Love Is Only A Feeling
A fanfic by Presiousca
.
DUA
.
"Simpanan baru Chanyeol ini, juga akan dibuang seperti sampah..."
.
Biasanya, Baekhyun hanya akan makan kentang goreng dengan sedikit saus untuk makan siang. Atau, jika pemilik kafe tempatnya bekerja dulu sedang baik, Baekhyun boleh membuat sosis bento sendiri.
Tapi, masakan Italy? Menyebutkan nama makanannya saja sudah membuat lidah Baekhyun terbelit. Ini menyebalkan. Ternyata, menyetujui ide makan siang di restaurant favorit Chanyeol adalah salah kaprah.
"Samakan saja denganmu." Baekhyun langsung menutup buku menu karena dia tidak yakin bahwa dia akan suka.
Yang penting adalah perutnya bisa di isi dan jangan sampai dia kelaparan lagi sampai nanti malam.
"Two Salmon Risotto and a couple of Flavoured Soda." Putus Chanyeol cepat.
"Wine, sir?"
"No, thankyou."
Pelayan dengan paras khas orang barat itu beranjak menjauh. Meninggalkan sepasang insan yang sedang dirundung bingung mau membicarakan topik apa untuk membunuh canggung.
Chanyeol akhirnya bersikap lebih jantan. "Jadi, apa yang membuatmu berakhir bersamaku?"
Lelaki mungil itu mengerjap sebentar. Pembicaraan santai sepertinya. Hari ini, mungkin pekerjaannya dengan sang pemilik akan berjalan lebih ringan dari dugaan Baekhyun.
"Ibuku harus melakukan cangkok ginjal. Tentu saja, aku tidak bisa menghasilkan uang secepat itu dan tidak ada cara lain selain mendatangi Seulgi." Jawab Baekhyun lugas.
Baginya, menjadi realistis dan mengakui bahwa uang adalah tujuan utama tentu tidak akan terdengar munafik. Memangnya, di dunia siapa yang tidak membutuhkan uang?
Manusia saja rela menjadi pembunuh demi mendapatkan benda bernilai itu. Baekhyun hanya berharap agar Chanyeol tidak merendahkan dirinya karena menjadi materialistis.
"Ibumu sakit?" Tapi yang Baekhyun dapatkan dari pria itu adalah kerutan cemas di dahi.
Chanyeol seperti memberikan simpati yang tulus, cukup membuat Baekhyun terkesan. Padahal sebenarnya pria itu tidak perlu melakukannya walau hanya sekedar formalitas. Chanyeol, lumayan sopan untuk ukuran seorang pengusaha 'kurang ajar'
"Aku sudah bilang kalau dia harus melakukan cangkok ginjal."
"Dan ternyata kau menunggu bayaran dariku dulu?"
Faktanya, ya. Baekhyun tidak mau makan gaji buta dengan meminta bayaran di awal tapi dia bahkan tidak memiliki pengalaman sebagai simpanan samasekali. Itu akan mengecewakan pemiliknya, merusak nama baik Seulgi juga.
"Aku belum mengerjakan apapun untukmu. Mana mungkin aku meminta uang-"
"Byun Baekhyun, kau-" Chanyeol berhenti sejenak untuk mengambil nafas. Menatap mata sabit itu dengan sugesti bahwa bersikap kasar tidak akan memperbaiki image-nya.
Baekhyun, harus melihat sisi lembutnya saja.
"-kau tidak boleh membuat ibumu menunggu. Seharusnya kau mengatakan tujuanmu sejak awal padaku."
Yang lebih mungil tersenyum kaku. "Penyakit ibuku masih belum terlalu parah."
"Cangkok ginjal bukan hal sepele, Baekhyun."
Tanpa meminta persetujuan, Chanyeol meraih kedua tangan gugup Baekhyun agar bisa menggenggamnya. Sayang, simpanannya sampai terlonjak kaget karena bersentuhan adalah sesuatu yang masing asing untuknya.
Jelas sekali, hubungan keduanya masih sangat kaku. Chanyeol tentu tidak bisa terus menerus berada dalam jarak yang canggung dengan simpanannya ini. Bagaimanapun juga, suatu hari nanti dia harus merilis foto sensual mereka ke publik.
Mau jadi apa skandalnya nanti jika disentuh saja Baekhyun masih terkejut?
"Kau harus mulai terbiasa dengan sentuhanku, Baek. Mari berhenti bersikap seperti orang asing." Mendengar ucapan lembut itu, bahu tegang Baekhyun mengendur.
Pemiliknya benar. Menjadi simpanan itu berarti sama saja dengan menjadi pasangan. Bedanya, kau adalah pihak yang sangat pas untuk disalahkan. Seseorang yang, selamanya tidak akan pantas mendapatkan cinta. Lebih baik mati cepat daripada berumur panjang.
"Aku akan bekerja lebih keras, Chanyeol ssi."
"Tidak! Tidak! Jangan terlalu formal. Aku tidak suka." Chanyeol menyangkalnya dengan suara meninggi, tapi usapan jemari pria itu di punggung tangan Baekhyun menyeimbangkan sensasinya.
Sayangnya, genggaman tangan itu terpisah saat pesanan mereka datang. Baekhyun sampai kehilangan selera makan karena betapa dalamnya dia mencoba membaca karakter Chanyeol.
Pria yang sangat sulit dia terka sekalipun Chanyeol adalah sosok yang terbuka. Betapa mengerikannya pria itu...
"Panggil aku dengan sebutan apapun. Apa yang menurutmu terdengar pas untukku, maka aku akan suka." Senyuman Chanyeol sedikit meringankan pikirannya.
Lagipula, bersikap lebih santai satu sama lain juga tidak akan memperburuk hidupnya, pikir Baekhyun. Jadi mari sedikit bercanda dan melucu.
"Aku tidak tahu harus memanggilmu apa. Mungkin, My King? Hahaha apa itu terdengar menggelikan?" Ucap Baekhyun jenaka berniat untuk sedikit mencairkan suasana.
Tapi sekali lagi, Chanyeol itu sangat sulit untuk diterka. Alih-alih tertawa, pria itu justru bangkit dari kursinya. Berjalan mengitari meja dan berakhir berdiri di belakang Baekhyun. Tangan besar itu, meraih serbet makan dan meletakannya di atas kedua paha simpanannya.
Tersenyum di samping telinga Baekhyun, pria itu lalu membisikan sesuatu.
"So that you are My Precious Queen. Buon a petite..."
Terkutuklah bagi siapapun yang pernah mendengar bisikan suara berat seorang Park Chanyeol!
Pria itu kembali ke kursinya dengan tenang. Kontras dengan berdebarnya Baekhyun di seberang meja yang mati-matian dia sembunyikan. Tapi sayang seribu sayang, Chanyeol diam-diam sudah tahu.
"Giliranku menceritakan tujuanku." Bukannya memakan risotto yang mulai dingin, Baekhyun justru memperbaiki duduknya demi mendengar cerita Chanyeol.
"Aku ingin bercerai dari istriku, Baekhyun. Pernikahan kami ada karena sebuah kecelakaan bisnis. Samasekali tidak ada cinta dan kami sama-sama tidak bahagia."
Permasalahan klasik orang-orang kaya...
"Sudah berapa lama kalian menikah?"
"Sudah hampir dua tahun. "
"Kau, sangat ingin bercerai?"
"Ya. Sangat ingin."
"Kalau begitu ceraikan saja. Bukankah itu sangat mudah?"
Bukankah itu memang sangat mudah? Dimana letak kesulitannya? Apalagi, Chanyeol memiliki banyak uang, bukan sebuah hal yang berat baginya untuk membayar pengacara handal. Perceraiannya, pasti akan berjalan mulus.
"Aku tidak bisa, Baekhyun. Harus dia yang menceraikanku dan itulah kenapa aku mengadakan kerjasama ini denganmu."
"Kenapa harus istrimu?"
"Karena itu harus."
Tidak ada kejelasan apapun untuk cerita pemiliknya barusan. Baekhyun menggeleng pelan. "Aku tidak mengerti."
"Kau tidak harus mengerti semuanya. Hanya lakukan saja apa yang menjadi tugasmu. Aku janji semuanya akan baik-baik saja." Tidak ada yang tahu bagaimana bisa sepasang tangan beda ukuran itu bisa saling menggenggam lagi.
"Istriku, ingin mengambil alih perusahaan yang dibangun ayahku dengan darah dan keringatnya..."
Taunya, Baekhyun hanya melihat Chanyeol yang sungguh-sungguh meminta bantuannya. Wajah pria itu, bahkan seperti berteriak minta tolong seolah dia adalah bantuan terakhir di muka bumi.
Itu melemahkan Baekhyun.
"Aku sudah menandatangani perjanjian kita. Aku akan berusaha sekeras mungkin." Jawaban Baekhyun mengundang senyuman di bibir yang lain.
Pria itu memberikan beberapa usapan di punggung tangan yang lebih mungil sebelum melepasnya demi melanjutkan makan.
"Katakan pada ibumu, bahwa beliau akan segera mendapatkan cangkok ginjalnya."
Kalimat itu benar-benar ampuh untuk mengundang senyuman termanis seorang Byun Baekhyun. Chanyeol menatapnya sampai angannya terbang menabrak atap restaurant.
Membayangkan bibir tipis kemerahan yang kini tengah melengkung bahagia itu, pasti akan terasa sangat manis saat dikecap. Mungkin juga, akan terasa sangat indah jika ada desahan yang keluar dari sana.
Aah, tapi bukankah itu masih terlalu jauh jika bergandengan saja Baekhyun masih terkejut?
"Makanlah yang banyak. Setelah ini, ikutlah denganku sebentar..."
.
e)(o
.
"Ibu akan mengadakan rapat pemegang saham!"
Mengadakan rapat dengan orang-orang sebesar itu secara mendadak pastilah bukan perkara mudah. Tapi menurut wanita paruh baya ini, tindakan Chanyeol sudah kelewatan. Bagaimana bisa saat perusahaan mereka disibukan dengan rencana pembangunan cabang baru, direktur mereka justru berselingkuh dengan simpanannya.
"Untuk apa rapat mendadak, ibu?"
"Suamimu sudah keterlaluan, Sayang! Jika Chanyeol tidak mau mendengarkanmu dan Ibu lagi, biarkan para pemegang saham yang melakukannya."
Bukan tanpa alasan kenapa Ibu mertua Chanyeol itu sampai begitu murka. Pasalnya, mata-mata bayaran mereka baru saja mengirimkan beberapa foto yang menampilkan Chanyeol dan simpanan barunya.
Mereka, terlihat sedang makan di restaurant Italy yang sering Chanyeol kunjungi.
Tangan mereka yang saling menggenggam.
Bagaimana Chanyeol tertangkap kamera sedang berbisik di telinga simpanannya dengan senyuman.
Pemandangan ini menghancurkan sesuatu di dalam diri wanita cantik yang berstatus sebagai istri sah Chanyeol itu. Kalau boleh marah, dia sebenarnya sangatlah marah. Jika dibolehkan cemburu, pastilah dia ingin merajuk agar Chanyeol memohon padanya.
Tapi tentu saja itu mustahil...
Wanita itu tersenyum tenang. Masih sangat cantik untuk dipandang. "Ibu tidak perlu cemas. Yang terpenting adalah, kami tidak mungkin bercerai."
.
e)(o
.
Setelah makan siang mereka, Chanyeol berencana untuk menghabiskan lebih banyak waktu dengan simpanan barunya.
Tapi rencana tinggal wacana. Tiba-tiba saja sekertarisnya, Kim Jongin, menelepon untuk memberitahukan bahwa para pemegang saham ingin mengadakan rapat. Tentu saja itu aneh karena rapat seperti itu sudah selalu dijadwalkan. Bisa saja, jika ada keadaan mendesak di perusahaan, tapi perusahaan sedang baik-baik saja.
"Aku tidak akan lama." Sebelum benar-benar meninggalkan Baekhyun di ruangan kerjanya, Chanyeol memberikan usapan pada rambut hitam itu.
Bagaimanapun juga, rapat ini tidak akan berlangsung sebentar. Chanyeol juga sudah tahu kenapa mereka mengadakannya mendadak begini. Ini pasti karena mata-mata bayaran istrinya sudah mengirimkan beberapa foto.
"Hanya enam pemegang saham yang datang, Yeol." ucap Jongin setelah tubuhnya sudah sejajar dengan langkah besar atasannya.
"Panggil aku Pak. Ini di kantor."
"Kalau begitu, Bapak juga harus memanggilku Sekretaris Kim Yang Agung."
Berhenti berjalan sebentar. Chanyeol melempar senyuman sarkastik-nya kepada sang sekretaris. Mau bagaimanapun formalnya situasi mereka saat ini, kedua teman ini tidak akan pernah bisa bersikap demikian. Salahkan pertemanan mereka yang sudah dimulai sejak duduk di Bangku SMA.
"The Lord of the Darkness, Kim." Kalau saja tidak ada rapat dadakan yang harus segera didatangi, rasanya Jongin sangat ingin melakukan uppercut untuk atasannya itu.
Tapi ya sudahlah. Dia simpan itu untuk nanti karena keduanya sudah memasuki ruangan rapat. Benar kata Jongin, ada enam orang pemegang saham yang hadir dan kebanyakan dari mereka adalah pihak yang bersekutu dengan Irene.
Istrinya.
Wanita yang sudah dia nikahi selama hampir dua tahun belakangan. Yang tengah berdiri dengan tenang di kepala meja, bersiap untuk menyambutnya. Tidak banyak yang Chanyeol lakukan selagi perhatiannya tertuju pada sang ibu mertua yang juga duduk di kursi pemegang saham.
"Bisa kita mulai sekarang?" Chanyeol menjatuhkan dirinya di kursi direktur.
Duduk bersebelahan dengan istrinya, Irene, yang juga memiliki jabatan yang sama dengannya karena jumlah saham mereka sama. Bukan tanpa alasan kenapa posisi itu tidak sepenuhnya diserahkan kepada Chanyeol.
"Ada hal apa sampai mengadakan rapat dadakan? Apa Korea Utara menembakkan bom?" tanya Chanyeol.
Beberapa dari pemegang saham terlihat ragu. Seperti ingin berbicara, tapi menelannya kembali saat tatapan Chanyeol jatuh pada wajah mereka. Tiba-tiba saja, Ketua Kang berdehem. Si Tua yang memiliki tujuh persen saham di Proxima.
"Tidak ada bom apapun, Direktur. Hanya saja, kami mengkhawatirkan tindakanmu belakangan ini."
Itu dia Ketua Kang. Sekutu ibu mertua Chanyeol yang paling setia.
"Kami mendengar kabar yang tidak benar tentang anda. Tolong, jangan melakukan hal yang diluar kendali lagi." Tiba-tiba, pemegang saham yang lain menambahkan.
Merasa bahwa pintu mereka untuk menyudutkan Chanyeol sudah dibuka oleh Ketua Kang.
"Bukankah, akan lebih baik jika kita memperhatikan pembangunan cabang Proxima di Mokpo semaksimal mungkin, Direktur?"
Chanyeol mendinginkan kepalanya. Jelas sekali pembicaraan ini mengarah kemana. Jelas juga siapa yang mulai memanas-manasi para pemegang saham dan membuat mereka ragu dengan kredibilitas Chanyeol.
Istrinya. Irene.
Yang masih duduk tenang di sampingnya.
"Aku-" Chanyeol terdiam sebentar. Melirik ke sampingnya, ke wajah tenang Irene. "-bahkan memikirkan Proxima saat sedang tidur. Kalian jangan khawatir."
"Mengenai kabar 'itu' kami harap hanya gosip saja, Direktur." Ketua Kang kembali membuka mulutnya. Pak Tua yang selalu berlindung di bawah ketiak ibu mertuanya itu, mungkin harus diberi sedikit pelajaran.
"Kalau begitu, mari kita sedikit membahas rencana pembangunan cabang Proxima di Mokpo. Ketua Kang, apa anda punya ide untukku? Anda terlihat yang paling bersemangat sejak tadi. Aku terkesan."
Jelas sekali bahwa para pemegang saham duduk dengan gelisah di kursi mereka. Chanyeol tersenyum sendiri karena bahkan ibu mertuanya ikut cemas dengan gagasan Chanyeol yang tidak bisa diduga.
Pastilah, membicarakan Proxima tidak ada di agenda mereka. Itu berarti tidak ada persiapan.
"Belum memiliki planning? Atau memang tidak ada, Ketua Kang?"
Mata Pak Tua itu nyalang menatap sang Direktur. Tapi bukan Chanyeol namanya jika dia terpengaruh. Baginya, para pemegang saham hanya tikus kecil yang membutuhkan gorong-gorong untuk bersembunyi.
Chanyeol yang seorang anjing pemburu, tidak pantas untuk takut kepada tikus-tikus kotor.
"Kalau begitu, aku akan mengeluarkan gagasanku dulu." Chanyeol melirik Jongin yang sedari tadi berdiri di sudut ruangan.
Sekretarisnya itu otomatis mulai membagikan salinan proposal kerjasama yang diam-diam sudah Chanyeol jalin. Bukan kerjasama-nya dengan Baekhyun, tentu saja.
"Aku dan Wu Construction sudah mendiskusikan sedikit tentang Proxima. Mulai dari struktur tanah di lokasi sampai sub material yang dibutuhkan. Tapi walaupun begitu, aku tidak akan keberatan kalau Direktur Bae masih ingin melakukan pelelangan tender."
Irene menatapnya. Masih dengan pembawaan yang tenang dan tidak ada emosi yang terbaca jelas di wajah cantiknya itu.
"Integritas Wu Construction memang sudah tidak diragukan lagi. Aku-" Detik seperti berhenti. Irene juga menghentikan ucapannya karena Chanyeol menatapnya seperti bagaimana dia menatap Ketua Kang. Begitu dingin.
"-juga akan memilih mereka meskipun ada pelelangan." lanjut Irene.
Untuk pertama kalinya, dia dan Chanyeol bisa berada di jalan yang sama. Wanita itu lebih memilih untuk membaca proposal yang tadi dibagikan ketimbang terus menatap wajah dingin suaminya.
Seisi ruangan mulai membaca segala point diskusi yang sudah dimatangkan Chanyeol, bahkan sebelum mereka melakukan perundingan resmi. Betapa Direktur mereka yang sangat pandai untuk memukul balik musuh dengan cara yang berkelas.
"Beruntung saja, aku dan pemilik Wu Construction adalah teman baik. Jadi, sepertinya sudah cukup untukku memiliki seorang teman daripada sepuluh orang pemegang saham."
Ucapan Chanyeol mutlak meninggikan tensi ruangan. Beberapa dari mereka bahkan meremas pinggiran proposal itu sebagai sarana penyaluran emosi. Melihat betapa panasnya mereka saja sudah membuat Chanyeol tersenyum puas.
"Aku harus pergi. Ada beberapa gosip di luar sana yang harus aku urus." Lagi, Chanyeol mengeluarkan bakat sarkasme nya kepada para pemegang saham, termasuk ibu mertuanya sendiri.
"Permisi."
Tak lupa, sedikit remasan pada bahu tegang Irene yang sedari tadi diam di sampingnya sebelum beranjak dari kursi.
Salah siapa main-main dengan Park Chanyeol?
.
e)(o
.
"Aku menggambar Orabeoni saat di sekolah tadi." Baekhee mencicit lucu sambil mengeluarkan buku menggambarnya dari tas.
Untuk membunuh waktu selama menunggu Chanyeol, Baekhyun memutuskan untuk melakukan facetime. Setelah memberitahu Sehun bahwa ibu mereka bisa segera dioperasi, Baekhyun meminta adiknya itu untuk memberi Baekhee kesempatan.
"Tapi rambutnya aku warnai merah, hihihi." Gadis kecil itu memperlihatkan hasil gambarnya.
Ada Sehun dan Ibunya juga di sana, tapi hanya Baekhyun saja yang warna rambutnya dibuat merah. Membuat Baekhyun semakin gemas.
"Kenapa rambutku jadi panjang, Tuan Putri?"
"Eoh! Itu siapa di belakang Orabeoni?"
Baekhyun berbalik cepat. Mendapati Chanyeol sedang membuat gestur tengah melakukan 'ciluk ba' dan dia yakin itu untuk Baekhee.
"Oops." Desis Chanyeol namun tetap bersikap semanis mungkin karena Baekhee masih terlihat menonton.
Untuk pertama kalinya, Baekhyun melihat sisi lucu Chanyeol yang ini. Tidak disangka, pemiliknya ini bisa bertingkah kekanakan begini.
"Halo, Tuan Putri yang cantik." Sapa Chanyeol dengan suara khas tokoh kartun.
"Halo, temannya Baekhyun Orabeoni."
Gadis kecil itu tersenyum sampai matanya menyipit. Chanyeol dirundung gemas sampai tertawa sendiri, tapi tiba-tiba layar berubah menjadi wajah Sehun. Baekhyun langsung mengambil alih.
"Bagaimana?"
"Dokter bilang lusa."
Syukurlah, Ibu mereka bisa dioperasi besok lusa.
"Baiklah. Nanti malam aku pulang. Sudah dulu ya."
Sambungan diputus. Chanyeol memilih untuk duduk di samping Baekhyun dan merangkulnya. Mau tidak mau Baekhyun harus mulai terbiasa.
"Adikmu manis sekali, Baek. Siapa namanya?"
"Yang mana? Yang laki-laki?" Bagus karena si pria kecil sudah bisa bersikap sedikit lebih santai. Baekhyun, jadi jauh lebih menyenangkan sejak mereka mengutarakan tujuan masing-masing. Sebuah kemajuan, pikir Chanyeol.
Pria besar itu, tiba-tiba menariknya untuk memberikan sebuah ciuman gemas di pipi. "Yang perempuan, sayang."
Baekhyun merinding sampai ke telinga. Rasanya aneh sekali kalau harus berinteraksi seperti ini dalam pekerjaan tapi, memang itulah tugas seorang simpanan.
"Byun Baekhee. Si manis yang sangat menyukai hamster."
"Hamster?"
"Mm hm. Dulu kami punya satu, warnanya putih, tapi mati karena sakit. Baekhee sampai menangis tiga hari tanpa berhenti."
"Sudah punya yang baru?"
Baekhyun menggeleng pelan. Dalam hati, dia mengingat bahwa Taro, hamster Baekhee mati tepat sehari sebelum ibunya jatuh sakit. Ketimbang memikirkan hamster baru, kesehatan ibunya adalah prioritas tertinggi Baekhyun saat itu.
"Kau tidak ingin menyenangkan hati si Tuan Putri?" Tanya Chanyeol dengan senyuman.
Baekhyun memasang mimik bertanya, seolah dia tidak mengerti kebaikan apa lagi yang akan Chanyeol berikan.
"Ayo kita beli hamster untuk Baekhee."
.
e)(o
.
Menjadi anggota redaksi di perusahaan media internet berbasis hiburan terbesar di Korea bukanlah hal mudah.
Minseok sampai harus kehilangan waktu tidur hanya karena redaktor mereka meminta update sebuah gosip pemerkosaan artis. Padahal sudah jelas, kabar itu hanyalah sebuah settingan demi mencoreng nama baik si artis laki-laki. Lalu update seperti apa yang harus mereka karang?
"Mau kopi?"
Itu temannya, Jongdae, si baik hati yang selalu mencemaskan kesehatan Minseok. Tapi sayang, kopi bukanlah sesuatu yang menyehatkan. Membuat Minseok menggeleng pelan.
"Aku lebih membutuhkan piknik daripada kopi, Dae." Keduanya tertawa sebentar.
Bagaimanapun juga, bekerja di kantor redaksi Dazzle adalah sesuatu yang menguras tenaga. Tidak akan rugi jika mereka sedikit menggunakan waktu kerja untuk sedikit mengobrol.
You got a new e-mail from Kymm11
Tiba-tiba Minseok menerima sebuah pesan. Pesan yang tidak diketahui dari siapa karena username nya saja menggunakan akronim.
"Apa? Kenapa?" Melihat perubahan sikap Minseok, Jongdae ikut merasa penasaran.
Subject: Pengusaha Park dan Simpanan barunya
Dengan membaca subject-nya saja, Minseok sudah sangat tertarik untuk membuka.
'Kemarin siang aku tidak sengaja melihat mereka berdua di distrik Seonchu. Mereka sedang makan di restaurant Italy terbesar di sana.
Sebenarnya aku takut untuk mengirimkannya, tapi ini sangat menggangguku. Aku tahu bahwa dia sudah pernah tersangkut skandal yang sama tapi jika kalian bisa menghentikannya, maka gunakanlah foto ini. Meskipun rasanya itu mustahil, tapi tidak ada salahnya mencoba.
Apapun yang akan kalian lakukan nanti, aku ingin identitasku dirahasiakan.'
Minseok juga melihat bahwa ada beberapa foto yang terlampir di badan email. Dan benar saja, itu memang foto seorang pengusaha besar Korea yang sudah sering terkena skandal. Sedang makan bersama dengan laki-laki manis di restaurant Italy, persis seperti yang pengirim misterius itu katakan.
"Ini berita bagus..."
.
.
To be continued
Bacod's:
Teaser individual The War membunuhku pelan-pelan...
Oh ya, makasih buat yang udah foll/fav dan masih menyempatkan ngasih permen. Makasih sekali :)
.
.
Sweetest regard,
Kadal Jamaika
