Naruto © Masashi Kishimoto

Pairing : Naruto, Sakura, Sasori, Deidara,dan Kakashi

Genre : untuk tokoh utamanya friendship/romance. Khusus Sasori adventure kali ya…

Rated : T

Warning : OOC .

Summary : Bagaimanakah reaksi Sasori begitu tahu Sakura sudah tak bersama dengannya lagi? Lalu seperti apakah keluarga Naru?

Yeah untuk chap ini semua tanda baca sudah Arlein benarkan, untuk para senpai terima kasih atas saran-sarannya yang sangat membantu saya. Dan bagi yang penasaran dengan nasib Sasori dalam chap ini akan terungkap reaksi si Saso nanti, siapa kakanya naru nanti pun akan diungkap.


CHAPTER 2 : Kepanikan Sasori dan keluarga Naruto.

Bis Dewa Sri sudah melaju kurang lebih 5 jam, dan bis tersebut sudah mulai memasuki kawasan terminal bis Suna Village. Sang kondektur berambut perak bermasker bernama Kakashi Hatake memberitahu kepada para penumpang untuk segera turun dari bis karena bis telah sampai di pakian bis dalam terminal Suna.

"Hati-hati dengan barang bawaan anda jangan sampai ada yang tertinggal, karena jika hilang atau tertinggal itu bukan tanggung jawab kami." Ucap Kakashi selaku kondektur.

"Nggh…sudah sampai ya, Saku…" Sasori terbangun dari tidurnya, ia menengok ke jok di sampingnya, tempat yang ia rasa sang adik ada si sana, tetapi nihil tak ada siapapun di sampingnya hanya ada kantung-kantung berisi snack-snack miliknya.

Hening

1…..

2…..

3…..

"SAKURAAAAAAAAAAAAAAAAAAA !" Sasori Histeris begitu mengetahui bahwa sang adik tidak ada ada di tempat duduknya. Spontan semua penumpang yang masih tertinggal di dalam bis beserta supir dan kondekturnya langsung menengok ke arah Sasori .

"Ada apa ya, mas? Kenapa anda terlihat panik sekali?" Tanya Kakashi yang sudah berada di samping Sasori.

"Mas! Mas! Tadi mas lihat seorang anak perempuan di bangku ini tidak?" Tanya Sasori yang masih panik sambil menunjuk-nunjuk bangku tempat Sakura duduk.

"Kalau tak lama setelah berangkat dari terminal Lebak Balas, saya memang melihat seorang gadis di samping mas, tapi setelah insiden mogoknya bis, saya gak lihat mas." Kakashi menjelaskan.

"Hah? Bisnya mogok? Kok aku gak tahu ?" Sasori heran.

"hah? Situ gak tahu? Perasaan semua penumpang sudah tahu dan saya suruh untuk turun sementara saya beserta rekan saya memperbaiki mesin yang bermasalah." Gantian Kakashi yang heran.

'apa mungkin karena aku tadi tidur?' Inner Sasori.

"Kalau boleh tahu…bis ini tadi mogoknya di mana?" Sasori bertanya kepada sang kondektur sembari mempersiapkan sebuah notes kecil dan pulpen.

"di jalan tol, kalau lokasi persisnya ….Hmm….biar saya Tanya dengan rekan saya alias sang supir…" Kakashi segera menghampiri sang supir di peraduannya. Sementara Kakashi bertanya kepada sang supir, Sasori terlihat bingung dan cemas.

'Sakura kamu kemana sih? Kalau kamu sampai hilang bisa tamat riwayatku! Pasti kaa-san bakal memarahi , tidak lebih parah lagi, menghajarku dengan pukulan mautnya( A/N: Ibu Sasori dan Sakura di sini si Tsunade )….. tepar dah diriku yang cakep nan imut ini.' Inner Sasori semakin panik.

"Mas, rekan saya bilang bis ini mogok di jalan tol Konoha-Suna, kilometernya kalau gak 10 ya 20 atau 15 ya? Pokoknya gitu deh." Ucap Kakashi.

"Jadi mana yang bener? 10,15,atau 20? terus petunjuknya gitu doang?" Sasori menyeritkan alis. Kakashi menaikkan alis.

"Misalnya Desa mana, Kecamatan mana, Kelurahan mana gitu …biar saya bisa mencari ototou saya yang hilang." Ucap Sasori seolah mengetahui maksud dari acara kakashi menaikkan alis.

"Oh…btw, ototou anda hilang? Lapor saja sama kepolisian…gitu aja kok repot." Kakashi memberi saran.

"Itu mah sama saja nggali kuburan sendiri…gue bisa dihajar abis-abisan sama Kaa-san gue dengan alasan gak becus menjaga ototou." Curhat Sasori, Kakashi yang turut prihatin atas nasib Sasori langsung mengeluarkan sebuah bungkusan kecil.

"Apaan tuh?" Tanya Sasori menunjuk –nunjuk bungkusan yang dipegang Kakashi.

"Anda bilang adik anda mengilang dan tidak ingin orang tua tahu, dan kebingungan mencari lokasi dimana sang ototou? Inilah pilihan yang tepat! Peta Tol road ekslusif dengan rincian daerah-daerah di sekitarnya, haraga murah tapi rahasia, tidak bisa nego, milikilah sekarang juga!" Ucap Kakashi mempromosikan barang yang dimilikinya bak seorang salesman handal nan profesional. Ternyata Kakashi gak cuma menjadi kondektur tapi juga bekerja sebagai salesman toh…. Sasori cengok, Kalau dia punya barang begituan kenapa gak kasih tahu dari tadi coba?

"Kok kamu gak kasih tahu aku dari tadi sih kalau situ punya peta gituan?" Tanya Sasori.

"Saya kan gak tahu kalau kamu ingin mencari adikmu yang ternyata hilang." Jawab Kakashi innocent. Sasori menghela napas .

"Baiklah aku beli satu…" Sasori merogoh tasnya mencari dompet dan mengeluarkan selembar kertas bewarna merah bertuliskan 100.000 dan diberikannya kepada Kakashi yang matanya sudah berubah menjadi hijau begitu melihat selembar uang yang sedang menuju ke arahnya. Readers sekalian sepertinya Kakashi sudah tertular virus Love moneynya Kakuzu.

"Kembali 99.999 ya.." Sasori mengambil peta tersebut sambil mengadahkan tangannya, meminta kembalian. Kakashi melangkah mundur, Sasori kembali menyeritkan alis atas sikap Kakashi.

"Uang yang sudah diberi tidak bisa diambil lagi!" Ucap kakashi sedikit teriak lalu langsung keluar dari bis dan berlari sekencang mungkin.

"WOII! Kembaliannya ! " Teriak Sasori yang tidak digubris Kakashi yang sudah pergi menjauh dari Sasori yang notabenenya masih di dalam bis.

'Udah kehilangan uang seratus rebu, kehilangan adik pula….malang sekali nasibku ini.' Sasori merenungi nasibnya. Kemudian ia bersiap-siap untuk keluar dari bis.

Sasori yang sudah berada di dalam terminal , tapi bukan tempat bis untuk parkir. Ia duduk di bangku panjang yang berhadapan dengan stand-stand loket. Sasori masih terus membaca tulisan dan melihat gambar itu dengan seksama hingga sebuah bunyi dari dering handphone menghentikan aksi milik Sasori.

"Dari Okaasan." Gumam Sasori membaca tulisan di layar handphone tersebut.

"Moshi-moshi…" Sasori menyapa.

"Sasori? Sekarang kamu sama Sakura di mana? Sudah jam segini kok masih belum sampai? Mau Kaa-san sama Tou-san jemput di terminal gak?" Tanya Tsunade bertubi-tubi di balik telepon selaku Okaasan Sasori dan Sakura. Sasori diam, bingung mencari alasan yang tepat untuk membohongi orang tuanya agar mereka tidak tahu bahwa Sakura hilang. Kalau Tou-sannya alias jiraiya sih Sasori gak akan begitu takut, tapi Okaa-sannya itu Tsunade makanya Sasori udah paranoid duluan.

Akhirnya setelah diam tanpa kata, Sasori dapat menemukan sebuah ide.

"Halo Saso?" Tanya Tsunade di balik telepon karena yang diajak berbicara tidak mengucapkan satu kata pun.

"Kaa-san…sakura sekarang lagi sakit, makanya kami berdua gak jadi ke Suna…" Sasori terlihat ragu dengan alasannya.

"Sakit? Baiklah kalau begitu, Kaa-san dan Tou-san akan pulang ke Konoha City." Mendengar hal itu Sasori makin panik, keringat dingin mengucur di wajahnya yang cute.

"Tidak usah Kaa-san…Saso bisa ngerawat Saku, lagipula penyakit Saku gak parah kok , hanya…hanya demam, Kaa-san dan Tou-san di Suna saja…..kasihan Chiyo baa-san ditinggal…. Mungkin seminggu lebih beberapa hari Sakura sembuh dan kami bisa berangkat ke Suna." Ucap Sasori mencoba meyakinkan Kaa-san dan Tou-sannya.

"Baiklah kalau begitu. Jaga Sakura ya Saso, awas kalau kamu gak becus menjaga adikmu!" ucap Tsunade dengan nada mengancam. Keringat dingin makin mengucur deras di wajah Sasori, ia membayangkan jikalau Kaa-sannya tahu yang sebenarnya dan hal yang mungkin terjadi pada Sasori. Memang Sakura adalah anak kesayangan Tsunade karena Sakura adalah anak perempuan satu-satunya, biarpun begitu Tsunade tetap menyanyagi Sasori walau ia agak keras kalau sudah menyangkut penjaagan adik dari seorang kakak. Telepon pun sudah diputus. Sasori kembali melangkahkan kakinya menuju pintu keluar terminal.

"Baiklah, Orangtua sudah termakan alasan, dan berikutnya tinggal menelusuri desa yang terkait dengan kilometer 10,15,dan 20…" Sasori berhenti berjalan, tangannya dikepalkan kemudian diangkat ke udara.

"SAKURA TUNGGULAH ANIKI !" teriak Sasori sambil mengangkat kepalan tangannya, orang-orang menatap Sasori heran.

"kenapa tuh orang?" bisik bapak-bapak kepada om-om di sampingnya.

"Teriak sendiri, gila kali." Balas om-om kepada bapak-bapak tadi.

"Ih tuh cowok cakep deh…" komentar seorang nenek-nenek(?). Sasori yang merasa sedang dilihat dan dibicarakannya langsung ambil langkah duaribu saking malunya. Dan perjalanan Sasori mencari sang ototou pun dimulai…


-disaat waktu yang sama dalam rumah Naruto-

"Aniki? " sakura menatap lelaki dihadapannya .

"Oh iya aku belum memperkenalkan diri, ya…perkenalkan namaku Deidara Namikaze nii-sannya Naruto." Ucap Deidara sembari tersenyum. Kalau diperhatikan laki-laki itu memang mirip dengan Naruto hanya saja rambutnya lebih panjang dengan poni menutup sebelah wajahnya, rambutnya tidak jabrik seperti Naruto.

'Kok kayaknya aku pernah lihat orang ini ' batin Sakura merasa dejavu dengan perawakan Deidara.

"Oh…em…namaku Sakura…Sakura Haruno…salam kenal…" balas Sakura agak gugup namun ramah.

"Wah sudah sadar ya…" ucap Seorang wanita berambut panjang sedang memegang nampan berisi secangkir minuman.

"Saya Ibu Naruto dan Deidara, panggil saja Kushina-san…" Ucap ibu duo blonde itu ramah sambil memeberikan teh hangat untuk Sakura.

"Eh..terima kasih..maaf aku sudah merepotkan kalian semua." Sakura memasang wajah menyesal.

" Kau bicara apa sih, Sakura? Tentu saja kau tidak merepotkan, kalau ada orang sedang kesusahan kita harus membantunya dong." kata Naruto bijak.

"Tumben kau bicara bijak Naruto." sindir Deidara sambil menyikut Naruto.

"Ih Aniki! Jangan bilang begitu di depan Sakura dong." Protes Naruto. Deidara tertawa dengan tingkah Naruto sementara sakura Cuma tersenyum meliaht tingkah kedua kakak adik ini. Deidara memang senang menggoda Naruto karena eksperesi Naruto yang membuat Deidara semakin ingin menggodanya.

"Oh iya bagaimana dengan lukamu Haruno-chan?" Tanya Ibu Naruto dan Deidara sembari mengecek luka di kaki Sakura.

"Sudah tidak sakit, Kushina-san. Terima kasih sudah mau bersuka hati mengobati luka di kaki saya….terima kasih untuk semuanya, Naruto dan Deidara nii, karena saya akan pergi ke terminal untuk pergi ke Suna." Ucap Sakura sembari membungkukkan badan sebagai ucapan hormat dan terima kasih.

"Tunggu, Sakura kamu ini berbicara apa? Pergi?" Naruto bingung dengan perkataan Sakura. Deidara dan Kushina menatap Sakura dengan tatapan heran.

"Aku akan pergi melanjutkan acara mudikku yang tertinggal, kan tidak mungkin aku harus terus-terusan di sini dan merepotkan kalian semua." Jelas Sakura.

"Lukamu belum sembuh total Sakura, lagipula apa kamu punya uang untuk membeli tiket?" ucap Deidara khawatir.

"Deidara benar Sakura, sebaiknya kamu tinggal di sini untuk sementara, statusmu sekarang adalah orang yang tersasar sangat bahaya bagi seorang gadis sepertimu berada di luar sana seorang diri." Nasihat Kushina. Sakura menunduk dan membenarkan perkataan Kushina bahwa seorang diri di daerah yang tidak dikenal akan membawa bahaya baginya walaupun ia ahli dalam bela diri yang diajarakan oleh kaa-sannya tetap saja Sakura hanyalah seorang gadis remaja yang masih polos.

"Tapi aku tak mau merepotkan kalian semua." Sakura merasa tak enak hati.

"Tentu saja tidak Sakura, tenang saja." Naruto tersenyum girang, Deidara ikut memperlihatkan senyumannya dan Kushina menggangguk kepalanya tanda bahwa ia juga membenarkan perkataan Naruto. Sakura tersenyum kepada Naruto dan keluarganya walau hatinya tetap takut akan merepotkan sang tuan rumah.

"Te…terima kasih Naruto dan semuanya, aku janji pasti tidak akan membuat kalian semua kerepotan." Sakura membungkuk.

"Baiklah karena kamu sekarang sudah menjadi bagian keluarga kami walau untuk sementara, mari kutunjukkan kamarmu, Sakura-chan." Kushina berjalan diikuti Sakura di belakangnya. Sakura sampai di kamar yang ditujukan oleh Kushina, kamar yang sangat bersih dan rapi itulah yang dipikirkan Sakura saat ia melangkah masuk ke dalam kamar yang mulai sekarang akan ditempatinya untuk sementara.

"Arigatou gozaimasu, Kushina-san." Kushina hanya tersenyum mendengar ucapan Sakura. Sakura mulai merapikan baju-baju yang dibawanya untuk ke Sunagakure.

'Mereka baik sekali.' Tanpa sadar sebuah senyum tersungging di bibir Sakura. Sore hari telah berubah menjadi malam hari, Naruto dan yang lainnya termasuk Sakura sedang menyantap makan malam di ruang makan rumah Naruto. Sebenarnya Sakura masih tidak enak hati karena sudah menginap gratis dikasih makan gratis pula. Dalam benak Sakura ia penasaran apa yang sedang dilakukan kakaknya sekarang.

'Aniki, sekarang aniki sedang mencariku atau tidak ya?' Tanya Sakura dalam hati.

Malam hari Sasori terus berjalan sembari bertanya kepada orang-orang di jalan apakah mereka melihat seorang anak perempuan yang seperti di foto dalam handphone Sasori. Sasori berhenti lalu melirik ke arah jam tangannya.

"Waduh sudah jam Sembilan….mesti cari penginapan nih…duh uangku tinggal berapa ya?" Sasori merogoh dompetnya dan melihat beberapa uang bewarna merah dan biru tertata rapi di dalam dompet tersebut.

"Hmm tinggal 500.000 rebu….dan ini di desa oto yang berdekatan dengan kilometer 10 jalan Tol Konoha-Suna….Oto…"

"Aha! Gue ingat! Gue kan punya teman yang tinggal di desa ini! Mending gue numpang nginap di rumahnya." Sasori langsung tancap gas mencari-cari rumah kenalannya tersebut.

"Paling aniki lagi nyari gue! Dia kan takut banget ma kaa-san, apalagi kalo udah nyangkut masalah gue. Pasti dia lagi puyeng nyari-nyari gue…udah malam tidur aja deh." Sakura menarik sarungnya dan tertidur, eits kenapa sarung ? karena di kediaman sang tokoh utama kedua kita alias Naruto tidak ada yang punya selimut yang ada kembarannya a.k.a sarung. Kan di Desa bukan Kota.

Akhirnya Sakura larut dalam tidurnya dan menanti sang mentari menampakkan dirinya esok hari .

TBC

Oyeahhh! Akhirnya chapter kedua jadi juga.

Oke akhir kata yaitu REVIEEEWWW .