Yang Kedua

Cast : Kai, Sehun, etc.

Pertama aku mau jawab salah satu review di ff ini dulu dia bilang ada beberapa kejanggalan dari ffku, ffku mungkin emang absurd banget sih jadi aku ga bela diri kalau hasilnya memang ancur.

Nama Jongin yang tiba-tiba muncul di tengah cerita ( yang ini aku akui, memang murni kesalahanku, typo karena ga di edit. Kebiasaanku yang nulis cerita dengan nama Jongin dan bukan kai juga kadang buat aku lupa diri, hehe... intinya tetap aja sih, ini kesalahanku saat ngetik n ga aku cek lagi saat publish )

Sehun ga nolak waktu di ajak ena-ena ( ekhem, setting ceritanya di Hamburg ( Jerman ) n kai di dalam cerita ( meski ga aku gambarin dengan jelas tapi ada tersirat di kalimat 'Baekhyun memang bilang padanya kalau kemungkinan hal ini akan terjadi mengingat Kai yang tinggal dan dibesarkan disana, bukan tidak mungkin budaya barat jauh lebih merasuk di dalam dirinya' ) Kai di sana penganut paham kebebasan, masalah yang ekhem di saat pertama bertemu untuknya di ff ini merupakan hal biasa dan Sehun mencoba memahami itu karena itu ia ga nolak ) kalo settingnya aku ngambil di Ina, mungkin hal itu ga akan terjadi. Hehehe...

Terakhir soal berteriak tanpa suara gimana caranya ? pernah ga kamu membuka mulutmu dengan lebar tapi ga mengeluarkan suara apapun dan hanya mengeluarkan teriakan dari dalam pikiranmu? Seperti itulah yang aku gambarin di epep ini. Kalo belum pernah, coba aja. Aku pernah mencoba saat lagi pusing dengan pekerjaan n ga bisa teriak ( karena masih di lingkungan kantor ) jadi aku hanya berteriak di dalam hati doang.

Maaf kalo jawabannya ga muasin, nulis aja hasilnya absurd, mungkin cara jelasinnya juga ga bagus.

Sequel ini aku buat saat lagi dengerin lagu-lagunya Kendji, liat muka gantengnya aku jadi ngebayangin Jongin seperti itu, wkwkwk

Alurnya mungkin akan berjalan dengan cepat lagi.

No edit, typo bertebaran dengan cerita yang absurd.

KaiHun Lovea

.

.

.

.

.

.

Sudah sebulan Sehun tinggal di mansion milik Kai, dan selama itu kehidupan mereka bisa di bilang telah memiliki banyak kemajuan. Sehun sudah tidak kaget lagi dengan kebiasaan Kai yang suka tidur dalam keadaan telanjang ataupun kebiasaannya yang tak pernah mengenakan handuk setiap kali ia keluar dari kamar mandi. Begitupun dengan Kai yang juga menerima semua sifat Sehun, Sehun itu selain orangnya tak pernah rapi ia juga suka pelupa dengan barang-barang yang ia letakkan, dan Kai tak pernah memprotes, tanpa banyak kata ia hanya akan membeli kembali semua barang yang Sehun hilangkan. Hal ini membuat Sehun sering bertanya-tanya tentang seberapa banyak sebenarnya harta yang Kai miliki. Namun setiap kali ia bertanya, Kai hanya akan terus menjawab kalau harta kekayaannya cukup untuk menghidupi dirinya sendiri dan Sehun. Kai juga tak pernah menyinggung soal pekerjaannya, ia hanya akan mengatakan kalau apa yang ia kerjakan itu bukanlah bisnis yang kotor.

Di luar masalah pekerjaan dan harta kekayaan Kai yang tidak Sehun ketahui, hal-hal yang lain berjalan dengan baik, hubungan mereka jelas lebih bisa dikatakan berkembang dengan pesat ke arah yang lebih serius lagi. Dan soal aktifitas ranjang mereka juga, berjalan dengan sangat baik. Kai bukan type orang yang akan melakukan sex seminggu sekali, ia adalah type pria yang suka melakukan sex marathon, kapanpun ia mau, ia akan menarik tangan Sehun dan mengajaknya bercinta, tak peduli apakah itu tiga atau empat kali sehari, yang jelas Sehun paham kalau Kai itu orang yang sangat mesum.

Tapi meski Kai itu sangat mesum, Sehun bahagia bisa bersamanya, Kai telah membuktikan bagaimana ia selalu menomor satukan Sehun dibandingkan hal yang lain, termasuk masalah pekerjaan. Sehun itu sangat manja saat berada di samping Kai, karena itu ia sering merengek tak setuju kalau Kai ingin meninggalkannya untuk pergi bekerja. Kalau Sehun mulai merengek, maka Kai akan melepas dasi dan kemejanya dan kemudian memeluk Sehun, menenangkannya dan mengatakan kalau ia tak jadi pergi bekerja. Sehun senang tentu saja, walau ada sedikit rasa bersalah di hatinya karena telah membuat Kai tidak jadi pergi bekerja. Tapi Sehun berusaha menepis rasa bersalah itu dan meyakinkan dirinya bahwa semuanya baik-baik saja dengan Kai tetap berada di sampingnya.

Akan tetapi hal itu tak berlangsung lama, kebahagiaan yang Sehun kira akan terus berlanjut hingga akhir, ternyata harus menemui cobaan tepat setelah sebulan Sehun berada di sana, meninggalkan kehidupannya di Korea dan tentunya juga kuliahnya.

Semua itu berawal dari Kai yang pergi bekerja di pagi hari saat Sehun masih tertidur pulas setelah percintaan panjang mereka. Sehun tentu saja merasa marah karena Kai pergi tanpa pamit darinya. Namun, saat ia berniat menyusul Kai ke kantornya yang sebenarnya ia sendiri tak tahu di mana letaknya tersebut, seorang pria yang tak ia kenal datang ke mansion itu dengan raut wajah muram. Sehun yang menyambut tamu itu tampak gelisah karena tamunya itu terus menerus menatapnya dengan sorot mata tajam.

"Apa kau yang bernama Sehun?" suara orang itu terdengar serak.

Sehun hanya mengangguk pelan.

Pria itu mengamatinya lagi dengan lebih seksama hingga Sehun merasa risih menerima tatapan itu.

"Yah, aku akui kau memang sangat manis, pantas saja Kai jatuh cinta padamu."

Wajah Sehun merona mendengar pujian dari pria itu, ia makin menundukkan kepalanya, takut kalau pria itu akan melihat wajahnya yang merona.

"Tapi apa dengan membuat Kai jatuh cinta padamu, kau pikir kau pantas atas segala yang ada di dirinya?"

"Apa?" Sehun menegakkan kepalanya dan menatap pria itu dengan tatapan tak mengerti.

"Apa kau pikir kau pantas mengatur hidupnya? Melarangnya pergi ke kantor dan terus-menerus memaksanya berada di sini bersamamu?"

"Aku tidak memaksanya," bantah Sehun.

"Begitukah?" sahut pria itu dengan raut wajah makin suram, "Tapi yang aku dengar justru sebaliknya, setiap kali aku menelpon Kai dan memintanya untuk pergi ke kantor, ia selalu bilang, Sehun melarangku pergi, Sehun sakit, dan alasan-alasan lain yang intinya sama saja, selalu kau dan kau yang menjadi alasannya."

Sehun bungkam.

"Apa kau tak sadar posisimu?"

"Apa Kai di pecat dari pekerjaannya?" tanya Sehun, ia tampak gelisah.

"Di pecat?" pria itu mengerutkan keningnya. "Siapa yang akan memecat pemilik perusahaan? Tidak, ia tidak di pecat."

Sehun menghembuskan napas lega, "Baguslah kalau begitu."

Pria itu menggeram kesal, "Apa kau tidak mengerti juga, dia memang tak akan pernah di pecat karena ia pemilik perusahaan, tapi banyak pekerjaan yang terbengkalai karena dirinya yang lebih memilih mengutamakan dirimu, banyak kontrak-kontrak yang dengan amat terpaksa harus dibatalkan karena sang pemilik tidak ada di sana. Dan kau pasti tak tahu berapa kerugian yang perusahaan terima karena itu?" pria itu mengusap wajahnya yang terdapat beberapa keriput. "Aku sudah lama bersama Kai, bahkan jauh sebelum kau muncul di kehidupannya, sebelum kau muncul hal ini tidak pernah terjadi, perusahaan tak pernah mengalami kerugian, kalau hal ini terus di biarkan maka perusahaan yang susah payah Kai bangun, akan bangkrut."

Sehun mengepalkan jemarinya, "Berapa..." ia menelan ludah sebelum menatap pria itu lagi. "Berapa banyak kerugian yang harus ia tanggung?"

"Kenapa kau ingin tahu? Kau tak akan bisa menggantinya meskipun kau bekerja selama puluhan tahun di sini. Itu bukan jumlah uang yang kecil."

Sehun menunduk lagi, "Lalu apa yang harus aku lakukan untuk membantu Kai?"

Pria itu mendengus, "Kalau kau cukup pintar, kau pasti mengerti apa yang harus kau lakukan." Pria itu berbalik dan melangkah menjauh. "Jangan halangi Kai lagi."

Begitu pria itu pergi, Sehun jatuh terduduk di lantai, ia menangis sesenggukan disana. Inikah balasan yang ia terima saat ia menginginkan menjadi yang nomor satu bagi Kai? Rasanya bahkan lebih pedih dibandingkan saat orang tuanya lebih menomorsatukan Luhan dibanding dirinya.

"Hiks... Kai, maaf..." Sehun menepuk-nepuk dadanya sendiri, berharap rasa sakit itu akan berkurang.

Ketika tangisnya mulai reda, Sehun berjalan perlahan menuju kamar yang selama ini ia tempati bersama Kai, ia mengambil ranselnya dan memasukkan beberapa helai pakaian yang dulunya ia bawa saat pergi ke tempat ini. Setelah merasa yakin tak ada barangnya yang tertinggal, Sehun keluar dari kamar itu. Ia beruntung karena di pagi hari setelah membersihkan ruangan dan menyiapkan sarapan, para pelayan di mansion ini akan kembali ke bangunan yang berada di belakang mansion dan baru akan kembali saat akan menyiapkan makan siang, hingga Sehun bisa pergi dengan bebas dari mansion ini tanpa ada satupun orang yang menyadarinya.

Ya, Sehun memutuskan untuk pergi dari kehidupan seorang Kai, ia tahu apa yang dikatakan pria tadi benar, ia yang telah mengusik kehidupan Kai, ia juga yang telah membuat Kai harus menanggung kerugian yang di alami perusahaannya, semua ini karena dirinya, dirinya yang egois dan ingin selalu menjadi nomor satu. Dan untuk menebus semua kesalahannya itu Sehun harus pergi, pergi menjauh dari kehidupan Kai dan tak pernah muncul lagi di hadapan Kai.

.

.

.

.

.

.

"Apa?" Kai melemparkan berkas di tangannya begitu saja ke atas meja. "Uncle menemui Sehun di mansion?"

"Ya, Kai."

"Tapi kenapa?" tanya Jongin.

"Aku hanya ingin memberinya penjelasan, kalau ia tak bisa terus-terusan bersikap seperti itu padamu Kai."

"Ya, tapi kenapa uncle harus pergi kesana tanpa sepengetahuanku?"

"Aku harus melakukannya Kai, aku tahu kau mencintainya dan kau pasti akan membelanya saat aku memintanya untuk memberikan pengertiannya kalau kau juga butuh untuk bekerja di perusahaan ini."

Kai memijit keningnya, ia tahu apa yang di katakan pria di depannya ini benar, ia tak bisa terus-terusan berada di rumah dan mengabaikan perusahaannya. "Apa ia mengerti?"

"Entahlah, ia hanya diam saat aku mengatakan hal itu."

"Ya Tuhan, ku harap Sehun tidak salah paham padaku," Kai dengan cepat mengambil handphonenya dan mencoba menghubungi Sehun. Tidak aktif. Ia kembali mencoba menelpon ke mansionnya namun ternyata tak ada yang mengangkat telpon darinya.

"Harusnya uncle membiarkan aku sendiri yang menjelaskannya pada Sehun, ia pasti sedang marah padaku."

"Tapi Kai, ia sudah keterlaluan padamu..."

"Dia kekasihku," Sela Kai. "Uncle tak seharusnya ikut campur dengan masalah pribadiku." Kai bangkit dari duduknya.

"Kau mau kemana Kai? Sebentar lagi rapat akan di mulai."

Kai mengerang pelan, sejujurnya ia ingin cepat pulang dan bertemu dengan Sehun, perasaannya sungguh tak enak, tapi ia tak bisa seenaknya pergi setelah hampir sebulan penuh mengabaikan perusahaannya dan membiarkan pria di depannya ini mengurusnya.

"Aku tak akan memaafkan uncle, kalau terjadi sesuatu pada Sehunku," desis Kai.

"Kau terlalu dibutakan oleh cintamu."

"Apa peduliku? Dia kekasihku dan aku tak suka orang lain mencampuri urusan pribadiku."

Pria itu bungkam.

Kai kembali duduk dan memejamkan matanya, berharap perasaan tak nyaman itu akan segera pergi dan lebih dari itu ia berharap semoga Sehun baik-baik saja di sana.

.

.

.

.

.

.

.

"Kau pulang?"

Luhan menoleh ke arah Sehun yang baru masuk ke dalam rumah dengan tampang lesu. "Ku kira setelah sebulan pergi tanpa kabar, kau sudah lupa jalan menuju pulang," sindirnya.

"Apa pedulimu," Sehun melirik pada Luhan yang bersandar dengan nyaman di dada Kris.

"Apa dia mencampakkanmu?" tanya Luhan lagi.

"Huh?" Sehun menatap kakaknya dengan tatapan tak mengerti.

"Pria itu, yang membuatmu pergi dari rumah, apa dia mencampakkanmu?"

Sehun mengerutkan keningnya, dari mana Luhan tahu kalau ia pergi menemui seorang pria? Ah, pasti Baekhyun yang membocorkannya. Kalau bukan dia siapa lagi? Tak ada yang mengetahui apa motif kepergiannya selain Baekhyun.

"Dia tidak mencampakkanku," ucap Sehun. Itu memang benar, Kai tidak pernah mencampakkannya, dirinyalah yang memutuskan untuk pergi dari kehidupan pria itu.

"Benarkah?" Luhan memeluk lengan Kris, terlihat sekali ia sengaja memanas-manasi Sehun. "Tapi melihatmu yang pulang dengan tampang sekusut itu, aku yakin dia telah mencampakkanmu."

"Tidak."

"Dia pasti sudah bosan denganmu," hina Luhan. "Milikmu pasti tak bisa memuaskannya karena itulah ia menendangmu keluar dari rumahnya."

Sehun menggeram, "Dia tidak mencampakkanku, justru akulah yang pergi meninggalkannya, dan kau," tunjuknya pada Luhan. "Bagaimana kalau Kris yang bosan denganmu?" Sehun menyeringai, "Bukankah kau sudah terlalu sering di pakai sebelum bertemu dengan Kris?"

"Kau..." geram Luhan.

"Apa?" tantang Sehun. "Aku hanya ingin mengatakan yang sebenarnya."

"Sehun..." ibunya yang baru datang tampak bingung melihat anaknya yang lagi-lagi adu mulut. "Kau baru datang dan langsung bicara seperti itu pada kakakmu?"

"Apa Ma? Aku hanya mengatakan yang sebenarnya, kalau ibu tidak percaya tanya saja pada teman-temannya di kampus, mereka pasti akan dengan senang hati..."

Plakk

Sehun menatap tak percaya pada ibunya yang baru saja menamparnya. "Apa itu bukan dirimu sendiri Sehun? pergi meninggalkan rumah tanpa pamit hanya untuk menemui seorang pria. Memalukan. Dan sekarang kau pulang setelah ia mencampakkanmu."

"Mama..." mata Sehun berkaca-kaca ketika menatap ibunya. "Mama memang tidak pernah memperhatikanku. Yang ada di pikiran Mama hanyalah Luhan, kenapa tidak sekalian saja kau buang aku atau tak usah melahirkanku. Bukankah dengan begitu mama akan puas. Mama hanya akan punya satu anak dan bukan dua."

Deg

"Sehun..."

"Aku benci mama..." Sehun berlari menuju kamarnya dan mengurung dirinya di dalam sana, meninggalkan ibunya dengan raut wajah bersalahnya.

Sebelum orang di dalam ruangan itu ada yang membuka suara, terdengar pintu luar di buka dengan kasar. Ketiganya sontak menoleh ke arah pintu dan melihat seorang pria tampan dan bertubuh tinggi berdiri di sana, keringat terlihat membasahi wajah dan juga lehernya yang jenjang. Diam-diam Luhan menelan ludah, pria di depannya ini sangat hot. Tapi siapa dia, wajahnya dan kulitnya mencerminkan kalau ia bukan orang yang berasal dari negaranya.

"Sehun... di mana Sehun..." pria itu tanpa di persilahkan langsung masuk ke dalam rumah.

"Siapa kau?" kali ini Kris yang bertanya.

"Aku kekasih Sehun."

"Kau tak bisa masuk ke rumah orang dengan begitu saja dan mengaku sebagai kekasih Sehun." Kris berdiri dan menghalangi langkah Kai.

Kai menggeram, ia mengambil sesuatu dari saku jasnya dan melemparnya kearah wajah Kris, namun dengan sigap Kris segera menangkapnya. Sebuah kartu nama. Dan Kris langsung mengamati nama yang tertera di situ.

Kim Kai.

Nama dan wajah pria itu terasa tak asing baginya jadi Kris sekali lagi mengamati pekerjaan yang tertera di sana. Ya Tuhan, billionaire tampan dari negara Jerman sedang ada di sini dan mencari adik dari kekasihnya.

"Aku tanya sekali lagi, di mana Sehun?"

Kris menunjuk ke arah tangga menuju lantai dua, dan tanpa bicara lagi Kai segera pergi meninggalkan ketiganya.

"Kau kenal siapa dia?" tanya Luhan pelan.

Kris menyerahkan kartu nama itu pada Luhan, pria berparas cantik itu langsung memekik pelan. "Ya Tuhan, jadi dia..." ia tak sanggup lagi meneruskan kata-katanya. Perasaan iri memenuhi hatinya, bagaimana bisa Sehun memikat pria yang jauh lebih kaya dan lebih tampan dari kekasihnya. Sial, kalau begini kan ia jadi kalah dari adiknya sendiri.

.

.

.

.

.

.

Suara pintu kamar yang terbuka makin membuat Sehun makin merapatkan selimutnya. "Kenapa lagi ma, kau mau membuangku?" tanyanya dengan suara serak.

"Bukankah kau yang justru ingin membuangku?"

Suara itu...

Sehun dengan cepat membuka selimutnya dan di sana, di ujung ranjang, berdiri sosok pria yang tengah menatapnya dengan tatapan penuh amarah.

"Kenapa kau pergi begitu saja Sehun? bukankah kau sudah berjanji padaku untuk terus bersamaku?"

"Aku..." Sehun memalingkan wajahnya. "Kenapa kau bisa ada di sini?"

"Kau pikir apa yang akan aku lakukan saat aku sedang rapat dan kemudian mendapat laporan dari pelayanku kalau kau pergi meninggalkan mansion? Aku langsung pergi menyusulmu kesini."

"Kau tak boleh," Sehun menggelengkan kepalanya. "Kau harus kembali." Sehun takut, perusahaan Kai akan kembali mengalami kerugian kalau pria itu pergi menemuinya.

"Itukah balasan yang aku terima, setelah aku berlari dari ruangan rapat, menyetir dengan ugal-ugalan dan kemudian pergi dengan pesawat pribadiku ke sini?"

Sehun menunduk, ia meremas selimutnya, "Tapi kau tak harus berada di sini Kai."

"Aku harus," ucap Kai, "Kekasihku ada di sini."

Sehun menggeleng. "Di sini bukan tempatmu, kau harus kembali ke tempatmu."

Kai menggeram, ia melepas jas dan dasinya sebelum melangkah menghampiri Sehun. "Tempatku ada di sini Sehun, di sampingmu."

Sehun dengan keras kepala menggelengkan kepalanya. "Bukan Kai, aku..."

Kesal dengan sifat keras kepala Sehun, Kai menjambak rambut Sehun, dengan kasar mendongakkan kepala Sehun dan mencium bibirnya dengan keras, satu tangannya meremas kuat dada Sehun.

"Akhhh... pelan-pelan Kai..." Sehun meringis dan berusaha mendorong tubuh Kai saat pria itu menarik kuat nipplenya dari balik kaosnya.

Kai melepaskan jambakannya di kepala Sehun, dengan kasar ia merobek kaos yang di pakai Sehun dan memelintir kedua nipplenya.

"Akhhh... Kai..." Sehun mencengkeram kedua lengan Kai, dadanya terasa ngilu karena perlakukan kasar pria itu.

"Kau harus di hukum karena berani meninggalkanku."

Tangan Kai menyentak kasar celana yang di pakai Sehun hingga pria manis itu telanjang di bawahnya. Tanpa peringatan dua jari Kai menerobos masuk ke dalam hole Sehun, pria manis itu menutup mulutnya dengan kedua tangannya, takut kalau ibu dan juga saudaranya mendengar jeritannya.

"Akhhh..."

Satu jari lagi dilesakkan Kai ke dalam holenya sementara tangannya yang lain mengocok keras kejantanan Sehun.

Kai membalikkan tubuh Sehun, membuka kancing celananya dan kemudian membebaskan miliknya yang sudah sepenuhnya menegang. Ia mengangkat pinggul Sehun dan dengan sekali hentakan yang kuat, miliknya yang besar dan panjang melesak masuk ke dalam hole Sehun yang sempit.

"Aaaakkkkhhhh..." Sehun tak kuasa menahan jeritannya, miliknya dipaksa meregang sampai batas maksimal, dan Kai tidak memberinya kesempatan untuk menyesuaikan diri karena ia langsung menghentaknya dengan keras dan cepat.

Tangan Kai meremas keras dada Sehun hingga berbekas kemerahan, ia menarik-narik nipplenya dan sesekali memelintirnya. "Akhhh... Kaiii.. pelan..." rintih Sehun lirih.

Kai melepaskan tangannya dari dada Sehun, ia beralih memeluk erat pinggang ramping Sehun sembari terus memaju mundurkan tubuhnya dengan cepat.

"Kaiiiii..." Sehun menoleh kebelakang dan Kai tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk melumat bibir Sehun dengan kasar. Sehun meremas dengan kuat seprai di bawahnya saat gerakan Kai terasa semakin brutal di holenya.

"Ahhhh..." keduanya mengerang saat akhirnya klimaks itu tiba.

Kai berguling dan membawa Sehun untuk berbaring di atasnya.

"Kau kasar sekali," Sehun memukul dada Kai saat akhirnya ia berhasil mengontrol napasnya.

"Itu hukuman untukmu karena berani meninggalkanku."

Sehun menunduk di dada Kai. "Aku tak ingin menjadi beban untukmu."

"Siapa yang mengatakan itu padamu? Kau bukan beban untukku." Kai mencengkeram pinggul Sehun dan melesakkan miliknya semakin dalam ke dalam hole Sehun yang ketat.

"Karena aku perusahaanmu mengalami kerugian."

"Siapa yang peduli dengan itu, uang masih bisa di cari, tapi cintamu dan juga tubuhmu hanya satu."

"Kai..." Sehun memegang pundak Kai dengan erat saat pria itu membawanya duduk dengan kejantanannya yang masih tertanam di dalam hole miliknya.

"Bergerak sayang," pintak Kai dengan suara serak.

Sehun melakukannya, ia menaik turunkan tubuhnya dengan tempo lambat.

"Aku tak peduli dengan kerugian yang aku alami, aku masih bisa mengatasi hal itu," tangan Kai meremas bokong Sehun dengan kuat. "Tapi aku tak bisa mengatasi sakit hatiku kalau kau pergi." Kai menciumi dada Sehun dan menghisap puncaknya dengan lembut. "Kau tak boleh pergi kemanapun. Tempatmu adalah disisiku. Kita akan terus hidup bersama-sama, dengan anak-anak kita juga kelak, hingga akhir."

Air mata merebak di pipi Sehun, ia membelai pipi Kai, sebelum mencium bibir pria itu dengan segenap perasaan bahagia yang membuncah di pipinya.

"Kai..."

"Ya..." gumam Kai seraya membantu Sehun menaik turunkan tubuhnya dengan cepat.

Sehun mengalungkan tangannya di leher Kai dan membisikkan kata-kata itu ditelinganya. "Aku mencintaimu."

.

.

.

.

.

.

.

END

Beneran end tanpa sequel lagi ya. Hahaha...

Terima kasih untuk semua yang udah review, di chapter ini mohon review lagi ya.

Untuk ka Juju Jongodult, Kapan epepnya dipublish kk thayank?

Apa nunggu Kila jadian dulu dengan cowo spanish? Hehehe...

Salam KaiHun Hardshipper

KaiHun Lovea