Chapter 2

Title : Admire

Author : Oh Michele

Cast : Sehun, Kai, etc.

Pair : Hunkai

Warning : cerita abal, banyak typo, yaoi, ga jelas, etc

Note : Semoga masih ada yang inget ff abal ini -_- Maafkan saya karna begitu banyak ff yang belum di selesaikan. Semoga secuil ini bisa menghibur sedikit hahaha.

Happy Reading ^^

.

.

.

Chapter 2

Sehun sedang duduk santai di ruang keluarga. Sejak tadi ia hanya tersenyum-senyum tak jelas sambil memainkan benda persegi panjang di tangannya. Hal itu bukanlah kebiasaan Sehun. Membuat orang lain yang ada disana agak heran melihatnya.

"Kau sedang apa Hun?"

Yang diajak bicara tidak menghiraukan sama sekali. Masih juga menyibukkan diri dengan ponselnya. Namja di sampingnya makin penasaran. Apa yang sebenarnya dilakukan Sehun? Mengapa tampaknya seru sekali? Terlebih dia adalah tipe namja yang kurang pekerjaan sehingga sangat ingin tau urusan orang lain. Akhirnya namja itu mendekat pada Sehun.

"Kim….. Jong….. In….."ejanya saat melirik ke arah ponsel Sehun.

"Yak! Kris ge! Kenapa kau tiba-tiba berada di sampingku?" Sehun langsung menyembunyikan ponselnya. Mendelik tajam pada Kris sepupunya.

"Siapa ïtu Kim Jongin?"

"Yak! kau ini selalu saja ingin tau urusan orang!" Sehun mendengus kesal lalu duduk di sofa lain.

"Oke oke maaf aku sudah mengintip. Ah biar ku tebak, dia pasti orang yang kau sukai? Benarkan?"Kris menaik turunkan alisnya.

Sehun langsung melongo. "Kau salah ge! Justru dia yang menyukaiku. Dia mengejarku setiap hari sampai aku pusing dibuatnya." Sehun menggeleng-gelengkan kepalanya mengingat ulah Jongin.

"Kau naïf sekali Oh Sehun! Sudah jelas kau juga menyukainya. Buktinya kau senyum-senyum tak jelas sedari tadi."

Sehun langsung terkejut. Ah tidak-tidak! Dia tidak begitu! Dia tidak mungkin menyukai Jongin. Dia hanya menyukai masakan Jongin saja kan? Benar kan? Sehun terus meyakinkan dirinya. "Tidak ge. Aku tidak menyukainya!"

"Jangan berbohong. Akuilah kau menyukainya! Hahahaha bocah cilik ini akhirnya jatuh cinta juga. Tak kusangka kau sudah besar Sehun."Kris mengacak-acak rambut Sehun.

"Lepaskan hyung! Aku sudah pernah jatuh cinta!" Sehun menyentakkan tangan Kris.

"Hahahaha baik, baiklah sepupu kecilku. Hahahahaha." Kris akhirnya meninggalkan Sehun sendiri.

Sehun terdiam. Tiba-tiba moodnya jadi buruk. Ia juga merasa sakit. Sakit dihatinya.

"Aku pernah jatuh cinta ge. Cinta pertamaku. Dan kau yang merebut dia dariku….."

.

.

.

.

00000

.

.

Jongin berjalan dengan langkah pasti. Ia terlalu bersemangat hari ini. Di tangannya sudah ada sekotak bekal untuk Sehun. Dipenuhi dengan berbagai macam olahan udang yang menjadi kesukaan Sehun. Jongin tidak bisa membayangkan ekspresi Sehun saat membukanya nanti. Ah… Sehun pasti senang sekali.

Jongin terus berjalan. Ia tak sadar bahwa ia terus memandangi kotak di tangannya dan mengabaikan jalan.

"Bruuukk"

Jongin menabrak seseorang. Hal itu menyebabkan kotak ditangannya terjatuh dan menumpahkan isinya.

"Ah bekalnya!"Jongin langsung terduduk dan mengambil kotaknya. Tidak ada yang bisa di selamatkan. Semuanya hancur.

"Maafkan aku. Aku tadi terburu-buru hingga tak melihat jalan. Maaf bekalmu jadi tumpah." Kris, namja yang bertabrakan dengannya ikut berjongkok dan membantu Jongin.

"Gwenchana. Aku juga ceroboh tak melihat jalan."ucap Jongin lalu berdiri bersama Kris. Sebenarnya ia sedih juga masakannya jadi terbuang, tapi mau bagaimana lagi? Ah bahkan Sehun belum mencicipinya.

"Kau bilang kau terburu-buru kan? Aku tidak apa-apa. Pergilah karna aku juga harus segera pergi. Annyeong!"ucap Jongin dan ia langsung berlari meninggalkan Kris.

"Hey tunggu!"Kris terdiam menatap punggung Jongin yang semakin menjauh. "Ah sayang sekali bekalnya tadi." gumam Kris. Saat ia melangkah, ia merasa menginjak sesuatu.

Nametag?

Kim Jongin?

Kris dengan cepat melihat ke arah Jongin pergi tadi. Tapi sosok itu sudah tak terlihat.

"Wah sayang sekali." Kris kembali memperhatikan nametag di tangannya. Kembali mengeja huruf-huruf yang tercetak disana. "Kim-Jong-in… Anak yang manis. Sehun, bocah itu memang pintar."Kris tersenyum dan melanjutkan langkahnya.

.

.

.

.

00000

.

.

"Jongin? Apa kau menungguku lama?"Sehun masih tersengal-sengal. Sudah jelas dia pasti berlari dari ruangan osis menuju taman. Tidak bisa dibilang dekat juga.

Jongin jadi merasa bersalah. Sehun sudah berlari dan bekalnya malah hancur. "Ehm Sehun… itu…."

"Maaf tadi aku menunggu sepupuku mengantar dokumenku yang tertinggal."Sehun menjelaskan yang sebenarnya tidak penting juga. Tapi ia hanya tidak ingin membuat Jongin berpikir dia sengaja membuatnya menunggu lama. Tidak ingin membuat Jongin kecewa kan maksudnya? Oh Sehun tanpa sadar melakukan hal itu.

"Aku mengerti….. Ehm sebenarnya aku ingin minta maaf. Bekal yang aku buat terjatuh tadi."Jongin menunduk. Ia benar-benar sedih. Bagaimana kalau Sehun tidak mau makan bekalnya lagi? Yah apa dia harus memulai lagi dari awal?

Sehun menghela nafas. Jujur saja dia sudah sangat lapar. Tapi apa boleh buat. "Gwenchana." Sehun mengusap kepala Jongin,membuat Jongin agak terkejut. "Lain kali berhati-hatilah."

Jongin mengangguk. Masih dengan menunduk. Bukan karna takut, tapi karna ia ingin menyembunyikan wajahnya yang pasti sudah memerah sekarang.

"Apa yang kau masakkan untukku?"Tanya Sehun tiba-tiba.

"Ehmm…. Macam-macam masakan udang sebenarnya. Tapi semuanya hancur."

"Hah? Udang? Aku sangat suka udang! Lain kali masakkan aku lagi. Aku ingin mencoba udang buatanmu."

Sehun tersenyum ke arah Jongin. Mata mereka saling bertemu. Membuat Jongin ikut tersenyum dan mengangguk antusias.

"Kruyuuuuuukkkk"

Tiba-tiba mereka jadi tersenyum kikuk. Mendengar bunyi perut mereka yang memang belum diisi sedari tadi.

"Hari ini kita makan di kantin saja bagaimana?" Sehun menawarkan.

"Baiklah"Jongin mengangguk dan mereka berjalan bersama menuju kantin.

.

.

.

.

00000

.

.

One month later

Sehun sedang bosan. Yang bisa ia lakukan hanya berguling-guling tak jelas di ranjangnya. Sekarang sudah masuk libur musim panas dan dia tidak tau apa yang harus dilakukan. Teman-temannya sedang pergi berlibur semua. Apa dia tidak ingin berlibur? Sebenarnya ia ingin sekali. Tapi pergi sendirian itu tidak seru. Sedangkan orang yang berpotensi untuk diajaknya pergi (Kris) malah sedang di China.

Tiba-tiba ponsel Sehun berbunyi. Ah ia lupa jika sedang berkirim pesan dengan Jongin.

From : Kim Jongin

"Aku sekarang sedang di kelas balet Sehun ^^ Bagaimana liburanmu?"

To : Kim Jongin

"Kedengarannya menyenangkan. Liburanku membosankan sekali. Aku tidak melakukan apapun."

Sehun memakan cemilannya sambil memandang ke langit-langit kamar. Menunggu Jongin membalas pesannya. Eh apa Sehun mengganggu Jongin ya? Dia kan sedang ada kelas balet. Agak lama ponselnya berbunyi lagi.

From : Jongin

"Mengapa kau tak pergi berlibur saja?"

Nah itu masalahnya. Dia malas pergi sendiri. Sebenarnya ia ingin sekali pergi ke pantai. Ah pasti menyenangkan.

Eh tunggu?

Kenapa dia tidak mengajak Jongin saja?

Sehun langsung berpikir. Apa Jongin mau ya?

To : Kim Jongin

"Aku ingin berlibur. Apa kau mau menemaniku?"

.

.

.

Sudah lebih dari satu jam ia menunggu Jongin membalas pesannya. Sehun hampir mati kebosanan karna terus-terusan mengecek ponselnya yang tak berbunyi. Ah mungkin Jongin tidak tertarik dengan ajakannya. Namun tiba-tiba…

From : Kim Jongin

"Boleh. Kapan kita berangkat?"

Sehun langsung melompat. Tanpa sadar ia senang sekali karna Jongin menerima ajakannya. Sepertinya bukan hal yang buruk bertamasya dengan Jongin.

.

.

.

.

00000

.

.

Jongin dan Sehun berdiri di tempat pemberhentian bus. Sebenarnya Sehun bisa saja membawa mobil pribadi miliknya, tapi ia pikir itu tidak akan seru. Pasti akan lebih menyenangkan bila naik bus. Dan lagi Jongin setuju dengan itu.

"Wah panas sekali ya."Sehun memulai pembicaraan.

"Namanya juga musim panas."Jongin tersenyum menanggapinya.

Ah Jongin manis sekali. Sehun sampai terpana melihatnya. Dia tampak berbeda mengenakan baju biasa. Sebenarnya Sehun kemana saja selama ini? Baru menyadari kalau namja yang mengejarnya ini benar-benar manis. Benar kata Moonkyu kemarin. Jongin adalah pacar impian.

Eh?

Berpikir apa Sehun barusan?

"Sehun?" Jongin melambaikan tangannya di depan wajah Sehun.

Sehun tersadar dari lamunannya "Hah? Iya? Ada apa?" ia jadi salah tingkah.

"Tidak. Aku tadi hanya bertanya, kenapa kau tidak pergi dengan Jessica saja?"Tanya Jongin tiba-tiba.

"Tidak mungkin aku mengajaknya! Dia itu sama saja jahilnya dengan sepupu-sepupuku yang lain."

Jongin terkikik. Dia jadi ingat kejadian kemarin.

.

.

.

Flashback

Tangan Jongin bergetar. Ia membawa kotak besar yang tertutup kain. Hari ini adalah hari ulang tahun Sehun. Dia sempat bertemu Jessica kemarin. Jujur saja Jongin bingung harus memberi Sehun hadiah macam apa. Jadi dia pergi menemui Jessica.

"Sehun itu sangat suka Kucing. Jadi berikan saja Kucing besar maka dia akan senang sekali." Begitulah saran Jessica.

Jongin sempat ragu. Dia benci sekali dengan kucing sejujurnya. Tapi apa boleh buat? Ini kan untuk Sehun. Jadi dia memberanikan diri pergi ke toko hewan untuk membeli kucing besar.

"Ya Tuhan…. Makhluk ini bergerak-gerak…." Ucap Jongin. Ia tak nyaman. Duduknya saja benar-benar tegak. Ia menunggu Sehun di taman tempat mereka biasa bertemu di sekolah.

Tiba-tiba Sehun datang dan memandang aneh pada kotak besar yang ada di pangkuan Jongin.

"Kau membawa apa?"

Pertanyaan Sehun membuat Jongin langsung berdiri.

"Ah i…ini…. Selamat ulang tahun Sehun….. Ini hadiah untukmu."Jongin tersenyum kikuk. Dia sudah tak tahan membawa kotak berisi hewan yang paling dia benci.

Sehun tersenyum. "Gomawo. Ternyata kau tau ulang tahunku juga. Boleh kubuka?"

Jongin mengangguk. Ia menggigit bibir bawahnya karna gugup.

Sehun membuka kain penutupnya dan seekor kucing langsung melompat padanya.

"Yaaaaaa!" Jongin dan Sehun berteriak bersamaan.

"Kucing? Kucing pergi dariku! Pergi-pergi!"Sehun sampai berguling karna kucing itu terus menempel pada tubuhnya.

"Jongin! Cepat ambil kucing ini! Aku benci kucing!"

"Ehm… Sehun sebenarnya aku juga tidak suka kucing. Bagaimana ini?"Jongin panik, ia mencoba mencari bantuan. Tapi tidak ada orang selain mereka.

"Haaaah! Pergi!"Sehun akhirnya bisa mengusir kucing itu.

"Sehun? Gwenchana?"Jongin langsung menghampiri Sehun yang sedang membersihkan pakaiannya.

"Gwenchana. Sebenarnya bagaimana bisa kau memberiku seekor kucing? Itu benar-benar tidak lazim untuk ukuran hadiah."

Jongin memasang wajah sedih. "Ah itu sebenarnya…. Kyaaaaa!"Jongin langsung memeluk Sehun. Menyembunyikan wajahnya di dada Sehun.

Sehun jadi ikut panik. "Ada apa? Ada apa?"

Tiba-tiba ia merasakan ada bulu-bulu di pundaknya.

"Oh Se….Hun….."suara seorang yeoja yang di buat seram.

Sehun langsung berbalik dan membiarkan Jongin tetap di pelukannya. Matanya langsung mendelik melihat seseorang yang membawa kucing sambil tersenyum menang.

"Jessica!" teriaknya.

"Hahahaahahah kena kau Sehun!"

"Dasar sepupu kurang ajar!"

Jongin langsung mendongak. "Jadi dia sepupumu?"

Sehun mengangguk. Ah pantas saja Jessica tau segalanya tentang Sehun.

"Hahahahahaha anggap saja itu hadiah ulang tahunmu dariku Sehun hahahaha!"Jessica tertawa keras.

"Yak! Awas kau ya!"

Jessica langsung berlari. Takut juga bila tertangkap dia pasti akan dihukum habis-habisan.

Jongin malah tertawa pelan dan itu mengundang perhatian Sehun. "Kenapa tertawa?"

"Tak apa. Kalian lucu sekali." Ucap Jongin mencoba menahan tawanya.

Tiba-tiba Jongin dan Sehun saling berpandangan. Mereka tersadar bahwa mereka masih saling berpelukan.

"Ehm…"Sehun melepas pelukannya. Begitu pula Jongin.

Jongin menunduk malu "Maaf…."

"Gwenchana. Mulai sekarang kalau ada apa-apa langsung bertanya saja padaku. Aku… aku pasti akan menjawabnya."Sehun jadi ikut gugup.

Jongin hanya mengangguk mengiyakan. Ia tidak bisa apa-apa lagi. Jantungnya benar-benar berdebar.

.

.

.

.

00000

.

.

"Jongin?"

Jongin merasa pipinya di tepuk-tepuk oleh seseorang. Ternyata dia tertidur sedari tadi. Dan ia masih malas membuka mata. "Hmmm…."

Sehun mengelus kepalanya "Kita sudah sampai."

Jongin membuka mata. Ya ampun kepalanya ada di pundak Sehun. Betapa malunya dia. Jongin langsung duduk biasa dan berpura-pura merapikan pakaian. Itu hanya pengalihan perhatian.

"Lihat! Pantainya indah kan?"Sehun menunjuk ke arah jendela.

Mata Jongin menatap takjub. Yah jujur saja dia belum pernah ke pantai yang asli. Hanya melihatnya dari gambar-gambar. Dia termasuk anak rumahan yang jarang diperbolehkan keluar.

Jongin dan Sehun turun dari bus. Mereka langsung berlari menuju pantai.

"Ayo berenang!"Sehun menarik tangan Jongin.

Jongin terkejut "Ah aku tidak bisa berenang!"

"Yasudah ayo kita bermain air."Sehun kembali menarik Jongin dan yang ditarik hanya bisa pasrah saja.

Mereka bermain air sepanjang hari. Berlarian kesana kemari. Makan semangka bersama. Walaupun lelah mereka terus saja bermain. Tidak mau melewatkan musim panas kali ini dengan berdiam saja. Bahkan dari hati mereka diam-diam berharap hari ini tidak akan berakhir. Mereka masih ingin tertawa dan melakukan berbagai hal bersama.

.

.

.

.

00000

.

.

Tidak terasa langit telah berubah gelap. Semilir angin membuat pohon-pohon kelapa itu terus menari. Ombak pun menjadi musik pengiring malam ini. Suasana musim panas belumlah hilang. Masih bersemangat menemani hingga musim berganti.

Sehun dan Jongin duduk berdua di depan api unggun yang mereka buat di tepi pantai. Meresapi suasana musim panas yang pasti tak akan pernah mereka lupakan.

"Sehun…."Jongin memanggil tanpa menatap ke arah Sehun. Ia masih fokus melihat pemandangan di depannya.

Sehun langsung melihat ke arah Jongin. "Hmmm?"

"Gomawo."

Sehun mengerutkan kening. "Untuk?"

"Gomawo untuk hari ini. Aku senang sekali. Gomawo sudah mengajakku ke tempat ini. Jujur saja aku belum pernah kemari."Jongin tertawa pelan.

"Kau belum pernah ke pantai?" Sehun agak terkejut. Maksudnya bagaimana bisa seseorang tidak pernah pergi ke pantai seumur hidupnya.

Jongin mengangguk. "Aku hanya pernah melihatnya di gambar. Aku tidak tau kalau pergi ke pantai ternyata semenyenangkan ini."

"Bagaimana bisa? Apa orang tuamu-"

"Mereka meninggal saat aku masih bayi."

Sehun terkejut. Ia merutuki dirinya sendiri karna salah bicara. "Maaf. Aku tidak bermaksud."

"Gwenchana."Jongin tersenyum. Sudah jelas itu senyum pahit. Ia kembali menatap ombak di lautan. Sehun dapat melihat pandangan Jongin berubah. Tersirat kesepian yang luar biasa. Membuat Sehun ingin sekali memeluk anak itu sekarang dan berteriak bahwa dia tidak sendiri. Ada Sehun.

Eh?

Apa yang Sehun pikirkan barusan?

"Pasti berat menjadi dirimu."

"Aku bahkan tidak ingat wajah mereka. Aku bahkan lupa kenangan bersama mereka. Aku hanya bisa melihat lewat foto. Aku-"

Ucapan Jongin terhenti karna tiba-tiba Sehun memeluknya. Membawanya pada pelukan yang hangat. Mengelus kepalanya dengan lembut. Jongin jadi terbawa suasana dan ikut memeluk tubuh Sehun erat. Jujur saja hal ini membuatnya lebih baik. Membuatnya merasa tidak sendirian.

Tiba-tiba Sehun melepas pelukannya. Mereka saling menatap satu sama lain. Sehun mendekat. Menghilangkan jarak diantara mereka. Jongin perlahan memejamkan matanya. Hingga ia rasakan bibir Sehun menyentuh bibirnya. Melumat bibirnya dengan lembut. Membuat hatinya bergetar. Ini ciuman pertamanya. Jadi Jongin agak gugup dengan ini. Ia meremas kaos yang dikenakan Sehun.

Tak berapa lama Sehun melepas ciumannya. Ia menatap wajah Jongin yang sudah memerah.

"Bagaimana?"ucap Sehun.

Jongin tidak mengerti dengan maksud Sehun. Ia hanya mengerjapkan matanya.

"Bagaimana kau bisa menyukaiku?"

Jongin masih terdiam. Mereka saling berpandangan. Dan Sehun manatapnya dengan serius. Seperti mencoba menyelami matanya.

"Dan bagaimana bisa kau membuatku jatuh cinta padamu?"

.

.

.

TBC