Menerangkan : Manga NARUTO milik Masashi Kishimoto

Peringatan : TYPO, OOC, dll

Chapter 2

Uchiha Itachi

Uchiha Sasuke terbaring tidak bergerak diatas tempat tidur tanpa ada tanda-tanda ia sadar akan dunia disekitarnya, wajah tampannya diam tanpa ekspresi, mata nya tertutup rapat, rambut hitamnya terlihat berantakan, nafasnya terhela dan terhembus teratur. Suasana kamar yang redup dan gelap perlahan mulai diterangi oleh cahaya matahari yang menembus dari jendela kamarnya yang tertutup tirai. Seketika mata onix Sasuke membuka seolah terbuka seketika oleh cahaya matahari yang masih muda itu. Sasuke menggeram kesal akan kebiasaanya sendiri, tubuhnya seolah memiliki alarm sendiri untuk menentukan kapan waktu ia harus bangun, tubuhnya tidak akan peduli meskipun ia baru saja kembali dari misi Anbu kelas S dan baru saja memejamkan matanya sekitar 3 jam yang lalu. Mendengus kesal Sasuke meletakkan pergelangan tangan diatas matanya berusaha menghalangi cahaya matahari, berharap tubuhnya mengijinkannya untuk kembali tidur.

Usahanya untuk kembali tidur gagal karena aroma masakan yang familiar singgah dihidungnya, tanpa dikomando bibirnya menyeringai tipis, karena ia tahu dari mana dan siapa yang menciptakan aroma itu. Sasuke beringsut turun dari tempat tidurnya, membersihkan diri di kamar mandi lalu pergi menuruni tangga menuju dapur.

" Selamat Pagi…." Ucap sasuke pelan sambil menuju meja makan yang sudah terhidang makanan yang masih megeluarkan uap diatasnya.

"Selamat Pagi Ayah, apa tidurmu nyenyak ?" seorang remaja lelaki berumur 13 tahun yang tengah tersenyum menyahut kearahnya.

" Kalau tidur 3 jam bisa disebut nyenyak!" ucap sasuke malas lalu duduk menghadap kearah punggung pemuda dihadapannya, tawa kecil terdengar dari arahnya membuat sasuke juga ikut tersenyum.

Bocah lelaki yang tengah mengenakan apron memasak, memegang wajan ditangan kanan dan spatula ditangan kirinya inilah dunianya. Satu-satunya harta berharganya yang tersisa di dunia ini. Rambut panjang berkuncir rendahnya bergerak-gerak mengikuti gerak tubuhnya, Itachi memanjangkan rambutnya lalu menguncirnya rendah mengikuti gaya rambut mendiang pamannya. Sasuke birani bertaruh kalau Itachi bertambah tinggi lagi beberapa inci sejak terakhir ia memperhatikannya beberapa minggu yang lalu.

" Kalau begitu makan dulu lalu tidur lagi!" Ucap Itachi duduk didepan ayahnya.

"Mungkin nanti setelah membuatkan laporan untuk 'Tuan Hokage'." Itachi tertawa lagi mendengar ayahnya menekankan kata 'Tuan Hokage' seolah mengucapkan sesuatu yang paling mengganggu dihidupnya. Itachi tahu meskipun ayahnya dan Hokage berambut kuning itu terlihat kurang akur tetapi sebenarnya mereka sangat dekat. Mereka bertiga sering menghabiskan waktu bersama disela-sela kesibukan sang Hokage, karenanya ketika di akademi oleh teman-temannya Itachi dijuluki 'kesayangan Hokage'.

Sasuke adalah Ketua Pasukan Anbu pelindung konoha, bertugas menjaga keamanan desa konoha dan Hokage sendiri, hanya jika benar-benar mendesak maka ia akan menjalankan misi diluar konoha. Dan misi terakhirnya kemarin adalah salah satu yang masuk dalam kategori 'benar-benar mendesak' sehingga menuntut sasuke harus bersedia meninggalkan konoha selama 3 minggu jauh dari rumah dan jauh dari putranya semata wayang. Meraka berdua mulai makan , menikmati kebersamaan setelah 3 minggu tidak bertemu.

" Bagaimana? Enak ? " ucap Itachi lagi berusaha memulai percakapan dengan ayahnya.

"Enak" ucap sasuke singkat seolah bisa menebak apa yang akan datang selanjutnya.

"Aku pasti mewarisinya dari ibu, karena kemampuan memasak ayah benar-benar payah !" ucap Itachi menyeringai kearah ayahnya.

"Apa masakan ibu seenak masakanku ayah?" Itachi menatap lekat ayahnya menunggu jawaban.

"Jauh lebih enak" ucap sasuke jujur, wanita itu adalah ahli dalam memasak, apapun yang disentuhnya selalu berubah menjadi hidangan lejat. Diujung matanya Sasuke bisa melihat Itachi tersenyum cerah kearahnya, Sasuke sangat jarang membahas tentang ibu dari putranya itu. Tanpa Itachi ketahui alasanya Sasuke seolah merahasiakan identitas ibunya darinya, bahkan nama sekalipun. Sehingga bagi Itachi, sekecil apapun informasi yang ia dapatkan dari ayahnya tentang ibunya adalah sesuatu yang sangat berharga. Senyum senang Itachi untuk informasi kecil itu membuat dada Sasuke terasa sakit, ingin sekali ia mengatakan segalanya, menceritakan semuanya tentang ibunya kepada Itachi tapi itu tidak mungkin ia lakukan untuk kebaikan Itachi. Itachi selalu menyelipkan pertanyaan-pertanyaan kecil tentang ibunya disela-sela obrolan mereka dan sasuke hanya akan menjawab sekenanya atau bahkan menolak untuk menjawab jika dia rasa pertanyaan itu tidak boleh dijawab.

Dulu ketika Itachi kecil sudah bisa mulai berpikir dan mencerna informasi disekitarnya, saat ia sudah bisa menyadari perbedaan antara dia dan anak lainnya di akademi, Itachi kecil pulang kerumah sambil menangis menanyakan pada Sasuke kenapa hanya ia yang tidak diantar dan dijemput oleh seseorang yang oleh anak lain panggil sebagai 'ibu'. Itachi menangis tersedu bertanya kepada Sasuke kenapa ia tidak punya ibu. Saat itulah pertama kalinya Itachi kecil belajar tentang konsep kematian dan saat itu juga Itachi kecil untuk pertama dan terakhir kalinya melihat air mata ayahnya. Satu hal yang Itachi kecil tahu adalah air mata akan keluar kalau dia sedang menangis, Itachi biasanya menangis kalau sedih atau merasa sakit, begitulah ia memahami kalau menanyakan tentang ibunya akan membuat ayahnya sedih dan kesakitan, maka ia pun berhenti melakukannya karena tidak ingin ayahnya bersedih dan kesakitan. Seiring berajalanya waktu Itachi bertambah besar maka rasa penasaranya pun juga semakin besar, ia semakin mengerti tatapan sedih dari sorot mata ayahnya ketika menyinggung tentang ibunya. Ia semakin tahu kalau ada sesuatu yang ayahnya sembunyikan darinya, tapi ia tidak ingin memaksa, ia yakin ayahnya punya alasan untuk semua yang dirahasiakannya.

"Hari ini adalah pembagian Tim ayah, hari ini hari pertamaku sebagai seorang Genin!" Ucap Itachi riang kearah ayahnya. Sasuke tersenyum tipis melihat anaknya yang tersenyum lebar menunjukkan semangat dan rasa senangnya karena menjadi seorang Genin, meskipun dibesarkan oleh seorang Uchiha yang dingin tapi Itachi tumbuh menjadi anak yang hangat dan ramah. Berbeda dengan sasuke, Itachi membuat semua orang disekitarnya menyukainya karena kepribadianya yang baik dan tenang juga tentu saja wajahnya yang tampan. Secara fisik Itachi adalah duplikat ayahnya sangat mirip dari ujung kepala sampai ujung kaki, seolah ingin berteriak pada dunia kalau dia adalah putra seorang Sasuke Uchiha. Itachi sering bergurau berkata kalau ayahnya terlalu tamak pada dirinya karena mewariskan seluruh tubuhnya kepadanya tanpa menyisakan sedikitpun bagian untuk ibunya, lalu sasuke akan tertawa pelan mendengarnya. Tapi ada satu hal yang tidak diketahui oleh Itachi …

" Apa kau senang ?..." Sasuke menopang dagunya dengan punggung tangannya sambil menatap wajah Itachi yang berbinar.

" Tentu saja!" Itachi memutar bola matanya, merasa lucu akan pertanyaan ayahnya yang jawabanya sudah tentu paling jelas didunia. Mimpinya selama ini akhirnya menjadi kenyataan juga, sebentar lagi ia bisa dengan bangga menyebut dirinya sebagai seorang Ninja.

" Aku akan berusaha membuatmu bangga ayah," bisik Itachi pelan sambil tersenyum malu kepada ayahnya.

Senyum kecil menghiasi bibir Sasuke, ia hanya diam sambil terus menatap Itachi lekat-lekat. Satu yang Itachi tidak tahu adalah, senyumnya sangat mirip dengan senyum ibunya.

11111111111111111111111111111111111111111111111111 11111111111111111111111111111111111111111111111111 111111111111111111111111111111

Hick...Hick...

Terimakasih buat yang udah Review... ( nangis haru dipojokan )

Kalo berkenan monggo di Review lagi ... hehe ( nyengir-nyengir geje )

Hyou Hyouichiffer & aindri961 : mohon bimbingannya ya... kritik saran dinanti... terimakasih udah mau baca.