HOPE : NamJin
Cast :
- Kim Namjoon as Levi
- Kim (Cho) Seokjin as Eren
- Min (Kim) Yoongi (gs) as Mikasa
- Kim Taehyung as Armin
- Jeon Jungkook (gs) as Historia
- Jung Hoseok as Hanji
Rate: M
Genre: Drama, fantasy, romance, hurt/comfort
AU! Remake fanbook dengan judul yg sama. Titan Era! Ooc! Don't like Don't read!
Nb: jangan bayangin Namjoon secebol levi :'))
- Prolog
- Apa yang kau inginkan setelah segalanya berakhir? Setelah semua Titan musnah atau bukan jadi masalah lagi?
- Dengan memori otak berkapasitas sekarat, Seokjin berusaha mengingat;siapakah yang melontarkan pertanyaan itu di masa lalu?
- Saat itu dia menjawab: "aku ingin hidup tenang bersama keluargaku. Kalau bisa kembali dengan keluargaku seperti dulu, saat ayah dan ibu masih ada"
- Pertanyaan itu terulang pasca kemenangan manusia. Akan tetapi, realisasinya jauh dari harapan. Bagi dirinya, bagi Yoongi, bagi Taehyung, bagi Jungkook—
- Terutama bagi Namjoon
Seokjin mendengar kabar Yifan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Baginya mungkin tidak ada istilah penjara seumur hidup, yang ada hanya eksekusi yang dijalankan di tempat. Tersenyum pahit, dia mendengar suara langkah kaki mendekat. Pintu penjara dibuka, dia bertemu muka dengan kaptennya.
"kapten" mata mereka beradu. Mantan kaptennya berdiri tepat di depannya meraih belenggu tangannya.
Namjoon bungkam seribu bahasa. Matanya lurus saja menatap si tahanan. Seokjin melayangkan pandangan penuh Tanya yang Namjoon sendiri tidak bisa menawarkan jawaban.
Namjoon memasukkan kunci borgol untuk melepas belenggu rantai Seokjin, membuat mata bocah itu membelalak.
"bagaimana perasaanmu?" tanyanya dingin. "berdiri" perintahnya.
Masih ada borgol lain yang saling mengikat tangan Seokjin. Bocah itu berdiri kaku dengan tungkai kakinya yang ngilu. Seokjin tersandung ke depan, terjatuh kea rah tubuh Namjoon.
"aku… baik-baik saja, kapten… aku bahkan tidak merasakan apa pun saat ini" saat menjelang kematiannya. Sudah sekian kali ia ditanyai hal sama. Ketika akan melangkah, kakinya yang masih terbelenggu membuatnya kehilangan keseimbangan. Dia jatuh kea rah sang kapten yang dengan sigap menangkapnya dalam pelukan.
"aah maaf" suaranya parau karena kehausan. Seokjin merasakan kehangatan tubuh Namjoon menyelimuti dirinya sejenak.
"maaf, aku lelah sekali. Aku ingin ini semua berakhir" Seokjin tertawa rendah, dia memandang Namjoon yang belum melepaskannya.
"bocah berisik, aku bisa lihat kakimu bergetar hebat. Kau tidk bisa berdiri dengan kakimu sendiri" Namjoon mengeratkan pegangannya kepada Seokjin. "kenapa kakimu terluka?"
"hanya akibat bertengkar dengan military police. Mereka mencoba melakukan hal diluar kendaliku sementara aku dibelenggu. Terjadi perkelahian singkat apabila Yoongi tidak turun tangan waktu itu" Seokjin terkekeh pelan. Kilatan mata kaptennya memberikan perhatian lebih padanya. Dia tampak marah.
"babi-babi kurang ajar itu!" geramnya, disertai gerutuan lain yang sulit tertangkap telinga. Tangannya meremas pinggang Seokjin lebih kuat. "yang kupertanyakan adalah kenapa luka ini masih terlihat baru. Kau tidak bisa memulihkan diri?"
Seokjin tergelak. "tidak, bukan begitu, sepertinya ini hanya soal kemauanku untuk menyembuhkan diri. Aku mungkin sudah cukup putus asa untuk menginginkan diriku sembuh"
Namjoon tidak berkata-kata lagi, terus memegangi Seokjin sampai keduanya melewati pintu jeruji.
Bunyi gemerincing rantai terdengar sepanjang koridor. Seokjin terus tertunduk, memperhatikan langkah kakinya sepanjang jalan. Sedikit banya ia bernostalgia. Hal ini pernah terjadi saat Seokjin digiring oleh Hoseok dan Jackson menuju pengadilan militer.
Perasaannya berbeda kali ini.
Hanya ada seorang manta kapten yang membimbing langkahnya, tak ada lagi Survey Corps, tak ada yang akan membelanya.
Seokjin mendengar sayup-sayup suara ratusan hingga ribuan orang menggema disebuah lapangan terbuka. Pengadilannya berlangsung disepan masyarakat.
Seokjin mendongak ke atas, cuaca langit tidak mendukung kegalauan hatinya. Cuaca tampak sangat terang benderang. Matanya menangkap temannya di tengah kericuhan massa. Seokjin tersenyum tipis.
"aku tidak akan berwajah sedih, ini mungkin menjadi yang terakhir" Seokjin mberbisik pada Namjoon. Tangan di sekelilig pinggangnya menguat, menariknya lebih dekat. Lengan itu seolah menopangnya dari segala kesusahan hati.
Detik-detik ketika pasukan polisi militer datang dengan seperangkat rantai baru, Seokjin terpisah dari mantan kaptennya. Ia digiring menujuh tengah podum dimana sebuah pasak besi terpancang, dipaksa berlutut dengan kedua tangan diborgol yang tersambung dengan tiang besi. Dihadapannya berdiri sebuah meja siding setinggi 5 meter, dan duduk para saksi saksi pemutus keadilan dan Hakim Tertinggi Darius Zackly. Berbeda dengan pengadilan militer yang dimenangkan oleh Survey Corps, sidang terakhirnya kali ini disertai keriuhan sorakan massa.
"Titan terakhir!"
"eksekusi mati!"
Garis rahang Seokjin mengeras.
Zackly mengetukkan palunya. Suaranya tenggelang dalam euphoria massa. "harap tenang. Sidang dimulai. Kita berjumpa lagi Cho Seokjin-ssi. Kau tahu kenapa berada disini?"
Seokjin melempar pandangan galak, apakah perlu dijelaskan lagi alasn mengapa dia berada di tempat eksekusi ini? "aku sebagai Titan terakhir, aku harus bertanggung jawab untuk kebebasan manusia" jawabnya bisa mendengar raungan setuju dari banyak orang disebelah kanan. Tampaknya, massa terbagi menjadi dua, yang disebelah kanannya ingin dia mati, yang disebelah kirinya ingin Seokjin tetap hidup.
"ini memudahkan perkerjaanku kalau begitu, Cho Seokjin-ssi" Zackly membenarkan kacamatanya, membaca berkas laporan di tangan. "kita mulai dengan laporan singkat dari badan Kepolisian Militer. Sebagai Titan terakhir, kau berada dalam pengawasan Survey Corps—badan militer yang bertanggung jawab untuk mengeksepansi wilayah dan penelitian Titan, yang sekarang sudah dibubarkan dan berganti nama menjadi Lembaga Penelitian yang sudah disetujui oleh Yang Mulia Ratu Jeon. Dalam penelitian rahasia di ruang bawah tanah Kim Jongsoo, disebutkan mereka telah berhasil memperoleh susunan formula didalam tubuhmu untuk mengaktivasi zat serum dan penyembuh untuk mengembalikan Titan sebagai manusia"
Desah nafas dan decak kagum mengalir dari beberapa kelompok massa.
"akan tetapi, pada eksperimen ke-7 yang dilaksanakan sebulan lalu, terjadi semacam ketidaknyamanan yang— cukup menghebohkan berbagai pihak" Zackly meletakkan berkasnya, menumpukkan dagunya di atas punggung tangan. "disebutkan dalam laporan bahwa kau berubah menjadi Titan setinggi dua meter, hilang akal, memakan ayah biologismu sendiri"
Suara-suara terkejut membumbung tinggi di udara. Beberapa mulai mengutuk kuat-kuat.
Seokjin memejamkan mata.
"disini dikatakan bahwa Yifan mempunyai kaitan dengan ayahmu, Dokter Cho, dan berperan sebagai dalang. Dia memaksa Jongsoo untuk melakukan penelitian manusia menjadi Titan, bukankah begitu? Setelah mengetahui bahwa sebagian besar manusia diubah menjadi Titan dengan penelitian sejak berates tahun lalu, ayahmu ikut terlibat dengan proyek ini. Yifan yang mengetahui perkembangan penelitian Jongsoo mencoba untuk mengambil alih motivasi yang tidak kita mengerti. Dia menginginkan 'kekuatan' Titan, menjadikan berbagai anak-anak sebagai percobaan seperti Chanyeol yang berubah menjadi Titan Kolosal dan merusak dinding Maria. Vernon yang menjadi Titan Berzirah, dan Lisa yang masih menjadi bongkahan Kristal. Benih-benih penelitian sedikit demi sedikit ditanamkan kepada manusia, yang gagal akan ketahanan tubuh akan berubah menjadi raksasa yang memiliki kerusakan otak. Salah satu cara kembali menjadi manusia adalah memakan serum yang telah ditanamkan pada tubuhmu itu. Kemungkinan Jongsoo menanamkan serum itu kepada anaknya agar bisa mendapat cara menetralisir benih Titan, namun sayangnya, dengan campur tangan menetralisir benih Titan, namun sayangnya, dengan campur tangan Yifan, semuanya harus berakhir. Kau dijadikan percobaan untuk proses penanaman serum, kau berubah menjadi Titan, dan kehilangan akal sehat dengan memakan ayahmu. Akibat tindakannya mencoba menguasai manusia dengan berbagai akal sehat, Yifan dipenjara seumur hidup.
Serum itu pula yang diincar banyak orang untuk beragam tindak kejahatan. Maka dari itu, Seokjin, dengan motif untuk menyelamatkan para manusia, kita harus menyingkirkan dirimu. Akar dari masalah yang tumbuh, diturunkan dari ayah ke anak, pada jaman kau lah makan akan habis keluarga Jungsoo.
Semua itu demi menyelamatkan manusia, selain untuk menghentikan semua kekacauan yang terjadi saat ini" Zackly memandang lekat wajah Seokjin yang tidak berbicara apa pun.
"sekarang aku ingin member kesempatan untuk beberapa saksi mengutarakan pembelaan. Saudara Jung Hoseok, apa yang membuatmu yakin dan percaya bahwa Seokjin tidak berbahaya?"
Hoseok maju kedepan, tidak sabaran, mengguncang pilar pembats. "aku adalah peneliti Titan, tak ada yang melakukan penelitian Titan sebanya aku dalam kurun waktu belasan tahun ini. Aku tahu segalanya apa yang terjadi" Hoseok menoleh pada Seokjin. "dia dalam hal ini adalah subjekku, manusia yang mampu berubah menjadi Titan. Kata berubah bukan berarti benar, tetapi 'mengalter' yaitu Seokjin punya kemampuan untuk menciptakan tubuh Titan dan mengendalikannya. Pada hari itu, Kim Jongsoo menyuntikkan zat untuk memicu system 'alter' dan 'koordinasi' Seokjin sehingga Seokjin bisa berubah menjadi Titan dalam wujud lain. Itu adalah eksperimen di luar tanggung jawab, dan percobaan murni atas dasr keingintahuan Jongsoo atas pengembangan formula bentukannya. Yang terjadi selanjutnya adalah murni kecelakaan. Bagaimana Seokjin bisa mengontrol diri jika system koordinasinya terkacaukan? Itu bukan salahnya. Seokjin sudah belajar mengendalikan diri bahkan mengendalikan Titan yang lain! Kalian semua dengar? Di luar sana masih ada Titan yang tersisa!" Hoseok menunjuk penuh semangat. "hanya Seokjin! Harapan dan pahlawan kita semua umat manusia, yang bisa mengehentikan pergerakan seluruh Titan di dunia. Dan tidak perlu kuungkit lagi tentang fakta bahwa pemerintah yang lama menyimpan Titan di dalam dinding"
Kasak-kusuk masyarakat menjadi keheningan. Wajah-wajah diliputi ketakutan dan syok.
Zackly diam sebentar, kemudian mengangguk. "pertanyaan ini pernah kuajukan beberapa tahun lalu dan akan kuulangi untuk terakhir kalinya: deham Zackly. "apa kau yakin dia benar-benar bisa mengendalikan diri?"
Masyarakat berbisik resah, sebagia lainnya kembali meneriakkan kalimat eksekusi.
Zackly mengetuk palu. "mohon diam! Nah, aku ingin dengar jawabanmu, Seokjin"
"aku…" perkataan Seokjin terputus, berusaha untuk menenangkan diri sebelum Hoseok meneruskan. Semua mata mengarah kepadanya, semua menunggu perkataan selanjutnya. Bukan hanya Hoseok yang membela, teman-teman seperjuangan yang ada di antara kerumunan massa juga menginginkan dirinya hidup. Seokjin mengepalkan tangannya yang sudah pulih. Luka di kakinya tidak lagi terasa sakit. "aku bisa mengendalikan diriku!" pekiknya dengan segenap keraguan. Bagaimana ia berani berkata-kata sedangkan ayahnya sendiri telah ia santap? Tidak ada lagi kapten yang akan menjaganya apabila ia lepas kendali.
"kami tidak butuh jawaban dari seorang Titan!" pekik salah seorang di atas podium.
Zackly mengetuk palu lebih kuat.
"Seokjin bisa mengendalikan diri" jawab Hoseok. "kalian jangan lupa! Dia pahlawan yang menyelamatkan kita semua dalam perang Titan di luar dinding. Dialah yang membebaskan Dinding Rose. Dia yang mengekspansi wilayah sehingga kita bisa membangun satu dinding lagi. Manusia macam apa kita semua jika mengabaikan fakta dan tertawa di atas seluruh pengorbanannya!"
Teriakan Hoseok menggema sepanjang dinding, membungkam mulut orang-orang.
"oke" deham Zackly. "sekarang dari pihak yang menginginkan Cho Seokjin dieksekusi, Kepala Kepolisian Choi Siwon. Silahkan"
Siwon maju kedepan, tak terlihat seantusias biasanya. "Cho Seokjin yang kita ketahui adalah salah satu dari pahlawan perang, dan yang paling berperan saat itu. Saya mengerti, tetapi apakah jika ia dibiarkan hidup bersama kita, tidak akan membawa bahaya yang berkelanjutan? Bagaimanapun dia adalah Titan"
"dia adalah Titan dan dia yang menyelamatkan bokongmu Choi!" pekik Hoseok.
"harap tenang dan lanjutkan"
"dia memangsa ayahnya sendiri adalah sesuatu yang sangat tidak manusiawi! Kalaupun dia dibiarkan bebas, dia butuh pengawasan ketat. Kami Kepolisian Militer, tidak bermaksud lepas tangan, tapi tidak mau mengorbankan diri kami dan mengambil resiko. Pasukan penjaga pun tidak punya andil atas Seokjin. Sementara Survey Corps sudah dibubarkan, dan pecahannya yang merupakan Lembaga Penelitian Titan, menurut kami tidak bisa lagi dipercaya untuk menanganinya. Kim Seokjin juga tidak punya keluarha sah. Tidak ada saudari angkatnya dalam akta. Tak ada tempat bagi Cho Seokjin di masyarakat"
Yoongi mengamuk. Seokjin melihat gadis itu hamper menerobos ke depan jika tidak ditahan.
"tak ada tempat bagi dia di masyarakat?"suara baritone yang dalam dan berat menggaung. "dinding kita bukan hanya dimiliki oleh ketiga lembaga tidak berguna, kau tahu itu Choi Siwon"
"N-Namjoon, kau sudah buka kapten lagi! Statusmu adalah veteran dan saat ini kau bersama Kim. Kau sudah tidak punya hak atas Seokjin"
"keluarga Kim siap menampung dan mengawasi bocah itu"
Suara terkejut menggema disana-sini.
Seokjin membelalakkan mata, melihat secara jelas Namjoon berdiri bersama Kim Changmin. Pria itu adalah pembunuh bayaran milik kerajaan, ditakuti segala pihak, dan keluarga menakutkan kini berada di pihaknya? Tak ada yang berani menentang Kim bahkan kerajaan sekalipun.
"aku tidak masalah menampung seekor Titan" kata Changmin, suaranya membuat takut massa oposisi. "kami, Kim, sudah memilih untuk berdiri bersama bocah itu"
"ma-maaf, tetapi tidak bisa! Kalian disegani dan superpower sekalipun, Seokjin haruslah dibawah pengawasan legal! Terkecuali jika dia adalah bagian dari keluarga kalian, dan tidak segampang itu melakukan adopsi atas dirinya"
Zackly mendengus. "kecuali Seokjinpunya status berkeluarga dan menjadi bagian dari keluarga Kim, dan itu adalah sesuatu yang tidak mungkin"
Yoongi akhirnya bersuara, "pernikahan! Seandainya Seokjin menikah dan menjadi bagian dari keluarga Kim. Kalian tidak akan bisa mengganggu gugat"
Hening.
"pernikahan tidak bisa di anggap remeh. Pernikahan adalah sesuatu yang sacral" kata seorang pastor berjubah gelap dari partai Religion. "siapa yang mau menikahi si manusia Titan, makan dia akan terkutuk, dan kusarankan orang itu dihukum mati bersamanya"
"Kim" sahut Namjoon, mendadak maju ke depan. "Kim yang akan memiliki Seokjin dengan jalur pernikahan— apapun itu istilah kalian. Kalian berani mengeksekusi Kim?" Namjoon sudah beberapa langkah dari podium Seokjin, mata gelap menyusuri setiap wajah-wajah penuh kekalutan. "berani mengeksekusi aku?"
Darius melipat tangan. "Namjoon apa yang kau kehendaki?"
"sesuai dengan kalian semua dan demi mematuhi aturan undang-undang"
"pernikahan?" petinggi partai Religion memandang takjub dan jijik. "kau ingin menikahkan Seokjin dengan keluargamu? Tidak akan sah jika tidak dihadapan rakyat!"
Mata Namjoon berkilat. "kalau itu bisa memuaskan kalian, kulakukan disini"
Dia berdiri disamping Seokjin, memandang bocah yang kebingungan dengan mata coklat bergerak-gerak.
"apa yang—"
Seokjin terkesiap ketika Namjoon menarik kerah bajunya. Sang mantan kapten menunduk, menangkap kedua bibir hangat itu dengan bibirnya. Mulut mereka bertautan dihadapan semua mata di sekeliling mereka. Seokjin membelalakkan mata. Dia bisa mengecap lidah sang kapten di sela-sela bibirnya.
Wajahnya merah pekat. Ciuman pertamanya memang tidak berarti, tapi kini direnggut di depan banyak orang, terlebih oleh sang mantan kapten yang sangat dihormatinya itu.
'katakan padaku ini mimpi!' Seokjin berteriak dalam hati. Telinganya menangkap berbagai macam kecaman dan lontaran histeris banyak orang. Massa menghujat dan menyuarakan kenistaan mereka. Wajah Seokjin terlihat seperti seekor ikan dengan mulut terbuka, mata membesar, pucat pasi.
Lidah Namjoon menyapu bibir bawahnya ketika dia menarik wajah, kembali menatap pihak-pihak yang menginginkan bocah Titan itu mati.
Seokjin bergetar. 'pernikahan? Maksudnya dengan Namjoon? Kukira dia membicarakan Yoongi' perhatian Seokjin terbesit, memandang Yoongi yang sudah membara. Ekspresinya sulit dilukiskan dengan kata-kata, gadis itu tampak siap terjun untuk menebas Namjoon jika tidak ditahan oleh Taehyung. Tidak hanya Yoongi, seluruh teman-teman dan rekan seangkatannya ikut bewajah syok dengan mulut menganga lebar.
"Namjoon! Kau gila! Apa yang kau pikirkan? Apa gunanya membela bmenjijikkan itu! Jangan sia-siakan masa depanmu untuknya! Kau bisa memilih gadis-gadis cantik dari kerajaan selayaknya keluarga Jeon!" Siwon berseru tidak setuju. Suara-suara dibelakang mengikutinya.
Seokjin menatap Namjoon cemas, dahinya berkerut menginginkan penjelasan.
Suara Zackly menggema di tengah kericuhan massa. "Namjoon, apa yang kau pikirkan?"
Namjoon mengusap bibirnya. "apa yag barusan itu kurang, sah?" ketua Partai Religion di pelototinya. "hei pastor. Ke mari kau. Buat pernikahan antara kedua insane Titan pahlawan san mantan kapten ini sah. Ini upacara sacral didepan mata seluruh orang, sesuai syarat kalian semua dewan yang terhormat"
Pastor berjubah itu ketar-ketir, menatap tak percya.
Namjoon menyipitkan matanya, gelap. "kau tidak mau melihat upacara sacral asal-asalan kan? Mana kode etik moral yang selama ini kau pegang"
Hujatan demi hujatan mengudara, Namjoon menyatukan matanya ke seluruh audiens.
"kenapa? Ingin melihat mantan kaptenmu dieksekusi? Silahkan. Di luar sana masih banyak Titan yang berkeliaran dan silahkan hitung yang didalam dinding. Siapa yang ingin turut serta berenang-renang di lambung mereka, kalian babi-bai tidak tahu terimakasih. Pada akhirnya kalian hanya akan berlari dan menjilat kaki kami disini, memohon perlindungan dalam cangkang menyedihkan kalian"
Resahan mulai menggeman dibalik kecaman, massa mulai meragukn kebebasan mereka yang bersifat sementara itu. Mata Seokjin menyapu kecemasan berbagai pihak.
"k-kapten… haruskah…" Seokjin berbisik, takut melibatkan Namjoon yang seharusnya bebs dari beban seorang bocah. Namjoon tidak menjawab, jarinya menyuruh sang pastor untuk naik ke panggung eksekusi. Sang pastor dipelototi Choi Siwon, pria gila itu mengarhkan senapan ke arahnya.
"jika kau melangkah ke depan, kau akan kutembak ditempat"
"tunggu, apa-apaan kau, Siwon? Kau sudah gila? Dia orang terhormat yang jauh lebih baik daripada dirimu yang gila hormat! Apa kau hendak menimbulkan perpecahan di antara kubu kita?" slah satu pengikut pastor merentangkan tangan, membela sang pemuka religi.
Namjoon mendengus melihat mereka mulai pecah hanya kata-kata. Seokjin menganga menonton perpecahan di antara mereka sendiri.
"kita tidak punya banyak waktu untuk menonton kalian bertengkar" Namjoon menggumam dengan mata dingin.
Zackly terlihat menahan nafas dibalik meja sidang. Tak ada satu individu pun berani mengusik upacara sacral. Restu dan penolakan menggema bisu di antara keduanya.
Pastor menggenggam kitab bersampul kulit hitam, tanganyya gemetaran. "aku mulai sekarang, di depan keadilan, di depan rakyat dan Tuhan! Saudara Kim Namjoon, apakah saudara bersedia menerima dan mengakui Cho Seokjin sebagai pendamping hidup? Untuk hidup bersama sebagai pasangan suci seumur hidup, dalam suka maupun duka, dalam kelimpahan maupun kemalangan, dalam sakit maupun sehat, dan setia kepadanya sampai mau memisahkan kalian?
Namjoon menjawab cepat, tak ada jeda dalam ucapan. "aku, Kim Namjoon, menerima Cho Seokjin menjadi pendamping hidupku dalam pernikahan sah, untuk dimiliki dan dipertahankan, sejak hari ini dan seterusnya, dalam suka dan duka, kelimpahan dan kekurangan, sakit dan sehat, sampai kematian memisahkan kita"
Ucapan janji sacral itu mendengung lntang di atas podium seperti serngan telak yang melumpuhkan seluruh pergerakan masyarakat. Hanya tarikan nafas Seokjin yang terdengar audible.
Sang pastor bergeming, butuh waktu beberapa detik sampai ia tersentak sadar kembali kedunia nyata, mendelik kepada Seokjin "dan saudara Cho Seokjin… apa kau bersedia bersumpah setia, suka maupun duka, kelimpahan maupun kekurangan, sehat maupun sakit, untuk hidup bersama dengan saudara Kim Namjoon sampai maut memisahkan kalian?"
Seokjin membuka mulut, tidak ada kata yang keluar untuk sejenak. Mata coklatnya bergulir dari Namjoon ke pastor, bibirnya bergetar.
"aku… aku bersedia… menerima… Kim Namjoon untuk menjadi…" Seokjin menggigit bibirnya, pikirannya kalut. Pandangan Namjoon turun kepada bocah yang masih berlutut disampingnya, tangan masih terbelenggu. Pernikahan seharusnya tidak seperti ini. Tapi jika nyawa terselamatkan—"Kim Namjoon untuk menjadi pendmpingku… suka maupun duka… kelimpahan maupun kekurangan… sehat maupun sakit… s-sampai… kematian memisahkan… kami…" dia menatap Namjoon cemas, ekspresi pria itu sulit ditebak.
'kenapa kau menolongku lagi dengan cara seperti itu? Menghancurkan kehidupanmu sendiri demi aku? Apa yang kau rencanakan?'
Banyak pikiran berdatangan ke dalam benaknya, Seokjin berusaha untuk berpikir bahwa ini adalah jalan keluar dari kematiannya. Massa ricuh kembali, Seokjin mendongak melihat teman-temannya. Baekhyun mengangkat jempolnya ke udara. Ekspresi Yoongi kali ini sulit ditebak, dia sepertinya bingung bagaimana harus bersikap. Di sisi lain dia senag karena saudara satu-satunya itu tidak jadi di eksekusi, tapi pendamping hisup adik satu-satunya itu membuatnya ingin menebas sang mantan kapten. Taehyung masih memegangi Yoongi apabila gadis itu hendak terjun ke panggung eksekusi.
Wajah Seokjin memerah, dia menunduk, tidak menyangka dirinya disatukan oleh Namjoon secepat itu.
Choi Siwon tidak berani mengangkat suara. Changmin tergelak dan menepuk tangan dengan lantangnya. Pandangan jatuh kembali pada Namjoon yang menyeringai tipis.
Tbc~
RnR?
