Axis Power Hetalia © Hidekaz Himaruya

If You Dare to Say the Thing; that I love You

by SeiYoshi

Rated : T+

A/N : judul hanya sebagai sebuah pelengkap; bukan sebagai perwakilan fanfiksi yang sebenarnya

Antologi karya singkat berisi bentuk penyelenggaraan terhadap #NulisRandom2k17 dengan pairing negara yang berbeda-beda di setiap drabble-nya.

.

[Bagian dua dari tiga]

.

Didedikasikan untuk kepuasan pribadi tanpa niat merugikan pihak manapun. Segala bentuk protes dan ketidakpuasan terhadap isi cerita akan dihapus tanpa menunggu persetujuan dari pihak bersangkutan.

Terima kasih!

.

.

.

.

.

Spanyol dan Belgia; [11/06]

11.03 PM

.

Sudah satu jam terakhir sejak Antonio terlarut dalam posisi yang tidak nyaman.

Pria Spaniard bergerak-gerak tidak nyaman dengan wajah pucat pasi yang menghiasi paras tampannya, membuat ujung tempurung lutut beradu pada permukaan bawah meja dan Lars mendelik penuh intimidasi dengan sebelah mata terbuka. Lovino yang duduk di sebelahnya dengan mulut penuh santapan tomat itu mendelik horor, merasa aneh dengan tingkahnya yang tidak biasa. Pria Italia menepuk bahunya gusar, bertitah dalam bahasa tersirat yang berkata untuk segera tenang.

"Pria cerutu itu akan mengusir kita jika kau tidak segera tenang. Kenapa kau bertingkah aneh sekali hari ini, bastard!"

Antonio bergeming dalam diam. Bagaimana mungkin dia bisa tenang … kan?

Seorang wanita keturunan Belgia menatapnya polos di hadapan, mengamit garpu dengan ujung steak yang menancap. Satu dua kali Antonio bisa melihat wanita pirang itu tertawa kecil melihat tingkah anehnya, Antonio sukses dibuat tersedak. Perasaannya semakin runyam dan hatinya seolah dipukul bertubi-tubi batu. Louis yang duduk di antara mereka berdehem begitu keras, Antonio sudah merasakan ancaman luar biasa dari Lars yang (masih) memelototinya kaku. Salahkan pakaian Laura yang terlalu terbuka. Salahkan wajah polosnya yang begitu manis dipandang. Antonio serasa ingin mendamprat kepalanya untuk segera tersadar dari pikiran-pikiran kotor.

Ada dia, Lovino sebagai kawannya, tiga orang keturunan Belanda (atau mungkin tidak; sebab masing-masing dari ketiganya lahir di tanah yang berbeda) dalam meja yang sama. Dia dihadapkan dengan wanita satu-satunya di antara mereka; duduk berhadap-hadapan. Rekan Italia duduk di sisi kanan, di depannya seorang Belanda tertua, dan di sisi meja kirinya terdapat pria Luxembourg yang makan menghadap mereka. Posisi yang tidak elit dan tidak strategis. Rasanya macam dia akan diinterogasi karena mendadak muncul di tengah acara makan malam rumah orang, atau mungkin, diinterogasi gara-gara acara yang sudah seperti lamaran.

"Jadi— uhuk." Pria cerutu yang disebutkan representatif Italia berdehem. "Mendadak sekali kau meminta untuk mengadakan acara makan malam bersama kami, Spanje." Mata hijaunya melirik sungkan ke arah Antonio yang sepertinya mati kutu untuk lanjut berkata. Antonio bodoh itu dengan polos hanya menyibak helai rambut belakangnya, menggaruknya canggung. Lovino mendelik, menyikut bahunya.

"Si. Bukankah tidak ada salahnya kita mengadakan makan malam bersama sekali-kali, Holandés? Siapa tahu bisa memperbaiki hubungan kita— haha—"

"Tidak lucu, Spanje."

Baiklah. Antonio rasa dia benar-benar mati kutu sekarang.

Laura Peeters melirik gelisah pada suasana yang mendadak tidak nyaman. "Sudahlah, Broer. Mungkin Antonio memang hanya berniat mengajak kita makan malam—" itu katanya disertai anggukan singkat dari seorang Louis Jansen. Adik bungsu Holandés itu hanya tidak mau mencari-cari kelakar yang akan membuat otaknya pusing, yang penting dia hanya ingin makan seperti hari biasanya. Lars memutar bola mata dan duduk bersender pada kursinya, mengambil cerutu, menghisapnya seperti biasa. Masih menatap Spaniard dengan tatapan (sengit) mengintrogasi.

"Kuanggap kedatanganmu memang hanya untuk sekedar mengajak kami makan malam. Jangan lupa semua tanggungan makan malam hari ini diserahkan kepadamu, Spanje."

"No, maksudku— sebenarnya aku ada pembicaraan penting."

"Huh?"

"Menurutmu bagaimana jika aku menikahi Laura?"

Krak.

Rasanya baru saja Lars mematahkan cerutu dan Louis membanting pisau makannya kasar ke atas permukaan meja. Wajah Laura mendadak merah padam, Lovino di sebelahnya meringis karena kebodohannya.

.

.

.

.

Italia Selatan dan Italia Utara; [12/06]

11.24 PM

.

Belasan (atau mungkin ratusan) tahun hidup bersama, Lovino Vargas sudah pasti akan memahami betapa perangai baik buruk adiknya. Seperti kelakuannya yang kelihatan lemah, misalnya. Siapa saja pasti akan berpikiran bahwa Feliciano adalah sosok yang pantas disandingi sebagai sosok perempuan— coret. Mau bagaimana pun Feliciano tetaplah seorang pria, dan Lovino rasa kata-katanya yang barusan agak keterlaluan. Lagipula bungsu Vargas itu masih senang menggodai wanita, Lovino mafhum. Tapi di balik itu semua Lovino tahu adiknya masih memiliki nilai positif lain— di samping keahliannya dalam berkarya lukis.

"Ve~ Fratello, lihatlah aku melukis siapa!"

Dia bukannya suka, namun tidak bisa bilang benci. Feliciano Vargas tetaplah adiknya.

Helai legam kecoklatan yang mendayu-dayu diterpa angin sedikit membuat sudut bibir Lovino tergerak melengkung senyuman, Feliciano datang dengan berlarian, membawakan seperangkat lengkap alat menggambar dalam tangan. Di sisi tangannya dia memampang sebuah lukisan wajah dirinya; bersama Feliciano sendiri, dan Romulus Vargas. Lukisan yang seakan membuatnya bernostalgia. Namun sedetik senyum itu senyap ketika melihat Feliciano memandangnya dengan tatapan berbinar— ouch. Tidak menyangka Lovino akan tersenyum segitunya hanya karena melihat hasil karyanya. Lovino membuang muka.

"Si— gambarmu semakin berkembang, kuakui." Lovino berkata dengan nada sengaja dibesarkan, mengharapkan senyum menyebalkan adiknya untuk segera enyah. Dia hanya tidak suka dipandangi demikian. Risih. Feliciano dengan senyum yang masih terkembang menggumamkan 've' seperti biasa.

"Aku juga menggambar Ludwig. Kau bisa melihatnya, ve!"

Feliciano membuka sketsa yang satunya. Lovino dengan nada mendecih tertahan menyembunyikan kekaguman, "kenapa pula kau harus menggambar potato bastard itu—"

"Kenapa? Karena dia mengingatkanku pada Shinsei Roma, ve!"

Lovino tertegun cukup lama. Kata itu seakan mengembalikannya pada kenyataan yang berbeda.

Dia mungkin tidak pernah menemui; atau mungkin tidak mengetahui. Sosok seorang Jermanik yang sama. Yang mengingatkan akan masa lalu mereka— bukan, masa lalu adiknya. Menamparnya telak dalam satu hantaman; ada bayangan yang menghilang tanpa jejak dan menciptakan dasar lubang dalam pada dirinya. Seharusnya dia mengenalnya sebagai sosok Shinsei; melainkan sebagai seorang bastard— bagi dirinya. Dan adiknya. Jika saja Feliciano cepat mengetahui kenyataan apa yang sebenarnya tengah terjadi.

Pucat; Feliciano ikut larut dalam pikiran yang tidak mengenakkan. Punggungnya berbalik menjauh meninggalkan sang kakak bediri termanggu di sana. Mengingat Shinsei sama saja mengingat masa lalu menyedihkannya.

Lovino berdalih, kukuh menyusul. Tangannya mengelus pucuk kepala sang adik dari arah belakang punggung, setelah tepat bersanding di sebelahnya. Biner yang seolah enyah menatap itu seketika membuat kedua mata Feliciano mengerjap tidak percaya, mendekap papan lukis semakin erat dalam pelukan.

"Kau menangis?"

"No, bukan— aku … tidak … air mataku, mengalir begitu saja— tanpa sebab."

Tapi Feliciano memang tidak bisa berbohong di hadapan kakaknya. Sulung yang sedikit lebih tinggi ketimbang yang lebih muda, membalik pundak Feliciano kemudian mendekapnya.

"Aku tahu. Sangat tahu."

Lovino tidak mengerti apa-apa lagi. Tidak mengerti apa yang tengah dilakukan; ataupun dibicarakan. Walaupun sejujurnya dia tidak mengerti apapun yang terjadi; bagaikan sebuah telepati yang sudah terikat antara keduanya, perasaan Feliciano sampai ke relung hatinya.

.

.

.

.

Korea Selatan dan Korea Utara; [13/06]

11.24 PM

.

Tanah 38th Parallel masih saja bergejolak seperti hari-hari yang lalu. Beberapa prajurit sisi selatan sibuk dengan amunisi, mengisinya dengan tergesa-gesa, carut marut dan membuat beberapa timah lonjong berujung runcing tercecer ke atas tanah. Satu set peledak tangan dilontarkan ke udara dan Yong Soo di antara para prajurit negara menutup telinganya.

"Tiarap!"

Satu ledakan di atas udara meluncurkan kepulan asap pekat dan beberapa tubuh melayang sebagai daun kering terhempas. Satu tubuh jatuh tepat di hadapan Yong Soo di balik keping besar batu, memaksanya menahan napas. Melihat cara mati anggota militernya yang begitu, terkadang membuat Yong Soo berpikir sepatutnya mensyukuri status immortal-nya. Satu derap kaki terdengar dari arah belakang. Amunisi sudah terisi sempurna, tinggal menembak tepat di antara mata.

"Keluar."

Yong Soo mengerjap untuk menahan tangannya menarik pelatuk. Suara berat dari balik batu (sekali lagi) membuat napasnya tertahan menderu. Yong Soo enggan untuk berbalik. Enggan untuk menyapa. Jika dia punya pilihan, maka dia hanya perlu menembak mati orang itu— jika seandainya, bisa. Dua menit lebih hanyut dalam keheningan dan tanpa jawaban dari negara selatan, wajah yang serupa menggerling kesal dan bersiap menarik pelatuk.

"Aku hitung sampai tiga. Tidak keluar juga, kulubangi kepalamu."

"Jasik, kau tidak perlu sampai melakukan hal seperti itu padaku!" Yong Soo menjerit histeris, melompat keluar dari balik perlindungan. Untung hanya beberapa peluru yang tercecer dari balik celana, bukan pistolnya. Yong Soo menatap menyebalkan ke arah representatif lawan— kawan sebrang tanahnya (coret), atau kau bisa menyebutnya;

Im Hyung Soo. Kakak kembarnya.

"Ucapan selamat datang yang sama sekali tidak menyenangkan, aku baru sampai dan kau langsung meledakkan bom sialmu, Hyung."

"Cukup main-mainnya. Aku kemari untuk menghabisimu."

"Hee? Kenapa begitu— apa kau sama sekali tidak mau memberikan satu pelukan, atau barang apapun dari tanah utara? Mungkin hari ini jadi hari terakhir kita bertemu sebelum aku masuk rumah sakit—"

Hyung Soo tanpa berkata mengarahkan moncong pistol ke tempurungnya.

"— kalau begitu, setidaknya biarkan aku memegang dadamu seperti yang biasa kulakukan kepada Kiku."

Debuman keras sebagai jawaban setelah pernyataan, Yong Soo merasakan kepalanya terbentur menyakitkan ke tanah berbatu di bawahnya. Hyung Soo membanting tubuhnya; tidak sekedar mengancam dengan melubangi kepalanya lagi, duduk kasar di atas tubuhnya dengan sengaja memberat-beratkan tubuh. Sebilah pisau menggaris di pertengahan nadi leher, Yong Soo tidak sempat meringis dan menatap Hyung Soo dengan tatapan penuh kelabu. Kepalanya pusing. Untung sekali tangannya yang lemas masih menggenggam pistol sebagai pertahanan terakhir.

"Tidakkah kau berpikir lebih baik kita kembali seperti dulu?" Yong Soo bertanya dengan nada yang terlampau pelan, mentap hampa seseorang (atau lebih tepatnya negara) yang kini mendudukinya. Kosong. Pelatuk sudah siap ditarik kapan saja, mengarah ke pelipis lawannya.

Hyung Soo menggeleng. "Ini lebih baik. Aku tidak sudi bahkan jika harus mati; sampai negara busuk itu keluar dari tempatmu."

"— dan sampai kau mengusir para komunis itu dari tempatmu. Hahaha, lucu."

DOR

Awan yang berkabut akibat letupan bom pihak utara masih belum menyingkir menghalangi penglihatan, suara peluru dicabut bergema dan Yong Soo berdalih lehernya mungkin butuh waktu lama untuk dijahit sampai sembuh seutuhnya.

.

.

.

.

Rusia dan Amerika; [14/06]

10.17 PM

.

Di dunia ini, ada tiga kategori sosial dalam pembedaan laki-laki : Alfa, Beta, dan Omega. Alfa adalah kasta tertinggi di mana menempati status sebagai penguasa tertinggi di atas segalanya, seorang pendominan; pemimpin, tak terbantahan. Sementara jika Omega adalah kebalikannya (yang berarti pecundang dari segala pecundang; yang didominan, yang diperintahkan) maka Beta menempati posisi sebagai penyimbang, di tengah-tengah, di antara Alfa dan Omega yang bahasa lainnya adalah; laki-laki biasa.

Tidak perlu penjelasan lebih lanjut karena kau mungkin bisa membaca penjelasan tentang perbedaan kasta itu dari mana saja, mari kita persingkat waktu dengan penjabaran seadanya. Toh intinya, kalau diumpakan manusia pada umumnya, maka Omega itu sebagai 'perempuan' di antara laki-laki dan laki-laki. Yang disetubuhi, yang menikmati (coret) dan yang dihamili— oke, yang terkahir kasar.

Alfred F. Jones adalah segelintir orang di antara dua puluh persen populasi laki-laki yang menempati posisi Alfa. Seharunya. Kalau dipikir-pikir dia termasuk laki-laki yang puber cukup cepat, mengingat statusnya sebagai Alfa sudah diketahui di umurnya yang menginjak ke enam belas. Yeah. Lebih cepat satu tahun dari waktu yang seharusnya. Mungkin tontonan porno itu mempengaruhi perkembangan hormon.

Kenyataan yang indah. Jika saja;

"Aku mencintaimu, Alfred."

— bukan karena pernyataan jadi-jadian di siang bolong tanpa hujan tanpa badai membuatnya ragu apakah tampangnya lebih terlihat sebagai Beta biasa (atau lebih parahnya, Omega) ketimbang seorang Alfa.

Seorang pria dengan tubuh tinggi besar, mengamit syal birunya malu-malu; menyembunyikan perbatasan hidung ke dalam. Matanya melirik ragu ke arah Alfred dengan mulut terngangga lebar, cengo; membuat Mathias sontak menyikut lengannya dan Alfred penuh wibawa menutup mulut lalu berdehem nyaring. "Commie. Kau tahu ini hari apa? Kamis. Dua April. Kau telat sehari untuk merayakan April Fools."

"Nyet. Aku tidak sedang merayakan April Fools, Al. Aku serius."

Mendadak koridor jadi ajang kompetisi tertawa keras, sebelum Ivan tersenyum mengintimidasi dan semua mahluk di sana dibuat bungkam berjamaah. "Aku mencintaimu. Apa tampangku seidiot itu sehingga kau anggap yang tadi itu guyonan?" Satu pandangan penuh tidak mengerti dari Ivan ke Alfred, Gilbert meminta izin ke toilet dan Mathias kabur terbirit mengikuti. Tinggal mereka berdua. Alfred pucat pasi, salah bicara.

"No, Dude! Kau mengerti, kan, kita—" Alfred berdehem cukup keras untuk yang kesekian, tenggorokannya mendadak kering karena terlalu sering (berpura-pura) batuk dalam seharian, tertawa lucu. Dia mengutuk Mathias dan Gilbert yang sembarang kabur seenak jidat. "Aku Alfa, kau Alfa. Tidak akan ada yang dapat mendominan di antara kita."

"Lalu kenapa? Alfa dan Alfa bukan berarti tidak bisa berhubungan, da?"

"... is your head alright?"

Ivan memincingkan matanya, Alfred menatapnya penuh seringai bodoh-meremehkan-menyebalkan. Hubungan antara Alfa Omega saja bukan hal normal, sebab hubungan laki-laki dan laki-laki pada dasarnya sudah menyalahi kodrat. Apalagi Alfa dengan Alfa? Dude, itu semacam, homo di antara perkumpulan homo.

Jika saja Ivan tidak punya batas kesabaran, yakin dia sudah menempeleng kepalanya dengan pipa. "Aku juga ragu apakah otakku baik-baik saja," Ivan tertawa hambar, tersenyum childish (penuh arti) seperti biasa. "Bisa-bisanya aku menyatakan cinta pada capitalism pig sepertimu."

"HAHAHA. FUCK OFF, DUMBASS!"

Dan pernyataan hari itu masih jadi misteri; apakah berakhir serius menyatakan cinta atau tidak. Ivan Braginsky tepat melempar buku ke wajahnya sebelum kembali berjalan dengan perasaan runyam.

.

.

.

.

Perancis dan Manusia; [15/06]

10.48 PM

.

Mont Saint-Michel. Sebuah pulau pasang di mulut sungai Couesnon, tidak pernah melepas keindahan selama dua puluh empat jam. Lisa dengan kamera kamera seadanya, di atas kastil memotret pemandangan dari kejauhan, lantas membuatnya tidak berhenti untuk terus tersenyum. Hasil jepretan yang indah. Sayang sekali jika kunjungannya ke Perancis tidak membawa bekas apa-apa untuk kepulangannya ke Amerika nanti.

"Kau belum selesai memotret?"

Suara setengah tertawa dari sebelah tubuhnya membuat gadis pirang itu menyerucut, berhenti memotret karena merasa diinterupsi. Lisa meletakkan kamera tangan pada tasnya, mood memotret mendadak hilang.

"No, Lisa … aku bukannya melarangmu memotret."

Lisa menggeleng sungkan. "Tidak papa. Aku sudah banyak memotret." Gadis itu kemudian mengulum senyum, bimbang untuk menempatkan apa panggilan yang sesuai untuk pria di depannya ini. Katanya dia Perancis, tapi lucu rasanya memanggil seseorang dengan nama sebuah negara. Pria aneh yang ditemuinya pagi hari ketika berjalan di pelataran Avranches, salahnya yang tidak sengaja memotret pria itu yang malah-tahu-tahu-jadi menempel padanya. Lisa kembali memandang laut dengan diam, membiarkan rambut pendek untuk seukuran wanitanya terbang ditiup. Pria berjenggot yang tiba-tiba mengamit tangannya membuatnya tertoleh risih. Francis sadar dan tertawa sumringah.

"Kau mengingatkanku pada Jeanne."

"Jeanne?"

"Jeanne D'Arc." Francis dapat melihat seloroh kekagetan dari gadis di sampingnya, maka sebelum dia mengucapkan sederet kata, Francis menambahkan. "Wajahmu. Wajahmu mengingatkanku padanya."

Tidak ada yang dapat Lisa katakan karena sekarang otaknya terasa kosong. Mendengar nama Jeanne yang terbesit di otaknya adalah wanita yang terbakar hidup-hidup dengan cara mengerikan.

"Keinginanku terwujud."

"…?"

"Setiap melihatmu, aku pikir Tuhan sudah melakukan sesuatu yang luar biasa."

Angin berhembus kencang bersamaan dengan hilangnya pria itu dari pandangan. Lisa kaget hingga terheran-heran. Tidak ada penjelasan yang lebih masuk di akalnya, sebab dia mempertanyakan begini; apa yang sebenarnya pria itu ingin katakan padanya?

.

.

.

.

Inggris dan Spanyol; [16/06]

10.52 PM

.

"INGLATERAAAA!"

Dobrakan pintu tiba-tiba yang menginterupsi kegiatan sang ketua OSIS sontak membuat gelas teh dalam genggaman meluncur mulus— untung saja hanya isinya yang jatuh, atau suara ribut pecahan kaca akan mengundang orang lain untuk menyelidiki apa yang terjadi. Seorang latin masuk ke ruang OSIS dengan tidak sabaran, pakai acara mendobrak pintu segala; Arthur melengos anarkis dan menghardik.

"Bloddy Hellwhat are you doing, you git—"

"Kau sungguhan seorang Alfa?"

"Kenapa kau bertanya begitu?"

"KARENA AKU TIDAK PERCAYA, SIALAN!"

Antonio tahu-tahu sudah naik ke atas meja, demi menambah kesan syok-tidak menyangka-oh bullshit-nya, menarik kerah baju Arthur sebagai tambahan. Arthur yang tidak mengerti apa-apa, tahu-tahu didatangi dengan cara tidak mengenakkan, jelas ingin mengamuk. Apalagi ketika Antonio menyinggung masalah dia yang tidak percaya bahwa dirinya adalah seorang Alfa.

"Kau tidak percaya? Perlu bukti?"

Arthur angkuh, bersiap-siap membuka belahan kerah— atau bajunya kalau perlu, jika Antonio benar-benar tidak percaya pada kenyataan bahwa dirinya seorang Alfa. Arthur jelas bangga dengan statusnya itu. Seorang Alfa. Kasta tertinggi, hanya ditempati dua puluh persen populasi laki-laki. Cukup banyak— tapi sedikit jarang terlihat. Dia baru mendapat status Alfanya beberapa hari lalu ketika Francis berbaik hati memeriksakan tanda di lehernya. Antonio mendampratnya tanpa berkata-kata.

"KAU—"

"Arthur Kirkland si picis tidak mungkin seorang Alfa. Tidak mungkin, tidak mungkin—" Antonio merapal laknat dengan wajah pucat, mulai mundur perlahan dengan sempoyongan. Arthur memandang tingkah anehnya dengan pandangan penuh keringat kaku.

"Aku bahkan hanya seorang Beta— POKOKNYA AKU TIDAK PERLU PERCAYA SAMPAI AKU MELIHAT BUKTINYA LANGSUNG!"

"No— hei … tidak— HENTIKAAAAN!"

"Arthur, ada yang harus kubicarakan—"

Francis terhenti membuka pintu lebih lanjut ketika melihat pandangan tidak senonoh di depan mata. Ada sahabat Spanyol-nya yang menindih pria Inggris dengan baju setengah terbuka. Arthur pucat pasi di tempat, sama halnya dengan Antonio yang mulutnya sudah duluan berbusa.

"Maaf mengganggu. Silakan lanjutkan."

"FRANCIS, TOLONG JANGAN SALAH PAHAM—"

BLAM

Pintu di tutup bersamaan dengan jeritan penuh prihatin dari pria keturunan Inggris yang kemudian menendang wajah Antonio untuk menjauh. Francis pasti akan menyebar hoax dan berita aib mereka akan menampang di halaman depan majalah sekolah besok.

.

.

.

.

Belanda dan Indonesia; [17/06]

11.29 PM

.

Seorang lelaki darah Jermanik menatap horor langit-langit ruangan ketika merasakan ujung telapaknya bersentuhan dengan sesuatu yang tidak biasa. Sinar pagi yang tiba-tiba menyengat dari arah gorden jendela memaksanya memincingkan mata dan mengerjap-ngerjap kaku, mengumpulkan nyawa. Sebuah lingkar hitam dipastikan akan menghiasi wajah tampannya pagi ini sesuai ekspektasi tadi malam— Lars menyentuh kening dan memeriksa jam terdekat yang menunjuk waktu di angka delapan. Hari minggu. Libur dari pekerjaan. Balasan setelah lembur seharian semalaman kemarin.

"Lars?"

Sebuah suara mengaburkannya dari lamunan. Baru menyadari kesalahan posisi tangan yang awalnya berniat meraih cerutu, malah menyasar ke suatu benda yang hangat dan berdegup. Lars menyerngitkan dahi dalam, memproses loading otak yang sepertinya butuh waktu lama akibat nyawa yang belum sepenuhnya terkumpul.

— tunggu… apa?

"Akkkhh!"

Lars menjerit. Seorang wanita berbaring di sampingnya dengan keadaan (hampir) setengah telanjang, membuatnya merah padam bukan kepalang. Sejak kapan? Sejak kapan dia tidur dengan seorang wanita— seingatnya semalam hanya ada Rangga yang menemaninya bekerja, sekarang kenapa malah ada wanita oriental yang tersasar di kamarnya? Lars menepuk dahi pucat. Mulai gila apalagi mengetahui keadaan wanita yang demikian, sementara yang bersangkutan menaikkan sebelah alis memperhatikan tingkahnya yang tidak biasa.

"Kenapa kau berteriak seperti itu?"

"Verdomme! Jelas saja aku—"

Lars gelagapan. Mau menyebut dia seorang pedofil lah, mata duitan lah, Lars van Mogens tetaplah seorang laki-laki yang bisa bertindak sawan hanya karena menemukan wanita terlelap di sebelahnya. Tapi anehnya wajah yang kini menatapnya dengan pandangan ketidak mengertian, malah mengingatkannya pada seseorang.

"Rang … Rangga?"

"… siapa?"

Hening. Lars tidak mengerti harus bicara apa karena otaknya yang mendadak beku. Mungkin dia yang terlalu mabuk sampai mengigau wanita di sebelahnya ini Rangga. Rangga mana mungkin hanya dalam semalam bertransformasi menjadi wanita dadakan, dengan rambut panjang, lekuk tubuh pas dan— suara manis yang begitu menggoda didengar. Lars tertawa dengan pikiran kacau, mendamprat diri sendiri karena berpikir terlalu di luar nalar.

"Aku Indonesia."

Pernyataan yang membuat Lars terpukul telak dan membuatnya ingin lari dari kenyataan— oh, bukan. Dia lari sungguhan dari sana dan malah pingsan membentur meja.

.

"Tidurmu nyenyak, Tuan Londo?"

Deru napas tidak keruan membuat Lars menatap sekitar dengan pandangan tidak mengerti. Terbangun tidak elit dengan cara yang sama, kali ini Rangga yang menyapanya seperti biasa. Tidak ada lagi wanita. Tidak ada lagi Rangga versi gender swap. Lars mengerjap horor memastikan tidak ada kesalahan kali ini—pria Belanda itu kelewat senang mengetahui kenyataan kembali normal kemudian melompat syukur memeluk Rangga.

"Mimpi … jadi yang itu mimpi!?"

"Kau baik-baik saja—"

Rangga menatap ilfeel ke arah Lars yang sepertinya kelewatan tidak sehat setelah stress seharian bekerja, kali ini tangan yang awalnya cuma berniat memeluk bersentuh dengan sesuatu yang hangat untuk kedua kali (walaupun yang satunya lagi hanya di dalam mimpi.)

"Sorry— aku tidak bermaksud …"

"MESUM!"

PLAK

Sekarang tidak hanya lingkar mata, Lars pikir sebuah memar merah di pipi juga akan menghiasi kegiatannya seharian ini.

.

.

.

.

Denmark dan Norwegia; [18/06]

10.13 PM

.

"Kau ingat masa-masa kita menikah dulu?"

Seorang pria Norwegia menatap ke arah pembicara dengan pandangan merendah, melempar pandangan jijik dengan gurat ketidak mengertian yang tercekat jelas, 'apa?'— mata ungu bertabrakan dengan mata biru yang kemudian memandanganya penuh binar, Lukas segera mendamprat mulutnya yang mulai mengeluarkan gestur ingin mencaplok bibirnya. Satu tamparan keras sekali lagi di sebelah sisi pipi satunya, Lukas masih tetap menatap datar Mathias yang mengaduh soal mukanya yang membengkak.

"Kenapa kau—"

"Kau yang kenapa. Jaga omonganmu. Kita tidak pernah menikah."

Satu deret jawaban padat, jelas, tegas, dan Mathias ingin menangis rasanya. Kerja sama mereka merebut Skandavia dulu terdengar jadi tidak berguna.

.

.

.

.

Lithuania dan Belarus; [19/06]

11.19 PM

.

Natalya Arlovskaya adalah gadis paling aneh sedunia.

Bagi seorang Lithuania, mendengarkan ocehan gadis Belarus tersebut soal menikah dengan kakaknya sendiri seolah terdengar seperti semacam bual— sudah jadi makanan sehari-hari, di mana pemandangan wanita psikopat yang mengejar personifikasi Russia berkeliling rumah membuat seorang Toris tertawa sumringah. Tinggal sebagai seorang pesuruh di sebuah rumah besar bukanlah hal baik berhubung setiap hari Toris bersama dua rekan lain selalu disuguhi sesuatu yang tidak mengenakkan. Termasuk halnya sifat Natalya yang demikian. Tergila-gila pada kakak sekandungnya sendiri seakan membuatnya tak terkendali.

Dan semuanya berubah ketika Gilbert Beilschmidt datang; terutama bagi seorang Natalya. Sebab semua perhatian yang selalu diberikan sang kakak sekarang hanya tersedot kepada pemuda albino itu.

Toris yang usai melepas celemek bernoda mendatangi Natalya suatu hari; tepat di depan taman berbunga. Gadis itu tampak terdiam meratapi sebuah dinding berjendela di hadapan, bergeming, dengan tubuh sekilas tampak bergetar. Sebelum pemuda itu sampai menepuk pelan bahunya, Natalya sudah menepisnya duluan dengan perasaan campur aduk dan runyam. Toris tidak mengerti harus berkata apa-apa atau berbuat apalagi— dia terlampau mengerti tentang apa yang Natalya rasakan.

"Pergi."

"Kenapa?"

"Kau megangguku."

Singkat, jelas. Pada awalnya Toris memang berlalu pergi sesuai harapan gadis itu, beberapa detik berselang, Natalya malah terbujur kaku duduk di sana dengan isakan meraung-raung. Tidak sampai hati namanya jika Toris Laurinaitis sampai tega mengabaikannya, maka dia duduk di sebelahnya sambil berkata begini;

"Menurutmu, apakah aku bisa menggantikan Ivan?"

"Maksudmu?"

"Soal menikah itu."

Toris tersenyum sebelum Natalya membelalakkan mata tidak percaya, mengelus pipi putih kepemilikannya yang sudah dijejaki oleh bercak air mata.

.

.

.

.

Perancis dan Inggris; [20/06]

10.57 PM

.

"GHAAAH! KENAPA KAU TIDAK MAU MEMAKANNYA?"

Seorang anak kecil seumuran tujuh tahun menatapnya heran dengan mulut penuh mengunyah scone, Matthew yang ada dalam pangkuan ikut menatap dengan bergeming ke arah sang 'ayah' yang sepertinya terpuruk pada beberapa hal— menatap sengit ke arah Alfred sembari menunjuk-nunjuk ke arah sebuah piring berisi scone gosong. Francis yang memangku Matthew tertawa, Matthew mendongak menatapnya.

"Mungkin Alfred sudah tidak lapar. Benar, kan sayang?" Satu usapan pada rambut anak sulung, Alfred mengangguk-angguk mengiyakan sembari bersorak, 'ya!' Sore hari ditemani kedua orang tua yang tiba-tiba tanpa sebab berlomba memasakkan scone untuk mereka berdua, kalau disuruh memilih, Alfred dan Matthew spontan beralih pada piring scone kepunyaan Francis.

"Apanya yang tidak lapar— ack, aku baru saja mendengar dia merengek meminta scone tadi!" Arthur mendengus, memaksa salah satu anaknya untuk mengambil scone dalam piringnya, Matthew lari duluan ke balik punggung Francis yang kemudian tertawa. Alfred meminum teguk susu terakhirnya sebelum bersendawa. Kenyang seperti kata Francis.

Mau tidak mau Arthur memang harus membuangnya. Maka dengan perasaan berat hati, kemudian berenjak dari sana hendak membuang makannya. Kecewa memang— mengetahui skill memasaknya memang tidak pernah berkembang, apalagi jika dibandingkan seorang Francis yang sempurna soal urusan memasak. Alfred mendengkur tanda dia sudah tertidur, Matthew entah ke mana bersama bonekanya.

"No— Arthur, kau tidak bisa membuangnya."

Satu langkah sebelum Arthur menjatuhkan sconenya ke dalam tong sampah. "Kenapa? Lagipula tidak ada yang ingin memakannya."— bisa dia lihat ekspresi datar yang Arthur tunjukkan, tapi Arthur tetaplah tidak bisa menyembunyikan rasa di dalam hatinya dari seorang Francis. Maka dia tersenyum; membenarkan tubuh Alfred yang tergeletak di sofa dan menyelimutinya sebelum menyusul langkah Arthur.

"Aku yang akan memakannya untukmu. Masakanmu selalu nikmat bagiku, mon cher."

Arthur tidak bisa berkata apa-apa selain memalingkan wajahnya yang memerah.