"Nah, sekarang kita mulai pelajarannya. Luhan-ssi, bisa kau bacakan halaman 57 sambil berdiri?"

"Ne, saem." Lalu Luhan mulai berdiri dan membacakannya.

"Baiklah, sudah cukup. Kau boleh duduk." Saem menyuruh Luhan menghentikan bacaannya saat dirasanya sudah cukup.

Sementara itu Luhan hanya mengangguk dan berniat akan duduk. Tapi...

BRUKK!

"YA, OH SEHUN-SSI!"

.

.

.

Bbok Eum Dalk Present

"From It Chapter 2"

Cast : Oh Sehun, Xi Luhan, Do Kyungsoo, Kim Jongin

Support Cast : Another Exo members

Genre : Romance, friendship

Rated : T

Length : Chapter

Warn : BL/Yaoi, typo(s), DLDR, RnR juseyooo...

.

.

.

"PPPFFT... PP... HAHAHAHAAAA..." Jongin yang dihukum di depan kelas tiba-tiba tertawa dengan keras sambil memegangi perutnya.

Lalu...

"HAHAHAHA...~ Aigooo...~ Hahaa... BUKK! BUKK! HAHAHA..." Karena mendengar tawa Jongin sepertinya kami jadi tertular untuk tertawa.

Haha... aigoo... Luhan, kau sangat tidak elit. Haha... tak kusangka si Oh Sehun itu bisa membuat Luhan malu hanya dalam beberapa saat dia berada di kelas ini. Aigoo... pasti muka Luhan sangat merah apalagi yang pertama kali menertawakannya itu si Kkamjong yang dia taksir itu.

"Hahaha~ Ekhm, ekhm..." Sepertinya Hong saem juga tertawa. Aduuhhh... makin merah tuh sepertinya muka Luhan.

HAHAHA... hari ini sangat membahagiakan karena aku bisa menertawakan Xi Luhannn... Apa aku sahabat yang jahat? Molla...

"Ekhm, ekhm. Ya! Sudah, sudah!" Hong saem mencoba menertibkan kami, tapi sayang moment ini terlalu berharga untuk disia-siakan. Jadi... kami masih tertawa... Haha~

"Ekhm. Luhan-ssi, butuh bantuan?" Oh Sehun berdiri sambil mengulurkan tangannya dengan gaya yang menawan kepada Luhan. Duuhhh... seperti pangeran yang menawarkan sang putri pertolongan.

"Aigoooo... Kerennyaaa..." Seluruh kelas langsung berteriak mengagumi tingkah gentle Sehun barusan.

"Cih! Tak usah sok baik kau!" Luhan tiba-tiba menepis dengan kejam tangan Sehun yang terulur padanya.

Kami semua tak menyangka reaksi Luhan akan seperti itu.

Luhan langsung bangkit dari posisinya yang sedari tadi terduduk di lantai. Sementara itu Sehun hanya menampilkan senyum miringnya sambil menatap Luhan sedikit tajam. Eh?

"Ya, ya! Sudah kan? Sekarang kita lanjutkan pelajarannya. Dan kau, tuan Oh dan tuan Xi, silahkan duduk di bangku kalian kembali!" Hong saem kembali mengambil keadaan.

"Yaaaahhhh..." Sontak kami semua protes. Tontonan menarik sudah terhenti dan saatnya pelajaran kembali dilanjutkan. Huft.

"Wae?! Kalian tidak senang, eoh?"

"Aniya saeemmmm..."

.

.

~Tengtengteng...~

"Geurae, hari ini cukup sampai disini. Kalian boleh istirahat."

"Ne saem... Gomapseumnidaaa..."

Aku mulai berjalan menuju tempat duduk Luhan, atau bisa kusebut mantan tempat dudukku. Kulihat Luhan masih memasang wajah sebalnya.

"Hey rusa jelek! Kau tak ke kantin?"

"Hey belo! Kalau kau cuma mau menggangguku pergi saja kau sana! Hush!"

"Ya! Aku kan hanya bertanya baik-baik, Xi Luhan... kenapa kau jadi marah, sih?"

"Aku. Sedang. Bad. Mood. Do. Kyung. Soo. Jadi pergi kau kalau cuma merusuh!"

"Cih, bilang saja kau mau berduaan dengan pangeran barumu itu." Heh, kau pikir aku bisa berbalik sewot padamu tuan Xi?

"Mwoya? Siapa sang pangeran baru itu?" Jongin tiba-tiba datang menyeletuk.

Kami semua -aku,Luhan dan Sehun- langsung memandang Jongin tajam seakan mengatakan -kenapa-kau-ikut-campur- padanya.

"Aiiihh... apa pangerannya Sehunnie...? Aigoo... pangeran bagi siapa? Luhan?" Sepertinya Jongin tak peduli dengan tatapan kami. Ia malah melanjutkan, "Luhan-ah, sebaiknya kau berhati-hati dengan si Sehun ini... sepertinya dia itu tukang PHP lohh..." Saran -atau kompor- Jongin sok akrab pada luhan yang kurasa terdengar seperti menghina Sehun. Ck, dasar hitam! Dibakar kompormu sendiri lalu hangus tahu rasa kau!

Lihatlah, sepertinya tuan Xi di sebelahku ini mulai senang. Ck, walaupun kau menutupi ekspresimu sedemikian rupa aku tahu Luhannie sayang, kau senang sekali kan disarankan -demi Tuhan tadi itu kompor- Jongin seperti itu?

"A-aniya~ M-mana mungkin si wajah datar dengan tatapan tajam ini bisa jadi pangeranku. Jongin ada-ada saja, deh. Haha..."

"Ne. Mana mungkin. Kan yang disukai Luhan kamu Jong-"

"Mwo?!"

Ups. Sepertinya aku salah ngomong. Aigoo... harus kabur nih.

"E-eum... chingudeul, aku ke kantin dulu yahh... Bye~"

Kabuuurrrrrrr...

"YA! DO BELO KYUNGSOO! JANGAN KABUR KAU!" -Ini teriakan Luhannn...

.

.

"Ya! Kemari kau belo ember! Ya!"

"Aniyoooo... tangkap aku kalau kau mau rusa beijing!"

Kami terus berlarian di sepanjang koridor dengan si Luhan yang sepertinya sudah sangat bernafsu untuk menerkamku (dalam arti yang sebenarnya). Aigoo... harus kemana ini...? Aha! Sepertinya ke atap bagus juga...

"Haha... Kau pikir aku tak bisa mengejarmu belo pendek lamban?! Awas kau... aku dibelakangmu... hahaha..." Aigoo... sepertinya ini ide yang buruk. Suara keji Luhan tepat berada di belakangku. Tapi mau bagaimana lagi, kami sudah berada di tangga menuju atap sekolah. Sepertinya aksi kejar-kejaran kami masih harus dilanjutkan di sana.

'Brakk!' Pintu atap telah kubuka dengan paksa. Tapi aku masih tetap berlari menuju sudut paling ujung yang ada di sana demi menghindari Luhan yang seperti nenek sihir yang siap merubahku menjadi kodok.

"Mwehehe... kena kau Do Kyungsoo!" Oh tidak! Kini Luhan berada tepat di depanku yang sudah benar-benar terpojok. Ommo... lihat! Wajahnya sangat menyeramkan!

"Aniyaaaa... aku belum mau jadi kodookkkk!" Entah kenapa tiba-tiba aku berteriak histeris di depan Luhan.

"YA!"

"Eh."

"Kenapa kau berteriak, soo?"

"E-ehh... m-mian... hehe... tadi refleks..."

"Refleks? Refleks apa yang berteriak tak mau jadi kodok? Kau pikir aku itu penyihir yang akan merubahmu jadi kodok, gitu? Kalu iya seperti itu kau pasti sudah ku rubah dari tad-"

"Aku sih berpikirnya seperti itu, Han."

"Mwo?! Yak! Sahabat macam apa kau, Soooooo...?! Kau membayangkan aku sampai senista itu?"

"Hehe... mian, Han... mian, mian..."

"Ck. Sudahlah. Terkadang kau itu emang aneh, soo. Aku sudah biasa kok dengan sifat autismu yang terkadang kambuh itu." Luhan berujar sok perhatian dan pengertian. Cih!

"Ya, ya... Terserah kau sajalah, Han." Lalu Luhan berbalik sambil ingin meninggalkanku. Tapi tiba-tiba dia berbalik.

"YAAA! KAU KENAPA TADI JADI EMBER SOOOO?!" Dan dia berteriak kepadaku. -_-

Baiklah, sepertinya aku hanya harus memasang wajah datar dan siap mendengarkan ceramah Luhan agar aku tak melakukan itu lagi. Yah Soo, kau memang anak baik. Sangat patuh.

"Jadi kau mengerti, Do Kyungsoo?"

Aku hanya menganguk-angguk.

"Nah, sekarang minta maaflah padaku! Kau telah membocorkan rahasiaku." Cih! Dasar nenek lampir! Tapi baiklah, karena disini aku yang salah, aku memang harus minta maaf.

"Ne. Mianhae, Han..."

"Ne, ne... karena kau sahabatku kau kumaafkan." Puk, puk, puk~

Dia berujar sok bijak sambil menepuk pelan kepalaku. Haish!

.

.

Sudah seminggu sejak insiden pernyataan suka Luhan pada Jongin -yang tentunya dilakukan olehku- dan tidak terjadi apa-apa. Selama ini Luhan takut kalau nantinya Jongin akan menjauhinya -oke ini alasan klasik- dan jadi merasa aneh padanya, tapi sampai sekarang mereka masih biasa-biasa saja.

"Psstt... Pssttt... Hey, Kyungsoo... Kyungsoo..." Tiba-tiba aku mendengar suara yang berbisik memanggilku dari belakang. Hiii... aku kok jadi merasa mistis, sih?

"Psstt... Kyung... Kyungsoo... Pstt..." Hi... serem deh kelas ini. Aku mulai mengelus-ngelus tengkukku.

"Woyy Kyung! Balik, Kyung... Balik! Ini Jongin."

Aku langsung berbalik menghadap ke belakang. Oohh... ternyata yang manggil si kkamjong... Ku pikir tadi ada hantu yang naksir aku terus dia manggil-manggil.

"Ada apa Jongin?" Tanyaku to the point padanya.

"Kyung, nanti ke kantin bareng, yukk..."

"Ha?"

"Iya... nanti sewaktu istirahat kita ke kantin sama-sama. Eh Kyung, tapi jangan lupa ajak Luhan ya..."

"Ke kantin? Samaan? Bareng aku dan Luhan? Kau sebenarnya mau ajak aku atau Luhan, sih?" Kini aku berujar dengan pandangan menyelidik ke arah Jongin.

"Hee... aku ngajak kalian berdua, loh." Dia berujar meyakinkan. Sepertinya dia menyadarai kalau aku telah mencium gelagat aneh dari permintaannya barusan.

"Sudahlah... kalau mau mengajak Luhan tapi nggak berani bilang, biar aku yang sampaikan padanya. Sepertinya kau mau mendekati Luhan, ya?"

"A-Aa? M-mendekati Luhan? Haha... emang kelihatan, ya?"

"Ya Tuhan... modusmu itu sangat kelihatan, loh."-_-

"Hehe... tapi aku juga mau kau ikut, Kyung."

"Ehem... kalau saem boleh ikut, nggak?" Tiba-tiba sebuah suara menyela pembicaraan seru kami.

Sontak kami berdua langsung menolehkan pandangan ke saem yang berdiri tepat di sebelah kiri kami. Haduh! Kwon saem... matilah kamiii!

"Hehe... boleh kok, saem." Tiba-tiba si gila Jongin itu menjawab. Dasar bodoh! Hyaaa... sepertinya aku dan Jongin sebentar lagi akan kena hukum. Mungkin dua kali lebih berat. Dasar kau Jonginnnn!

"Oh ya? Boleh ya? Kalian nggak keberatan?"

"Nggak kok, saem... asalkan bayar masing-masing ya..." Si bodoh itu -atau sekarang bisa kusebut dia idiot- malah meladeni Kwon saem sambil nyengir. Arrgghh... ya Tuhan, kenapa aku bisa terlibat di situasi gila ini?

"KIM JONGIN, DO KYUNGSOO! KELUAR SEKARANG DAN BERSIHKAN HALAMAN BELAKANG SAMPAI BERSIH DAN JANGAN SISAKAN SEHELAI DAUNPUN!"

"N-ne, saem..." Kami berdua langsung berlari keluar kelas dan diiringi oleh kekehan tertahan dari seluruh kelas. Ini memalukan. Tapi, hyaaa... tadi seperti disembur oleh naga...

"Kalian tertawa?! Diam! Ini bukan waktunya tertawa!" Dan aku masih bisa mendengar suara menggelegar dari Kwo saem.

TBC

A/N : Hehe... mian for late update... aku rasa chap ini sangat mengecewakan. Sorry ya readers... Oh iya, belum ada HunHan moment nya kan? Aku masih agak fokus ke HanSoo di sini sama sedikit KaiSoo. Tapi next chap ada kok moment mereka. Oke... Aku harap kalian nggak terlalu kecewa di chap ini. RnR juseyoooo...

BIG THANKS TO:

Nurfadillah, julihrc, Thehun Thalanghae Yehet, Selubaby, alifya kim, dan .779