Title: Bcoz I Love You (Psycho vs Lover)

Cast: Namjoon, Taehyung, Yoongi (Slight: Jin) #NamV #YoonV #JinV

Lenght: One Shoot

Rating: 18+

Author: Tae-V [Line KTH_V95, Twitter KTH_V95]


"Karena aku mencintaimu... Lebih dari aku mencintai hidupku sendiri..." - Kim Namjoon -


2 MONTHS AGO

.

.

.

AUTHOR POV

Namjoon dan Taehyung sudah saling mengenal sejak mereka duduk di bangku SMA.

Namjoon satu tahun lebih tua dibandingkan Taehyung, dan Namjoon benar-benar seorang sunbae yang sangat dijadikan panutan oleh Taehyung.

Bukan hanya cerdas dalam pelajaran, Namjoon juga begitu pintar membuat lagu.

Taehyung sering menghabiskan waktu-waktu sorenya di SMA untuk belajar musik dengan Namjoon. Dan tanpa terasa kedekatan mereka menimbulkan chemistry lain.

Dan dengan segala keberanian, Namjoon menyatakan perasaannya kepada Taehyung, dan mereka resmi berpacaran 4 tahun yang lalu, ketika Namjoon lulus dari bangku SMA di usianya yang ke delapan belas tahun.

Dan senyuman Taehyung selalu menjadi semangat bagi Namjoon dalam menjalani semester akhir perkuliahannya saat ini.

"Hyeong, aku akan mengecat rambutku dengan warna orange terang, kau cat rambutmu dengan warna soft mint ya hyeong, supaya kita semakin terlihat serasi~ Aku suka sesuatu yang cerah dan kau suka sesuatu yang soft, iya kan?" sahut Taehyung beberapa hari yang lalu.

Namjoon masih belum mengerti dengan jelas apa yang dikatakan oleh kekasihnya itu.

"Ayo kita warnai rambut kita sesuai dengan selera kita namun masih bisa terlihat matching~ Oke hyeong? Aku orange terang kau soft mint, kau tahu kan kalau orange begitu serasi dengan hijau? Itu seperti sebuah jeruk yang bergantung di dedaunan hijau~ Seperti aku yang selalu bergantung padamu, hyeong~ Hehehe~" sahut Taehyung dengan senyuman lebarnya.

Dan apapun sudah pasti akan dilakukan oleh Namjoon demi membahagiakan kekasihnya itu.

Toh, pada akhirnya Namjoon juga merasa puas dengan warna baru rambutnya itu.

.

.

.

Taehyung yang selalu bertingkah seperti anak kecil itu benar-benar menjadi berlian yang begitu berharga bagi Namjoon.

"Aku tidak akan pernah melepasmu, apapun yang terjadi..." sahut Namjoon sambil memeluk Taehyung pada suatu malam.

Taehyung tersenyum lebar dalam pelukan Namjoon. "Janji, hyeong? Bahwa kau tidak akan pernah melepasku?"

"Tentu saja~" sahut Namjoon sambil menatap dalam mata Taehyung yang indah itu, dan bibir Namjoon mulai melumat bibir Taehyung yang begitu manis di mata Namjoon.

Taehyung yang sangat menikmati setiap tetesan liur Namjoon yang membasahi mulutnya itu ikut membalas lumatan Namjoon, dengan sedikit desahan kecil dari mulut Taehyung.

Lidah mereka mulai saling bertarung dan bertautan dalam liang mulut mereka, sampai tiba-tiba seorang pemuda yang tengah mabuk memukul kepala Namjoon dengan botol kosong bekas bir yang ada di tangannya.

"Tidak bisakah kalian bercinta di tempat yang lebih layak?" gumam pria bertubuh kecil dengan rambut berwarna abu-abu pucat itu, sepucat warna kulitnya, sambil menatap ke arah Namjoon dan Taehyung dengan tatapan yang terlihat seperti orang mengantuk.

"Arghhh~" Namjoon berteriak pelan sambil memegang kepalanya, dan sedikit darah mulai membasahi tangan Namjoon yang tengah memegang kepalanya itu.

"Hyeong, kepalamu berdarah!" Taehyung memekik melihat darah mengalir pelan dari kepala Namjoon.

Pria berambut abu-abu pucat itu tiba-tiba tersenyum menyeringai sambil berkata dengan nada yang dingin dan datar, "Aku suka melihat darah..."

Emosi Taehyung memuncak mendengar bahwa pria mungil itu bukannya meminta maaf justru mengatakan hal yang menyeramkan.

Taehyung langsung memukul pipi pria bertubuh mungil itu dengan kepalan tangan kanannya.

Pria bertubuh mungil itu terjatuh ke tanah. Bukannya bangun dari duduknya, pria itu justru menatap dengan sangat tajam ke arah Taehyung.

"Cepat minta maaf kepada kekasihku!" bentak Taehyung yang tengah berdiri di hadapan Yoongi, pria bertubuh mungil itu, dengan tatapan begitu penuh amarah.

Sementara Namjoon berdiri bersandar ke tembok gang itu, masih kesakitan karena kepalanya terkena pukulan botol hingga mengeluarkan darah.

Yoongi bukannya mencoba membalas Taehyung, ia justru tersenyum ke arah Taehyung, senyuman yang menakutkan. "Aku rasa aku jatuh cinta padamu..."

Taehyung spontan membelalakan kedua bola matanya. "Apa maksudmu, brengsek?"

"Tinggalkan kekasihmu yang lemah itu~ Jadilah kekasihku, aku jamin aku bisa menjagamu lebih baik daripada pria lemah itu..." sahut Yoongi sambil bangkit, berdiri, dan menghampiri Taehyung.

Taehyung segera menarik tangan Namjoon dan berlari sekencang-kencangnya, mencari klinik terdekat untuk mengobati luka di kepala Namjoon, sambil ketakutan karena tatapan dan senyuman Yoongi yang begitu menakutkan.

Untung saja luka Namjoon tidak begitu parah sehingga ia bisa langsung kembali ke rumah setelah selesai diobati.

"Aku benar-benar takut kau kenapa-kenapa hyeong~" sahut Taehyung dengan mata berkaca-kaca, memandangi wajah pria berambut soft mint itu. Tangannya menggenggam erat tangan Namjoon.

"Aku baik-baik saja~ Justru aku mencemaskanmu karena pria tadi terlihat begitu menyeramkan..." gumam Namjoon. "Maafkan aku, kau justru terkena masalah karena menyelamatkanku..."

"Gwenchana, hyeong~ Aku iklas melakukan apapun demi dirimu..." sahut Taehyung sambil memeluk erat tubuh kekasihnya.

"Aku bahkan rela mati demi dirimu... Karena aku mencintaimu, lebih dari aku mencintai hidupku sendiri..." gumam Namjoon pelan dalam pelukan Taehyung.

.

.

.

Siapa yang bisa menyangka bahwa setelah kejadian malam itu, sebuah cobaan yang begitu berat akan menimpa Namjoon dan Taehyung?

Entah darimana, atau entah bagaimana, atau entah seperti apa ceritanya, tiba-tiba sosok seorang Min Yoongi muncul di hadapan Taehyung sore itu, ketika Taehyung bermaksud membelikan baju untuk Namjoon di sebuah mall.

"Hai, bocah manis berambut orange~ Kita bertemu lagi..." sapa Yoongi ketika berpapasan dengan Taehyung, sambil tersenyum. Bukan senyuman yang manis, tapi senyuman yang menyeringai.

Bulu kuduk Taehyung benar-benar merinding hanya dengan melihat senyuman Yoongi di hadapannya itu.

Taehyung berusaha menghindari Yoongi, namun Yoongi menghalangi langkah Taehyung.

"Mengapa kau menghindariku?" gumam Yoongi dengan suara seraknya.

"Aku tidak mengenalmu, dan tidak berniat mengenalmu.." sahut Taehyung sambil berusaha melarikan diri.

"Kenalkan, aku Min Yoongi... Panggil saja Yoongi..." sahut Yoongi sambil mengajak Taehyung berjabat tangan.

Bukannya menyambut tangan Yoongi yang terulur di hadapannya itu, Taehyung justru langsung membalikan badannya dan berlari sekencang-kencangnya, menghindari Yoongi sejauh mungkin.

Dengan nafas terengah-engah Taehyung berhasil melarikan diri dan menaiki sebuah taxi untuk dikendarainya menuju rumah Namjoon.

.

.

.

Bukan hanya hari itu, tapi hari-hari berikutnya benar-benar menjadi neraka bagi Taehyung, karena entah darimana atau entah bagaimana, sosok Yoongi seringkali berada tepat di hadapannya.

Namjoon berusaha sebisa mungkin untuk membuat Taehyung merasa aman karena Taehyung begitu takut meihat senyuman menyeringai yang begitu menakutkan milik Yoongi.

Sampai suatu malam, malam yang terkutuk itu, Taehyung berpapasan kembali dengan Yoongi, namun kali ini bukan hanya mereka berdua yang berpapasan.

Taehyung dapat melihat jelas sosok Yoongi dari kejauhan, tengah memukuli kepala seseorang dengan sebuah batu, dalam sebuah gang yang sangat gelap karena tidak ada lampu penerangan disana, hanya disinari oleh sinar sang rembulan.

Pria itu sepertinya sudah tidak berdaya karena tidak ada perlawanan.

Dan Taehyung melihat dengan sangat jelas, dengan kedua bola matanya, seberapa sadis Yoongi menyiksa tubuh pria malang itu.

Setelah kepalanya dipukul dengan batu, Yoongi mengeluarkan sebuah pisau dari ranselnya, kemudian Yoongi dengan sangat asik menyayat kulit pria itu.

Darah yang begitu segar membanjiri rerumputan yang ada disekitarnya.

Taehyung nyaris tidak bisa bernafas melihat kejadian itu.

Belum selesai sampai disana, Yoongi dengan sadisnya mulai memotong-motong tubuh pria malang itu menjadi beberapa bagian, kemudian ia menyalakan sebuah korek api dan membakar tubuh pria malang itu sambil menyeringai dengan sadisnya.

Dan setelah api mulai membakar tubuh mayat pria malang itu, Yoongi segera meninggalkan lokasi kejadian itu, berjalan menjauh dengan langkah yang sangat tenang, seolah tidak ada apa-apa.

Dan dari situlah Taehyung yakin, bahwa Yoongi seorang psikopat!

Dan sekujur tubuh Taehyung terasa kaku, tidak bisa bergerak, ketika ia menyadari, bahwa Yoongi mengetahui keberadaannya disana.

"Kau melihatnya?" sahut Yoongi dengan suara seraknya yang sangat khas di telinga Taehyung, sambil menatap tajam tepat ke kedua bola mata indah milik Taehyung.

Taehyung terdiam. Jangankan membuka suara. Bergerakpun rasanya sudah tidak mampu.

"Jadilah kekasihku... Aku berjanji aku tidak akan menyiksamu... Aku akan membahagiakanmu..." sahut Yoongi sambil tersenyum, menyeringai.

Taehyung tetap terdiam. Keringat dingin mulai membanjiri tubuhnya.

"Tapi jika kau menolakku, antara kau atau kekasihmu itu, akan berakhir seperti pria tadi..." Suara Yoongi yang serak dengan nada yang datar itu benar-benar sukses membuat Taehyung bergidik dengan sempurna.

Yoongi berjalan mendekat ke arah Taehyung.

"Ini baru peringatanku.. Kuberi kau waktu tiga hari, aku akan kembali menemuimu, dan meminta jawaban darimu..." bisik Yoongi di telinga Taehyung.

Setelah itu Yoongi berjalan pergi menjauh dari tempat Taehyung berdiri. Dan Taehyung langsung terduduk dengan sangat lemas, dan air mata tiba-tiba menetes dari kedua bola mata indahnya itu.

Apa yang terjadi malam itu benar-benar menjadi sebuah hantaman besar baginya.

.

.

.

Keesokan harinya, Taehyung menceritakan semuanya kepada Namjoon, dan tentu saja, amarah Namjoon memuncak, diiringi dengan keterkejutan yang luar biasa ketika mengetahui seberapa sadisnya seorang Min Yoongi.

"Perlukah kita melaporkannya kepada polisi?" gumam Namjoon.

"Aku bahkan tidak memiliki barang bukti! Seharusnya kejadian kemarin kurekam! Arggghhh~ Betapa tololnya aku, hyeong..." sahut Taehyung sambil mengacak-acak rambut orange terangnya itu.

Dan Namjoon benar-benar tidak lagi bisa berpikir apa-apa. Satu-satunya yang ada di benaknya hanyalah bagaimana ia bisa menyelamatkan kekasihnya itu dari sang psikopat.

Dua hari sudah berlalu, dan belum ada jalan keluar yang bisa mereka temukan untuk menghindari Yoongi.

"Hyeong, bagaimana kalau kita pergi meninggalkan kota ini sekarang juga? Pergi sejauh-jauhnya agar ia tidak bisa menemukan kita?" sahut Taehyung.

Namjoon dan Taehyung segera bergegas, mempacking seluruh pakaian dan barang bawaan mereka, bersiap sejauh mungkin pergi meninggalkan kota itu, tanpa mereka sadari, bahwa Yoongi selalu memantau mereka.

.

.

.

Pukul 07.00 PM, Namjoon dan Taehyung sudah berada di stasiun kereta, bersiap pergi menjauh dari sosok Yoongi.

"Aku ke toilet sebentar ya hyeong..." sahut Taehyung.

"Iya, berhati-hatilah~ Aku tunggu disini..." jawab Namjoon, tanpa disadari bahwa seharusnya ia ikut menemani Taehyung ke toilet.

Hampir setengah jam berlalu, Taehyung belum juga kembali. Firasat buruk mulai menghinggapi Namjoon, sampai tiba-tiba handphone Namjoon berdering.

My Cutie Taehyungie.

"Yaaaaa, kau dimana? Cepat kembali kesini, aku mencemaskanmu!" sahut Namjoon sambil menjawab panggilan itu.

Bukannya mendengar suara Taehyung, justru suara serak yang menakutkan itu yang berbicara. "Tidak seharusnya kalian mempermainkan perasaanku sejauh ini..."

Namjoon spontan tersentak mendengar suara Yoongi!

"Yaishhhh! Brengsek! Dimana Taehyung sekarang?" teriak Namjoon.

"Ia aman dalam perlindunganku... Sebaiknya kau segera pergi, aku yang mulai sekarang akan menjaga Taehyung.." sahut Yoongi dengan nada dingin yang menyeramkan.

"Aku tidak akan pernah meninggalkannya! Apapun yang terjadi! Dimana ia sekarang?" bentak Namjoon.

"Sepertinya menarik... Kau bahkan tidak menyayangi nyawamu huh? Bukankah aku sudah memberikanmu kesempatan untuk hidup? Pergilah sebelum aku berubah pikiran..." sahut Yoongi, masih dengan nada datar yang menyeramkan.

"Cepat beritahu aku dimana Taehyung sekarang!" bentak Namjoon.

Yoongi akhirnya memberitahukan lokasi dimana Namjoon harus menumuinya jika ingin melihat Taehyung.

Dan dengan secepat kilat Namjoon segera berlari, meninggalkan semua barang bawaan di stasiun, menuju tempat yang disebutkan Yoongi.

Namun dalam perjalanan, ketika ia sudah berada dekat dengan tempat yang dijanjikan, langkah Namjoon semakin pelan.

Ia terus berpikir, bahwa seorang psikopat bukan harus dilawan dengan amarah. Karena semakin tinggi amarah Namjoon, semakin senang Yoongi melihatnya.

Namjoon berjalan pelan, menyusuri gang yang sangat gelap itu, tanpa rasa takut, karena baginya saat ini tidak ada yang lebih menakutkan daripada kehilangan seseorang yang paling dicintainya itu.

.

.

.

.

.

.

Go to next chapter "Blood War" go go go~