I Know You Know
Cast : Bae Jinyoung, Park Jihoon,
Lee Daehwi, Lai Guanlin, and others.
YAOI, Typo(s).
.
Chapter One
.
"Ayolah, Jinyoung-ah, ini hari pertama kita di kampus ini, ingat? Masa bentar aja udah mau pulang?" Woojin merengek pada Jinyoung yang tetap memasang wajah datar sedari tadi.
"Aku ingin mencari kerja part-time, Woojin-ah. Kau tau sendiri bukan?" Jinyoung mengibaskan lengan kanannya yang digelayuti Woojin, risih.
"Masih juga jam 2 siang. Nanti aku temani cari deh. Ayo ke sana!"
Jinyoung mengerang pasrah ketika tangannya ditarik si rambut merah, lalu menggerutu ketika tau sahabatnya itu menariknya ke arah kantin, "Ah, kenapa ke sini? Kau baru saja menghabiskan dua porsi hamburger tadi, Park."
Yang berambut merah tak menggubris, tetap menarik Jinyoung ke meja di sudut kantin yang kosong lalu mendudukkan bokongnya di sana. Jinyoung menggerutu –lagi, tapi tetap saja mengambil duduk di depan Woojin.
"Jadi untuk apa kita kemari, Park?"
"Kau sama sekali tak seru, Bae." Woojin menjawab santai. Matanya berkeliaran ke seluruh penjuru kantin. Kadang bibirnya bersiul ketika menemukan objek yang.. ehm.. You know what I mean..
"Kutinggal kau, Park Woojin."
"Eh, lihat! Itu Lee Daehwi!"
"Mana-mana?!" Jinyoung menoleh ke arah yang ditunjuk Woojin ketika nama itu keluar dari mulut si rambut merah. Kosong.
"HAHAHA Kena kau, Bae Jinyoung!"
"SIALAN KAU, PARK WOOJIN!"
"Arrgghh AMPUNI AKU, BAE!"
Jinyoung mengejar Woojin –yang berlari keluar kantin– dengan wajah merah padam karena marah –atau malu? Ketika jarak keduanya menipis di koridor kampus, Jinyoung segera menarik kerah belakang baju Woojin lalu segera memiting kepala sahabatnya yang menurutnya sangat menyebalkan itu.
"Duhh! Uhuk uhuk! Lepasshh! Aku tak –uhukk bisa bernapas!"
"Rasakan! Rasakan ini, Park!"
Jinyoung tak berhenti, walau kini tubuh Woojin sudah menempel di lantai separuhnya.
"Lepaasshh, Baeeee –uhh!"
"Tidak akan, Park!"
"EHEM!"
Sebuah deheman keras membuat Jinyoung melepaskan tangannya dari leher Woojin. Ia menoleh, menemukan wajah seorang lelaki berambut pirang berdiri di tengah-tengah pintu sebuah ruangan. Oh, ternyata ia dan Woojin tadi berhenti tepat di depan sebuah ruangan bertuliskan 'Club Kesenian'.
"Kalian mahasiswa baru ya?" Lelaki pirang itu bertanya, wajahnya terlihat sedikit marah.
Woojin yang tadinya terduduk mengenaskan di lantai segera berdiri, merapikan bajunya sekilas lalu menjawab, "Ah, iya, kami mahasiswa baru, sunbae."
"Kenapa kalian mem–"
"Apa yang terjadi, Jisung hyung? Eh?" Perkataan senior berambut pirang terpotong oleh seorang lelaki lain yang menyusul keluar dari ruangan. Posturnya kecil, berkulit sedikit pucat, dan kelihatan manis sekali.
Jinyoung menyernyit melihat lelaki manis yang kini tampak memandangnya dengan kaget. Tunggu.. sepertinya ia kenal dengan orang ini...
"eoh.. sunbae?" Jinyoung berucap ragu pada senior yang lebih mungil darinya itu. Sedikit ragu, ia melanjutkan perkataannya, "Jihoon sunbae?"
.
.
Jihoon tersenyum puas. Mahasiswa baru tahun ini yang berniat gabung di club kesenian kesayangan jauh lebih banyak dari yang diduganya. Ditatapnya satu persatu mahasiswa baru yang duduk tenang di bangku ruang club kesenian, ah, manis-manis juga junior-juniornya. Jihoon terkikik.
"Club kesenian ini merupakan satu-satunya wad–"
"Rasakan! Rasakan ini, Park!"
Penjelasan Sewoon –teman seangkatan Jihoon- kepada mahasiswa calon anggota club kesenian terputus ketika terdengar suara gaduh dari luar. Jihoon bertukar pandang dengan Jisung yang berdiri tidak jauh darinya, bibirnya berucap "ada apa itu?" tanpa suara.
"Lepaasshh, Baeeee –uhh!"
"Tidak akan, Park!"
Jisung tampak berbisik dengan Jaehwan –si ketua club kesenian-, dan setelahnya bisa Jihoon lihat Jisung mengangguk lalu berjalan keluar dari ruangan.
"Ah, maafkan kami, ada sedikit gangguan di luar, teman-teman." Jung Sewoon kembali membuka suara setelah beberapa detik sempat terjadi kesunyian di sana. Lalu kembali melanjutkan penjelasaannya yang sempat terputus tadi.
Jihoon menatap punggung Jisung yang masih tampak dari tempatnya berdiri. Entahlah, rasanya ada yang berbisik menyuruhnya untuk menyusul Jisung untuk melihat apa yang terjadi di luar sana. Hingga entah sejak kapan kakinya mulai melangkah, mendekat ke arah pintu, menepuk sebentar bahu Jisung lantas berujar, "Apa yang terjadi, Jisung hyung?" matanya bergerak untuk menatap objek yang ia yakini si pembuat kegaduhan tadi, dan seketika matanya melotot, "eh?"
Jinyoung! Bae Jinyoung! Oh, tolong beritahu Jihoon cara bernapas sekarang juga karena untuk sesaat rasanya Jihoon lupa bagaimana cara bernapas. Oke, itu berlebihan. Tapi, ayolah. Ini Bae Jiyoung! Junior yang sudah Jihoon idam-idamkan sejak ia duduk di bangku kelas dua SMA. Apalagi sudah satu tahun lebih Jihoon tak pernah melihatnya lagi. Dan sekarang mereka berhadapan seperti ini.
Jihoon dapat melihat junior –nya itu memandang ke arahnya dengan pandangan sama terkejutnya.
"Sunbae?"
Alis Jihoon bertaut ketika mendengar Jinyoung berucap. Sunbae? Apa dia tau kalau Jihoon adalah sunbae-nya di Universitas ini? Oh, maafkan Jihoon yang sempat 'mengintip' daftar mahasiswa baru di fakultas miliknya, Fakultas Sains, dan menemukan nama 'Bae Jinyoung' di sana. Tapi, mengapa cepat sekali lelaki marga Bae itu mengetahui kalau Jihoon adalah senior di sini?
"Jihoon sunbae?"
Alis Jihoon semakin menyatu. Raut bingung sangat kentara di wajahnya. Oh, darimana Bae Jinyoung tau namanya?
"Jihoon sunbae, benarkan? Naya, Bae Jinyoung!" Jinyoung menepuk dadanya sembari menyebut namanya.
"Ah, benar! Jihoon sunbae?!" Woojin yang sedari tadi diam akhirnya membuka mulut. Baru saja ia ingat dengan sunbae-nya di SMA ini. Dirinya –yang menyadari wajah bingung Jihoon– memukul kepala Jinyoung lalu berbisik –walaupun keras sekali hingga Jihoonpun dengar– di telinga sahabatnya, "Kau kira Jihoon sunbae tau namamu, huh?!"
Jihoon meringis ketika Jinyoung mengaduh akibat pukulan Woojin. Sedikit merasa bersalah karena ia pura-pura tak mengenali Jinyoung. Bukannya pura-pura sih, ia hanya terlalu terkejut dan setengah tak percaya kalau ternyata selama ini Bae Jinyoung mengetahui namanya.
"Annyeonghaseyo! Kami dari SMA yang sama dengan Jihoon sunbae. Namaku Park Woojin dan ini temanku, Bae Jinyoung."
Jihoon tersenyum kecil, Aku sudah tau kok, Jinyoung dan temannya dari SMP, Park Woojin.
Jihoon bisa mendengar Jisung yang berdiri di sampingnya terkikik, "Ah, bagaimana bisa kau melupakan junior-mu di SMA, Jihoon-ah? Tega sekali."
Baru saja Jihoon ingin mencubit pinggang Jisung, Sewoon muncul di tengah-tengahnya dan Jisung, memerintahkan mereka untuk menyingkir dari pintu karena mahasiswa baru akan keluar dari ruang club kesenian.
Mereka berempat menepi, Woojin dan Jinyoung di sebelah kiri pintu, sedangkan Jihoon dan Jisung di seberangnya. Jihoon tetap saja mencuri pandang ke arah Jinyoung meskipun terhalang mahasiswa-mahasiswa baru yang lewat. Bahkan senyumnya tak bisa hilang dari bibirnya.
Hingga seorang mahasiswa baru berambut light brown yang berjalan keluar ruangan berhenti di samping Jihoon dan berseru menatap Jinyoung, "Bae Jinyoung!"
Jihoon bisa melihat raut terkejut Jinyoung dari balik punggung mahasiswa yang sama mungil dengannya itu, "Daehwi-ya!"
"Ya! Aku mencarimu kemana-mana kau tau?!"
Jihoon menggigit bibir bawahnya ketika lelaki yang Jinyoung panggil 'Daehwi'itu memegang kedua tangan Jinyoung sambil melompat-lompat kecil, terlihat bahagia sekali.
Tawa Jinyoung membuat hati Jihoon semakin panas. Sejak kapan lelaki berwajah dingin bisa tertawa seperti itu?!
"Tadi aku melihatmu di panggung."
"Kenapa kau tidak menemuiku kalau begitu?"
"Eum.. kurasa mahasiswa populer ini sudah sangat sibuk dihari pertamanya."
Daehwi melipat keduanya tangannya di perut, beralih ke arah Woojin, "Pasti kau ya yang membuat Jinyoung tidak menemuiku, Woojin-ah?!"
Woojin memutar bola matanya jengah, "Salahkan aku terus, Lee Daehwi."
Lelaki mungil itu terkikik, menempatkan tubuh kecilnya diantara kedua sahabat baik itu, lalu memutar tubuhnya. Matanya membulat, baru menyadari ada Jihoon dan Jisung di sana, "Ah, annyeonghaseyo, Jihoon sunbae, Jisung sunbae!"
Jihoon sudah tak fokus. Entahlah, yang ia tau Daehwi dan Jisung bercakap-cakap sebentar sebelum ketiga junior-nya itu pamit dan melangkah pergi dengan Daehwi yang melingkarkan lengannya di lengan Jinyoung. Apa sebenarnya hubungan Jinyoung dengan Daehwi? Jihoon berperang hati sekarang.
.
.
Guanlin berdiri di sana. Berdiri bersandar pada dinding tak jauh dari ruang club kesenian. Sejak satu jam yang lalu mungkin? Bahkan sebelum dua orang berambut hitam dan merah membuat kegaduhan di koridor, melewatinya dan berhenti di depan pintu.
Ia melihat dan mendengar semua dengan jelas. Ketika Jihoon keluar dari ruangan dan menatap lelaki yang berambut hitam dengan pandangan berbinarnya. Atau mungkin pandangan penuh luka yang Jihoon perlihatkan ketika lelaki lain berambut light brown muncul dan bergelayut manja di lengan lelaki berambut hitam? Ia menyadari semuanya, sangat jelas.
"Apa mereka berdua pacaran, Jihoon-ah?"
Guanlin kembali menoleh ke arah kedua senior yang masih berdiri di depan pintu, yang ia lihat adalah Jihoon yang menggelengkan kepalanya lemas.
Lelaki keturunan Taiwan itu mendesah, "Hyung satu itu tak pernah berubah ya. Tetap saja gampang sekali ditebak." Ia menutup matanya sejenak, lalu menegakkan tubuhnya, berbalik dan pergi dari sana dengan tangan membawa bungkusan berwarna pink yang sedari tadi dibawanya.
.
.
"Kajja, Daehwi-ya. Kuantar kau pulang." Jinyoung mengulurkan tangannya ke arah Daehwi yang sedang duduk di rumput taman kampus. Woojin sudah pergi sejak 15 menit lalu.
"Kau tau sendiri aku tak suka berada di rumah." Daehwi merengut, bibirnya maju beberapa senti. Tapi tetap saja ia meraih tangan Jinyoung yang terulur. Setelah menepuk sebentar celananya, ia melingkarkan tangannya ke lengan Jinyoung seperti biasa, "Kau akan mengantarku kan?"
Jinyoung mengangguk, "Tentu saja."
Senyum Daehwi mengembang, "Baiklah. Kajja, Baejinnie hyung!"
Lelaki yang lebih tinggi merengut, "Kalau ada maunya saja kau memanggilku 'hyung'." Ia sedikit menggelengkan kepalanya ketika Daehwi menyeret lengannya, persis seperti anak kecil.
Ya. Daehwi itu siswa yang tergolong cerdas. Di SMP dulu ia masuk di kelas percepatan sehingga hanya memerlukan waktu dua tahun untuk ia menyelesaikan sekolah menengah pertamanya. Jadilah ia bisa satu angkatan dengan Jinyoung di SMA.
"Oh ya, kukira kau tak tertarik dengan Sains, tapi sekarang kau malah masuk di Fakultas Sains." Daehwi membuka mulutnya ketika mereka berdua berhenti di lampu merah. Menunggu untuk menyeberang jalan dengan para pejalan kaki lainnya.
Jinyoung hanya tertawa kecil sebagai jawabannya. Tak perlu jawaban bukan? Sudah jelas bahwa ia akan mengikuti lelaki mungil itu kemana saja. Masuk ke Fakultas yang tidak ia sukai demi lelaki itupun tanpa banyak berpikir Jinyoung lakukan. Ya, seperti saat ini.
"Jinyoung-ah.."
Jinyoung menoleh ke arah Daehwi yang bermain dengan lengan kanan miliknya dengan sedikit menunduk. Argh, Jinyoung gemas sekali. Ia menggerakkan lengan kanannya yang membuat lelaki mungil itu mengangkat kepala dan menatapnya, "Ada apa, Lee Daehwi?"
Daehwi menatap Jinyoung ragu, tangannya tetap melingkar rapat di lengan kanan si Bae, "Eum.. tentang pertaanyanmu dulu.. aku janji akan menjawabnya ketika kita masuk Universitas yang sama bukan?"
Jinyoung tampak berpikir sebentar. Oh, pertanyaan yang itu ya?
"Begini.. eum.." Jinyoung melihat lelaki mungil itu bergumam dan menggigit bibir bawahnya.
"Jinyoung-ah.. aku.. eumm.. begini.."
"Hey." Jinyoung tersenyum, mengacak pelan rambut halus milik si lelaki manis, "Kalau belum mau jawab tidak apa-apa kok."
Hati Daehwi menghangat melihat senyuman itu. Ah, Daehwi benar-benar tak bisa melihat senyum itu luntur dari bibir Jinyoung. Lelaki manis itu kembali tersenyum ceria yang membuat Jinyoung tak bisa untuk tidak mencubit pipi putih miliknya. Keduanya melanjutkan perjalanan yang sempat terhenti, tak lupa dengan lengan Daehwi yang tetap pada posisinya sedari tadi.
"Oh ya, Jinyoung-ah?"
"Eum?"
"Aku senang kita bisa masuk Universitas yang sama."
–dan maafkan aku..
.
.
TING!
Park Jihoon melangkahkan kakinya keluar ketika lift berhenti di lantai lima. Wajahnya nampak lesu. Hari ini merupakan hari yang panjang dan melelahkan untuknya. Dirinya ingin cepat-cepat mandi lalu bergelung di atas kasur bersama boneka beruangnya. Ia menutup mata sembari berjalan menuju ruangannya. Masa bodoh, ini pukul sebelas lewat dua puluh menit, tak ada siapa-siapa, mungkin sudah pada tidur.
"Bagaimana bisa kau berjalan dengan mata tertutup, Jihoon hyung?"
Mata Jihoon kembali terbuka ketika suara seseorang masuk ke pendengarannya. Menemukan seorang lelaki tinggi berdiri menyandar di pintu bernomor 57, ruangan milik Jihoon.
"Nuguseyo?" Jihoon mendekat dan bertanya pada lelaki yang menurutnya asing itu.
Lelaki itu bersidekap, menegakkan tubuhnya ketika Jihoon sudah berdiri di depannya, "Sudah kuduga kau melupakanku." Ia mendesah sebentar sebelum melanjutkan perkataannya, "Naya. Lai Guanlin."
Mata Jihoon melotot, "Guanlin?! Lai Guanlin?! Kau Guanlin?!" Tak cukup percaya, ia meraba pipi lelaki di depannya, ia tepuk sekali lalu mencubitnya lumayan keras yang membuat Guanlin mengaduh, "Benarkah kau Guanlin?! Hey, kemana perginya pipi gemukmu?!"
Guanlin melepas paksa tangan Jihoon dari pipinya, "Ayolah, hyung. Sudah enam tahun lebih dan yang kau ingat hanya pipi gemukku?!"
Yang lebih tua terkekeh. Benar juga, sudah enam tahun lebih ia tidak bertemu dengan adik kecilnya ini. Ah, benarkah sekarang Guanlin masihlah seorang adik kecil baginya? Lihatlah postur tubuh Guanlin yang sekarang jauh lebih tinggi darinya.
"Bagaimana bisa sekarang kau setinggi ini, Gualin-ah? Dulu kau setinggi ini." Jihoon meletakkan telapak tangannya di bahunya. Tawanya semakin lebar ketika melihat bibir Guanlin yang cemberut.
"Tapi kau juga semakin tampan sekarang. Wuah.. tampan sekali!"
Guanlin menahan napas ketika hyungnya itu menepuk-nepuk kepalanya beberapa kali. Perasaannya membuncah.
Guanlin ingat, enam tahun yang lalu ketika Jihoon meninggalkannya, ia tak menangis, ia hanya menyimpan semuanya dalam hati, perasaan sedihnya. Dan selama enam tahun itu juga ia berhasil menutupi rasa sakit itu, hidup dengan normal seperti dulu sebelum ia mengenal lelaki itu. Dan sekarang, ketika ia bisa merasakan kembali kehadiran Jihoon, perasaan luar biasa lega menghampirinya. Dan ia tak bisa lagi menanggung perasaan itu. Rasa rindunya pada Jihoon.
"Jihoon hyung.. I miss you so much.."
Guanlin tak sadar kapan ia mulai merengkuh tubuh mungil itu di dadanya. Tak sadar kapan ia menyamankan kepalanya di pundak yang dulu menjadi tempat favoritnya melepas penat. Dan ia sama sekali tak memikirkan kemeja Jihoon yang basah karena air matanya.
Jihoon awalnya terkejut ketika lelaki itu memeluknya erat. Tapi ketika ia merasakan kemeja bagian bahunya basah disusul dengan isakan pelan Guanlin, ia tak bisa untuk tidak ikut meneteskan air matanya. Ia yang salah disini. Ia yang enam tahun meninggalkan Guanlin, bahkan ketika lelaki itu masih bersedih atas kematian ibunya. Ia melingkarkan kedua lengannya di pinggang Guanlin dan mengelus punggung tegapnya pelan sembari berbisik berulang-ulang, "Maafkan aku, Guanlin-ah.."
.
.
Chapter one, END.
.
.
Author's Note:
Hai Hai, kembali lagi bersama saya dengan Chapter satu yang saya bawa~ mulai kebuka ya hubungan mereka berempat keke~
Oh ya, aku bawa-bawa Fakultas Sains soalnya lagi demam 2Moons The Series-nya Thailand wkwk.. mungkin ada juga yang nonton XD
Btw, Panwink sama JinHwi kapel menggila di pemotretan '1st Look' huweee TT Jihoon tiduran di perutnya si Guanlin apa-apaan ituhh TT Kagak sabar bet lah nunggu Wanna One nongol di screen lagi
Udah itu aja kkk~ Oh ya, terimakasih banyak yang udah klik Favorit, Following dan yang Review. Lopyu, gaes #LoveSign
Review lagi boleh? XD
SEE YA~
.
Omake
.
Guanlin kecil menyembunyikan tubuh mungilnya di belakang sang ibu ketika seorang wanita berusia tiga puluhan turun dari mobil dengan memeluk lelaki kecil lain seusianya. Dua bocah itu saling melirik dari balik tubuh kedua wanita di sana.
"Guanlin, ayo, sapalah teman barumu. Dia Jihoon, dia baru sampai dari Korea." Guanlin sedikit menahan tubuhnya ketika ibunya menariknya ke depan. Masih merasa asing dengan dua orang beda usia di hadapannya.
"Jihoon-ah, dia teman barumu. Namanya Guanlin. Ayo, sapalah dia." Inilah yang membuat Guanlin ragu. Wanita itu berbicara dengan bahasa yang tidak ia mengerti.
Bocah lelaki lain yang berada di sana perlahan melangkah maju, berhadapan dengan Guanlin. Guanlin sempat mengagumi paras bocah itu, manis sekali, wajahnya juga tampak bersahabat.
"Hai.. Guanlin." Guanlin bisa melihat bocah itu mengulurkan tangan ke arahnya, mengajaknya berjabat tangan. Ketika Guanlin menyambut tangan mungil itu, tangan lain bocah itu menepuk dadanya sendiri sekali lalu menyebutkan namanya, "Jihoon."
Guanlin kecil tersenyum, menunjukkan gigi-gigi mungilnya. Kini ganti dirinya yang menepuk dadanya sambil menyebut namanya sendiri, "Guanlin."
Dua wanita dewasa sana bertukar senyum. Manis sekali kedua putra mereka. Mereka tau bagaimana cara mereka untuk memulai saling mengenal walau mereka tak mengetahui bahasa masing-masing.
.
