sosoknya yang sudah duduk dan menatap jendela, entah bagaimana ia selalu sadar kalau Sakura menatap dirinya walau ia tak melihat langsung kejadian ini, mungkin hal inilah yang dinamakan ikatan batin antara saudara kembar.

Menggigit bibinya, Sakura tak terima jika ia dikatakan berkhayal saja. Padalah sahabat itu adalah sosok yang selalu diperlukan setiap orang. Maka, ia juga menginginkan seorang gadis yang mau menjadi sahabatnya. Bahkan, di meja yang seharusnya ada dua orang yang menduduki, hanya menyisakan dirinya, karena tak ada yang mau duduk bersamanya, ia bingung kenapa para siswi seperti tak mau berteman dengannya?

Selama empat bulan ini ia selalu duduk tanpa adanya teman sebangkunya, begitu pula dengan sang kakak.

Setelah menghadapkan wajah beberapa menit ke tempat kakaknya duduk, Sakura pun menatap tempat duduk kosong di sampingnya, gadis itu lalu menghela napas, dan berdoa semoga saja akan ada seorang gadis yang mau duduk di sampingnya, atau mungkin saja akan menjadi sahabatnya kelak.

.

.

.

Mereka sampai di rumah saat hari sudah agak sore, Sakura dan Sasori memutuskan untuk berbelanja terlebih dahulu sebelum pulang, karena bahan makanan sudah menipis. Ke dua saudara itu lalu berjalan bersama, dengan Sakura yang mengumandangkan lagu dan Sasori yang tengah membawa beberapa bungkus bahan makanan. Mereka lalu membuka pintu dan langsung masuk menuju dapur, rumah besar itu kosong, karena Sasori memerintahkan para pelayan hanya datang untuk membersihkan rumah di saat mereka bersekolah, sisanya hanya ada para penjaga yang bertugas di pos dekat gerbang.

Sakura lalu membantu Sasori untuk memindahkan sayur, daging dan bumbu lainnya ke dalam kulkas, ia pun mencuci ke dua tangan dan mengambil sebotol jus, kemudian menuangkannya ke dalam dua buah gelas.

"Ini, Oniichan."

"Thanks, Saki."

Meletakkan cangkir di westafel, Sakura pun berpamitan ke pada kakaknya.

"Saki ke kamar dulu deh, Soo-chan. Mau mandi, panas banget." Ia lalu berlari-lari dan menaikki tangga sambil menyanyi.

Membuka pintu kamar, Sakura lalu menjatuhkan dirinya ke atas ranjang, ia kemudian melepaskan sepatu dan bando merah yang ada di kepalanya. Tatapan Sakura mengarah ke atas asbes, menatap ukiran-ukiran bercat putih yang membentuk bunga sakura. Lelah menghampiri dirinya, ia lalu bangkit dan mendudukkan badan, kemudian mulai melepaskan kancing-kancing kemeja sekolahnya hingga menyisakan dalaman yang membungkus diri.

Menuju kamar mandi, Sakura pun membuka pintu dan tak lupa menguncinya, lalu mulai memanjakan diri dengan air yang dingin dan menyegarkan. Dengan menggunakan handuk, Sakura berlari ke luar dan mendapati Sasori yang sudah membuka bajunya, lelaki berambut dark red itu hanya memakai celana panjang dan sama sekali tak memakai atasan.

"Oniichan mau mandi juga?"

Sakura mematung, dengan handuk yang hanya menutupi sebatas dada dan pertengahan paha, ia melihat Sasori mendekat dan merasa jantungnya berdebar, lelaki yang lebih tua beberapa menit darinya itu lalu menarik bahunya dan mendekatkan wajah ke arah ceruk lehernya.

"Kau memakai sabunku lagi, Saki?"

Pejaman mata Sakura menjadi saksi kalau yang dikatakan Sasori tadi benar adanya, lelaki berperawakan lebih tinggi dan tegab dari Sakura itu hanya bisa menghela napas.

"Habisnya, wangi Oniichan menyenangkan." Sakura cemberut dan mengatai Sasori pelit di dalam hatinya

Sasori terkekeh.

"Kosa katamu terlalu aneh," seringai masih menghiasi wajah Sasori.

"Biar saja, wekkk!" Sakura lalu masuk ke dalam lemari yang bentuknya seperti kamar lain dan menyimpan banyak baju mereka. Di dalam sana juga ada beberapa cermin, mulai cermin yang memanjang untuk melihat pantulan seluruh tubuh, juga cermin pada meja rias yang memiliki tiga sisi.

Gadis berambut gulali itu pun menuju ke arah laci-laci miliknya yang menyimpan pakaian dalam, ia mengambil warna ungu dan memakainya, setelah itu dengan hanya memakai dalaman, Sakura mengambil gaun santai tak bertangan merah kesukaannya. Ia langsung memasang ke tubuhnya dan melihat hasilnya di cermin yang ukurannya lebih besar dari dirinya.

"Kenapa Soo-chan sangat tinggi?" Sakura berbicara kepada dirinya sendiri, dan memutar-mutar tubuhnya, saat ingin kembali melihat tubuhnya yang mungil, Sasori pun masuk ke dalam lemari ini dan menaikkan kedua alisnya karena melihat sang adik berwajah masam.

"Kau itu sudah cukup tinggi untuk ukuran perempuan, Saki." Sasori hanya bisa menghela napas karena melihat pemandangan yang selalu sama saat Sakura bercermin, wajah gadis itu masam dan bibirnya yang rouge kini mengomel sejadinya membandingkan antara tubuh Sasori dengan Sakura yang memang kelihatan mungil jika disandingkan dengan dirinya. "Sudah, pergi menonton sana, tadi sudah membeli DVD baru, bukan?"

Sakura langsung berlari dan menutup pintu lemari dengan kuat, di kamar yang luas ini, Sakura lalu mendatangi rak untuk menyimpan DVD mereka, dan mengingat di mana ia meletakkan benda yang baru saja mereka beli tadi. Setelah memeriksa cukup lama, Sakura pun menemukan kaset yang ia cari, memencet tombol power pada DVD Player, Sakura pun mulai duduk di atas ranjang dan menunggu film horror diputar.

"Soo Oniichan! Cepatlah, dan di mana roti bakarku tadi?"

Gadis itu masih sibuk sendiri mencari camilannya yang dilupa entah diletakkan di mana, Sasori yang baru saja keluar dari lemari pun menghampiri adiknya dengan handuk yang masih berada di kepala yang lembap. Lengan kuat lelaki itu masih menggosokkan kepalanya kepada benda putih itu agar tak berair lagi.

Menatap sang adik yang masih berusaha menemukan makanannya, ia pun menuju ke arah meja belajar dan menemukan roti bakar itu dengan mudah.

Adiknya kadang-kadang memang terlalu gampang melupakan sesuatu jika sudah terlalu antusias dengan yang lainnya. Sasori hanya menghela napas.

Duduk di sofa yang jaraknya tak terlalu jauh dari televisi, dengan toti bakar yang menjadi hidangan peramai saat menonton film horror, menjadikan Sakura susah berkonsentrasi antara ingin makan atau menjerit ketakutan. Dan Sasori, lelaki itu hanya terkekeh kecil karena menyaksikan tingkah adiknya yang selalu kekanakan dan tak bisa diam.

.

.

.

.

.

Bersambung!

.

.

.

.

.

Erza Note:

Halo, chapter 1 sudah update. Masih mengisahkan tentang keseharian SasoSaku. Jadi ada yang udah bisa nebak karakter Sasori dan Sakura itu gimana? Pasti sudah pada paham, kan. Saya sudah menyelipkan karakter mereka kok heheh biar ngeh sama SasoSaku, walau masih chapter pembuka hehe.

Oh, iya. Semoga kalian pada suka ya, nanti kalau bisa saya akan langsung fokus ke fanfik TOAO ini setelah fanfic yang berjudul Victim tamat, tinggal dua chapter lagi kok Victim tamat.

Rasanya kalau buat fanfik yang didedikasi untuk seseorang, itu jadi gak malas ngetiknya wkwkkw ... jadi terpacu untuk fokus dan menamatkan fanfiksi.

Ok deh, semoga pada suka untuk chapter 1 ini.

Salam sayang,

zhaErza