Double plus Double Love You

By:

Kunougi Haruka

Disclaimer :

Shingeki no Kyojin a.k.a Attack on Titan © Isayama Hajime Sensei.

Warning :

Totally OOC, Adult theme (on the next chapters), malexmale, YAOI, Miss-typo (a lot) and Angst.

Rate : M

Pairing for this chapter :

Rivaille+Levi x Eren

Slight Hanji x Mikasa

Slight Erwin x Armin

.

.

.

Enjoy then

.

.

.

When I'm lost, don't know the way to return back.

You came and gave me your hands.

I can feel the touch and the warm of your palm.

Maybe, just maybe…it wouldn't hurt to have hope again, right?

.

.

.

Chapter 02: Maybe you are the one.

.

.

.

Hangat, telapak tangan yang biasa menyentuh dengan kasar juga dingin pada tubuhnya menjadi terasa lebih berbeda. Seolah-olah kehangatan dari tubuh pria berkemeja merah ini menyelimuti seluruh tubuhnya.

Eren tidak lagi merasakan dingin dan menusuknya angin malam, dia merasakan kesedihannya menguap keluar ketika pria itu mengenggam jemarinya dengan erat.

Sudah lama sekali Eren tidak merasakan hangatnya genggaman tangan seseorang.

Mikasa maupun Armin tidak pernah menyentuh telapak tangan yang lentik itu, hanya almarhum Ibunya yang selalu mengenggam sehangat tangan pria ini, meskipun tidak sehalus telapak ibunya namun kehangatannya sama persis.

Ah, ingin rasanya Eren berlama-lamaan seperti ini, hingga suara Pria itu menyapanya.

"Hey, kita sudah sampai…" ujarnya sembari menunjuk sebuah gubuk kecil namun nyaman, Eren dapat melihat gubuk itu berdiri rapi tak ada tanaman gantung yang menyelimuti atap gubuk tersebut, mengingatkannya pada sang Kapten yang obsesi dengan kebersihan.

Doppelganger itu pun membuka pintu gubuk tersebut dan mempersilahkan Eren masuk terlebih dahulu, Eren bisa melihat ruangan yang tidak terlalu luas namun membuatnya teringat dengan kediaman rumahnya dahulu—karpet berbulu dengan perapian yang hangat di sebelahnya, dia dapat melihat dapur kecil yang telah terisikan oleh dua kursi satu meja persegi panjang dan satu ranjang bersepreikan warna putih.

Lalu, pria itu melepaskan jaket hitamnya dan menaruhnya ke sebuah tiang gantungan jubah, dia pun memberikan gestur pada Eren untuk melepaskan jaket coklatnya—agar tidak gerah. Eren pun mengindahkan maksudnya dan menangalkan jaket seragamnya.

Pria itu melihat betapa menakjubkan sosok tubuh yang langsing dengan balutan pakaian coklat muda dan ikatan-ikatan strap hitam yang menempel pas di dada, juga lekukan pinggangnya.

Dan mata itu, oh dia merasa seperti tenggelam ke dalam lautan—dia seolah tercekik menatap pemandangan indah tersebut.

'Sungguh, pria macam apa yang menolak pesona bidadari seperti bocah ini?' batin Doppelganger, hingga dia teringat bahwa dia belum mengetahui nama pemuda cantik yang sedang menikmati hangatnya perapian.

"Aku yakin, kalau kau belum memberitahu namamu." Ucapnya sambil membuatkan minuman panas di dapur kecilnya, Eren menoleh ke samping sambil mengamati gerak-gerik pria yang terlihat memasukan gula ke dalam cangkir berwarna putih.

"Aku bisa yakinkan dirimu, kalau aku tidak memasukan racun kedalam minumanmu, bocah." Ucap sang Doppelganger yang agak tersinggung dengan gestur kaku dan mata penuh waspada itu.

"Eren, Eren Jaeger…" jawab Eren ketika dia yakin bahwa yang benda yang disodorkan ke dirinya itu aman menerima cangkir berisikan teh hangat—wanginya menenangkan perasaan dan manis, seperti yang Eren inginkan.

Doppelganger itu pun duduk bersila di samping Eren untuk menghangatkan diri dan ditemani sebuah cangkir putih yang sama dengan Eren.

Eren mengingat kisah Doppelganger yang dikenal sebagai pembawa kematian bagi manusia yang berwajah sama, seolah-olah memberitahukan bahwa ajal orang tersebut sudah dekat.

Satu pikiran yang mengetuk di hatinya, apakah berarti Levi akan mati? Tidak, meskipun betapa kasar dan teganya orang itu, Eren masih menghormatinya bagaikan sosok pahlawan dan Levi adalah tentara terkuat umat manusia—dia tidak ingin pria terkuat yang sudah menjadi harapan untuk keluar dinding mati hanya karena dia bertemu dengan Doppelganger-nya.

"Kenapa menatapku seperti itu? Jatuh cinta?" tanya Pria kembaran Levi tersebut, senyuman nakal dan genit menghiasi wajah pucat itu. Eren hanya memalingkan muka tanpa adanya rasa malu, dia tidak tertarik dengan Doopelganger mesum yang mirip sekali dengan kapten.

Sekali lagi kesunyian menyelimuti suasana dingin namun hangat itu.

"Kau…apa kau akan mencabut nyawa Levi Heichou, kalau kau bertemu dengannya?" tanya Eren dalam kesunyian yang hanya dialuni bunyi gemeretuk suara batangan kayu yang terbakar menjadi arang pada perapian.

"Entahlah…aku tidak yakin." Jawab sang poser kepada Eren, dia meminum dengan gaya unik milik sang Kapten.

"Lalu? Buat apa kau datang kesini? Terlebih lagi, kenapa kau memintaku untuk menemanimu?" Eren tidak mengerti apa yang diinginkan mahluk astral ini, apapun itu pastilah bukan hal yang bagus.

"Jangan berisik, pertanyaanmu itu juga sama dengan apa yang kupikirkan sekarang."

"Eh?" Eren mulai kebingungan, Doppelganger macam apa yang tidak tahu tujuannya ke dunia manusia?

Semuanya tidak masuk akal, seharusnya dia sudah kembali ke markas, melanjutkan hidupnya yang merana karena masuk satu skuad dengan Levi dan akhirnya bertekad untuk melihat lautan setelah membasmi Titan.

"Argh, aku seharusnya kembali ke markas…" ucap Eren yang segera bangkit menuju tempat jaketnya digantung, namun sekali lagi lengannya digenggam erat oleh pria pendek itu—memaksanya untuk berdiri dengan gaya aneh.

"Hei, ap-?" Eren ingin protes namun perkataannya didahului oleh Doppelganger menyebalkan ini.

"Tetap disini." Perintahnya.

"Hah?!" Eren melotot kesal, lelucon macam apa ini?

"Aku tidak punya waktu untuk menemanimu, seharusnya aku sudah pulang ke markas!" ucap Eren yang kesal dengan tatapan menyebalkan milik Doppelganger ini.

"Kau ingin kembali ke markas dengan wajah menyedihkan seperti itu?" Tanya Doppelganger itu dengan tenang, Eren melotot.

"Jangan bicara seolah-olah kau mengenalku!" Eren mulai marah.

"Memang, aku tidak mengenalmu tapi kalau misalkan kau bertemu dengan Heichou tersayangmu itu, dia bakalan menertawaimu karena kau begitu memalukan dan tidak memiliki harga diri karena mau saja ditolak olehnya."

Eren tersentak dan sebulir airmata yang sudah dihapusnya kembali lagi keluar, dia merasa apa yang dikatakan si poser* ini ada benarnya—dia tidak bisa kembali dengan muka seperti ini.

"Tenangkan diri dan dinginkan kepalamu yang sudah seperti teko kepanasan itu." Ucap pria doppelganger itu sembari mengambil dua cangkir tadi dan membawanya ke tempat cuci piring.

Eren hanya termenung dengan melipat kedua lututnya ke dada, melihat sosok yang terlihat seperti anak anjing yang kesakitan, pria Doppelganger itu menghela nafas.

"Hoi, Eren..." panggil Lev-ah salah lagi, sang Doppelganger itu.

"Hm?" Eren mendongkakan kepala untuk bertatap mata dengan pria berkemeja merah itu.

"Malam ini tidurlah disini, kau pasti sudah mengantuk'kan?" tawar sembari menunjuk dengan jempolnya ke arah single bed berwarna putih. Eren baru saja akan menyetujui hingga satu pertanyaan terbesit di kepalanya.

"Lalu kau akan tidur dimana?" tanyanya polos, pria itu hanya mendengus konyol mendengar pertanyaan itu.

"Heh, tentu saja akan seranjang denganmu." Jawabnya santai, tanpa ada badai mengamuk yang meronta di benak Eren.

Krtek kretek…

Sekali lagi suara batangan kayu yang terbakar di perapian menjadi perantara suara hening.

Wajah yang memerah dengan raut tidak percaya dan malu bertemu dengan raut muka datar sedingin beton.

"JA-JANGAN BERCANDA! MANA MUNGKIN AKU MAU SERANJANG DENGANMU!" Eren memekik sembari membentuk tanda X dengan kedua lengannya tanda dia menolak habis-habisan.

Pria itu menaikan sebelah alisnya, rupanya reaksi yang ditunjukan Eren manis juga—apalagi semburat merah dan muka yang seperti mau menangis itu.

"Tenanglah, aku tidak akan berbuat macam-macam pada bocah kencur sepertimu, aku tidak sehina itu."

Eren bernafas lega, untung saja Doppelganger ini masih punya etiket yang sopan, meskipun pria yang lebih tua darinya itu mengakui kalau dia itu mesum—Eren bisa melupakan bagian yang tadi.

"Tapi aku tidak menjamin tubuhmu malam ini." Lanjut pria yang ternyata bejadnya kurang ajar juga dan benar-benar menyamai si kuda sialan yaitu Jean yang selalu pasang muka mupeng di depan Mikasa—Eren benar-benar berharap dia bisa meninju wajah pria yang mirip dengan sang Kapten ini.

"DASAR DOPPELGANGER MESUM, ITU SAMA SAJA!" Pekik Eren yang saat ini suaranya menyamai lolongan serigala malam yang berkeliaran di hutan.

.

.

.

.

.

.

Ruang makan, markas Recon Corps.

Levi mulai menatap makanan yang sudah lama dingin sedari dia simpan untuk si bocah titan, dia mengetuk-ketuk jemarinya ke permukaan meja kayu tanda bahwa dia sudah mencapai batas kesabarannya.

"Bocah itu benar-benar menguji kesabaranku…" gumamnya dengan nada membunuh, kalau saja dia mendapatkan Eren saat ini sudah pasti dia akan membanting tubuh ramping itu ke atas meja dan melakukan sesuatu yang—

Levi tersentak kaget dengan pemikiran liarnya tadi, memangnya apa yang akan dia lakukan dengan Eren di atas meja? Ini pasti karena efek kantuk yang terus ditahannya.

"Apa-apaan imajinasi tadi? Aku dan Jaeger? Heh, mustahil…"

"Apanya yang mustahil, Levi?" suara pintu ruang makan terbuka dan terlihatlah sang komandan bersama sang pasukan skuad, Erwin dan Hanji.

'Oh, bagus…dua mahluk menyebalkan datang' batin Levi sembari mengerang jengkel.

"Kukira kalian sudah tidur?" Tanyanya.

"Oh, kami memang sudah tidur tapi ketika kami kembali dari kamar mandi, ada cahaya dari arah ruang makan dan kami mendengar suaramu." Jawab Hanji yang menarik kursi kayu untuk duduk di samping Levi.

"Dan kalian pergi ke kamar mandi dengan waktu yang bersamaan?" Levi tidak bisa menahan diri untuk menyindir setelah mendengar alasan tidak masuk akal Hanji.

"Oh, berhenti mengalihkan pembicaraan, katakan apa yang kudengar soal kau dan Eren?" tanya Hanji yang mengangkat kedua alisnya, penasaran.

"Secara teknikal kau yang mengalihkan pembicaraan." Cibir levi.

"Sudahlah kalian berdua, Levi kulihat kau masih menunggui Eren? Apa kau dan anak itu ada sesuatu?" sergah Erwin yang merasa pertengkaran dua bawahannya ini merupakan hal yang tidak penting. Komandan berambut pirang itu menatap selidik pada bawahannya.

"Geez, Erwin sejak kapan kau jadi seorang pengosip? Seperti yang kau lihat, batasanku dengan anak itu hanya berupa hubungan Atasan dan Bawahan, itu saja." Levi memijit keningnya.

"Hooo? Lihat siapa yang sedang menyangkal?" Hanji makin menjadi-jadi.

"Katakan itu pada dirimu sendiri, mata empat sialan—Kulihat kau belum menaklukan macan asia itu?" Levi mulai menyindir sang pasukan skuad yang malu-malu sendiri dengan mengaruk kepalanya ketika sang Kapten menyebutkan perihal seorang gadis asia yang ditaksirnya.

"Hei, Erwin juga tertarik dengan Arlert muda itu, kenapa hanya Ackerman-ku yang dicemooh?" Hanji tidak terima tidak membawa nama Mikasa dalam pembicaraan ini, Erwin pun tidak mau kalah.

"Ekhem, akan sangat kuhargai kalau kalian jangan libatkan Arlert, lagipula apa hubungannya kisah cinta Levi yang di ujung jurang dengan kisah pribadiku?" Levi dan Hanji menatap seakan-akan Erwin adalah penjahat utama yang tidak mau mengaku dalam sidang yang sebenarnya tidak pernah terjadi.

"Rupanya selain si pendek ini, Komandan terbaik kita juga dalam masa penyangkalan." Ejek Hanji.

"God, Erwin…kukira kau lebih dewasa dalam hal seperti ini." Levi pun ikut mengejek.

"Kalau kalian perlu tahu, aku juga sedang melakukan pendekatan dengan Arlert."

"Ha! Kau bahkan memanggil nama belakangnya, bukan nama depan!" Tunjuk Hanji dengan seringaian puas.

"Aku tidak butuh ini, aku terlalu tua untuk bermain gosip-gosipan dengan kalian berdua yang bertingkah seperti gadis remaja yang sedang kasmaran dengan cowok yang bahkan tidak pernah sedetik pun menatap kalian." Levi mulai berdiri dan bermaksud menuju ke kamar tidurnya.

"Hei!" panggil Hanji di sepanjang lorong namun Levi sudah menulikan pendengarannya dan membuka kenop pintu kamar.

Yup, kamar yang bersih mengkilap tanpa ada satupun titik debu membandel di sudut kamarnya, setelah mengganti kemeja putih kerjanya, dia pun memakai kaos lengan putih dengan celana hitam biasanya.

"Kemana bocah itu? Kalau besok dia sudah kembali dan bertemu denganku, akan kuberikan sebagian dari isi pikiranku kepadanya! Beraninya tidak muncul ke ruang makan dan membuatku menunggu."

.

.

.

.

.

.

Dinginnya embun pada saat subuh berhasil menusuk kulit pundak yang terbalutkan baju kehijauan muda milik sang brunette yang masih terlelap tanpa menyadari ketidak-tahuannya bahwa mahluk mesum yang menjelma menjadi titisan sang pria yang pernah dicintainya tengah memperhatikan.

Ya, pria Doppelganger yang sudah dilabelkan Eren sebagai mahluk termesum yang pernah berjalan di muka bumi ini tengah memperhatikan sosok tubuh langsing yang tertidur pulas, segala hal yang tergambarkan di depan matanya teramat indah, segala tubuh fisik milik Eren membuatnya terpukau.

"Bulu mata yang panjang, jemari yang lumayan lentik dan pipi kenyal itu…" gumam sang poser ketika ingin menyentuh rambut kecoklatan yang terasa menggodanya untuk dipegang.

"Dan kau perlu mengatakannya dengan keras seperti itu, kuntet mesum?" dan jemari pucat itu berhenti seketika ketika Eren mengucapkan kata itu dan sang brunette membuka matanya, mata zamrud yang membuat fokus sang Doppelganger jadi tidak sinkron.

"Kau sudah bangun rupanya."

"Baru saja, ketika aku merasakan ada nafas naga tua dari seseorang yang kukenal…" sindir Eren yang segera bangkit dari ranjang untuk mengambil jaketnya.

"Oi, kau akan pergi begitu saja?" panggil pria berkemeja merah itu, dengan gaya telungkup.

"Kau bercanda? Aku harus secepatnya pergi ke markas, Levi Heichou akan memanggang bokongku kalau dia menyadari aku belum kembali." Balas Eren yang sudah memakai jaketnya dan memperbaiki rambutnya yang sedikit acak-acakan.

"Rileks, tidak akan ada yang tega menyakiti bokongmu yang maha karya itu~" gurau si peniru.

"Oke, hentikan!" Eren mulai berbalik kesal melihat tingkah si pendek yang masih bergelut di selimut putih.

"Hentikan apa?" tanyanya polos.

"Kau dan lelucon vulgarmu, sebelum kubakar gubuk ini." Eren pun berbalik menutup pintu gubuk itu dengan ekstra bantingan keras, sebagai tanda dia serius.

Pria itu menopang dagu sembari membiarkan tubuhnya yang setengah tengkurap menatapi sosok yang sudah hilang di balik pintu sekitar beberapa detik lalu.

"Sayang, jangan lupa bawakan aku makanan kalau kesini lagi, ya?" teriaknya pada sosok yang mengerutu di tengah jalan.

"Persetan kau!" suara samar mendengung kuping sang pria yang mulai berdiri untuk mengatur seprei ranjangnya.

"Bocah itu benar-benar telah merasuki kulitku…" ucapnya.

.

.

.

You're really got under my skin now

.

.

.

Koridor kastil, markas Recon corps.

Eren mengedumel selama perjalanannya menuju ke sel kamarnya, bisa dilihatnya belum ada tanda-tanda para prajurit terbangun ataupun bersiap-siap.

"Syukurlah, aku harus segera menuju ke ruanganku, sebelum Mikasa dan yang lainnya menemukanku." Eren bersyukur bahwa dia berhasil menyusup ke sel kamarnya dan berpura-pura melanjutkan tidurnya hingga pagi sembari berpikir alasan apa yang harus dikatakannya agar membuat kedua sahabat dan atasannya percaya.

Sudah sekitar satu jam, Eren sudah terpikirkan 150 alasan yang masuk akal agar Mikasa dan yang lain tidak curiga akan keabsenan dirinya semalaman, dia hanya berharap Levi tidak menanyakan perihal tentang dirinya.

"Heh, mana mungkin…Heichou hanya menganggapku sebagai bocah, buat apa dia harus tahu?" Eren pun berbalik dari cara tidur terlentang untuk segera turun dari ranjangnya, nampaknya dia sudah bisa mendengar derap-derap sepatu boots prajurit lainnya.

"Baiklah, siap atau tidak, aku datang!" gumamnya setelah memakai peralatannya, minus peralatan 3D manuver.

.

.

.

Ruang makan, markas Recon Corps.

"Eren! Kau darimana saja semalam?!" tanpa perlu menebak, Eren sudah tahu sifat protektif milik Mikasa ketika dia menunjukan batang hidungnya di meja makan.

"Maaf Mikasa, sebenarnya aku sudah kembali dari hutan." Jawab Eren memasang mimik muka lesu—walaupun setengah dari alasannya ada benar juga, karena terkejut menemukan seorang Doppelganger mesum bergerak.

"Lalu, kenapa kau tidak bergabung dengan kami di ruang makan?" tanya Armin yang menggigit rotinya, Eren hanya tersenyum lemas dan berpura-pura menguap.

"Aku kelelahan setelah dari hutan, sebenarnya aku mau menghampiri kalian ketika kalian berdua baru keluar dari kamarku…" alasan yang lumayan masuk akal, bahkan Armin yang bisa mencium bau kebohongan Eren hanya tersenyum dan mengangguk percaya.

"Setidaknya kau baik-baik saja, kembalilah makan. Kau terlihat tidak semangat hari ini." Pinta Mikasa yang menepuk bahu Eren dan dibalas dengan anggukan oleh sang brunette.

Tidak jauh dari kerumunan prajurit dan para rekrut baru yang sedang menyantapi sarapan mereka, Levi menatap bocah naungannya telah hadir di hadapannya ditemani oleh kedua sahabatnya, Levi yang penasaran dengan hilangnya bocah brunette kemarin pun berjalan pelan menuju meja Eren.

"Katakan dimana kau kemarin malam, Jaeger." Tanya Levi ketika sampai di meja makan Eren dan sahabatnya.

"Cebol, Eren perlu makan dan tanyai dia nanti saja." Mikasa tidak suka atasan pendek di depannya ini menganggu hari-hari tenang Eren.

"Aku tidak berbicara denganmu, Ackerman…" Levi menoleh sebentar untuk memberikan tatapan maut terbaiknya kepada Mikasa dan kembali menatap sang bocah Titan.

Apa yang membuatnya terkejut adalah tatapan mata Eren yang tidak tertarik dan terkesan dingin menatap balik, pandangan matanya tidak menyiratkan antusaiasme yang biasanya.

"Saya sudah kembali beberapa jam yang lalu sebelum makan malam dan alasan saya tidak muncul di ruang makan karena saya kelelahan setelah meneulusuri hutan." Jawabnya dengan monoton, bahkan terlihat dingin ketimbang Mikasa berbicara pada Levi.

"…" Levi meneliti kembali raut muka bocah yang kemarin disakitinya, tak ada tanda Eren terlihat segan. Reaksi yang ditunjukan pada Levi berbeda dari yang diharapkan, dia berharap Eren akan salah tingkah.

Erwin dan Hanji mengamati dari tempat duduk mereka, bisa dilihat awalnya mereka sedang memperhatikan kedua tambatan hati mereka tapi ketika Levi yang berjalan menuju meja makan Eren—Mereka tidak bisa menahan diri untuk mengganti sudut pandangan mereka menuju sang Kapten dan bawahannya.

"Psst, ada apa gerangan?" tanya Hanji.

"Kurasa Levi sedang menanyakan alasan menghilangnya Eren dan nampaknya Eren tidak terlalu ambil peduli dengan ucapan Levi." Erwin memperhatikan mimik muka Levi yang geram.

"Huff, Levi memang tipe Tsundere, ya? Kalau begini hubungan mereka tidak akan berjalan lancar." Hanji hanya mengaduk-aduk sup kentangnya sembari melihat Levi yang memberikan sedikit pecahan isi pikirannya pada Eren.

"Tapi ada yang aneh dari Eren…" gumam Erwin.

"Hm? Apa? Apa?" tanya Hanji.

"Benarkan perkataanku jika aku salah tapi aku bersumpah nampaknya…aku melihat sebuah bercak kemerahan di bagian leher Eren." Ucap Erwin.

"Hah?"

.

.

.

Setelah acara sarapan selesai, para rekrut baru masing-masing melakukan pekerjaan mereka. Beberapa ada yang mendapatkan latihan intensif dengan para senior, beberapa melakukan pekerjaan bersih-bersih dan para atasan mengadakan pertemuan.

Hanji dan yang lain bisa menebak raut muka Levi yang masam.

"Levi, apakah kau sudah melakukan rutinitas mandimu? Aromamu kecut sekali seperti lemon busuk." Tanya Mike ketika merasa penciumanya kearah Levi yang sedikit tidak biasa.

"Tutup mulutmu dan bersihkan kembali lubang hidung besarmu itu dengan tissue…" desis Levi pada Mike yang mengangkat kedua tangannya tanda dia menyerah.

"Ekhem, semuanya …aku datang memberikan kabar untuk kalian bahwa Yang Mulia Raja akan mengadakan sebuah pesta mengingat sang putra mahkota berumur 12 tahun dan kita semua para atasan akan diundang ke pesta itu."

"Hooo, segera masukan aku ke dalam daftar 'kumpulan orang yang tidak berminat'." Levi melipat kedua tangannya.

"Oh, Levi…dimana semangat berpestamu? Tidakkah sekali-kali kau keluar dari kamar kubus berbau disentifikan milikmu itu dan menjalani hidup seperti orang normal?" Hanji nampak membujuk.

"Berkacalah sekali lagi, sebelum berkata aku tidak normal, Hanji." Levi menyindir Hanji yang mempertanyakan dirinya yang tidak normal.

"Boleh kulanjutkan?" tanya Erwin.

"…"

"…"

"Baiklah, kita boleh membawa salah satu dari anggota rekrut atau prajurit dari kesatuan kita sebagai teman pendamping, Mike apa kau sudah menemukan rekanmu yang akan menemani di pesta nanti?" tanya Erwin menoleh ke arah sang pengendus.

"Nanaba, siapa lagi?" ucapnya dan Erwin mengangguk maklum.

"Hanji?" tanya Erwin lagi.

"Oh, sudah pasti Ackerman~" jawab Hanji antusias untuk mengajak sang gadis berambut ebony yang sudah memikatnya, Levi sudah bisa melihat background pink dengan bunga-bungaan.

"Levi? Bagaimana denganmu?" tanya Erwin kali ini menuju kepada sang Kapten yang tidak berminat untuk mengikuti acara ulang tahun milik Pangeran manja kerajaan Sina.

"Buat apa aku mengikuti pesta ulang tahun seorang bocah?"

"Ayolah Levi, bahkan seluruh anggota skuad khususmu pun akan ikut, kenapa kau yang sebagai Kapten tidak ikut serta? Nikmatilah hari-harimu dengan sesuatu yang benar-benar hidup." Levi menaikan alisnya ke arah komandan penuh modus itu.

"Apa yang kau maksud dengan benar-benar hidup? Kau pikir aku kesepian tanpa ada yang menemani? Seperti pertapa tua yang hanya cinta benda kebersihan?"

"Aku tidak akan berbicara jauh mengenai statusmu yang menjadi perjaka tiga puluhan itu, tapi kalau kau memaksa sampai harus berkata pertapa yang hanya mencintai barang-barang untuk bebersih, maka jawabanku adalah iya."

Hanji dan Mike menahan tawa.

"Katakan padaku, kapan harinya?" Levi tidak diberikan pilihan di sini.

Erwin tersenyum.

"Dua hari lagi dan pastikan dirimu membawa pasangan ke pesta, anggap ini hanya acara amal yang kau ikuti sebagai seorang bangsawan yang dermawan, Levi." Hibur Erwin.

"Dari segi manakah mantan preman sepertiku dianggap dermawan?" Levi menaikan alisnya.

"Hm, benar juga…" Erwin mengelus dagunya seperti berpikir.

Oke, kali ini Hanji mulai tertawa lepas dengan perkataan Erwin, sedangkan Mike terkekeh dengan kebodohan Levi yang termakan senjatanya sendiri.

"Kalian benar-benar akan kubunuh."

.

.

.

Hanji menemukan sosok yang dia cari sebagai pasangannya untuk pesta Putra Mahkota, Mikasa Ackerman yang sedang menjemur beberapa seprei putih juga pakaian lainnya sedang membelakangi sang pasukan skuad.

"ACKERMAAAN~!" panggil Hanji dengan semangat.

"Pasukan Skuad? Ada apa?" ucap Mikasa yang berjalan pelan menemui sang genderless aneh yang selalu melakukan eksperimen pada saudara tercintanya.

Ah, mata obsidian yang tenang, bibir merah yang indah dan rambut ebony yang gelap sebatas bahu.

'Dia seperti Snow white saja…cantik dan imut.' Hanji menatap dengan penuh idaman dan terpesona ketika bibir mungil itu memanggil namanya.

"Ekhem, Pasukan Skuad Hanji-san? Ada yang bisa kubantu?" Mikasa terlihat risih karena pandangan yang intens itu seperti membuka jendela hatinya, betapa ingin sekali Hanji mengisi wajah pucat tanpa ekspressi itu dengan senyuman juga ronaan merah di pipinya.

"Oh, iya! Apa kau ada waktu hari ini?" Hanji bertanya di luar langit biru.

"…?"

"Aku ingin ke kota, karena ada yang ingin kubeli di sana dan aku butuh pendapatmu~" Hanji memegang kedua telapak tangan Mikasa, gadis asia itu hanya salah tingkah melihat genggaman erat milik Hanji yang hangat juga membuatnya deg-degan.

"Ba-Baiklah." Mikasa semakin malu ketika Hanji melemparkan senyuman seduktif dan penuh terima kasih kepadanya.

'Ya, Tuhan…ada apa ini?' batin Mikasa, baru kali ini ada orang lain yang menyentuh tangannya selain Eren dan dia tidak membenci sentuhan yang diberikan Hanji padanya.

.

.

.

Knock knock…

"Masuklah." Perintah Erwin yang mendengar sebuah ketukan dari luar pintu kamarnya dan sosok pemuda blonde yang terlihat sedikit gugup untuk bertatap muka dengan sang atasan, Armin Arlert.

"Cadet Arlert? Ada gerangan apa, kau mengunjungiku hari ini?' Erwin hanya tersenyum, dia tidak perlu berpikir bagaimana cara meminta sang bocah incarannya datang untuk menemuinya. Tuhan hanya mempermudah takdirnya untuk mengajak sang jenius Arlert untuk menjadi pasangannya untuk pesta dua hari ke depan.

"A-anu…ini soal Cadet Jaeger…" jawab Armin.

"Hm? Eren? Ada apa dengannya?" Erwin masih berbasa-basi untuk mendengarkan penjelasan Armin, walaupun setengah darinya juga sedikit penasaran dengan sikap Eren pada Levi, juga yang menganggu pikirannya yaitu bercak merah di bagian lehernya.

.

.

.

Flashback

I watched you far from the group.

And your eyes shows some detemination

.

.

.

Setelah sarapan, para rekrut angkatan Eren berlatih keras dan beberpa dari mereka memperagakan bela diri yang mereka sudah dapat dari Kesatuan Pelatihan.

Saat itu Armin yang berhasilkan salah satu partner bertarungnya melihat sang brunette yang sibuk berlatih dengan pria yang memiliki kebiasaan menggigit lidahnya ketika berkelahi, memang bukan hal yang aneh melihat Eren berlatih di dudut yang lebih jauh, jadi Armin memperhatikan bersama yang lainnya.

Tapi ketika itu Armin merasakan hawa dingin dari tubuh Eren, matanya menyalang berubah sekilas menjadi berwarna amber kekuningan, ketika Oluo bermaksud menyergapnya dari depan.

Namun Armin mengingat kuda-kuda Muai Thai milik Eren yang diajarkan oleh sang ahlinya yang sudah pindah ke Military Police yaitu, Annie Leonhardt, Armin kenal betul tatapan penuh penghabisan seperti itu.

Eren menyepak pergelangan tulang kering Oluo dengan hantaman kuat, membuat pria itu terkejut karena kesakitan dan membuatnya kehilangan keseimbangan karena hantaman kaki tadi, namun Eren belum selesai dia pun menarik lengan Oluo yang lengah dan memelintirnya dengan kuat.

Dan berahkiran Oluo terjatuh telungkup dengan Eren menindih menggunakan berat badannya dan masih menarik pergelangan tangannya.

"O-Oi, Eren! Latihannya sudah selesai, kau berhasil menjatuhkan Oluo!" panggil Erd yang berusaha melepaskan Eren dari Oluo yang sudah menggigit lidahnya, butuh agak lama ketika Eren mau melepaskan cengkramannya.

"Kau berkembang sekali Eren, akhirnya Oluo bodoh termakan debunya sendiri." Puji Petra ketika melihat lelaki menyebalkan itu dipapah oleh Gunther dan Erd.

Itu baru satu contoh, apalagi ketika mereka berlatih meluncurkan 3D maneuver milik mereka, saat itu Eren berhasil memotong boneka-boneka Titan buatan Hanji yang terkenal berbahaya itu dengan sekali sayatan pedang.

Armin dan yang lain tidak mengetahui bahwa Eren cukup menggerikan ketika dia serius.

"Oi, Eren jangan serakah begitu, kau menyapu semua boneka Titan di pelatihan tadi." Ucap Jean tidak terima karena tidak menemukan satupun boneka Titan yang bisa disayat karena diembat habis oleh Eren.

"Lain kali fokuslah, Jean…" hanya itu yang bisa Eren katakan sembari pergi menuju kastil setelah latihan di hutan, nampak dia ingin berlama-lamaan dengan teman-temannya.

atau ketika mereka sedang melakukan bebersih rutin, Eren selalu melihat keluar jendela. Matanya terlihat sedih dan kesepian, namun raut muka itu angsur-angsur berubah menjadi ronaan malu. Eren pun mengelengkan kepalanya, tanda dia menyangkali sesuatu.

Armin dan Jean hanya menatap heran sosok Eren yang terlihat gelisah, sosok Eren bisa dibilang seperti gadis yang memilirkan kekasihnya yang sedang merantau.

"Eren, kenapa kau bertingkah seperti gadis yang ditinggali pacar?" Sindir Connie yang memasuki ruangan mereka, Eren segera memasang raut muka menyangkal.

"Bi-bicara apa kau?! Aku bukan cewek!" ucapnya.

"Oh, iya Levi Heichou memintaku untuk memberitahumu, temui dia setelah kegiatan bebersih ini selesai." menndengar perkataan Connie, Eren kembali memasang muka stoic dan kembali menyapu ruangan tanpa memberi konfirmasi bahwa dia mengerti atau mengindahkan perkataan Connie.

.

.

.

Why do you seem so far from us?

Do you feel any pain? Feel too much burden? Please tell us.

So, we can share the burden together

.

.

.

"Setelah itu, Eren selalu saja menyendiri ketika selesai latihan, seolah-olah dia menjadi orang yang berbeda ketika berlatih atau berasama kami, dia jarang tersenyum dan tatapannya sesaat selalu dingin." Ucap Armin.

Erwin tidak habis berpikir bahwa, selama latihan Eren melakukan hal yang menakjubkan seperti itu. Dapat dia lihat jelas ketika Eren menjawab pertanyaan Levi dengan dinginnya, Eren yang serius dalam menjalankan pelatihan.

"Kuharap dia tidak terlalu memaksakan dirinya, meskipun kita dilatih sebagai prajurit yang berusaha bertempur untuk kemenangan manusia tapi Eren pun memiliki batasannya, kuharap dia menyadari bahwa semua beban itu bisa dipikul bersama-sama…"

Erwin tersentuh dengan sifat soldaritas milik Armin, dia begitu peduli pada sahabatnya yang kelewat serius. Inilah salah satu sifat yang disukai Erwin terhadap bocah Arlert, dia tidak salah pilih ketika mengatakan bahwa dia memiliki ketertarikan pada pemuda cerdas yang dapat membuatnya buta kagum ketika Armin menceritakan strateginya.

"Cadet Arlert…" panggil Erwin.

"I-iya, sir?" cicit Armin.

"Apakah kau datang kemari hanya untuk menceritakan perihal temanmu?" Erwin menutup bukunya tanpa lupa memberikan tanda pada halaman yang baru dibacanya, dia tersenyum ramah membuat Armin gugup.

"Bagaimana kalau kau menemaniku dan menceritakan segala hal mengenai dirimu?" tawar Erwin semakin tersenyum penuh keramahan dan memberikan gestur pada Armin untuk duduk berhadapan dengannya.

"Kuharap Earl Grey Tea sesuai dengan seleramu." Armin pun tersenyum kikuk.

.

.

.

Hari sudah menjelang senja dan Levi belum juga menemukan sosok brunette yang selama sehari ini bersikap dingin padanya dan bersikap tidak antusias atau semangat padanya.

Ada yang salah dengan sikap Eren kepadanya dan dia membenci hal itu, dia tidak ingin Eren mengacuhkan dirinya.

Dia juga belum sempat membahas soal penolakan yang dilakukan dengan kejamnya pada sang remaja berumur 15 tahun tersebut, Eren sudah tidak menyukainya lagi dan dia menganggap bahwa Levi membencinya, karena itulah dia bersikap seperti bawahan yang patuh.

Dia bahkan menyakiti wajah si cantik tersebut ketika dia memohon dengan sangat untuk mempertimbangkan perasaannya tapi ditolak mentah-mentah olehnya sekali lagi.

Ketika Erwin menanyakan siapa yang akan dia ajak untuk ke pesta sang Putera Mahkota, Levi hanya mengatakan bahwa dia mungkin akan mengajak Petra, walaupun dia tidak memiliki perasaan suka pada gadis itu karena menyadari sikap Oluo yang berusaha mendekati sang gadis berambut coklat kependekan itu. walaupun caranya salah dengan berlagak meniru seperti dirinya.

Hanya ada satu Levi di dunia ini.

Tapi sebenarnya dia ingin mengajak satu orang yang membuat hati tertohok ketika melihat ekspresi terluka dan kecewanya pada sang Kapten. Sosok dengan mata zamrud yang berkilau oleh airmata kepedihan.

"Eren…" gumamnya melihat bulan sabit yang memancarkan sinar dari arah jendela kamarnya.

"Kenapa kau menghindariku?"

.

.

.

Every day I thinking of you, every night I always try to reach you.

So bring me the night, send out the stars and darken the skies,

Also light the moon, so I can meet you…

.

.

.

Hari sudah menjelang senja, Eren pun mengendap-gendap ketika semua sudah menuju ke ruang makan atau ke kamar mandi, dia sudah menyiapkan jubah bertudung dan sebuah keranjang berisikan makanan. Dia menoleh ke belakang sejenak untuk memastikan dai tidak diikuti.

Butuh setengah jam untuk menemukan jalan menuju gubuk sang Doppelganger yang mesum itu, ketika dia sampai, sebuah suara memanggilnya untuk mengadahkan kepala ke atas.

"Rupanya kau datang, bocah bermata indah~" panggil Doppelganger itu sembari duduk di sebuah batang pohon yang rindang, Eren mengeratkan pegangan keranjang miliknya.

"Turunlah, Doppelganger mesum!" perintah Eren dan dalam sekejap Doppelganger itu melompat lalu mendarat tepat di depan muka Eren, si cantik hanya hanya tersentak kaget dengan mundur selangkah.

HUP!

Sosok yang mirip dengan Kapten Levi itu membuka penutup keranjang untuk mengintip isi makanan yang dibawakan si cantik brunette.

"Whoa, sup kentang, roti dan apel?" ucapnya tersenyum heran.

"Ha-hanya itu yang bisa kubawa! Sa-salahkan sendiri, tidak meminta makanan jenis apa." Eren menoleh ke samping, karena malu.

"Haha, ini sudah lebih dari cukup, kok!" ucap sang Doppelganger menepuk kepala Eren, yang ditepuk terkejut karena sentuhan sang Doppelganger membuatnya semakin berdebar.

"Terima kasih, Eren…" ucapnya dengan senyuman hangat.

'Levi yang asli tidak akan pernah tersenyum seperti itu atau setidaknya dia tidak akan pernah tersenyum tulus seperti itu di depanku.' batin Eren.

"Hei kupikir kalau kau terus memanggilku dengan kata 'Kau' atau 'Doppelganger' itu merepotkan sekali…" celetuk sang pria berkemeja merah dan celana hitam.

"Bukannya namamu Doppelganger?" tanya Eren polos dan Levi menghela nafas.

"Itu julukan yang kalian para manusia ciptakan pada jenis kami." Eren langsung memicingkan mata.

"Kalau nama julukan sudah pernah kuberikan untukmu'kan?" selidiknya.

"Apa nama julukanku?"

"Kuntet Mesum…" jawab Eren singkat dan sang Doppelganger mengrenyitkan alisnya.

"Yang kumaksud adalah nama seperti kalian, nama yang seperti layaknya manusia…" Eren menyentuh dagunya dengan jemari telunjuk seraya berpikir sebuah nama yang cocok dengan Lev-ah, lagi-lagi salah!

Hingga dia mendapatkan sebuah ide ketika dia selalu salah mengingat seseorang.

"Itu dia!"

"…?" pria bertubuhkan pendek itu menatap heran dengan muka sumringah Eren.

"Bagaimana kalau namamu adalah Rivaille?" usul Eren.

"Tidak buruk, aku menyukainya…apakah nama itu ada hubungannya dengan Heichou tersayangmu itu?"

"Kurasa, karena kau Doppelganger-nya dan wajahmu mirip, maka kuberikan nama yang agak melenceng dari aslinya." Jelas Eren.

"Baiklah, namaku adalah Rivaille sekarang, terima kasih Eren dan sebaiknya kita masuk ke gubuk sekarang." Ajak Rivaille menarik pergelangan tangan Eren dan menuntunnya ke dalam gubuk—dimana ikatan mereka semakin erat dan Eren pun mulai berpikir bahwa bersama Rivaille, dia merasa akan adanya sebuah harapan untuk mencintai lagi.

'Rivaille…ketika aku bersamamu, aku merasa aku dapat mencintai lagi.'

TBC

.

.

.

.

.

.

I hope we can continue like this, in the blissful of ignorant, only you and me.

.

.

.

.

.

Next on Chapter 03: Will you go out with me to the Ball?

.

.

.

.

.

.

Author Note: Okay, chapter 2 udah selesai. Terima kasih sudah mereview chapter 01. Ada yang bilang cerita yang pertama terlalu singkat, udah bikin Erennya tersiksa gara-gara seme Tsundere.

Mungkin ada yang tidak tahu istilah Doppelganger, sesuai pengetahuan umum asalnya Doppelganger itu dari eropa khususnya Jerman artinya orang yang sama berjalan, orang eropa percaya bahwa bertemu dengan Doppelganger adalah tanda kematian bagi mereka.

Oh iya, mungkin reader ada sempat melihat kata Poser dalam cerita, poser artinya adalah peniru. Jadi, Eren selalu menganggap Rivaille adalah peniru Levi.

Thank you for the review, the following and the favorite on this story.

Till next time

Too de looo~