DARKNET

"Aku bukan seorang pskilog, aku tidak tertarik mendengar cerita hidupmu, Tuan Jeon".

Ruangan interogasi terasa sangat dingin bagi tahanan yang menautkan jemarinya berulang kali, kegelisahan terlihat jelas dari gerak geriknya di bawah pengawasan Kepala Divisi Cyber dari Europol yang ditugaskan Kepolisian Berlin untuk menginterogasi tersangka kasus pembuhan.

Kim Seokjin menarik napas panjang, dia tidak sedang bercakap cakap santai, waktunya kian menipis dengan kondisi karirnya yang berada di ujung tanduk. Satu langkah yang salah dan ia dapat menghancurkan seluruh karirnya, menyeret jatuh Seokjin ke dalam jurang yang berarti kegagalan seumur hidup, tuntas. Semua yang ia bangun dari awal akan lenyap begitu saja.

Dan satu satunya hal yang terus menarik Seokjin ke ambang kematian adalah pria berusia 20 tahun yang tidak kunjung memberikannya informasi penting. Semuanya hanya permainan kata kata bagi Jeon Jungkook yang sudah satu jam lamanya hanya membuat kesabaran Seokjin habis.

"Kau tidak perlu dipenjara kalau kau mau membantuku", Seokjin bersuara tajam. Namun, keringat dingin mengucur dari pelipisnya. Meskipun, Jungkook terlihat sangat resah, ia sendirilah yang merasa terperangkap. Seokjin merasa sebagai pihak berwenang yang dipermainkan oleh narapidananya sendiri.

Seokjin memperhatikan pria yang masih saja menunduk, menyembunyikan wajah babak belurnya di bawah tudung jaket. Seokjin berusaha sebaik mungkin untuk mengendalikan emosinya, rasa frustasi nyaris menyerang ketika tahanan itu tidak kunjung bicara.

"Jadi?", Seokjin mendesak.

"Aku mempunyai informasi mengenai FRI3NDS dan Russian Cybermafia, terlebihnya-MRX", Jungkook bersuara tidak lebih dari bisikan lirih, matanya hanya menatap kosong ke bawah, kemana saja yang tidak harus bertemu langsung dengan tatapan orang lain.

"Jika kau menginginkan informasiku, aku harus menceritakanmu dari awal semuanya terjadi", Jungkook menengadah, tersenyum ketika pada akhirnya Seokjin menyerah, duduk berhadapan dengan tahanan yang sedang menghabiskan detik detik terakhir dalam hidupnya.

"Baiklah, aku akan mendengarkan".[]

Semua berawal dari suatu malam yang dingin di Bulan Desember, aku berjalan di pesisran Kota Berlin yang tidak terlalu ramai dan juga tidak terlalu sepi. Aku bisa melihat sekumpulan pria yang bercakap cakap dipinggir jalan, gelak tawa terngiang pada telingaku yang nyaris tuli. Canda dan seluruh bentuk afeksi menguar di udara yang dingin membeku.

Aku melewati mereka dengan tumpukan kardus di tangan, tidak merasakan kehangatan pertemanan yang mengalir dari para pria itu. Mereka mengenakan mantel tebal untuk menahan dingin yang menusuki tulang belulangku yang terasa nyeri dengan setiap langkah yang kuambil. Disinilah aku, berjalan seorang diri dengan tubuh berbalut jaket tipis, menutupi sebuah seragam pesan antar yang membuatku menghembuskan napas panjang.

Untuk informasi kalian, aku putus sekolah. Aku tidak melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi dikarenakan tidak ada yang mampu membiayai pendidikanku. Namun, diatas segala kekosongan dalam diriku, aku merasa aku adalah seorang pahlawan. Seorang pahlawan, mereka selalu saja memiliki kisah yang tragis. Superman, kedua orangtuanya meninggal akibat ledakan di luar angkasa. Spiderman, kedua orang tuanya meninggal akibat sebuah kecelakaan. Batman? Ayah dan ibunya ditembak mati di depan mata kepalanya sendiri.

Dari kategori tersebut, aku lulus kualifikasi. Ayahku meninggalkanku sejak aku dilahirkan dari rahim ibu. Setelah kepergian ayah, ibu menjadi tidak stabil dan ia selalu menyalahkanku atas kehilangan suaminya. Mungkin, seharusnya aku adalah anak yang tidak pernah dilahirkan. Ibu gantung diri pada usiaku yang ke delapan, menemukan mayatnya di dalam rumah bukanlah bagian yang terburuk. Mengetahui bahwa dia dengan mudah meninggalkanku untuk hidup sebatang kara dan tersiksa seorang diri adalah hal yang paling berat.

Bicara masalah pahlawan super, tentu saja aku memiliki kekuatan. Aku dikaruniai anugerah sejak aku duduk di bangku kelas dasar. Aku melihat teman sekelasku bermain bola basket, ketua tim yang memilih anggotanya satu persatu. Tidak ada yang memanggil namaku, tidak ada yang bahkan melingukkan kepalanya dan menyadari kehadiran bocah kurus kering yang terduduk sendirian di kursi penonton.

Itulah kekuatanku. Aku tidak terlihat.

Setelah kepergian kedua orangtuaku, mereka mengirimku untuk tinggal bersama nenek yang berusia 70 tahun dan menderita penyakit Alzheimer. Tapi, diatas segala kekurangannya, nenek satu satunya orang yang rela membesarkanku sampai aku menginjak usiaku yang sekarang, 20 tahun. Aku seorang pria yang cukup dewasa dan mandiri. Sudah saatnya bagiku untuk membalas budi nenek. Sekarang, aku yang selalu merawatnya.

Nenek bisa saja bercanda tawa dengaku pada malam harinya, untuk melupakan bahwa aku bahkan ada keesokan pagi. Satu satunya hal yang dapat membantu ingatan nenek adalah tiga selongsong peluru yang ditinggalkan suaminya yang gugur dalam Perang Dunia Kedua.

Yah, aku rasa kami kurang lebih merasakan hal yang sama. Kesepian.

Dan karena perjalanan hidupku yang kurang beruntung, aku berakhir bekerja di Paradise Pizza, khususnya pada bidang pesan antar. Setidaknya, aku cukup penting untuk berjalan kaki bermil mil jauhnya, mengetuk asrama mahasiswa yang akan membayarku dengan uang lebih karena merasa kasihan kepada pria yang berulang kali menggusak hidungnya akibat berjalan jauh pada musim dingin.

Terkadang, ketika aku lebih sial dari hari lainnya, pelangganku tidak memberi sepeser euro pun karena pizza yang kuantar sudah mengeras. Pekerjaanku cukup berat bukan karena destinasi pesanan yang berpencar pencar di seluruh sudut Kota Berlin. Namun, ketika kau melayani seorang manusia yang memiliki kepriadian berbeda beda—pada titik itulah aku sering mengalami kesulitan.

Kau bisa menyebutku sebagai introvert. Sudah jelas aku tidak pandai berkomunikasi, aku bahkan tidak berani menatap seseorang tepat ke dalam matanya. Karena aku bisa melihat refleksi diriku yang telah gagal dalam hidup. Aku juga bisa melihat segala bentuk kritik di dalam benak seseorang melewati sorot mata mereka.

Itu alasan mengapa aku selalu berjalan dengan kepala tertunduk.

Aku kembali menggusak hidungku, terkejut ketika cairan kental membasahi ibu jariku yang sudah pucat pasi. Aku baru menyadari seberapa jauh aku sudah melangkah, seberapa sakit dan ngilu tubuhku menahan udara dingin yang begitu menggigit. Aku menghembuskan napas yang berubah menjadi asap, mengusap batang hidungku dengan lengan jaket, membiarkan darah segar membasahi kainnya.

Setidaknya, aku sudah sampai.

Aku mendorong pintu perpustakaan umum dengan pundak, memegangi tumpukan kardus pizza pada kedua tangan, berharap adonan asal Italia itu belum terlalu keras untuk disantap. Aku tersenyum kikuk kepada sekumpulan mahasiswa yang tengah berkumpul di sebuah meja persegi panjang, lampu kuning menerangi tumpukan buku yang lebih seperti dilempar daripada dibaca.

"Ayolah, Stephen. Berhenti membuatku tertawa".

"Kenapa? Kau cantik ketika tertawa lepas", seorang pria berkacamata trendi menggusak rambut gadis yang membelakangiku, membuat perempuan itu kembali terbahak. Suasana yang hangat itu justru membuatku merasa semakin dingin, terbuang jauh dari lingkar pertemanan.

"Kalau kau bersedia menjadi pahlawanku, kau harus mencuri soal ujian untukku di Fakultas Hukum minggu depan", gadis itu menengadah kepada pria yang tidak melepaskan jarinya diantara jalinan rambut cokelat perempuan yang kemudian menghembuskan napas panjang, membolak balik buku sebelum membantingnya ke meja.

"Oh, dimana kah Superman-ku?".

"Paradise Pizza", aku memotong percakapan para mahasiswa ketika kakiku mulai terasa kesemutan dan fakta kalau aku berdiri diam di ujung pintu perpustakaan terlihat semakin canggung—bahkan untuk diriku sendiri. Aku pun tersenyum memamerkan gigi yang aku sesali sedetik kemudian. Pria jangkung berkacamata itu mengeluarkan suara 'pft' jelas sebelum menertawai seragam yang kukenakan, perpaduan antara kuning dan oranye dari ujung kaki sampai kepala.

"Aku tidak tahu seorang burung bisa mengantar pizza"

Sangat lucu, aku membatin malas.

Aku sesegera mungkin menyerahkan pizza itu kepada seorang gadis dengan rambut ikal yang sedartiadi bercanda gurau dengan pria berkamata yang sudah jelas menghinaku. Gadis itu pun berpaling dengan senyum manisnya dan aku seperti tersetrum listrik bertegangan ribuan volt ketika mata kita bertemu. Dia tidak terlalu cantik, rambut cokelatnya mengeriting di musim dingin yang berkepanjangan dan gadis itu tidak tampak peduli untuk menyisirnya.

Namun, diatas segala kekurangan yang ia miliki, rasa percaya diri ketika gadis itu berbicara membuatnya terlihat jauh lebih menarik. Namun, aku bukan tipe pria yang percaya kalau kau dapat jatuh cinta pada pandangan pertama. Sayangnya, ini bukan pertama kali aku bertemu dengan Marie.

"Hei", Marie mengambil alih kotak pizza yang bisa saja kujatuhkan kalau gadis itu terlambat dua detik saja. Ia tersenyum ramah, "Terimakasih telah mengantar pesanan kami, kau pasti sangat kedinginan diluar sana".

"Totalnya 345 euro", aku langsung menunjukkan nota pembayaran. Marie menyerahkan segenggam uang lebih dari harga yang tercantum, nyaris membuat senyumku terukir ketika pria berkacamata itu berteriak marah.

"Aku sudah bilang aku tidak mau makan jamur! Mengapa ada jamur di pizzaku?!", ia bertanya sembari membanting kotak pizza itu di meja perpustakaan. Bagaimana aku akan menjawabnya? Aku hanya mengantar pesanan yang diserahkan oleh atasanku.

"Um.."

"Kau tahu apa? Aku tidak akan membayar", Pria bernama Stephen itu menyahut uang dari genggaman tanganku dengan kasar, aku bahkan tidak berepot repot untuk merebutnya kembali. Marie menegur teman akrabnya, berusaha mengembalikan uang bayaran yang sungguh tidak kupedulikan lagi. Aku hanya ingin segera keluar dan terbebas dari atmosfer yang mencekikku sejak aku tiba.

"Kau sangat jahat, Stephen!".

"Ayolah, Marie. Lihatlah dia", Stephen kembali menguarlkan suara 'pft' yang tidak mengundang unsur kelucuan sama sekali. Marie berpaling kepadaku dengan raut menyesal, mengucapkan perminta maaf berulang ulang. Ia berakhir terdiam ketika aku tidak kunjung menjawab atau memberikan respon yang lain.

"Aku akan menyelamatkanmu, dari keadaan apapun. Bahkan, kalau aku harus berkorban untukmu, aku tetap akan menyelamatkanmu", aku berucap tanpa jeda, kali ini kalimatku tidak bergetar dan aku tidak tersedak kata kataku sendiri.

"…Apa?", Marie mengernyit bingung.

"Itu kata kata Superman. Kau menyebutnya tadi. Superman?".

Marie terheran heran ketika aku mengulas sebuah senyum canggung, sebelum suara 'pft' ketiga membuatku habis kesabaran.

"Sudahlah, biarkan saja", ujarku mengindikasikan upah yang tidak diberikan kepadaku dengan semestinya. Marie hendak menahan lengan seragamku ketika Setphen kembali melontarkan ejekan bermutu, "Ayolah, Marie. Ia hanya orang aneh".

Dan memang begitulah aku. Orang aneh yang jatuh cinta kepada satu satunya gadis yang berhasil merebut perasaanku sejak aku duduk di bangku kelas lima. Sekolah dasar adalah saat yang labil dengan kenaifan seseorang diluar batas. Tapi, sampai sekarang, aku masih saja memiliki perasaan kepada Marie.

Gadis yang terlihat sangat cantik di dalam mataku.

Saat saat terbaik dalam hidupku adalah ketika aku melepaskan seragam pesan antar yang sangat konyol dari tubuhku, berganti dengan jaket biru tipis yang selalu menjadi pakaian sehari hariku di dalam kamar. Aku sangat menikmati ketika tubuhku terjatuh pada kursi putar di depan meja belajar dengan sebuah komputer menyala. Aku sangat bahagia ketika butiran Ritalin tertelan ke dalam tenggorokanku, membuatku terjaga sepanjang malam dengan tingkat kefokusan yang maksimal.

Inilah saat terbahagia dalam hidupku.

Saat aku meluncur ke dalam Darknet.

Aku bukan siapa siapa.

Namun, aku dapat menjadi siapa saja di dalam sini.

Aku hanya pecundang yang tidak pernah masuk ke dalam sebuah kelompok manusia, aku adalah peretas yang sangat disegani di dalam dunia virtual. Aku sudah mempelajari pemrograman sejak usiaku 14 tahun, setiap hari aku bekerja di depan layar komputer, setiap hari aku berkomunikasi dengan data dan angka yang bergilir gilir masuk.

Aku tidak bisa berbicara dengan orang lain. Karena aku hanya mengerti Bahasa Mesin.

Aku meluncur ke dalam Darknet dengan akunku yang bernama 'WHOAMI'. Imej yang kupasang di dalam dunia gelap itu hanya pria bertudung jaket dengan topeng kelinci yang menyembunyikan identitas asliku. Tentu saja, tidak ada yang mengerti siapa yang berada di dalam sini. Seperti perkataanku, kita bisa menjadi siapa saja.

Diantara segelintiran peretas yang pernah kutemui, Darknet mempunyai seorang Tuhan dengan inisial 'MRX'. Pria bertudung hitam dengan topeng putih dengan huruf 'X' melambangi di tengah. Ia adalah satu satunya Tuhan yang berkuasa di Darknet, dia yang mengerti bagaimana rasanya menjadi tidak terlihat, dikucilkan, diasingkan. Ia mengerti bagaimana rasanya menjadi diriku.

MRX mengajariku tigal hal. Pertama, 'No System Is Safe'. Kedua, 'Aim For The Impossible', dan ketiga 'Have Fun In Cyberspace'.

Aku bukanlah penguasa bagi siapapun. Tapi, Darknet membuatku merasa hidup, merubah sikap pendiamku menjadi agresif, aku bukanlah pencundang di dalam lingkaran ini. Aku adalah bagian penting dari mereka, aku adalah seorang peretas dan MRX adalah Tuhanku.

Dan tidak ada satu pun sistem yang tidak bisa ia retas.[]

Hidup menjadi seorang pahlawan memang tidak pernah mudah. Begitupula denganku yang kini berjalan di antara loker loker yang terkunci di lorong gedung Fakultas Hukum. Aku bukan pahlwan di Darknet, aku hanya satu dari ribuan peretas handal yang belum pernah melakukan sebuah terobosan di dunia maya. Namun, aku bisa menjadi pahlawan bagi seorang gadis.

Semuanya memang begitu sederhana.

Membobol ke dalam server utama akademik sangatlah mudah, terlalu mudah seperti ketika aku mengangkat gagang telepon pesan antar di Paradise Pizza. Meretas ke dalam sistemnya hanya merupakan teka teki selingan bagiku, seperti mengisi kebosanan yang tidak ada habisnya. Seorang peretas tidak harus selalu bersembunyi dibalik meja, bahkan terkadang mereka meninggalkan sebuah barang bukti atau mengambil cinderamata.

Seorang hacker tentu ingin dikenal. Untuk apa kau merusak dan mengacaukan sebuah sistem ketika tidak ada yang mengerti eksistensimu?

Meretas itu dapat dikatakan seperti sulap. It's all about deceiving somone.

Kau menipu seseorang dengan memberinya sebuah kebohongan, menyajikan fakta yang palsu. Dalam dunia peretasan, semuanya begitu bebas, luas tak berujung, dan kau dapat melakukan apa saja yang ada di dalam imajinasimu.

Aku sangat handal, sangat terampil.

"Hei! Apa yang kau lakukan disitu?!".

Dan sangat bodoh.

Kini, aku dihadapkan kepada Kepolisian Berlin karena tertangkap basah membobol masuk gedung Fakultas Hukum dan mencuri data dari server utama akademik. Aku kembali dihadapkan kepada kegagalanku yang nyaris membuatku percaya bahwa aku adalah pecundang yang sempurna. Sepertinya, bahkan Darknet tidak bisa menyelamatkanku kali ini.

"Tidak ada rekor kejahatan, tidak ada tindak kekerasan. Tak kusangka kau cukup bersih", petugas kepolisian itu menatapku sembari mengevaluasi catatan kriminalku yang tentu saja tidak ternoda. Aku hanya diam dikursi besi, merasa seperti tahanan yang ditangkap karena kebodohannya sendiri. Aku sangat ceroboh, tak terarah, dan terlalu sombong.

Apakah aku tidak bisa menjadi pahlawan bahkan bagi seorang gadis sekalipun?.[]

Aku berakhir mendapatkan hukuman yang termasuk ringan namun sangat menyiksa. 50 jam mengabdi kepada masyarakat yang tidak kupedulikan, 50 jam membersihkan Kota Berlin yang begitu kubenci, membersihkan kotoran dan sampah yang berterbangan di sekeliling kota, membersihkan tanah air yang mencekik leherku sejak aku lahir.

Aku kembali mengenakan seragam, kali ini berwarna biru dengan rompi bergelembung oranye yang membuatku mati kepanasan di dalamnya. Meskipun udara sangat dingin di Bulan Desember. Atau apakah rasa maluku sudah mencapai titik puncak sehingga suhu tubuhku memanas dengan sendirinya? Aku tersenyum miris sembari menyapu trotoar dengan debu yang berterbangan, sesekali terbatuk ketika partikel terkutuk itu melesak ke dalam lubang hidungku.

Ini tidak akan berakhir dengan baik.

Aku segera menenggak Ritalin ke dalam tenggorokan. Satu satunya penunjang yang memaksaku untuk terus bernapas, candu yang tidak akan pernah kulepas dari aliran darahku. Satu satunya hal yang aku tidak bisa hidup tanpanya.

Fokusku pun menyebar seperti sengatan listrik yang memerintah otakku untuk sadar sepenuhnya.

Aku memungut botol sampah dan plastik dengan penjepit kayu yang bercabang dua dengan mata melebar, memindahkannya ke karung sampah yang sudah dipersiapkan. Tentunya, aku tidak sendiri. Aku bersama dengan orang tidak beruntung lain yang terkena hukuman karena alasan yang tentu saja tidak sesepele diriku.

Aku menyandar pada dinding terowongan Berlin ketika pekerjaanku sudah selesai, napasku sedikit tersendat dan jariku mati rasa. Mungkin, karena udara sedingin es ini membekukan otot ototku yang kupaksakan berkontraksi 50 jam lamanya untuk menyingkirkan sampah dari sepenjuru jalan.

Bahkan, kali ini Ritalin tidak memberikan pengaruh yang signifikan.

Aku membuka mataku ketika seorang pria melangkah masuk ke dalam terowongan, seragam biru yang sama menandakan kami berdua sama sama dihukum. Ia menyematkan puntung rokok diantara geliginya, membakar bubuk tembakau itu sebelum menghembuskan asap yang meliuk liuk di udara. Pria itu sangat tampan dengan rambut cokelat tua yang jatuh melewati telinga, kulit tan-nya yang terbakar matahari tidak sesuai dengan karakteristik wajahnya yang khas orang Korea, seperti diriku. Namun, seluruh gabungan itu membuat pria yang kini tersenyum kepadaku terlihat sangat seksi dan menarik.

"Mengapa kau dihukum?", ia bertanya sembari menghisap batang rokok itu dalam dalam, kantong hitam berisi sampah tergenggam ditangan kirinya. Aku diam saja, memperhatikan ketika pria itu menengadah untuk menghembuskan asap rokok ke udara dingin. "Apa kau tidak bisa bicara?".

Aku tetap diam.

Bagaimana tidak? Aku selalu mempunyai masalah berkomunikasi dengan orang lain. Terlebih lagi, atensi pria ini hanya tertuju kepadaku, dia berbicara kepadaku seorang, tanpa kehadiran manusia yang lain. Apa yang harus kukatakan?

"Kurasa, itu artinya 'tidak'".

Pria itu mengamatiku dengan lirikan singkat sebelum sebuah senyum mengejek terukir pada bibir eksotisnya, "Biar kutebak. Kau adalah seseorang yang berpikir dunia itu tidak adil. Seseorang yang berhilir mudik kesana kemari tapi tidak pernah terlihat. Kau tidak pernah dipukuli karena tidak ada yang peduli kepadamu. Dan itu sangat sangat menyedihkan".

Ia melempar rokok dari bibirnya sebelum menginjaknya di bawah kaki, memadamkan bara api yang menyala kemerahan sebelum melangkah keluar dari terowongan.

"Masalah komputer", entah atas dorongan apa suara kecilku pun menjawab. Sedikit bergetar, sedikit terpeleset di antara lidahku sendiri. Namun, cukup keras hingga pria berperawakan tinggi itu kembali berpaling.

"Bagaimana denganmu?", aku melanjutkan, memberanikan diri menatap mata tajam pria yang sekarang hanya berjarak beberapa jengkal dari wajahku. Entah mengapa ia terus memojokkanku ke dinding terowongan.

"Ini dan itu. Apa yang kau lakukan, huh? DDoS attack? Botnets? Phising?", pria itu mendorong dorongkan capit sampahnya ke wajahku, memaksaku untuk merangsek mundur hingga menabrak dinding terowongan. "Atau kau hanya Script Kiddies?".

Aku tidak menyukai caranya berbicara, intonasi arogan dan dengusan meremehkan yang selalu terpampang pada wajah sempurna itu. Kepercayaan diri berlebih yang membuatku merasa semakin ciut.

"Aku meretas sistem akademik", ujarku pada akhirnya.

"Dan bagaimana caranya kau membobol masuk?".

Aku mengangkat bahu, "0Day Exploit?".

Pria itu terengah, sebuah seringai licik terpatri pada bibirnya. Ia mengulurkan tangan, aku menghabiskan tiga detik penuh menatap jemarinya yang begitu lentik, rasa canggung mulai menguasaiku, keresahan akan bersosialisasi yang selalu saja menghambat pertemananku kembali membubung ke permukaan.

"Namaku Kim Taehyung".

"Jeon Jungkook", aku menjabat tangan Taehyung tanpa berani melihat matanya.

"Kau bisa Bahasa Mesin?", aku mengangguk kecil. "Sesederhana itu?", aku kembali mengangguk, membuat Taehyung menyeringai puas. Ia pun menyerahkan sebuah alamat kepadaku, aku hanya mengernyit tidak mengerti, menginginkan penjelasan lebih darinya.

"Kuharap kau tidak sibuk malam ini", ia melirik singkat kearah alamat yang sekarang kumiliki di kedua tangan. Dan disinilah dimana aku dihadapkan pada kedua pilihan yang tidak pernah kusangka akan hasilnya. Karena ini adalah titik dimana aku bisa mengubah seluruh hidupku. Aku mempunyai kemapuan meretas yang tersembunyi dibalik ketidakmapuanku untuk berkomunikasi.

Pernahkah kau melihat seseorang yang tidak bisu namun juga tidak bisa berbicara?

Itulah aku.

Dan Kim Taehyung adalah suaraku.[]