Hogwarts School Musical

By : Remus Black

Song selected by : Sirius Lupin

Bab 2 : Audisi

Sirius sedang banyak pikiran belakangan ini. Ia mencoba melupakan audisi Drama Musikal yang diadakan hari ini, tapi tidak bisa karena Ia masih harus menjalani detensinya dengan Profesor Umbridge—di teater—dan mau tak mau, Ia harus melihat audisi itu. Ditambah lagi perihal Remus yang—rupanya—tambah marah karena sikapnya kemarin. Juga karena tim Quidditch-nya yang sekarang tak punya lagi semangat untuk bermain.

Dengan hati galau, Sirius meneruskan mengecat dekor pohon untuk drama. Ia baru akan mencelupkan kuas kedalam ember cat berwarna hijau ketika didengarnya suara dehaman yang sudah sangat dikenalnya.

"Ehem, ehem"

Sirius menoleh kearah bangku penonton paling depan dan bisa melihat Profesor Umbridge dengan setumpuk kertas didekapannya, Ia berdiri—setidaknya itu yang terlihat, karena tinggi badannya pun masih sama saja seperti ketika dia duduk—dan memberikan penjelasan tentang Drama Musikal kepada para peserta audisi yang hadir disitu. Bellatrix dan Regulus, si anak emas, mengangguk-angguk sok tahu sambil sesekali menggumamkan sesuatu seperti ya-ampun-itu-sih-gampang.

Sambil meng-hiih pelan, Sirius melanjutkan pekerjaannya.

Tiba-tiba ada yang menepuk bahunya dari belakang.

"Hei .."

Sirius menoleh dan melihat Remus disana, bersembunyi diantara kumpulan dekor semak-semak.

"Ngapain—"

"Ssstt!" desis Remus, "Jangan ribut!"

Remus menarik lengan Sirius dan memaksanya bergabung diantara dekor semak-semak. Remus merapatkan diri ke tubuh Sirius.

Sirius tidak bisa mengontrol jantungnya sendiri yang sekarang berdegup liar, memberontak ingin keluar dari dadanya.

"Ngapain—"

"Oh, Sirius, apa kau tidak punya kosakata lain selain 'ngapain'?" kata Remus mengejek, tapi tidak sedang bercanda. "Baiklah, kalau kau tanya aku lagi 'ngapain', aku kesini untuk melihat audisi drama musikal itu!" katanya tajam, "Jelas?"

"Lama-lama gaya bicaramu jadi mirip Umbridge, tahu .." kata Sirius sungguh-sungguh, "Masih belum mendapat pasangan, rupanya?"

Remus mendesah pelan, membuat Sirius merinding-entah-kenapa, "Sebenarnya aku masih ragu .. apa menurutmu aku ikut atau—"

"Astaga, Remus!" desis Sirius, "Audisi tinggal beberapa detik lagi dan kau masih belum tahu mau ikut atau tidak?!", Ia mendecak sambil geleng-geleng kepala.

"Dengar dulu! Jangan memotong kalau belum mendengar semuanya!" kata Remus kesal, "Jadi begini, disamping Drama Musikal, aku punya acara lain yang harus kuikuti .."

Sirius menatapnya dengan tatapan wah-ternyata-kau-orang-yang-sibuk-yaa lalu berkata, "Acara apa?"

"Kau tahu Pekan Ilmiah Hogwarts?" katanya sambil berbisik.

"Cih! Aku tahu itu, seminar membosankan dengan sesi debat yang bahkan bisa membuat Dedalu Perkasa ngamuk .." kata Sirius sambil mengeluarkan senyum meremehkan.

"Maaf saja, ya .. tapi menurutku acara itu asyik!" kata Remus tajam, "Dan itu bukan seminar, Padfoot, hanya semacam olimpiade ilmiah—masalahnya, pentas Drama Musikal bertepatan dengan hari Pekan Ilmiah itu!"

"Wah, bagus itu—" Sirius tertawa dan langsung berhenti ketika melihat ekspresi-serigala-yang-siap-membunuh di wajah Remus, "Maksudku, Pekan Raya Ilmiah-nya yang bagus .."

"Pekan Ilmiah Hogwarts!" desis Remus mengoreksi, "Menurutmu mana yang harus kuutamakan?"

"Hmm, bisa kau jelaskan padaku satu-satu—konsekuensinya?" tanya Sirius.

Remus tersenyum cerah. Ia tahu Sirius punya banyak jalan keluar untuk hal-hal yang penuh dilema seperti kasusnya sekarang ini.

"Pekan Ilmiah Hogwarts, ada Lily yang selalu menyuruhku—kau tahulah, kalau aku sampai tak menghadiri Pekan Ilmiah itu, Lily dan teman-teman sesama tim llmiah-ku akan .." kata Remus sambil menghela napas.

"Hmm, lalu?"

"Kalau aku tak mengikuti Drama Musikal ini, oh—kau tahu dari dulu aku selalu mempunyai impian bernyanyi diatas panggung!" kata Remus putus asa.

"Wah, sulit tuh .." kata Sirius sambil mengusap dagunya, "Kau harus mengorbankan salah satu"

"Hih, kalau itu aku juga tahu!" desisnya marah, "Tujuanku menceritakan ini kepadamu adalah supaya kau dapat menemukan jalan keluarnya untukku tanpa mengorbankan keduanya!"

"Hei, memangnya aku psikolog?!" bentak Sirius protes.

"Sirius—ayolah!"

"Sshh! Diam!" kata Sirius sambil menunjuk kearah panggung, "Audisinya sudah dimulai!"

Remus dan Sirius menyibakkan sedikit daun dari dekor semak tempat mereka bersembunyi sekarang, membuat lubang kecil untuk mengetahui apa yang terjadi di panggung.

"Hei, lihat! Itu Wormtail .." kata Remus sambil menunjuk ke sosok gemuk yang sedang menaruh partitur musik diatas piano.

"Walah, sedang apa dia?" kata Sirius, "Dia kelihatan keren sekali dengan piano itu .."

"Masa kau tidak tahu, sih?! Peter mengaransemen semua lagu yang ada di Drama Musikal ini, tahu!" kata Remus setengah tak sabaran, "Bisa dibilang, Drama Musikal ini adalah karyanya!"

Sirius menganga, lalu tertawa, "Aku tidak menyangka .."

Remus mendesis pelan menyuruh Sirius diam ketika peserta pertama naik keatas panggung dan menunjukkan kebolehannya.

Frank Longbottom dan Alice Prewett, pasangan yang cukup tenar di Hogwarts, membawakan lagu cinta dengan cukup baik—meskipun tidak bisa dibilang baik.

"Ehem .. Ehem, baiklah, terima kasih Mr. Longbottom dan Ms. Prewett, selanjutnya!" dengking Profesor Umbridge—selaku juri audisi—keras.

Pasangan nyentrik Hufflepuff yang bahkan sebelum menyanyi sudah tersandung duluan dan jatuh menubruk dekor pohon yang sudah susah payah dicat Sirius, mengaku terlalu gugup dan akhirnya mengudurkan diri. Sirius bisa melihat Bellatrix dan Regulus menggumam "menyedihkan" dari arah bangku penonton sambil menunjuk ke arah pasangan Hufflepuff tadi.

Profesor Umbridge membuat gerakan seperti menggambar tanda X pada papan berjalannya dan memanggil peserta yang lain.

Setelah selusin peserta lain yang menurutnya juga tidak lebih baik, Profesor Umbridge menghela napas panjang dan memanggil peserta terakhir, "Regulus dan Bellatrix Black!"

Regulus bangkit diikuti Bellatrix yang menyibakkan rambutnya dengan penuh kharisma, membuat beberapa anak memekik kagum.

Bellatrix naik ke atas panggung dan menghilang dibalik layar. Regulus yang masih setengah jalan menaiki panggung mendengar Peter sang pianis berkata, "Em .. maaf, Black Bersaudara, kalian akan bernyanyi pada kunci apa? Aku akan mencocokkan suara piano ini—"

"Oh, tidak perlu, Pettigrew .." sergah Regulus cepat, "Kau bahkan tak perlu bermain, maksudku, kami sudah membawa rombongan orkestra sendiri untuk mengiringi audisi kami" katanya antara sombong dan minta maaf.

"Ah—oh, baiklah kalau begitu .." kata Peter sambil duduk kembali.

Di balik layar, Bellatrix melepas jubah sekolah dan melonggarkan dasinya, Ia melepaskan dua kancing lalu kembali mematut-matut dirinya di depan kaca.

"Bellatrix, saudaraku, ingat—konsentrasi .." desis Regulus.

"Aku tahu itu, saudaraku yang baik .." kata Bellatrix sambil membedaki pipinya.

Sementara itu, Sirius dan Remus menyadari kalau tindakan mereka utnuk bersembunyi di balik layar sangatlah berbahaya karena tempat itu sekarang dipenuhi oleh serombongan orang tak jelas yang dibawa Regulus dan Bellatrix. Jadi mereka mengendap-endap menuju kursi penonton paling belakang dan duduk agak merosot seolah menghilang dari pandangan.

Mereka bisa melihat dua pasang tangan keluar dari tirai merah itu, menjentik-jentikkan jari dengan lincah seolah memainkan intro. Tiba-tiba musik dengan tempo cukup cepat mengalun dan Bellatrix diikuti Regulus meluncur keluar dari tirai dan mulai melakukan gerakan-gerakan atraktif sambil bernyanyi.

"Tiada yang salah dengan perbedaan"

"Dan segala yang kita punya .."

Musik yang dibawakan tim orkestra mereka sangat bagus, koreografi yang mereka tampilkan juga menarik, tapi entah kenapa lagu ini terdengar seperti—dipaksakan.

"Yang salah hanyalah sudut pandang kita"

"Yang membuat kita terpisah"

"Wah, mereka berbakat .. bukan begitu, Sirius?" tanya Remus sambil berbisik.

"Aku benci mengakuinya .." jawab Sirius dingin.

"Apakah itu berarti—'iya'?" kata Remus berusaha mengoreksi sebelum akhirnya Ia mendengar Profesor Umbridge berseru diikuti pekikan anak-anak Slytherin dan beberapa pengagum Black Bersaudara yang menjerit-jerit liar.

"BRAVO!" Profesor Umbridge masih terus berseru sementara sosok Bellatrix dan Regulus masih tersenyum penuh kharisma.

Black Bersaudara berjalan diantara sorotan lampu panggung dan baru akan turun dari panggung ketika Peter berseru, "Black!—maksudku—Black Bersaudara! Maaf, aku mau interupsi sebentar .."

Dengan ogah-ogahan, Bellatrix menepuk bahu Regulus sambil menggumam temui-aku-di-ruang-rekreasi dan berbalik menghadap Peter yang sekarang meremas-remas jarinya karena grogi, "bicaralah, Pettigrew .."

"Begini, kalian tadi—maksudku, kalau kalian terpilih menjadi peran pasangan duet itu, aku mengharapkan kalau musiknya disetel dengan tempo yang agak lambat .. karena lagu itu seharusnya lambat, kau tahu?" kata Peter gelagapan. Memang bukan keahliannya berdebat dengan orang.

Bellatrix mengernyit, "Auch! Sori—apa kaubilang tadi? 'kalau kalian terpilih'? hei, maaf saja, ya .. tapi, perlukah aku ceritakan padamu tentang—umm, berapa tahun aku dan Regulus berkali-kali terpilih menjadi pemeran utama dalam Drama Musikal Hogwarts?" katanya sambil melipat lengannya, maju kedepan dan membuat Peter agak terhuyung kebelakang.

"Err, 7 tahun kurasa .." jawab Peter gugup.

"Jelas, 'kan?" kata Bellatrix sambil memutar bola matanya dan menyibakkan rambutnya, "dan perlu diingat—sudah berapa Drama Musikal yang Keluarga Black produseri?" tanyanya menantang, lalu Ia menjawab dengan sombong, "20 kali sejak dua dekade yang lalu, sejak klub drama ini berdiri!—Dan kau?"

Peter menciut, lalu mencicit ketakutan, "Ini—ini yang pertama .."

"NAH!" kata Bellatrix sambil mempertemukan kedua telapak tangannya membuat bunyi tepukan yang cukup keras, "Jadi, kau, Pettigrew, sebagai orang baru disini, jangan mencoba-coba mengomentari, memberi saran apalagi kritik! Karena kami sebenarnya sudah cukup berbaik hati mengijinkanmu untuk menggantikan anggota Keluarga Black yang seharusnya setiap tahun memproduseri Drama Musikal ini .." katanya sambil menunjuk-nunjuk dengan sangat tidak sopan, "suatu kehormatan, bukan?"

Tatapan tajam Bellatrix seolah menyuruh Pettrigrew untuk setuju. Ia mengangguk pelan dan kembali ke pianonya. Bellatrix meninggalkannya dan berjalan menuju pintu keluar.

"Jadi kau bangga, ya, memakai nama Black setelah nama depanmu?" dengus Sirius pelan penuh hina, "Cih .. makan tuh item!"

"Sssh! Jangan berisik!" desis Remus, tapi akhirnya Ia penasaran juga tentang apa yang barusan dikatakan Bellatrix, "Sirius, apa itu benar? Apakah setiap tahun pasti ada satu anggota keluarga—mu yang memproduseri Drama Musikal ini?"

"Ya, benar .. meskipun agak malas untuk menceritakannya, tetapi dari dulu keluarga kami memang dikenal sebagai pemusik handal .. Ibuku dulu memproduseri Drama Musikal ini sedangkan ayahku—Ia menjadi legenda di tim Quidditch Slytherin" kata Sirius panjang-lebar.

"Jadi, kau cenderung mengikuti ayahmu, ya .. menjadi pemain Quidditch?" kata Remus sambil terkekeh pelan, tapi langsung berhenti begitu melihat ekspresi aneh yang terukir di wajah Sirius.

"Aku tidak mau dikatakan cenderung dalam hal apapun kalau itu menyangkut keluargaku .." desisnya pelan.

"Baiklah .. baiklah" kata Remus sambil mengibas-ngibaskan tangannya.

Setelah ruangan sepi dan hanya Profesor Umbridge yang tinggal disitu melihat-lihat daftar peserta audisi, Sirius dan Remus mengendap-endap hendak pergi ketika Profesor Umbridge berseru, "Ada lagi yang berminat untuk mengikuti audisi ini?" katanya dengan suara yang menggema keseluruh ruangan.

Keheningan menyelimuti ruangan itu, kecuali suara dari gerakan tangan Peter yang sedang membereskan partiturnya.

"Tidak ada? Bagus. Audisi ditutup!" seru Profesor Umbridge lantang. Ia merapikan tasnya dan bangkit menuju pintu keluar.

"Profesor!"

"Ya?" Profesor Umbridge menghentikan langkahnya dan melihat seorang siswa Gryffindor bernama Remus Lupin mengacungkan tangannya.

"Saya ingin ikut audisi .." katanya ragu-ragu.

Sirius melotot dan memandangnya dari balik pilar dengan tatapan buset-ni-anak-gila-kali.

"Kurasa tidak, Mr. Lupin" katanya dengan suara tinggi yang khas, "bukankah tadi sudah kubilang kalau audisinya sudah ditutup?"

"Oh, Profesor .. ayolah" Remus memohon.

"Dan lagipula, kau tidak punya pasangan!" serunya sambil geleng-geleng kepala.

"Saya—"

"Saya yang akan mendampinginya!" Profesor Umbridge terlonjak kaget ketika didengarnya suara lain berseru dari balik pilar.

Sirius mengacungkan tangannya di udara sambil nyengir aneh. Profesor Umbridge menggumam 'ah' pelan lalu berkata, "Wah, Mr.Black, kukira kau sedang terbang dengan sapu sekarang .. Dan menangkap—apa itu? Burger?"

"Bludger, Profesor—dan itu bukan untuk ditangkap melainkan dipukul balik .." jelasnya penuh percaya diri.

"Terserahlah, tapi yang jelas aku tidak akan mengijinkan kalian untuk mengikuti audisi ini .." Ia mengerling sebentar lalu menambahkan, "seperti yang kubilang tadi, audisi sudah ditutup!" katanya sambil ngeloyor pergi.

Remus menghela napas dalam kekecewaan sambli memperhatikan Profesor Umbridge menghilang di balik pilar.

Sirius menoleh ke arah panggung dan melihat Peter yang masih membereskan kertas-kertasnya. Saking banyaknya, sepertinya tidak akan pernah selesai. Kemudian anak itu bangkit dari kursinya dan terjungkal cukup atraktif sehingga kertas-kertas yang tadi dirapikannya jatuh berantakan lagi.

Sirius melesat ke arah panggung dan membantu Peter membereskan partiturnya. Remus mengikutinya dan melakukan hal yang sama.

"Terima kasih .." cicit Peter pelan.

Sirius hanya tersenyum sambil terus membereskan kertas-kertas itu sesuai nomor urut halamannya, pandangannya agak kabur karena dari tadi terus melihat not-not berjejer yang tak ada habisnya.

"Wormtail, kenapa kau begitu takut kepada Bellatrix?" tanya Remus ketika mereka telah selesai merapikan kertas itu.

"Tidak .. mereka benar. Seharusnya aku, sebagai amatir, harus berterima kasih kepada mereka karena telah diberikan kesempatan untuk memproduseri Drama Musikal ini—"

"Tapi ini acaramu! Hanya karena selama ini mereka yang terus-terusan tampil sebagai pemeran utama bukan berarti mereka yang membuat keseluruhan acara, 'kan?" sergah Sirius cepat, "kaulah yang membuat semuanya .."

"Aku tidak mengerti—"

"Kalau boleh aku misalkan, kau seperti seeker dalam tim Quidditch .." kata Sirius sungguh-sungguh.

"Oh, ya?—aku, seeker?" kata Peter pelan.

"Ya, pertandingan tidak akan berakhir sebelum seeker berhasil mendapatkan Snitch!" kata Sirius mantap.

"Dalam Quidditch, seeker-lah yang selalu menjadi legenda .." kali ini Remus yang angkat bicara. Sirius mengangguk.

Peter tidak tahu harus berkata apa, Ia merasa termotivasi. Ia memandang mereka berdua sebentar lalu bangkit, "aku akan menunjukkan pada kalian lagu yang sebenarnya—yang seharusnya, maksudku .."

Peter meletakkan partitur musiknya dan mulai memainkan intro. Sirius dan Remus mendekat ke arah piano dan mulai mengira-ngira lagunya.

Dengan amat sangat terkejut, Remus mendengar Sirius bernyanyi,

"Tiada yang salah dengan perbedaan, dan segala yang kita punya .."

Remus melongo mendengar suara Sirius yang merdu, sejak kapan suaranya jadi bagus begini?, batinnya.

"Yang salah hanyalah sudut pandang kita, yang membuat kita terpisah"

"Karna tak seharusnya, perbedaan menjadi jurang .."

"Bukankah kita diciptakan untuk dapat saling melengkapi,"

"Mengapa ini yang terjadi .."

Remus gelagapan, Ia tidak bisa menyembunyikan kekagumannya, "Sirius, aku baru tahu kalau kau—"

"Ssh! Giliranmu!" potong Sirius tak sabar.

Peter mengangguk ke arah Remus.

"Mestinya perbedaan bukan alasan untuk tak saling memahami"

"Harusnya cinta bisa memberi jalan 'tuk satukan semua harapan .."

Remus dan Sirius saling tatap, tanpa memerdulikan dentingan piano Peter, mereka berduet,

"Karna tak seharusnya perbedaan menjadi jurang"

"Bukankah kita diciptakan untuk dapat saling melengkapi?"

"Mengapa ini yang terjadi"

Setelah Peter selesai memainkan musik penutup, Remus dan Sirius masih belum bisa menerima kenyataan bahwa mereka baru saja bernyanyi bersama. Muka Sirius memerah dan berkata asal, "Suaramu bagus .."

"Mr. Black! Mr. Lupin!" kata suara menggelegar dari arah pintu masuk, Profesor Umbridge membetulkan posisi papan jalannya dan mulai menulis-nulis sesuatu, "persiapkan diri kalian untuk audisi final melawan Black Bersaudara!" katanya sambil tersenyum lalu menghilang lagi.

"Sirius, kau dengar itu?" kata Remus sambil mengguncang-guncangkan lengan Sirius, "kita masuk final!"

"Aku—"

"Hei, selamat ya!" cicit Peter penuh semangat, "kalau kalian membutuhkan aku, aku ada disini setiap saat, kita juga bisa berlatih di Ruang Rekreasi mengingat kalian dan aku adalah teman satu asrama! Kau juga boleh membangunkanku tengah malam jika tiba-tiba ingin latihan .."

Sirius menerima partitur yang disodorkan Peter. Anak itu masih semangat menjelaskan kepada Remus bagaimana dan kapan mereka akan memulai latihannya. Sirius memandang kertas itu, shock. "Apa?"

xxx