Pembunuh Bayaran
Disclaimer : Suzanne Collins
Warning : gaje, typo(s) meraja lela, aneh bin abal, nyeleneh, ngawur, dan lain lain, tak lupa saya ingatkan juga, tak suka jangan baca, oke.
Happy Reading
Saat aku mencoba mengatakan pada diriku sendiri, apakah layak aku ini kembali pada keluargaku yang sangat-sangat ada dalam kehidupan damai. Menyembuhkan beberapa orang yang hampir mati karena kecelakaan, penyakit, atau pembunuhan, atau yang lainnya sedangkan aku mencoba mencabut nyawa mereka dan membunuhnya dengan keji. Saat aku benar-benar merasakan adanya hawa Prim dalam kabut pikiranku aku menoleh mengatakan bagaimana aku menyusuri jalan untuk pulang tanpa dengan membunuh. Tapi saat itu juga Clove datang membawa kapak –dalam angan-anganku– dan mengatakan padaku bahwa, ini menyenangkan Katniss. Dan aku sadar bahwa ini adalah pekerjaanku.
Kami berdua tidak jaga hari ini. Presiden Snow meminta kami berdua untuk menemuinya hari ini. Jadi tak berapa lama, Clove datang dengan dengan setelan baju berlengan pendek dan celana ketat pendek sepaha yang cukup tebal. Dan aku mengenakan kaus lengan pendek dengan celana panjang bermotif bercak seperti tentara. Lalu kami menuju dimana Presiden Snow berada.
"Jadi, apa yang harus kami lakukan" Tanya Clove pendek.
"Membunuh tentunya." Kata sang Presiden.
"Siapa?" Tanyaku padanya.
"Seseorang yang terlalu penting, yang harus disingkirkan. Dia terlalu bahagia untuk mengurus segalanya."
"Lalu?" Clove menaikkan satu sisi dari alisnya.
"Duduklah, kuberitahu kalian sipa dia, apa yang akan kalian lakukan, dan bayaran yang sesuai untuk kalian."
"Cukup mudah Katniss," Clove menyenggol tanganku.
Aku hanya senyum masam padanya menandakan bahwa aku setuju betul dengan semua ini. Kami mulai duduk. Dan mendengarkan segala cerita yang Presiden Snow katakan dan jelaskan secara keseluruhan padanya. Aku tak terlalu memperhatikan apa yang sedang tua bangka ini katakan. Tapi Clove berbeda jauh denganku. Dia benar-benar mendengarkannya. Dengan teliti dia mendengarkan beberapa patah kata yang dikatakan pak tua ini. Dan akhirnya dia memberikan rencananya padaku. Bagaimana kami nanti akan menghabisi korban kami selanjutnya.
Kata Clove korban kami ini adalah seorang pengusaha dari Distrik yang berhasil membangun kembali komoditas distriknya lebih baik di Capitol. Clove memberikan padaku fotonya. Nampak terlihat wajah seorang ayah sekali. Dan aku bisa mengenalinya. Aku pernah bertemu denganya. Liam hari yang lalu. Aku tak akan melupakan kejadian yang terjadi selama sepuluh menit dengan orang ini.
"Aku pernah melihatmu, sebelumnya, tapi kau lebih kecil" Dia senyum padaku.
"Benarkah?" Aku menampakkan senyumku. "dimana?"
"Aku berani taruhan dia adikmu, namanya Primrose bukan?"
"Kau benar Sir, dia adikku. Katniss Everdeen"
"Distrik dua belas. Dia sangat baik padaku. Prim sangat baik padaku. Dia anak ulet yang menjaga beberapa bahan yang kutinggalkan di dua belas. Dan Prim menjaganya dengan baik. Aku sangat menyukai gadis cilik itu."
Dalam benakku hanyalah, bagaimana Prim bisa menjadi kepercayaan orang besar seperti orang ini? Dan aku tahu Prim memang gadis baik.
Dan sekarang aku mesti membunuhnya. Tapi kenapa? Karena Presiden ingin sekali perusahan dan pabriknya jatuh ditangannya. Karena kedua milik orang itu telah ada dalam pucak kejayaan. Dan sang Presiden sangat dekat dengan orang itu. Dan jika orang itu telah tiada lima puluh persen dari miliknya meenjadi milik Presiden. Aku dan Clove diberi bayaran yang cukup bagus kukira. Kami akan diberikan dupuluh lima persen dari itu. Tentu saja kami harus membaginya. Dan dana yang Presiden berikan akan selalu mengalir jika perusahan dan pabriknya ,masih berkelanjutan. Itu tidak terlalu buruk pikirku.
Dan kami pun memulai perjalanan kami untuk membunuh orang itu. Dia punya seorang istri. Berkulit hitam yang sama. Setahuku mereka punya satu anak. Dan tidak terlalu berperan dalam perkembangan dana orangtuanya. Sekarang kami benar-benar sibuk dengan semua yang akan kami siapkan untuk nanti. Jadi..
Clove mempersiapkan sabuk ajaib yang diberikan Presiden pada kami, yang kami selipkan dibagian paha kanan kami. Setidaknya jika kami memencet tombol merahnya akan keluar pisau-pisau eksklusive entah dari mana yang muncul tiba-tiba. Pistol kecil dengan peluru-peluru yang sudah kami isi terlebih dahulu. Clove membawa suntikan, dan aku tahu isi suntikan itu. Agar korban pingsan dan tak meronta nantinya. Kami hanya membuat perjanjian dengan Presiden Snow bahwa ini adalah rahasia besar yang harus tertutup. Bahkan polisi tak akan menemukan kami.
Kami masuk dalam Jeep kami. Seperti biasa aku menyetir. Dan Clove duduk disampingku sambil mengelap beberapa pisau yang ia bawa. Kami hanya membunuh satu orang. Tapi kali ini berbeda. Tak akan ada jejak. Maka dari itu kami akan memutilasinya. Agar tak ada seseorang yang tahu. Kriminal. Tapi ini memang pekerjaan kami. Selagi aku menyetir aku mengeluarkan beberapa pakaian yang pantas yang harus kami pakai nanti masuk dalam kantor. Terlihat rapi dan tak mencurigakan tapi senjata masuk dalam keadaan baik dan aman. Dan kami beraksi...
Aku memarkirkan Jeep diselubung selipan jalan kecil menuju hutan. Lalu kami berjalan sekitar lima puluh meter agar tak kelihatan.
"Siap Katniss?" Clove memasang jas-nya.
Aku mengangguk sambil mengenakan setelan panjang yang biasa orang pakai dikantor.
Kami berjalan masuk kekantor. Dan kami tak melihat sama sekali orang itu. Aku juga tak menyangkan akan membunuh seseorang yang telah mempercayai keluargaku. Dan sekarang aku harus membunuhnya. Kami bertanya dimana keberadaan orang itu. Dan kata staf dia keluar. Waktu yang tepat. Clove membawa dokumen yang tak aku ketahui dari mana dia bawa.
"Apa itu?" Tanyaku.
"Aku mengambilnya dari staf tadi, kau tahu dia kusuntik, sekarang dia sedang tidur dengan nyaman dikursinya. Mungkin akan meyakinkan si orang kaya itu jika kita adalah karyawannya" Gadis pintar.
Kami bertemu dia dalam jalan menuju kepusat Capitol. Apakah aku sudah memberitahumu? Oh.. kupikir belum. Kami membunuh istrinya dua minggu lalu. Tapi kami hanya menembakkan peluru tepat diotaknya. Berani taruhan sampai sekarang polisi tidak menemukan jejak pembunuhan kami. Ketika kami harus mencoba membuntutinya kami hanya mengangguk untuk memastikan bahwa ini untuk Snow. Keuntungan bagi kami hanyalah uang yang akan kami terima nantinya.
Lalu Clove dan aku membuntutinya. Dia masuk dalam kantor pusat Capitol. Ia mengenakan setelan baju berwarna hitam dan jas abu-abu. Aku masih mengingat betul siapa orang itu. Dia masuk kedalam sebuah lift. Sebelum lift tertutup kami meyakinkan bahwa kami mengikutinya dan tak ada seorangpun yang ada dalam lift itu. Lalu semuanya terjadi.
"Selamat pagi, Sir" kata Clove sopan. Ia memeluk dokumen-dokumen yang ia curi dari staf tadi.
"Selamat pagi, kau kerja disini?" Katanya cukup ramah.
"Tentu, Sir. Karyawan anda." Jawab Clove sambil tersenyum dan menundukkan kepalanya sedikit.
"Benarkah?"
"Ya, Sir."
"Kau terlalu kecil untuk kujadikan seorang karyawan, kapan kau mulai kerja?"
"Dua bulan yang lalu, Sir. Kuharap anda mengingatnya" lagi-lagi Clove tersenyum dan menunduk.
"Oh.." katanya sambil manggut-manggut."kuharap aku juga mengingatnya. Dan kau..?" Dia berpaling padaku. "Nona Everdeen."
"Oh benar Sir, tapi cukup Katniss Everdeen saja" kataku.
"Kau mengingatkanku pada gadis cilik itu, Primrose."
Hatiku mencelos ketika ia mengucapkan nama Prim disini. Aku bahkan tak yakin dan tak tega untuk membunuh orang ini. tak seperti biasanya. Kegairahan yang ada selalu terbangun kembali ketika aku melirik Clove. Dan sekarang Clove memendangku dengan tatapan sinis. Bak mengatakan sesuatu yang amat penting. Kau menghabiskan waktunya hanya dengan diam, lift ini tidak terlalu cepat, tapi jika kita tak bertingkah dengan cepat, kita akan kehabisan waktu, waktu tinggal tiga menit untuk keatas, Katniss sekarang.
"Oh.. ngomong-ngomong Katniss, ada urusan apa kau datang kemari?"
"Presiden menyuruhku kesini, Sir. Ada urusan dengannya, dan aku berharap dia tak lupa untuk menemuiku diatas nanti."
"Oh.. iya dia ada diatas, dan kau nona..?" Dia tersenyum pada Clove.
"Oh... Sir, ini urusan kami berdua. Untuk mengurusmu."
Entah dari mana Clove mendapatkan pisaunya kembali. Aku bahkan belum siap untuk menebas nyawanya hari ini. Tapi mataku terbelalak kaget ketika Clove menusukkan kembali pisaunya. Pria paruhbaya itu terlentang dilantai lift dan Clove sedang menusuk bagian perutnya. Aku? Aku hanya berdiri menyaksikan bagaimana gadis empat belas tahun ini membunuh dengan keji.
"Katniss apa yang kau lakukan, urusi bagian kakinya," Clove mengatakannya sambil mengusap darah dari wajahnya. Lalu mengatakan kata-kata seorang pesikopat bayaran yang sesungguhnya.
Wajahmu untuk lima juta dolar Sir, mulutmu untuk dua juta dolar, dan matamu untuk delapan juta dolar.
Aku bisa mengartikan apa yang terakhir diucapkan laki-laki itu sebelum sebelum Clove menyayat bagian mulutnya. 'Katniss Tolong' itu yang ia ucapkan padaku. tapi aku menggelengkan kepala, waktu yang tersisa tinggal satu menit lagi. dan Clove sudah memotong bagian atas laki-laki itu dengan sempurna. Aku mengiris bagian paha yang tak terlihat itu paha lagi, terlalu banyak darah. Aku sadar Clove terlalu pandai untuk tidak melakukan apa-apa. Dia memintaku agar menggunakan sarung tangan transparan yang khusus dibuat dengan cetakan tangan kami. Jadi tidak akan ada yang tahu sipa pembunuhnya. Sidik jari, tidak akan ada. Baju. Kami tinggalkan bersama pria paruhbaya terpecah belah di-lift. Dan kami telah menggunakan baju cadangan keluar dari lift. Tidak ada yang tahu, karena itu adalah lift khusus.
Kami bertemu sang presiden diatas dan mengatak padanya apa yang telah kami lakukan dan berjalan dengan sangat lancar. Aku tahu Clove benar-benar profesional.
"Pembayaran akan dilakukan setelah semuanya terungkap. Dan kupastikan tidak akan ada yang mengusut masalah ini, apalagi berkaitan dengan sipa pembunuhnya. Katniss, Clove kalian boleh pergi."
Dan saat itu kami pergi meninggalkan kantor besar itu. Lift yang kami tinggalkan beberapa sekian menit yang lalu telah penuh dengan orang-orang konyol. Menjerit. Menangis. Dan yang lainnya.
Kami berdua menuju Jeep yang kami sembunyikan dan menuju ketempat diama tak akan ada yang bisa mnemukan kami. Aku masuk kedalam. Aku menyetir. Dan Clove sedang bersenandung kecil. Kurasa hidupnya tidak pernah ada yang namanya 'ke-dosa-an'.
Bersambung.
A/N : Well, maaf kalau updatenya lama. Saya lagi sibuk dengan urusan urusan masuk kesekolah tingkat atas. Karena habis ini saya harus nyari sekolah dan sibuk sama perpisahan sekolah. Well jangan lupa untuk meninggalkan jejak kalian. Saya berterima kasih jika anda menyempatkan untuk me-review. Mohon dukungannya agar saya bisa menyelesaikan fict ini dengan baik. Beri saya masukan dan dukungan agar dapat menyelesaikannya dengan baik lagi. Terimakasih. Review oke?..
