Hai lagi…^^

Di sela-sela waktu ulangan Amel nulis lagi…

Semoga kalian suka ya…

Happy Reading!

Titania & Platina

FairyTail by Mashima Hiro

This story is Mine.

DLDR, If you don't like, please get out!

.

.

.

.

Chapter 2 : Titania Brings Platina Home

.

.

.

"Scarlet-san!"

"Platina!"

"Iku zo!"

Platina melesat ke arah sekumpulan Vulcan yang mengepung mereka dengan kecepatan tinggi, dan langsung menebas semua yang menghalangi jalannya. Sedangkan Erza mengikuti di belakangnya, sesekali bertahan dari cakaran Vulcan-Vulcan ganas itu. Dan sesekali menyerang dengan gerakan memutar.

"Onna…"

ZRASSH!

CTANG!

UOOOHH!

Lama kemudian, Vulcan-vulcan itu telah dikalahkan. Erza pun kembali dalam Heart Kreuz Armor-nya menghela nafas lega. Ternyata Vulcan-vulcan itu benar-benar kuat, tapi tetap saja kalah dengan Penyihir S-Class macam Erza.

"Sepertinya itu sudah semuanya…" Platina memecah kristalnya menjadi kepingan-kepingan kecil, sehingga membentuk hujan Kristal yang sangat indah. Setelah menyarungkan kembali pedangnya, dia berjalan mendekati altar. Dengan anggun, dia mengambil Lacrima Es itu dan memperlihatkannya pada Erza.

"Kirei na…" gumamnya pelan. Erza mengangguk pelan. "Benar-benar indah." Erza mengambil Lacrima itu lalu memasukkannya dalam tas yang diselempangkan di bahunya.

"Ayo pergi!" ajak Platina. Mereka pun segera meninggalkan tempat itu.

-Titania Platina-

Sesampainya di Mansion Carto, begitu Platina menyebutnya, mereka langsung menemui Torayou di rumahnya.

"Sudah kuduga, benda ini benar-benar indah…" ujar Torayou saat melihat Lacrima yang dipegang oleh Erza. Dia mengambilnya secara perlahan.

Tak lama kemudian, Lacrima itu melayang dan memasuki tubuh Torayou. Tubuh pemuda itu melayang dan bercahaya seiring dengan masuknya Lacrima itu ke tubuhnya. Erza menatap pemuda itu tidak percaya, sedangkan Platina hanya tersenyum datar.

Setelah Lacrima itu masuk seluruhnya, secara perlahan tubuh Torayou mendarat di lantai, dan rambut pemuda itu berubah menjadi biru.

"J…Jellal?" tanya Erza. Pemuda itu menggeleng

"Aku Torayou, bukan Jellal." Pemuda itu menunjuk mata kanannya. "Lihat? Aku tidak mempunyai tato disini. Lagipula warna mata kami berbeda."

Erza mengangguk mengerti. Lagipula pemuda itu memiliki senyuman yang berbeda dengan Jellal. Saat tersenyum, terdapat lesung pipi yang melengkung indah di kedua belah pipinya.

"Bayaranmu akan dikirimkan lewat rekening bank. Nanti Kepala Maid-ku akan mengurusnya." kata Torayou sebelum Erza sempat menolaknya. Erza menatap Torayou segan. Sebenarnya misinya cukup mudah, dan bayarannya terlampau besar untuk itu. Dan Erza tidak bekerja sendiri, melainkan dibantu oleh Platina yang sangat kuat.

"Selain itu, kami mempunyai permintaan lain, Scarlet-san!" suara Platina menyadarkan Erza.

"Ya?" Erza menoleh ke arah Platina.

"Kami ingin bergabung dengan guildmu."

"Apa?" Erza terbelalak.

"Iya, kami ingin bergabung dengan guildmu." Platina tersenyum. "Kudengar Fairytail adalah sebuah guild yang hebat."

"Tapi, kalian kan… Bukan penyihir." kata Erza ragu. Mendengar perkataan Erza yang dirasanya frontal tersebut, Torayou langsung mengangkat tangannya, dan seketika seluruh ruangan membeku. Erza menatap Torayou, kagum.

"Aku adalah Ice Mage." ujarnya. Erza tersenyum.

"Kurasa kau dan Gray bisa berteman baik."

"Dia Ice Mage juga?"

"Iya…" Erza tertawa kecil. "Apalagi kalau kau juga memiliki kebiasaan untuk melepas pakaianmu secara tak sadar…"

"Oh…" Torayou dan Platina tergelak, "Tentu saja aku tidak memiliki kebiasaan aneh seperti itu."

"Tapi jangan salahkan dia kalau es batu di kulkasmu habis…" ujar Platina setelah tawanya habis. "Dia selalu memakan es sebagai cemilannya."

"Wah…" Erza tergelak. "Kalau begitu guild harus menyediakan stok es yang sangat banyak…"

"Dan Lacrima itu adalah sumber kekuatan sihirnya." ujarnya pelan.

"Lacrima itu?" tanyanya pada Torayou. Torayou mengangguk.

"Ayahku mengunci seluruh kekuatanku dalam Lacrima itu, dan menaruhnya di Gunung Hakobe yang dijaga para Vulcan. Dia sangat takut kalau aku menjadi penyihir sebelum aku berusia 18 tahun."

Erza tertegun. Kejam sekali ayahnya memperlakukannya dengan cara begitu. Mata Hazelnya pun beralih ke Platina.

"Kalau kau, Platina?"

Platina mengulurkan tangannya, mengarahkannya pada meja kerja Torayou di depannya. Dia mengayunkan tangannya pelan, dan seketika, meja itu langsung tertutupi Kristal yang tebal.

"Aku Crystal Mage." senyumnya, lalu memecah Kristal besar itu menjadi kepingan kecil. "Selain itu aku bisa memainkan pedang, seperti yang sudah kau lihat."

"Kurasa aku dan kamu bisa berlatih bersama kapan-kapan." Erza tersenyum.

"Tentu saja!" Platina menyunggingkan senyum manisnya, "Kau dan aku pasti akan berteman baik!"

-Titania Platina-

Keesokan Harinya…

Kini Erza, Platina, dan Torayou berada di dalam kereta yang menuju Magnolia. Erza dengan santainya memakan Strawberry Cheesecake-nya yang dibelinya di stasiun tadi. Sementara Platina memakan Chocolate Volcano-nya. Torayou hanya bisa menggeleng pasrah melihat kelakuan gadis-gadis di depannya. Namun dia tidak berani berkomentar.

Dia pernah menegur Platina karena selalu memakan kue yang manis itu setiap ada waktu senggang. Dan gadis itu marah besar sampai hampir menghancurkan seluruh ruangan kerjanya. Pemuda itu tidak ingin terjadi hal yang sama, apalagi di kereta. Dan dia takut menyinggung Erza juga. Pasti gadis itu juga menyeramkan saat marah.

Apa jadinya kalau gadis-gadis itu mengamuk secara bersamaan?

"Fairytail itu guild yang seperti apa?" tanya Torayou sambil melihat pemandangan di luar jendela.

"Nanti kalian akan melihatnya sendiri." Erza tersenyum simpul. "Yang jelas kalian akan merasa senang. Disana, kami menganggap semuanya seperti keluarga."

"Wah, Tora! Pasti akan menyenangkan sekali di sana!" kata Platina antusias.

"Tentu saja…" jawab Torayou seadanya. Sedangkan Platina kembali memakan kuenya dengan semangat.

Tak lama kemudian Lucy melewati bangku mereka. Sepertinya dia baru saja pulang dari misinya. Dia memapah Natsu yang teler untuk duduk di bangku tak jauh dari mereka.

"Lucy!"

Lucy menoleh, dan mendapati Erza sedang melambai ke arahnya. Dia tersenyum lalu memapah Natsu untuk duduk di bangku sebelah Erza.

"Wah, kebetulan sekali, Erza!" ucap Lucy riang. "Kau sedang bersama siapa?" tanya Lucy. Platina tersenyum ke arahnya dan Natsu. Lucy membalas senyumannya.

"Hai, kau bisa panggil aku Platina…"

"Platina? Nama yang aneh…" gumam Lucy heran. Sedangkan Platina hanya bisa tersenyum mendengarnya.

"Namaku Lucy Heartfilia… Ini Natsu Dragneel.." Lucy memperkenalkan dirinya dan Natsu yang masih pingsan.

"Salam kenal, Heartfilia-san…" mata Ruby-nya beralih ke arah Natsu. "Dan… Dragneel-san…"

"Panggil saja aku Lucy, dan dia Natsu…" jawab Lucy sambil tersenyum lebar.

"Oke… Lucy…"

Mata Hazel Lucy beralih ke Torayou, hendak memperkenalkan diri. Saat melihat Torayou, seketika wajahnya menjadi horror.

"Hei!" pekiknya, membuat Torayou yang masih asyik melihat pemandangan terlonjak kaget. "Sedang apa kau disini?!" bentaknya. Lucy menatap Torayou tajam, sedangkan pemuda itu menatap gadis pirang itu bingung.

"A…apa?"

To Be Continued

Jiaaahh… Abal banget! Saia gak bisa buat adegan battle yang bagus… Makanya di skip… Hehehe…

Kelanjutannya nanti pasti udah ketebak ya… Hehehehe…

Apapun komentar kalian, silahkan tulisan kalian di kotak review di bawah ini…

Please!