Darah mengucur dari luka di bahunya. Nafasnya terengah tanda ia kehabisan tenaga. Rasa sakit yang di deritanya seolah tidak menyrurutkan semangatnya untuk melindungi orang yang ia kasihi. Ia tetap berdiri dan melindungi orang itu. para preman yang ada di sana kabur karena tidak ingin bertanggung jawab. Tubuhnya mulai tumbang sedikit, terduduk di atas tanah dingin.

.

.

.

.

.

.


-Smile, Tears, Love-

Alice Nine © PS Company

Story © Cierru


.

.

.

.

.

"S, SHOU!" Pekik Saga. Pemuda itu membopong Shou perlahan.

"D, daijobu, Saga-kun…." Balas Shou ringan.

"Ayo kita ke rumah sakit." Ajak Saga. Shou menggeleng tanda tidak setuju.

"A, aku mau pulang. Lebih baik aku pulang daripada ke rumah sakit…." Bisik Shou.

"Kenapa?" tanyanya. Shou hanya diam dan menatap Saga dengan tatapan memohon.

Saga menghela nafas dan menuruti permintaan Shou. Mereka kembali ke restoran untuk mengambil tas Shou. Saga segera mencegat taksi yang lewat dan membawa Shou pulang ke rumahnya. Dalam perjalanan wajah Saga tampak khawatir dan sedih. Ia cukup terpukul dengan apa yang tadi ia lihat. Sosok Shou yang mati-matian melindungi dirinya. Ia tidak terima, seharusnya ialah yang melindungi Shou, bukan sebaliknya/

'Kenapa…. Aku jadi tidak ingin kehilangan dia?' batin Saga. Shou menatap lekat Saga yang ada di sebelahnya.

'Doushitte, Saga-kun?... Kenapa sampai seperti ini?... Tolong jangan beri aku harapan.' Pikir Shou sedih. Mereka pun diam selama perjalanan ke rumah Shou.

-Shou's House-

Shou mengajak Saga untuk duduk di kamarnya saja. Shou tinggal sendirian jadi tidak masalah untuk membawa teman ke kamarnya. Saga melihat sekeliling kamar Shou. Kamar itu mungil tapi rapi. Terbalik dengan kamarnya yang sudah melebihi kapal pecah *lebe*.

"Saga-kun, apa kau terluka? Ku ambilkan minum dulu ya?" tawar Shou ramah.

'Tok'

Saga menjitak pelan kepala Shou.

"Bodoh, yang harusnya dirawat itu kau!" semprot Saga kesal.

Shou tersenyum malu. Shou berjalan menuju rak tempat ia menyimpan kotak P3K. sementara Shou berusaha mengambilnya, Saga kembali mengedarkan pandangan ke kamar beraroma vanilla itu. Saga dapat mengambil kesimpulan bahwa Shou maniak Final Fantasy. Di tembok banyak sekali terpampang poster Lightning, Cloud, Tifa, Snow, Serah dan beberapa tokoh dalam game itu. Bahkan Shou juga punya boneka Lightning Chibi, Noctis, Stella, Cloud, dan Sephirot.

"Shou, kau suka sekali Final Fantasy?" tanya Saga.

"I, iya." Jawab Shou malu-malu.

Shou menyusul Saga yang sudah duduk di atas kasurnya. Ia membuka kotak P3K dan mengambil sebotol obat antispetik, beberapa gulung perban, dan sebuah salep.

"Biar aku yang mengobatimu." Ujar Saga.

"EEH? T, tidak perlu! Aku bisa sendiri kok!" balas Shou.

Tanpa mengindahkan omongan Shou, Saga membuka satu per satu kancing kemeja putih Shou. Shou sempat menolak dan menepis tangan Saga dan berkata ia bisa melakukannya sendiri. Saga hanya menanggapinya dengan helaan nafas namun tetap melanjutkan mengobati Shou.

'tek'

Gerakan Saga terhenti saat melihat gurata-guratan bekas luka di dada, punggung dan sekitar bahu Shou. Bahkan luka perkelahian tapi pun menumpuk dengan bekas luka yang sudah lama. Pemuda itu menatap mata karamel Shou dengan pandangan bertanya-tanya.

"Ah, ini?" tanya Shou sambil menunjuk salah satu guratan kasar.

"Ya. Kau…. Seperti orang yang habis disiksa." Komentar Saga lirih. Shou tersenyum sedih.

"Yah, aku memang 'disiksa'. Oleh Ayahku sendiri." Saga tersentak. Pemuda itu pun memandang Shou seolah menuntut cerita.

"Hhhh…. Ceritanya panjang Saga-kun…" ucap Shou menolak untuk menceritakan.

"Aku tidak akan kemana pun." Balas Saga enteng. Shou menghela nafas sekali lagi.

"Ayahku seorang pemabuk. Sejak Ibuku meninggal beberapa tahun lalu Ayah jadi pengangguran. Aku tidak menyalahkan siapapun soal itu. Aku juga memiliki seorang kakak laki-laki yang akhirnya harus berdandan menjadi perempuan karena Ayahku. Kakakku itu sangat mirip dengan Ibuku. Rambutnya pirang platina dan ikal."

"Dimana dia sekarang?"

"Kakakku? Kalau Kakak sekarang tinggal bersama 'suaminya'. Kau… Tahu sendiri 'kan apa artinya." Jawab Shou tanpa menatap mata Saga yang membersihkan lukanya.

"Setiap hari aku dipukuli oleh Ayah. Entah menggunakan pecahan botol minuman keras atau sapu. Ayah tidak pernah memukul Kakak karena Kakak mirip dengan Ibu. Suatu hari, karena tidak tahan, Kakak mengajakku keluar dari rumah dan memintaku untuk tinggal bersama 'suaminya'. Aku menolak karena aku tidak ingin merepotkan keduanya. Apalagi aku tahu kalau Kakak mengadopsi anak dari panti asuhan." Cecar Shou.

Saga hanya diam mendengarkan cerita Shou. Tangannya tak berhenti merawat luka Shou. Ia merawat 'bukti' bahwa ia telah di selamatkan Shou itu dengan sangat hati-hati, seolah tak ingin menyakiti Shou barang sedikit pun.

"Yak sudah selesai." Ucap Saga. Shou menoleh ke arah bahunya yang sudah dibalut perban putih.

"Arigato, Saga-kun ^^" ucap Shou sambil tersenyum manis.

'Blush'

"E, etto. Iya sama-sama." Balas Saga malu.

"Ah, benar juga. Aku akan mengambil minum untukmu. Tunggulah di sini." Pamit Shou sambil beranjak berdiri.

Saga mengangguk setuju. Sepeninggal Shou, Saga kembali mengeksplorasi seluruh isi kamar Shou. Saga melirik ke sebuah foto yang ada di meja belajar Shou. Sebuah foto berpigura yang lebih mirip foto keluarga. Dalam pantulan mata Saga, terlihat sosok cantik pemuda berambut pirang platina yan diyakini Saga sebagai Kakak Shou. Di sebelahnya ada pria tampan bagai vampir yang menggendong anak kecil berambut pirang menyala. Lalu di antara mereka ada Shou.

Saga beranjak dari foto itu. matanya tertumbuk pada sebuah buku bersampul cokelat. Buku lusuh yang menjerat pandangan mata Saga. Tangan Saga meraih buku lusuh itu. Di halaman pertama ia kembali menemukan sebuah foto. Foto yang diyakini sebagai 'keluarga asli' Shou. Seorang Ayah yang tampan, Ibu yang cantik, dan kedua anak lelaki yang tersenyum bahagia. Saga kemudian membalik halaman selanjutnya.

Ia tersentak pelan saat membaca isi tulisan Shou. Tulisan yang mewakili segala perasaan Shou pada dirinya. Entah sejak kapan Saga menyukai pemuda itu. Yup, dalam hati, meski ia memiliki Ellena, ia tidak bisa melepaskan pandangannya dari Shou. Shou, sosok mungil dan rapuh yang sellau ada di dalam pantulan matanya.

'Tap tap tap'

Derap langkah Shou tidak menghentikan Saga untuk terus membaca isi diary itu. Bahkan ketika Shou sudah sampai di depan pintu, sosok Saga tetap membelakangi pemuda itu. Shou menatap Saga dengan pandangan penuh tanya. Diletakkannya dua gelas berisi teh hangat di atas meja kecil di sebelah tempat tidur.

"Saga-kun?" Panggil Shou lirih.

Saga berbalik dan menatap Shou lembut. Shou memiringkan kepalanya tanda tidak mengerti. Namun, mata karamel-nya terbelalak saat melihat apa yang ada di tangan Saga. Shou dengan cepat merebut buku itu dan memeluknya dengan sangat erat, seolah takut kehilangan buku yang sangat berharga baginya itu.

"D, DOUSHITTE YO? Kenapa kau membacanya Saga-kun?" jerit Shou sedikit marah.

Dalam hati Shou bukan marah pada Saga, ia hanya takut. Takut bila Saga mengetahui soal perasaanya. Ia takut kalau Saga tahu, maka Saga akan membencinya seumur hidup. Bagi Shou lebih baik tidak dihiraukan oleh Saga daripada dibenci olehnya. Tubuh mungil Shou bergetar pelan menahan tangis. Kepalanya tertunduk dalam.

'tes'

Tanpa terasa Saga telah membuat air mata Shou turun. Shou dapat mendengar Saga mengeliminas jarak mereka. Shou menutup matanya dengan erat, mencoba mempersiapkan diri dengan apa yang akan terjadi. Saat Shou berpikir semua akan berakhir di sini…

'Grep.'

'DEG!'

"S, Saga…kun?" panggil Shou ragu.

Saga tak menjawab panggilan Shou. Ia malah mengeratkan pelukannya pada Shou. Pemuda itu mengecup puncak kepala Shou dan akhirnya menenggelamkan wajahnya di perbatasan leher dan bahu si brunette, membuatnya semakin tak mengerti.

"Gomen ne, Shou." Ucap Saga lirih. Ditatapnya kedua mata Shou dalam-dalam.

"Untuk apa?..."

Tangan besar dan hangat itu menangkup wajah manis Shou. Saga kembali mengeliminasi jarak diantara mereka. Dan jarak yang tadinya memisahkan mereka hilang seketika saat Saga menempelkan bibirnya ke bibir lembut Shou. Shou mengerang pelan namun menikmati ciuman lembut Saga. Saga menciumi bekas air mata Shou, dan kembali memeluknya dengan erat.

"….." Shou tak mampu berkata lagi. Otaknya terlalu sulit untuk mencerna segala kejadian yang baru saja terjadi.

"Maaf ya Shou, andaikan aku tahu kalau kau selama ini menderita, sudah kuakhiri hubunganku dengan Ellena." Ujar Saga lembut. Shou tersentak kaget.

"A, apa maksud Saga-kun?..." Saga sekali lagi menatap dalam-dalam manik mata Shou.

"Shou, aku… Aku minta maaf sudah membuatmu menderita selama ini."

"A, ah… Itu… Daijobu… Selama Saga-kun tidak membenciku, diabaikan pun tak masalah…." Balas Shou lirih sambil tersenyum lembut.

"Shou, aku…. Mencintaimu. Sejak… Beberapa bulan yang lalu. Aku tahu mungkin aku terlambat. Tapi, maukah kau menerimaku?" tanya Saga serius.

Shou menatap Saga tidak percaya. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Saga meraih tangan Shou yang menutupi mulutnya dan menciumi tangan itu. ia kembali menatap Shou lembut.

"A, aku mau…. Aku mau Saga-kun…"

Saga tersenyum hangat dan memeluk pemuda itu. Ia tidak ingin kehilangan orang yang sangat dicintai dan mencintainya itu.

"Ah, Saga-kun. Besok aku ingin ke makam Ibu. Bolehkan?" tanya Shou.

"Ya. Tentu saja. Bersama denganku?"

"Ya! Aku ingin menunjukkan orang yang kucintai pada beliau."

Saga tersenyum lembut dan mengacak rambut Shou. Ia membawa Shou untuk duduk di atas tempat tidur dan mengulangi ciuman penuh kasih sayang mereka…

-END-